Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN TUGAS AKHIR

ANALISIS PENGARUH JUMLAH LNB PADA ANTENA PARABOLA TERHADAP


PARAMETER C/N PADA APLIKASI DVB-S
Arief Kurniawan
Program Studi Diploma III Teknik Telekomunikasi, Purwokerto
Akademi Teknik Telekomunikasi Sandhy Putra, Purwokerto
arief_kurniawan@ymail.com
ABSTRAKSI
Perkembangan teknologi komunikasi satelit pada dasa warsa terakhir sangat pesat. Beralihnya
teknologi analog ke teknologi digital merupakan salah satu sebab yang yang mendasari dan
ditemukannya teknik modulasi digital adalah gerbang dari peralihan tersebut. Salah satu aplikasi
teknologi sistem komunikasi satelit yang menggunakan teknik modulasi digital yaitu Digital Video
Bradcasting by Satellite (DVB-S) atau TV Satelit. Kelebihan dari aplikasi DVB-S adalah tidak
terpengaruhnya kualitas video yang diterima jika sudah melewati titik threshold parameter sinyal
Carier to Noise Ratio (C/N) nilai tertentu. Sehingga untuk memaksimalkan jumlah siaran DVB
dengan menambahkan sejumlah Low Noise Block (LNB) ke antena parabola. Karena dalam satu dish
antena bisa dipasang beberapa LNB. Penambahan LNB ini tidak serta merta menambah jumlah siaran
DVB namun dikombinasikan dengan pointing antena parabola terhadap satelit. Penambahan LNB
akan terus bisa dilakukan jika parameter C/N pada setiap LNB tidak menurun di bawah ambang batas
nilai tertentu karena adanya pergeseran sudut pada antena parabola. Dimana nilai C/N akan berkorelasi
secara tidak langsung terhadap Bit Error Rate (BER).
Kata kunci: DVB-S, C/N, LNB, Antena Parabola, BER.
ABSTRACT
The development of satellite communication technology in the last decade very rapidly. Shifting
analog technology to digital technology is one underlying cause and discovery of digital modulation
technique is the "gate" of the transition. One application technology of satellite communications
systems that use digital modulation techniques namely Digital Video Bradcasting by Satellite (DVB-S)
or satellite TV. The advantages of DVB-S application is not accepted character of the video quality if
it is past the point of threshold parameters Carier signal to Noise Ratio (C / N) a certain value. So as
to maximize the number of broadcast DVB by adding a number of Low Noise Block (LNB) to a
parabolic antenna. Because in a single dish antenna can be mounted multiple LNB. Additional LNB
this does not necessarily increase the number of broadcast DVB but combined with a satellite antenna
pointing towards the satellite. Addition of the LNB will continue to be made if the parameters C / N in
each LNB does not decrease below a certain threshold value due to the displacement angle on the
satellite antenna. Where the value of C / N would correlate indirectly to Bit Error Rate (BER).
Keywords: DVB-S, C / N, LNB, Antenna Parabola, BER
1. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
2.
Perkembangan
teknologi begitu pesat pada era
sekarang,
terutama
teknologi
telekomunikasi. Kecepatan mengakses
dan memperoleh informasi dimanapun
merupakan hal yang sangat diperlukan
bagi masyarakat. Guna memenuhi hal
tersebut
diperlukan
infrastruktur
penunjang,
salah
satunya

menggunakan sistem komunikasi


satelit. Sistem komunikasi satelit tidak
mengenal kendala geografis dan area
coverage yang luas merupakan pilihan
tepat untuk masyarakat Indonesia.
Salah satu aplikasi teknologi satelit
yaitu Digital Video Broadcast (DVB).
DVB adalah salah satu sistem yang
digunakan untuk mentransmisikan
siaran TV digital hingga ke end-user.
Sistem DVB menggunakan satelit

dinamakan Digital Video Broadcast


via Satelit
(DVB-S). Dengan

peralatan antena dan peralatan


penerima yang simpel, pelanggan
dapat menikmati siaran program
langsung dari satelit dengan
jumlah program TV yang
banyak.
3.
Pada sisi penerima,
sistem DVB-S terdiri dari: Antena,
Low Noise Block (LNB), DVB-S
Receiver Card, dan TV Antena. LNB
merupakan alat yang berperan dalam
memperoleh sinyal satelit, setiap LNB
hanya dapat digunakan untuk band
frekuensi tunggal, sebab S, C dan Kuband masing-masing memerlukan
rongga resonator yang berbeda.
Terdapat juga tipe untuk sinyal linear
dan
circular,
yang
dibedakan
berdasarkan peletakan dipole internal.
Dengan demikian, semakin banyak
LNB yang dipasang pada antena maka
semakin banyak pula band frekuensi
yang diperoleh sehingga semakin
banyak pula broadcast yang diperoleh.
Akan tetapi untuk memaksimalkan
chanel TV juga harus memperhatikan
pointing antena. Dimana setiap LNB
harus bisa menangkap transponder
berbeda dari satelit yang berbeda tanpa
menurunkan nilai parameter Carier to
Noise Ratio (C/N).
4.
Aplikasi
DVB-S
menggunakan modulasi sinyal digital
Quarternary Phase Shif Key (QPSK).
Pada penggunaan modulasi sinyal
QPSK mempunyai
keunggulan
dimana kualitas video akan tetap stabil
ketika level parameter C/N mempunyai
penguatan lebih dari level tertentu
(threshold) dalam satuan dB. Sehingga
kualitas video tidak akan terpengaruh
kejernihannya jika masih berada di
atas level tersebut berapapun nilai
C/N-nya.
5.
1.2. Tujuan
6.
Berapakah
jumlah
satelit pada layanan DVB-S yang
mampu ditangkap secara bersamaan
dengan memperhatikan parameter C/N
?
7.

1.3. Metoda penelitian


Instrumen Penelitian
8.
Instrumen
yang
digunakan guna menunjang proyek
tugas akhir ini yaitu: antena parabola,
empat buah LNB, Satellite Meter SM
2000, peralatan pointing, MS Exel.
9.
Variabel Penelitian
10.
Variabel-variabel yang
digunakan dalam penulisan ini adalah
parameter-parameter pokok yang
menentukan kualitas video:
11.
C/N
12. C/N, merupakan faktor yang menilai
kualitas sinyal yang di terima dimana C/N
merupakan perbandingan dari level daya
sinyal carrier terhadap noise level yang
dinyatakan dalam satuan dB.
13.
BER
14.
Bit Error Ratio (BER),
menyatakan banyaknya bit error dalam
suatu jumlah atau periode pengiriman
bit informasi.
15.
FEC
16.
Forward
Error
Correction
(FEC),
perbandingan
jumlah bit informasi dengan jumlah bit
yang ditransmisikan. Teknik FEC
dilakukan di dua sisi pengirim dan sisi
penerima. Pada sisi penerima, data
yang akan dikirimkan diproses oleh
encoder untuk disisipi bit-bit koreksi.
Kemudian setelah ditransmisikan, data
yang diterima akan diproses oleh
decoder untuk dikoreksi kesalahankesalahan bit akibat transmisinya.
17.
Studi Literatur
18.
Dalam
proses
pengerjaan tugas akhir ini, penulis
berusaha memperoleh berbagai data
yang berhubungan dengan masalah
yang dibahas melalui berbagai
referensi, baik dari buku maupun dari
internet.
19.
Metode Perencanaan
20.
Metode perencanaan
yang digunakan berupa flowchart

perencanaan yang dapat dilihat pada


gambar 1.

30.1

DVB
31.
Digital
Video
Broadcasting (DVB) adalah salah satu
sistem
yang
digunakan
untuk
mentransmisikan siaran TV/Video
digital hingga sampai ke pengguna
akhir (end user). DVB dikembangkan
berdasarkan latar belakang pentingnya
sistem broadcasting yang yang bersifat
terbuka.

21.

32.

22.
23.

Gambar 1. Flowchart perencanaan


tugas akhir.
24.
25. DASAR TEORI
25.1 SISTEM KOMUNIKASI SATELIT
26.
Sistem
komunikasi
satelit
merupakan
bentuk
pengembangan dari sistem jaringan
gelombang mikro dengan sebuah
pengulang (repeater) dimana repeaternya berupa satelit yang berada di ruang
angkasa dan mengorbit pada bumi.
Satelit sendiri merupakan suatu stasiun
pengulang gelombang mikro yang
berfungsi untuk memperkuat sinyal
yang berasal dari stasiun bumi serta
memproses translasi frekuensi dari
uplink frequency menjadi downlink
frequency yang akan dikirim kembali
ke bumi. Secara garis besar sistem
komunikasi satelit terbagi menjadi dua
bagian utama, yaitu space segment dan
ground segment.
27.
28. Gambar 1 Blok diagram Stasiun Bumi
secara
umum[5].
Satellite

HUB STATION

HPA/SSPA

Up
Converter

LNA

Down
Converter

ANTENA

PERANGKAT RF (RADIO FREKUENSI)


PERANGKAT IF (INTERMEDIATE FREKUENSI)
DAN BB (BASE BAND)

29.
30.

33. Gambar 2. Topologi DVB-S


34.
Dengan
konsep
tersebut maka transmisi informasi
digital dapat dilakukan secara fleksibel
tanpa perlu memberikan batasan jenis
informasi yang akan disimpan dalam
data container tersebut. Pemilihan
MPEG-2 sebagai sistem koding dan
kompresi dilakukan karena MPEG-2
mampu memberikan kualitas yang
baik sesuai dengan sumber daya yang
tersedia. Karena dengan proses
kompresi ini maka file kapasitasnya
menjadi lebih kecil, akan tetapi
kualitasnya sama dengan file yang
belum dikompres.
35.
35.1 Low Noise Block (LNB)
36.
Pada LNB antena
parabola untuk aplikasi DVB antara
LNA dan frekuensi peubah (frequency
translator)
digabungkan
yang
kemudian dikenal dengan sebutan Low
Noise Block (LNB) yang mempunyai
keluaran L-Band, dengan rincian
frekuensi 950-1450 MHz untuk
polarisasi horisontal dan 1550-2050
MHz untuk polarisasi vertikal.
37.

38.

47.
Persamaan matematis
untuk mencari nilai gain antena yaitu:
2

G max 10 log

39. Gambar 3. Blok diagram LNB[9].


40.
41.
Sinyal elektrik akan
dikuatkan oleh LNB dan dirubah
frekuensinya ke yang lebih rendah,
Intermediate
Frequency
(IF).
Kemudian
didemodulasi
oleh
penerima satelit yang keluarannya
adalah sinyal TV (video). Untuk
Direct PC maka sinyal IF kemudian
akan diterima oleh modul dalam
Portable Computer (PC) untuk
didemodulasi sehingga data dapat
diolah dan ditampilkan dalam bentuk
video.
42. Sebuah switch elektronik tambahan
memperkuat sinyal ini sebelum dikirim ke
kabel coaxial dan mengubahnya menjadi
frekuensi yang lebih rendah untuk
mengurangi redaman sinyal pada kabel.
43.
43.1 PARAMETER ANTENA
44.
Antena
memiliki
parameter-parameter untuk dapat
mendukung sifat dan fungsi-fungsinya.
Parameter-parameter yang ada pada
antena yaitu:
45.
Gain Antena.
46.
Gain antena adalah
suatu parameter yang melambangkan
suatu nilai penguatan antena terhadap
sinyal elektromagnetis baik yang
dipancarkan maupun diterimanya.
Penguatan antena tersebut adalah nilai
penguatan yang dibangkitkan oleh
perangkat pendukungnya dan ada pada
suatu antena bila dibandingkan dengan
antena lain. Hal ini disebabkan karena
antena merupakan salah satu perangkat
yang bersifat pasif yang tidak dapat
menghasilkan
suatu
daya
atau
penguatan sendiri. Satuan untuk nilai
gain antena yaitu decibel.

48.
(1)
49.Dimana:
50. = efisiensi ( < 1 )
51. c
= cepat rambat cahaya
(2,997925 x 108 m/s)
52. D = diameter antena ( m )
53. f = frekuensi yang digunakan
( GHz )
54.
55.
Beamwidth Antena
56. Beamwidth
antena
didefinisikan
sebagai sebuah lebar sudut pancar antena
tersebut. Beamwidth ini dihitung 3 dB dari
puncak main lobe ke bawah. Beamwidth
menyatakan sudut pada main lobe pada
batas-batas ke kiri dan ke kanan pada titik
3 dB down dari puncak main lobe.
Beamwidth yang dihitung sebesar 3 dB dari
puncak main lobe ini adalah merupakan
setengah dari nilai penguatan total dari
antena yang digunakan.
57.
Nilai beamwidth ini
sangat dipengaruhi oleh besarnya
frekuensi kerja dan besarnya diameter
antena.
Keduanya
ini
nilainya
berbanding terbalik dengan besarnya
beamwidth. Semakin besar frekuensi
kerja yang digunakan, maka semakin
kecil lebar berkasnya (beamwidth) dan
sebaliknya. Padahal bila dilihat dari
penguatan antena, semakin besar
frekuensi maka semakin besar juga
penguatan antena tersebut. Maka dapat
diambil kesimpulan semakin tinggi
frekuensi yang digunakan akan
semakin tajam direktivitasnya atau
semakin kecil dan panjang bentuk
main lobe pancaran sinyalnya,
sehingga harus semakin teliti dalam
pengarahan antena (pointing) tersebut.
58.
Sama halnya dengan
besar diameter antena yang digunakan.
Semakin
besar
diameter
yang
digunakan, maka menjadi semakin
kecil beamwidth-nya serta sebaliknya.
artinya berkas sinyal yang dipancarkan
akan semakin koheren dan harus
semakin teliti dalam pengarahan

(pointing) antena tersebut ke arah


satelit. Hal tersebut dikarenakan
apabila menyimpang sedikit saja
boresight-nya dari line of sight akan
besar sekali kemerosotan gain antena
tersebut (gain roll-off).
59.
60.

61. Gambar 4. Lebar sudut 3db[6].


62.
63. Perhitungan matematis untuk mencari
besar lebar berkas sinyal ini yaitu
digunakan persamaan berikut:

k
D
f D

3dB k

64.
(2)
65. 3db = beamwidth (derajat)
66. k
70
67.
Kerugian Gain Antena (Antenna Gain Rolloff)
68. Selain memiliki nilai penguatan (gain),
antena memilik parameter yang merupakan
nilai dari rugi-rugi pengurangan gain antena
tersebut. Rugi-rugi penguatan antena ini
disebabkan oleh penyimpangan sudut bore
sight antena dari batas-batas yang
ditentukan.
69.
Kerugian gain antena
ini juga bisa disebabkan oleh besarnya
beamwidth antena tersebut. Semakin
sempit beamwidth suatu antena berarti
semakin tajam main lobe-nya sehingga
perubahan arah antena sedikit saja
menimbulkan kerugian gain yang
cukup besar.

70.
Secara
matematis,
nilai gain roll-off antena dapat dihitung
dengan persamaan 2.6 berikut:

G 0, 027(b.f.D)
71.
(3)
72.
dimana:
73. G
= antenna gain roll-off (dB)
74. b
= besar sudut simpang
75. D = diamater antena (m)
76.
77.
77.1 SISTEM PENGARAHAN ANTENA
(TRACKING ANTENNA)
78.
Satelit pada orbit
geostasioner tampak relatif tetap bila
dilihat dari bumi. Hal ini akan
mempermudah dalam pemasangan
antena stasiun bumi, yaitu dengan cara
mengarahkan antena pengirim ataupun
penerima ke satelit. Posisi stasiun
bumi baik stasiun bumi pemancar
ataupun penerima memegang peranan
penting dalam komunikasi satelit,
sedangkan satelit hanya berperan
sebagai pengulang (repeater) untuk itu
stasiun bumi harus diletakan pada
posisi yang tepat dan berada pada
daerah cakupan satelit agar sinyal yang
dikirim dapat diterima satelit dan
dipancarkan kembali pada stasiun
penerima.
79.
Untuk
meletakan
stasiun bumi pada posisi yang tepat
agar bisa berkomunikasi dengan
satelit, harus diketahui sudut elevasi
dan sudut azimuth-nya. Sudut azimuth
dan elevasi ini adalah sudut yang
dibentuk oleh antena parabola untuk
mengarah tepat ke satelit di atas agar
sinyal yang diterima dari satelit
maupun yang dipancarkan ke satelit
dapat sempurna tanpa mengalami
penurunan nilai gain pada antena
parabola tersebut (antenna gain rollof) dan pointing loss. Sudut azimuth
diartikan sebagai sudut antara garis
arah utara dengan garis ke arah titik
proyeksi satelit pada bidang horizon
setempat dari stasiun bumi. Untuk
menentukan
nilainya
terdapat
ketentuan yang sudah ditetapkan, yaitu
jika posisi stasiun bumi berada di:
80.
a. Sebelah Utara Khatulistiwa
2

81.
Stasiun bumi berada di barat
satelit :
82.
A = 180 - A
83.
Stasiun bumi berada di timur
satelit :
84.
A = 180 + A
85.
86. Sebelah Selatan Khatulistiwa
87.
Stasiun bumi berada di barat
satelit :
88.
A = A
89.
Stasiun bumi berada di timur
satelit :
90.
A = 360 A
91. Untuk menentukan nilai sudut azimuth
(A) tersebut dapat dicari dengan persamaan:

tan S L

A' tan 1

sin 1

92.
..(4)
93.
dimana:
94.
s= posisi bujur (longitude)
satelit
95.
L= posisi bujur (longitude)
stasiun bumi
96.
1= posisi lintang (latitude)
stasiun bumi
97.
98.
Sudut elevasi adalah
sudut antara bidang horizon setempat
dengan garis line of sight dari stasiun
bumi ke arah satelit, dengan arah
putaran ke atas dan titik nol terletak
pada bidang horizon setempat. Untuk
mencari sudut elevasi antena parabola
yaitu dengan persamaan:
99.
100.
cos Re h
101.

1 cos cos
h 2Re Re h 1 cos cos
2

E cos 1

...............................

..............(5)
102. dimana:
103. h = orbit satelit geostasioner
dari permukaan bumi (35786 km)
104. Re = jari-jari bumi (6378)
105. cos = selisih longitude stasiun
bumi dengan satelit
106. cos = nilai latitude dari stasion
bumi.
107.

107.1 Carier to Noise Ratio (C/N)


108.
Parameter ini menyatakan
besarnya perbandingan carrier terhadap
noise. Harga C/N ditentukan dan dipilih
berdasarkan
jenis
dan
fasilitas
telekomunikasi yang akan diterapkan.
Umumnya dalam perhitungan link adalah
untuk sistem transmisi yang ideal,
sehingga harga C/N harus ditambahkan
margin yang besarnya sekitar 1 sampai
1.5 dB.
109.
109.1 Bit Error Rate (BER)
110.
BER
didefinisikan
sebagai tingkat kesalahan yang terjadi
dalam sistem transmisi atau rasio
perbandingan antara jumlah bit error
dengan bit yang diterima. BER adalah
parameter untuk sebuah karakteristik
perangkat. Parameter ini berhubungan
langsung dengan nilai Eb/No, dengan
BER ini dapat memperbaiki kualitas
EB/No menjadi lebih besar.
111.
Pada proses transmisi
data,
penerima
harus
dapat
menentukan apakah bit yang diterima
adalah bit 1 atau bit 0, dan ini
dipengaruhi oleh bentuk gelombang
yang di terima. Dengan kata lain,
semakin banyak derau dan tegangan
penggunanya, kemungkinan adanya
kesalahan pada sinyal yang diterima
semakin besar.
112.
Bit Error Ratio didefinisikan
sebagai berikut[1]:
113.
114.......................................................................................

BER

jumlah bit yang diterima salah


jumlah seluruh bit yang dikirim

115.
115.1 KENDALI ERROR CONTROL
116.
Untuk
menerapkan
metode error control diperlukan
adanya teknik deteksi kesalahan (error
detecting techniques). Prinsip kerjanya
yaitu dengan menambahkan bit-bit
dengan pola tertentu pada setiap frame
yang ditransmisikan. Pola bit ini
tergantung pada jenis kode yang
digunakan dan isi frame. Adanya bitbit tambahan (redundant bits) ini
adalah untuk memeriksa ada tidaknya
error pada kode yang diterima.

117.
Pada
umumnya
metode pengontrolan kesalahan dibagi
menjadi dua bagian, yaitu Forward
Error Correction (FEC) dan Backward
Error Correction (BEC).
118.
119.
3. ANALISA DAN PEMBAHASAN
120.
3.1 UMUM
121.
Pada bab ini akan
membahas dan menganalisa hasil
perubahan parameter C/N yang terjadi
jika penambahan LNB dilakukan. Dari
satu buah LNB menjadi empat buah
LNB tentunya nilai parameterparameter sinyal akan berbeda. Ini
dikarenakan proses pointing yang
dilakukan
guna
memaksimalkan
semua LNB supaya mendapatkan
sinyal dari satelit.
122.
Dengan demikian di
bab ini tidak hanya membahas
parameter-paremeter
sinyal
saja,
namun juga proses pointing dan
parameter-parameter antena tertentu.
Karena proses pointing dan parameter
antena juga akan mempengaruhi nilai
dari parameter sinyal yang diterima.
123.
124.
125.

rumus dengan mengasumsikan nilai


sebesar 0,6 dan frekuensi yang
digunakan adalah frekuensi downlink
untuk C-Band sebesar 4 GHz.
Sedangkan diameter antena yang
digunakan yaitu 1,8 meter. Mencari
nilai gain antena yaitu denga
persamaan sebagai berikut:
131.

G max

132.

D
10 log

35,33034 dBi

133.
134.

135.
Dengan
nilai
parameter-parameter antena diatas,
maka nilai gain maksimal yang
diperoleh sebesar 35,33034 dBi. Nilai
gain maksimal merupakan penguatan
antena maksimal dalam menangkap
sinyal dari satelit. Sehingga jika nilai
EIRP pada suatu area lebih besar dari
gain
maksimal
antena,
maka
penguatan yang mampu diterima di
area tersebut hanya pada nilai gain
maksimal antena tersebut saja.
136.
Beamwidth Antena
137.
Lebar berkas suatu
antena
sering
disebut
dengan

3dB . Nilai ini berarti


beamwidth
setengah penguatan pada posisi sudut
sesuai pengarahan ketika gain bernilai
setengah dari nilai maksimumnya.
Semakin panjang diameter antenanya

126.
Gambar 5. Skema pengukuran
dan urutan satelit yang digunakan.
127.
128.
3.2 PARAMETER ANTENA
129.
Gain Antena
130.
Mencari
nilai
penguatan antena dimaksudkan untuk
mengetahui karakteristik antena yang
dipergunakan stasiun bumi, sehingga
dapat dicari nilai side lobe-nya. Gain
antena dicari dengan menggunakan

maka nilai 3dB akan semakin kecil,


artinya berkas sinyal yang dipancarkan
akan
semakin
fokus.
Untuk
menghitung besarnya lebar berkas
menggunakan persamaan 2.4 dan
parameter diameter antena yang
digunakan yaitu 1.8 meter dengan
menggunakan frekuensi downlink 4
Ghz.


3dB k
D

138.

139.

2,997925.108
70

9
4.10 1,8

140.

2,914646o

141.
Kerugian Gain Antena (Antenna Gain
Roll-off)
142.
Kerugian gain antena ini
dipengaruhi oleh besarnya lebar berkas
(beamwidth) dari antena. Semakin sempit
beamwidth suatu antena berarti semakin
tajam berkas utamanya (main lobe),
sehingga perubahan arah antena sedikit saja
menimbulkan kerugian gain yang cukup
besar.
143.
Sudut terbesar yang
dibentuk dari dua satelit terjauh
dengan stasiun penerima yaitu antara
satelit Palapa C2 dengan satelit Asiasat
2
sebesar
78o,
namun
pada
kenyataanya sudut simpang dari satelit
Palapa C2 hanya sekitar sebesar 30o.
Dengan sudut sebesar 30o sinyal dari
kedua satelit jarak terjauh sudah bisa
digunakan untuk aplikasi DVB-S.
144.
145.

G 0, 027(b.f.D) 2

9
2
146. 0, 027(30.4.10 .1,8)

1, 259712.10 dB
147.
148.
3.2 PERHITUNGAN
AZIMUTH
DAN
ELEVASI
149.
Pada sub-bab ini akan
membahas analisa perhitungan sudut
azimuth dan elevasi yang terbentuk oleh
antena dengan satelit. Dimana letak antena
penerima yang digunakan sebagai objek
yaitu pada koordinat 109,15O BT dan 7,26O
LS yaitu di AKATEL SP PURWOKERTO.
150.
Pointing pertama dilakukan
pada satelit Palapa C2, dimana satelit ini
menjadi acuan dalam tracking guna
mendapatkan siaran TV broadcast. Menjadi
acuan disini dimaksudkan bahwa nilai
parameter sinyal dari satelit ini tetap ada di
atas ambang batas untuk mendapatkan
siaran
broadcast,
karena
ketika
ditambahkan sejumlah LNB yang secara
otomatis akan merubah posisi antena
penerima untuk mengefektifkan kesemua
LNB tersebut.
151.
Dengan diketahuinya nilainilai tersebut maka langkah selanjutnya
mengarahkan antena ke satelit sehingga
terjadi keadaan Line Of Sigh (LOS) antara
antena dan satelit.
1. Satelit Palapa C2
21

Posisi satelit Palapa C2 berada


pada 113o BT
Posisi antena penerima berada
pada titik koordinanat 109,15o BT
dan 7,26o LS.
152.
Menentukan sudut azimuth
dengan persamaan 4. yaitu:
153.

tan S L

A' tan 1

154.

sin 1

tan 0,532526
1

28, 036483
155.
156.
Karena posisi antena penerima
di AKATEL berada pada sebelah selatan
khatulistiwa dan sebelah barat satelit, maka
besarnya sudut azimuth yang terbentuk
sesuai ketentuan persamaan 2.12 adalah:
157.
A=A
28, 036483o

158.

159.
160.
Untuk menentukan
elevasi dengan persamaan 5:
161.

cos Re h
162.
163.
164.

sudut

1 cos 2 cos 2
h 2 2 Re Re h 1 cos cos
0,148299

E cos 1
165.

cos 1 0,148299

166.

81, 471597o

167.
2. Satelit Telkom 1
Posisi satelit Telkom 1 berada
pada 108o BT
Posisi antena penerima berada
pada titik koordinanat 109,15o BT
dan 7,26o LS.
168.
169.
Menentukan
sudut
azimuth dengan persamaan 2.14 yaitu:

tan S L

170.

A' tan 1

sin 1
1

171.

tan 0,158848

172.

9, 025919o

173.
174.
Karena posisi antena
penerima di AKATEL berada pada
sebelah selatan khatulistiwa dan
sebelah timur satelit, maka besarnya
sudut azimuth yang terbentuk sesuai
ketentuan persamaan 2.13 adalah:
175.
A = 360 A
176.
= 360 9,025919
177.
= 350,974081 o

199.
200.
Untuk menentukan sudut
elevasi dengan persamaan 5:
201.

1 cos 2 cos 2
h 2 2 Re Re h 1 cos cos

cos Re h
202.

178.

179.
Untuk
menentukan
sudut elevasi dengan persamaan 5:
180.

0,148280

203.

E cos 1

204.

E cos 1 0,148280

205. E 81, 472729


206.
181.
4. Satelit Asiasat 2
1 cos 2 cos 2
Posisi satelit Asiasat 2 berada
cos Re h
2
pada 100,5o BT
h 2 Re Re h 1 cos cos
Posisi antena penerima berada
1
182. E cos
pada titik koordinanat 109,15o BT
dan 7,26o LS.
0,148607
183.
207.
Menentukan
sudut
E cos 1
184.
azimuth dengan persamaan 2.14 yaitu:
185.
186.
187.

E cos 1 0,148607

tan S L

E 81, 453779

209.

190.

191.

tan 0,504785
o

tan 1 1, 203814
o

26, 783992
192.
193.
194.
Karena posisi antena
penerima di AKATEL berada pada
sebelah selatan khatulistiwa dan
sebelah timur satelit, maka besarnya
sudut azimuth yang terbentuk sesuai
ketentuan persamaan 2.13 adalah:
195.
A = 360 A
196.
= 360 26,783992
197.
= 333,216008 o
198.

sin 1

50, 283823
210.
211.
212.
Karena posisi antena
penerima di AKATEL berada pada
sebelah selatan khatulistiwa dan
sebelah timur satelit, maka besarnya
sudut azimuth yang terbentuk sesuai
ketentuan maka:
213.
A = 360 A
214.
= 360 50,283823
215.
= 309,716177 o
216.
217.
Untuk
menentukan
sudut elevasi dengan persamaan 5:

tan S L
sin 1

208.

188.
3. Satelit Asiasat 3S
Posisi satelit Asiasat 3S berada
o
pada 105,5
Posisi antena penerima berada
pada titik koordinanat 109,15o BT
dan 7,26o LS.
189.
Menentukan
sudut
azimuth dengan persamaan 2.14 yaitu:

A' tan 1

A' tan 1

218.

cos Re h
219.

1 cos 2 cos 2
h 2 2 Re Re h 1 cos cos

0,146605

220.

E cos 1

221.

E cos 1 0,146605

222.
223.

E 81,569758o

224.
Secara
perhitungan
nilai-nilai sudut azimut dan elevasi
ditampilkan pada tabel berikut:
225.
226.
Tabel 1. Perhitungan sudut
tracking.
227.

228.
229.
Dari tabel diatas nilai
dari sudut elevasi hampir seragam
kisaran 81,4o. sedangkan untuk besar
sudut mempunyai tenggang nilai yang
besar yaitu 78,320306o.
230.
231.
4.1. PEMBAHASAN
HASIL
PENGUKURAN
PARAMETER
SINYAL
232.
Pengukuran parameter
ini dilakukan dengan alat bantu
Satellite Meter SM 2000. Metode
pengukurannya
yaitu
dengan
mengukur parameter sinyal dimulai
dengan hanya mengunakan satu buah
LNB yang diarahkan ke satelit acuan
yaitu satelit Palapa C2.
233.
Proses
pengukuran
dengan Satelit Meter SM 2000
memerlukan input-an yang meliputi
tipe frekuensi LNB yang digunakan,
Symbol Rate, frekuensi, dan polarisasi
transponder pada satelit yang akan
dituju.
Pada
pengukuran
yang
dilakukan hanya mengambil empat
sampel transponder pada masingmasing satelit yang didapat. Output
parameter yang terukur pada Satelit
Meter SM 2000 nilainya tidak tetap,
naik turun. Sehingga nilai yang
diambil merupan nilai yang paling
sering muncul.
234.
1. Menggunakan Satu LNB
235.
Hasil
pengukuran
hanya menggunakan satu LNB adalah
sebagaimana pada Tabel 3.2.
236.

237.

Tabel 2. Hasil pengukuran 1


LNB untuk satelit Palapa C2

238.

239.
240.
Nilai hasil pengukuran
pada Tabel 3.2 di atas merupakan nilai
dimana antena hanya terkonsentrasi
pada satu satelit baik sistem trackingnya ataupun pada sistem penerima.
Sehingga pemasangan LNB hanya satu
dan tepat berada pada titik fokus
antena. Dengan kondisi demikian
maka nilai parameter yang terukur
merupakan nilai paramer yang
maksimal.
2. Menggunakan Dua LNB
241.
Berikut data yang
diperoleh dengan menmbahkan satu
LNB, sehingga dalam satu dish ada
dua LNB yang terpasang. Dengan
ditambahnya LNB yang digunakan
untuk menerima sinyal dari satelit
Telkom 1, maka nilai parameter C/N
pada
LNB
yang
diperuntukan
menerima sinyal dari Palapa C2 turun.
242.
243.
Tabel 3. Hasil Pengukuran 2
LNB.
244.

245.
246.
Pada
Tabel
3.
menggunakan dua buah LNB pada
satu dish antena. Ini disebabkan karena
untuk memfungsikan kedua LNB
diperlukan dua satelit, dimana untuk
memfungsikannya diperlukan proses
tracking ulang. Sehingga kondisi
antena diarahkan pada titik tertentu
yang dapat memperoleh sinyal dari
kedua satelit. Satelit yang didapat yaitu

Palapa C2 untuk LNB 1, dan Telkom 1


untuk LNB 2.
3. Menggunakan Tiga LNB
247.
Satelit yang digunakan
dalam tiga LNB yaitu satelit Palapa C2
dan Telkom 1 untuk dua LNB
sebelumnya, kemudian satelit Asiasat
3S untuk penambahan satu LNB itu
sendiri. Dengan penambahan LNB
maka
parameter-parameter
yang
terukur pun berubah.
248.
Berikut data hasil
pengukurannya dengan LNB 3
mendapatkan sinyal dari satelit Asiasat
3S:
249.
250.
Tabel 4. Hasil Pengukuran 3 LNB.
251.

252.
253.
Dari data Tabel 3.4
dapat dilihat bahwa nilai C/N terbaik
terdapat pada satelit Telkom 1 atau
penerimanya adalah LNB ke-2. Hal ini
disebabkan letak satel`it Telkom 1
(108oBT) itu sendiri, dimana letak
satelit Telkom 1 berada diantara satelit
Palapa C2 (113oBT5) dan Asiasat 3S
(105,5o BT). Dengan posisi satelit
yang demikian, maka pengarahan
antena untuk mendapatkan sinyal
maksimal dari ketiga satelit tersebut
secara langsung akan memperkecil
sudut simpang antara antena penerima
dan satelit Telkom 1. Dengan alasan
tersebut maka nilai parameter satelit
Telkom1 yang terukur menjadi paling
baik diantara parameter kedua satelit
lainnya.
4. Menggunakan Empat LNB
254.
Penambahan LNB dari
tiga
menjadi
empat
guna
memaksimalkan jumlah satelit yang
diterima, satelit keempat yang

diperoleh adalah satelit Asiasat 2.


Sehingga dengan keempat LNB dapat
difungsikan secara maksimal.
255.
256.
Tabel 5. Hasil Pengukuran 4
LNB.
257.

258.
259.
Sudut azimuth dan
elevasi
yang
digunakan
guna
memaksimalkan jumlah satelit yang
diterima yaitu azimuth 820 untuk
azimuth 3490. Sehingga ada pergeseran
sudut sebesar 39o dari posisi awal
ketika hanya menggunakan satu LNB.
Berikut data pengukuran yang didapat
dengan menambah satu LNB menjadi
empat buah LNB yang terpasang:
260.
Dari data Tabel 3.5 di
atas bisa dilihat bahwa ada satu
transponder dari satelit Palapa C2 yang
sudah tidak dapat terdeteksi sinyal
yaitu transponder dengan frekuensi
4184V dan symbol rate 6700. Ini
disebabkan
karena
daya
yang
ditransmisikan
setiap
tranponder
berbeda, dan daya yang dimiliki
transponder tersebut nilainya tidak
sesuai ketika sampai ke LNB.
261.

262.

1 LNB

2 LNB

273.
Gambar 8. merupakan
perbandingan nilai sinyal yang
diperoleh LNB 2 terhadap parameter
C/N. LNB 2 ini dipasang guna
mendapatkan sinyal dari satelit Telkom
1.
274.
Gambar
3.6
merupakan grafik pengaruh jumlah
LNB pada satelit Asiasat 3S terhadap
parameter C/N. Pada grafik tersebut
ada
perbedaan
dengan
grafik
sebelumya, dimana nilai C/N pada
penggunaan tiga LNB lebih kecil
dibandingkan dengan penggunaan
empat LNB. Ini disebabkan karena
sewaktu pointing menggunakan tiga
buah LNB, posisi satelit ada di sisi
satelit Telkom 1, sehingga antena lebih
cenderung mengarah ke tengah-tengan
diantara ketiga satelit tersebut.
275.
Berbeda halnya ketika
menggunakan empat buah LNB
dimana posisi satelit Asiasat 3S berada
dalam posisi kategori tengah dari
keempat satelit tersebut.
276.
277.

3 LNB

4 LNB

263.

Gambar 6. Perbandingan LNB 1


dengan parameter C/N untuk
264.
satelit Palapa C2.
265.
266.
Dari data-data yang
diperoleh dari tabel-tabel di atas dapat
ditampilakan dalam bentuk grafik.
Grafik ini akan membandingakan
pengaruh jumlah LNB terhadap
parameter C/N. Pada gambar grafik
3.4 akan ditampilakan perbandingan
jumlah LNB terhadap parameter C/N
pada sinyal satelit Palapa C2.
267.
Dari gambar grafik 3.4
di atas nilai C/N tertinggi pada saat
hanya menggunakan satu buah LNB,
dan ketika menggunakan empat buah
LNB nilai C/N akan turun bahkan ada
transponder yang tidak bisa diterima
sinyalnya.
268.

--3 LNB
4 LNB

269.

_
2 LNB
3 LNB
4 LNB

270. Gambar 7. Perbandingan LNB


2 dengan parameter C/N untuk
271. satelit Telkom 1.
272.

278. Gambar 8. Perbandingan LNB


3 dengan parameter C/N untuk
279. satelit Asiasat 3S.
280.
281.
Pada
Gambar
8
merupakan grafik yang terbentuk dari
nilai
parameter sinyal C/N pada
satelit Asiasat 2 tiap sampel
transponder yang diambil. Nilai C/N
pada satelit ini merupakan nilai yang
paling kecil jika dibandingakan nilai
C/N dari satelit lain. Ini dikarenakan

satelit ini mempunyai posisi paling


jauh dengan stasiun bumi penerima
dibandingkan dengan satelit lainya,
sehingga daya yang diterima lebih
kecil.
282.
283.

--

--

--

4 LNB

284. Gambar 9. Perbandingan


jumlah LNB 4 dengan parameter
C/N untuk satelit Asiasat 2.
285.
286.
Nilai
BER
dari
pengukuran dengan Satellite Meter SM
2000. Namun keakuratan dari nilai
tersebut kurang, karena pada dasarnya
Satellite Meter bukan khusus untuk
mengukur nilai BER.
287.
Sesuai standar ETSI
bahwa nilai dari BER untuk aplikasi
DVB-S adalah 1,5.10-2 atau 15.10-3.
Nilai tersebut diperoleh dari nilai
Eb/Eo standar yang ditampilkan pada
tabel berikut:
288.
289. Tabel 6. Standar ETSI untuk Eb/No
dan C/N.
290. F
291. Eb/No[
292. C/N[
EC
dB]
dB]
293. 1
294. 4.5
295. 4.1
/2
296. 2
297. 5.0
298. 5.9
/3
299. 3
300. 5.5
301. 6.9
/4
302. 5
303. 6.0
304. 7.9
/6
305. 7
306. 6.4
307. 8.5
/8

308.
309.
Dari tabel di atas
maka untuk FEC mempunyai Eb/No
standar 5,5 dB dan C/N yaitu 6,9.
Namun ada sumber lain yang
menyatakan bahwa standar parameter
C/N adalah sebesar 7dB[8]. Dengan
diketahuinya besar nilai Eb/Eo maka
nilai dari BER dapat dicari karena
antara nilai Eb/Eo dan BER saling
berkorelasi. Dari gambar 3.4 terlihat
grafik hubungan antara BER dengan
besarnya EB/No. Grafik tersebut
terdiri dari berbagai jenis modulasi,
yaitu QPSK, 8-PSK, dan 16-QAM
yang umum dipakai sebagai modulasi
pada sistem komunikasi satelit. Sesuai
dengan jenis modulasi satelit yang
digunakan, maka jenis modulasi yang
akan dipakai adalah hanya pada
QPSK.
310.
Jika nilai Eb/No 5,5
dB untuk standar DVB-S maka pada
grafik ditarik garis lurus dari sumbu
horisontal ke atas hingga berhimpit
dengan garis lengkung modulasi
QPSK. Dari titik ini jika ditarik garis
ke sumbu vertikal maka akan diketahui
nilai dari BER. Sehingga diperoleh
nilai BER 1,5.10-2.
311.
Dengan demikian nilai
BER pada hasil pengukuran diatas atau
masih sesuai dengan batas ketentuan
ETSI. Nilai BER 1,5.10-2 diartikan
bahwa pada sistem transmisi akan
mengirimkan data sebanyak 15.103
atau 1000 bit informasi dengan data
yang salah ketika sampai di penerima
hanya 15 bit saja.
312.
Dari Tabel 3.6 dan
Gambar 10, maka antara nilai BER,
C/N, dan Eb/No ada keterkaitan.
Dimana nilai C/N berbanding lurus
dengan nilai Eb/No, dan nilai Eb/No
berbanding terbalik dengan besar nilai
BER. Dengan demikian maka nilai
C/N dan Eb/No berbanding terbalik
dengan BER.
313.

314.

315.
317.

1.

2.

3.

4.

Gambar 10. Grafik hubungan


BER dengan Eb/No.
316.
4. KESIMPULAN
318.
Berdasarkan seluruh
penjelasan dan analisis serta dengan
melihat hasil dari bentuk-bentuk grafik
dari hasil perhitungan, maka penulis
mengambil kesimpulan bahwa:
Berdasarkan analisa pada Bab III maka
jumlah LNB akan berbanding terbalik
dengan parameter Carier to Noise
(C/N). Semakin bertambah jumlah
LNB maka akan semakin kecil nilai
parameter C/N-nya. Demikian juga
sebaliknya, semakin sedikit jumlah
LNB yang digunakan maka nilai dari
parameter C/N akan semakin besar.
Untuk mendapatkan empat siaran
DVB-S dari satelit Palapa C2 (113oE),
Telkom 1 (108oE), Asiasat 3S
(105,5oE), dan Asiasat 2 (100,5oE) di
AKATEL SP PURWOKERTO yang
mempunyai koordinat 109,15 BT dan
7,26 setting sudut azimuth 349o dan
besar sudut elevasi 82o.
Setiap tranponder mempunyai alokasi
daya yang berbeda-beda, sehingga tiap
transponder
dalam
satu
satelit
mempunyai nilai C/N yang berbeda
pula.
Dari hasil pengukuran yang didapat,
nilai C/N maksimal yang diperoleh
adalah sebesar 10 dB dan nilai C/N
minimum yang didapat adalah senilai
5dB. Namun demikian kualitas video
yang diterima mempunyai kualitas
yang sama antara C/N 10 dB dan C/N
5 dB.

5. Sedangkan nilai BER rata-rata berkisar


antara 12.10-5 sampai 84.10-6. Dimana
semakin besar nilai BER maka akan
semakin kecil nilai C/N yang
diperoleh. Demikian juga sebaliknya.
Jika nilai BER rendah maka Nilai C/N
yang diterima akan semakin besar.
Sehingga nilai antara C/N berbanding
terbalik dengan BER.
319.
5. SARAN
1. Pengarahan antena penerima ke arah
satelit harus tepat sudut azimuth dan
sudut elevasinya sehingga sinyal yang
diterima akan maksimal.
2. Tugas Akhir ini hanya membahas
parameter dengan nilai pengukuran saja,
sehingga bisa dikembangkan untuk
membandingakan nilai perhitungan dan
nilai pengukuran.
3. Dalam batasan tugas akhir ini jumlah
LNB yang digunakan maksimal empat
buah, sehingga untuk mempertajam
bahasan pengaruh jumlah LNB terhadap
parameter C/N ketika menggunakan
lebih dari 4 buah LNB yakni 5 atau 6
buah maka akan lebih bagus dalam
analisa data yang diperoleh.
320.
321.
322.
323.
324.
325.
326.
327.
REFERENSI:
328.
329. [1] Fitriani Isnawati, Anggun. 2006.
Komunikasi Data. Diktat Kuliah
Akatel Sandhy Putra Purwokerto.
Purwokerto
330. [2] Maral, Gerard dan Michel Bousquet.
2002. Satellite Communication
System Fourth Edition. John Wiley.
331. [3] Koppitz, Heinz. Apa itu LNB dan
untuk apa?
332.
http://telesatellite.com/TELE-satellite0611/bid/beginner.pdf diakses pada
tanggal 3 Juni 2010 pukul 13.20.
333. [4] Mignone, Vittoria. 2006. DVB-S2:
The Second Generation Standard
for Satellite Broad-band Services.
334. [5] Pamungkas,
Wahyu.
2005.
Komunikasi Satelit. Diktat Kuliah

Akatel Sandhy Putra Purwokerto.


Purwokerto.
335. [6] Pamungkas, Wahyu. 2005. Modul
Praktikum Komsat Akatel Sandhy
Putra Purwokerto. Purwokerto.
336. [7] Satrio, Yoyok. Mengenal Standar
DVB.
337. http://yoyoxproduction.wordpr
ess.com/2009/08/17/mengenal-

standar-dvb/ diakses pada tanggal


12 Mei 2010 pukul 8.00.
338. [8] Pratt, Timothy and Chares W Bostian.
1995. Satellite Communications.
John Wiley.
339.
[9] Vallejo, Miguel A. LNB and it's
ham
radio
usage.
http://ea4eoz.ure.es/lnb.html
diakses pada tanggal 6 Juli 2010
pukul 16.00.

340.
341.