Anda di halaman 1dari 29

Laporan Praktik Kerja Lapangan

Proyek Dinas Teknis Kuningan

BAB IV
KEGIATAN YANG DIAMATI

Proyek Dinas Teknis Kuningan merupakan proyek hibah dari hotel JS


Luwangsa yang berada disampingnya, proyek ini direncanakan akan menjadi
kawasan perkantoran yang modern den futuristik.
Proyek Dinas Teknis Kuningan berada di daerah kuningan Jakarta Selatan,
sebelah utara berbatasan dengan pasar festival epicentrum, sebelah selatan
berbatasan dengan proyek cemindo tower, sebelah barat jalan raya rasuna said,
dan sebelah timur berbatasan dengan pesona rasuna .
Proyek berada di tepi Jalan Epicentrum, proyek dinas teknis kuningan
bersebelahan dengan gedung nyi ageng serang, dimana gedung tersebut dipakai
sebagai tempat kantor dinas DKI Jakarta
Selama pelaksanaan proyek konstruksi, area pendukung kegiatan proyek
sebagian besar berada di sebelah selatan proyek, seperti site office, barrak,
gudang, mushola, dsb. Sementara CM office berada di timur laut. Di sekitar area
proyek juga terdapat pendukung lain seperti smoking area yang tersebar
disekeliling proyek, dsb.
Untuk saat ini proyek Dinas Teknis Kuningan sedang tahap pengerjaan
pile cap , selanjutnya dilanjutkan dengan lantai GWT. Pekerjaan proyek Dinas
Teknis Kuningan bisa di bilang cukup cepat , karena MK di sini sangat keras dan
ketat, namun akhir akhir ini agak tertunda karena cuaca yang kurang
mendukung.

DETAIL A

Destya Prasandy 3112110015


Didin Nur Ali - 3112110016

Page 56

Laporan Praktik Kerja Lapangan


Proyek Dinas Teknis Kuningan

Gambar 4.2 Detail A layout proyek


Pintu masuk proyek ini sebenarnya berjumlah 2 buah, namun untuk
memperkecil resiko kriminalitas dan mempermudah kontrol, pintu masuk dibuat
satu buah disebelah kiri proyek, kendaraan dan orang-orang masuk melalui
gerbang yang sama, namun dengan pintu yang berbeda. Untuk jalur TM,
Kendaraan masuk melalui jalur melewati kantor owner, langsung masuk ke
gerbang proyek, kemudian kendaraan masuk terus ke bagian tengah proyek
melewati pos 2, slump test area, dan washing bay.
DETAIL B

Destya Prasandy 3112110015


Didin Nur Ali - 3112110016

Page 57

Laporan Praktik Kerja Lapangan


Proyek Dinas Teknis Kuningan

Gambar 4.3 Detail B layout proyek


Setelah melewati washing bay, kendaraan berbelok ke kanan dan berhenti
disebelah concrete pump, di sanalah titik tempat dilakukan penuangan beton, baik
dari TM ke bucket, maupun dari TM ke concrete pump. Untuk jalur
kembali/pulang, sama seperti jalur masuk, hanya saja sebelum keluar, kendaraan
wajib melewati washing bay dan dibersihkan lagi pada bagian ban oleh
housekeeping untuk menjaga jalan yang dilewati kendaraan proyek tetap bersih.

Destya Prasandy 3112110015


Didin Nur Ali - 3112110016

Page 58

Laporan Praktik Kerja Lapangan


Proyek Dinas Teknis Kuningan

4.1 Dokumentasi Kondisi Lingkungan Proyek

Gambar 4.4 Gerbang Masuk

Gambar 4.5 Pos Security

Gambar 4.6 Site Office

Gambar 4.7 CM Office

Gambar 4.8 Ruang Mekanik

Gambar 4.9 Ruang Meeting

Gambar 4.10 Ruang SubKontraktor

Destya Prasandy 3112110015


Didin Nur Ali - 3112110016

Gambar 4.11 Gazebo

Page 59

Laporan Praktik Kerja Lapangan


Proyek Dinas Teknis Kuningan

Gambar 4.12 Gudang Terbuka

Gambar 4.13 Gudang Tertutup

Gambar 4.14 Kantin

Gambar 4.15 Kantin Bedeng

Gambar 4.16 Toilet Staff

Gambar 4.17 Toilet Pekerja

Gambar 4.18 Tempat BAK Portable

Destya Prasandy 3112110015


Didin Nur Ali - 3112110016

Gambar 4.19 Tangga Kerja

Page 60

Laporan Praktik Kerja Lapangan


Proyek Dinas Teknis Kuningan

Gambar 4.20 Genset

Gambar 4.22 Washing Bay

Gambar 4.21 Mushola

Gambar 4.23 Smoking Area

Gambar 3.xx Washing Bay

Gambar 4.24 Bedeng Pekerja

Gambar
Tulangan
Gambar3.xx
4.26Fabrikasi
Area fabrikasi
besi

Destya Prasandy 3112110015


Didin Nur Ali - 3112110016

Gambar 4.25 Tempat Parkir

Gambar4.27
3.xxArea
Fabrikasi
Bekisting
Gambar
fabrikasi
bekisting

Page 61

Laporan Praktik Kerja Lapangan


Proyek Dinas Teknis Kuningan

4.2 Rambu rambu

Gambar 4.28 Bahaya sengatan listrik

Gambar 4.30 Jalan Kerja

Destya Prasandy 3112110015


Didin Nur Ali - 3112110016

Gambar 4.29 Awas lubang

Gambar 4.31 Hati-hati jalan licin

Page 62

Laporan Praktik Kerja Lapangan


Proyek Dinas Teknis Kuningan

Gambar 4.34 Dilarang Melintas

Gambar 4.36 Wajib Pakai Helm


Proyek

Gambar 4.35 Dilarang Merokok

Gambar 4.37 Gunakan Sepatu


Proyek

Gambar 4.38 Smoking area

Destya Prasandy 3112110015


Didin Nur Ali - 3112110016

Page 63

Laporan Praktik Kerja Lapangan


Proyek Dinas Teknis Kuningan

4.3 Penjelasan Umum Pekerjaan


4.4.1 Pengujian beton
Pengujian material beton yang digunakan pada Proyek Dinas
Teknis Kuningan adalah dengan melakukan uji slump dan uji tekan.
Uji ini menunjukan konsistensi (kekentalan adukan beton) dan untuk
memeriksa tinggi slump. Penurunan adukan semen yang diukur ini
ditetapkan sebagai ukuran apakah memenuhi syarat kemudahan
pekerjaan (work ability) atau tidak. Tinggi slump yang digunakan pada
proyek ini berbeda pada setiap pekerjaannya, dengan tinggi slump
berkisar antara 6 cm sampai 14 cm, dengan toleransi 2 cm.
Alat-alat yang digunakan dalam tes slump :
1. Kerucut terpancung Abrams

bawah

: 200 mm

atas

: 100 mm

tinggi

: 300 mm

tebal kerucut

: 1.6 mm

Gambar 4.39 Kerucut Abrams

2. Plat baja ukuran 50 x 50 cm untuk alas tempat kerucut


3. Batang baja berdiameter 16 mm, panjang 600 mm, salah satu
ujungnya bulat
4. Meteran
5. Sekop kecil
Prosedur pengujian slump :
1. Adukan beton dimasukan kedalam kerucut Abrams mula-mula
sebanyak 1/3 tinggi kerucut, lalu ditusuk-tusuk dengan batang
baja 25x tusukan secara vertical.

Destya Prasandy 3112110015


Didin Nur Ali - 3112110016

Page 64

Laporan Praktik Kerja Lapangan


Proyek Dinas Teknis Kuningan

Gambar 4.40 proses pengujian slump


2. Tambahkan lagi 1/3 tinggi kerucut, lalu ulangi langkah no 1.
3. Tambahkan lagi 1/3 tinggi kerucut terakhir, lakukan seperti
langkah no 1 kemudian permukaan atas diratakan dengan bibir
atas kerucut.
4. Selubung kerucut diangkat ke atas maka adukan beton akan
turun. Besarnya penurunan ini diukur dengan meteran terhadap
kerucut Abrams yang posisinya sekarang dibalik. Turunnya
puncak kerucut adukan beton disebut slump.

Gambar 4.41 hasil pengujian slump

Destya Prasandy 3112110015


Didin Nur Ali - 3112110016

Page 65

Laporan Praktik Kerja Lapangan


Proyek Dinas Teknis Kuningan

Gambar 4.42 hasil tes slump

Pada Proyek Dinas Teknis Kuningan, untuk setiap pekerjaan


pengecoran strukur yang berbeda, pengujian slump dilakukan setiap
35 m3. Bila volume beton untuk pengecoran kurang dari 35 m 3,
pengujian tes slump dilakukan satu kali saat kedatangan truck mixer
yang pertama. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan nilai slump yang
dipesan agar tidak terjadi perbedaan nilai slump dilapangan dan yang
di pesan. Pada setiap kedatangan truck mixer, percepatan silo
dilakukan beberapa menit sebelum pengeluaran beton segar dari truck
mixer. Hal ini dilakukan agar adukan beton merata setelah beton
dalam perjalanan menuju proyek pelaksanaan.

Destya Prasandy 3112110015


Didin Nur Ali - 3112110016

Page 66

Slu

Laporan Praktik Kerja Lapangan


Proyek Dinas Teknis Kuningan

Selain pengujian slump uji beton juga dilakukan dengan


melakukan uji tekan dengan pengambilan 4 sample setiap volume 35
m3. Pengujian kuat tekan beton ini dilakukan di laboraturium.

Gambar 4.43 sample uji kuat tekan


4.4.2

Pengujian Besi
Pengujian besi dilakukan oleh kontraktor sesuai dengan

permintaan dari konsultan perencana. Pengujian yang dilakukan di


lapangan adalah dengan pengujian diameter. Pengujian ini dilakukan
setiap berat besi 50 ton.
Pengujian diameter besi tulangan (deform/polos) yang
dilakukan oleh pihak kontraktor. Pengujian ini dilakukan setiap
datangnya besi tulangan ke lapangan dengan tujuan agar besi yang
telah dipesan sesuai dengan yang akan digunakan. Pengujian
dilakukan dengan mengambil sample besi yang akan di uji sepanjang
satu ( 1 ) meter, timbang benda uji tersebut sehingga kita dapat
mengetahui berat dari benda uji tersebut. Bandingkan baja asli di
lapangan dengan berat baja yang ada pada tabel baja.
4.4.3

Alat dan bahan yang digunakan

Destya Prasandy 3112110015


Didin Nur Ali - 3112110016

Page 67

Laporan Praktik Kerja Lapangan


Proyek Dinas Teknis Kuningan

Dalam suatu proyek konstruksi, penggunaan serta manajemen


alat dan bahan sangatlah penting bagi kelancaran pekerjaan. Hampir
seluruh jenis pekerjaan dilakukan dengan bantuan alat kerja. Dan
suatu pekerjaan tidak dapat dikerjakan jika material bahan tidak
tersedia. Adapun alat-alat kerja dan bahan yang digunakan pada
Proyek LAvenue Office Tower adalah sebagai berikut :

A. Alat
a) Tower Crane
Alat ini merupakan alat yang sangat vital bagi kelancaran
pekerjaan suatu proyek mengingat fungsinya sebagai sarana
mobilisasi material maupun pekerjaan. Produktivitas suatu
proyek dapat dilihat dari produktivitas tower crane dalam
proyek tersebut, semakin tinggi kegiatan mobilisasi yang
dilakukan tower crane maka semakin tinggi pula produktivitas
proyek.
Dalam proyek LAvenue Apartment and Office, digunakan
tower crane sebanyak 1 buah. Dengan masing-masing tower
crane memiliki jangkauan mencapai kisaran 40-60 m. Dengan
kapasitas angkut maksimal mencapai 2,5 ton.

Destya Prasandy 3112110015


Didin Nur Ali - 3112110016

Page 68

Laporan Praktik Kerja Lapangan


Proyek Dinas Teknis Kuningan

Gambar 4.44 Tower Crane


b) Bucket
Alat ini digunakan sebagai media penampungan beton yang
dituangkan dari truck mixer sebelum dituangkan kelokasi
pengecoran. Kapasitas dari bucket pada proyek ini yaitu 1,2
m3.
Alat ini dioperasikan oleh seorang operator yang bertugas
membuka atau menutup saluran pada bucket pada saat pengecoran.

Gambar 4.45 Bucket


c) Terminal
Sebagai sarana meletakkan bekisting namun masih berada di
area bangunan, biasanya terminal ini dipasang setelah
bangunan sudah memiliki beberapa lantai karena bekisting
yang dipakai sudah semakin banyak, sehingga membutuhkan
tempat meletakkan bekisting yang mudah dijangkau.

Gambar 4.46 Terminal


d) Fourway

Destya Prasandy 3112110015


Didin Nur Ali - 3112110016

Page 69

Laporan Praktik Kerja Lapangan


Proyek Dinas Teknis Kuningan

Alat ini merupakan alat penunjang dan perkuatan vertikal


dalam bekisting. Alat ini berfungsi sebagai perancah yang
menyalurkan beban dari bekisting beton sehingga bekisting
tetap berada pada level yang diinginkan. Ada dua (2) elemen
pada fourway, yakni standard fourway (vertikal) dan ledger
fourway (horisontal).

Gambar 4.47 Fourway


e) Support
Sebagai penahan struktur balok dan pelat lantai ketika
fourway sudah dilepas, biasanya support ketika usia beton 7
hari dan baru dilepas setelah 28 hari.

Gambar 4.48 Support

f) Korinplex

Destya Prasandy 3112110015


Didin Nur Ali - 3112110016

Page 70

Laporan Praktik Kerja Lapangan


Proyek Dinas Teknis Kuningan

Acuan utama dalam bekisting, paling sering digunakan


pada bekisting balok dan pelat lantai.

Gambar 4.49 Korinplex


g) Panel
Panel terdiri dari korinplex dan besi hollow yang berfungsi
sebagai acuan dalam bekisting beton yang berfungsi
memberikan bentuk pada beton

Gambar 4.50 Panel


h) U-head
U-head merupakan bagian dari acuan dan perancah
modern. U-head berfungsi sebagai dudukan bodeman yang
menyalurkan beban dari bodeman ke fourway. U-head juga
berfungsi untuk mengatur level acuan dengan memutar
lengannya.

Destya Prasandy 3112110015


Didin Nur Ali - 3112110016

Page 71

Laporan Praktik Kerja Lapangan


Proyek Dinas Teknis Kuningan

Gambar 4.51 U-head


i) Jack base
Jack base berfungsi sebagai dasar dari fourway yang
menyalurkan beban bekisting ke pelat lantai

Gambar 4.52 Jack base


j) PPM
PPM merupakan skoor diagonal yang berfungsi memikul
beban beton arah horizontal dan berfungsi sebagai penyalur
beban ke suri-suri

Gambar 4.53 PPM


k) Bodeman
Bodeman merupakan balok 6 x 12 cm yang berfungsi
menyalurkan beban bekisting dari suri-suri dan ppm ke Uhead.

Destya Prasandy 3112110015


Didin Nur Ali - 3112110016

Page 72

Laporan Praktik Kerja Lapangan


Proyek Dinas Teknis Kuningan

Gambar 4.54 balok bodeman


l) Suri-suri
Suri-suri merupakan baja hollow 50 x 50 mm yang
berfungsi memikul beban vertical pada acuan beton balok dan
pelat lantai

Gambar 4.55 suri-suri


m) Tie-rod
Tie-rod berfungsi sebagai pengekang bekisting agar panel
tidak bergeser ketika pengecoran

Destya Prasandy 3112110015


Didin Nur Ali - 3112110016

Page 73

Laporan Praktik Kerja Lapangan


Proyek Dinas Teknis Kuningan

Gambar 4.56 tie-rod


n) Vibrator
Vibrator merupakan alat untuk memadatkan beton saat
pengecoran dilakukan

Gambar 4.57 Vibrator


o) Bar cutter
Bar cutter adalah alat yang digunakan untuk memotong
besi seusai ukuran yang direncanakan

Gambar 4.58 Bar cutter


p) Bar bender
Bar bender merupakan alat untuk membengkokkan besi
atau membentuk kait pada besi sesuai dengan ukuran yang
direncanakan

Destya Prasandy 3112110015


Didin Nur Ali - 3112110016

Page 74

Laporan Praktik Kerja Lapangan


Proyek Dinas Teknis Kuningan

Gambar 4.59 Bar bender


q) Compressor
Compressor merupakan alat yang dapat menghasilkan
tiupan angin dengan hempasan yang tinggi, sehingga
digunakan untuk membersihkan lokasi pengecoran

Gambar 4.60 compressor


r) Concrete pump
Concrete pump merupakan alat yang digunakan untuk
menyedot beton dari truck mixer dan mendorongnya melalui
pipa ke lokasi pengecoran

Destya Prasandy 3112110015


Didin Nur Ali - 3112110016

Page 75

Laporan Praktik Kerja Lapangan


Proyek Dinas Teknis Kuningan

Gambar 4.61 concrete pump


s) Placing boom
Placing boom merupakan alat yang berfungsi untuk
mobilisasi beton segar ke titik pengecoran. Biasanya placing
boom digunakan untuk pengecoran area yang luas yang jika
menggunakan bucket dan concrete pump akan menghabiskan
waktu yang lama.

Gambar 4.62 placing boom


t) Peralatan las gas
alat las gas gas merupakan alat yang digunakan untuk
memotong tulangan yang sudah tidak diperlukan di lokasi
pekerjaan.

Destya Prasandy 3112110015


Didin Nur Ali - 3112110016

Page 76

Laporan Praktik Kerja Lapangan


Proyek Dinas Teknis Kuningan

Gambar 4.63 seperangkat alat las gas


u) Trowel
Trowel

merupakan

alat

yang

digunakan

untuk

menghaluskan permukaan pelat lantai yang akan di taburkan


floor hardener

Gambar 4.64 Trowel


v) Eskafator
Eskafator merupakan alat berat yang digunakan untuk
pekerjaan galian dan urugan tanah

Destya Prasandy 3112110015


Didin Nur Ali - 3112110016

Page 77

Laporan Praktik Kerja Lapangan


Proyek Dinas Teknis Kuningan

Gambar 4.65 eskafator


w) Catut (gegep)
Catut atau gegep digunakan untuk mengikat kawat bendrat
dengan tulangan

Gambar 4.66 catut (gegep)


x) Palu
Alat ini digunakan untuk pekerjaan pemakuan seperti yang
banyak digunakan untuk membuat bekisting.

Gambar 4.67 palu


y) Meteran
Digunakan sebagai alat ukur di lapangan. Dapat mengukur
hingga panjang 7 meter

Destya Prasandy 3112110015


Didin Nur Ali - 3112110016

Page 78

Laporan Praktik Kerja Lapangan


Proyek Dinas Teknis Kuningan

Gambar 4.68 meteran


z) Gergaji
Digunakan untuk memotong kayu dan pvc sesuai dengan
ukuran dan bentuk yang diinginkan

Gambar 4.69 gergaji


aa) Peralatan marking
Terdiri dari theodolite, auto level, tripod, rambu ukur, roll
meter, dan tinta benang. Digunakan untuk menentukan as
suatu pekerjaan dan memberikan marking untuk pekerjaan
yang akan dilakukan.

Destya Prasandy 3112110015


Didin Nur Ali - 3112110016

Page 79

Laporan Praktik Kerja Lapangan


Proyek Dinas Teknis Kuningan

Gambar 4.70 seperangkat peralatan marking


ab) Mesin bor
Digunakan untuk membobok bagian beton yang tidak
digunakan atau bagian beton yang menghalangi pekerjaan
lainnya.

Gambar 4.71 mesin bor


B. Bahan
a) Floor hardener
Merupakan zat kimia yang digunakan untuk mempercepat
pengerasan pada beton pelat lantai

Gambar 4.72 floor hardener


b) Kawat bendrat
Digunakan untuk mengikat antar tulangan khususnya dalam
pekerjaan struktur

Destya Prasandy 3112110015


Didin Nur Ali - 3112110016

Page 80

Laporan Praktik Kerja Lapangan


Proyek Dinas Teknis Kuningan

Gambar 4.73 kawat bendrat


c) Calbond
Digunakan untuk memberikan ikatan antara beton lama
yang sudah mengalami setting time dengan beton baru dalam
pengecoran

Gambar 4.74 calbond


d) Kawat ayam
Digunakan untuk membatasi bagian pengecoran agar
sesuai dengan luas area yang direncanakan

Destya Prasandy 3112110015


Didin Nur Ali - 3112110016

Page 81

Laporan Praktik Kerja Lapangan


Proyek Dinas Teknis Kuningan

Gambar 4.75 kawat ayam


e) Water stop (watafoil)
Digunakan untuk mencegah air yang terdapat pada beton
tidak keluar sehingga beton tetap memiliki kekuatan yang
direncanakan

Gambar 4.76 waterstop


f) Gabus
Digunakan sebagai penutup bagian yang tidak diinginkan
(block out) untuk dicor seperti sambungan balok.

Gambar 4.77 gabus


g) Lem epoxy
Digunakan untuk merekatkan tulangan yang akan dijadikan
stek pada struktur kolom ataupun waller beam

Destya Prasandy 3112110015


Didin Nur Ali - 3112110016

Page 82

Laporan Praktik Kerja Lapangan


Proyek Dinas Teknis Kuningan

Gambar 4.78 lem epoxy

4.4 Pekerjaan Waller Beam


A. Definisi
a. Ground Anchor

Destya Prasandy 3112110015


Didin Nur Ali - 3112110016

Page 83

Laporan Praktik Kerja Lapangan


Proyek Dinas Teknis Kuningan

Ground Anchor merupakan bagian penting dari struktur yang


mengirimkan gaya tarik (tensile force) dari struktur utama ke tanah
disekitar Ground Anchor.

Kekuatan geser dari tanah disekitarnya

digunakan untuk melawan gaya tarik Ground Anchor itu dan untuk
mengikat Ground Anchor pada tanah yang cocok. Kebanyakan dari
Ground Anchor biasanya terdiri dari baja tendon dengan kekuatan
tinggi yang dipasang pada sudut kemiringan (inklinasi) tertentu dan
pada kedalaman yang diperlukan untuk melawan beban yang ada.
b. Waller Beam
Waller beam sebenarnya hanyalah bagian dari sistem retaining wall
tanah. Pada saat proses penggalian di suatu lokasi dilakukan apalagi
penggalian dengan elevasi yang dalam-, diperlukan adanya struktur
tersendiri untuk menahan tanah agar tidak runtuh.
Salah satu jenis retaining wall tanah adalah contiguous pile yang
merupakan semacam pondasi bore pile yang terdiri campuran semen
dan bentonite dan tanpa tulangan yang disusun membentuk barisan
satu layer ataupun lebih (tergantung kebutuhan). Biasanya struktur
seperti ini sudah cukup untuk menahan tanah, namun pada lokasi
dengan galian yang dalam dan kondisi tanah yang buruk, maka
diperlukan perlakuan khusus untuk memperkuat retaining wall, yaitu
sistem angkur. Karena pengangkuran tidak mungkin dilakukan di tiap
angkur, maka dibuatlah waller beam sebagai pengikat antar pile
sehingga contiguous pile bekerja menjadi satu sistem penahan tanah.
Selain itu, waller beam juga difungsikan sebagai dudukan angkur.
Struktur waller beam sendiri sebenarnya sama dengan balok biasa yang
terdiri dari beton bertulang. Selain sebagai pembentuk, tulangan pada
waller beam juga dimasukkan ke contiguous pile untuk memperkuat
ikatan antara waller dan pile.

Destya Prasandy 3112110015


Didin Nur Ali - 3112110016

Page 84