Anda di halaman 1dari 11

BAB I PENDAHULUAN

2.1 Latar Belakang


HIV atau Human Immunodeficiency Virus aadalah virus yang menyerang
sistem imun atau kekebalan manusia. Sedangkan AIDS atau Acquired Immuno
Deficiency Syndrome adalah sekumpulan penyaki yang disebabkan oleh virus HIV.
Sudah dari dulu, penyakit ini menyerang manusia dan menjadi wabah yang sangat
mematikan Indonesia bahkan dunia. Saat dunia tengah mengalami suatu pandemi virus
HIV, pandemi ini tidak hanya menikmbulkan dampak negatif dibidang medis dan
kesehatan, tetapi juga bidang sosial dan diperkirakan telah mencapai 42 juta kasus yang
menyebar diseluruh dunia dan tidak ada satupun negara di dunia ini yang terbebas dari
infeksi ini, termasuk Indonesia.
Perkembangan Human Immunodeficiency Virus/acquired Immunodeficiency
Syndrome (HIV/AIDS) berdasarkan datan WHO tahun 2007-2009 diketahui bahwa
trend penyakit ini naik turun. Epidemi AIDS di Indonesia sudah berlangsung hampir 20
tahun namun diperkirakan masih akan berlangsung terus dan memberikan dampak yang
tidak mudah diatasi (Nurbani, 2008). Kasus HIV/AIDS di Indonesia sejak tahun 2008
terus mengalami peningkatan (Ditjen PPM dan PL Depkes RI, 2011)
Salah satu pengidap terbesar penyakit HIV/AIDS adalah para wanita pekerja
seks atau yang disebut juga dengan Pekerja Seks Komersial. Mereka adalah kelompok
yang rentan tertular HIV melalui hubungan seks yang tidak aman. Terutama di daerah
Bali,berdasarkan hasil surveilans dari Dinas Kesehatan Provinsi Bali, jumlah PSK di
mencapai sekitar 6000 jiwa. Dan dari data, didapatkan bahwa 75% PSK terinfeksi virus
yang mematikan ini. Berarti 4500 jiwa terinfeksi virus HIV. Dan rata-rata pengidap
HIV/AIDS rata-rata beusia produktif yaitu sekitar 19-39 tahun. Namun, menurut data
surveilans,tiga tahun yang lalu pertumbuhan penyakit HIV/AIDS di Bali sekitar 20-30
persen, dan sekarang hanya 16 persen. Dari data tersebut menunjukkan bahwa
pertumbuhan penyakit HIV/AIDS sudah mulai berkurang dari tahun ke tahun walaupun
korban yang mengidap HIV/AIDS masih sangat tinggi yaitu 26 ribu jiwa. Penyebab
tingginya pengidap HIV/AIDS adalah kurangnya kesadaran masyarakat akan pemakaian
pengaman, kurangnya kemauan PSK untuk memeriksakan kesehatan mereka, dan lainlain.
Didalam makalah ini akan dibahas mengupas isi berita yang berjudul 75 persen
di Bali Terjangkit HIV. Dalam makalah ini akan menjelaskan mengapa HIV disebut
wabah, strategi pengendalian, hasil pengendalian, peran masyarakat dan pemerintah
serta hambatan yang dihadapi dalam penekanan jumlah korban HIV/AIDS di Bali.

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Mengapa HIV bisa dikatakan menjadi wabah di Indonesia?
1.2.2 Bagaimana strategi pengendalian wabah HIV?
1.2.3 Apa saja hambatan dalam pengendalian HIV?
1.2.4 Bagaimana pemerintah dan masyarakat dalam pengendalian HIV?
1.2.5 Apa saja hasil yang didapatkan dalam pengendalian wabah HIV?

1.3 Tujuan
1.3.1 untuk mengetahui strategi pengendalian wabah HIV
1.3.2 untuk mengetahui hambatan yang terjadi pada pengendalian HIV
1.3.3 untuk mengetahui peran pemerintah dan masyarakat dalam pengendalian wabah
1.3.4 untuk mengetahui hasil dari pengendalian wabah HIV

1.4 Manfaat
Mahasiswa dapat mengetahui

2.1 Justifikasi Wabah


Wabah adalah kejadian berjangkitnya suatu penyakit menular dalam
masyarakat yang jumlah penderitanya meningkat secara nyata melebihi daripada
keadaan yang lazim pada waktu dan daerah tertentu serta dapat menimbulkan
malapetaka (UU No. 4 Tahun 1984).
Wabah adalah timbulnya kejadian dalam suatu masyarakat, dapat berupa
penderita penyakit, perilaku yang berhubungan dengan kesehatan, atau kejadian lain
yang berhubungan dengan kesehatan, yang jumlahnya lebih banyak dari keadaan biasa
(Last, 1981)
Wabah adala terdapatnya penderita suatu penyakit tertentu pada penduduk suatu
daerah, yang nyata jelas melebihi jumlah yang biasa (Benenson, 1985)
Jadi, berdasarkan beberapa pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa
HIV AIDS yang terjadi di Denpasar tersebut termasuk dalam kategori wabah. Ini karena
jumlah penderita penyakit AIDS tersebut sangat besar yaitu sekitar 75 persen dari 6.000
jiwa. Hal ini bisa dilihat dari berita berita yang kami ambil (DENPASAR,
KOMPAS.COM pada hari Selasa, 3 Februari 2015 17:30 WIB). Sekitar 75 persen
Pekerja Seks Komersial (PSK) di Provinsi Bali terjangkit HIV/AIDS. Berdasarkan data
Dinas Kesehatan Provinsi Bali, jumlah PSK di Bali sekitar 6.000 jiwa. Kepala Dinas
Kesehatan Provinsi Bali Ketut Suarjaya menjelaskan, saat ini berbagai upaya telah
dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Bali untuk memerangi HIV/AIDS. "Sebagian besar
para PSK itu di daerah Sanur dan Kuta. Berdasarkan hasil zero survei dan beberapa data
dari LSM yang konsen di bidang pendampingan kesehatan para PSK, sekitar 75 persen
PSK di Bali terjangkit HIV," jelasnya di Denpasar, Bali, Selasa (3/2/2015). Menurutnya,
sebagian besar PSK di berbagai kafe juga mengidap HIV/AIDS. Jumlahnya sekitar 20
persen. Sekitar 75 persen Pekerja Seks Komersial (PSK) di Provinsi Bali terjangkit
HIV/AIDS. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Bali, jumlah PSK di Bali
sekitar 6.000 jiwa.

2.2 Strategi Pengendalian Wabah Yang Diterapkan


Untuk menekan angka atau mengurangi penyakit HIV/AIDS, Dinas Kesehatan
Provinsi Bali dan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Bali melakukan sejumlah
langkah, antara lain dengan cara deteksi dini, yaitu setiap ibu hamil diminta melakukan
pemeriksaan ke layanan Voluntary Counseling Testing (VCT). Selain itu, para PSK
setiap bulan harus melakukan cek kesehatan. Sementara, masyarakat atau PSK yang
sudah terjangkit HIV/AIDS diterapi dengan meminum obat antiretroviral (ARV). Setiap
PSK juga dibekali dengan pengetahuan bahaya berhubungan intim dengan pelanggan
bila tidak menggunakan pengaman. Selain itu, pihaknya juga menyosialisasikan kepada
masyarakat tentang bahaya seks bebas.

Rencana Strategis Nasional untuk Pencegahan HIV/AIDS di Indonesia (2003-2007)


dan Strategi HIV/AIDS Nasional 2003-2007 yang disiapkan oleh Komisi AIDS
Nasional telah menentukan dengan tepat bahwa pencegahan HIV merupakan salah satu
bidang prioritas. Program pencegahan HIV membidik untuk mengurangi kerentanan
masyarakat umum dengan mencegah penularan dari orang-orang yang paling terkena
dampaknya.
Petunjuk nasional 2003-2007 telah merekomendasikan kegiatan-kegiatan berikut ini
untuk pencegahan HIV:
1. Mengurangi kerentanan penduduk khusus.
2. Mempromosikan peri-laku seks yang lebih aman.
3. Mempromosikan dan mendistribusikan kondom.
4. Pencegahan dan pengobatan IMS.
5. Menyediaan transfusi darah yang aman.
6. Mempromosikan peri-laku penyuntikan obat yang lebih aman.
Pencegahan HIV yang efektif membutuhkan keterpaduan berbagai intervensi karena
kebanyakan kelompok yang berisiko mungkin mempunyai banyak faktor risiko. Sektor
Kesehatan menawarkan berbagai kesempatan untuk pencegahan yang efektif dipadukan
dengan asuhan, dukungan dan pengobatan.
Berdasarkan kajian komprehensif dari berbagai dokumen, konsultasi dengan
berbagai pihak dan ahli terkait, maka ditetapkan tujuh area program prioritas sebagai
berikut:
1. Pencegahan HIV/AIDS.
Upaya pencegahan bertujuan agar setiap orang dapat melindungi dirinya
tidak tertular HIV dan tidak menularkannya kepada orang lain. Untuk mencapai
tujuan tersebut maka kegiatan yang dilakukan adalah:
a. Meningkatkan Komunikasi, Informasi dan Edukasi.
b. Menurunkan kerentanan.
c. Meningkatkan penggunaan kondom.
d. Meningkatkan penyediaan darah yang aman untuk transfusi.
e. Meningkatkan upaya penurunan prevalensi infeksi menular seksual.
f. Meningkatkan upaya pencegahan penularan dari ibu dengan HIV kepada
bayinya.
g. Meningkatkan penerapan kewaspadaan universal.
h. Meningkatkan upaya pengurangan penularan HIV pada penyalahguna Napza
suntik.
2. Perawatan, Pengobatan dan Dukungan terhadap ODHA
Perawatan, pengobatan dan dukungan terhadap ODHA bertujuan untuk
mengurangi penderitaan akibat HIV/AIDS dan mencegah penularan lebih lanjut
infeksi HIV serta meningkatkan kualitas hidup ODHA, melalui kegiatan sebagai
berikut :
a. Meningkatkan pelaksanaan advokasi kepada pengambil keputusan yang
berkaitan dengan pelayanan kesehatan dan penyediaan obat.

b. Meningkatkan pendidikan dan pelatihan bagi mereka yang terlibat dalam


perawatan, pengobatan, dan dukungan terhadap ODHA; pelatihan konseling
serta menambah jumlah tenaga professional dan relawan termasuk ODHA untuk
perawatan, pengobatan dan dukungan.
c. Menyediakan pelayanan perawatan, pengobatan yang bermutu dan dukungan
terhadap ODHA.
d. Meningkatkan pengadaan, pendistribusian dan penggunaan berbagai pedoman
mengenai perawatan, pengobatan, dukungan dan konseling.
e. Mengembangkan infrastruktur pelayanan kesehatan, pelayanan konseling dan
testing secara sukarela (VCT), pelayanan pencegahan penularan HIV dari ibu
kepada bayinya (PMTCT), perawatan ODHA dan perawatan berbasis
masyarakat dan keluarga (community and home based care) serta dukungan
pembentukan persahabatan ODHA.
f. Meningkatkan keterjangkauan ODHA untuk mendapatkan kemudahan akses
terhadap pelayanan kesehatan yang bermutu termasuk ketersediaan obat anti
retrovirus dan obat infeksi oportunistik yang bermutu dan terjangkau secara
bertahap.

3. Surveilans HIV/AIDS dan Infeksi Menular Seksual (IMS).


Surveilans HIV/AIDS dan Infeksi Menular Seksual (IMS) bertujuan
memperoleh informasi tentang besaran masalah, persebaran dan kecenderungan
penularan HIV/AIDS dan IMS untuk digunakan bagi perumusan kebijakan dan
kegiatan penanggulangan HIV/AIDS, dengan cara :
a. Peningkatan pelaksanaan pelaporan kasus AIDS dan HIV.
b. Peningkatan pelaksanaan surveilans HIV.
c. Peningkatan pelaksanaan surveilans perilaku.
d. Peningkatan pelaksanaan surveilans IMS.
e. Mengembangkan laboratorium.
4. Penelitian
Penelitian dan riset operasional bertujuan mendapatkan informasi untuk
meningkatkan mutu dan pengembangan program penanggulangan HIV/AIDS
serta mengurangi berbagai dampak negatif bagi perseorangan dan masyarakat
yang disebabkan oleh infeksi HIV, dan meningkatkan kualitas hidup ODHA.
Kegiatan kegiatan yang dapat dilakukan yaitu :
a. Penelitian epidemiologi dan perilaku.
b. Penelitian manajemen pengobatan.
c. Penelitian obat tradisional HIV/AIDS.
d. Penelitian manajemen perawatan.
e. Penelitian dampak sosial HIV/AIDS.
f. Penelitian operasional.
g. Peningkatan kemampuan penelitian.
h. Peningkatan jejaring penelitian.

5. Lingkungan Kondusif
2.3 Peran Pemerintah dan Masyarakat
Penyakit menular khususnya HIV/AIDS merupakan masalah utama di Indonesia
bahkan di dunia. Virus HIV tidak menenal batas-batas daerah administratif sehingga
pemberantasan penyakit ini memerlukan kerjasama antar daerah bahkan antar negara.
Untuk melakukan upayat pemberantasan penyakit menular diperlukan suatu sistem
surveilans penyakit yang mampu memberikan dukungan program dalam daerah kerja
kabupaten/kota, Provinsi, dan Nasional serta yang tak kalah penting yaitu peran
masyarakat.
Keberhasilan upaya penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia tergantung kepada
kerjasama pemerintah termasuk DPR, LSM, swasta, dunia usaha, tenaga profesional
kesehatan, masyarakat umum dan ODHA. Sangat miris sekali jika populasi manusia
yang terinveksi HIV sangat tinggi. Kelompok tertinggi yang beresiko tertular HIVsalah
satunya adalah Para Pekerja Seks Komersial. Seperti di Bali, 75 persen PSK terjangkit
HIV dan jumlah PSK di Bali sekitar 6000 jiwa. Berarti sekitar 4500 jiwa pekerja seks
komersial yang terjangkit virus HIV/AIDS. Belum lagi masyarakat Bali selain PSK
yang melakukan atau mempunyai kebiasaan seperti pengguna jarum suntik, atau
oarang-orang yang sering jajan kepada para PSK yang dapat menyebabkan tertularnya
virus HIV. Saat ini, penderita HIV/AIDS di Bali sudah mencapai 26 ribu jiwa. Dan itu
angka yang sangat fantastis. Itu data yang sudah diketahui yang terjangkit HIV, belum
lagi masyarakat yang belum mengetahui jika mereka mengidap virus HIV karena
penyakit tersebut memakan waktu lama untuk disadari para penderitanya jika sudah
terjangkit virus tersebut.
Di Bali para aktivis dan instansi pemerintah sudah melakukan upaya penekanan
angka penderita HIV/AIDS. Dan upaya mereka dalam menanggulangi dan melakukan
penekanan angka penderita HIV/AIDS sudah mendapat hasil yang lumayan signifikan.
Menurut survey, tiga tahun lalu pertumbuhan penyakit HIV/AIDS di Bali sekitar 20
sampai 30 persen, sementara pada tahun 2015 turun hanya sebesar 16 persen. Namun,
meskipun sudah mengalami penurunan, tetap saja korban HIV/AIDS di Bali sangat
besar, mengingat Bali termasuk penyumbang besar dalam penyebaran HIV di Indonesia
sama seperti pulau Papua, dan Pulau Jawa yang juga memiliki penderita HIV/AIDS
yang sangat banyak.
Lokasi atau Kota yang menjadi pusat penyebaran HIV/AIDS di Bali adalah
Sanur dan Kuta. Kedua kota tersebut adalah kota yang sangat padat dan menjadi pusat
berlibur untuk para turis lokal maupun mancanegara. Maka tak heran jika kedua kota
tersebut terdapat banyak Pekerja Seks Komersial yang menjajakan dirinya di kafe-kafe
untuk mendapatkan uang sehingga disanalah tempat yang penyebaran virus HIV yang
sangat pesat. Dan yang menjadi perhatian adalah, rata-rata PSK yang mengidap
penyakit mematikan ini berumur produktif, yaitu sekitar 19-39 tahun. Inilah yang harus

diperhatikan oleh Pemerintah dan para organisasi pemberantas HIV/AIDS. Namun


bukan hanya peran Pemerintah yang penting, namun semua lapisan masyarakat
mempunyai peranan terbesar dalam penekanan jumlah penderita HIV/AIDS.
Peran Pemerintah Bali dalam menekan angka penyebaran HIV sudah baik. Itu
terbukti dengan menurunnya presentase angka kejadian HIV/AIDS di Bali. Peran
Pemerintah Bali yaitu meningkatkan peran Dinas-dinas, Kantor Wilayah dari instansi
pusat , komando TNI dan POLRI di Propinsi dan Kabupaten atau Kota di Bali untuk
menyelenggarakan upaya pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS dengan cara
memberikan cara, strategi dan pendanaan yang cukup untuk masalah ini. Jika
pemerintah Bali tidak meningkatkan kinerja dari lembaga-lembaga tersebut dan
memberikan pendanaan, mungkin tidak akan terjadi atau kecil kemungkinan untuk
penurunan kasus penyakit menular yang mematikan tersebut di Bali. Dan juga tak luput
peran kecamatan dan kelurahan dalam membantu proses penekanan atau mengurangi
penyakit HIV/AIDS yang bekerjasama dengan organisasi pemberantasan HIV/AIDS
dan juga masyarakat.
Lembaga Pemerintah Provinsi Bali yang paling berperan dalam upaya
penekanan angka kejadian penyakit HIV/AIDS adalah Dinas Kesehatan Provinsi Bali
dan Komisi Penanggulangan AIDS atau yang disebut dengan KPA. Kinerja lembaga
Dinas Kesehatan Provinsi Bali dan KPA (Komisi Penanggulangan AIDS) dalam upaya
menekan angka atau mengurangi penyakit HIV/AIDS antara lain yaitu melakukan
survey dan mendapatkan data-data dari LSM untuk membuat strategi penurunan angka
HIV. Lalu lembaga-lembaga tersebut berperan dalam pendeteksian dini.
Cara untuk pendeteksian dini yang dilakukan lembaga-lembaga tersebut adalah
setiap ibu hamil diminta melakukan pemeriksaan ke layanan Voluntary Counseling
Testing atau VCT. Konseling dan tes HIV adalah titik masuk kunci untuk layanan
pencegahan, perawatan, pengobatan dan dukungan HIV untuk PSP (Pekerja Seks
Perempuan) dan juga Ibu hamil. Sebelum dilakukannya tes VCT adalah konseling pretes ditujukan untuk memberikan informasi mengenai HIV dan pencegahannya serta
memberi informasi bahwa tes ini sangat penting bagi sang Ibu. Disinilah juga termasuk
peran KPA untuk memberikan edukasi untuk Ibu hamil atau PSK tentang penyakit HIV.
Setelah itu dilakukan tes. Jika hasilnya positif mengidap HIV, maka penderita akan
mendapatkan konseling lanjutan dan pemberian obat dan terapi untuk kekebalan tubuh
meskipun hanya untuk memperlambat laju virus HIV dalam tubuh. Selain dengan cara
itu, para PSK juga harus mengecek kesehatannya setiap bulan. Dengan cara ini,
diharapkan mengurangi penularan HIV dari ibu kepada anak dan membuat PSK lebih
berhati-hati agar tidak tertular.
Petunjuk nasional 2003-2007 memberikan rekomendasi kegiatan-kegiatan untuk
pencegahan HIV yaitu mengurangi kerentanan penduduk khusus, mempromosikan
perilaku seks yang lebih aman, mempromosikan dan mendistribusikan kondom. Peran
Dinas Kesehatan Provinsi Bali dan KPA juga melakukan pendampingan kesehatan
untuk para PSK, melakukan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) kepada seluruh
masyarakat. KPA dengan gencarnya memberikan sosialisasi terhadap ibu hamil untuk

tes VCT, memberikan pengetahuan kepada PSK tentang bahaya berhubungan intim
secara bebas dengan pelanggan apabila tidak menggunakan pengaman dan kepada
masyarakat tentang bahaya seks bebas. Namun, terkadang yang menjadi kendala adalah,
para PSK sudah mengetahui manfaat penggunaan pengaman, mereka ingin memakai
pengaman namun para pelanggan mereka tidak mau menggunakan pengaman. Inilah
juga permasalahan yang sedang digencar oleh KPA.
KIE tentang penanggulangan HIV bagi masyarakat sangatlah penting untuk
memperkuat peran dan meningkatkan kewaspadaan masyarakat akan penyakit
HIV/AIDS. Tidak hanya kelompok PSK namun para remaja juga penting diberikannya
pendidikan. Paket pendidikan bagi remaja harus dikemas agar lebih mudah dipahami
remaja agar efektif mengembangkan pengendalian diri mereka agar tidak terjerumus
dalam hal-hal untuk berperilaku yang mendekatkan mereka pada HIV. Dan juga peran
orang tua mendidik putra-putrinya sangat penting dalam penekanan angka penularan
HIV/AIDS. Dan selain peran masyarakat dalam menjauhkan diri dari berperilaku yang
mendekatkan diri pada penularan virus HIV jugs masyarakat agar tidak bersifat
diskriminatif terhadap ODHA. Masyarakat berperan juga dalam memberi dukungan,
dan menciptakan lingkungan yang kondusif bagi penderita HIV/AIDS bukan malah
menjauhkan atau mendeskriminasi mereka.
Peran orang yang terinveksi HIV/AIDS atau yang disebut dengan ODHA adalah
upaya untuk pencegahan dan penanggulangan AIDS dimasa yang akan datang menjadi
sangat penting. ODHA berhak berperan pada semua tingkat proses pencegahan dan
penanggulangan serta monitoring dan evaluasi. Peran KPA sangat penting bagi ODHA
untuk memonitoring, evaluasi dan memberikan konseling. Peran KPA dan ODHA di
Bali yaitu juga memberi obat atau terapi meminum obat antiretroviral. Para ODHA
harus meningkatkan persiapan diri dan bertanggung jawab untuk mencegah penularan
HIV kepada pasangannya dan orang lain.
2.4 Hambatan Yang Terjadi
Peningkatan kasus HIV/AIDS dari tahun ke tahun di Denpasar Bali semakin
meningkat, banyak dari mereka yang mengidap penyakit mematikan ini adalah para
Pekerja Seks Komersial (PSK). Terutama sebagian besar para PSK tersebut berada di
daerah Sanur dan Kuta. Sudah banyak upaya dari pemerintah untuk menanggulangi
penyakit HIV/AIDS ini, pemerintah telah melakukan pembekalan untuk para PSK agar
mereka tidak enggan menggunakan pengaman saat melakukan hubungan intim tetapi
kurangnya kesadaran dari PSK itu sendiri dan pelanggan yang merasa kurang nyaman
jika menggunakan pengaman, hal itu yang menyebabkan upaya ini kurang berjalan,
akibatnya penderita HIV/AIDS semakin bertambah dari waktu ke waktu.
Tidak hanya itu, ternyata penyebaran PSK di Denpasar Bali juga semakin
meluas. Tidak sedikit kafe-kafe yang di dalamnya menjajakan para PSK. Hal ini
disebabkan karena kurangnya upaya pemerintah untuk segera menanggulangi

penyebaran PSK, akibatnya masyarakat menjadi tidak menghiraukan dan semena-mena


dalam bertindak.
KomisiPenanggulangan AIDS (KPA) di Denpasar Bali telah memberikan
banyak pembekalan, tapi sayangnya pembekalan tersebut lebih banyak terfokus pada
para PSK, sedangkan pada para remaja yang mayoritas rentan pula terkena penyakit
HIV/AIDS serta masyarakat, kurang ditekankan sosialisasi untuk mengantisipasi
penyebaran HIV/AIDS. Akibatnya mereka kurang mengetahui dan tidak mempunyai
bekal tentang bahaya penyebaran penyakit HIV/AIDS. KPA danDinas Kesehatan
Provinsi Bali juga melakukan sejumlah langkah untuk menekan angka atau mengurangi
penyakit HIV/AIDS misalnya saja melakukan pendeteksian dini yaitu dengan cara VCT
(Voluntary Counseling Testing). VCT ini merupakan pemeriksaan sukarelawan dan
didalamnya ada bimbingan konseling tentang bahaya dan penyebaran penyakit
HIV/AIDS. Karena sifatnya sukarelawan, maka tidak banyak masyarakat yang mau
memeriksakan dirinya, mereka beranggapan bahwa dirinya sehat dan tidak ada tandatanda terkena penyakit HIV/AIDS. Padahal dengan VCT ini akan berdampak besar
untuk mengurangi penyebaran penyakit HIV/AIDS karena dari situ kita bisa mengetahui
sejak awal apakah seseorang itu terjangkit virus HIV/AIDS atau tidak.
Masyarakat di Indonesia banyak yang kurang terlatih keterampilannya, sehingga
membuat mereka jadi malas untuk bekerja. Tidak hanya itu, upaya pemerintah dalam
membuka lapangan pekerjaan sangat minim yang menyebabkan masyarakat banyak
yang memilih jalan instan. Sebagian besar para wanita lebih memilih untuk menjadi
PSK karena mereka hanya memikirkan bagaimana mendapatkan uang dengan cara cepat
tetapi tidak memikirkan akibatnya. Hal itu menyebabkan penularan penyakit HIV/AIDS
semakin meluas.

2.5 Hasil Pengendalian Wabah


Dari strategi yang digunakan untuk menanggulangi wabah HIV di Indonesia
diperoleh hasil sebagai berikut :
1. Tindakan yang digunakan untuk mengendalikan wabah HIV di Indonesia belum
mendapatkan hasil yang memuaskan karena dari tahun ke tahun jumlah
penderita semakin banyak.
2. Tindakan yang dilakukan banyak mengalami kendala yang diakibatkan oleh
beberapa faktor resiko.
3. Cakupan KIE sudah banyak meningkat dan banyak ragamnya dalam tahuntahun terakhir ini tetapi ada keterbatasan dalam ketersediaan berbagai metoda di
tingkat daerah. Pemanfaatan KIE yang tidak efektif di tingkat daerah diperparah
dengan berbagai kondisi daerah. Bahasa dan buta huruf yang tinggi menyulitkan
pemanfaatan materi KIE sehingga belum berhasil dalam penanggulangan wabah.

4. Secara sosial HIV/ AIDS tabu untuk dibicarakan, menyebabkan sulitnya


mengajarkan atau mendiskusikan seks dengan kaum remaja serta menghalangi
dimasukannya pendidikan seks ke dalam kurikulum sekolah.
5. Petugas penjangkau, suka-relawan, pengajar sebaya dan mereka yang berwenang
di bidang kesehatan yang melakukan penjangkauan kepada masyarakat,
seringkali hanya terfokus untuk membawa orang ke klinik untuk tes dan
pengobatan saja.
6. Pada daerah-daerah tertentu, penderita HIV masih berkonotasi negatif sehingga
dalam menjalankan program penangulangan HIV dan AIDS terbentuklah stigma
terhadap kelompok-kelompok tertentu.

BAB 3 KESIMPULAN
3.1. Kesimpulan
Di Indonesia penyakit HIV menjadi wabah yang jumlahnya meningkat dari
tahun ke tahun. Penanganan kasus HIV di Indonesia banyak mengalami kendala,seperti
pemerintah dan masyarakat kurang memperdulikan bahaya HIV, terkadang pada daerahdaerah tertentu masyarakat memiliki keterbatasan bahasa dan buta aksara sehingga
menyebabkan strategi KIE tidak berjalan dengan baik. Tetapi pemerintah telah berupaya
semaksimal mungkin untuk menangani kasus HIV yang terjadi di Indonesia ini ditandai
dengan berkembangnya strategi-strategi yang digunakan.

3.2. Saran