Anda di halaman 1dari 9

Nama : Sesar Fajar Susanto

Nim

: D1E012237

Kelas : B

I.

Pengertian Pendidikan Orang Dewasa


Pendidikan orang dewasa ialah keseluruhan proses pendidikan yang

diorganisasikan, ataupun isi, tingkatan, metodenya baik formal maupun informal,


yang melanjutkan maupun yang menggantikan pendidikan semula, mengembangkan
kemampuannya, memperkaya pengetahuannya, meningkatkan kualifikasi teknis atau
profesionalnya, dan mengakibatkan perubahan pada sikap dan perilakunya dalam
perspektif rangkap perkembangan pribadi secara utuh dan partisipasi dalam
pengembangan social, ekonomi, dan budaya yang seimbang dan bebas (Pannen dalam
Supri Janto, 2008).
Menurut Kartakusumah (2006), pendidikan orang dewasa sebagai seluruh
proses pendidikan yang terorganisir diluar sekolah dengan berbagai bahan belajar,
tingkatan dan metode, baik yang bersifat resmi atau tidak, meliputi upaya
berkelanjutan atau perbaikan pendidikan yang diperoleh dari sekolah, akademi atau
universitas. Diperuntukkan bagi orang-orang dewasa dalam lingkungan masyarakat
agar mereka dapat mengembangkan kemampuan, memperkaya pengetahuan,
meningkatkan kualifikasi teknik dan profesi yang telah dimilikinya, memperoleh
cara-cara baru, serta mengubah sikap dan perilaku. Tujuan pendidikan orang dewasa
adalah agar orang dewasa dapat mengembangkan pribadi secara optimal dan dapat
berpartisipasi secara seimbang dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya yang
terus berkembang.
Menurut Ridwan ( 2009 ) Pendidikan secara umum adalah sebagai suatu
usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar agar peserta didik
secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual,
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak dan budi mulia, serta
keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Pada intinya

pendidikan adalah suatu proses yang disadari untuk mengembangkan potensi individu
sehingga memiliki kecerdasan pikir, emosional, berwatak dan berketerampilan untuk
siap hidup ditengah-tengah masyarakat
.
II.

Tujuan Pendidikan Orang dewasa


II.1

Pengetahuan

Menurut Mulyoto (2010) pengetahuan merupakan segala sesuatu yang


diketahui berkenaan dengan hal. Pengetahuan atau kognitif domain yang sangat
penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (over behaviour). Pengetahuan
seseorang tentang suatu objek mengandung dua aspek yaitu aspek :
positif dan aspek negatif. Kedua aspek ini yang akan menentukan sikap
seseorang, semakin banyak aspek positif dan objek yang diketahui, maka akan
menimbulkan sikap makin positif terhadap objek tertentu. pengetahuan atau kognitif
merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang.
II.2

Sikap

Sikap merupakan proses mental yang mana berlaku secara individual terhadap
suatu obyek dan sikap tersebut merupakan kecenderungan atau kesiapan mental dari
seseorang untuk bertindak bukan merupakan tingkah laku yang nyata ( Rayuningsih,
2008 ). Sikap mempunyai arah yang positif atau negatif, dapat menerima ataupun
menolak terhadap suatu obyek atau stimulus yang diterimanya. Newcomb, salah
seorang ahli psikologi sosial menyatakan bahwa sikap merupakan kesiapan atau
kesediaan untuk dalam bertindak, dan bukan merupakan pelaksanaan motif tertentu.
Dalam kata lain, fungsi sikap belum merupakan tindakan (reaksi terbuka) atau
aktivitas, akan tetapi merupakan faktor predisposisi perilaku (reaksi tertutup).
II.3

Keterampilan

Keterampilan merupakan kompetensi pada bidang pembelajaran, yang


mencerminkan pemerataan yang luas dalam keterampilan . Keterampilan di adaptasi,
ditransfer, dan digunakan sebagai alat untuk membantu transformasi pembelajaran

dalam hubungannya dengan keterampilan penting lainnya seperti membaca, berhitung


dan pemecahan masalah ( Santoso, 2005 ).
II.4

Materi

Pendidikan orang dewasa diharapkan mampu meningkatkan sikap atau


perilaku agar menjadi lebih baik serta mampu membuat orang dewasa dapat
mengembangkan kemampuan, keterampilan, memperkaya khasanah pengetahuan,
meningkatkan kualifikasi keteknisannya atau keprofesionanya dalam upaya
mewujudkan kemampuan ganda yakni di suatu sisi mampu mengembangkan pribadi
secara utuh dan dapat mewujudkan keikut sertaannya dalam perkembangan sosial
budaya, ekonomi, dan teknologi secara bebas, seimbang dan keterseimambungan
hingga akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraaan hidupnya ( Suprijatno, 2008 ).

III.

Hambatan Pendidikan Orang Dewasa

III.1

Fisiologi

Hambatan-hambatan tersebut yaitu hambatan secara fisiologis dan hambatan


psikolgis. Terdapat enam faktor hambatan fisiologis yang terjadi pada proses
pendidikan orang dewasa menurut Lunadi ( 2008 ), yaitu :
1. Titik jenuh penglihatan
Dengan bertambahnya usia, titik jauh penglihatan (titik terjauh yang dapat
dilihat dengan jelas), mulai berkurang semakin pendek
2. Titik dekat penglihatan
Dengan bertambahnya usia, titik dekat penglihatan (titik terdekat yang dapat
dilihat dengan jelas), mulai bergerak semakin jauh.
3. Kontras warna terang
Dengan bertambahnya usia, persepsi kontras warna cenderung ke arah merah
spektrum, sehingga semakin kurang dapat membedakan warna-warna lembut
4. Perlu penerangan

Dengan bertambahnya usia, jumlah penerangan yang dibutuhkan untuk belajar


semakin besar.
5. Perbedaan bunyi makin berkurang
6. Pendengaran kurang
Dengan bertambahnya usia, kemampuan mendengar menjadi berkurang
Dengan bertambahnya usia, kemampuan untuk membedakan bunyi semakin
berkurang. Orang yang bicara terlalu cepat menjadi semakin sulit ditangkap. Bunyi
sampingan dan suara di latar belakang akan semakin terdengar bagai menyatu dengan
suara orang yang sedang berbicara. Bunyi konsonan seperti t,g,b,c dan d akan
semakin sukar dibedakan.
Perubahan
pendidikan

perilaku bagi orang dewasa terjadi melalui adanya proses

yang berkaitan dengan perkembangan dirinya sebagai individu, dan

dalam hal ini, sangat memungkinkan adanya partisipasi dalam kehidupan sosial
untuk meningkatkan kesejahteraan diri sendiri, maupun kesejahteraan bagi orang lain,
disebabkan produktivitas yang lebih meningkat. Bagi orang dewasa pemenuhan
kebutuhannya sangat mendasar, sehingga setelah kebutuhan itu terpenuhi ia dapat
beralih kearah usaha pemenuhan kebutuhan lain yang lebih diperlukannya sebagai
penyempumaan hidupnya (Sudjana, 2007).
Pendidikan orang dewasa

lebih merupakan problem centered daripada

subject centered. Ini merupakan proses untuk menemukan masalah dan mengatasi
sekarang juga. Menemukan di mana kita sekarang dan kita akan ke mana
merupakan inti dari pendekatan pendidikan orang dewasa. Pendidikan orang dewasa
dilakukan dengan sasaran seluruh orang dewasa pada tiap kalangan masyarakat.
Dengan latar belakang yang berbeda, maka permasalahannyapun akan bervariasi, dan
sebisa mungkin permasalahan tersebut diatasi dan dicari (Tukiran, 2011).
III.2

Psikologi

Nadjamudin (2013), dalam suatu kegiatan belajar orang dewasa, sangatlah


mungkin timbul berbagai hambatan, atau bahkan mungkin juga kegagalan, yang
situasi psikologis yang ada atau berkembang dalam diri orang dewasa yang sedang
belajar tersebut. Agar yang demikian ini dapat dihindarkan, kiranya perlu

dipertimbangkan karakteristik-karakteristik psikologis umum orang dewasa dalam


belajar seperti yang diuraikan dibawah ini :
1. Orang dewasa hanya dapat diajar atau belajar kalau memang ia
menghendakinya.
2. Orang dewasa hanya akan dapat diajar atau belajar kalau terlihat adanya :
arti pribadi bagi dirinya dan sesuatu yang berhubungan dengan
kebutuhannya.
3. Belajar bagi orang dewasa sering kali dirasakan sebagai sesuatu yang
menyakitkan.
4. Hanya akan sedikit sekali hasil yang diperoleh dari menceramahi,
mengkhotbahi, menggurui orang dewasa.
5. Bagi orang dewasa proses belajar adalah khas dan bersifat individual.
6. Sumber belajar terkaya bagi orang dewasa sebenarnya terdapat dalam diri
orang dewasa yang bersangkutan.
7. Belajar adalah suatu proses emosional dan intelektual sekaligus.
8. Belajar adalah suatu proses evolusi.
9. Belajar adalah hasil kerjasama manusia.
Menurut Syamsu (2005), kematangan psikologi orang dewasa sebagai
pribadiyang mampu mengarahkan diri sendiri ini mendorong timbulnya kebutuhan
psikologi yang sangat dalam yaitu keinginan dipandang dan diperlakukan orang lain
sebagai pribadi yang mengarahkan dirinya sendiri, bukan diarahkan, dipaksa dan
dimanipulasi oleh orang lain. Dengan begitu apabila orang dewasa menghadapi
situasi yang tidak memungkinkan dirinya menjadi dirinyasendiri maka dia akan
merasa dirinya tertekan dan merasa tidak senang. Karena orang dewasa bukan anak
kecil, maka pendidikan bagi orang dewasa tidak dapat disamakan dengan pendidikan
anak sekolah. Perlu dipahami apa pendorong bagi orang dewasa belajar, apa
hambatan yang dialaminya, apa yang diharapkannya, bagaimana ia dapat belajar
paling baik dan sebagainya (Lunadi, 2008).
Menurut (Lunandi dalam Nadjamuddin.2013) Hambatan psikologi merupakan;
a) Pembelajaran pada orang dewasa lebih banyak berupa motivasi untuk
memperoleh pengetahuan dan sikap baru, bukan berupa pelajaran.

b) Belajar adalah proses evolusi, kemampuan untuk menerima, mengerti,


memahami merupakan proses yang berkembang secara perlahan.
c) Belajar juga melibatkan proses emosional, pengalaman yang banyak dan
menyempitnya persepsi dan perhatian orang dewasa menyebabkan mereka
sulit memusatkan perhatian dan menata memorinya secara baik
d) Banyaknya

pengalaman

yang

dimiliki

perlu

ditata

kembali

tanpa

meninggalkan penghargaan terhadap pengalaman yang telah ada.


Menurut Rahman ( 2005 ) secara fisik usia, rangka tubuh, tinggi dan lebarnya
tubuh seseorang dapat menunjukkan sifat kedewasaan pada diri seseorang. Faktorfaktor ini memang biasa digunakan sebagai ukuran kedewasaan. Akan tetapi segi fisik
saja belum dapat menjamin ketepatan bagi seseorang untuk dapat dikatakan telah
dewasa. Sebab banyak orang yang sudah cukup usia dan kelihatan dewasa akan tetapi
ternyata dia masih sering memperlihatkan sifat kekanak-kanakan. Oleh sebab itu
dalam menentukan tingkat kedewasaan seseorang dari segi fisiknya harus pula
dengan mengetahui sifat/perilakunya.
IV.

Perilaku yang Menghambat Pengetahuan Orang dewasa


Orang dewasa sudah mengumpulkan dasar pengalaman

hidup dan

pengetahuan yang bisa meliputi kegiatan -kegiatan yang berkaitan dengan pekerjaan,
tanggung

jawab

keluarga,

dan

pendidikan

sebelumnya.

Mereka

perlu

menghubungkan training dengan pengetahuan atau pengalaman mereka. Untuk


membantunya, trainer seharusnya mengajak mereka mengeluarkan berbagai
pengalaman atau pengetahuan yang relevan dengan topik pembicaraan. Teori dan
konsep harus dihubungkan dengan pengalaman peserta (Fatimah, 2010).
Menurut Astuti (2010) ada dua sikap tradisional Mengenai jalannya
perkembangan hidup Semakin tua semakin bijaksana, semakin banyak informasi
yang di jumpai dan semakin banyak hal yang dikerjakan sehingga menambah
pengetahuannya.Tidak dapat mengajarkan kepandaian baru kepada orang yang sudah
tua karena mengalami kemunduran baik fisik maupun mental. Dapat diperkirakan
bahwa IQ akan menurun sejalan dengan bertambahnya usia, khusunya pada beberapa

kemampuan yang lain seperti misalnya kosa kata dan pengetahuan umum. Beberapa
teori berpendapat ternyata IQ seseorang akan menurun cukup cepat sejalan
denganbertambahnya usia.
Notoatmodjo (2007), berpendapat bahwa ada beberapa faktor yang
mempengaruhi pengetahuan seseorang, yaitu :
a. Pendidikan
Pendidikan adalah suatu usaha untuk mengembangkan kepribadian dan
kemampuan di dalam dan di luar sekolah dan berlangsung seumur hidup.
Pendidikan mempengaruhi proses belajar, makin tinggi pendidikan seeorang makin
mudah orang tersebut untuk menerima informasi. Dengan pendidikan tinggi maka
seseorang akan cenderung untuk mendapatkan informasi, baik dari orang lain
maupun dari media massa. Semakin banyak informasi yang masuk semakin
banyak pula pengetahuan yang didapat tentang kesehatan. Pengetahuan sangat erat
kaitannya dengan pendidikan dimana diharapkan seseorang dengan pendidikan
tinggi, maka orang tersebut akan semakin luas pula pengetahuannya. Namun perlu
ditekankan bahwa seorang yang berpendidikan rendah tidak berarti mutlak
berpengetahuan rendah pula. Peningkatan pengetahuan tidak mutlak diperoleh di
pendidikan formal,akan tetapi juga dapat diperoleh pada pendidikan non
formal( Subrata, 2005 ).
b. Massa media / informasi
Informasi yang diperoleh baik dari pendidikan formal maupun non formal
dapat memberikan pengaruh jangka pendek (immediateimpact) sehingga
menghasilkan perubahan atau peningkatan pengetahuan.Majunya teknologi akan
tersedia bermacam-macam media massa yang dapat mempengaruhi pengetahuan
masyarakat tentang inovasi baru. Sebagai sarana komunikasi, berbagai bentuk
media massa seperti televisi, radio, surat kabar, majalah, penyuluhan dan lain-lain
mempunyai pengaruh besar terhadap pembentukan opini dan kepercayan orang.
Dalam penyampaian informasi sebagai tugas pokoknya, media massa membawa
pula pesan-pesan yang berisi sugesti yang dapat mengarahkan opini seseorang.

Adanya informasi baru mengenai sesuatuhal memberikan landasan kognitif baru


bagi terbentuknya pengetahuan terhadap hal tersebut (Yasinta, 2012).
c. Sosial budaya dan ekonomi
Kebiasaan dan tradisi yang dilakukan orang-orang tanpa melalui penalaran
apakah yang dilakukan baik atau buruk. Dengan demikian seseorang akan
bertambah pengetahuannya walaupun tidak melakukan. Status ekonomi seseorang
juga akan menentukan tersedianya suatu fasilitas yang diperlukan untuk kegiatan
tertentu, sehingga statussosial ekonomi ini akan mempengaruhi pengetahuan
seseorang.
d. Lingkungan
Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di sekitar individu,baik
lingkungan fisik, biologis, maupun sosial. Lingkungan berpengaruh terhadap
proses masuknya pengetahuan ke dalam individu yang beradadalam lingkungan
tersebut. Hal ini terjadi karena adanya interaksi timbal balik ataupun tidak yang
akan direspon sebagai pengetahuan oleh setiap individu.
e. Pengalaman
Pengetahuan dapat diperoleh dari pengalaman baik dari pengalaman pribadi
maupun dari pengalaman orang lain. Pengalaman ini merupakan suatu cara untuk
memperoleh kebenaran suatu pengetahuan.
f. Usia
Usia mempengaruhi terhadap daya tangkap dan pola piker seseorang.
Semakin bertambah usia akan semakin berkembang pula dayatangkap dan pola
pikirnya, sehingga pengetahuan yang diperolehnya semakin membaik. Pada usia
tengah (41-60 tahun) seseorang tinggal mempertahankan prestasi yang telah dicapai
pada usia dewasa.sedangkan pada usia tua (> 60 tahun) adalah usia tidak produktif
lagi dan hanya menikmati hasil dari prestasinya ( Jamna, 2005).

DAFTAR PUSTAKA
Jamna, shaleh. 2005. Pendidikan Orang Dewasa; dari Teori hingga Aplikasi. Bumi
Aksara. Jakarta.
Kartakusumah. 2006. Pemimpin adiluhung genealogi kepemimpinan kontemporer.
Mizan publika. Jakarta.
Lunadi, A. 2008. Pendidikan orang dewasa, sebuah uraian praktis untuk
pembimbing, penatar, pelatih dan penyuluh lapangan. Jakarta : gramedia.
Lunadi, A. 2008.Pendidikan orang dewasa, sebuah uraian praktis untuk
pembimbing, penatar, pelatih dan penyuluh lapangan. Gramedia. Jakarta.
Mulyoto, 2010.Perolehan dan penerapan pengetahuan dalam
matematika. Ungaran, jurnal ilmiah Inkoma vol.21 no 2.

pembelajaran

Nadjamuddin.2013. Konsep Pembelajaran Orang Dewasa. Kemenag Sumatera


Utara.
Notoadmojo. 2007. Pendidikan orang dewasa. Bumi Aksara. Jakarta.
Rahayuningsih, S. 2008. Psikologi umum. mitra grafika. Bandung.
Rahman, K. 2005. Pembelajaran Orang dewasa. medical education unit Universitas
Andalas. Padang.
Ridwan, W. 2009.Prinsip Pendidikan Orang Dewasa.Medik 1 (2) : 36-38.
Santoso, Slamet. 2005.Dinamika Kelompok, Jakarta: Bumi Aksara
Subrata, H. 2005. Materi Pokok Teori Belajar Orang Dewasa.
Universitas Terbuka. Jakarta.
Sudjana, D. 2007. Pendidikan Nonformal : Wawasan, Sejarah Perkembangan
Falasafah Dan Teori Pendukung, Serta Azas. Bandung, mitra grafika.
Suprijanto. 2008. Pendidikan Orang Dewasa, dari Teori Hingga Aplikasi. Bumi
Aksara. Jakarta.
Syamsu, M. 2005. Teori belajar orang dewasa. Jakarta,kemendikbud.
Tukiran, T. 2011. Model-Model Pembelajaran Inovatif. Alfabeta.Bandung.
Yasinta Ika. 2012.
Hakekat Pendidikan Orang Dewasa. jurnal
Perencanaan Pendidikan, Jakarta.