Anda di halaman 1dari 32

KEPAILITAN

Filosofis Lahirnya
Kepailitan
Pasal 1 butir 1 UU 37/2004, kepailitan adalah

sita umum atas semua kekayaan debitur pailit


yg pengurusan dan pemberesannya dilakukan
oleh kurator di bawah pengawasan hakim
pengawas

Sejarah Perkembangan
Hukum Kepailitan
Sebelum berlakunya Failisments Verordening (Fv)
Masa berlakunya Failisments Verordening (Fv)
Masa berlakunya UU kepailitan yang sekarang ini

Sebelum Berlakunya Fv
Pengaturan Fv terdapat dalam :

1.

Wet Book van Koophandel


Terdapat dalam buku III ttg Ketidakmampuan pedagang,
Peraturan ini termuat dalam Pasal 749 sampai dengan Pasal
910 W.v.K, tetapi kemudian telah dicabut berdasarkan Pasal 2
Verordening ter Invoering van de Faillissementsverordening (S.
1906-348). Peraturan ini berlaku untuk pedagang saja.

2.

Reglement op de Rechtsvoordering (Rv) Stb. 1875-52, Buku III


Bab 7 Van den Staat van Kennelijk Onvermogen (Tentang
Keadaan Nyata-nyata Tidak Mampu), dalam Pasal 899 sampai
dengan Pasal 915, yang kemudian telah dicabut oleh S. 1906348.Peraturan ini berlaku untuk pengusaha saja.

Pelaksanaan kedua aturan tersebut sulit,


dikarenakan :
Banyaknya formalitas sehingga sulit dalam
pelaksanaannya

Biaya tinggi
Pengaruh kreditur terlalu sedikit terhadap jalannya
kepailitan

Perlu waktu yang cukup lama

Masa berlakunya Fv
Diatur dalam Fv stb.1905 No.217 jo.Stb. 1906 No.248.Peraturan ini

lengkapnya bernama Verordening op het Faillissement en de Surseance


van Betalin voor de Europeanen in Nederlands Indie (Peraturan Untuk
Kepailitan Dan Penundaan Pembayaran Untuk Orang-Orang Eropa).
Berdasarkan Verordening ter invoering van de Faillissementsverordening
(S. 1906-348), Faillissementsverordening (S. 1905-217) itu dinyatakan
mulai berlaku pada tanggal I November 1906

Dengan berlakunya Faillissementsverordening tersebut, maka dicabutlah:


1. Seluruh Buku HI dari WVK.
2. Reglement op de Rechtsvordering, Buku III, Bab Ketujuh, Pasall 899
sampai dengan Pasal 915

Faillissementsverordening ini hanya berlaku bagi orang yang termasuk


golongan Eropa saja

UU Kepailitan Sejak Tahun


1945
Pasal II Aturan Peralihan UUD 1945 menentukan sebagai berikut:
"Segala badan negara dan peraturan yang ada masih langsung
berlaku, selama belum diadakan yang baru menurut UndangUndang Dasar ini"

Pada tahun 1947, pemerintah pendudukan Belanda di Jakarta

menerbitkan Peraturan Darurat Kepailitan 1947 (Noodsregeling


Faillissmenten 1947). Tujuannya ialah untuk memberikan dasar
hukum bagj penghapusan putusan kepailitan yang terjadi sebelum
jatuhnya Jepang. Tugas ini sudah lama selesai, sehingga dengan
demikian Peraturan Darurat Kepailitan 1947 itu sudah tidak
berlaku lagi.

Di dalam praktik, Faillissementsverordening relatif sangat sedikit

digunakan. Faktor penyebabnya antara lain karena keberadaan


peraturan itu di tengah-tengah masyarakat, kurang dikenal dan
dipahami. Sosialisasinya ke masyarakat sangat minim. Awalnya,
Faillissementsverordening itu hanya berlaku untuk pedagang di
lingkungan masyarakat yang tunduk pada hukum perdata dan
dagang Barat saja

Akibatnya, Faillissementsverordening itu tidak dirasakan sebagai


sesuatu peraturan yang menjadi milik masyarakat pribumi, dan
karena itu pula tidak pernah tumbuh di dalam kesadaran hukum
masyarakat

Tahun 1998-Sekarang
Pada bulan Juli 1997 terjadilah krisis moneter di
Indonesia

Peraturan kepailitan yang ada, sangat tidak dapat


diandalkan. Banyak Debitor yang hubungi oleh para
Kreditornya karena berusaha mengelak untuk
tanggung jawab atas penyelesaian utang-utangnya

Lahirlah Perpu No. 1 Tahun 1998 tentang Perubahan


atas Undang-undang tentang Kepailitan (Perpu
Kepailitan)

5 bulan kemudian Perpu Kepailitan dan perubahan


atas Kepailitan itu ditetapkan menjadi Undang-undang
No. 4 Tahun 1998

UU No.34 Tahun 2004 tentang Kepailitan tangal 18


Oktober 2004

Kepailitan adlah perwujudan dari pasal 1131


dan 1132 BW

1131 BW Segala kebendaan si berutang, baik


yg bergerak mapun yg tak bergerak, baik yg
sudah ada maupun yg akan ada di kemudian
hari mnjd tanggungan u/ segala perikatan
perseorangan

1132 BW kebendaan tsb mjd jaminan bersama-

sama bg semua orang yg mengutangkan


padanya, pendapatan penjualan benda-benda
itu dibagi-bagi menurut keseimbangan, yaitu
menurut besar kecilnya piutang masing-masing
kecuali apabila di antara para berpiutang itu ada
alasan-alasan yg sah untuk didahulukan

Fungsi lembaga kepailitan


Sebagai lembaga pemberi jaminan kpd
kreditornya bhw debitur tidak akan berbuat
curang, dan tetap bertanggung jawab atas
semua utang-utangny kpd semua kreditur

Memberi jaminan perlindungan kepada debitur


terhadap kemungkinan eksekusi masal oleh
kreditur-krediturnya

Azas-Azas Kepailitan
1. Azas Keseimbangan
fungsi kepailitan adalah dapat mencegah
terjadinya penyalahgunaan pranata dan
lembaga kepailitan oleh debitur yg tdk jujur.
Dan dilain pihak mencegah kreditur yg tidak
baik

2. Azas kelangsungan Usaha


Terdapat ketentuan yang memungkinkan
perusahaan debitur yg prospektif tetap
dilangsungkan

3. Azas keadilan
Ketentuan mengenai kepailitan dapat
memenuhi rasa keadilan bagi para pihak
berkepentingan. Azas ini mencegah terjadinya
kesewenang-wenangan pihak penagih yg
mengusahakan pembayaran atas tagihantagihan masing2 thdp debitur dengan tidak
memperdulikan krediturnya

4. Azas Integrasi
sistim hukum formil dan materiilnya
merupakan satu kesatuan yg utuh dari sistem
hukum perdata dan hukum acara perdata
nasional

Syarat-Syarat
Pemohonan Pailit
Pasal 2(1) UUK :

debitur yang mempunyai dua atau


lebih kreditur dan tidak membayar
lunas sedikitnya satu utang yang telah
jatuh tempo dan dapat ditagih,
dinyatakan pailit dengan putusan
pengadilan, baik atas permohonan
satu atau lebih krediturnya

Adanya Dua kreditur atau lebih


(Concursus Creditorum)
Jika debitur mempunyai 1 kreditur,

maka seluruh harta kekayaan debitur


otomatis mnjd jaminan atas pelunasan
utang debitur dan tidak diperlukan
pembagian secara pro rata dan pari
passu

Debitur tidak dapat dituntut pailit, jika


debitur tersebut hanya mempunyai 1
kreditur

Macam Macam
Kreditur
Kreditur Konkuren (pasal 1132 KUHPdt)
Kreditur Preferen (pasal 1134 KUHPdt)
Kreditur Separatis

Kreditur Konkuren
Para kreditur dengan hak PARI PASSU DAN
PRO RATA

Kreditur konkuren mempunyai kedudukan

yang sama atas pelunasan utang tanpa ada


yang didahulukan

Kreditur Preferen
Kreditur yang karena UU,

mendapatkan pelunasan terlebih


dahulu

Mempunyai hak istimewa yaitu hak yg


oleh UU diberikan kpd seorang
berpiutang sehingga tingkatnya lbh
tinggi drpda orang berpiutang lainnya

Lihat kembali pasal 1139 dan 1149


BW

Kreditur Separatis
Kreditur pemegang hak jaminan kebendaan
Hak yang dipunyai kreditur ini adalah hak

kewenangan sendiri menjual / mengeksekusi


objek agunan, tanpa putusan pengadilan
(parate eksekusi)

4 jaminan kebendaan
Hipotek (pasal 1162 s.d pasal 1232 BW)
Gadai (pasal 1150 s.d pasal 1160 BW)
Hak tanggungan (UU No.4/1196)
Fidusia (UU No.42/1999)

Syarat cukup satu utang yang


telah jatuh tempo dan dapat
ditagih
Utang harus lahir dari perikatan yang
sempurna

Misal ; utang yang lahir dari perjudian tidak


dapat mengajukan permohonan pailit

Syarat pemohon pailit


(pasal 2 ayat 1 UUK)
Debitur
Seorang kreditur atau lebih
Kejaksaan
Bank Indonesia
Badan Pengawas Pasar Modal
Menteri Keuangan

Debitur Sendiri
Seorang debitur dapat mengajukan permohonan
pernyataan pailit atas dirinya sendiri

Jika debitur masih terikat dalam pernikahan yang sah,


permohonan hanya dpt diajukan atas persetujuan
suami atau istri

Seorang Kreditur atau lebih


Kreditur yang dapat mengajukan permohonan pailit
terhadap debiturnya adalah kreditur konkuren, kreditur
preferen, kreditur separatis

Kejaksaan
Kejaksaan dapat mengajukan permohonan pailit demi
kepentingan umum

Pengertian kepentingan umum adalah kepentingan


bangsa dan negara dan atau kepentingan masyarakat,
misalnya :

Debitur melarikan diri


Debitur menggelapkan bagian dari harta
kekayaan

Debitur mempunyai utang kpd BUMN atau


badan usaha lain yg menghimpun dana dari
masyarakat

Debitur mempunyai utang yang berasal dari


penhimpunan dana dari masyarakat luas

Debitur tidak beritikad baik atau tidak kooperatif dalam


menyelesaikan masalah utang piutang yang telah jatuh
waktu

Dalam hal lainnya yg menurut mrpkan kepentingan


umum

Bank Indonesia
Permohonan pailit terhadap bank hanya dapat diajukan
oleh Bank Indonesia berdasarkan penilaian kondisi
keuangan perbankan secara keseluruhan

Badan Pengawas Pasar


Modal
Permohonan pailit terhadap perusahaan efek, bursa
efek, lembaga kliring dan penjaminan, lembaga
penyimpanan dan penyelesaian, hanya dapat diajukan
oleh BAPEPAM

Menteri Keuangan
Permohonan pernyataan pailit terhadap perusahaan
asuransi,perusahaan reasuransi, dana pensiun atau
badan usaha milik negara yang bergerak di bidang
kepentingan publik, hanya dapat diajukan Menteri
Keuangan.