Anda di halaman 1dari 32

2.

1 Mikosis Profunda
Mikosis profunda terdiri dari beberapa penyakit yang disebabkan oleh
jamur dengan gejala klinis tertentu yang menyerang alat di bawah kulit, misalnya
traktus

intestinalis,

traktus

respiratorius,

traktus

urogenitalis,

susunan

kardiovaskular, susunan saraf sentral, otot, tulang, dan kadang kadang kulit.
Kelainan kulit pada mikosis profunda dapat berupa afek primer, maupun akibat
proses dari jaringan di bawahnya ( per kontuitatum ). CONANT dkk. ( 1977 )
mencantumkan dalam bukunya Manual of Clinical Mycology mencantumkan
beberapa penyakit jamur ini, yaitu :1
1. Aktinomikosis

11. Kandidosis

2. Nokardiosis

12. Geotrikosis

3. Antinomikosis misetoma

13. Aspergillosis

4. Blastomikosis

14. Fikomikosis

5. Parakoksidiodomikosis

15. Sporotrikosis

6. Lobomikosis

16. Maduromikosis

7. Koksidiodomikosis

17. Rinosporidiosis

8. Histoplasmosis

18. Kromoblastomikosis

9. Histoplasmosis afrika

19. Infeksi jamur Dematiceace ( berpigmen

coklat )
10. Kriptokokosis
Diantara 19 macam penyakit jamur profunda yang disebutkan diatas,
aktinomikosis ( actinomyces ) dan nokardiosis ( nocardia ) menurut RIPPON
(1974) di kategorikan sebagai bacteria-like fungi dikarenakan memiliki sifat
sifat jamur seperti, branching dalam jaringan, membentuk anyaman luas jamur di
dalam jaringan maupun media biakan, dan menyebabkan penyakit kronik. Selain
itu memiliki sifat sifat khas bakteri seperti adanya asam muramik pada dinding
sel, tidak mempunyai inti sel yang karakteristik, tidak mempunyai mitokondria,
besar mikroorganisme khas untuk bakteri, dan dapat dihambat oleh obat obat
anti-bakterial.1
Mikosis profunda biasanya terlihat dalam klinik sebagai penyakit kronik
dan residif. Manifestasi klinis morfologis dapat berupa tumor, infiltrasi

peradangan vegetative, fistel, ulkus, atau sinus, tersendiri maupun bersamaan.


Mengingat banyaknya penyakit yang memenuhi kedua syarat tersebut, misalnya
tuberculosis, lepra, sifilis, frambusia, keganasan, sarkoidosis, dan pioderma
kronik, maka pemeriksaan tambahan untuk verifikasi sangat diperlukan.2
Pemeriksaan tersebut adalah sediaan langsung dengan KOH, biakan jamur,
pemeriksaan histopatologik dan pemeriksaan imunologik termasuk tes kulit,
maupun serologic dan pemeriksaan imunologik lainnya. Pemeriksaan tambahan
ini diperlukan untuk memastikan atau menyingkirkan mikosis profunda dan
penyakit yang disebut sebut sebagai diagnosis banding.3
Mengenai mikosis profunda akan dikemukakan beberapa penyakit jamur
subkutis yang kadang kadang dijumpai di Indonesia.
1. Misetoma
Misetoma adalah penyakit kronik, supuratif dan granulomatosa yang dapat
disebabkan bakteri Actinomyces dan Nocardia, yang termasuk Schizomycetes dan
Eumycetes atau jamur berfilamen. Gejala klinis biasanya terdiri atas
pembengkakan, abses, sinus, dan fistel multiple. Di dalam sinus ditemukan butir
butir ( granules ) yang berpigmen yang kemudian dikeluarkan melalui eksudat.1
Berhubungan dengan penyebabnya, misetoma yang disebabkan oleh
Actinomyces disebut actinomycotic mycetoma, yang disebabkan bakteri disebut
botryomycosis

dan

yang

disebabkan

oleh

jamur

berfilamen

disebut

maduromycosis.1,4
Gejala klinis biasanya merupakan lesi kulit yang sirkumskrip dengan
pembengkakan seperti tumor jinak dan harus disertai butir butir. Inflamasi dapat
menjalar dari permukaan sampai kebagian dalam dan dapat menyerang subkutis,
fasia, otot, dan tulang. Sering terbentuk fistel, yang mengeluarkan eksudat. Butir
butir sering bersama sama eksudat mengalir keluar dari jaringan.3
Diagnosis dibuat berdasarkan klinis morfologik sesuai dengan uraian
diatas. Namun bila disokong dengan gambaran histologik dan hasil biakan,
diagnosis akan lebih mantap. Lagi pula penentuan spesies penyebab sangat
penting artinya untuk terapi dan diagnosis.2

Pengobatan mesetoma biasanya harus disertai reseksi radikal, bahkan


amputasi kadang kadang perlu dipertimbangkan. Obat obat, misalnya
kombinasi kotrimoksazol dengan streptomisin dapat bermanfaat, bila penyakit
yang dihadapi adalah misetoma aktinomikotik, tetapi waktu pengobatan
memerlukan waktu lama ( 9 bulan 1 tahun ) dan bila kelainan belum meluas
benar. Obat obat baru antifungal, misalnya itrakonazol dapat dipertimbangkan
untuk misetoma maduromikotik.5
Prognosis quo ad vitam umumnya baik. Pada maduromikosis prognosis
quo ad sanationam tidak begitu baik bila dibandingkan dengan aktinomikosis /
botriomikosis. Diseminasi limfogen atau hematogen dengan lesi pada alat alat
dalam merupakan pengecualian.1
2. Sporotrikosis
Sporotrikosis adalah infeksi kronis yang disebabkan oleh Sporotrichium
schenkii dan ditandai dengan pembesaran kelenjar getah bening. Kulit dan
jaringan subkutis diatas nodus sering melunak dan pecah membentuk ulkus yang
indolen.1
Penyakit jamur ini mempunyai insidens yang cukup tinggi pada daerah
tertentu. Diagnosis klinin umumnya mudah dibuat berdasarkan kelainan kulit
yang multiple dan umumnya khas (lihat definisi). Penyakit ini umumnya
ditemukan pada pekerja di hutan dan petani.2
Bila tidak terjadi diseminasi melalui saluran getah bening diagnosis agak
sukar dibuat. Selain gejala klinis, yang dapat menyokong diagnosis adalah
pembiakan terutama pada mencit atau tikus, dan pemeriksaan histopatologik.
Pernah dilaporkan sekali sekali selain bentuk kulit yang khas, beberapa bentuk
di paru dan alat dalam lain. Pada kasus ini rupa rupanya terjadi infeksi melalui
inhalasi. Pengobatan yang memuaskan biasanya dicapai dengan pemberian larutan
kalium yodida jenuh oral. Dalam hal yang rekalsitran pengobatan dengan
amfoterisin B atau itrakonazol dapat diberikan.6
3. Kromomikosis
Kromomikosis atau kromoblastomikosis atau dermatitis verukosa adalah
penyakit jamur yang disebabkan bermacam macam jamur berwarna

(dematiaceuos). Penyakit ini ditandai dengan pertumbuhan nodus verukosa kutan


yang perlahan lahan, sehingga akhirnya membentuk vegetasi papilomatosa yang
besar. Pertumbuhan ini dapat menjadi ulkus atau tidak, biasanya ada di kaki dan
tungkai, namun lokalisasi ditempat lain pernah ditemukan, misalnya pada muka,
tangan, telinga, leher, dada, dan bokong. Penyakit ini kadang kadang dilihat di
Indonesia. Sumber penyakit ini dari alam dan terjadi infeksi melalui trauma.1
Penyakit ini tidak ditularkan dari manusia ke manusia dan belum pernah
dilaporkan terjadi pada binatang. Diseminasi dapat terjadi melalui autoinokulasi,
ada juga kemungkinan penyebaran melalui saluran kelenjar getah bening.
Penyebaran melalui darah dengan terserangnya sususan saraf sentral pernah
dilaporkan. Walaupun penyakit jamur ini terbatas pada kulit, bila lesinya luas
dapat mengganggu aktifitas sehari hari dari penderita.7
Pengobatannya sulit, terapi dengan sinar-X pernah dilakukan dengan hasil
yang berbeda- beda. Kadang kadang diperlukan amputasi. Pada kasus lain
reseksi lesi mikotik disusul dengan skin graft memberikan hasil yang memuaskan.
Obat- obatan biasanya memnberikan hasil yang kurang memuaskan dan harus
diberikan dalam waktu yang lama.8
Pada akhir akhir ini pengobatan yang memberikan hasil yang
memuaskan dicapai dengan pemberian kombinasi antara amfoterisin B dan 5
fluorositosin. Demikian pula pengobatan dengan menggunakan kantong kantong
panas di Jepang. Prognosis, seperti diurakain pada hasil terapi diatas, tidak begitu
baik, kecuali pada lesi yang baru. Itrakonazol pada akhir akhir ini memberikan
harapan baru pada penyakit ini, terutama bila penyebabnya adalah Cladosporium
Carrionii.8,9
4. Zigomikosis, Fikomikosis, Mukormikosis
Penyakit jamur ini terdiri dari berbagai infeksi jamur disebabkan oleh
bermacam-macam jamur pula yang taksonomi dan perannya masih di diskusikan,
oleh karena itu didalam buku buku baru diberikan nama umum, yaitu
Zigomikosis.1
Zygomycetes meliputi banyak genera, yaitu Mucor, Rhizopus, Absidia,
Mortierella dan Cunning hamella. Penyakit yang disebabkan oleh golongan

jamur ini dapat disebut sesuai dengan lokalisasi atau alat dalam yang terserang.
Contohnya rinizigomikosis, otozigomikosis, zigomikosis subkutan, zigomikosis
fasiale, atau zigomikosis generalisata. Golongan penyakit jamur ini dapat
dinamakan juga sesuai dengan jamur penyebabnya, misalnuya mukormikosis dan
sebagainya.3
Oleh karena penyakit ini disebabkan jamur yang pada dasarnya
oportunistik, maka pada orang sehat jarang ditemukan. Diabetes mellitus,
misalnya, merupakan factor predisposisi. Demikian juga penyakit primer berat
yang lain.2
Fikomikosis subkutan adalah salah satu bentuk penyakit golongan ini yang
kadang kadang dilihat di Bagian Kulit dan Kelamin. Penyakit ini untuk pertama
kali dilaporkan di Indonesia pada tahun 1956. Setelah itu banyak kasus dilaporkan
di Indonesia, Afrika, dan India. Kelainan timbul dijaringan subkutan antara lain di
dada, perut, atau lengan atas sebagai nodus subkutan yang perlahan lahan
membesar setelah sekian lama waktu. Nodus tersebut konsistensinya keras dan
kadang kadang dapat terjadi infeksi sekunder. Penderita pada umumnya tidak
demam dan tidak disertai pembesarn kelenjar getah bening regional.4
Diagnosis ditegakan dengan pemeriksaan histopatologik dan biakan.
Jamur agak khas, hifa lebar 6 50 , seperti pita, tidak bersepta dan coenocytic.5
Sebagai terapi fikomikosis subkutan dapat diberikan larutan jenuh kalium
yodida. Mulai dari 10 15 tetes 3 kali sehari dan perlahan lahan dinaikan
sampai terlihat gejala intoksikasi, penderita mual dan muntah. Kemudian dosis
diturunkan 1 2 tetes dan dipertahankan terus sampai tumor menghilang.
Itrakonazol berhasil mengatasi fikomikosis subkutan dengan baik. Dosis yang
diberikan sebanyak 200 mg sehari selama 2 3 bulan. Prognosis klinis ini
umumnya baik.5

2.2 Mikosis Superfisialis


2.2.1 Dermatofitosis
Definisi
Dermatofitosis adalah penyakit jamur pada jaringan yang mengandung zat
tanduk, seperti kuku, rambut, dan stratum korneum pada epidermis, yang
disebabkan oleh jamur golongan dermatofita.10
Etiologi
Dermatofitosis termasuk kelas Fungi imperfecti, yang terbagi dalam 3
genus, yaitu Microsporum, Trichophyton dan Epidermophyton.2 Yang terbanyak
ditemukan di Indonesia adalah Trichophyton rubrum. Dermatofita yang lain
adalah Epidermophyton floccosum, Tricophyton mentagrophytes, Microsporum
canis, Microsporum gypseum, Tricophyton concentricum, Tricophyton schoenleini
dan Tricophyton tonsurans.1
Gambaran Klinis
Golongan jamur dermatofita dapat menyebabkan kelainan yang khas. Satu
jenis dermatofita dapat menghasilkan bentuk klinis yang berbeda, bergantung
pada lokalisasi anatominya. Bentuk-bentuk klinis tersebut adalah tinea kapitis,
tinea favosa, tinea korporis, tinea imbrikata, tinea kruris, tinea manus et pedis dan
tinea unguium. Selain itu terdapat juga tinea barbe, dermatofitosis pada dagu dan
jenggot; tinea aksilaris pada ketiak, tinea fasialis pada wajah dan tinea inkognito
yang berarti dermatofitosis dengan bentuk klinis tidak khas oleh karena telah
diobati dengan steroid topikal kuat.2
Diagnosis
Pada sediaan kulit dan kuku dengan 1 tetes larutan KOH 20 % yang
terlihat adalah hifa, sebagai dua garis sejajar, terbagi oleh sekat dan bercabang,
maupun spora berderet (artospora) pada kelainan kulit lama dan/atau sudah
diobati.3
Pada sediaan rambut dengan 1 tetes larutan KOH 10 % yang terlihat
adalah spora kecil (mikrospora) atau besar (makrospora). Spora dapat tersusun di
luar rambut (ektotriks) atau di dalam rambut (endotriks). Kadang-kadang dapat
terlihat juga hifa pada sediaan rambut.6

1. Tinea Kapitis
Definisi
Tinea kapitis adalah kelainan kulit pada daerah kepala berambut yang
disebabkan oleh jamur golongan dermatofita.1
Etiologi
Penyakit ini disebabkan oleh spesies dermatofita dari genus Trichophyton
dan

Microsporum,

misalnya

T.violaceum,

T.gourvili,

T.mentagrophytes,

T.tonsurans, M.audonii, M.Canis dan M.ferrugineum.10


Gambaran Klinis
Penyakit ini sering terjadi pada anak-anak, yang dapat ditularkan dari
binatang peliharaan misalnya anjing dan kucing. Keluhan penderita berupa bercak
pada kepala, gatal dan sering disertai rontoknya rambut di tempat lesi tersebut.4
Ada 3 bentuk klinis dari tinea kapitis:2
1. Grey patch ringworm: merupakan tinea kapitis yang biasanya
disebabkan oleh genus Microsporum dan ditemukan pada anak-anak.
Penyakit ini biasanya dimulai dengan timbulnya papula merah kecil di
sekitar folikel rambut. Papula ini kemudian melebar dan membentuk
bercak pucat karena adanya sisik. Penderita mengeluh gatal, warna rambut
menjadi abu-abu, tidak berkilat lagi. Rambut menjadi mudah patah dan
juga mudah terlepas dari akarnya. Pada daerah yang terserang oleh jamur
terbentuk alopesia setempat dan terlihat sebagai grey patch. Bercak abuabu ini sulit terlihat batas-batasnya dengan pasti, bila tidak menggunakan
lampu Wood. Pemeriksaan dengan lampu Wood memberikan fluoresensi
kehijau-hijauan sehingga batas-batas yang sakit dapat terlihat jelas.
2. Kerion: merupakan tinea kapitis yang disertai dengan reaksi peradangan
yang hebat. Lesi berupa pembengkakan menyerupai sarang lebah, dengan
serbukan sel radang disekitarnya. Kelainan ini menimbulkan jaringan
parut yang menetap. Biasanya disebabkan jamur zoofilik dan geofilik.
3. Black dot ringworm: adalah tinea kapitis dengan gambaran klinis
berupa terbentuknya titik-titik hitam pada kulit kepala akibat patahnya

rambut yang terinfeksi tepat di muara folikel. Ujung rambut yang patah
dan penuh spora terlihat sebagai titik hitam. Biasanya disebabkan oleh
genus Tricophyton.

grey patch ringworm

kerion

black dot ringworm

Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gambaran klinis, pemeriksaan dengan
lampu Wood, dan pemeriksaan mikroskopis rambut langsung dengan KOH. Pada
pemeriksaan mikroskopis, akan terlihat spora di luar rambut (ectotrics) atau di
dalam rambut (endotrics).6
Diagnosis Banding
Tinea kapitis sering dikelirukan dengan berbagai penyakit, seperti
psoariasis vulgaris, dermatitis seboroik dan alopesia areata.3
Terapi
Pengobatan pada anak biasanya diberikan per oral dengan griseofulvin 1025 mg/kg berat badan per hari selama 6 minggu. Dosis pada orang dewasa adalah
500 mg/hari selama 6 minggu. Penggunaan antijamur topikal dapat mengurangi
penularan pada orang yang ada di sekitarnya.5
Selain antijamur, pada bentuk kerion dapat diberikan kortikosteroid dalam
jangka pendek, misalnya prednison 20 mg /hari selama 5 hari dengan
pertimbangan

bahwa

obat

tersebut

dapat

mempercepat

resolusi

dan

menghindarkan terjadinya reaksi id.5


2. Tinea Favosa
Definisi
Tinea favosa adalah infeksi jamur kronis, terutama oleh T.schoenleini,
T.violaceum dan M.gypseum. Penyakit ini merupakan bentuk lain tinea kapitis,

yang ditandai oleh skutula berwarna kekuningan dan bau seperti tikus (mousy
odor) pada kulit kepala. Biasanya, lesinya menjadi sikatrik alopesia permanen.1
Gambaran Klinis
Gambaran klinis mulai dari gambaran ringan, berupa kemerahan pada kulit
kepala dan terkenanya folikel rambut tanpa kerontokan, hingga skutula dan
kerontokan rambut, serta lesi menjadi lebih merah dan lebih luas. Setelah itu,
terjadi kerontokan rambut luas, kulit mengalami atrofi dan sembuh dengan
jaringan parut permanen.2

tinea favosa pada anak-anak

Diagnosis
Berdasarkan gejala klinis dan pemeriksaan mikroskopis langsung, dengan
menemukan miselium, air bubbles yang bentuknya tidak teratur. Pada
pemeriksaan dengan lampu Wood tampak fluoresensi hijau pudar (dull green).7
Terapi
Prinsip pengobatan sama dengan tinea kapitis. Untuk menghilangkan
skutula dan debris, higiene harus dijaga dengan baik.5
3. Tinea Korporis
Definisi
Tinea korporis adalah infeksi jamur dermatofita pada kulit tidak berambut
(glaborous skin) di daerah muka, badan, lengan dan tungkai.4
Etiologi
Penyebab tersering penyakit ini adalah T.rubrum dan T.mentagrophytes.1
Gambaran klinis
Bentuk klinis biasanya berupa lesi yang terdiri atas bermacam-macam
eflorosensi kulit, berbatas tegas dengan konfigurasi anular, arsinar atau polisiklik.

Bagian tepi lebih aktif dengan tanda perdangan yang lebih jelas. Daerah sentral
biasanya menipis dan terjadi penyembuhan, sementara di tepi lesi makin meluas
ke perifer. Kadang-kadang bagian tengahnya tidak menyembuh, tetapi tetap
meninggi dan tertutup skuama sehingga menjadi bercak yang besar.6
Tinea korporis yang menahun ditandai dengan sifat kronik. Lesi tidak
menunjukkan tanda-tanda radang yang akut. Kelainan ini biasanya terjadi pada
bagian tubuh dan tidak jarang bersama-sama dengan tinea kruris. Bentuk kronik
yang disebabkan oleh T.rubrum kadang-kadang terlihat bersama dengan tinea
unguium.2

tinea korporis pada punggung dan lengan

Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gambaran klinis dan lokalisasinya, serta
pemeriksaan kerokan kulit dan larutan KOH 10-20 % dengan mikroskop untuk
melihat hifa atau spora jamur.6
Diagnosis Banding
Tinea korporis mempunyai gambaran klinis yang mirip dengan pitiriasis
rosea, psoariasis, lues stadium II, morbus Hansen tipe tuberkuloid, dan dermatitis
kontak.1
Terapi
Pengobatan sistemik berupa griseofulvin dosis 500 mg/hari selama 3-4
minggu; dapat juga ketokonazol 200 mg/hari selama 3-4 minggu; itrakonazol 100
mg/hari selama 2 minggu; atau terbinafin 250 mg/hari selama 2 minggu.
Pengobatan dengan salep Whitfeld masih cukup baik hasilnya. Dapat juga

diberikan tolnaftat, tolsiklat, haloprogin, siklopiroksolamin, derivat azol, dan


naftifin HCl.9
4. Tinea Imbrikata
Definisi
Tinea imbrikata adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi jamur
dermatofita yang memberikan gambaran khas berupa kulit bersisik dengan sisik
yang melingkar-lingkar dan terasa gatal.3
Etiologi
Penyakit ini disebabkan jamur dermatofita T.concentricum.1
Gambaran Klinis
Penyakit ini dapat menyerang seluruh permukaan kulit yang tidak
berambut, sehingga sering digolongkan dalam tinea korporis. Lesi bermula
sebagai makula eritematosa yang gatal, kemudian timbul skuama yang agak tebal
dan konsentris dengan susunan seperti genting. Lesi makin lama makin melebar
tanpa meninggalkan penyembuhan di bagian tengah.3

tinea imbrikata pada lengan

Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gambaran klinis yang sangat khas
berupa lesi konsentris.6
Diagnosis Banding
Diagnosis bandingnya ialah eritroderma dan pemfigus foliaseus.1
Terapi
Pengobatan sistemik griseofulvin dengan dosis 500 mg/hari selama 4
minggu. Sering terjadi kambuh setelah pengobatan, sehingga memerlukan

pengobatan ulang yang lebih lama. Obat sistemik lain adalah ketokonazol 200
mg/hari, itrakonazol 100 mg/hari dan terbinafin 250 mg/hari selama 4 minggu.8
Pengobatan topikal tidak begitu efektif karena daerah yang terserang luas.
Dapat diberikan preparat yang mengandung keratolitik kuat dan antimikotik,
misalnya salep Whitfeld, Castellani paint, atau campuran salisilat 5 % dan sulfur
presipitatum 5 %, serta obat-obat antimikotik berspektrum luas.5
5. Tinea Kruris
Definisi
Tinea kruris adalah penyakit infeksi jamur dermatofita di daerah lipat
paha, genitalia, dan sekitar anus, yang dapat meluas ke bokong dan perut bagian
bawah.2
Etiologi
Penyebab umumnya adalah E.floccosum, kadang-kadang dapat juga
disebabkan oleh T.rubrum. Keluhan penderita adalah rasa gatal di daerah lipat
paha sekitar anogenital.7
Gambaran Klinis
Gambaran klinis biasanya berupa lesi simetris di lipat paha kanan dan kiri,
namun dapat juga unilateral. Mula-mula lesi ini berupa bercak eritematosa dan
gatal, yang lama kelamaan meluas hingga skrotum, pubis, glutea, bahkan sampai
seluruh paha. Tepi lesi aktif, polisiklik, ditutupi skuama dan terkadang disertai
banyak vesikel-vesikel kecil.2

tinea kruris pada lipat paha dan paha

Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gambaran klinis yang khas dan
ditemukannya elemen jamur pada pemeriksaan kerokan kulit dengan mikroskopik
langsung memakai larutan KOH 10-20 %.1
Diagnosis Banding
Tinea kruris dapat menyerupai dermatitis seboroik, kandidosis kutis,
eritrasma, dermatitis kontak dan psoariasis.2
Terapi
Pengobatan sistemik menggunakan griseofulvin 500 mg/hari selama 3-4
minggu. Obat lain adalah ketokonazol. Pengobatan topikal memakai salep
Whitfeld, tolnaftat, tolsiklat, haloprogin, siklopiroksolamin, derivat azol dan
naftifin HCl.5
6. Tinea Manus et Pedis
Definisi
Tinea manus et pedis merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi
jamur dermatofita di daerah kulit telapak tangan dan kaki, punggung tangan dan
kaki, jari-jari tangan dan kaki, serta daerah interdigital.1
Etiologi
Penyebab tersering adalah T.rubrum, T. mentagrophytes dan E.floccosum.1
Gambaran Klinis
Penyakit ini sering terjadi pada orang dewasa yang setiap hari harus
memakai sepatu tertutup dan pada orang yang sering bekerja di tempat yang
basah, mencuci, bekerja di sawah dan sebagainya. Keluhan penderita bervariasi
mulai dari tanpa keluhan sampai mengeluh sangat gatal dan nyeri karena
terjadinya infeksi sekunder dan peradangan.2
Dikenal 3 bentuk klinis yang sering dijumpai, yaitu:1
1. Bentuk

intertriginosa.

Manifestasi

kliniknya

berupa

maserasi,

deskuamasi dan erosi pada sela jari. Tampak warna keputihan basah dan
dapat terjadi fisura yang terasa nyeri bila tersentuh. Infeksi sekunder oleh
bakteri dapat menyertai fisura tersebut dan lesi dapat meluas sampai ke
kuku dan kulit jari. Pada kaki, lesi sering mulai dari sela jari III, IV dan V.

2. Bentuk vesikular akut. Penyakit ini ditandai terbentuknya vesikel-vesikel


dan bula yang terletak agak dalam di bawah kulit dan sangat gatal. Lokasi
yang sering adalah telapak kaki bagian tengah dan kemudian melebar serta
vesikelnya memecah. Infeksi sekunder dapat memperburuk keadaan ini.
3. Bentuk moccasin foot. Pada bentuk ini seluruh kaki dari telapak, tepi,
sampai punggung kaki terlihat kulit menebal dan berskuama. Eritem
biasanya ringan, terutama terlihat pada bagian tepi lesi.

bentuk intertriginosa

bentuk vesikular akut

moccasin foot

Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan pemeriksaan gambaran klinis dan
pemeriksaan kerokan kulit dengan larutan KOH 10-20 % yang menunjukkan
elemen jamur.6
Diagnosis Banding
Diagnosis banding adalah hiperhidrosis, akrodermatitis, kandidosis, serta
lues stadium II.1
Terapi
Pengobatan pada umumnya cukup topikal saja dengan obat-obat antijamur
untuk bentuk interdigital dan vesikular. Lama pengobatan 4-6 minggu. Bentuk
moccasin foot yang kronik memerlukan pengobatan yang lebih lama, paling
sedikit 6 minggu dan kadang-kadang memerlukan antijamur per oral, misalnya
griseofulvin, itrakonazol, atau terbenafin.9
7. Tinea Unguium
Definisi
Tinea unguium adalah kelainan kuku yang disebabkan oleh infeksi jamur
golongan dermatofita.2
Etiologi

Penyebab penyakit yang sering adalah T.mentagrophytes dan T.rubrum.1


Gambaran Klinis
Dikenal 3 bentuk gejala klinis, yaitu:6
1. Bentuk subungual distalis. Penyakit ini mulai dari tepi distal atau
distolateral kuku. Penyakit akan menjalar ke proksimal dan di bawah kuku
terbentuk sisa kuku yang rapuh.
2. Leukonikia trikofita atau leukonikia mikofita. Bentuk ini berupa bercak
keputihan di permukaan kuku yang dapat dikerok untuk membuktikan
adanya elemen jamur.
3. Bentuk subungual proksimal. Pada bentuk ini, kuku bagian distal masih
utuh, sedangkan bagian proksimal rusak. Kuku kaki lebih sering diserang
daripada kuku tangan.

subungual distalis

subungual proksimal

leukonikia trikofita

Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala klinis dan pemeriksaan kerokan
kuku dengan KOH 10-20 % atau dilakukan biakan untuk menemukan elemen
jamur.6
Diagnosis Banding
Diagnosis banding dari tinea unguium adalah kandidosis kuku, psoariasis
kuku dan akrodermatitis.6
Terapi
Pengobatan penyakit ini memakan waktu yang lama. Pemberian
griseofulvin 500 mg/hari selama 3-6 bulan untuk kuku jari tangan dan 9-12 bulan
untuk kuku jari kaki merupakan pengobatan standar. Pemberian itrakonazol atau
terbenafin per oral selama 3-6 bulan juga memberikan hasil yang baik. Bedah
skalpel tidak dianjurkan terutama untuk kuku jari kaki, karena jika residif akan

menggangu pengobatan berikutnya. Obat topikal dapat diberikan dalam bentuk


losio atau kombinasi krim bifonazol dengan urea 40 % dan dibebat.1
2.2.2 Nondermatofitosis
1. Pitiriasis Versikolor
Definisi
Pitiriasis versikolor yang disebabkan oleh Malasezia furfur adalah
penyakit jamur superficial yang kronik, biasanya tidak memberikan keluhan
subjektif, berupa bercak berskuama halus yang berwarna putih sampai coklat
hitam, terutama meliputi badan dan kadang-kadang dapat menyerang ketiak, lipat
paha, lengan, tungkai atas, leher, muka dan kulit kepala berambut.1
Sinonim
Tinea versikolor, kromofitosis, dermatomikosis, liver spots, tinea flava,
pitiriasis versikolor flava dan panau.2
Epidemiologi
Pitiriasis versikolor merupakan penyakit universal dan terutama dtemukan
di daerah tropis.11

Pitiriasis Versikolor

Patogenesis
Pada kulit terdapat flora normal yang berhubungan dengan timbulnya
pitiriasis versikolor ialah Pityrosporum orbiculare yang berbentuk bulat atau
Pityrosporum ovale yang berbentuk oval. Keduanya merupakan orgasnisme yang

sama, dapat berubah sesuai dengan lingkungannya, mislanya suhu, media dan
kelembaban.11
Malassezia furfur merupakan fase spora dan miselium. Faktor predisposisi
menjadi pathogen dapat endogen atau eksogen. Endogen dapat disebabkan di
antaranya oleh defisiensi imun. Eksogen dapat karena faktor suhu, kelembaban
udara, dan keringat.11
Gejala klinis
Kelainan kulit pitiriasis versikolor sangat superficial dan ditemukan
terutama di badan. Kelainan ini terlihat sebagai bercak-bercak berwarna-warni,
bentuk tidak teratur sampai teratur batas jelas sampai difus. Bercak-bercak
tersebut berfluoresensi bila dilihat dengan lampu Wood yang berwarna kuning
keemasan. Bentuk papulo-vesikular dapat terlihat walapun jarang.. Kelainan
biasanya asimtomatik sehingga adakalanya penderita tidak mengetahui bahwa ia
berpenyakit tersebut.4
Kadang-kadang penderita dapat merasakan gatal ringan, yang merupakan
alasan berobat. Pseudoakromia, akibat tidak terkena sinar matahari atau
kemungkinan pengaruh toksis jamur terhadap pembentukan pigmen, sering
dikeluhkan penderita.11
Penyakit ini sering dilihat pada remaja, walaupun anak-anak dan orang
dewasa tidak luput dari infeksi. Faktor-faktor yang mempengaruhi infeksi antara
lain faktor herediter, penderita sakit kronik, atau yang mendapat pengobatan
steroid dan malnutrisi.6
Diagnosis
Diagnosis ditegakkan atas dasar gambaran klinis, pemeriksaan fluoresensi,
lesi kulit dengan lampu Wood, dan sediaan langsung. Pada sediaan langsung
kerokan kulit dengan larutan KOH 20% terlihat campuran hifa pendek dan sporaspora bulat yang dapat berkelompok.3
Diagnosis banding
Penyakit ini harus dibedakan dengan dermatitis seboroika, eritrasma, sifilis
II, achromia parasitic dari Pardo-Castello dan Dominiquez, morbus Hansen,
pitiriasis alba, dan vitiligo.6

Pengobatan
Pengobatan harus dilakukan menyeluruh, tekun dan konsisten. Obat-obat
yang dapat dipakai misalnya: Selenium sulfide (selsun) dapat dipakai sebagai
sampo 2-3 kali seminggu. Obat digosokkan pada lesi dan didiamkan 15-30 menit
sebelum mandi. Obat-obat lain yang berkhasiat terhadap penyakit ini adalah:
salisil spiritus 10%; derivat azol, misalnya mikonazol, klotrimazol, isokonazol,
dan ekonazol; sulfur presipitatum dalam bedak kocok 4-20%; tolsiklat; tolnaftat,
dan haloprogin. Larutan tiosulfas natrikus 25% dapat pula digunakan; dioleskan
sehari 2 kali sehabis mandi selama 2 minggu. Jika sulit disembuhkan ketokonazol
dapat dipertimbangkan dengan dosis 1x200mg sehari selama 10 hari.11
Prognosis
Prognonis baik bila pengobatan dilakukan menyeluruh, tekun dan
konsisten. Pengobatan harus diteruskan 2 minggu setelah fluoresensi negatif
dengan pemeriksaan lampu Wood dan sediaan langsung negatif.7
2. Pitirosporum Folikulitis
Definisi
Pitirosporum folikulitis adalah penyakit kronis pada folikel pilosebasea
yang disebakan oleh spesies Pitirosporm, berupa papul, pustul folikular, yang
biasanya gatal dan terutama berlokasi di batang tubuh, leher dan lengan bagian
atas.1
Sinonim
Malasezia folikulitis.1
Etiologi
Jamur penyebab adalah spesies Pityrosporum yang identik dengan
Malassezia furfur, penyebab pitiriasis versikolor.10
Patogenesis
Spesies Malassezia merupakan penyebab pitirosporum folikulitis dengan
sifat dimorfik, lipofilik dan komensal. Bila pada hospes terdapat faktor
predisposisi spesies Malassezia yang tumbuh berlebihan dalam folikel sehingga
folikel dapat pecah. Dalam hal ini reaksi peradangan terhadap produk, tercampur
dengan lemak bebas yang dihasilkan melalui aktivitas lipase. Faktor predisposisi

antara lain adalah suhu dan kelembaban udara yang tinggi, penggunaan bahanbahan berlemak untuk pelembab badan yang berlebihan, antibiotic, kortikosteroid
local/sistemik, sitostatik dan penyakit tertentu, misalnya: diabetes mellitus,
keganasan, keadaan immunocompromised, dan AIDS.10

Pitirosporum Folikulitis

Gejala klinis
Malassezia folikulitis memberikan keluhan gatal pada tempat predileksi.
Klinis morfologi terlihat papul dan pustul perifolikuler, berukuran 2-3 mm
diameter, dengan peradangan minimal. Tempat predileksi adalah dada, punggung
dan lengan atas. Kadang-kadang dapat di leher dan jarang di muka.2
Diagnosis Banding

Acne vulgaris,

Folikulitis bacterial,

Erupsi akneiformis.2

Pengobatan
1.

Antimikotik oral
Misalnya:

2.
3.

Ketokonazol 200 mg selama 2-4 minggu

Itrakonazol 200mg selama 2 minggu

Flukonazol 150 mg seminggu selama 2-4 minggu

Antimikotik topikal biasanya kurang efektif walaupun dapat menolong.9

Piedra

Definisi

Piedra adalah infeksi jamur pada rambut dengan benjolan (nodus)


sepanjang rambut, dan disebabkan oleh Piedra hortai (black piedra) atau
Trichosporon beigelii (white piedra). Di Indonesia hingga sekarang hanya dilihat
piedra hitam.3
Sinonim
Black piedra, white piedra, tinea nodosa, piedra nostros, trikomikosis
nodularis, trikomikosis nodosa, chiqnon disease, Beigel disease.1
Gejala klinis
Piedra hanya menyerang rambut kepala, janggut dan kumis tanpa
memberikan keluhan. Krusta melekat erat sekali pada rambut yang terserang, dan
dapat sangat kecil sehingga hanya dapat dilihat dengan mikroskop. Benjolan yang
besar mudah dilihat, diraba, dan terasa kasar bila rambut diraba dengan jari-jari.
Bila rambut disisir terdengar suara metal (klik). Piedra hitam yang hanya
ditemukan di daerah tropis tertentu merupakan penyakit endemis di tempat
tertentu, terutama yang banyak hujan. Piedra hortai hanya menyerang rambut
kepala. Jamur ini menyerang rambut di bawah kutikel, kemudian membengkak
dan pecah untuk menyebar di sekitar rambut (shaft) dan membentuk benjolan
tengguli dan hitam.4
Diagnosis
Diagnosis dibuat berdasarkan atas gejala klinis dan disokong oleh
pemeriksaan sediaan langsung dan biakan. Pada sediaan langsung dengan larutan
KOH 10%, rambut yang sakit dan telah dipotong terlihat sebagai berikut.
Benjolan yang disebabkan P. hortai berukuran bermacam-macam dan terpisah satu
dengan yang lain. Benjolan berwarna tengguli hitam ini terdiri atas hifa
berseptum, teranyam padat dan diantaranya terdapat askus-askus. Didalam askus
terdapat 4-8 askospora.2
Pengobatan
Memotong rambut yang terkena infeksi atau mencuci rambut dengan
larutan sublimat 1/2000 setiap hari. Obat anti jamur konvensional dan yang baru
pun berguna.9

4.

Tinea Nigra Palmaris

Definisi
Tinea nigra yang disebabkan Cladosporium werneckii adalah infeksi jamur
superficial yang asimtomatik pada stratum korneum. Kelainan kulit berupa
makula tengguli sampai hitam. Telapak tangan yang biasanya terserang walaupun
telapak kaki dan permukaan kulit lain dapat terkena.1

Tinea Nigra Palmaris

Sinonim
Keratomikosis

nigrikans

Palmaris,

pitiriasis

nigra,

kladosporiosis

epidemika, mikrosporosis nigra, tinea nigra.1


Etiologi
Penyebab penyakit ini adalah Cladosporium wernwckii di Amerika Utara
dan Selatan, sedangkan di Asia dan Afrika organisme ini disebut Cladosporium
mansonii.10
Gejala Klinis
Kelainan kulit telapak tangan berupa bercak-bercak tengguli hitam dan
sekali-sekali bersisik. Penderita umumnya berusia muda di bawah 19 tahun dan
penyakitnya berlangsung kronik sehingga dapat dilihat pada orang dewasa di atas
umur 19 tahun. Perbandingan penderita wanita 3x lebih banyak daripada pria.
Faktor-faktor predispodidi penyakit belum diketahui kecuali hiperhidrosis.
Kekurangan respon imun penderita rupanya tidak berpengaruh.4

Diagnosis
Diagnosis dibuat berdasarkan pemeriksaan kerokan kulit dan biakan. Pada
pemeriksaan sediaan langsung dalam larutan KOH 10% jamur terlihat sebagai
hifa bercabang, bersekat ukuran 1,5-3, berwarna coklat muda sampai hijau tua.
Biakan pada agar Saboraud (suhu kamar) menghasilkan koloni yang tampak
sebagai koloni menyerupai ragi dan koloni filament berwarna hijau tua atau
hitam.6
Diagnosis banding
Tinea nigra dapat menyerupai dermatitis kontak, tinea versikolor,
hiperkromia, nevus pigmentosus, dan kulit yang terkena zat kimia, misalnya perak
nitrat.6
Pengobatan
Tinea nigra dapat diobati dengan obat-obat jamur konvensional, misalnya
salap salisil sulfur, Whitfield, dan tincture jodii.5
Prognosis
Tinea nigra oleh karena asimtomatik tidak memberi keluhan pada
penderita kecuali keluhan estetik, kalau tidak diobati penyakit akan menjadi
kronik.1
5.

Otomikosis

Definisi
Otomikosis adalah infeksi jamur kronik atau subakut pada liang telinga
luar dan lubang telinga luar, yang ditandai dengan inflamasi eksudatif dan gatal.
Dari kelainan tersebut dapat dibiakan jamur dan bakteri.4
Etiologi
Penyebab penyakit terutama ialah jamur jamur kontaminan, misalnya
aspergillus, penisilium, dan mukor. Dermatofita kadang kadang dapat
merupakan hasil biakan bahan pemeriksaan dari tempat tersebut. Biasanya juga
terdapat bakteri misalnya Pseudomonas aeruginosa, proteus spp, micrococcus
aureus, streptococcus hemolyticus, difteroid dan basil basil koliformis.10
Epidemiologi

Otomikosis merupakan penyakit kosmopolit yang terutama terdapat di


daerah panas dan lembab, misalnya Indonesia. Infeksi terjadi secara kontak
langsung.1
Gejala klinis
Panas dan lembab yang berlebihan merupakan factor predisposisi.
Penderita mengeluh rasa penuh dan sangat gatal di dalam telinga. Liang telinga
merah sembab dan banyak krusta. Inflamasi disertai eksfoliasi permukaan kulit
atau pendengaran dapat terganggu oleh karena liang telinga tertutup oleh massa
kotoran kulit dan jamur. Infeksi bakteri berlanjut eksema dan likenifikasi dapat
jelas terlihat dan kelainan ini dapat meluas ke telinga bagian luar hingga bawah
kuduk. Tulang rawan telinga dapat juga terserang. Hal yang menguntungkan ialah
membran timpani tidak terserang.2
Diagnosis
Diagnosis dibuat dengan memeriksa kerokan kulit dan kotoran telinga.
Pada sediaan langsung dengan larutan KOH 20% akan terlihat hifa tanpa spora.
Biarkan pada agar Sabouraud pada suhu kamar akan menghasilkan koloni jamur
penyebab.6
Pengobatan
Infeksi jamur bila disertai edema memerlukan pengobatan konservatif
untuk menghilangkan bengkak dan kemungkinan pembersihan liang telinga.
Misalnya dengan memasukan kapas yang telah dibasahi dengan larutan
permanganas kalikus 1/10.000. tindakan ini dapat diulang dan kalau perlu dapat
dilakukan irigasi untuk membersihkan serumen atau kotoran lain. Kemajuan atau
kesembuhan akan terlihat akibat pembersihan yang dilakukan dan pengeringan
liang telinga selama beberapa hari. Liang telinga yang menderita infeksi kronik
harus dibersihkan untuk menghilangkan kotoran dan sisik yang mengandung
jamur. Irigasi dengan larutan garam faal dilanjutkan dengan pemberian insulin
spiritus 2% selama beberapa menit, biasanya cukup membersihkan daerah
tersebut supaya tetap kering dapat diberikan obat obatan antiseptika, antibiotika
atau antifungal.6
Prognosis

Infeksi kronik sangat resisten terhadap pengobatan, akan tetapi prognosis


cukup baik bila diagnosa dibuat tepat dan pengobatan dilaksanakan secara
bijaksana.2
6.

Keratomikosis

Definisi
Keratomikosis adalah infeksi jamur pada kornea mata yang menyebabkan
ulserasi dan inflamasi setelah trauma pada bagian tersebut, diobati dengan obat
obatan antibiotic dan kortikosteroid.1
Sinonim
Keratitis mikotik.1
Etiologi
Penyebab penyakit ini adalah berbagai macam jamur yang menyerang
kornea yang rusak dan menyebabkan ulkus kornea. Spesies spesies yang pernah
ditemukan antara lain adalah aspergillus, fusarium, cephalosporum,curvularia, dan
penicillium.7
Gejala klinis
Setelah mengalami trauma atau abrasi pada mata dapat terbentuk ulkus
pada kornea. Melalui perkembangan yang lambat kelainan dapat membentuk
hipopion. Lesi mulai dengan benjolan yang menonjol sedikit diatas permukaan,
berwarna putih kelabu dan berambut halus. Pencairan lapisan teratas kornea
disekitarnya membentuk ulkus dangkal. Terbentuk halo lebar berbatas tegas
bewarna putih kelabu mengelilingi titik pusatnya. Dalam halo tersebut dapat
terlihat garis - garis radial. Terlihat pula, inflamasi pada kornea. Vaskularisasi
sering tidak tampak.7
Pada stadium ini sering digunakan antibiotika dan steroid yang bersifat
anti inflamasi sehingga dapat mencegah parut. Dengan pengobatan demikian
ulkus dapat menjalar dan meluas sampai ruang depan mata.7
Biakan dari bahan hapus dasar ulkus tidak menghasilkan bakteri, maupun
jamur, akan tetapi bahan yang diambil dari kerokan dalam dasar atau pinggir
ulkus menghasilkan jamur pada pemeriksaan. Diagnosis ditegakan dengan
pemeriksaan mikologik sediaan langsung dan biakan.6

Diagnosis banding
Keratomikosis harus dibedakan dengan ulkus kornea yang disebabkan
paralisis fasial, keratitis dendrite, dan lain lain.2
Pengobatan
Larutan nistatin dan amfoterisin B yang diberikan tiap jam. Pemberian
dapat dijarangkan, bila telah terjadi perbaikan. Larutan amfoterisin B
mengandung 1,0 mg per ml larutan garam faal atau akua destilata. Pada tahun
tahun akhir larutan derivate azol juga digunakan dengan hasil cukup baik.3
Prognosis
Baik, bila diagnosis dilakukan dini dan pengobatan cepat dan tepat.
2.3 Kandidiasis
Pendahuluan
Penyakit kandidiasis banyak dihubungkan dengan aneka faktor, seperti
keadaan kulit yang terus-menerus lembab, pemakaian obat antibiotika, steroid dan
sitostatik, perubahan fisiologis tubuh, sampai mal nutrisi.1
Infeksi Candida pertama kali didapatkan di dalam mulut sebagai thrush
yang dilaporkan oleh Francois valleix (1836). Langerbach (1839) menemukan
jamur penyebab thrush, kemudian Berhout (1923) memberi nama organisme
tersebut sebagai Candida.2
Definisi
Kandidiasis adalah penyakit jamur, yang bersifat akut atau subakut
disebabkan oleh spesies Candida, biasanya oleh spesies Candida albicans.Dan
dapat mengenai mulut, vagina, kulit, kuku, bronki, atau paru, kadang-kadang
dapat menyebabkan septikemia, endokarditis, atau meningitis.1
Sinonim
Nama lain dari Candidiasis adalah kandidosis, dan moniliasis..1,2
Epidemiologi
Penyakit ini terdapat di seluruh dunia, dapat menyerang semua umur
terutama bayi dan orang tua, baik laki laki maupun perempuan. Jamur
penyebabnya terdapat pada orang sehat sebagai saprofit. Gambaran klinisnya

bermacam macam sehingga tidak diketahui data data penyebarannya dengan


tepat.1
Etiologi
Yang tersering sebagai penyebab ialah Candida albicans yang dapat
diisolasi dari kulit, mulut, selaput mukosa vagina, dan feses orang normal.
Sebagai penyebab endokarditis kandidosis ialah Candida parapsilosis dan
penyebab kandidosis septikemia adalah Candida tropicalis.1
Lokalisasi
Sering pada daerah intertriginosa seperti; lipat ketiak, lipat paha, lipat
payudara, sela-sela jari kaki dan tangan, sekitar bokong, kuku, mulut, vulva
vagina, dan alat dalam.4
Klasifikasi
Berdasarkan tempat yang terkena CONANT dkk. (1971), membaginya
menjadi:1
- KANDIDIASIS MUKOSA meliputi:
1) kandidiasis oral (thrush)
2) perlche
3) vulvovaginitis
4) balanitis atau balanopostitis
5) kandidiasis mukokutan kronik
6) kandidiasis bronkopulmonar dan paru
- KANDIDIASIS KUTIS meliputi:
1) lokalisata yaitu daerah intertriginosa dan daerah perianal
2) generalisata
3) paronikia dan onikomikosis
4) kandidiasis kutis granulomatosa
- KANDIDIASIS SISTEMIK meliputi:
1) endokarditis
2) meningitis
3) pielonefritis
4) septikemia.

- REAKSI id (kandidid)
Patogenesis
Faktor endogen meliputi:

Perubahan fisiologik seperti: kehamilan, kegemukan, debilitas, latrogenik,


endokrinopati, penyakit kronik seperti : tuberkulosis, lupus eritematosus
dengan keadaan umum yang buruk.

Umur contohnya: orang tua dan bayi lebih mudah terkena infeksi karena
status imunologiknya tidak sempurna.

Imunologik contohnya penyakit genetik.

Faktor eksogen meliputi:

iklim, panas, dan kelembaban menyebabkan respirasi meningkat,


kebersihan kulit, kebiasaan berendam kaki dalam air yang terlalu lama
menimbulkan maserasi dan memudahkan masuknya jamur, dan kontak
dengan penderita misalnya pada thrush, dan balanopostitis.2

Gejala
Gejalanya bervariasi, tergantung kepada bagian tubuh yang terkena.
1. kandidiasis mukosa.
a.

Thrush; sering terjadi pada bayi, merupakan infeksi jamur di dalam


mulut. Bercak berwarna putih seperti membran menempel pada lidah
dan pinggiran mulut. Bila membrane tersebut diangkat tampak dasar
kemerahan dan erosif.1

b.

Perlche: merupakan suatu infeksi Candida di sudut mulut yang


menyebabkan retakan dan sayatan kecil, lesi ini mengalami maserasi,
erosi, basah dan dasar eritematosa.1

c.

Vulvovaginitis; sering ditemukan pada wanita hamil, penderita diabetes


atau pemakai antibiotik. Gejala utama adalah gatal di daerah vulva.
Untuk gejala yang berat berupa keluarnya cairan putih atau kuning dari
vagina disertai rasa panas, nyeri setelah miksi. Kelainan ini berupa
bercak putih di atas mukosa yang eritematosa erosive, mulai dari
serviks sampai interoitus vagina.1

d.

Balanitis atau Balanopostitis: penderita mendapat infeksi karena kontak


seksual dengan wanita yang menderita vulvovaginitis. Bisa juga pada
pria yang tidak disunat, dengan glans penis selalu tertutup prepucium.
Lesi berupa erosi, pustule, dengan dinding tipis terdapat pada glans
penis dan sulkus koronarius glandis.1

2. kandidiasis kutis
a.

Kandidiasis intertriginosa: lesi di daerah lipatan tubuh, biasanya sering


terjadi pada orang yang gemuk. Menyebabkan bercak kemerahan
berbatas tegas, bersisik, basah, dan eritematosa, dengan gambaran
korimbiformis. Di tengah lesi yang lebar sering terjadi erosi.2

b.

Kandidiasis kuku: Sering terjadi pada orang-orang yang pekerjaannya


berhubungan dengan air. Lesi berupa kemerahan, oedem, kuku menjadi
tebal, keras dan berlekuk-lekuk. Kadang berwarna kecoklatan. Lesi
biasanya dimulai dari bagian proksimal.1

c.

Kandidiasis gralunomatosa; Kelainan yang jarang dijumpai manifestasi


klinis berupa pembentukan granuloma yang terjadi akibat pembentukan
krusta serta hipertrofi setempat. Krusta tebal warna kuning kecoklatan
dan melekat erat pada dasarnya.1

3. kandidiasis sistemik
a.

Endokarditis; sering diderita oleh penderita setelah operasi jantung,


juga

pada

penderita

morfinis

akibat

komplikasi

penggunaan

penyuntikan sendiri.1
b.

Meningitis; terjadi karena penyebaran hematogen jamur, gejalanya


sama seperti meningitis tuberculosis atau karena bakteri lain.2

Pembantu Diagnosis
Pemeriksaan langsung: kerokan kulit atau usapan mukokutan diperiksa
dengan larutan KOH 10% atau dengan pewarnaan gram, terlihat sel ragi,
blastospora, atau hifa semu.1
Pemeriksaan biakan: bahan yang akan diperiksa ditanam dalam agar
dektrosa

glukosa Sabouraud, dapat

pula

agar ini

dibubuhi

antibiotik

(kloramfenikol) untuk mencegah pertumbuhan bakteri. Perbenihan disimpan

dalam suhu kamar atau lemari suhu 37C, koloni tumbuh setelah 24-48 jam,
berupa yeast like colony. Identifikasi Candida albicans dilakukan dengan
membiakkan tumbuhan tersebut pada corn meal agar.2
Diagnosis Banding
Kandidiasis kutis dengan:1

Eritrasma: lesi di lipatan, lesi lebih merah, batas tegas, kering tidak ada
satelit, pemeriksaan dengan sinar Wood positif berwarna merah bata.

Dermatitis kontak alergi; terdapat eritema, skuama, batas tidak tegas ada
papul, vesikel berkelompok. Pada kerokan kulit dengan KOH jamur
negatif.

Tinea kruris: eritema, dengan skuama dengan batas tegas dan tepi lebih
aktif.

Tinea unguium: kuku rusak, rapuh, dan berwarna suram, biasa kelainannya
dimulai dari distal.

Kandidiasis vulvovaginitis dengan:1

trikomonas vaginalis,

gonore akut,

Leukoplakia

liken planus.

Pengobatan
Topikal meliputi:2
a. larutan gentian violet -1% untuk mukosa, 1-2% untuk kulit. dioleskan
sehari 2 kali selama 3 hari,
b. nistatin: berupa krim, salap, emulsi,
c. amfoterisin B,
d. grup azol antara lain:

Mikonazol 2% berupa krim atau bedak

Klotrimazol 1% berupa bedak, larutan dan krim

Tiokonazol, bufonazol, isokonazol

Siklopiroksolamin 1% larutan, krim.

Sistemik meliputi:2
a. Ketokonazole 400mg/hari selama 5hari atau Flukonazole 150mg/hari
selama 7 hari
b. Itrakonazole 2 kali 100mg/hari selama 3 hari.
c. Tablet nistatin untuk menghilangkan infeksi fokal dalam saluran cerna,
obat ini tidak diserap oleh usus,
d. Untuk kandidiasis vaginalis dapat diberikan kotrimazol 500 mg per
vaginam dosis tunggal
e. Amfoterisin B diberikan intravena untuk kandidiasis sistemik
Pencegahan
Tidak ada cara untuk mencegah terpajan pada Candida. Obat-obatan tidak
biasa dipakai untuk mencegah kandidiasis. Ada beberapa alasan: 1). Penyakit
tersebut tidak begitu bahaya, 2). Ada obat-obatan yang efektif untuk mengobati
penyakit tersebut, 3). Ragi dapat menjadi kebal (resistan) terhadap obat-obatan.1
Prognosis
Umumnya baik, bergantung pada berat ringannya faktor predisposisi.1

DAFTAR PUSTAKA
1. Djuanda A., Hamzah M, Aisyah S. 2010. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin.
6th edition. Jakarta : FKUI, 2010. pp. 89-109.
2. Wolff K, Goldsmith L.A, Katz SI et al. 2008. Fitzpatrick Dermatology in
General Medicine. 7th edition. USA : McGrawHill, 2008. pp. 1845-1848.
Vol. I & II.
3. Harahap. M, Ilmu Penyakit Kulit; edisi pertama, Jakarta: Hipokrates, 2000;
73-87.
4. Wolff K, Johnson RA. 2009. Fitzpatrick's Colour Atlas and Synopsis of
Clinical Dermatology. 6th edition. Singapore : McGrawHill, 2009. pp. 692717.
5. Arndt.K.A, Bowers. K.E, Chuttani. A.R, Manual of Dermatologic
Therapeutics; 5th edition, Boston: Little, Brown and Company, 1995; 79-85.
6. Gupta KA,Tu LQ .Dermatophytosis : Diagnosis and Treatment , J Am Acad
Dermatol 2006 ;54 :1050-5
7. Gupta KA, Cooper EA , Ryder JE , Nicol KA , Chow M, Chaudry MM.
Optimal management of Fungal Infections of the Skin , hair, and nails. Am J
Clin Dermatol 2004; 5 (4) : 225-237
8. Bennet, J.E : Antimicrobial agents; in : Goodman & Gilamans Brunton, L.L ;
Lazo, J.S and Parker, K. L : The Pharmalogical Basis of Therapeutics ; 11 th
ed. Pp. 1232 ( McGraw-Hill, Medical Publishing Division, New York 2006)
9. Grunwald, M.H. : Adverse drug reaction of the new oral antifungal agents
terbinafine, gluconazole, and itraconazole. Int. J. Derm. 37 : 410 415
10. Kurniati, Rosita C. Etiopatogenesis Dermatofitosis. Berkala Ilmu Kesehatan
Kulit dan Kelamin. Vol. 20 No. 3 Desember 2008; 243-50. Diunduh dari:
http://journal.unair.ac.id/filerPDF/BIKKK_vol%2020%20no%203_des
%202008_Acc_3.pdf
11. Amiruddin MD. Pitiriasis Versicolor. Dalam: Amiruddin MD, ed. Ilmu
Penyakit Kulit. Makassar: Lkis; 2003.hal.65-74