Anda di halaman 1dari 13

Intususepsi

Putri Amalia
102012394
F9
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jalan Arjuna Utara Nomor 6 Kebon Jeruk, Jakarta Barat
Email : putamalia@yahoo.com

Pendahuluan
Intususepsi adalah keadaan yang umumnya terjadi pada anak-anak, dan merupakan
kejadian yang jarang terjadi pada dewasa. Intususepsi dikenal juga dengan nama Invaginasi.
Intususepsi merupakan penyebab tersering dari obstruksi usus akut pada bayi. ketika bagian atas
dari usus invaginasi ke bagian bawah dari usus tersebut. Invaginasi terjadi karena adanya sesuatu
di usus yang menyebabkan peristaltik berlebihan. Jika progres dari intususepsi ini tidak di
tatalaksana segera, dapat berakibat fatal. Kematian yang disebabkan oleh intususepsi jarang
ditemukan di negara maju, Ini disebabkan waktu diagnosis yang cepat dan terapi operatif. Di
negara berkembang, pasien mungkin ditemukan telah dalam kondisi serius, dan angka kematian
yang tinggi karena terbatasnya akses kesehatan. 65% kasus intususepsi timbul pada bayi
berusia kurang dari 1 tahun dengan insiden puncak antara bulan kelima dan kesembilan. Keadaan
ini bisa timbul pasca bedah, yang hanya melibatkan usus halus dalam 86%, atau bisa timbul pada
anak yang lebih besar dengan lesi seperti polip atau divertikulum meckel sebagai pembawanya.
Pada anak-anak, 95% penyebabnya tidak diketahui, hanya 5% yang mempunyai kelainan pada
ususnya. Sedangkan invaginasi pada dewasa terutama adanya tumor yang membentuk di ujung
dari intususeptum. Daerah yang secara anatomis paling mudah mengalami invaginasi adalah
ileocoecal, dimana ileum yang lebih kecil dapat masuk dengan mudah ke dalam coecum yang
longgar. Hampir 70% kasus invaginasi terjadi pada anak-anak umur kurang dari 1 tahun. 1,2
Anamnesis
Anamnesis adalah wawancara yang dilakukan seorang dokter kepada pasiennya agar
dapat mengarahkan masalah pasien ke diagnosis penyakit tertentu. Anamnesis memiliki tujuan
untuk menentukan diagnosis kemungkinan sehingga membantu menentukan langkah
1

pemeriksaan selanjutnya, termasuk pemeriksaan fisik dan penunjang. Anamnesis dapat langsung
dilakukan terhadap pasien (auto-anamnesis) atau terhadap keluarganya maupun pengantarnya
(alo-anamnesis) bila keadaan pasien tidak memungkinkan untuk diwawancarai. Dalam
melakukan anamnesis, penting ditanyakan hal-hal yang logik mengenai penyakit pasien,
dengarkan dengan baik apa yang dikatakan pasien, jangan memotong pembicaraan pasien bila
tidak perlu. Selain melakukan wawancara (verbal), maka selama anamnesis juga harus
diperhatikan tingkah laku non verbal yang secara tidak sadar ditunjukkan oleh pasien.
Anamnesis yang baik terdiri dari identitas, keluhan utama, riwayat penyakit sekarang,
riwayat penyakit dahulu, riwayat penyakit keluarga, dan riwayat pribadi (meliputi keadaan sosial
ekonomi, budaya, kebiasaan, obat-obatan, lingkungan). Pasien dengan sakit menahun, perlu
dicatat pasang-surut kesehatannya, termasuk obat-obatannya dan aktivitas sehari-harinya.3
Identitas: nama, umur, jenis kelamin, alamat, agama, suku bangsa, pendidikan, pekerjaan.
Keluhan utama: keluhan utama yang menyebabkan pasien dibawa berobat. Keluhan utama tidak
harus sejalan dengan diagnosis utama. Riwayat penyakit sekarang (RPS), yang perlu ditanyakan:
Identifikasi tinja, nyeri abdomen, demam, riwayat mual , muntah, riwayat makannya, riwayat
stres atau beban pikiran, apakah ada diare, diarenya kapan, masih bisa ditahan atau tidak dan
bagaimana setelah defekasi, membaik atau makin sakit. Riwayat penyakit dahulu (RPD).
Riwayat kesehatan keluarga atau riwayat penyakit menahun. Riwayat lingkungan tempat tinggal,
sosal ekonomi.2
Dalam skenario: Keluhan utama seorang anak berumur 5 bulan buang air besar berwarna merah
kehitaman dengan konsistensi kenyal seperti jel berlendir disertai dengan perut yang kembung
dan beberapa kali muntah setiap diberi makan oleh ibunya.
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik mempunyai nilai yang sangat penting untuk memperkuat temuantemuan dalam anamnesis. Teknik pemeriksaan fisik meliputi pemeriksaan visual termasuk
keadaan umum dan kesadaran. Sikap sopan santun dan rasa hormat terhadap tubuh dan pribadi
pasien yang sedang diperiksa harus diperhatikan dengan baik oleh pemeriksa.3
Tanda-tanda vital (TTV): nadi, tekanan darah, suhu tubuh, rernapasan / respirasi
Pemeriksaan fisik abdomen patologis:

Inspeksi

Dilakukan pada pasien dengan posisi tidur terlentang dan diamati dengan seksama dinding
abdomen. Yang perlu diperhatikan adalah:
- Keadaan kulit; warnanya (ikterus, pucat, coklat, kehitaman), elastisitasnya (menurun pada
orang tua dan dehidrasi), kering (dehidrasi), lembab (asites), dan adanya bekas-bekas garukan,
jaringan parut (tentukan lokasinya), striae (gravidarum/ cushing syndrome), pelebaran pembuluh
darah vena (obstruksi vena kava inferior & kolateral pada hipertensi portal).
- Besar dan bentuk abdomen; rata, menonjol, atau scaphoid (cekung).
- Simetrisitas; perhatikan adanya benjolan lokal.
- Gerakan dinding abdomen pada peritonitis terbatas.
- Pembesaran organ atau tumor, dilihat lokasinya dapat diperkirakan organ atau tumor apa.
- Peristaltik; gerakan peristaltik usus meningkat pada obstruksi ileus, tampak pada dinding
abdomen dan bentuk usus juga tampak.
- Pulsasi; pembesaran ventrikel kanan dan aneurisma aorta sering memberikan gambaran pulsasi
di daerah epigastrium dan umbilical.

Palpasi. Beberapa pedoman untuk melakukan palpasi, ialah:

- Pasien diusahakan tenang dan santai dalam posisi berbaring terlentang. Sebaiknya pemeriksaan
dilakukan tidak buru-buru.
- Palpasi dilakukan dengan menggunakan palmar jari dan telapak tangan. Sedangkan untuk
menentukan batas tepi organ, digunakan ujung jari. Diusahakan agar tidak melakukan penekanan
yang mendadak, agar tidak timbul tahanan pada dinding abdomen.
- Palpasi dimulai dari daerah superficial, lalu ke bagian dalam. Bila ada daerah yang dikeluhkan
nyeri, sebaiknya bagian ini diperiksa paling akhir.
- Bila dinding abdomen tegang, untuk mempermudah palpasi maka pasien diminta untuk
menekuk lututnya. Bedakan spasme volunter & spasme sejati; dengan menekan daerah muskulus
rectus, minta pasien menarik napas dalam, jika muskulus rectus relaksasi, maka itu adalah
spasme volunteer. Namun jika otot kaku tegang selama siklus pernapasan, itu adalah spasme
sejati.
- Palpasi bimanual; palpasi dilakukan dengan kedua telapak tangan, dimana tangan kiri berada di
bagian pinggang kanan atau kiri pasien sedangkan tangan kanan di bagian depan dinding
abdomen.

- Pemeriksaan ballottement; cara palpasi organ abdomen dimana terdapat asites. Caranya dengan
melakukan tekanan yang mendadak pada dinding abdomen & dengan cepat tangan ditarik
kembali. Cairan asites akan berpindah untuk sementara, sehingga organ atau massa tumor yang
membesar dalam rongga abdomen dapat teraba saat memantul. Teknik ballottement juga dipakai
untuk memeriksa ginjal, dimana gerakan penekanan pada organ oleh satu tangan akan dirasakan
pantulannya pada tangan lainnya.
- Setiap ada perabaan massa, dicari ukuran/ besarnya, bentuknya, lokasinya, konsistensinya,
tepinya, permukaannya, fiksasi/ mobilitasnya, nyeri spontan/ tekan, dan warna kulit di atasnya.
Sebaiknya digambarkan skematisnya.
- Palpasi hati dilakukan dengan satu tangan atau bimanual pada kuadran kanan atas. Dilakukan
palpasi dari bawah ke atas pada garis pertengahan antara mid-line & SIAS. Bila perlu pasien
diminta untuk menarik napas dalam, sehingga hati dapat teraba. Pembesaran hati dinyatakan
dengan berapa sentimeter di bawah lengkung costa dan berapa sentimeter di bawah prosesus
xiphoideus.4

Perkusi.

Perkusi berguna untuk mendapatkan orientasi keadaan abdomen secara keseluruhan,


menentukan besarnya hati, limpa, ada tidaknya asites, adanya massa padat atau massa berisi
cairan (kista), adanya udara yang meningkat dalam lambung dan usus, serta adanya udara bebas
dalam rongga abdomen. Suara perkusi abdomen yang normal adalah timpani (organ berongga
yang berisi udara), kecuali di daerah hati (redup; organ yang padat).
- Orientasi abdomen secara umum. Dilakukan perkusi ringan pada seluruh dinding abdomen
secara sistematis untuk mengetahui distribusi daerah timpani dan daerah redup (dullness). Pada
perforasi usus, pekak hati akan menghilang.
- Cairan bebas dalam rongga abdomen. Adanya cairan bebas dalam rongga abdomen (asites)
akan menimbulkan suara perkusi timpani di bagian atas dan dullness dibagian samping atau
suara dullness dominant. Karena cairan itu bebas dalam rongga abdomen, maka bila pasien
dimiringkan akan terjadi perpindahan cairan ke sisi terendah. Cara pemeriksaan asites:
A. Pemeriksaan gelombang cairan (undulating fluid wave).

Teknik ini dipakai bila cairan asites cukup banyak. Prinsipnya adalah ketukan pada satu sisi
dinding abdomen akan menimbulkan gelombang cairan yang akan diteruskan ke sisi yang lain.
4

Pasien tidur terlentang, pemeriksa meletakkan telapak tangan kiri pada satu sisi abdomen dan
tangan kanan melakukan ketukan berulang-ulang pada dinding abdomen sisi yang lain. Tangan
kiri kan merasakan adanya tekanan gelombang.
B. Pemeriksaan pekak alih (shifting dullness).

Prinsipnya cairan bebas akan berpindah ke bagian abdomen terendah. Pasien tidur terlentang,
lakukan perkusi dan tandai peralihan suara timpani ke redup pada kedua sisi. Lalu pasien diminta
tidur miring pada satu sisi, lakukan perkusi lagi, tandai tempat peralihan suara timpani ke redup
maka akan tampak adanya peralihan suara redup.

Auskultasi.

Kegunaan auskultasi ialah untuk mendengarkan suara peristaltic usus dan bising pembuluh
darah. Dilakukan selama 2-3 menit.
- Mendengarkan suara peristaltic usus. Diafragma stetoskop diletakkan pada dinding abdomen,
lalu dipindahkan ke seluruh bagian abdomen. Suara peristaltic usus terjadi akibat adanya gerakan
cairan dan udara dalam usus. Frekuensi normal berkisar 5-34 kali/ menit. Bila terdapat obstruksi
usus, peristaltic meningkat disertai rasa sakit (borborigmi). Bila obstruksi makin berat, abdomen
tampak membesar dan tegang, peristaltic lebih tinggi seperti dentingan keeping uang logam
(metallic-sound). Bila terjadi peritonitis, peristaltic usus akan melemah, frekuensinya lambat,
bahkan sampai hilang.
- Mendengarkan suara pembuluh darah. Bising dapat terdengar pada fase sistolik dan diastolic,
atau kedua fase. Misalnya pada aneurisma aorta, terdengar bising sistolik (systolic bruit). Pada
hipertensi portal, terdengar adanya bising vena (venous hum) di daerah epigastrium.4
Dalam skenario: Pada inspeksi abdomen terlihat distensi abdomen kemudian pemeriksaan
dengan palpasi ditemukan massa yang berbentuk seperti sosis yang teraba pada abdomen. Dan
pada auskultasi ditemukan bising usus meningkat.
Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan Laboratorium: Pada pemeriksaan darah rutin ditemukan peningkatan jumlah
leukosit (leukositosis > 10.000/mm3).
2. Pemeriksaan Radiologi: Foto polos abdomen. Didapatkan distribusi udara didalam usus tidak
merata, usus terdesak ke kiri atas, bila telah lanjut terlihat tanda tanda obstruksi usus dengan
gambaran air fluid level. Dapat terlihat free air bila terjadi perforasi.
5

(a)
(b)
Gambar 1. Foto lateral abdomen (a) foto bagian supine (b)

Tanda obstruksi (+): Distensi, Air fluid level, Hering bone (gambaran plika circularis
usus)
3. Barium enema. Dikerjakan untuk tujuan diagnosis dan terapi, untuk diagnosis dikerjakan bila
gejala gejala klinik meragukan, pada barium enema akan tampak gambaran cupping, coiled
spring appearance.5

Gambar 2. Intususepsi Ileocolonic dalam colon tranversum pada pemeriksaan dengan barium enema 5

4. Pemeriksaan USG. Pemeriksaan ultrasonography (USG) abdomen sangat membantu untuk


mengidentifikasi intususepsi. Dua tanda dalam pemeriksaan USG, yaitu doughnut atau target
pada pemeriksaan melintang; pseudokidney pada pemeriksaan longitudinal.5

Gambar 3. Pemeriksaan USG longitudinal menunjukkan pseudokidney intususepsi6

Working Diagnosis
Working diagnosisnya adalah intususepsi. Intususepsi adalah masuknya segmen usus
proksimal kerongga lumen usus yang lebih distal sehingga menimbulkan gejala obstruksi
berlanjut strangulasi usus. Intususepsi ini merupakan penyebab obstruksi intestinum yang paling
lazim pada umur antara 3 bulan sampai 6 tahun. Kelainan ini jarang pada anak sebelum umur 3
bulan dan frekuensi menurun setelah 36 bulan. Beberapa intususepsi akan membaik spontan atau
mengalami autoamputasi, jika tidak diobati kebanyakan akan menyebabkan kematian. 5 Untuk
menegakkan diagnosa invaginasi didasark

`an

pada

anamnesis,

pemeriksaan

fisik,

laboratoriumdan radiologi. Gejala klinis yang menonjol dari invaginasi adalah suatu trias gejala
yang terdiri dari.
1. Nyeri perut yang datangnya secara tiba tiba, nyeri bersifat serangserangan, nyeri
menghilang selama 10 20 menit, kemudian timbul lagi serangan baru.
2. Teraba massa tumor di perut bentuk bujur pada bagian kanan atas, kanan bawah, atas
tengah, kiri bawah atau kiri atas.
3. Buang air besar campur darah dan lendir.
Bila penderita terlambat memeriksakan diri, maka sukar untuk meraba adanya tumor,
oleh karena itu untuk kepentingan diagnosis harus berpegang kepada gejala trias invaginasi.
Invaginasi sering terjadi pada anak berumur di bawah satu tahun, sakit perut yang bersifat kolik
sehingga anak menjadi rewel sepanjang hari / malam, ada muntah, buang air besar campur darah
dan lendir maka pikirkanlah kemungkinan invaginasi.1,6
Differential Diagnosis
1. Volvulus
Malrotasi merupakan anomali kongenital berupa gagalnya suatu rotasi/perputaran
dan fiksasi normal pada organ, terutama usus selama perkembangan embriologik.
Malrotasi dapat terjadi disertai atau tanpa volvulus. Volvulus merupakan kelainan berupa
puntiran dari segmen usus terhadap usus itu sendiri, mengelilingi mesenterium dari usus
tersebut dimana mesenterium itu sebagai aksis longitudinal sehingga menyebabkan
obstruksi saluran cerna. Keadaan ini disebabkan karena adanya rotasi gelung usus di
sekeliling cabang arteri mesenterika superior. Normalnya gelung usus primer berotasi
270 berlawanan dengan arah jarum jam. Akan tetapi kadang-kadang putaran hanya 90
7

saja. Apabila hal ini terjadi, kolon dan sekum adalah bagian usus pertama yang kembali
dari tali pusat, dan menempati sisi kiri rongga perut. Gelung usus yang kembali
belakangan makin terletak di kanan, sehingga mengakibatkan kolon letak kiri. Apabila
volvulus mengenai seluruh bagian usus maka keadaan ini disebut volvulus midgut.
Volvulus banyak menyerang usia neonatus.1
2. Divertikulum Meckel
Divertikulum Meckel adalah sisa dari kantung telur embrional, yang juga disebut
sebagai duktus omfalomesenterikus atau duktus vitelinus. Duktus omfalomesenterikus
menghubungkan kantung telur dengan usus saat perkembangan embrio dan memberikan
nutrisi sampai plasenta terbentuk. Antara minggu ke 5 dan minggu ke 7 kehamilan,
duktus ini menipis dan memisahkan diri dari intestinum, dan tepat sebelum involusi,
epitel kantung telur mengembangkan suatu lapisan yang sama dengan lapisan lambung.
Kegagalan komplit involusi duktus omfalomesenterikus meninggalkan berbagai struktur
sisa. Divertikulum meckel merupakan struktur sisa yang merupakan aanomali saluran
cerna bawaan yang paling sering. Divertikulum meckel khas merupakan kantung ileum
sepanjang 3-6 cm.5,7
Etiologi
Penyebab kebanyakan intususepsi belum diketahui. Insiden musiman memuncak pada
musim semi dan musim gugur. Korelasi dengan infeksi adenovirustelah dilaporkan, dan keadaan
ini dapat mempersulit gastroenteritis.Intususepsi terjadi bila satu segmen usus masuk ke dalam
segmen usus distal. Penyebabnya belum diketahui, tetapi hiperplasia limfoid (Peyer patches)
dapat membentuk suatu titik petunjuk segmen intususepsi proksimal. Titik petunjuk ditemukan
pada 5% kasus. Plak peyer yang membengkak di ileum dapat merangsang peristaltik usus
sebagai upaya untuk mengeluarkan massa tersebut sehingga terjadi intususepsi. Bentuk ileokolon
adalah yang paling sering, diikuti oleh ileoilium dan kolokolon.8
Epidemiologi
Angka kejadian intususepsi (invaginasi) dewasa sangat jarang, menurut angka yang
pernah dilaporkan adalah 0,08% dari semua kasus pembedahan lewat abdomen 5% dari semua
kasus invaginasi (anak-anak dan dewasa), sedangkan angka-angka yang menggambarkan angka
kejadian berdasarkan jenis kelamin dan umur belum pernah dilaporkan, sedangkan segmen usus
8

yang telibat yang pernah dilaporkan Anderson 281 pasien terjadi pada usus halus ( Jejunum,
Ileum ) 7 pasien ileocolica, 12 pasien cecocolica dan 36 colocolica dari 336 kasus yang ia
laporkan. Hampir 70 % kasus invaginasi terjadi pada anak-anak umur kurang dari 1 tahun
sedangkan Orloff mendapatkan 69% dari 1814 kasus pada bayi dan anak-anak umur kurang dari
1 tahun. Chairl Ismail 1988 mendapatkan insiden tertinggi dicapai pada anak-anak umur antara 4
sampai dengan 9 bulan. Perbandingan antara laki-laki dan wanita adalah 2:1. Insidensi tertinggi
dari inttususepsiter dapat pada usia dibawah 2 tahun. Orloof mendapatkan 69% dari1814 kasus
pada anak-anak terjadi pada usia kurang dari 1 tahun. Pada bayi dan anak-anak intususepsi
merupakan penyebab kira-kira 80-90% dari kasus obstruksi. Pada orang dewasa intususepsi lebih
jarang terjadi dan diperkirakan menjadi penyebab kira-kira 5% dari kasus obstruksi. 1,6
Manifestasi Klinis
Secara klasik perjalanan suatu invaginasi memperlihatkan gambaran sebagai berikut :
Anak atau bayi yang semula sehat dan biasanya dengan keadaan gizi yang baik, tiba tiba
menangis kesakitan, terlihat kedua kakinya terangkat ke atas, penderita tampak seperti kejang
dan pucat menahan sakit, serangan nyeri perut seperti ini berlangsung dalam beberapa menit.
Diluar serangan, anak / bayi kelihatan seperti normal kembali. Pada waktu itu sudah terjadi
proses invaginasi. Serangan nyeri perut datangnya berulang ulang dengan jarak waktu 15 20
menit, lama serangan 2 3 menit. Pada umumnya selama serangan nyeri perut itu diikuti dengan
muntah berisi cairan dan makanan yang ada di lambung, sesudah beberapa kali serangan dan
setiap kalinya memerlukan tenaga, maka di luar serangan si penderita terlihat lelah dan lesu dan
tertidur sampai datang serangan kembali. Proses invaginasi pada mulanya belum terjadi
gangguan pasase isi usus secara total, anak masih dapat defekasi berupa feses biasa, kemudian
feses bercampur darah segar dan lendir, kemudian defekasi hanya berupa darah segar bercampur
lendir tanpa feses. Karena sumbatan belum total, perut belum kembung dan tidak tegang, dengan
demikian mudah teraba gumpalan usus yang terlibat invaginasi sebagai suatu massa tumor
berbentuk bujur di dalam perut di bagian kanan atas, kanan bawah, atas tengah atau kiri bawah.
Tumor lebih mudah teraba pada waktu terdapat peristaltik, sedangkan pada perut bagian kanan
bawah teraba kosong yang disebut dances sign ini akibat caecum dan kolon naik ke atas, ikut
proses invaginasi. Pembuluh darah mesenterium dari bagian yang terjepit mengakibatkan
gangguan venous return sehingga terjadi kongesti, oedem, hiperfungsi goblet sel serta laserasi
9

mukosa usus, ini memperlihatkan gejala berak darah dan lendir, tanda ini baru dijumpai sesudah
6 8 jam serangan sakit yang pertama kali, kadang kadang sesudah 12 jam. Berak darah lendir
ini bervariasi jumlahnya dari kasus ke kasus, ada juga yang dijumpai hanya pada saat melakukan
colok dubur. Sesudah 18 24 jam serangan sakit yang pertama, usus yang tadinya tersumbat
partial berubah menjadi sumbatan total, diikuti proses oedem yang semakin bertambah, sehingga
pasien dijumpai dengan tanda tanda obstruksi, seperti perut kembung dengan gambaran
peristaltik usus yang jelas,muntah warna hijau dan dehidrasi. Oleh karena perut kembung maka
massa tumor tidak dapat diraba lagi dan defekasi hanya berupa darah dan lendir. Apabila keadaan
ini berlanjut terus akan dijumpai muntah feses, dengan demam tinggi, asidosis, toksis dan
terganggunya aliran pembuluh darah arteri, pada segmen yang terlibat menyebabkan nekrosis
usus, ganggren, perforasi, peritonitis umum,shock dan kematian.6
Patofisiologi
Berbagai variasi etiologi yang mengakibatkan terjadinya intususepsi pada dewasa pada
intinya adalah gangguan motilitas usus terdiri dari dua komponen yaitu satu bagian usus yang
bergerak bebas dan satu bagian usus lainya yang terfiksir/atau kurang bebas dibandingkan
bagian lainnya, karena arah peristaltik adalah dari oral ke anal sehingga bagian yang masuk
kelumen usus adalah yang arah oral atau proksimal, keadaan lainnya karena suatu disritmik
peristaltik usus, pada keadaan khusus dapat terjadi sebaliknya yang disebut retrograd intususepsi
pada pasien pasca gastrojejunostomi . Akibat adanya segmen usus yang masuk kesegmen usus
lainnya akan menyebabkan dinding usus yang terjepit sehingga akan mengakibatkan aliran darah
menurun dan keadaan akhir adalah akan menyebabkan nekrosis dinding usus. Perubahan
patologik yang diakibatkan intususepsi terutama mengenai intususeptum. Intususepien biasanya
tidak mengalami kerusakan.
Perubahan pada intususeptum ditimbulkan oleh penekanan bagian ini oleh karena
kontraksi dari intususepien, dan juga karena terganggunya aliran darah sebagai akibat penekanan
dan tertariknya mesenterium. Edema dan pembengkakan dapat terjadi. Pembengkakan dapat
sedemikian besarnya sehingga menghambat reduksi. Adanya bendungan menimbulkan
perembesan (ozing) lendir dan darah ke dalam lumen. Ulserasi pada dinding usus dapat terjadi.
Sebagai akibat strangulasi tidak jarang terjadi gangren. Gangren dapat berakibat lepasnya bagian
yang mengalami prolaps. Pembengkakan dari intisuseptum umumnya menutup lumen usus. Akan
10

tetapi tidak jarang pula lumen tetap patent, sehingga obstruksi komplit kadang-kadang tidak
terjadi pada intususepsi.
Invaginasi akan menimbulkan gangguan pasase usus (obstruksi) baik partiil maupun total
dan strangulasi. Hiperperistaltik usus bagian proksimal yang lebih mobil menyebabkan usus
tersebut masuk ke lumen usus distal. Usus bagian distal yang menerima (intussucipient) ini
kemudian berkontraksi, terjadi edema. Akibatnya terjadi perlekatan yang tidak dapat kembali
normal sehingga terjadi invaginasi.1,6
Penatalaksanaan
1. Koreksi keseimbangan cairan dan elektrolit.
Keberhasilan penatalaksanaan invaginasi ditentukan oleh cepatnya pertolongan diberikan,
jika pertolongan kurang dari 24 jam dari serangan pertama, maka akan memberikan prognosa
yang lebih baik. Penatalaksanaan penanganan suatu kasus invaginasi pada bayi dan anak sejak
dahulu mencakup dua tindakan :
1. Reduksi hidrostatik. Metode ini dengan cara memasukkan barium melalui anus
menggunakan kateter dengan tekanan tertentu. Pertama kali keberhasilannya
dikemukakan oleh Ladd tahun 1913 dan diulang keberhasilannya oleh Hirschprung
tahun 1976.
2. Reduksi manual (milking) dan reseksi usus
Pasien dengan keadaan tidak stabil, didapatkan peningkatan suhu, angka lekosit, mengalami
gejala berkepanjangan atau ditemukan sudah lanjut yang ditandai dengan distensi abdomen,
feces berdarah, gangguan sistema usus yang berat sampai timbul shock atau peritonitis, pasien
segera dipersiapkan untuk suatu operasi. Laparotomi dengan incisi transversal interspina
merupakan standar yang diterapkan. Tindakan selama operasi tergantung kepada penemuan
keadaan usus, reposisi manual dengan milking harus dilakukan dengan halus dan sabar, juga
bergantung kepada ketrampilan dan pengalaman operator. Reseksi usus dilakukan apabila pada
kasus yang tidak berhasil direduksi dengan cara manual, bila viabilitas usus diragukan atau
ditemukan kelainan patologis sebagai penyebab invaginasi. Setelah usus direseksi dilakukan
anastomose end to end apabila hal ini memungkinkan, bila tidak mungkin maka dilakukan
exteriorisasi atau enterostomi.

11

Terapi intususepsi pada orang dewasa adalah pembedahan. Diagnosis pada saat pembedahan
tidak sulit dibuat. Pada intususepsi yang mengenai kolon

sangat besar kemungkinan

penyebabnya adalah suatu keganasan, oleh karena itu ahli bedah dianjurkan untuk

segera

melakukan reseksi, dengan tidak usah melakukan usaha reduksi. Pada intususepsi dari usus halus
harus dilakukan usaha reduksi dengan hati-hati. Jika ditemukan kelainan telah mengalami
nekrose, reduksi tidak perlu dikerjakan dan reseksi segera dilakukan. Pada kasus-kasus yang
idiopatik, tidak ada yang perlu dilakukan selain reduksi7
Komplikasi
Jika penanganan ditunda sampai lebih dari 24 jam, dapat terjadi penjepitan usus
(strangulasi), menyebabkan nekrosis, perdarahan, perforasi, peritonitis, dan syok. Jika tidak
tertangani, anak dengan intususepsi tidak dapat bertahan hidup. Jika intususepsi tidak direduksi
segera, maka bayi akan semakin lemah dan lesu. Akhirnya bisa terjadi keadaan syok dengan
kenaikan suhu tubuh sampai 41 derajat Celcius. Denyut nadi menjadi lemah dan kecil,
pernapasan menjadi dangkal dan nyeri mungkin dimanifestasikan hanya dengan suara merintih.
Jika invaginasi terlambat atau tidak diterapi, bisa timbul beberapa komplikasi berat, seperti
kematian jaringan usus, perforasi usus, infeksi dan kematian.6
Prognosis
Intususepsi pada bayi yang tidak ditangani akan selalu berakibat fatal; kesempatan sembuh
terkait langsung dengan lamanya intususepsi sebelum reduksi. Kebanyakan bayi sembuh jika
intususepsi direduksi dalam 24 jam pertama, tetapi angka mortalitas meningkat dengan cepat
setelah 24 jam, terutama setelah hari kedua. Dengan terapi bedah yang adekuat, reduksi dengan
operasi sangat mengurangi angka mortalitas pada kasus dini.6

Kesimpulan
Daftar Pustaka
1. Nelson. Ilmu kesehatan anak. Ed 15. Volume 2. Jakarta: EGC; 2000.hal 1319-21.
12

2. Makmun LH. Anamnesis Jilid I. Ed 4. Jakarta: FKUI; 2007.hal 20-21.


3. Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, dkk, editor. Buku ajar ilmu penyakit dalam. Ed V. Jilid 3.
Jakarta: Interna Publishing; 2009.h.837-44.
4. Marcellus KS. Pemeriksaan abdomenJilid I. Ed 4. Jakarta: FKUI; 2008, hal 51-55.
5. Arvin BK. Ilmu kesehatan anak. Jakarta: EGC; 2000.h.1319.
6. Schwartz M W. Pedoman klinis pediatri. Jakarta: EGC; 2005.hal 92-93.
7. Sabitson DC. Buku ajar bedah. Jakarta: EGC; 2012.hal 9-11.
8. Behrman RE, Kliegman RM. Esensi pediatri nelson. Ed4. Jakarta: EGC; 2010.h.539

13