Anda di halaman 1dari 27

1

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Lanjut usia menjadikan penurunan fisik yang lebih besar dibanding
periode-periode usia sebelumnya, semakin tua usia seseorang, kemungkinan
akan memiliki beberapa penyakit atau dalam keadaan sakit meningkat.
Beberapa penyebab kematian pada usia lanjut adalah kondisi kronis seperti
penyakit-penyakit yang tergolong penyakit terminal illness yaitu penyakit
kardiovaskuler, stroke, dan lemahnya pernafasan. Salah satu masalah
kesehatan yang sering terjadi pada usia lanjut adalah hipertensi atau tekanan
darah tinggi.
Hipertensi menjadi suatu hal yang menakutkan bagi sebagian besar
penduduk dunia termasuk Indonesia. Hal ini karena secara statistik jumlah
penderita yang terus meningkat dari waktu kewaktu. Berbagai faktor yang
berperan dalam hal ini salah satunya adalah gaya hidup modern. Pemilihan
makanan yang berlemak, kebiasaan aktifitas yang tidak sehat, merokok,
minum kopi serta gaya hidup yang tidak sehat lainnya adalah beberapa hal
yang disinyalir sebagai faktor yang berperan terhadap hipertensi.
Hipertensi merupakan faktor risiko terbesar penyakit kardiovaskular.
Perkembangan angka kejadian hipertensi di negara maju dari tahun ke tahun
terus menunjukkan peningkatan. Sebanyak 73,6 juta orang di Amerika
Serikat yang berusia 20 tahun ke atas menderita hipertensi. Diperkirakan
30% dari penduduk Amerika sekitar 50.000.000 jiwa menderita tekanan
darah tinggi dengan persentase biaya kesehatan cukup besar setiap tahunnya
(Depkes RI, 2007). Prevalensi hipertensi di Indonesia mencapai 15.000.000
penduduk yang mengalami hipertensi (Bustan, 2007).
Berdasarkan laporan dari Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Tengah,
kasus tertinggi hipertensi adalah kota Semarang yaotu sebesar 67,101 kasus
(19,56%) dibanding dengan jumlah keseluruhan hipertensi di Kabupaten
atau kota lain di Jawa Tengah. Apabila dilihat berdasarkan jumlah kasus

keseluruhan di kota Semarang terdapat proporsi yang lebih besar 53,69.


Sedangkan kasus tertinggi kedua adalah Kabupaten Klaten yaitu sebesar
36.002 kasus (10,49%) dan apabila dibanding dengan jumlah keseluruhan di
Kabupaten Banyumas adalah sebesar 57,01%. Kasus ini paling sedikit
dijumpai di Kebupaten Tegal yaitu 516 kasus (0,15%). Rata-rata kasus
hipertensi di Jawa Tengah adalah 9.800,54 kasus (profil kesehatan Provinsi
Jawa Tengah, 2004).
Prevalensi hipertensi yang tinggi dipicu karena kesadaran dan
pengetahuan tentang penyakit hipertensi masih sangat rendah. Hal ini
dibuktikan dengan masyarakat yang lebih memilih makanan siap saji yang
umumnya rendah serat, tinggi lemak, tinggi gula, dan mengandung banyak
garam.pola makan yang kurang sehat ini merupakan pemicu penyakit
hipertensi.
Hasil wawancara dengan penderita hipertensi pada praktek lapangan
blok komprehenshif II di desa Rempoah, didapatkan penuturan dari
penderita hipertensi bahwa hipertensi yang dideritanya menyebabkan
penderita harus selalu siaga dan waspada terhadap kenaikan tekanan darah
secara tiba-tiba sehingga harus selalu melakukan kontrol pengukuran
tekanan darah. Penderita juga merasakan sering cemas jika akan melakukan
aktivitas berat karena jika mengalami kelelahan dapat menjadikan tekanan
darah naik yang dapat menyebabkan pusing-pusing.
Hipertensi menyebabkan meningkatnya resiko terhadap stroke,
aneurisma, gagal jantung, serangan jantung dan kerusakan ginjal. Tanpa
melihat usia atau jenis kelamin, semua orang bisa terkena hipertensi dan
biasanya tanpa ada gejala-gejala sebelumnya. Hipertensi juga dapat
mengakibatkan kerusakan berbagai organ target seperti otak, jantung, ginjal,
aorta, pembuluh darah perifer dan retina. Golongan umur 45 tahun keatas
memerlukan tindakan atau program pencegahan yang terarah. Hipertensi
perlu dideteksi dini yaitu dengan pemeriksaan tekanan darah secara berkala,
yang dapat dilakukan pada waktu periksa ke puskesmas atau ke dokter. Oleh
karena itu, negara Indonesia yang sedang membangun disegala bidang perlu
memperhatikan

pendidikan

kesehatan

masyarakat

untuk

mencegah

timbulnya penyakit seperti hipertensi, kardiovaskuler, penyakit degeneratif


dan lain-lain.
Pendidikan kesehatan masyarakat akan mempengaruhi kemampuan
penerimaan informasi tentang hipertensi, dimana pengetahuan yang cukup
menjadi titik tolak perubahan sikap dan perilaku penderita hipertensi dalam
kepatuhan kontrol. Penanganan hipertensi dilakukan bersama dengan
pengubahan pola hidup dapat berupa penurunan berat badan jika
overweight, membatasi konsumsi alkohol, berolahraga teratur, mengurangi
konsumsi garam, mempertahan konsumsi natrium, kalsium, magnesium
yang cukup, dan berhenti merokok. Selain itu penderita hipertensi juga
harus mempunyai pengetahuan dan sikap kepatuhan untuk dapat
menyesuaikan penatalaksanaan hipertensi dalam kehidupan sehari- hari.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka rumusan masalah yang dapat
diangkat yaitu rencana asuhan keperawatan keluarga dengan penyakit
hipertensi.
C. Tujuan
1. Untuk memberikan pengetahuan pada keluarga tentang tanda, gejala,
dan hal-hal lain yang berhubungan dengan hipertensi.
2. Untuk merencakan asuhan keperawatan hipertensi pada keluarga.
D. Manfaat
1. Manfaat bagi keluarga, diharapkan keluarga bisa menyadari betapa
pentingnya perilaku kontrol dan gaya hidup yang sehat sehingga dapat
menghindari/mencegah komplikasi hipertensi.
2. Manfaat bagi masyarakat, laporan praktikum ini diharapkan menjadi
bahan masukan atau referensi khususnya bagi penderita hipertensi untuk
dapat meningkatakan pengetahuan demi memelihara status kesehatan.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian Hipertensi
Tekanan darah adalah tekanan yang terjadi di dalam pembuluh darah
arteri ketika darah dipompa oleh jantung ke seluruh tubuh (ridwan, 2009).
Tekanan darah biasanya dicatat sebagai tekanan sistol dan diastol. Tekanan
darah maksimum dalam arteri disebut tekanan sistolik yang disebabkan
sistol ventrikular. Tekanan minimum dalam arteri disebut tekanan diastolik
yang disebabkan oleh diastol ventrikular ( Jain, 2011). Hipertensi
merupakan penyakit yang berhubungan dengan tekanan darah (Ridwan,
2009).
Hipertensi

merupakan

penyebab

utama

stroke

yang

dapat

menimbulkan kematian dan merupakan faktor yang dapat memperberat


infark miokard (serangan jantung). Kondisi tersebut yang sering ditemukan
pada penderita hipertensi. Hipertensi adalah tekanan darah persisten dimana
tekanan sistolik di atas 140 mmHg dan tekanan diastoliknya di atas 90
mmHg (Potter & Perry, 2005). Pada manula, hipertensi didefinisikan
sebagai tekanan sistolik 160 mmHg dan tekan darah diastoliknya 90 mmHg
(Burnner & Sudarth, 2002).
B. Etiologi
Berdasarkan

penyebabnya,

Ridwan

(2009)

menggolongkan

hipertensi ke dalam tiga golongan yaitu hipertensi esensial, sekunder, dan


maligna.
1. Hipertensi esensial (hipertensi primer atau idiopatik)
Hipertensi esensial biasanya dimulai sebagai proses labil
(intermiten) pada individu pada akhir 30-an dan awal 50-an yang secara
bertahap akan menetap. Hipertensi esensial secara pasti belum diketahui
penyebabnya. Gangguan emosi, obesitas, konsumsi alkohol yang
berlebih, rangsang kopi yang berlebih, rangsang konsumsi tembakau,
obat-obatan, dan keturunan berpengaruh pada proses terjadinya

hipertensi esensial. Penyakit hipertensi esensial lebih banyak terjadi


pada wanita dari pada pria ( C. smeltzer, 2002).
2. Hipertensi sekunder
Hipertensi sekunder merupakan hipertensi yang disebabkan
karena gangguan pembuluh darah atau organ tertentu (gray et al, 2009)
mengelompokkan penyebab hipertensi menjadi tiga golongan, yaitu:
a. Penyakit parenkim ginjal
Permasalahan pada ginjal yang menyebabkan kerusakan
parenkim akan menyebabkan hipertensi dan kondisi hipertensi
yang ditimbulkan tersebut akan semakin memperparah kondisi
kerusakan ginjal.
b. Penyakit Renovaskular
Merupakan penyakit yang menyebabkan gangguan dalam
vaskularisasi darah ke ginjal seperti arterosklerosis. Penurunan
pasokan ginjal akan menyebabkan produksi renin ipsilateral dan
meningkatkan tekanan darah, sering diatasi secara farmakologis
dengan ACE Inhibitor.
c. Endokrin
Gangguan

aldosteronisme

primer

akan

berpengaruh

terhadap hipertensi. Tingginya kadar aldosteron dan rendahnya


kadar renin mengakibatkan kelebihan natrium dan air sehingga
berdampak pada meningkatnya tekanan darah.
C. Faktor Resiko Terjadinya Hipertensi
Ada beberapa faktor resiko yang menyebabkan terjadinya hipertensi
ataralain: faktro resiko yang tidak dapat dikontrol yang meliputi jenis
kelamin, umur, keturunan dan genetik. Selain itu terdapat faktor resiko yang
dapat dikotrol yaitu merokok, status gizi, konsumsi Na (Natrium) dan stress
(Elsanti, 2009)

D. Tanda dan gejala


Hipertensi merupakan penyakit yang banyak tidak menimbulkan
gejala khas sehingga sering tidak terdiagnosis dalam waktu yang lama.
Gejala akan terasa secara tiba-tiba saat ada kenaikan tekanan darah (Jain,
2011).
Manifestasi klinis yang ditimbulkan hipertensi bersifat tidak spesifik.
Secara umum, tanda dan gejala dari hipertensi sering kali tidak disadari oleh
seseorang. Pada hipertensi ringan, tidak terdapat tanda dan gejala yang khas
dan dapat berlangsung bertahun-tahun tanpa disadari oleh penderita.
Seringkali, lansia baru menyadari hipertensi saat mengeluh sakit kepala atau
pusing, muka merah, tengkuk terasa gatal, tekanan darah meningkat,
berkeringat

dingin,

pusing,

nyeri

kepala,

mati

rasa

(kelemahan salah satu anggota tubuh). kecemasan,depresi,


dan cepat marah, diplodia(penglihatan ganda), mual dan
muntah (Dalyoko, 2010).
Sakit kepala merupakan gejala umum yang sering dialami pada
pasien hipertensi. Namun, sakit kepala juga disebabkan oleh beberapa hal
sepeti camas, stres, sulit tidur malam, atau infeksi virus minor sehingga
sakit kepala bukan merupakan manifestasi klinis khas hipertensi. Sesak
nafas juga terjadi pada pasien hipertensi. Sesak nafas pada seseorang yang
menderita hipertensi biasanya terjadi karena kegemukan. Perdarahan di
beberapa bagian tubuh juga merupakan efek hipertensi. Risiko perdarahan
dari arteri ke otak atau retina mata meningkat karena adanya hipertensi
terutama pada pasien dengan usia di atas 50 tahun. Menstruasi yang berat
dan munculnya gejala menopause sering dialami wanita dengan hipertensi.
Manifestasi hipertensi yang lebih serus adalah perdarahan ke otak yang
dapat membunuh seseorang dalam waktu yang singkat atau menyebabkan
kelumpuhan (Jain, 2011).
Hipertensi akan menjadi masalah kesehatan yang serius jika tidak
terkendali karena akan megakibatkan komplikasi yang berbahaya dan
berakibat fatal seperti stroke, penyakit jantung koroner, dan gagal ginjal
(Anies, 2006).

E. Klasifikasi Hipertensi
Menurut The Seventh Report of The National Committe on
Prevention Detection, Evaluation and Treatment of High Blood Pressure
(JNC VII) tahun 2003, tekanan darah pada usia lanjut dapat dibedakan
menjadi 3 yaitu normal, pre hipertensi dan hipertensi. Penjelasan untuk
pengklasifikasian tersebut dapat dilihat selengkapnya pada tabel 2.1.
Tabel 2.1. Klasifikasi Tekanan Darah menurut JNC VII
Kategori

Sistolik
(mmHg)

Diastolik
(mmHg)

< 120

< 80

130-139

80-89

Stage 1

140-159

90-99

Stage 2

160

100

Normal
Pre Hipertensi
Hipertensi:

Sumber: Dalyoko (2010)

Menurut World Health Organization (WHO), tingkat beratnya


hipertensi dapat dibedakan menjadi 3 kelas, yaitu kelas 1 merupakan
hipertensi tanpa kelainan pada suatu organ tubuh. Kelas 2 yakni hipertensi
dengan pembesaran jantung. Sedangkan kelas 3, yaitu hipertensi dengan
kelainan organ-organ lain disekitar jantung (Gunawan, 2001).
World Health Organization (WHO) dan International Society Of
Hypertension Working Group (ISHWG) tahun 2007 mengelompokkan
hipertensi ke dalam klasifikasi optimal, normal, normal-tinggi, hipertensi
ringan, hipertensi sedang, dan hipertensi berat. Penjelasan untuk
pengklasifikasian tersebut dapat dilihat selengkapnya pada tabel 2.2.
Tabel 2.2. Klasifikasi Tekanan Darah menurut WHO dan ISHWG
Kategori
Optimal

Sistolik
(mmHg)

Diastolik
(mmHg)

< 120

< 80

Normal

< 130

<85

Normal-tinggi

130-139

85-89

Tingkat 1 (hipertensi ringan)


Sub-grup: perbatasan
Tingkat 2 (hipertensi sedang)
Tingkat 3 (hipertensi berat)

140-159
140-149
160-179
180

90-99
90-94
100-109
110

Hipertensi sistol terisolasi


Sub-grup perbatasan

140
140-149

< 90
< 90

Sumber: Smeltzer and Bare (2001)

F. Patofisiologi
Tekanan darah dapat meningkat melalui beberapa mekanisme.
Pertama, jantung memompa lebih kuat sehingga darah mengalir dengan
kecepatan tinggi setiap detiknya. Kedua, arteri besar mengalami kehilangan
kelenturannya dan menjadi kaku sehingga ketika jantung berdenyut darah
harus melewati pembuluh darah yang sempit sehingga menaikkan tekanan
darah. Ketiga, kelainan fungsi ginjal untuk membuang sejumlah garam dan
cairan sehingga meningkatkan volume darah yang berdampak pada
peningkatan tekanan darah (Ridwan, 2009).
Menurut Anies

(2006)

peningkatan

tekanan

darah

melalui

mekanisme:
1. Jantung memompa lebih kuat sehingga mengalirkan darah lebih banyak
cairan setiap detiknya.
2. Arteri besar kehilangan kelenturannya dan menjadi kaku sehingga tidak
dapat mengembang saat jantung memompa darah melalui arteri
tersebut. Karena itu, darah dipaksa untuk melalui pembuluh darah yang
sempit dan menyebabkan naiknya tekanan darah. Penebalan dan
kakunya dinding arteri terjadi karena adanya arterosklerosis. Tekanan
darah juga meningkat saat terjadi vasokonstriksi yang diseabkan
rangsangan saraf atau hormon.
3. Bertambahnya cairan dalam sirkulasi dapat meningkatkan tekanan
darah. Hal ini dapat terjadi karena kelainan fungsi ginjal sehingga tidak
mampu membuang natrium dan air dalam tubuh sehingga volume darah

dalam tubuh meningkat yang menyebabkan tekanan darah juga


meningkat.

10

11

G. Komplikasi Hipertensi
Kondisi

hipertensi

yang

berkepanjangan

sangat

berpotensi

menyebabkan gangguann pembuluh darah di seluruh organ. Secara umum


kondisi hipertensi tidak dapat diprediksi secara dini akan menyerang organ
bagian mana, tergantung organ mana yang terlebih dahulu merespon
tekanan yang abnormal. Komplikasi yang ditimbulkan oleh hipertensi
antralain stroke, infak miokardium, gagal ginjal, dan ensefalopati
(Elizabeth, 2000).
H. Penatalaksanaan
Tujuan

penatalaksanaan

hipertensi

adalah

untuk

mencegah

komplikasi penyakit kardiovaskular dan mortalitas serta morbiditas yang


berkaitan. Tujuan terapi adalah mencapai dan mempertahankan tekanan
sistolik di bawah 140 mmHg dan tekanan diastolik di bawah 90 mmHg dan
mengontrol faktor risiko. Hal ini dapat dicapai melalui modifikasi gaya
hidup atau dengan obat anti hipertensi (Mansjoer, 2001).
Pengobatan utama hipertensi dengan diuretika, penyekat reseptor
beta-adrenergik, penyakit saluran kalsium, inhibitor ACE (angiotensinconverting enzyme), atau penyekat reseptor alfa-adernergik bergantung pada
keadaan pasien termasuk mengenai biaya, karakteristik demografi, penyakit
yang terjadi bersamaan, dan kualitas hidup (Pierce dan Wilson, 2005).
Pentalaksanaan yang dilakukan pada penderita hipertensi antaralain:
1. Penderita hipertensi yang mengalami berat badan dianjurkan untuk
menurunkan berat badannya sampai batas ideal.
2. Merubah pola makan dengan cara mengurangi pemakaian garam
3. Olah raga teratur yang tidak terlalu berat
4. Berhenti merokok karena merokok dapat merusak jantung dan sirkulasi
darah, Menghindari stress yang berlebih

12

BAB III
KONDISI SAAT INI
FORMAT PENGKAJIAN KEPERAWATAN KELUARGA
A. Pengkajian Keluarga
I.
Data Umum :
1. Nama Kepala Keluarga : Tn.K
2. Alamat dan Telepon
: Desa Rempoah
3. Pekerjaan Kepala Keluarga
: Pensiunan di Kecamatan
4. Pendidikan Kepala Keluarga : SMP
5. Komposisi Keluarga
No.

Nama

Jenis

Hubungan

Umur

Pendidikan

dengan KK
Suami

65 tahun

SMP

1.

Tn.K

Kelamin
L

2.

Ny.S

Istri

58 tahun

SMP

3.

Ny. L

Anak

31 tahun

SMA

4.

Ny.S

Ibu Ny.S

80 tahun

Genogram

Keterangan
Laki- laki

Perempuan

Meninggal laki-laki

Meninggal perempuan :
Tinggal serumah

13

Hub perkawinan
Menikah
Garis keturunan

:
:
:

6. Tipe Keluarga
Keluarga Ny.S termasuk keluarga besar (The extended family) yang
terdiri dari Tn.K (suami), Ny.S (istri), Ny.L (anak), Ny.S (Ibu Ny.S).
7. Suku bangsa
Jawa Indonesia. Tn. K berasal dari Purwokerto dan Ny. S juga
berasal dari Purwokerto
8. Status Sosial Ekonomi keluarga
Penghasilan keluarga kurang lebih 700.000/bln yang berasal dari
uang pensiun Tn. K, hasil dagangan Ny. S, dan gaji bulanan Ny. L.
9. Agama
Semua isi keluarga menganut agama islam. Tidak ada keyakinan
yang berdamak buruk pada status kesehatan keluarga Tn. K.
10. Aktivitas Rekreasi keluarga
Keluarga Tn. K biasanya menghabiskan waktu liburan ketika liburan
anak sekolah dengan berekreasi, baru-baru ini mereka berlibur
bersama ke Goa Lawa.
B. Riwayat Tahap Perkembangan Keluarga
1. Tahap Perkembangan Keluarga saat ini
Keluarga Tn. K berada dalam tahap perkembangan keluarga dengan
lansia
2. Tahap Perkembangan Keluarga saat ini
Tidak ditemukannya tahap perkembangan keluarga yang belum
terpenuhi anak pertama berusia 38 tahun, yang kedua berusia 35
tahun, anak ketiga 33 tahun, dan anak terakhir kembar berusia 31,
seluruhnya sudah bekerja dan berkeluarga. Tn. K dan Ny. S
mengatakan komunikasi dengan anak-anaknya bersifat terbuka dan
masing-masing anak tahu akan tugas dan kewajibannya sebagai
anak.
3. Riwayat keluarga inti
Ny.S mengatakan mempunyai riwayat penyakit keturunan yaitu
hipertensi. Karena ibu Ny. S juga mengalami hipertensi. Ny. S

14

mengalami hipertensi baru diketahui 3 bulan yang lau. Sedangkan


Tn. K menderita hipertensi semenjak 9 tahun lalu serta menderita
diabetes mellitus (DM).
Riwayat kesehatan masing-masing anggota keluarga
No

Nama

Umur

BB(

Imunisasi

Keadaan

Masalah

Tindakan

kg)

(BCG/poli

kesehatan

kesehatan

yang

o/DPT/HB

telah

dilakukan

/campak)
1.

Tn. K

65

68

Lengkap

Baik

Kg
2.

Ny.S

58

75
Kg

Tekanan

Tn. K dan

Darah Tinggi Ny. S rutin


Lengkap

Baik

Tekanan

mengikuti

Darah Tinggi posyandu


lansia yang
dilaksanakan
setiap
tanggal

sehingga
mereka rutin
mengecek
tekanan
darah. Tn. K
telah
mengonsums
i obat turun
tekanan
darah,
sedangkan
Ny. S tidak
mengonsums
i

15

4. Riwayat keluarga sebelumnya


Ny.K adalah anak pertama dari 4 bersaudara, akan tetapi ketiga
saudara Tn. K sudah meninggal dunia. Ny. S adalah anak satusatunya.
C. Lingkungan
1. Karakteristik rumah
Luas rumah Tn. K 200 m2 dengan panjang 10 m dan lebar 20 m.
Terdiri dari 4 kamar tidur, 1 ruang tamu, 1 ruang keluarga, 1 kamar
mandi, 1 dapur, dan 1 gudang. Setiap ruangan terdapat ventilasi.
Lantai rumah Tn. K menggunakan keramik. Sedangkan untuk
pembuangan saluran air dibuatkan pipa menuju belakang rumah
yang berdekatan dengan septitank, kira-kira 10 m dari belakang
rumah.
2. Karakteristik tetangga dan komunitas RW
Keluarga Tn. K dan Ny. S bertetangga dengan keluarga petani, supir,
pegawai desa, tukang cat dan bengkel. Semua tetangga Tn. K dan
Ny. S beragama islam.
3. Mobilitas geografis keluarga
Semenjak menikah samapai sekarang Tn. K dan Ny. S tidak
berpindah-pindah tempat.
4. Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat setempat
Keluarga Tn. K tergolong anggota masyarakat yang aktif dalam
mengikuti musyawarah dan kerja bakti yang diadakan di masyarakat.
Tn. K dan Ny. S juga aktif arisan RW dan aktif mengikuti pengajian
rutinan yang diadakan setiap hari Selasa.
5. Sistem pendukung keluarga
Ketika Tn. K dirawat di rumah sakit terkena demam berdarah dan
harus dirawat di rumah sakit Ny. S merawat dalam beberapa hari,
tetapi setelah itu yang merawat Tn. K anaknya, dikarenakan Ny. S
mengalami sakit juga.
D. Struktur Keluarga
1. Pola komunikasi keluarga
Keluarga Tn. K dan Ny. S melakukan komunikasi terbuka sehingga
anak-anaknya dapat memberi masukan tentang suatu hal kepada
mereka tanpa mengurangi rasa hormat terhadap orang tua. Tn. K

16

termasuk orang tua yang tegas terhadap anaknya jika melakukan


kesalahan.
2. Struktur peran keluarga
Tn. K merupakan pensiunan di kantor kecamatan dan Ny. S ibu
rumah tangga biasa yang berdagang makanan.
3. Struktur peran
- Tn. K sebagai kepala keluarga yang bertanggung jawab dalam
mengatur keluarga
- Ny. S sebagai istri dan ibu rumah tangga
- Ny. L sebagai anak dan bekerja di Purbalingga.
4. Nilai dan norma keluarga
Tidak ada nilai dan norma keluarga yang dapat mempengaruhi
penyakit mereka. Ny. S dan Tn. K sakit memang disebabkan karena
oleh suatu penyakit bukan karena hal-hal tertentu sehingga mereka
lebih memilih untuk memeriksaan kesehatannya ke dokter atau
membeli obat di warung.
E. Fungsi keluarga
1. Fungsi afektif
Tn. K dan Ny. S menganggap anaknya sudah tumbuh menjadi anakanak yang baik dan saling menghormati dalam keluarga meskipun
ada pertengkaran kecil mereka dapat menyelesaikannya dengan baik.
2. Fungsi sosial
Keluarga mereka beragama muslim dan aktif mengikuti pengajian
setiap hari Selasa.
3. Fungsi perawatan kesehatan
Keluarga dapat mengidentifikasi penyakit Tn. K dan Ny. S meskipun
secara awam. Untuk pengobatan pertama, biasanya Tn. K dan Ny. S
membeli obat di warung terdekat.
4. Fungsi ekonomi
Keluarga mengatakan kondisi ekonomi keluarga mereka dalam
kondisi stabil.
F. Stress dan koping keluarga
1. Stressor jangka pendek dan jangka panjang.
Tn. K dan Ny. S mengalami kecemasan ringan karena penyakit yang
diderita. Karena takut kondisinya semakin parah. Tn. K dan Ny. S
hanya bisa bersabar dengan keadaannya saat ini dan berusaha
semaksimal mungkin untuk kesembuhan dirinya.
2. Kemampuan keluarga berespon terhadap stressor

17

Tn. K dan Ny. S selalu rutin memeriksakan penyakitnya ke


puskesmas terdekat.
3. Strategi koping yang digunakan
Keluarga Tn. K selau membicarakan masalah keluarga bersama
anaknya.
4. Strategi adaptasi disfungsional
Tidak pernah terdapat perselisihan antara anggota keluarga saat
mengambil

keputusan,

karena

saat

menyelesaikan

masalah

mengunakan komunikasi terbuka.


G. Pemeriksaan fisik
N

Pemeriksaan fisik

Tn.K

Ny.S

Kepala

Simetris,

o
1.

rambut Simetris, rambut berwarna

berwana

hitam

terdapat

uban,

dan hitam dan terdapat uban,


kulit dan kulit kepala berminyak.

kepala bersih.
2.

Leher

Tidak ada peningkatan Tidak ada peningkatan vena


vena

jugularis,

dan jugularis, dan tidak ada

tidak ada teraba adanya teraba adanya pembesaran


pembesaran

kelenjar kelenjar tiroid.

tiroid.
3.

Mata

Konjungtiva
anemis,
katarak,
kacamata

tidak Konjungtiva tidak anemis,

tidak

ada tidak ada katarak, memakai

memakai kacamata
(plus)

(plus)

bila

bila membaca.

membaca.
4.

Telinga

Simetris, bersih, fungsi Simetris,


pendengaran baik.

5.

Hidung

Simetris,

bersih,

fungsi

pendengaran baik.

keadaanya Simetris, keadaanya bersih

bersih dan tidak ada dan tidak ada sekret.


sekret.
6.

Mulut

Mukosa mulut lembab, Mukosa

mulut

lembab,

18

tidak ada stomatitis.


7.

Dada/Jantung

tidak ada stomatitis.

Inspeksi : tidak ada lesi, Inspeksi : tidak ada lesi,


tidak

ada

retraksi tidak ada retraksi dinding

dinding dada, dan dada dada, dada simetris.


Auskultasi : bunyi paru
simetris.
Auskultasi : bunyi paru vesikuler, tidak ada suara
vesikuler,

tidak

ada jantung tambahan.


Palpasi : tidak adanya
suara
jantung
krepitasi.
tambahan.
Perkusi paru sonor.
Palpasi : tidak adanya
krepitasi.
Perkusi paru sonor.
TD: 160/90 mmHg
Nadi: 88 x/mnt
Suhu: 360C
RR: 23x/mnt
8.

Abdomen

TD: 190/110 mmHg


Nadi: 86 x/mnt
Suhu: 360C
RR: 24x/mnt

Inspeksi : tidak ada lesi, Inspeksi : tidak ada lesi,


tidak asites.
tidak asites, terdapat strie.
Auskultasi : bising usus Auskultasi : bising usus
12x/menit.
10x/menit.
Palpasi : tidak ada nyeri Palpasi : tidak ada nyeri
tekan.
Perkusi

tekan.
abdomen Perkusi abdomen dullnes.

dullnes.
9.

TTV
ekstremitas

dan TD : 160/90 mmHg


Nadi : 89x/menit
RR : 20x/menit
Suhu : 36, 7 0C

TD : 190/110 mmHg
Nadi : 96x/menit
RR : 18x/menit
Suhu : 37, 4 0C

H. Harapan Keluarga
Keluarga berharap Ny.S dapat sembuh dan petugas kesehatan dapat
memberi pelayanan kesehatan dengan baik.

ANALISA DATA
Fokus Pada diagnosa ini adalah Ny. S:

19

Problem
Etiologi
Risiko Tinggi Komplikasi Ketidakmampua

DO:

Symptom

Hipertensi

n Ny. S dalam

BB Ny. S = 75 kg

mengenali

TD Ny. S 190/110 mmHg

masalah

(Hipertensi)

Suhu : 360C
RR

: 86 x/mnt
: 24 x/mnt

DS:
-Ny. S mengatakan jika tekanan
darahnya tinggi akan merasakan
tidak enak pada tubuhnya, kepala
pusing, lehernya cekot-cekot.
Ny. S mengatakan baru tahu
terkena tekanan darah tinggi 3
bulan yang lalu, dan Ny. S tidak
mengonsumsi obat rutin untuk
tekanan darah tinggi, hanya
minum obat warung jika badan
terasa tidak enak.
-Ny. S mengatakan tidak
mengetahui apa itu tekanan darah
tinggi, yang dia ketahui hanya
jika pusing adalah tanda-tanda
naik darah. Ny. S mengatakan
hanya jika keadaannya tidak
kunjung membaik maka akan ke
Kesiapan meningkatkan

puskesmas.
DO:

perawatan diri

DS:
-

Ny. S mengatakan ingin

20

sekali tahu cara mengobati


-

tekanan darahnya
Ny. S mengatakan ingin tahu

cara diet yang benar


Ny. S mengatakan ingin
merawat Tn. K dan dirinya

jika bisa
Ny. Smengatakan tidak mau
merepotkan keluarga akibat
penyakitnya

Diagnosa Keperawatan:
1. Risiko Tinggi Komplikasi Hipertensi b.d Ketidakmampuan Ny. S dalam
mengenali masalah (Hipertensi)
2. Kesiapan meningkatkan perawatan diri Keluarga Tn. K

SKORING DIAGNOSA KEPERAWATAN


Risiko Tinggi Komplikasi Hipertensi b.d Ketidakmampuan Ny. S dalam
mengenali masalah (Hipertensi)
Kriteria

Sko

Bo

bot

Nilai

Pembenaran

21

1. Sifat masalah. Skala : aktual

3/3 x1=1

Masalah adalah

keadaan yang sudah

Resiko 2

terjadi dan perlu di

Potensial 1

lakukan tindakan
segera.

2.

Kemungkinan masalah dapat

x2=1

diubah.

ada dan tindakan

Skala :Mudah 2

untuk me-mecahkan

Sebagian 1

masalah dapat

Tdk dapat 0
3. Potensial masalah untuk

Sumber-sumber yang

dijangkau keluarga.
2

2/3x1=2/3

Masalah dapat

dicegah.

dicegah untuk tidak

Skala : Tinggi 3

memper-buruk

Cukup 2

keadaan dapat

Rendah 1

dilakukan Ny.S dan


keluarga dengan
memperbaiki perilaku

4.

hidup sehat.
Menonjolnya masalah.

2/2x1=1

Skala :

Masalah dapat
dicegah untuk tidak

masalah berat harus segera di

memper-buruk

tangani 2

keadaan dapat

Ada masalah tp tdk perlu

dilakukan Ny.S dan

ditangani 1

keluarga dengan

Masalah tidak dirasakan 0

memperbaiki perilaku
hidup sehat.

Jumlah skor =

3 2/3

Kesiapan meningkatkan perawatan diri Keluarga Tn. K


Kriteria

Sko

Bo

Nilai

Pembenaran

22

1. Sifat masalah. Skala :


2. aktual 3

r
1

bot
1

1/3 x1=1/3

cara untuk

Resiko 2

memperbaiki

Potensial 1
2. Kemungkinan masalah dapat

Masalah merupakan

kesehatan saat ini


1

x2=1

Sumber-sumber yang

diubah.

ada dan tindakan

Skala :Mudah 2

untuk me-mecahkan

Sebagian 1

masalah dapat akan

Tdk dapat 0

direncanakan dapat
dijangkau keluarga.

3. Potensial masalah untuk

2/3x1=2/3

dicegah.

Masalah dapat
dicegah untuk tidak

Skala : Tinggi 3

memper-buruk

Cukup 2

keadaan dapat

Rendah 1

dilakukan Ny.S dan


keluarga dengan

4.

memperbaiki perilaku
Menonjolnya masalah.
Skala :

hidup sehat.
2

2/2x1=1

Masalah dapat

masalah berat harus segera di

dicegah untuk tidak

tangani 2

memper-buruk

Ada masalah tp tdk perlu

keadaan dapat

ditangani 1

dilakukan Ny.S dan

Masalah tidak dirasakan 0

keluarga dengan
memperbaiki perilaku
hidup sehat.

Jumlah skor =

RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA

23

Diagnosa
Keperawatan

Tujuan
Umum

Khusus

Evaluasi
Kriteri Standar

- Gali
pengetahuan

Risiko Tinggi

Setelah

Setelah

a
Kognit1. Pelayanan

Komplikasi

dilakukan

dilakukan

if

Hipertensi b.d

tindakan

kunjunga

Ketidakmamp

keperawat

n 1 kali

uan Ny. S

an

selama

dalam

diharapka

60 menit

mengenali

n TD Ny.

Ny. S

masalah

S dapat

diharapka

pelayanan

(Hipertensi)

dikendalik

n:

kesehatan

an

1. mamp

kesehatan
2. Macam
pelayanan
kesehatan
3. Manfaat

4. Mengungka

u
menge
tahui
hipert

baik
3. mamp
u

keluarga
penyebab
hipertensi

untuk
menyebutkan
cara
tradisional
menurunkan

hipertensi:

hipertensi

- - Turunkan
Afektif BB
/Psiko - - Kontrol

- Jelaskan

motor

Tekanan

hipertensi

darah

secara alami

- - Olah raga

apkan

stres

kehidu

pengetahuan

Menurunkan

-Menghindari

pada

- Gali

keluarga

mener
diet

hipertensi

untuk

kes

yang

pengertian

pengetahuan

secara

diet

tentang

motivasi

nakan yan

tahui

keluarga

- Gali

menggu

menge

Tindakan

pkan

ensi
umum
2. mamp

Rencana

cara
menurunkan

- Gali
pengetahuan
keluarga
untuk
mengenal
cara

24

pan

pengobatan

sehari-

hipertensi

hari
4. mau

- Jelaskan
cara

mengi

pengobatan

kuti

hipertensi

anjura

- Beri motivasi

pada keluarga

dokter

untuk
mengulang
- Beri
reinforcement
positif pada
keluarga.

BAB IV
PEMBAHASAN
Keluarga Tn. K merupakan keluarga sederhana yang tinggal di daerah
Rempoah, Purwokerto Utara. Anggota keluarga yang tinggal bersama Tn. K
adalah Ny. S sebagai istri, Ny. L sebagai anak, dan Ny. S sebagai ibu mertua.
Seluruh keluarga tinggal di rumah dengan lebar 200 m 2. Tn. K merupakan
pensiunan pegawai kecamatan, Ny. S merupakan ibu rumah tangga yang
berdagang kecil-kecilan di rumahnya, sedangkan Ny. L merupakan karyawati
sebuah perusahaan bulu mata di Purbalingga. Saat ini kegiatan Tn. K adalah

25

bekerja di sawah untuk agar memiliki aktifitas. Saat di lakukan pemeriksaan


tekanan darah, didapatkan TD Tn. K yaitu 160/90 mmHg, sedangkan Ny. S
190/100 mmHg. Tn. K mengatakan bahwa beliau mengetahui tekanan darahnya
tinggi yaitu 9 tahun lalu dan tidak mengetahui apa penyebabnya, Tn. K memiliki
riwayat merokok tapi hanya bertahan 3 bulan. Ny. S mengetahui tekanan darahnya
tinggi baru 3 bulan yang lalu saat mengikuti posyandu lansia, dan juga tidak
mengetahui apa penyebabnya. Tn. K mengonsumsi obat penurun tekanan darah
tinggi, sedangkan Ny. S tidak mengonsumsi obat apapun. Ny. S mengatakan
sering merasakan lehernya sakit dan kepala pusing ketika tekanan darahnya naik,
Ny. S hanya mengonsumsi obat warung untuk meredakan sakitnya.
Setelah dilakukan pengkajian pada keluarga Tn. K kami mengambil diagnosa
RisikoTinggi Komplikasi Hipertensi b.d Ketidakmampuan Ny. S dalam mengenali
masalah (Hipertensi) dan Kesiapan Meningkatkan Perwatan Diri Keluarga Tn. K.
Diagnosa yang kami buat rencana keperawatannya yaitu diagnosa yang pertama
yaitu RisikoTinggi Komplikasi Hipertensi b.d Ketidakmampuan Ny. S dalam
mengenali masalah (Hipertensi), karena Ny. S telah mengalami gejala-gejala
aktual pada penderita hipertensi akibat tidak mengonsumsi obat penurun
hipertensi, selain itu Ny. S tidak mengetahui cara diet yang baik bagi penderita
hipertensi dan jarang berolahraga, rencana tindakan keperawatan yang diberikan
kepada Ny. S dapat dilihat di tabel rencana asuhan keperawatan keluarga diatas.
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Hipertensi adalah suatu keadaan dimana terjadi peningkatan tekanan
darah yang abnormal dengan diastol > 90 mmHg dan sistol > 140 mmHg
yang dipengaruhi oleh banyak faktor risiko. Hipertensi dibagi menjadi dua
golongan besar, yaitu hipertensi primer (essensial) dan hipertensi sekunder.
Hipertensi primer merupakan penyebab kematian terbesar dengan
presentase 90% dibandingkan dengan hipertensi sekunder dengan presentase
10% karena penyebab dari langsung (etiologi) dari hipertensi primer tidak
diketahui dan penderita yang mengalami hipertensi primer tidak mengalami
gejala (asimtomatik). Terapi hipertensi dibagi menjadi dua kelompok besar,

26

yaitu terapi medis dan non-medis. Kontrol pada penderita hipertensi sangat
diperlukan untuk mencegah komplikasi lebih lanjut
B. Saran
Untuk menurunkan resiko komplikasi hipertensi, pasien yang menderita
hipertensi hendaknya melakukan terapi medis maupun non-medis secara
kontinyu, melakukan pola gaya hidup sehat seperti olahraga teratur, diet
teratur sesuai dengan kebutuhan dan lain-lain.

DAFTAR PUSTAKA
Brunner & Suddarth. ( 2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, edisi 8,
volume 3. Jakarta : EGC.
Corwin, Elizabeth J.2000 . Buku Saku Patofisiologi. Jakarta : EGC
Dalyoko, D. A. P. (2010). Faktor-faktor yang berhubungan dengan upaya
pengendalian hipertensi pada lansia di posyandu lansia wilayah kerja
Puskesmas Mojosongo Boyolali.
Elsanti, S. (2009). Panduan Hidup Sehat Bebas Kolesterol, Stroke, Hipertensi &
Serangan jantung, Araska, Yogyakarta.
Gunawan, I. (2001). Hipertensi tekanan darah tinggi. Yogyakarta: Penerbit
Kansius.
Potter & Perry, 2005, Buku Ajar Fundamental Keperawatan: Konsep, Proses, dan
Praktik, Jakarta: EGC.

27

Smeltzer, S. C., & Bare, B. G. (2001). Buku ajar keperawatan medikal bedah (8
ed.). Jakarta: EGC.
Ridwan, Muhamad. 2009. Mengenal, Mencegah, Mengatasi Silent Killer
Hipertensi. Semarang: Pustaka Widyamara