Anda di halaman 1dari 3

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Seperempat dari obat-obatan modern yang beredar didunia berasal dari
bahan aktif yang diisolasi dan dikembangkan dari tanaman. Bahkan sampai saat
ini pun menurut perkiraan Badan Kesehatan Dunia (WHO) 80% penduduk dunia
masih menggantungkan dirinya pada pengobatan tradisional.( Loomis 1978).
Berbagai spesies tumbuhan yang tersebar di wilayah Indonesia dapat
dimanfaatkan sebagia bahan baku obat. Tumbuhan tersebut menghasilkan
metabolit sekunder dengan aktivitas bilogik yang beraneka ragam, setiap
metabolit spesiesnya memiliki potensi yang sangat baik untuk dikembangkan
menjadi obat untuk berbagai penyakit.
Kajian dan pengetahuan yang sejauh ini beredar mengenai obat tradisional
adalah berdasarkan pengalaman empiris yang diwariskan secara turun temurun
dan belum teruji secara ilmiyah. Oleh karena itu agar tanamam obat tersebut
dapat digunakan dengan aman dan efektif perlu dilakukan penelitian lebih lanjut.
Banyak keuntungan dari pemakaian obat tradisional, diantaranya dapat
diperoleh dengan tanpa resep dokter, dapat disiapkan sendiri oleh masyarakat,
bahan bakunya mudah diperoleh, dan tanaman tersebut mudah dibudidayakan di
daerah pemukiman. Salah satu contoh adalah penggunaan tanaman kencur
(Kaempferia galanga).
Kencur (Kaempferia galanga) sudah dikenal luas di masyarakat baik
sebagai bumbu makanan atau untuk pengobatan, diantaranya adalah batuk, mual,
bengkak, bisul, dan antitoksin. Komponen yang terkandung didalamnya antara
lain saponin, flavonoid, polifenol, dan minyak atsiri.
1

Uji toksisitas akut adalah salah satu uji pra-klinik. Uji ini dilakukan untuk
mengukur derajat efek toksik suatu senyawa yang terjadi didalam waktu singkat,
yaitu 24 jam setelah pemberianya dalam dosis tunggal. Tolak ukur kuantitatif yang
sering digunakan untuk menyatakan kisaran dosis toksis adalah dosis letal dengan
LD50.
Penelitian ini dilakukan secara in vivo menggunakan hewan coba mencit
Balb/c dengan paparan dosis tunggal bertingkat. Pengamatan meliputi jumlah
hewan yang mati serta gejala klinis pada 24 jam pertama pemberian ekstrak.
1.2 Rumusan Masalah
Berapakah LD50 ekstrak kencur (Kaempferia galanga) pada mencit balb/c ?

1.3 Tujuan Peneiltian


1. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek toksisitas akut eksrak
kencur (Kaempferia galanga) pada mencit Balb/c yang diukur secara
kuantitatif dengan LD50.
2. Menentukan nilai dari dosis ekstrak kencur (Kaemperia galanga) yang
mengakibatkan kematian 50% populais mencit.

1.4 Manfaat Penelitian


Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber informasi penelitian
lebih lanjut mengenai toksisitas akut pemberian ekstrak kencur (Kaempferia
galanga) terhadap mencit Balb/c dan memperkirakan resiko penggunaan ekstrak
kencur pada manusia.

Hasil penelitian ini juga diharapkan mampu menambah kekayaan ilmu


pengetahuan dibidang farmasi terutama pada pengembangan dan penelitian obatobatan terbaru terkait dengan toksisitas akut.