Anda di halaman 1dari 7

80

BAB V
PEMBAHASAN

A. Intensitas nyeri dada pada pasien infark miokard akut di ruang ICCU
Rumah Sakit Umum Daerah Dr. ISKAK Tulungagung 2013.
Berdasarkan data umum dari hasil penelitian terdapat 24 responden yang
menderita Infark Miokard Akut di ruang ICCU Rumah Sakit Umum Daerah
Dr. Iskak Tulungagung dan mayoritas berusia 45-55 tahun dengan jumlah 12
responden (50%) atau setengah dari jumlah total reponden.
Bila ditinjau dari data khusus dalam tabel 4.2 dapat diketahui bahwa dari
24 responden, 13 diantaranya mengalami nyeri dada berat terkontrol, yang
mana mayoritas terjadi pada usia 45-55 tahun yaitu sebanyak 8 responden
(62%), selain itu pada usia ini juga mengalami nyeri dada berat tidak
terkontrol sebanyak 2 responden (100%), sedangkan pada usia 65-75 tahun
lebih mengalami nyeri sedang, yaitu sebanyak 6 responden (67%).
Menurut Meinhart dan Mc. Caffery 2005, dalam teori nyeri ada beberapa
faktor yang mempengaruhi terjadinya nyeri yang salah satunya adalah faktor
usia, yaitu dijelaskan bahwa anak belum bisa mengungkapkan nyeri, sehingga
perawat harus mengkaji respon nyeri pada anak. Pada orang dewasa kadang
melaporkan nyeri jika sudah patologis dan mengalami kerusakan fungsi. Pada
lansia cenderung memendam nyeri yang dialami, karena mereka menganggap
nyeri adalah hal alamiah yang harus dijalani dan mereka takut kalau
mengalami penyakit berat atau meninggal jika nyeri diperiksakan.
Sesuai dari hasil penelitian, maka peneliti bisa mengambil keputusan
bahwa responden Infark Miokard Akut yang usianya lebih muda lebih banyak
mengalami nyeri yang lebih berat, dari pada responden yang usianya lebih

81

tua, karena responden yang lebih tua lebih siap serta mampu mengkondisikan
diri dalam merespon nyeri dan menerima cobaan yang menimpanya.
Selain faktor usia diatas yang dapat mempengaruhi intensitas nyeri dada
pada pasien infark miokard akut yaitu jenis kelamin.
Berdasarkan data umum diagram 4.2 dari hasil penelitian terlihat jelas
bahwa jenis kelamin responden yang menderita infark miokard akut di ruang
ICCU Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Iskak Tulungagung mayoritas berjenis
kelamin perempuan dengan jumlah 15 responden (62%) atau sebagian besar
dari jumlah total reponden.
Bila ditinjau dari data khusus dalam tabel 4.3 diketahui bahwa dari 24
responden, 13 diantaranya mengalami mengalami nyeri dada berat terkontrol,
yang mana mayoritas ditunjukan pada jenis kelamin perempuan yaitu
sebanyak 11 responden (85%), selain itu juga mengalami nyeri dada berat
tidak terkontrol sebanyak 2 responden (100%). Sedangkan pada jenis kelamin
laki-laki cenderung mengalami nyeri sedang, yaitu sebanyak 7 responden
(78%).
Dalam teori nyeri dijelaskan bahwa jenis kelamin merupakan faktor yang
mempengaruhi intensitas nyeri, yaitu dijelaskan laki-laki dan wanita tidak
berbeda secara signifikan dalam merespon nyeri, justru lebih dipengaruhi
faktor budaya bahwa tidak pantas kalau laki-laki mengeluh nyeri, wanita
boleh mengeluh nyeri (Gill 2005).
Dari penjelasan diatas berdasarkan jenis kelamin dapat diketahui bahwa
responden yang berjenis kelamin perempuan mengalami intensitas nyeri dada
yang lebih menonjol dari pada laki-laki, dikarenakan koping perempuan

82

terhadap nyeri kurang efektif , sehingga munculah umpan balik berupa respon
terhadap nyeri yang berlebihan.

B. Tingkat Kecemasan Pada Pasien Infark Miokard Akut Di Ruang ICCU


Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Iskak Tulungagung Tahun 2013.
Berdasarkan data umum dari hasil penelitian terdapat 24 responden yang
menderita Infark Miokard Akut di ruang ICCU Rumah Sakit Umum Daerah
Dr. Iskak Tulungagung dan mayoritas berusia 45-55 tahun dengan jumlah 12
responden (50%) atau setengah dari jumlah total reponden.
Bila ditinjau dari data khusus dalam tabel 4.5 diketahui bahwa dari 24
responden, 16 diantaranya mengalami mengalami cemas berat, yang mana
mayoritas ditunjukan pada usia 45-55 tahun yaitu sebanyak 9 responden
(56%) dan pada usia ini juga mengalami cemas sangat berat atau panik
sebanyak 3 responden (75%), Sedangkan pada usia 66-75 tahun mengalami
cemas sedang, yaitu sebanyak 4 responden (100%).
Dalam teori cemas ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya
cemas yang salah satunya adalah faktor usia, yaitu dijelaskan bahwa usia
adalah umur individu yang terhitung mulai saat ini dilahirkan sampai pada
saat berulang tahun (Elizabeth, 2006). Semakin cukup umur semakin matang
tingkat kematangan dan kekuatan seseorang, akan semakin matang dalam
berfikir dan bekerja. Dari segi kepercayaan seseorang yang lebih dewasa akan
lebih dipercaya dari pada orang yang belum cukup dewasa. Hal ini sebagai
akibat dari pengalaman dan kematangan jiwa. Semakin tua seseorang semakin
konstruktif dalam penggunaan koping terhadap masalah yang dihadapi. Makin
muda umur seseorang makin mengalami permasalahan dan mempengaruhi
tingkat kecemasannya. (Huklock, 2005).

83

Dari penjelasan di atas berdasarkan usia dapat diketahui bahwa responden


yang usianya lebih muda lebih banyak mengalami cemas yang lebih berat, dari
pada responden yang usianya lebih tua, karena responden yang berusia lebih
muda tidak mempunyai pengalaman dan kematangan jiwa yang baik, sehingga
berpengaruh terhadap koping tubuh tehadap cemas yang buruk.
Selain faktor usia diatas yang dapat mempengaruhi tingkat kecemasan
pada pasien Infark Miokard Akut yaitu jenis kelamin.
Berdasarkan data umum diagram 4.2 dari hasil penelitian terlihat jelas
bahwa jenis kelamin responden yang menderita infark miokard akut di ruang
ICCU Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Iskak Tulungagung mayoritas berjenis
kelamin perempuan dengan jumlah 15 responden (62%) atau sebagian besar
dari jumlah total reponden.
Bila ditinjau dari data khusus dalam tabel 4.6 diatas diketahui bahwa dari
24 responden, 16 diantaranya mengalami mengalami cemas berat, yang mana
mayoritas ditunjukan pada jenis kelamin perempuan, yaitu sebanyak 11
responden (69%), selain itu juga mengalami cemas sangat berat sebanyak 4
responden (100%), sedangkan pada jenis kelamin laki-laki cenderung
mengalami cemas sedang, yaitu sebanyak 5 responden (31%).
Dalam teori cemas dijelaskan bahwa jenis kelamin merupakan faktor
yang mempengaruhi tingkat kecemasan, yaitu dijelaskan bahwa stress sering
dialami pada wanita dari pada pria dikarenakan wanita mempunyai
kepribadian yang labil dan immatur, juga adanya peran hormon yang
mempengaruhi kondisi emosi sehingga mudah meledak, mudah cemas, dan
curiga (Stuart 2006).

84

Dari penjelasan di atas berdasarkan jenis kelamin dapat diketahui


bahwa responden yang berjenis kelamin perempuan mengalami kecemasan
yang lebih menonjol dari pada laki-laki, dikarenakan baik secara fisik
maupun jiwa koping wanita kurang efektif dalam menerima serta merespon
cemas, sehingga menimbulkan umpan balik berupa respon cemas yang
berlebihan.
C. Hubungan Intensitas Nyeri Dada Dengan Tingkat Kecemasan Pada
Pasien Infark Miokard Akut Di Ruang ICCU Rumah Sakit Umum Daerah
Dr. Iskak Tulungagung Tahun 2012.
Berdasarkan Tabel 4.7 diatas diketahui bahwa dari 24 responden
terdapat 13 responden mengalami nyeri berat terkontrol dan nyeri berat tidak
terkontrol yang disertai dengan tingkat kecemasan berat. 11 responden (85%)
mengalami nyeri berat terkontrol disertai dengan kecemasan berat dan 2
responden (15%) mengalami nyeri berat tidak terkontrol di sertai dengan
cemas berat.
Berdasarkan pada perhitungan statistik Spearman Row dari tabel 4.8
didapatkan nilai rho: 0,692 dengan arti antara variable dependen yaitu
intensitas nyeri dada dan variable independen tingkat kecemasan terdapat
hubungan yang kuat, karena koefisien korelasi terletak pada range 0,41 s/d
0,70. Dengan demikian arah hubungan kedua variabel adalah positif, semakin
tinggi intensitas nyeri dada, maka semakin tinggi pula tingkat kecemasan pada
pasien infark miokard akut.
Hal ini juga dapat di perkuat dari uji statitik dengan menggunakan
perhitungan korelasi Spearman Rho, didapatkan P = 0,000 < = 0,05 maka
Ho di tolak dan H1 di terima, dengan arti ada hubungan antara intensitas nyeri

85

dada dengan tingkat kecemasan pada pasien infark miokard akut di ruang
ICCU Rumah Sakit Umum Daerah Dr. ISKAK Tulungagung.
Suatu respon nyeri biasanya diiringi oleh respon verbal yang disertai
luapan emosional. Menurut International Association for Study of Pain
(IASP), nyeri adalah suatu sensori subyektif dan emosional yang tidak
menyenangkan yang dapat terkait dengan kerusakan jaringan aktual maupun
potensial, atau menggambarkan kondisi terjadinya kerusakan. Nyeri adalah
pengalaman yang dipelajari oleh pengaruh dari situasi hidup masing-masing
orang dan dapat timbul oleh berbagai stimuli termasuk cemas atau stress,
tetapi reaksi terhadap nyeri tidak dapat diukur secara obyektif (Long, 2000).
Menurut Stuart dan Studeen (2005) Cemas berhubungan dengan
ketegangan dalam peristiwa kehidupan sehari-hari. Manifestasi yang muncul
pada cemas antara lain respon fisiologis berupa nafas pendek, rasa tercekik,
nyeri dada, pucat, hipotensi dan koordinasi rendah, selain itu respon kognitif
yang berupa lapang sangat sempit, tidak dapat berfikir logis, serta keluhankeluhan yang somatik, misalnya rasa nyeri otot dan tulang, berdebar-debar,
sesak nafas, sakit kepala, pendengaran berdenging (tinitus).
Diketahui bahwa hubungan teori diatas bila di bandingkan dengan uji
statistik dan teori cukup berkaitan, yaitu dengan adanya gangguan fisik serta
perubahan yang terjadi pada pasien infark miokard akut baik bila dilihat dari
segi fisik atau psikologis. Jika intensitas nyeri dada pada pasien infark
miokard akut semakin berat maka mengakibatkan tingkat kecemasan yang
semakin berat juga.
Dengan keterkaitan diatas, maka sangatlah penting untuk diberikan
suatu perhatian lebih lanjut kepada pasien infark miokard akut, yaitu berupa
penyuluhan, dukungan, motifasi, serta menejemen nyeri dan cemas yang tepat,

86

sehingga pasien mengetahui lebih dalam dan lebih siap dalam menghadapi
nyeri ketika terjadi serangan, selain itu suatu observasi khusus mengenai nyeri
dada dan tingkat kecemasan pasien pada saat mengalami serangan jantung
juga sangat penting, karena dari sini dapat diketahui sejauh mana intensitas
nyeri dada dengan tingkat kecemasan pada pasien tersebut. Dengan demikian
petugas kesehatan dapat memberikan asuhan keperawatan yang sesuai dengan
kondisi pasien saat itu dan bisa berkolaborasi dengan tim medis untuk
memberikan tindakan dan terapi yang tepat.