Anda di halaman 1dari 45

3.

Steam Turbine and Auxiliaries


3.1 Pendahuluan
Steam Turbine Generator adalah komponen konversi daya yang utama
dari sebuah pusat pembangkit. Fungsi dari steam turbine generator
adalah meng-konversi energi termal uap dari boiler ke energi
listrik.
Dua
komponen
terpisahnya
adalah:
steam
turbine
mengkonversi energi termal menjadi energi mekanikal berputar, dan
generator mengkonversi energi mesin ke energi listrik.
Secara
umum, turbin dihubungkan, dengan menggunakan kopling, secara
langsung dengan generator.
Bab ini
memberikan pandangan umum dari generator-turbin-uap.
Rincian desain dari masing-masing komponen tidak dibicarakan
karena secara umum desainer pusat pembangkit tidak terlibat dalam
desain rinci dari generator-turbin-uap. Desainer pusat pembangkit
membuat spesifikasi performa dan persyaratan desain secara umum
untuk
supaya
begaimana
fabrikan
generator-turbin
memenuhi
produksi yang dikehendaki. Fabrikan generator-turbin melaksanakan
desain rinci dari unit. Pengetahuan yang dibutuhkan oleh desainer
pusat pembangkit adalah pemahaman dari prinsip-prinsip operasi
dasar; familiarisasi dengan jenis-jenis, komponen, peralatan
bantu dari generator-turbin; dan pemahaman dari performa unit
dengan kapabilitas untuk memprediksi performa secara keseluruhan
generator-turbin. Informasi yang dibutuhkan dibahas dalam bab
ini. Informasi lebih dalam dapat diperoleh dari berbagai
referensi lain.
Fabrikan terbesar turbin didunia saat ini antara lain adalah:
ASEA
Brown
Bovery,
Siemens,
MAN,
GEC
Alsthom,
Hitachi,
Mitsubishi, Toshiba, dan Fuji Electric.
3.2

Termodinamika

Dengan mempelajari PLTU berarti mempelajari konversi energi


thermal menjadi energi mekanik dan secara tidak langsung harus
mempelajari ilmu thermodinamika
3.2.1.

Siklus Termal Turbin Uap

Unjuk kerja siklus uap dipengaruhi oleh banyak parameter antara


lain :
- temperatur dan tekanan uap utama,
- penurunan tekanan dari sistem reheater,
- temperatur uap reheater, dan
- back pressure turbin.

3. Steam Turbine - 1

3.2.2.

Siklus Tenaga Uap

Siklus Carnot (Fig. 13-1) :


Efisiensi termal dapat dimaksimalkan, jika panas yang dipasok
mempunyai temperatur paling tinggi dan panas yang terbuang
mempunyai temperatur yang paling rendah.
Siklus Carnot :

2 proses isotermal dan 2 proses isentropis.

Fluida dikompres dari kondisi 1 ke kondisi 2 (isentropis).


Fluida dievaporasi dari kondisi 2 ke kondisi 3 (isotermal)
Fluida dikembangkan dari kondisi 3 ke kondisi 4 (isentropis).
Fluida dikondensasi parsial dari kondisi 4 ke kondisi 1
(isotermal)
Luasan
Luasan

1-2-3-4 = panas yang dikonversi menjadi kerja


a-1-4-b = panas yang dibuang ke sekelililing.

Efisiensi siklus dapat dinyatakan sebagai :


Panas yang dikonversi menjadi kerja
----------------------------------Panas total yang dipasok

(T2 T1) (S4 S1)


--------------------T2 (S4 S1)

Dengan menghilangkan terminologi entropi memberikan pernyataan


klasik untuk efisiensi Carnot.
T2 T1
T1
TLOW
= ---------------- = 1 - --------- = 1 - ---------T2
T2
THIGH
Siklus Carnot adalah siklus teoritis.
Mengkondensasi uap secara parsial yaitu dari kondisi 4 ke kondisi
1 dan kemudian mengkompres uap basah dari kondisi 1 ke kondisi 2
sama sekali tidak praktis
Untuk alasan ini, siklus uap nyata perlu didasarkan pada siklus
Carnot yang dimodifikasi dan disebut sebagai siklus Rankine.
Fig 13-2 menunjukkan skematis peralatan dan diagram T-S untuk
pusat pembangkit uap beroperasi dengan siklus Rankine. Perbedaan
utama antara siklus Carnot dan siklus Rankine adalah bahwa dalam
siklus Rankine uap secara penuh dikondensasi menjadi cairan jenuh
dalam proses dari kondisi 4 ke kondisi 1 dan cairan dipompa ke
boiler (kondisi 2). Panas dikenakan pada tekanan konstan sampai
cairan yang dikompresi menjadi jenuh pada kondisi X. Lebih
banyak panas diberikan pada tekanan konstan untuk menguapkan
cairan sampai ia menjadi uap jenuh pada kondisi 3. Uap kemudian
dikembangkan dari kondisi 3 ke 4 dan siklus diulang.

3. Steam Turbine - 2

3. Steam Turbine - 3

3. Steam Turbine - 4

3.2.2.1
Efisiensi
temperatur
uap diatas

Superheating
termal naik jika panas yang dipasok mempunyai
yang lebih tinggi. Salah satu cara adalah mensuperheat
temperatur jenuhnya.

Kenaikan dalam efisiensi termal ditunjukkan dalam Fig. 13-3.


Kerja additional sebagai akibat superheating ditunjukkan oleh
area yang diarsir oleh titik 3-3-4-4. Panas additional yang
harus direject ditunjukkan oleh luasan yang dibatasai oleh b-44-b.
Kenaikan efisiensi siklus dapat dilihat dengan mencatat bahwa
hasil bagi luasan 3-3-4-4/b-4-4b lebih besar dibanding hasil
bagi dari kerja net dari panas yang direject untuk siklus
original (1-2-3-4/a-1-4-b)
3.2.2.2
Increasing pressure
Menaikkan tekanan boiler akan menaikkan temperatur jenuh yang
mengakibatkan
kenaikan
efisiensi
termal
(Fig.13-4).
Kerja
additional yang disebabkan penambahan tekanan ditunjukkan oleh
luasan yang diarsir 2-2-3-c.
Luasan yang diarsir double c-3-4-4 menyatakan kerja dengan
tekanan lebih rendah. Luasan 2-2-3-c sedikit lebih besar
dibanding luasan c-3-4-4 yang mengakibatkan perolehan kerja
bersih yang sedikit lebih besar.
Perolehan utama efisiensi datang dari pengurangan panas terbuang
total. Pengurangan dalam rejeksi panas ini dinyatakan oleh luasan
b-4-4-b.
3.2.2.3
Lowering Exhaust Pressure
Kenaikan efisiensi siklus sebagai akibat dari penurunan tekanan
(dan temperatur) uap kondensasi dapat dilihat dalam Fig 13-5.
Luasan yang diarsir 1`-2`-2144` menyatakan kenaikkan dalam
kerja tersedia. Area ini juga menyatakan penurunan panas terbuang
total.
Menurunkan tekanan kondensor menaikkan efisiensi. Menurunkan
tekanan exhaust juga mengakibatkan masukan tambahan, 2`-2-a-a`.

3. Steam Turbine - 5

3. Steam Turbine - 6

3.2.2.4
Reheat
Menaikkan temperatur rata rata dengan memanaskan kembali
setelah sebagiannya diekspansikan menaikkan efisiensi.

uap

Fig 13-6 menunjukkan diagram T-S siklus reheat tunggal.


Kerja tambah sebagai akibat reheating ditunjukkan oleh luasan
diarsir, 4-5-6-6. Panas terbuang ditunjukkan oleh luasan yang
dibatasi oleh b-6-6-b.
Kenaikan efisiensi = rasio dari
dibanding rasio 1-2-3-6/a-1-6-b.

luasan

4-5-6-6/b-6-6-b

Tambahan reheating akan secara kontinyu menaikkan efisiensi, akan


tetapi, perolehan incremental untuk tiap tambahan reheat akan
berkurang. Perlu dicatat bahwa tambahan keuntungan dari reheating
adalah memberikan panas yang lebih kering dalam tingkat akhir
turbin, titik 6 dibanding titik 6.

3. Steam Turbine - 7

3.2.2.5
Regenerative Feedwater Heating
Menaikkan temperatur rata rata dari panas yang ditambahkan dapat
juga dicapai dengan menaikkan temperatur feedwater heater yang
memasuki boiler. Hal ini dapat dilakukan dengan mengekstrak
sebagian dari uap yang sebagian dikembangkan dari turbin dan
dilangsungkan ke heat exchanger yang memanaskan feedwater ke
boiler. Proses ini dikenal dengan regenerative feedwater heating.
Fig. 13-7 menunjukkan diagram T-S siklus Rankine Regenerative.
Uap memasuki turbin pada kondisi 5 dan secara parsial
diekspansikan ke kondisi 6. Sebagian dari uap diekstrak pada
kondisi 6 dan dikirim ke sebuah feedwater heater yang beroperasi
pada kondisi 3. Sisa dari uap mengembang melalui turbin uap ke
kondisi 7. Panas dibuang sebagai uap keluaran (exhaust) turbin
dikondensasikan dalam proses 7-1. Kondesat dipompa ke feedwater
heater dan dicampur dengan uap ekstraksi turbin menjadi cairan
jenuh pada kondisi 3. Feedwater dipompa ke tekanan boiler
(kondisi 4), dipanaskan ke tingkat jenuh, dievaporasikan dalam
boiler untuk masuk kembali ke turbin pada kondisi 5. Tambahan
panas temperatur rendah kedalam siklus (2-3) dicegah dan
perbaikan dalam efisiensi datang dari kenaikan temperatur rata
rata dari tambahan panas.

3. Steam Turbine - 8

3.3

Prinsip-prinsip Operasi

Operasi steam turbine-generator mencakup ekspansi uap melalui


berbagai tingkat dari turbin, yang menyebabkan rotor turbin
memutar rotor generator. Rotor generator mengandung magnet yang
dalam berputarnya menghasilkan tenaga listrik.

3.3.1

Beberapa Tipe Tingkatan dalam Turbin


Energi panas dari uap dikonversikan menjadi tenaga mekanis dengan
mengekspansikan uap melalui turbin. Ekspansi terjadi dalam dua
tingkat: impuls dan reaksi.
Tingkat impuls seperti kincir air. Aliran arus air memukul kayuh,
mengakibatkan kincir berputar.
Tingkat reaksi seperti sprinkler putar dimana semburan air
mengakibatkan tangannya berputar.
Sehubungan dengan perbandingan overall efficiency, tingkat reaksi
mempunyai efisiensi profil/aerodynamic lebih tinggi dibanding
tingkat impuls. Akan tetapi, kehilangan karena kebocoran, lebih
tinggi pada tingkat reaksi.

3. Steam Turbine - 9

3. Steam Turbine - 10

3.3.2
Ekspansi uap
Ekspansi uap melalui turbin mengakibatkan terjadinya konversi
energi panas menjadi energi mekanikal dalam sudu atau bucket
berputar.
Proses
ekspansi
ini
dapat
dipelajari
dengan
memplotkannya pada sebuah diagram h-s dari Mollier.
Energi yang diekstrak dapat ditentukan dengan mengurangi kondisi
enthalpi inlet (hin-act) dengan kondisi enthalpi keluar (hout-act).
Membagi kuantitas ini dengan jumlah energi yang seharusnya
diekstrak jika prosesnya isentropis atau ideal (hin-act hout-ideal)
memberikan efisiensi turbin dan dinyatakan oleh persamaan berikut
hin-act hout-act
Efisiensi = --------------------------- x 100%
hin-act hout-ideal
3.3.3
Pembangkitan tenaga listrik
Tenaga mekanis putar dikonversikan menjadi tenaga listrik dalam
generator dengan putaran medan magnet.
Rotor generator dari tempaan baja dengan slot slot konduktor
dikenal sebagai field windings. Arus listrik searah mengalir
melalui windings, mengakibatkan terbentuknya medan magnet dalam
rotor. Medan magnet tersebut diputar oleh turbin.
Rotor dikelilingi oleh stator generator yang berada didalam
konduktor yang terbuat dari tembaga. Medan magnet dari rotor
melewati stator, menset elektron dalam konduktor stator bergerak.
Aliran elektron dikenal sebagai arus listrik. Pada waktu kutub
utara rotor melewati konduktor stator, arus listrik mengalir
dalam satu arah. Pada waktu kutub selatan dari medan magnet rotor
melewati konduktor yang sama, aliran arus listrik mengalir dalam
arah yang berlawanan. Tipe aliran tersebut dikenal sebagai
alternating current atau arus bolak balik.
Komponen tenaga yang dihasilkan dalam generator dinyatakan dengan
kilowatt (kW).
3.3.4
a.

Heat Balance
Heat Balance Diagram, Proyek PLTU Paiton dan Suralaya

a.1 Summary
Tujuan dari kriteria desain ini adalah untuk menguraikan siklus
termal yang digunakan dan membuat daftar item-item yang
dibutuhkan untuk mengevaluasi performa dari siklus tersebut.
a.2 Siklus Termal
Siklus termal untuk Paiton adalah single reheat, regenerative
feedwater heating cycle
Superheated steam, setelah melewati turbine tekanan tingi
dikembalikan ke boiler untuk dipanaskan kembali. Reheat steam
3. Steam Turbine - 11

selanjutnya dimasukan ke IP Turbin dimana setelah itu dimasukkan


ke
double
flow
LP
Turbine.
Exhaust
dari
LP
turbine
dikondensasikan di kondenser.
Ada tujuh feedwater heater dalam siklus yang terdiri dari tiga
(3) LP closed feedwater heater, satu deaerator dan tiga (3) HP
closed feedwater heaters.
Motor-driven condensate pumps digunakan untuk memompa kondensat
dari condenser hotwell, melalui gland steam condenser dan LP
feedwater heaters ke dearator. Feed water selanjutnya dipompa
oleh motor-driven boiler feed pumps ke steam generator, melalui
HP feedwater heaters.
Heating steam untuk combustion air preheaters dipasok daricrossover dari IP turbine.
Steam untuk sootblowing dipasok dari steam generator dan cold
reheat steam menurut kebutuhannnya.
Make-up steam cycle ditambahkan ke kondenser dari condensate
storage tank.
a.3 Items Required for Heat balance Calculations
Nilai-nlai berikut dibutuhkan untuk mengakses
siklus termal:
-

Generator output at terminal


Main steam pressure
Main steam temperature
Reheat steam temperatures
Condensate vacuum
TTD
for feedwater
heaters
Difference)
DCA (Drain Cooler Appoach)
Quantity of make-up (%)
Sootblowing steam requirement
Blowdown requirement
dll

performa

(Terminal

dari

Temperature

a.4 Heat balance Diagram- Example


Prelimnary heat balance terlampir menggambarkan arrangement final
dari peralatan. Mereka subject untuk pemilihan final oleh
fabrikan turbine-generator
Tenaga
listrik
yang
digunakan
pompa
feedwater
dipertimbangkan dalam penentuan generator terminal output

GHR (Gross Heat Rate) =

3. Steam Turbine - 12

Heat Input ke Turbine


------------------------Output Generator

harus

(lihat gambar Heat Balance terlampir)

3.4

Berbagai Jenis Turbin

3.4.1

Berdasar Tekanan-Reheat
Untuk turbin ukuran kecil tanpa reheat, turbin uap merupakan
turbin tunggal dengan aliran uap masuk ke turbin, mengembang di
turbin dan keluar melalui kondensor atau ke proses.
Untuk siklus reheat tunggal, uap dari boiler mengalir ke turbin
tekanan tinggi dimana ia mengembang dan dikeluarkan dari turbin
dan dikembalikan ke boiler untuk di panas ulang. Uap reheat dari
boiler mengalir ke turbin tekanan menengah dimana ia mengembang
dan dikeluarkan ke suatu saluran cross-over yang memasok uap ke
turbin tekanan rendah. Uap mengembang dalam turbin tekanan rendah
dan dikeluarkan ke kondensor.
Untuk siklus reheat ganda, uap dari boiler mengalir ke turbin
tekanan-tinggi
dimana
dia
mengembang
dan
dikeluarkan
dan
dikembalikan ke boiler untuk dilakukan pemanasan ulang. Uap
reheat
mengalir
ke
turbin
tekanan-menengah
dimana
dia
dikembangkan dan dikeluarkan kembali ke boiler lagi untuk
pemanasan ulang. Uap reheat tingkat kedua mengalir dari boiler ke
turbin reheat dimana dia dikembangkan dan dikeluarkan ke suatu
saluran cross-over yang memasok uap ke turbin tekanan rendah.
3.4.2
Kondisi Exhaust
Ada dua jenis turbin yang didasarkan pada kondisi exhaust turbin:
condensing turbine dan non-condensing turbine.
Condensing turbine mengeluarkan uapnya ke kondensor dimana uap di
kondensasi pada tekanan sub-atmosfir (vacuum). Tipe kondensornya
umumnya steam surface condensor dan untuk unit unit yang kecil
kondensor pendingin udara. Turbin condensing mempunyai exhaust
dengan luasan yang besar, karena uap dikembangkan ke tekanan yang
rendah, mengekstrak sebanyak mungkin energi bergunanya sebelum
dikeluarkan dari turbin.
Turbin non-condensing mengeluarkan uap diatas tekanan atmosfir ke
suatu saluran kembali ke boiler, ke turbin yang lain atau ke
proses. Karena tekanan exhaustnya yang lebih tinggi, luasan
exhaust turbin non-condensing secara signifikan lebih kecil
dibanding turbin condensing.
3.4.3
Berdasar Aliran
Turbin dapat juga diuraikan berdasar jumlah arah aliran uap dari
turbin ke exhaust. Turbin aliran tunggal mempunyai aliran uap
dalam satu arah dan keluar pada satu ujung dari turbin. Uap masuk
turbin dan berekspansi dalam satu arah sebagaimana ditunjukkan
dalam Gb. 3-7A.
Turbin nonreheat yang kecil, turbin penggerak mekanis, turbin
siklus reheat tekanan tinggi, siklus reheat tekanan menengah
secara tipikal menggunakan aliran arah tunggal.

3. Steam Turbine - 13

Turbin aliran ganda mempunyai dua jalur aliran uap. Uap masuk ke
tengah tengah turbin dan mengalir kedua arah yang berlawanan
sebagaimana ditunjukkan untuk section tekanan rendah dalam Gb. 37(D) dan (E). Turbin tipe ini juga disebut turbin aliran
berlawanan. Turbin tekanan rendah dalam silkus pusat pembangkit
dengan kapasitas 160 MW atau lebih besar secara tipikal merupakan
turbin aliran ganda.
Turbin aliran triple menunjukkan penggunaan satu turbin tekanan
rendah aliran ganda dalam kombinasi dengan satu turbin tekanan
rendah aliran tunggal seperti ditunjukkan dalam Gb. 3-7(F).
Turbin aliran empat menunjukkan penggunaan dua turbin tekanan
rendah aliran ganda seperti ditunjukkan dalam Gb. 3-7(G).

3.4.4

Jenis Berdasar Ekstrasi


Selama ekspansi dari uap melalui turbin, pengambilan uap dari
tingkat menengah (intermediate) disebut ekstrasi. Hampir di semua
pusat pembangkit, sejumlah uap diekstraksi dari proses ekspansi
turbin dan dipasok ke peralatan penukar panas untuk pemanasan air
pengisi ketel (feedwater). Ekstrasi semacam ini mempunyai variasi
tekanan dan temperatur. Turbin yang harus memasok uap ke proses
umumnya harus memasok dengan tekanan konstan. Mengingat tekanan
yang
tersedia
bervariasi
tergantung
beban,
sistem
katup
pengontrol perlu ditambahkan. Beberapa turbin tidak mempunyai
titik ekstrasi dan oleh karena itu disebut sebagai non extraction
turbin. Lihat Gb. 3-7A.
3.4.5
Orientasi dari Poros
Susunan turbin genset disebut sebagai tandem compound atau cross
compound karena orientasi dari poros. Unit tandem compound,
turbin dan generator in-line, dihubungkan ke satu poros.
Unit cross compound mempunyai dua alignments turbin genset.
Jenis arrangement ini digunakan untuk menaikkan efisiensi turbin.
Susunan cross compound umumnya terdiri dari turbin bertekanan
tinggi dan intermediate, pada kelajuan 3000 rpm, menggerakkan
generator. Uap yang dikeluarkan dari intermediate cross over
dialirkan ke low pressure turbine menggerakkan generator yang
terpisah dengan kelajuan 1500 rpm. Lihat Gb. 3-8.

3. Steam Turbine - 14

Gb. 3-7 Jenis-jenis Turbin


3. Steam Turbine - 15

Gb. 3-8 Orientasi poros turbin

3. Steam Turbine - 16

3.5

Komponen Utama Turbin Uap

Gb. 3-10 Arrangement overall, steam turbine generaTOR

3. Steam Turbine - 17

Gb. 3-11 General arrangement, Steam turbine generator (pandangan


samping)

Gb. 3-12 General arrangement, steam turbine generator (pandangan


atas)

3. Steam Turbine - 18

3.5.1
Katup (Valves)
Katup katup utama yang berhubungan dengan
sebagaimana ditunjukkan dalam Gb. 3-13.

turbin

uap

adalah

3.5.1.1
Main Steam Stop (Throttle) Valves. Uap dari boiler
mengalir ke main steam stop atau throtting valve. Fungsi utama
dari stop valve adalah memberikan backup protection untuk turbin
uap selama turbin genset trip dalam event main steam control
valves tidak menutup.
3.5.1.2
Main Steam Control (Governor) Valves. Uap mengalir
dari stop valves ke main steam control valve atau governor
valves. Fungsi utama dari control valves adalah mengatur aliran
uap ke turbin dan oleh karena itu mengontrol power output dari
turbin generator. Control valves juga bertindak sebagai penutup
utama dari uap ke turbin pada unit shutdown secara normal dan
pada waktu trips
3.5.1.3
Reheat Stop and Intercept Valves. Dalam Gb.3-13, uap
dikeluarkan dari turbin tekanan tinggi mengalir melalui saluran
cold reheat ke reheater dalam boiler. Uap yang sudah direheat
kemudian mengalir melalui hot reheat piping ke reheat stop and
intercept valves. Fungsi reheat stop and intercept valves sama
dengan main steam stop and control valves. Katup intercept
digunakan untuk menthrottle aliran uap ke IP turbine untuk
mengontrol laju (speed) turbin. Selama normal operasi dari unit,
reheat
stop
and
intercept
valves
terbuka
lebar
dengan
pengontrolan beban hanya oleh main steam control valves.
3.5.1.4
Ventilator Valves. Selama unit trip, penutupan main
steam stop and control valves dan reheat stop and intercept
valves menjerat (trap) uap dalam turbin tekanan tinggi. Ini
dapat merusak turbin tekanan tinggi. Untuk mencegah ini,
ventilator valve ditambahkan untuk membleed trapped steam ke
kondensor. Ventilator valve dihubungkan ke salah satu dari main
steam leads antara main steam control valves dan turbin tekanan
tinggi.

3. Steam Turbine - 19

Gb. 3-13 Tipikal diagram alir uap pusat pembangkit


3.5.2
Bagian Stationer Turbin
Bagian stasioner turbin uap terutama adalah semua bagian yang
berhubungan dengan casing turbin.
Kombinasi high-pressure-intermediate pressure turbine dari unit
berkapasitas 400 MW ditunjukkan dalam Gb. 3-14 dengan lowpressure turbine ditunjukkan pada Gb. 3-15.

3. Steam Turbine - 20

Gb.

3-14

Pandangan longitudinal,
tinggi-tekanan menengah

3. Steam Turbine - 21

kombinasi

turbine

tekanan

Gb. 3-15 Pandangan longitudinal turbin tekanan rendah

3. Steam Turbine - 22

3.5.3
Rotor Assembly
Komponen utama dari rotor assembly turbin adalah poros (rotor),
wheels, dan buckets (blades). Poros turbin merupakan single highquality forging machined untuk memberikan bagian bercontour dan
fungsi sebagaimana dibutuhkan.

Gb. 3-16 Sudu turbin dan alur sudu rotor

3.5.4
Bearings
Turbin uap mempunyai bearings journal dan bearing thrust. Journal
bearing terletak di ujung ujung tiap rotor untuk mendukung berat
rotor. Satu trust bearing umumnya dipasang untuk menjamin posisi
axial dari rotor.

3. Steam Turbine - 23

3.5.5
Turning Gear
Turning gear memutar rotor turbin pada speed (laju) yang pelan
sebelum turbin di start dan segera setelah shutdown. Hal ini
dimaksudkan untuk tidak menimbulkan kondisi melengkung pada rotor
yang dapat mengakibatkan ketidak-merataan distribusi temperatur
pada tutup dan base dari turbin.
3.5.6
Pedestal
Fondasi pendukung turbine genset dari unit yang besar disebut
pedestal. Dua macam pedestal turbin yaitu jenis beton bertulang
atau konstruksi baja. Yang paling lazim adalah beton bertulang.
Pedestal umumnya ditumpu pada based mat terpisah dari fondasi
bangunan lainnya.
3.6

Komponen Utama Generator

4.4.1
Rangka Generator
Rangka generator mendukung beban dari stator dan rotor dan
berbuat
sebagai
bejana
containment
untuk
gas
pendingin
(hidrogen). Baut fondasi diperlengkapkan untuk menahan torsi
short circuit yang dikenakan ke rangka generator.
4.4.2
Generator Stator
Stator generator terdiri dari core stator dan windings stator.
Stator windings memberikan output generator yang berupa tegangan
dan arus listrik.
4.4.3
Generator Rotor
Rotor memberikan medan magnet pada generator. Rotor terdiri dari
poros dan windings. Winding dihubungkan ke exciter melalui slip
ring untuk menerima tenaga untuk pembangkitan dari medan magnet.

3. Steam Turbine - 24

Gb. 3-17 Tipikal penampang melintang generator


3.7 Unjuk Kerja dan Rating Turbin Genset
Perencana pusat pembangkit harus mampu untuk memperkirakan unjuk
kerja turbin genset, menset rating yang dibutuhkan, dan
menganalisa pengaruh dari berbagai mode operasi plant. Sebelum
membeli sebuah turbin uap berikut generatornya, perencana harus
menentukan siklus uap pembangkit terlebih dahulu, melalui studi
optimasi. Setelah siklus uap telah di optimasi, rating turbin
genset dapat ditentukan dan dispesifikasi untuk mempurchase unit.
Pada waktu melakukan proses pembelian, studi optimasi dilakukan
lebih lanjut dengan menampung informasi dari fabrikan.

3. Steam Turbine - 25

3.7.1
Prediksi Unjuk Kerja Turbin
Prediksi unjuk kerja turbin generator
parameter berikut :

meliputi

pertimbangan

Expansion line efficiency


Kerugian exhaust
Aliran kebocoran uap di katup dan packing
Kerugian mekanis
Kerugian generator

3.7.2
Rating
plant.

Rating Turbin
turbin tergantung

pada

siklus

uap

dari

overall

power

3.7.2.1.
Output turbin. Output generator yang dibutuhkan harus
ditentukan oleh perencana didasarkan pada net output plant plus
beban auxiliary plant.
Untuk mengurangi biaya, perencana plant mungkin menentukan rating
turbin genset dengan mempertimbangkan design margin inherent
dalam desain turbin uap. Secara historis, perencana turbin
memasukkan margin 5% diatas laju aliran dan tekanan uap yang
dibutuhkan untuk memberikan toleransi fabrikan dan variasi dalam
efisiensi aliran. Dibawah kondisi valve wide open output
generator diharapkan kira kira 104 % lebih tinggi dari laju
keluarannya.
Margin
tekanan
dimasukkan
dengan
mendesain
turbin
untuk
beroperasi secara aman dan berkesinambungan pada tekanan 105%
dari laju tekanan dengan katup kontrol terbuka lebar. Dibawah
kondisi VWO dan OP, keluaran turbin genset kira kira 109% dari
laju keluarannya dan aliran uap utamanya 110% sampai 11% lajunya.
Merancang
kondisi
VWO+OP
direkomendasikan
meskipun
tidak
dimasukkan dalam definisi dari laju turbin, mengingat keluaran
yang signifikan dapat diperoleh dengan harga lebih kecil.
3.7.2.2.
Kondisi rated uap. Selama desain konsep dari plant,
perencana menentukan tekanan dan temperatur siklus uap. Mereka
adalah kondisi pada inlet ke main steam dan reheat stop valves.
Tekanan dan temperatur tersebut adalah : 2415 psia/1000o F dan
1815 psia/1000o F
3.7.2.3.
Tekanan low pressure exhaust. Tekanan low pressure
exhaust adalah tekanan kondensor pada kondisi dimana perencana
menginginkannya.
3.7.2.4.
Aliran ekstrasi. Dalam pembuatan siklus uap, jumlah
pemanas air pengisi ketel dan sumber dari uap ekstrasi perlu
ditentukan. Aliran ekstrasi ke pemanas ditentukan fabrikan turbin
didasarkan pada desain turbin. Sumber uap ekstrasi untuk pompa
air pengisi ketel (BFP) yang digerakkan turbin umumnya diambil

3. Steam Turbine - 26

dari exhaust turbin


menengah dan besar.

tekanan

menengah

untuk

pembangkit

ukuran

3.7.2.5.
Aliran make-up. Aliran make-up ke siklus uap umumnya
dimasukkan ke kondenser. Air makeup mengganti kehilangan uap
dalam siklus dan kehilangan dalam boiler yang berhubungan dengan
blowdown boiler dan uap untuk sootblowing. Jumlah air makeup
adalah antara 1% - 3% dari aliran throttle.
3.7.3
Rating Generator
Penentuan rating generator meliputi penentuan ukuran (power
rating), power factor, rasio short circuit, dan rasio response.
3.7.3.1.
Power rating (kVA). Laju power generator diberikan
sebagai jumlah total power yang merupakan jumlah vektor power
aktif (kW) dan power reaktif (kilovars). Laju nameplate generator
dispesify sebagai kVA terminal net dengan tekanan hydrogen
maksimum dan laju power factor. Rating generator (kVA) ditentukan
dengan membagi output tenaga riil maksimum generator dibagi power
factor.
3.7.3.2.
Power Factor. Power factor adalah desain parameter
penting dan didefinisikan sebagai rasio dari power aktif (kW)
dibagi power total (kVA). Untuk suatu power aktif yang diberikan,
makin rendah laju power factor, makin tinggi arus jangkar dan
arus medannya (power reaktif), yang menyebabkan kerugian resistiv
(I2R) lebih besar.
Umumnya, power factor yang digunakan dalam spesifikasi generator
didasarkan pada kebutuhan sistem transmisi untuk memberikan
stabilitas jika terjadi gangguan sistem. Power factor 0,9
merupakan harga yang tepat untuk hampir semua keadaan dan kurang
lebih merupakan standar industri.
3.7.3.3.
Rasio Short Circuit. Rasio short-circuit generator
adalah
ukuran
karakteristik
kestabilan
generator.
Ia
didefinisikan sebagai rasio dari arus medan yang dibutuhkan untuk
menghasilkan
laju
tegangan
jangkar
tanpa-beban
pada
laju
frekuensi dibagi arus yang dibutuhkan untuk menghasilkan laju
arus jangkar pada laju frekuensi dengan terminal generator di
short circuitkan.
Rasio short circuit yang direkomendasikan mempunyai
rentang
0,58, kecuali studi stabilitas menunjukkan lain
3.7.3.4.
Rasio Response Exciter. Rasio response dari exciter
adalah variabel primer yang ada dalam spesifikasi sistem excitasi
dan menunjukkan kelajuan rata rata dari sistem excitasi merespons
kondisi
transient.
Secara
lebih
tepat,
rasio
respons
didefinisikan sebagai laju rata rata kenaikan tegangan exciter
untuk setengah detik setelah di inisiasi oleh perubahan, dibagi
laju tegangan generator. Harga standar untuk respons exciter 0,5

3. Steam Turbine - 27

untuk exciter tipe brushless dan 1,0 6,0 untuk tipe statik,
karena mereka tidak mempunyai inersia mekanikal.
3.8

Sistem dan Peralatan Bantu Turbin

3.8.1
Sistem Sealing (Perapat)
Pada ujung dari masing masing casing turbin terdapat seal poros
(shaft seal) yang mencegah kebocoran uap ke atmosfir dan
infiltrasi udara kedalam casing turbin. Shaft seal tersebut
terdiri dari ring ring packing tipe labyrinth dengan glands. Ada
dua tipe packing yaitu packing tekanan dan packing vacuum.

Gb. 3-20 Diagram Sistem Perapat Uap

3. Steam Turbine - 28

3.8.2
Sistem Drains
Memasukan air kedalam turbin uap akan mengakibatkan kerusakan
yang signifikan. Sumber utama adanya air adalah kondensasi dalam
saluran uap, katup, dan casing selama tahap start-up, semburan
air untuk desuperheating, dan air dari pemanas air pengisi ketel
pada waktu unit trip. Standar ANSI/ASME No. TDP-1 memberikan
petunjuk tentang bagaimana mencegah masuknya air kedalam turbin.
3.8.3
Sistem Minyak Pelumas
Jika sistem minyak pelumas turbin memasok minyak kontrol sebagai
tambahan
terhadap
minyak
pelumas,
maka
sistem
kontrol
diidentifikasikan sebagai sistem kontrol hidrolik-mekanik.
Jika sistem kontrol hidrolik dibuat terpisah dari sistem minyak
pelumas bearing (bantalan), sistem kontrolnya disebut sebagai
sistem kontrol electrohydraulic. Pada umumnya, untuk turbin
ukuran
besar
dan
menengah,
menggunakan
sistem
kontrol
electrohydraulic.
3.8.3.1.
Sistem Pelumasan. Pada waktu unit on-line dan dalam
keadaaan operasi normal, pompa booster memasok minyak ke pompa
utama, shaft-driven, dan memasok minyak ke bearings. Selama
startup turbin, pompa isap utama memasok pompa minyak utama
sampai speed turbin mencapai 90% rated speed. Pompa minyak
turning gear digunakan pada waktu unit pada putaran turning gear.
3.8.3.2.
Sistem Pemurnian Minyak. Pemurni minyak yang dipakai
di stasiun pembangkit adalah dari jenis saringan mekanis,
centrifuge, vacuum dehydrator, dan coalester type. Jenis yang
paling umum dipakai adalah saringan mekanis dan centrifuges.
Sebagai tambahan terhadap sistem pemurnian minyak, sistem
filtrasi bearing in-line umumnya dipasang di setiap unit turbin
dan lokasinya terletak di upstream dari saluran minyak ke
bearings.
3.8.4
Pembilasan dan Pendinginan Generator.
Panas dihasilkan dalam sebuah generator sebagai akibat dari
resistive losses yang disebabkan oleh aliran arus listrik dalam
stator dan field windings (medan kumparan), stator core megnetic
losses, windage losses. Heating action ini, merupakan faktor
pembatas utama dari rating generator. Dengan memberikan pendingin
paksa pada komponen berputar dan stasioner, rating generator
dapat dinaikkan dan ukuran fisik dari komponen dapat dibuat lebih
kecil.

3. Steam Turbine - 29

Gb. 3-21 Diagram Sistem Minyak Pelumas Turbin


3.8.5
Kontrol dan Instrumentasi
Turbin genset dikontrol dan dipantau oleh beberapa sistem yang
saling berhubungan:
Sistem governor turbin secara otomatis mengontrol
kelajuan (speed), percepatan dan beban turbin
Sistem trip memberikan perlindungan melalui trips dan
runbacks
Sistem instrumentasi untuk pengawasan memberikan data
yang lalu dan saat itu melalui sensing, indicating dan
recording parameter dan
Sistem excitasi mengontrol tegangan generator
3.9

SISTEM PENDINGIN

Menurut hukum kedua thermodinamika, makin rendah


diexhaust turbin, makin tinggi efisiensi dari turbin.
3.9.1

temperatur

Prinsip Operasi

3.9.1.1

Once Through Cooling. Dalam sistem air sirkulasi once


through, air diambil dari badan air seperti sungai, danau, laut,
dipompakan ke kondensor, dan didischarge kembali ke sumbernya.
Skema dari sitem ini terlihat pada Gb. 3-22.

3. Steam Turbine - 30

Gb. 3-22 Sistem air sirkulasi, once through

3.9.1.2

Recirculating
Cooling
System.
Dalam
sistem
pendinginan resirkulasi, air sirkulasi berfungsi sebagai media
perpindahan panas intermediate di mana panas buangan di buang
langsung ke atmosfir. Dalam Gb. 3-23, panas buangan dibebaskan
dari exhaust turbin uap dibawa air sirkulasi ke cooling tower
(menara pendingin), yang membuang panas ke atmosfir.

Gb. 3-23 Sistem air pendingin, circulating


3.9.2

Komponen dan Susunan Sistem Pendingin

3.9.2.1
Kondensor. Fungsi kondensor adalah:
mengkondense uap exhaust dari siklus tenaga utama turbin
uap dan turbin penggerak pompa pengisi ketel
Merecover uap yang sudah dikondensasi sebagai kondensat
Memberikan penampungan sementara kondensat

3. Steam Turbine - 31

Memberikan titik penampungan tekanan rendah untuk curahan


kondensat sistem lain dari pusat pembangkit
Memberikan
tempat
terjadinya
proses
deaerasi
dari
kondensat yang terkumpul.

Kondensor diklasifikasikan :
Tekanan tunggal atau tekanan multi
Pass tunggal atau pass ganda
Kebanyakan susunan kondensor pusat pembangkit mempunyai tubes
yang tegaklurus terhadap sumbu longitudinal turbin
3.9.2.2
Cooling Tower. Menara pendingin membebaskan panas
buangan dari siklus uap ke atmosfir. Penggunaan menara pendingin
menjadi bertambah besar sebagai akibat ketersediaan air dalam
volume besar yang dibutuhkan untuk system once through kurang dan
sehubungan dengan telah berkembangnya pembatasan ketentuan
mengenai lingkungan pada buangan termal dengan sistem once
through.
Beberapa tipe cooling tower ditunjukkan pada Gb. 3-24, 3-25, 326.

Gb. 3-24 Cooling Towers, Induced dan Forced Draft Counterfolw

3. Steam Turbine - 32

Gb. 3-25 Cooling Tower, Induced Draft Counterflow, fan assisted


natural draft

Gb. 3-26 Cooling Tower, draft mechanical. Tegak lurus crossflow

3. Steam Turbine - 33

3.9.2.3
Pompa Circulating water. Pompa air sirkulasi memasok
air pada laju aliran dan head yang dibutuhkan ke kondensor pusat
pembangkit dan peralatan penukar panas pembangkit. Pompa air
sirkulasi harus beroperasi secara ekonomis dan handal sepanjang
umur pusat pembangkit.
Ada tiga macam tipe pompa yang paling umum digunakan untuk
pelayanan air sirkulasi : pompa vertical wet pit, horizontal wet
pit dan vertical dry pit seperti ditunjukkan dalam Gb. 3-27

Gb. 3-27 Tipikal pompa air sirkulasi


3.9.2.4
Sistem
Perpipaan
Air
Sirkulasi.
Perpipaan
air
sirkulasi membawa air pendingin dari pompa air sirkulasi ke
kondensor dan mengembalikan air ke menara pendingin (atau ke
struktur discharge, dalam hal once through).
Material yang umum dipakai untuk pipa air sirkulasi, adalah baja,
pipa beton yang ditanam, pipa fibreglass reinforced plastic.
3.9.2.5
Struktur Intake dan Outfall. Struktur intake air
sirkulasi memberikan hal hal berikut :
Rumah untuk pompa air sirkulasi
Kondisi aliran hidraulik yang tepat untuk isapan pompa
Kondisi
pengambilan
air
yang
dapat
diterima
oleh
ketentuan lingkungan
Struktur outfall merupakan bagian dari sistem air sirkulasi once
through sebagai metoda untuk mengembalikan aliran buangan air
sirkulasi ke water way.
Typical intake structure untuk vertical wet pit pumps ditunjukkan
dalam Gb. 3-28 dan 3-29
3. Steam Turbine - 34

Gb. 3-28, 3-29 dan 3-20 menunjukkan sistem screening untuk intake
structure.

Gb. 3-28 Pandangan atas Intake Structure, Vertikal Wet Pit Pump

Gb. 3-29 Pandangan samping, Intake Structure Vertical Wet Pit


Pump

3. Steam Turbine - 35

Gb. 3-30 Skema Dual-flow Traveling Screean

3.9.3
Kimiawi Sistem Pendingin
Tujuan dari sistem klorinasi adalah melindungi pipa intake dan
permukaan kondensor dari biological growth, slimes (kotoran) dan
renik laut yang lain.
Pada dasarnya ada dua metoda yang dapat digunakan:
Proses injeksi gas khlorine.
Proses electrolysis air laut langsung.

3.10 PERALATAN PENUKAR PANAS


3.10.1 Pendahuluan
Dua klasifikasi alat penukar panas:
Kondensor
Feedwater Heaters
3.10.2 Kondensor
Fungsi kondensor :
(i) mengkondensasi uap yang meninggalkan turbin,
(ii) mengumpulkan kondensat, dan
(iii) membuat tekanan exhaust turbin lebih rendah.
3.10.2.1
Susunan kondensor.
Kondensor adalah tube and shell heat exchanger uap ke air
dengan air mengalir melalui tubes dan uap dalam shell.
Gb. 3-31 menunjukkan tipikal kondensor dengan box air,
tubes, pelat penumpu tubes, shell, dan hotwell dimana
kondensat dikumpulkan.
Hampir semua kondensor dimounted dibawah exhaust turbin.

3. Steam Turbine - 36

Gb. 3-31 Tipikal Kondensaer

3. Steam Turbine - 37

Gb. 3-32 Terminologi Ukuran Kondenser


3.10.2.2
Material konstruksi. Kondensor umumnya difabrikasi
dari shell dan tube support
dari baja yang dilas. Tube sheet,
tubes, dan water boxes dikonstruksi dari material yang kompatible
dengan air sirkulasi.
Tube material untuk air payau dan air laut umumnya digunakan 9010 CuNi sampai stainless steel sampai titanium.
3.10.2.3
Perlindungan
terhadap
korosi.
Untuk
melindungi
waterboxes dan tube sheets dari korosi, digunakan gabungan antara
cathodic protection dan protective coating. Catodic protection
digunakan dengan memasang sacrificial anodes pada water boxes.
Sedangkan coating yang biasa dipakai antara coal tar enamel
sampai ke epoxy.

3. Steam Turbine - 38

3.10.2.4
Ekstrasi Udara. Karena kondensor beroperasi pada
tekanan dibawah tekanan atmosfir, udara dapat masuk kedalam
sistem. Udara secara kontinyu harus dikeluarkan untuk memaintain
kondisi vakum.
Peralatan untuk mengeluarkan udara biasanya steam jet air
ejector.
4.8.2.5
On-line Cleaning. Penurunan unjuk kerja kondensor
mungkin diakibatkan adanya scaling dari bagian dalam permukaan
tube, akumulasi dari sedimen dalam tubes, atau akumulasi dari
daun atau lain lain kotoran pada tube sheet, menutup inlet dari
tube.
Berbagai metoda tersedia untuk on-line cleaning: backflushed dan
sponge balls.
3.10.3. Feedwater Heaters
3.10.3.1
Siklus Regeneratif. Dalam siklus regeneratif, uap
diekstrak dari turbin uap pada berbagai tingkat dan digunakan
untuk memanasi air pengisi ketel. Hal ini mengakibatkan efisiensi
siklus lebih tinggi dengan menaikkan temperatur air pengisi ketel
dan dengan mengurangi jumlah kehilangan energi dalam kondensor.
Jumlah heater air pengisi ketel yang digunakan dalam setiap
siklus khusus tergantung utamanya pada ukuran dari turbin,
kondisi inlet dan oulet uap, siklus pembangkit dan pertimbangan
ekonomis. Jumlah tipikal dari feedwater heater ditunjukkan dalam
Tabel 3-1.
Tabel 3-1 jumlah tipikal dari Feedwater Heater
Ukuran Unit (MW)
0-50
50-100
100-200
Diatas 200

Jumlah Heater
3-5
5 atau 6
5-7
6-8

3.10.3.2
Konstruksi
Pemanas.
Heater
air
pengisi
ketel
diklasifikasikan sebagai
alat penukar panas terbuka atau
tertutup. Alat penukar panas terbuka mencampur secara langsung
uap ekstraksi dengan air pengisi ketel yang dipanaskan. Uap
ekstraksi dikondensasi dan menjadi bagian dari air pengisi ketel
meninggalkan heater.

3. Steam Turbine - 39

Alat penukar panas tertutup memaintain pemisahan dari uap


ekstraksi dan air pengisi ketel yang dipanaskan. Uap ekstraksi
dikondensasi dalam ruang heater dan meninggalkan heater terpisah
dari air pengisi ketel.
Contoh dari heater terbuka adalah dearator.
Heater terbuka dikonstruksi dari tiga bagian : bagian pemanas,
vent kondensor, dan bagian penyimpanan. Gb. 3-33, dan 3-34
menggambarkan berbagai macam tipe dearator.
Heater tertutup umumnya dikenal sebagai heater air pengisi ketel.
Secara fisik lebih kecil dibanding heater terbuka dan lebih mudah
dikontrol. Satu pompa dapat digunakan untuk menggerakkan air
pengisi ketel melalui deretan heater, oleh karena itu menghemat
biaya dan komplikasi dari deretan pompa. Heater tertutup
merupakan desain tube and shell, dengan kondensat dan air pengisi
ketel dalam sisi tube dan uap ekstraksi dan uap kondesat yang
dihasilkan dalam sisi shell.
Gb. 3-35 sampai dengan Gb. 3-37 menggambarkan beberapa tipe
konstruksi heater tertutup.

Gb. 3-33

3. Steam Turbine - 40

Tipikal deaerator tipe tray

Gb. 3-34 Tipikal Dearator tipe spray

Gb. 3-35 Tipikal Feedwater Heater straight condensing U tube

3. Steam Turbine - 41

Gb. 3-36 Tipikal Feedwater heater dua-zona

Gb. 3-37 Berbagai posisi pemasangan Feedwater Heater

3. Steam Turbine - 42

3.10.3.3
Susunan fisik pemanas di Pusat pembangkit. Untuk
membantu melindungi terjadinya kavitasi dan flashing pada pompa
air pengisi ketel, dearator umumnya ditaruh pada titik yang
tinggi di pusat pembangkit. Mungkin di auxiliary bay atau dimana
saja dimana ada ruang dan kerangka baja penumpu. Pipa isap pompa
harus sependek mungkin dan lokasi dearator kira diatas pompa.
Closed feedwater heaters dapat diletakkan dalam ruang turbin,
auxialry bay, atau boiler bay untuk meminimalkan biaya pemipaan.
Pertimbangan lain adalah pressure drop dalam sistem pemipaan dan
ruang maintenance, termasuk ruang untuk mengambil shell atau tube
bundle. Perbedaan tekanan yang tersedia untuk mengcascade drains
dari heater ke heater harus dipertimbangkan dalam menentukan
letak heaters relatif ke next lower heater. Ini khususnya penting
untuk LP heaters. Selama operasi part load, perbedaan tekanan
antara heater dan kondensor sangat rendah, yang membuat sulit
untuk mengcascade drains ke kondensor tanpa bantuan tekanan
static.
3.10.3.4
Kavitasi pada Pompa Air Pengisi Ketel. Banyak tulisan
tentang pompa air pengisi ketel dan problem kavitasi yang dialami
dengan memflash inlet feedwater pada saat terjadi pengurangan
beban unit yang bersifat mendadak.
Beberapa langkah dapat diambil untuk meng-alleviate masalah ini,
termasuk menaikkan lokasi dearator dan menaikkan kapasitas
storage dalam bagian storage dearator.

Gb. 3-38 Boiler Feed Pump, multistage centrifugal type

3. Steam Turbine - 43

Gb. 3-39 Sistem pompa boiler feed. Satu full capacity dan startup/standby boiler feed pump.

3.11 SISTEM KONTROL


3.11.1 Kontrol aliran Uap
Aliran uap ke turbin dikontrol oleh Katup Pengontrol Uap Utama.
Ada empat (4) macam metoda untuk mengontrol output
generator
turbin uap :
a.

Kontrol sistem throttling


Kontrol sistem throttling adalah sistem kontrol dengan cara
melaksanakan operasi semua katup kontrol uap utama secara
bersamaan pada saat yang sama. Tekanan uap utama umumnya
ditahan tetap pada kondisi lajunya dan katup kontrol semua
dibuka pada tingkat pembukaan yang sama. Output turbin naik
jika katup dibuka dan beban penuh terjadi pada waktu katup
terbuka lebar.

b.

Kontrol sistem governing


Kontrol system governing merupakan sistem kontrol dengan
mengoperasikan katup kontrol uap utama secara sequential.
Kontrol sistem governing merubah output turbin uap dengan
menambah atau mengurangi arc of admision dari aliran uap ke
turbin tingkat pertama. Untuk mengurangi stress, umumnya
pembukaan sebesar 25% dari katup kontrol dilakukan secara
simultan pada waktu pertama kali menjalankan unit

3. Steam Turbine - 44

c.

Kontrol sistem variable pressure


Kontrol sistem tekanan variabel adalah sistem kontrol aliran
uap dengan mengatur tekanan boiler dengan posisi katup
kontrol uap utama pada suatu posisi tetap. Dalam sistem
kontrol ini, katup kontrol uap utama umumnya adalah terbuka
lebar. Aliran uap ke turbin dikontrol oleh tekanan uap utama
dari boiler.

d.

Kontrol sistem Hybrid dari tekanan variable dan sistem


governing
Mode kontrol hybrid variable pressure-governing menggunakan
temperatur tinggi, tidak ada throttling advantages dari
operasi variable pressure dan respons termodinamis/beban
dari kontrol governor. Sebagai tambahan, operasi hybrid
memberikan perbaikan efisiensi pada beban sebagian. Pada
beban rendah, beberapa main-steam control valve terbuka
lebar dan aliran uap dikontrol oleh operasi variable dari
boiler. Penambahan tekanan main steam menambah beban turbin
sampai tekanan uap mencapai kondisi lajunya. Beban akan
ditambah lebih lanjut dengan menahan laju tekanan dari uap
utama dan secara berurutan membuka main-steam control valves
yang lain sebagai governor control.

3. Steam Turbine - 45