Anda di halaman 1dari 20

Just for you and us

made with pride

IndoMrGumala

@IndoMrGumala

Dibuat Oleh :
Agung Fathurahman

3112110049

Amelia Sulistiani

3112110011

TEKNIK KONSTRUKI GEDUNG


JURUSAN TEKNIK SIPIL
POLITEKNIK NEGERI JAKARTA
DEPOK 2015

BAB I
PENDAHULUAN
Berangkat dari niat untuk mendalami dunia usaha yang terbuka lebar serta keinginan untuk memberikan
manfaat yang lebih besar bagi masyarakat maka dengan segenap pengalaman, pengetahuan, dan berbagai
hasil survey serta konsultasi, penulis menyusun proposal pengembangan usaha jamur tiram ini.
Pengembangan usaha ini dipilih atas beberapa pertimbangan diantaranya daya serap pasar yang masih
sangat tinggi dan potensial, kebutuhan skill yang tidak begitu tinggi, biaya investasi yang relatif rendah serta
telah tersedianya sarana dan prasarana utama sehingga investasi yang masuk akan dialokasikan untuk dana
operasional usaha.
Budidaya jamur tiram putih yang bernama latinPleurotusostreatus ini masih tergolong baru. Di Indonesia
budidaya jamur tiram mulai dirintis dan diperkenalkan kepada para petani terutama di Cisarua, Lembang, Jawa
Barat pada tahun 1988, dan pada waktu itu petani dan pengusaha jamur tiram masih sangat sedikit.Sekitar
tahun 1995, para petani di kawasan Cisarua, yang semula merupakan petani bunga, peternak ayam dan sapi

mulai beralih menjadi petani jamur tiram meski masih dalam skala rumah tangga.Dalam perkembangannya,
beberapa industri berskala rumah tangga bergabung hingga terbentuk CV dan memiliki badan hukum.

Sekilas Tentang Jamur Tiram.


Jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus) merupakan salah satu jamur kayu yang sangat baik untuk
dikonsumsi manusia.Selain karena memiliki cita rasa yang khas, jamur tiram juga memiliki nilai gizi yang
tinggi. Jamur tiram mengandung protein sebanyak 19 35 % dari berat kering jamur, dan karbohidrat
sebanyak 46,6 81,8 %. Selain itu jamur tiram mengandung tiamin atau vit.B1, riboflavin atau vit.B2, niasin,
biotin serta beberapa garam mineral dari unsur-unsur Ca, P, Fe, Na, dan K dalam komposisi yang seimbang.
Bila dibandingkan dengan daging ayam yang kandungan proteinnya 18,2 gram, lemaknya 25,0 gram, namun
karbohidratnya 0,0 gram, maka kandungan gizi jamur masih lebih lengkap sehingga tidak salah apabila
dikatakan jamur merupakan bahan pangan masa depan.
Selainitujuga jamur tiram juga bermanfaat dalam pengobatanyaitu:dapat menurunkan tingkat kolesterol
dalam darah. Memiliki kandungan serat mulai 7,4 % sampai 24,6% yang sangat baik bagi pencernaan.
Antitumor, antioksidan dan lain lain.

Budidaya jamur tiram memiliki prospek ekonomi yang baik.Jamur tiram merupakan salah satu produk
komersial dan dapat dikembangkan dengan teknik yang sederhana. Selain itu, konsumsi masyarakat akan
jamur tiram cukup tinggi, sehingga produksi jamur tiram mutlak diperlukan dalam skala besar.
Jamur tiram tumbuh pada serbuk kayu, khususnya yang memiliki serat lunak seperti jenis kayu albasiah.
Suhu optimum untuk pertumbuhan tubuh buah jamur tiram adalah 20 28C, dengan kelembaban 80 90 %.

A. Latar Belakang
Pemilihan bentuk usaha budidaya jamur tiram ini dilatarbelakangi oleh :
Budidaya jamur tiram memiliki prospek ekonomi yang baik. Pasar jamur tiram yang telah jelas serta permintaan pasar yang

selalu tinggi memudahkan para pembudidaya memasarkan hasil produksi jamur tiram.
Jamur tiram merupakan salah satu produk komersial dan dapat dikembangkan dengan teknik yang sederhana. Bahan baku yang
dibutuhkan tergolong bahan yang murah dan mudah diperoleh seperti serbuk gergaji, dedak dan kapur, sementara proses

B. Visi

budidaya sendiri tidak membutuhkan berbagai pestisida atau bahan kimia lainnya.
Membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar pertanian jamur tiram.
Media pembelajaran yang bertanggung jawab bagi penulis dalam memasuki dunia bisnis.

Menjadi industri budidaya jamur tiram yang dapat bersaing, menghasilkan produk dengan kualitas baik serta memenuhi kebutuhan
jamur tiram dalam negeri khususnya daerah Lampung sekitarnya dan Indonesia pada umumnya.

C. Misi
Meningkatkan taraf hidup petani dengan menghasilkan jamur berkualitas baik.
Memperkenalkan jamur tiram secara luas kepada masyarakat melalui pendekatan kualitas (cita rasa, mutu dan kesegaran) dan

pendekatan pelayanan konsumen.


Membuka pelatihan budidaya jamur tiram kepada masyarakat secara luas.
Mensosialisasikan manfaat jamur tiram bagi kesehatan masyarakat sekitar Bandung pada khususnya dan Indonesia pada
umumnya.

BAB II
ANALISIS PASAR

A. Deskripsi Produk
Produk jamur tiram yang dihasilkan berupa :
Menghasilkan berbagai jenis jamur tiram yang berkualitas baik.
B. Prospek Pasar
Budidaya jamur tiram di Kecamatan Pringsewu telah memiliki pasar yang jelas.Hampir semua petani jamur tiram memiliki
hubungan dengan pedagang yang siap menerima hasil produksi jamur tiram dari petani dengan harga yang cukup tinggi bila dibandingkan
dengan tanaman sayuran lainnya.
1. Dari hasil analisis pemesanan yang dilakukan oleh para pedagang jamur terhadap petani jamur tiram sangat jelas terlihat
prospek yang sangat baik, petani jamur tiram hanya mampu memnuhi permintaan pasar sekitar 75 % dari 1,25 ton/hari yang
dibutuhkan , dengan begitu petani sangat besar kemungkinan untuk membesarkan usahanya untuk memenuhi permintaan pasar.
2. Masyarakat semakin sadar pentingnya mengkonsumsi jamur untuk tujuan kesehatan.

3. Jamur saat ini dikonsumsi sebagai pengganti daging selain dari beralihnya pola makan masyarakat kepada bahan pangan
organik.
C. Kebutuhan dan Kecenderungan Pasar
Target market usaha ini adalah konsumen jamur dari house need sehingga kebutuhan akan jamur tiram masih tergolong tinggi
dan pemenuhannya masih terbatas pada pasar tradisional pada umumnya dan beberapa retail pada beberapa kota besar.
Sementara itu kecenderungan pasar akan jamur tiram masih tergolongkan pada secondary goods, namun permintaan pasar masih
tinggi. Sebaliknya pada segmen hotel dan restoran yang kebutuhan akan jamur tiramnya cukup tinggi suppliers jamur tiram masih
minim dan masih sangat dibutuhkan.
Kecenderungan dari hotel dan restoran yang paling penting untuk disikapi adalah pelayanan akan faktor satisfaction
penyediaan barang, mulai dari ketepatan waktu, jenis pambayaran, layanan purna jual, dan yang paling utama penurunan harga jual.
D. Target Pasar
Pada tahun-tahun awal, pemasaran produk difokuskan pada pasar domestik, traditional market, dan house need.
Produk jamur segar yang dihasilkan akan dipasarkan ke / melalui :
1. Agen baik dalam skala besar maupun kecil, yang selanjutnya akan dikirim ke berbagai wilayah di Bogordan sekitarnya.
2. Pasar swalayan, restoran, dan hotel. Pemasaran direncanakan akan dilaksanakan melalui sektor tersebut apabila produksi telah
stabil serta sarana dan prasarana telah memadai.

E. Proyeksi Pengembangan Usaha

Usaha ini diorientasikan sebagai usaha kecil menurut banyak pakar ekonomi, namun usaha tersebut dipandang sebagai tulang
punggung dalam salah satu pemulihan ekonomi Indonesia. Untuk itu pengembangan budidaya jamur ini akan dibagi dalam tiga tahap,
yaitu: tahap industri kecil awal, tahap industri kecil lanjut, dan tahap industri menengah. Penjelasan mengenai ketiga tahap industri
tersebut adalah sebagai berikut :
1. Tahap Industri Kecil Awal
Tahap ini merupakan langkah awal menuju terbentuknya industri padat karya yang kuat dan kokoh.
Menerapkan standar produksi yang tepat untuk mengoptimalkan hasil budidaya jamur.
Penyempurnaan sistem produksi, keuangan dan distribusi.
Penambahan tenaga kerja.
Pencarian investor (guna penambahan modal usaha yang di orientasikan perkembangan perusahaan).
Tahap industri kecil awal ini merupakan jembatan menuju berdirinya industri kecil yang kokoh.
2. Tahap Industri Kecil Lanjut.
Tahap ini merupakan pengembangan dari tahap industri kecil awal. Setelah kebutuhan dana mencukupi, dan seluruh kekurangan
telah dapat diatasi, maka dimulailah industri kecil lanjut yang ditargetkan untuk memiliki perijinan dan pembentukan badan
usaha. Industri ini diharapkan mampu menyerap banyak tenaga kerja, mulai dari pekerja kasar di bagian produksi hingga
profesional di bidang pemasaran, R &D dan administrasi.Tahap industri kecil lanjut ini merupakan jembatan menuju berdirinya
industri menengah yang mampu menghasilkan jamur tiram hingga 75 % kebutuhan pasar.
3. Tahap Industri Menengah Nasional.
Secara umum, tahap industri menengah adalah perluasan dari industri kecil, mulai dari sistem, kapasitas produksi hingga
ekspansi distribusinya.Tidak tertutup kemungkinan untuk melakukan ekspor.Tahap ini diharapkan dapat menyerap menyerap
tenaga kerja lebih banyak.

BAB III
ANALISIS OPERASIONAL
A. Lokasi Produksi
Lokasi usaha terletak di Jalan Ciapus Raya 100 Km. 8 Bogor, Jawa Barat.
B. Kapasitas Produksi
Diperkirakan dalam tahap awal memproduksi sekitar 3750 baglog.Panen dilakukan setelah 2 minggu penanaman jamur tiram dan
panen dilakukan 3 kali dalam 1 minggu penanaman tersebut hanya mampu memenuhi 75 % kebutuhan pasar.

C. Proses Produksi
Proses produksi dijelaskan dalam bagan sebagai berikut.
D. Investasi Yang Dibutuhkan.
Investasi awal yang dibutuhkan adalah sebesar 70 juta rupiah. Investasi diperoleh dari uang yang terkumpul pada setiap pendiri
usaha.

E. Rancangan Produksi
Sebagai gambaran, sarana dan prasarana utama seperti bangunan kumbung dan kelengkapannya dalam pengembangan usaha ini
telah tersedia sehingga investasi yang ada akan difokuskan untuk biaya operasional usaha.
F. Profil dan Struktur Kepengurusan.
Struktur kepengurusan dibuat sesederhana mungkin sehingga selama tahap industri rumah tangga, tiap pengurus memegang jabatan
rangkap. Susunan kepengurusannya adalah sebagai berikut :
Satu orang Manajer Utama merangkap Manager Pemasaran bertugas mengelola perusahaan secara umum. Sebagai seorang
Manager Pemasaran, ia pun bertugas membuka pasar, melakukan negosiasi bisnis dan memastikan produk dipasarkan dengan
baik dan sampai ke konsumen tanpa masalah.

Satu orang Manajer Operasional Harian merangkap Manager Produksi. Direktur Operasional dan Manajer Produksi bertanggung
jawab terhadap kelancaran produksi secara keseluruhan, melakukan pengembangan bibit, memastikan produk berada dalam

kondisi baik.
Satu orang Manajer Keuangan. Manajer Keuangan bertugas melakukan analisis keuangan dan memiliki pertanggungjawaban
penuh pada pengaturan arus pengembalian modal dan pembagian keuntungan pada investor. Bersama dengan manajer lainnya
juga berkordinasi dalam melakukan pengembangan dan ekspansi skala produksi secara bertahap.
Dalam target jangka panjang, setelah memasuki tahap industri menengah, susunan kepengurusan akan disempurnakan dengan
penambahan pengurus baru dan tidak ada lagi jabatan rangkap. Divisi produksi akan diorientasikan sebagai divisi padat karya,
sehingga mampu menyerap banyak tenaga kerja. Tenaga kerja terlatih akan direkrut dari lulusan yang cakap dan ulet, dan tenaga
pemasaran akan ditambah sesuai dengan kapasitas produksi berjalan.

BAB IV
ANALISIS KEUANGAN
A. Analisis Modal Yang Di Butuhkan (Skala Produksi 3750 log)
1. Modal tetap
Lahan (10 m x 7 m) = Rp. 25.000.000
2. Biaya Penyusutan
Biaya pembuatan Gubuk = Rp. 10.000.000
3. Modal kerja (Biaya operasional)
a. Bahan baku untuk 3750 log
Biaya 3750 baglog = Rp. 7.500.000
b. Gaji pegawai
Jumlah total per musim = Rp.3.000.000
c. Operasional = Rp. 500.000

4. Total Modal = Modal tetap + modal Penyusutan + Modal Kerja


= Rp. 25.000.000 + Rp. 10.000.000 + Rp. 11.000.000
= Rp. 46.000.000
B. Modal Yang Terkumpul
Diperoleh dari 3 orang pendiri Usaha :
3 orang x Rp. 10.000.000 = Rp. 30.000.000
C. Tambahan Modal Yang Dibutuhkan
Total Modal Modal Yang Terkumpul = Rp. 46.000.000 -Rp. 30.000.000
= Rp. 16.000.000
D. Perhitungan Pendapatan
1. Pendapatan kotor
Produksi jamur (kegagalan 20%) = (3750 x 20%) x 0,25 kg
= 750 kg
750 kg x 7000 = Rp. 5.250.000/hari
2. Biaya Produksi 1 kali penanaman = Biaya bahan baku + Biaya Pekerja + operasional
= Rp. 7.500.000 + Rp. 3.000.000 + Rp. 500.000
= Rp. 11.000.000
3. Pendapatan bersih (Net Profit) = pendapatan kotor biaya produksi

= Rp. (5.250.000 x 7) Rp. 11.000.000


= Rp.25.750.000
4. Break Event Point
BEP Produksi = Total biaya produksi / harga satuan
= 11.000.000 / 7000
= 1571,4 kg
Artinya budidaya jamur tiram tidak mendapat untung dan juga tidak mengalami kerugian bila jumlah produksi sebesar
1571,4 kg
BEP Harga = Total biaya produksi / jumlah produksi
= 11.000.000 / 3750
= Rp. 2933,33
Artinya usaha ini tidak mendapatkan untung dan juga tidak mengalami kerugian bila harga jual Rp. 2933,33 per kilo
5. Benefit Cost Ratio
BC Ratio = Rp. 25.750.000/ Rp. 11.000.000
= 2,34
Artinya pendapatan bersih yang diperoleh dalam usaha pembibitan bibit jamur adalah 2,34 di atas total biaya.

6. Masa Pengembalian Modal


dengan penghasilan bersih sebanyak Rp. 25.750.000 dalam setiap 1 kali penanaman jamur dihitung modal usaha dapat
diperkirakan akan kembali pada 2 kali penanaman jamur tiram dengan waktu kurang lebih 1 bulan 1 minggu.
7. Pembagian keuntungan
Pembagian keuntungan bersih direncanakan adalah sebagai berikut:
Kepentingan sosial : 5% (zakat 2,5% + kepentingan sosial 2,5%)
profit
Pengembangan usaha : 25 % profit
Pengelola : 20 % profit
Dividen investor : 50 % profit (20% profit share ; 30% pengembalian modal)

BAB V
ANALISIS MANAJEMEN

A. Manajemen Pengelolaan
Dalam kurun waktu tahun 2015sampai dengan 2016 difokuskan pada pemantapan produksi. Maksudnya adalah membuat usaha
perdagangan jamur tiram tersebut menjadi dikenal dan tersosialisasi dengan baik untuk seluruh lapisan masayarakat, bahwasannya
jamur tiram yang dikembangkan ternyata dapat diterima dengan baik oleh masyarakat.
Sumber daya manusia yang dikelola dalam pembudidayaan jamur tiram juga masih sangat minim pengetahuannya. Sehingga
perlu sekali pemahaman dengan cara pembelajaran terlebih dahulu. Hal ini dilakukan dengan beberapa cara, misalnya studi
banding, mengikuti pelatihan, ataupun studi literatur dari berbagai media cetak maupun elektronik, baik lokal maupun
internasional.Kebanyakan karyawan juga berasal dari daerah sekitar lokasi usaha, dengan kondisi yang cukup minim untuk
kualifikasinya, sehingga banyak sebagai tenaga kasar pada bagian produksi.

Pada awal usaha ini memang tidak memiliki manejemen yang baik, apalagi tentang keuangan.Pembukuan masih sangat
sederhana, bahkan bisa dikatakan tidak ada.Baru dirintis pembukuan sederhana pada awal tahun 2012.Tetap dikemas secara
sederhana namun minimal bisa mulai dipilah tentang pembukuan keluarga dan usaha itu sendiri.
Strategi marketing juga dilakukan melalui blog-blog di internet dan Home page berupa Website resmi dan khusus tentang Profil
usaha dan marketingnya. Bahkan yang sudah berjalan adalah konsultasi mengenai budi daya jamur melalui email yang sudah
berjalan sejak tahun 2000.
Pemasaran sudah mengalami inovasi yang lebih luas. Segementasi pasar dan target juga sudah berkembang jauh. Jangkauan
pasar bukan hanya ditingkat lokal, bahkan sudah mencapai seluruh nusantara. Untuk penjualan sudah mencapai luar pulau,
diantaranya, Medan, Palembang, Lampung, Jambi, Batam, Banjarmasin, Samarinda, Palangkaraya, Sampit, Tenggarong, Makasar,
Ambon, Nusa Tenggara Timur, dan Bali.
Manajerial masih dilakukan secara sederhana, namun sudah lebih terkonsep dan penuh strategi, sedangkan pendataan,
administrasi dan keuangan sudah terkomputerisasi.Sehingga untuk keuangan sudah lebih tertata rapi dan terpilah antara keuangan
keluarga dan usaha.Sedangkan legalitas usaha berubah nama dan lebih difokuskan pada perdagangan Jamur Tiram dan agrobisnis.

BAB VI
PENUTUP
A. Antisipasi Masa Depan
Sebagai wirausahawan yang baik, kami tidak akan membiarkan usaha ini berjalan secara mendatar. Kami akan terus mencoba
memperbaiki kualitas pekerjaan kami, agar para peminat dan konsumen puas atas kue yang kami buat. Karena apabila kualitas
jamur tiram kami tidak kami tingkatkan kemungkinan besar usaha ini tidak akan maju, dan terancam bangkrut.
B. Kesimpulan
Menurut kami usaha ini dapat berkembang dan akan mencapai keberhasilan. Kami sangat yakin bahwa usaha ini akan maju dan
terus berkembang karena dilakukan oleh orangorang yang mempunyai kualitas dalam menjalankan setiap pekerjaan. Kami
sadar bahwa usaha ini tak akan langsung berkembang pesat tapi kami akan terus berjuang untuk terus menjalankan dan
mengembangkan usaha ini.
C. Saran
Demikian proposal pengembangan usaha jamur tiram ini penulis susun. Dari hasil analisis penulis mengenai peluang
pemasaran, operasional, dan keuangan, penulis optimis bahwa budidaya jamur tiram ini layak dan berpotensi tinggi untuk
dikembangkan.