Anda di halaman 1dari 4

Kamis, 15 Februari 2007 06:16:54

Artikel Iptek
Pencegahan Banjir : Padat Teknologi Tinggi Atau Konservatif?
Oleh Arien Heryansyah
Setelah diramaikan dengan berita krisis air berkepanjangan beberapa waktu lalu, Bumi
Gemah Ripah Loh Jinawi yang bernama Indonesia ini mendapat sumbangan dari dunia
pers berupa berita meluapnya beberapa sungai, yang menyebabkan kerugian yang tidak
kecil. Padahal hanya beberapa waktu sebelumnya, sungai-sungai tersebut 'disalahkan' karena
tidak memberikan air nya saat krisis air. Kejadian yang berulang sejak jaman purba di sekitar
'Jabotabek' ini memberikan inspirasi beberapa orang Engineers (Belanda) untuk membuat
reservoir yang bisa menampung air ketika sedang berlebih, dan dapat menyuplai air ketika
sedang dibutuhkan. Maka dibuatlah reservoir tersebut di daerah sekitar Serpong dan Depok
sekarang. Dengan kata lain, adalah aneh jika Depok atau Serpong tidak tergenang disaat air
sedang melimpah seperti saat ini, karena kedua daerah tersebut memang dialokasikan sebagai
reservoir. Mungkin ide para engineers (Belanda) tersebut yang disalahkan: "Mengapa kalian
membuat reservoir permukaan? Mengapa tidak dibuat reservoir di bawah tanah saja?" Nah,
artikel ini berusaha menyajikan apa yang disebut reservoir bawah tanah ini.
Cikal Bakal
Jepang menata kembali sendi-sendi kehidupannya mulai dari nol, setelah kalah perang pada
tahun 1945 lalu. Program konsolidasi lahan, yang menjadi kerangka dasar program recovery
tersebut, mempunyai efek samping yaitu meningkatnya harga tanah. Sejalan dengan hal tersebut,
teknologi kontruksi berkembang vertikal, yaitu ke atas (gedung-gedung pencakar langit) dan ke
bawah (bunker). Seperti kita lihat saat ini, betapa banyak stasiun kereta api yang berada di bawah
tanah khususnya di sekitar Tokyo.

Gambar 1. Struktur reservoir bawah permukaan beserta neraca airnya


Secara umum pun system drainase perkotaan mempunyai karakteristik 'sempit dan dalam', atau
bahkan ada yang seluruhnya merupakan system drainase bawah permukaan. Teknologi bawah
tanah itu pula yang digunakan oleh pertanian di Jepang untuk menjaga agar air tanah tidak turun
drastis, sehingga lahannya tetap layak untuk ditanami. Pada perkembangannya, air tanah yang
dikontrol kedalamannya tersebut digunakan untuk mengairi lahan, sehingga nama reservoir
bawah permukaan menjadi lebih tepat. Reservoir bawah permukaan di Miyakojima, Kepulauan
Ryukyu, Selatan Jepang, yang mempunyai kapasitas 20 juta meter kubik mungkin bisa dijadikan
areal percontohan dengan intensifnya penelitian mengenai efek reservoir tersebut terhadap
ekosistem. Meskipun kapasitasnya jauh lebih kecil dari kapasitas Waduk Jatiluhur yang
mencapai 3000 juta meter kubik, Reservoir Miyakojima dianalogikan dapat menurunkan banjir
Jakarta tahun 2002 sebesar 12.5 cm, dimana saat itu 24.25% areal Jakarta terendam setinggi
5meter.
Kelebihan dan kekurangan
Reservoir bawah tanah, yang dalam hal ini berhubungan erat dengan air tanah dangkal (kurang
dari 40m), mempunyai beberapa keunggulan jika dibandingkan dengan reservoir biasa,
diantaranya adalah : (1) Tidak memerlukan lahan. Lahan yang biasanya rusak akibat digenangi,
dapat digunakan seperti apa adanya. Dengan demikian reservoir bawah permukaan hampir tidak
mempunyai pengaruh dalam hal perubahan tata guna lahan, di samping tidak harus melakukan
pindah paksa bagi penduduk setempat. Habitat hidupnya parasit (nyamuk dan kuman lainnya)
yang berupa 'genangan' air pun tereliminasi. Keuntungan berikutnya (2) adalah kehilangan air

akibat evaporasi dapat ditekan ke tingkat yang minim (nol). Pada reservoir biasa, kehilangan air
akibat evaporasi dapat mencapai 5mm per hari, setara 3 juta meter kubik untuk areal seluas DKI
Jakarta. Kualitas air yang diperoleh dari reservoir bawah tanah ini relative lebih baik, sebagai
kelebihan yang lain (3). Dengan demikian biaya pemrosesan air untuk keperluan domestik dapat
dikurangi. Hilangnya resiko kerusakan di daerah hilir akibat runtuhnya dam/jebolnya reservoir
juga merupakan kelebihannya yang lain (4). Jebolnya dam adalah merupakan hal yang hampir
mustahil, dari sisi stabilitas dam, mengingat sisi hulu dan hilir ditopang oleh tanah. Jika
sustainability turut diperhitungkan, reservoir bawah tanah ini juga mempunyai nilai plus (5). Air
tanah dangkal yang dimanfaatkan itu berasal dari hujan, sehingga tidak mengganggu deposit air
yang dikategorikan barang tambang.
Di luar begitu banyaknya kelebihan reservoir bawah tanah tersebut, ternyata ada kekurangan
yang menjadi titik kritis dari penerapan reservoir bawah tanah ini, yaitu masalah pemilihan
lokasi, konstruksinya yang padat teknologi tinggi, pengaruhnya terhadap kondisi air tanah di
daerah hilir, serta penumpukan garam di lokasi reservoir. Penetapan lokasi reservoir bawah tanah
ini lebih berdasarkan perkiraan struktur geologi bawah permukaan. Hal ini disebabkan
pengukuran detil memerlukan alat survai yang bisa jadi belum tersedia, serta memerlukan
metodologi yang rumit sehubungan tidak bisa dilakukannya pengamatan visual.
Sebagai contoh adalah pengukuran effective porosity, yang berarti besarnya ruangan di dalam
tanah yang bisa diisi air, dalam bahasa umum. Kehandalan data tersebut hanya bisa didapat dari
pengukuran contoh tanah. Hal ini berarti diperlukan contoh tanah yang luar biasa banyak untuk
bisa memetakan kapasitas reservoir bawah tanah secara tepat di suatu lokasi. Penetapan lokasi
reservoir juga perlu mempertimbangkan pergerakan air tanah untuk menjaga kesetimbangan
antara daerah hulu dan hilir. Mengingat studi mengenai pergerakan air tanah masih sangat jarang,
disain dan penetapan lokasi reservoir menjadi seolah olah berdasarkan pada hal yang abstrak.
Kembali ke Alam
Bedasarkan uraian di atas, adalah hampir tidak mungkin menerapkan reservoir bawah permukaan
sebagai sarana pencegahan banjir, khususnya di DKI Jakarta. Padahal dalam perhitungan kasar,
untuk menghilangkan banjir setinggi 5 meter hanya diperlukan reservoir berukuran luas yang
sama dengan genangan banjir dan kedalaman 20 meter pada lapisan tanah yang mempuyai
effective porosity sebesar 25%, kondisi umum tanah di Indonesia. Disain dan kontruksi reservoir
bawah tanah tersebut pun akan terbentur masalah biaya dan ketersediaan data, masalah klasik di
Negara berkembang. Kemudian, apakah ada manfaatnya dari teknologi reservoir bawah tanah
ini? Tentu saja, ada yaitu, reservoir bawah tanah itu lokasinya bukan di lokasi banjir, melainkan
di daerah hulunya untuk mengurangi kedalaman reservoir dengan cara memperluas permukaan
reservoir.
Kemudian dengan berbagai cara berusaha memasukkan air hujan ke dalam reservoir bawah
permukaan tersebut, misalnya menggunakan sumur resapan. Tapi kembali, hal ini akan menjadi
mentah mengingat hanya sedikit studi mengenai sumur resapan ini, baik konstruksi ataupun
pemilihan lokasinya. Kesalahan penempatan sumur resapan bisa mengakibatkan Land slide, atau
bahkan longsor. Penelusuran teknologi kuno bisa menjawab masalah ini, yaitu dengan
menggunakan pohon pohon besar (tingginya lebih dari 10 meter). Pohon pohon besar membantu

menangkap air hujan dan memasukkannya ke dalam tanah, sementara system perakaran pohonpohon besar menjaga kestabilan tanahnya. Akhirnya, terbukti gabungan antara teknologi terkini
(reservoir bawah permukaan) dan teknologi kuno (penanaman pohon pohon besar di daerah
hulu) diharapkan menjadi solusi atas bencana banjir ini. Solusi yang sudah diketahui oleh
sebagian besar masyarakat Indonesia dan para pengambil keputusan, tinggal apakah kita mau
melakukannya.
Penutup
Tidak jarang teknologi 'kuno' dengan sedikit penyesuaian dapat memecahkan masalah rumit dan
padat teknologi tinggi. Tentu kita pernah mendengar bahwa ketika USA menciptakan alat tulis
yang yang bisa bekerja pada gravitasi zero, Rusia hanya mendisain ulang pinsil. Atau ketika
USA menciptakan bom pintar yang bisa mendeteksi 'asam amino' (manusia), tentara Vietnam
menggunakan 'air seni' untuk mengecohnya..

Gambar 2. Skema manajemen air (mitigasi banjir dan krisis air) menggunakan reservoir
bawah permukaan
Arien Heryansyah. Peneliti ISTECS ; Environmental Hydrology and Watershed Management,
Utsunomiya University