Anda di halaman 1dari 69

Analisis Real A: Teori Ukuran dan Integral

Johan Matheus Tuwankotta 1

March 17, 2012

1 Departemen Matematika, FMIPA, Institut Teknologi Bandung, jl. donesia. mailto:theo@math.itb.ac.id

Ganesha no.

10, Bandung, In-

2

Daftar Isi

1 Sistem Bilangan Real

5

1.1 Himpunan .

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

5

1.2 Aksioma Bilangan Real

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

6

1.3 Fungsi dan Relasi

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

9

1.4 Bilangan Asli dan Bilangan Rasional

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

11

2 Topologi pada R dan Aljabar Himpunan

 

15

2.1 Barisan Bilangan Real

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

15

2.2 Himpunan Terbilang

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

18

2.3 Aljabar Himpunan

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

19

3 Ukuran Luar

21

3.1 Pendahuluan

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

21

3.2 Ukuran Luar

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

22

4 Keterukuran

27

4.1

Himpunan Terukur

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

27

5 Pengantar Teori Integral Lebesgue

 

31

5.1 Integral Riemann

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

31

5.2 Integral Lebesgue untuk fungsi sederhana

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

35

6 Integral Lebesgue dan Kekonvergenan dalam Ukuran

 

41

7 Fungsi Monoton dan Fungsi Bervariasi Terbatas

 

43

8 Teorema Dasar Kalkulus dan Kekontinuan Absolut

 

45

9 Ruang L p dan Ketaksamaan Holder dan Minkowski

47

10 Ukuran Luar dan Himpunan Terukur

 

49

11 Kekonvergenan dan Kelengkapan; Teorema Representasi Riesz

 

51

12 Ruang Berukuran dan Fungsi Terukur

 

53

13 Teorema Kekonvergenan

 

55

A Konstruksi Bilangan Real

59

A.1

A.2

A.3

. Perluasan lapangan .

Himpunan Terurut

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

61

62

Konstruksi Bilangan Real

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

63

 

3

4

DAFTAR ISI

Bab 1

Sistem Bilangan Real

Faith is the substance of things hoped for, the evidence of things not seen. (Hebrew 11:1)

1.1

Himpunan

Himpunan merupakan suatu objek yang sangat sederhana dalam arti hanya ada keanggotaan di dalamnya, tidak ada interaksi antar anggota. Suatu himpunan dapat dinyatakan dengan cara:

1. mendaftarkan anggota-anggotanya: {1, 2, 3, 4,

2. menuliskan formula atau aturan yang mendefinisikannya: {2n|n bilangan asli}.

.},

Jika a anggota dari himpunan A, kita tuliskan a A. Jika A, B dua buah himpunan, maka A B jika: anggota A adalah anggota B. Kita memiliki sebuah himpunan yang istimewa yaitu:

. Perhatikan bahwa karena tidak memiliki anggota, maka kalimat ”setiap anggotanya adalah anggota dari himpunan lain” senantiasa dipenuhi.

Lemma 1.1. Himpunan adalah bagian dari semua himpunan.

Definisi 1.2. Misalkan A dan B adalah dua buah himpunan. Maka

1. gabungan dari A dan B: A B = {x | x A atau x B}.

2. irisan dari A dan B: A B = {x | x A dan x B}.

3. jumlah A dan B:

A + B = {x | x A atau x B, tetapi x / A B}. Operasi ini dikenal

dengan ”exclusive or” dalam logika matematika.

4. komplemen dari A: A c = {x | x / A}.

5. pengurangan A oleh B: A\B = A B c = {x | x A tetapi x / B}.

Definisi 1.3. Misalkan A n , n N adalah himpunan-himpunan. Maka

dan

1

A n = {x | ∃n N sehingga x A n } ,

1

A n = {x | x A n

n N}.

Definisi ini dapat diperluas dengan mudah untuk himpunan sebarang sebagai indeks.

5

6

BAB 1.

SISTEM BILANGAN REAL

Definisi 1.4. Misalkan untuk setiap α ∈ J , A α adalah himpunan. Maka:

dan

α

A α = {x | ∃α ∈ J sehingga x A α } ,

α

A α = {x | x A α

α ∈ J }.

Dalam Definisi 1.3 J dapat berupa interval subset dari himpunan bilangan real.

Lemma 1.5. (Hukum de Morgan) Jika A dan B adalah dua buah himpunan, maka

Lebih umum,

(A B) c = A c B c dan

(A B) c = A c B c .

α

A

α c

=

(A α ) c

α

dan

α

A

α c

=

(A α ) c

α

1.2 Aksioma Bilangan Real

Bilangan real adalah himpunan bilangan yang sangat abstrak 1 . Ada beberapa pendekatan yang dikenal untuk mengkonstruksi bilangan real, misalkan dengan menggunakan Dedekind cuts. Pada Bab ini kita akan memperkenalkan bilangan real secara aksiomatis, yaitu dengan mendaftarkan sifat-sifat yang harus dipenuhi oleh himpunan tersebut.

1.2.1 Aksioma Lapangan

Misalkan R adalah himpunan bilangan real. Himpunan bilangan ini kita lengkapi dengan operasi penjumlahan + dan perkalian ·. Sistem (R, +, ·) memenuhi: A. Aksioma Lapangan:

A 1 . x + y = y + x,

untuk setiap x dan y di R.

A 2 . (x + y) + z = x + (y + z), untuk setiap x, y, z di R.

A 3 . 0 R sehingga x + 0 = x untuk setiap x R.

A 4 . untuk setiap x R terdapat w R sehingga x + w = 0.

A 5 . xy = yx untuk setiap x dan y di R.

A 6 . (xy)z = x(yz) untuk setiap x, y, z di R.

A 7 . 1

= 0 sehingga x · 1 = x untuk setiap x R.

A 8 . Untuk setiap x

= 0 terdapat v sehingga xv = 1.

A 9 .

x(y + z) = xy + xz.

Sifat A 1 sampai dengan A 4 dapat dituliskan sebagai: (R, +) adalah grup komutatif. Sifat A 5 sam- pai dengan A 8 adalah: (R\{0}, ·) membentuk grup komutatif. Sifat A 9 adalah hukum distributif. Elemen w pada sifat A 4 kita tuliskan sebagai: x sedangkan elemen v pada sifat A 8 kita tuliskan sebagai:

1

x .

1 Padahal namanya real (nyata)

1.2.

AKSIOMA BILANGAN REAL

7

Contoh 1.6. Contoh dari sebuah lapangan adalah: bilangan rasional Q. Pandang Z himpunan bilangan bulat yang dilengkapi dengan operasi penjumlahan seperti yang biasa kita kenal. Maka (Z, +) membentuk grup komutatif. Z dapat dilengkapi dengan operasi perkalian seperti yang biasa kita kenal. Tetapi (Z\{0}) tidak dapat membentuk grup komutatif terhadap operasi perkalian ini (karena sifat A 8 ) tidak terpenuhi). Maka definisikan:

Q = a

b

a, b Z, b

= 0 .

Operasi penjumlahan pada Z diperluas ke Q, dengan cara:

a

b +

c = ad + bc

d

bd

.

Perhatikan bahwa jika b = d = 1, maka kita mendapatkan penjumlahan bilangan bulat sesuai dengan penjumlahan di Z. Demikian pula dengan operasi perkalian pada Z kita perluas ke Q dengan cara:

a d = ac

b

c

bd .

Untuk b = d = 1 kita peroleh kembali perkalian pada Z. Perhatikan bahwa: setiap bilangan

b

rasional a = 0 memiliki invers perkalian yaitu:

b

a , karena

a

b ab = 1.

b

= ab

ba

= ab

a

Dapat ditunjukkan bahwa hukum distributif berlaku pada bilangan rasional.

1.2.2 Aksioma Urutan

Selain memenuhi aksioma lapangan di atas, bilangan real juga diasumsikan memenuhi: B. Ak- sioma Urutan. Misalkan P adalah suatu himpunan bagian dari R yang memenuhi:

B 1 . Jika x dan y di P maka:

B 2 . Jika x dan y di P maka:

x + y P .

xy P .

B 3 . Jika

x P maka

x

P .

B 4 . Jika

x P maka

entah x = 0 atau x P atau x P .

Setiap himpunan yang memenuhi Aksioma Lapangan dan Aksioma Urutan disebut: lapangan terurut. Akibat dari Aksioma Urutan, kita dapat mendefinisikan sebuah relasi: < yaitu:

a, b R.

a < b jika b a P,

Proposisi 1.7. Misalkan x < y dan z < w maka: x + z < y + w.

Bukti. Karena x < y maka y x P , dan karena z < w maka w z P . Dari B 1 kita simpulkan bahwa:

(y x) + (w z) = (y + w) (x + z) P,

dimana sifat-sifat lapangan telah kita gunakan. Jadi: x + z < y + w.

lapangan telah kita gunakan. Jadi: x + z < y + w . Proposisi 1.8. Misalkan

Proposisi 1.8. Misalkan 0 < x < y dan 0 < z < w maka xz < yw.

8

BAB 1.

SISTEM BILANGAN REAL

Bukti. Perhatikan bahwa 0 < x < y mengakibatkan: y x P , x P dan y P . Demikian pula:

0 < z < w mengakibatkan:

w z P , z P dan w P . Maka:

(y x)z = yz xz P.

Lebih lanjut lagi,

(w z)y = wy zy = yw yz P,

Maka:

Jadi: xz < yw.

(yz xz) + (yw yz) =

yw xz P.

. ( yz − xz ) + ( yw − yz ) = yw − xz

Himpunan bilangan P disebut himpunan bilangan positif, dan dapat dideskripsikan oleh:

P = {x R | 0 < x}

Himpunan invers penjumlahan dari unsur-unsur di P disebut himpunan bilangan negatif, dan dideskripsikan oleh:

P = {x R |

x P}.

Perhatikan bahwa P ∩ −P = , sehingga dipenuhi: R = P ∪ {0} ∪ P (pernyataan ini setara dengan sifat B 4 ).

Contoh 1.9. Himpunan bilangan rasional Q adalah contoh dari lapangan terurut.

1.2.3 Aksioma Kelengkapan

Kita menuliskan a b jika entah a < b atau a = b, dengan a, b R. Pandang S sebuah himpunan bagian dari R yang tak kosong. r R kita sebut sebagai batas atas dari S jika berlaku: x S, x r. Misalkan R = {r R | x r, x S}. Elemen r R sedemikian sehingga: r r untuk setiap r R, disebut batas atas terkecil atau supremum dari S, dan dinotasikan sebagai: sup(S). Sebaliknya: misalkan T = {t R | t x, x S}. Elemen-elemen dalam T disebut batas bawah dari S, dan jika ada t T sehingga t t untuk setiap t T , maka t disebut batas bawah terbesar atau infimum dari S, yaitu inf(S).

Contoh 1.10. Misalkan L adalah himpunan bilangan rasional positif yang memenuhi q L maka q 2 < 2 dan G = q Q | 2 < q 2 < 4, q > 0 . Keduanya adalah subset dari bilangan rasional yang terbatas. Misalkan 0 < p Q, dan pandang:

Akibatnya:

q 2 2

=

=

=

=

q = p p p 2 + 2 2

p p 2 2 p + 2

2

2

2p + 2 p + 2

4p 2

2

2

+ 8p + 4 2p 2 + 8p + 8

(p + 2) 2

2(p 2 2)

(p + 2) 2 .

(p + 2) 2

Jadi, p L jika dan hanya jika q L (demikian pula p G jika dan hanya jika q G). Misalkan p L, maka p 2 2 < 0. Jadi

q p = p p 2 + 2 2

> 0.

1.3.

FUNGSI DAN RELASI

9

Akibatnya, untuk setiap p L, senantiasa ada q L sehingga q > p. Perhatikan bahwa p L berarti p adalah suatu batas bawah bagi G. Jadi kita telah memperlihatkan bahwa G tidak memiliki infimum meskipun G adalah subset terbatas dari Q. Dengan cara yang serupa, kita dapat memperlihatkan bahwa L tidak memiliki supremum.

Himpunan bilangan real R diasumsikan memiliki: C. Aksioma Kelengkapan: setiap him- punan bagian dari R yang tak kosong senantiasa memiliki infimum dan supremum.

1.3 Fungsi dan Relasi

Misalkan X dan Y adalah dua buah himpunan. Kita dapat membentuk himpunan baru dengan melihat hasil kali Cartesius dari kedua himpunan, yaitu:

X × Y

= {(x, y) | x X dan y Y }.

Contoh 1.11. Misalkan A = {1, 2, 3, 4} dan B = {a, b, c}. Maka

A × B = {(1, a), (1, b), (1, c), (2, a), (2, b), (2, c), (3, a), (3, b), (3, c), (4, a), (4, b), (4, c)}.

Contoh 1.12. Misalkan X = [1, 3] dan Y = [1, 4]. Maka X × Y adalah himpunan

{(x, y) | 1 x 3, 1 y 4}

seperti pada Gbr 1.1.

≤ x ≤ 3 , 1 ≤ y ≤ 4 } seperti pada Gbr 1.1. Gbr.

Gbr. 1.1: Pada sumbu X terdapat interval [1, 3] dan pada sumbu y diletakan interval [1, 4]. Daerah yang dibatasi oleh persegipanjang dengan titik sudut (1, 1), (3, 1), (1, 4) dan (3, 4) adalah himpunan X × Y .

Pandang G f (X, Y ) X × Y sedemikian sehingga: jika (x, y 1 ) G f (X, Y ) dan (x, y 2 ) G f (X, Y ) maka y 1 = y 2 . Pemasangan x −→ y (jika (x, y) G f (X, Y )) disebut sebuah fungsi. Jadi fungsi adalah pengaitan:

f :

X

−→

Y

x

−→

y

sedemikian sehingga x dipetakan dengan tepat satu elemen y. Himpunan G f (X, Y ) disebut grafik dari f . Secara umum, himpunan bagian R X × Y mendefinisikan sebuah relasi. Jadi, fungsi

10

BAB 1.

SISTEM BILANGAN REAL

10 BAB 1. SISTEM BILANGAN REAL Gbr. 1.2: Seperti pada Gbr 1.1, daerah yang dibatasi oleh

Gbr. 1.2: Seperti pada Gbr 1.1, daerah yang dibatasi oleh persegipanjang dengan titik sudut (1, 1), (3, 1), (1, 4) dan (3, 4) adalah himpunan X × Y . Perhatikan terdapat dua kurva dalam daerah tersebut. Kurva yang digambarkan dengan garis tegas mendefinisikan sebuah fungsi, sedangkan yang dengan garis putus-putus bukan.

adalah sebuah relasi khusus dimana setiap anggota x X hanya dipetakan (dipasangkan) satu kali. Lihat Gambar 1.2. Suatu himpunan bagian A dari X sedemikian sehingga f terdefinisi untuk setiap x A disebut domain dari f , dan dinotasikan oleh D f . Sebaliknya, sebuah himpunan bagian B dari Y , sehingga untuk sebarang y B terdapat x A sehingga y = f (x) disebut range dari f , dinotasikan oleh:

R f . Perhatikan kembali Gambar 1.2. Misalkan f didefinisikan sehingga grafiknya G f (X, Y ) adalah kurva yang digambar dengan garis tegas. Maka domain dari f adalah: D f = [1, 2] sedangkan range dari f : R f = [1, 4]. Pandang A X sebarang, maka:

f (A) = {y Y | ∃x A sehingga f (x) = y}.

Kita tergoda untuk mendefinisikan f (A) = {f (x) jika x A}. Ini benar jika A ⊂ D f . Kembali

perhatikan Gambar 1.2, jika A = [ 3 , 5 2 ], maka f ( 21

10 ) tidak terdefinisi, sehingga menggunakan

alternatif kedua tidak memungkinkan. Sekarang pandang B Y sebarang. Maka:

2

f 1 (B) = {x ∈ D f | f(x) B}.

Himpunan ini dinamakan, prapeta dari B.

1.3.1 Relasi Ekivalen

Mari kita perhatikan kembali sebuah relasi: R ⊂ X × X, sedemikian sehingga:

1. (x, x) ∈ R untuk setiap x X.

2. Jika (x, y) ∈ R maka (y, x) ∈ R untuk setiap x, y X.

1.4.

BILANGAN ASLI DAN BILANGAN RASIONAL

11

Relasi ini disebut relasi ekivalen. Misalkan x X sebarang. Pandang

[x] = {y X | (y, x) ∈ R}.

Himpunan ini disebut kelas ekivalen.

Proposisi 1.13. Misalkan x dan y X sebarang. Maka entah [x] = [y] atau [x] [y] = .

Bukti. Misalkan [x] [y]

adalah relasi ekivalen, maka (x, y) R. Akibatnya: x [y] dan y [x]. Sekarang, ambil a [x] sebarang. Maka (a, x) ∈ R. Karena x [y] maka (x, y) ∈ R. Akibatnya, a [y]. Jadi [x] [y].

Karena R

= .

Ambil z [x] [y].

Maka (x, z) ∈ R dan (z, y) ∈ R.

Dengan cara yang sama kita dapat menunjukkan bahwa kebalikannya berlaku.

yang sama kita dapat menunjukkan bahwa kebalikannya berlaku. Perhatikan bahwa X = x ∈ X [

Perhatikan bahwa

X =

xX

[x].

Kita dapat mendefinisikan:

X\R = { [x] | x X} .

Misalkan X dilengkapi dengan operasi +, dan operasi tersebut memenuhi: jika (x, x ) ∈ R dan (y, y ) ∈ R maka (x + y, x + y ) ∈ R. Maka operasi tersebut disebut kompatibel dengan relasi R. Akibatnya pada X\R terdefinisi dengan baik operasi: +. Maka kita dapat menginduksi sebuah struktur aljabar pada ruang kuosien: X\R.

1.4 Bilangan Asli dan Bilangan Rasional

Untuk sementara, kita akan membedakan dua buah satu: 1 N dan 1 R. Misalkan ϕ : N −→ R, adalah sebuah fungsi yang memenuhi: ϕ(1) = 1 dan ϕ(n + 1) = ϕ(n) + 1. Fungsi ϕ adalah fungsi satu ke satu dari N ke R. Perhatikan bahwa:

ϕ(p + q)

=

ϕ(p + q 1) + 1

=

ϕ(p + q 1) + ϕ(1)

=

ϕ(p + q 2) + 1 + ϕ(1)

=

ϕ(p + q 2) + ϕ(1) + ϕ(1)

=

ϕ(p + q 2) + ϕ(1 + 1)

=

ϕ(p + q 2) + ϕ(2)

.

.

.

=

ϕ(p) + ϕ(q).

Lebih lanjut, perhatikan bahwa

ϕ(pq)

=

ϕ(p(1 + 1 +

+ 1))

=

ϕ(p + p +

+ p)

=

ϕ(p) + ϕ(p) +

+ ϕ(p)

 

=

ϕ(p)(1 + 1 + 1 +

+ 1)

=

ϕ(p)([ϕ(1) + ϕ(1)] + ϕ(1) +

+ ϕ(1))

=

ϕ(p)([ϕ(1 + 1)] + ϕ(1) +

+ ϕ(1))

.

.

.

=

ϕ(p)ϕ(1 + 1 + 1 +

+ 1)

=

ϕ(p)ϕ(q).

Jadi ϕ mendefinisikan suatu pemetaan satu ke satu dari N ke R yang mempertahankan kedua operasi pada N. Kedua operasi tersebut kemudian dapat diperluas ke Z dan ke Q.

12

BAB 1.

SISTEM BILANGAN REAL

Proposisi 1.14. Sebarang lapangan yang terurut X (memenuhi Aksioma Lapangan dan Aksioma Urutan) memiliki subset yang isomorfik dengan N, Z dan Q. Dalam pengertian ini kita katakan:

N X (atau lapangan terurut lainnya), Z X dan Q X. Lebih jauh lagi, Q adalah sublapangan dari X.

Proposisi 1.15. Aksioma Archimedes. Diberikan x R sebarang, maka terdapat suatu bilangan asli n sehingga x < n.

Bukti. Misalkan x < 0 maka pilih n = 0. Bukti selesai. Untuk x yang lain, pandang S = {k Z | k x}. Himpunan S terbatas di R oleh x, sehingga

menurut Aksioma Kelengkapan memiliki batas atas terkecil, misalkan y. Maka y 1 2 bukanlah

S. Ini

berarti: k > x. Pilih n = k.

Misalkan diberikan dua buah bilangan real x dan y, dan misalkan 0 x. Dengan menggunakan Aksioma Archimedes, dapat dipilih suatu bilangan asli: q sedemikian sehingga:

batas atas. Jadi, ada k S sehingga: k > y 2 . Akibatnya:

1

k + 1 > y + 2 > y. Jadi k

1

. Akibatnya: 1 k + 1 > y + 2 > y . Jadi k 1

1

1

y x < q, yang berakibat

q < y x.

Misalkan

S = {n N | yq n}.

Jelas: S

sehingga: inf(S) ada, misalkan p. Jadi:

= , juga diakibatkan oleh Aksioma Archimedes. Himpunan S terbatas dibawah oleh yq

p 1 < yq p, yang identik dengan:

p 1

q

< y p

q .

Perhatikan bahwa:

Jadi:

x = y (y x) <

p 1

= p 1 q

q

q

x < p 1

q

< y.

.

Proposisi 1.16. Di antara dua buah bilangan real senantiasa terdapat bilangan rasional.

Definisi 1.17. Himpunan bilangan real yang diperluas: R adalah himpunan bilangan real yang dilengkapi dengandan −∞. Aturan untuk operasi yang melibatkan kedua ”bilangan” tambahan tersebut adalah:

1. x + = , jika −∞ < x < .

2. x − ∞ = −∞ jika −∞ < x < .

3. x · ∞ = , jika 0 < x < .

4. x · −∞ = −∞, jika 0 < x < .

5. + = .

6. −∞ − ∞ = −∞.

7. ∞ · ∞ = .

8. ∞ · −∞ = .

9. −∞ · −∞ = .

1.4.

BILANGAN ASLI DAN BILANGAN RASIONAL

13

Latihan

1. Tunjukkan bahwa: f (

2. Periksa apakah: f ( A k ) = f(A k ).

3. Misalkan f

A k ) = f(A k ).

A

X

dan B

:

X

−→ Y ,

f 1 (f (A)) A.

Y .

Tunjukkan bahwa: f (f 1 (B)) B dan

4. Gunakan Aksioma Kelengkapan untuk membuktikan proposisi berikut.

Proposisi 1.18. Jika R = L U , dan untuk setiap l L dan u U berlaku: l < u, maka entah L memiliki elemen terbesar atau U memilikit elemen terkecil.

5. Tunjukkan bahwa 1 P (P seperti pada Aksioma Urutan).

6. Gunakan Aksioma Kelengkapan untuk menunjukkan bahwa setiap subset terbatas dibawah memiliki batas bawah terbesar.

14

BAB 1.

SISTEM BILANGAN REAL

Bab 2

Topologi pada R dan Aljabar Himpunan

2.1 Barisan Bilangan Real

Pandang sebuah fungsi:

f :

N

−→

R

n

−→

a n .

Fungsi seperti ini disebut: barisan pada R. Jika domain dari sebuah barisan adalah seluruh N maka

barisan disebut barisan tak berhingga. Jika domain dari barisan tersebut adalah: {1, 2, 3, untuk N N, maka barisan dikatakan berhingga. Kita definisikan fungsi:

, N }

|

|

:

R

−→

R

 

|x| =

x

x 0,

 

x

−→

x

x < 0.

Definisi 2.1. Misalkan {x n } adalah barisan bilangan real.

1. {x n } dikatakan konvergen ke x di R jika untuk setiap bilangan positif ε, ada N sedemikian sehingga:

N

n > N =⇒ |x n x| < ε.

Jika suatu barisan konvergen, maka titik konvergensinya (disebut juga titik limitnya) tung- gal.

2. {x n } dikatakan Cauchy jika untuk setiap bilangan positif ε terdapat N N sedemikian sehingga:

n > N =⇒ |x n x m | < ε.

Teorema 2.2. Jika {x n } konvergen, maka {x n } Cauchy.

Bukti. Misalkan x n x, jika n → ∞. Ambil ε > 0 sebarang. Pilih N sedemikian sehingga:

|x n x| < 2 ε , n > N.

Untuk sebarang m, n N berlaku:

|x m x n | = |x n x + x x m | ≤ |x n x| + |x m x|.

Akibatnya, jika n > N dan m > N , haruslah berlaku:

Jadi {x n } Cauchy.

|x m x n | ≤ 2 ε + 2 ε = ε.

15

m > N , haruslah berlaku: Jadi { x n } Cauchy. | x m −

16

BAB 2.

TOPOLOGI PADA R DAN ALJABAR HIMPUNAN

Secara umum, konvers (kebalikan) dari Teorema di atas tidak berlaku. Sebagai contoh: pan- dang barisan bilangan rasional:

q n+1 = q n q n

q n 2 + 2 2 , n = 1, 2, 3,

dengan q 1 = 1. Jika barisan {q n } konvergen, maka titik limitnya adalah bilangan positif q yang memenuhi: q 2 2 = 0. Tetapi tidak ada bilangan rasional yang bisa memenuhi persamaan terse-

but. Sebagai barisan bilangan real, barisan tersebut konvergen ke 2, sehingga {q n } Cauchy.

Barisan diatas adalah contoh yang sama yang kita gunakan untuk menunjukkan bahwa lapan- gan bilangan rasional tidak lengkap. Jadi, barisan Cauchy identik dengan barisan konvergen apabila kita bekerja pada lapangan yang lengkap. Sebelum kita buktikan pernyataan ini, kita akan membuktikan pernyataan berikut ini.

Lemma 2.3. Barisan Cauchy senantiasa terbatas.

Bukti. Misalkan {x n } adalah barisan Cauchy. Pilih N sedemikian sehingga, jika n, m > N 1, |x n x m | < 1. Maka, khususnya jika m = N berlaku:

|x n x N | < 1, n > N.

Pernyataan ini identik dengan:

x N 1 < x n < x N + 1.

Pilih:

M = max{x 1 , x 2 ,

,

x N + 1} dan m = {x 1 , x 2 ,

, x N 1}.

Maka {x n } terbatas di atas oleh M dan di bawah oleh m .

Teorema 2.4. Lapangan terurut F memenuhi Aksioma Kelengkapan jika dan hanya jika setiap barisan Cauchy di F konvergen.

Bukti. Misalkan F adalah lapangan terurut yang memenuhi aksioma kelengkapan dan {x n } adalah barisan Cauchy di F. Maka berlaku: x n > m untuk suatu m F. Pandang:

> m ◦ untuk suatu m ◦ ∈ F . Pandang: S n = { x

S n = {x F |

m