Anda di halaman 1dari 15

Penderita AIDS pertama kali dilaporkan di Amerika Serikat pada tahun 1981,

sedangkan kasus HIV di Indonesia pertama kali ditemukan pada tahun 1987 di Bali. Sejak
ditemukan pada tahun 1987 hingga September 2012, tercatat 92.251 kasus positif infeksi HIV
dengan jumlah kasus tertinggi ditemukan di DKI Jakarta sebanyak 21.775 kasus, dan 39.434
kasus penderita AIDS dengan jumlah kasus AIDS tertinggi ditemukan di Papua sebanyak
6.299 kasus. Mayoritas kasus HIV di Indonesia disebabkan oleh perilaku seks yang tidak
aman. Namun yang menarik, jumlah kasus AIDS tertinggi justru ditemukan pada orang-orang
yang berprofesi sebagai wiraswasta sebanyak 4.604 kasus, kemudian diikuti oleh ibu rumah
tangga sebanyak 4.251 kasus. Hal ini menunjukkan bahwa siapa saja bisa berpotensi terkena
infeksi HIV.
Berikut adalah Laporan Kasus HIV-AIDS di Indonesia sampai dengan Juni 2014, yang
diterima dari Ditjen PP & PL, berdasarkan surat Direktur Jenderal P2PL, Prof. DR. dr. Agus
Purwadianto tertanggal 15 Agustus 2014.
Bersama ini kami sampaikan laporan perkembangan HIV-AIDS di Indonesia, Triwulan
II Tahun 2014. Data HIV-AIDS Triwulan II 2014 yang disajikan adalah bersumber dari
Sistem Informasi HIV-AIDS & IMS (SIHA). Sejak periode Juli-September 2012 terjadi
perubahan dan perkembangan data dalam laporan pasca Kegiatan Validasi dan Harmonisasi
Data bersama seluruh provinsi di Indonesia bulan Mei 2012. Hal ini dilakukan dalam rangka
peningkatan kualitas laporan. Laporan tahun 2012 dan sebelumnya adalah benar-benar kasus
ditemukan pada tahun yang bersangkutan.
Laporan perkembangan HIV-AIDS di Indonesia Triwulan II Tahun 2014 sebagai
berikut:
A.

Situasi Masalah HIV-AIDS Triwulan II (April-Juni) Tahun 2014


1.

HIV
a.

Dari bulan April sampai dengan Juni 2014 jumlah infeksi HIV yang
baru dilaporkan sebanyak 8.908 kasus.

b.

Persentase infeksi HIV tertinggi dilaporkan pada kelompok umur 2549 tahun (73,6%), diikuti kelompok umur 20-24 tahun (14,9%), dan kelompok
umur >= 50 tahun (5,3%).

c.

Rasio HIV antara laki-laki dan perempuan adalah 1:1.

d.

Persentase faktor risiko HIV tertinggi adalah hubungan seks berisiko


pada heteroseksual (55%), LSL (Lelaki Seks Lelaki) (17%), dan penggunaan
jarum suntik tidak steril pada penasun (6%).

2.

AIDS

a.

Dari bulan April sampai dengan Juni 2014 jumlah AIDS yang
dilaporkan baru sebanyak 1.492 orang.

b.

Persentase AIDS tertinggi pada kelompok umur 30-39 tahun (37,7%),


diikuti kelompok umur 20-29 tahun (26,0%) dan kelompok umur 40-49 tahun
(20,4%).

c.

Rasio AIDS antara laki-laki dan perempuan adalah 2:1.

d.

Persentase faktor risiko AIDS tertinggi adalah hubungan seks berisiko


pada heteroseksual (86,4%), LSL (Lelaki Seks Lelaki) (4,8%), dari ibu positif
HIV ke anak (3,6%) dan penggunaan jarum suntik tidak steril pada penasun
(2,6%).

B.

Situasi Masalah HIV-AIDS Tahun 1987 - Juni 2014


Sejak pertama kali ditemukan tahun 1987 sampai dengan Juni 2014, HIV-AIDS
tersebar di 381 (76%) dari 498 kabupaten/kota di seluruh provinsi di Indonesia. Provinsi
pertama kali ditemukan adanya kasus HIV-AIDS adalah Provinsi Bali, sedangkan yang
terakhir melaporkan adalah Provinsi Sulawesi Barat pada tahun 2011.
1.

HIV
a.

Sampai dengan tahun 2005 jumlah kasus HIV yang dilaporkan


sebanyak 859, tahun 2006 (7.195), tahun 2007 (6.048), tahun 2008 (10.362), tahun
2009 (9.793), tahun 2010 (21.591), tahun 2011 (21.031), tahun 2012 (21.511) dan
tahun 2014 (15.534). Jumlah kumulatif infeksi HIV yang dilaporkan sampai
dengan Juni 2014 sebanyak 142.961.

b.

Jumlah infeksi HIV tertinggi yaitu di DKI Jakarta (31.586), diikuti


Jawa Timur (18.210, Papua (15.686), Jawa Barat (12.049) dan Bali (9.051).

2.

AIDS
a.

Sampai dengan tahun 2005 jumlah kasus AIDS yang dilaporkan


sebanyak 5.184, tahun 2006 (3.665), tahun 2007 (4.655), tahun 2008 (5.114),
tahun 2009 (6.073), tahun 2010 (6.907) dan tahun 2011 (7.312), tahun 2102
(8.747), tahun 2013 (6.266) dan 2014 (1.700). Jumlah kumulatif AIDS dari tahun
1987 sampai dengan Juni 2014 sebanyak 55.623 orang.

b.

Persentase kumulatif kasus AIDS tertinggi pada kelompok umur 20-29


tahun (32,9%), kemudian diikuti kelompok umur 30-39 tahun (28,4%), 40-49
tahun (10,7%), 50-59 tahun (3,4%), dan 15-19 (3,1%).

c.

Persentase AIDS pada laki-laki sebanyak 53,7% dan perempuan


28,9%. Sementara itu 17,3% tidak melaporkan jenis kelamin.

d.

Jumlah AIDS tertinggi adalah pada ibu rumah tangga (6.516), diikuti
wiraswasta

(6.182),

tenaga

non-profesional/karyawan

(5.623),

petani/peternak/nelayan (2.316), buruh kasar (2.162), penjaja seks (2.048),


pegawai negeri sipil (1.649), dan anak sekolah/mahasiswa (1.291).
e.

Jumlah AIDS terbanyak dilaporkan dari Papua (10.184), Jawa Timur


(8.976), DKI Jakarta (7.477), Bali (4.261), Jawa Barat (4.157), Jawa Tengah
(3.767), Papua Barat (1.734), Sulawesi Selatan (1.703), Kalimantan Barat (1.699)
dan Sumatera Utara (1.573).

f.

Faktor risiko penularan terbanyak melalui heteroseksual (61,5%),


penasun (15,2%), diikuti penularan melalui perinatal (2,7%), dan homoseksual
(2,4%).

g.

Angka kematian (CFR) menurun dari 3,79% pada tahun 2012 menjadi
0,04% pada bulan Juni tahun 2014.

C.

Layanan
1.

Sampai dengan Juni 2014, layanan HIV-AIDS yang aktif melaporkan data
layanannya, sebagi berikut:
a.

1.251 layanan Konseling dan Tes HIV (KT), termasuk Tes HIV dan
Konseling yang diprakarsai oleh Petugas Kesehatan (TIPK).

b.

454 layanan PDP (Perawatan, Dukungan dan Pengobatan) yang aktif


melakukan pengobatan ARV, terdiri dari 284 RS Rujukan PDP (induk) dan 134
satelit.

c.

87 layanan PTRM (Program Terapi Rumatan Metadon).

d.

1.129 layanan IMS (Infeksi Menular Seksual).

e.

172 layanan PPIA (Pencegahan Penularan dari Ibu ke Anak).

f.

223 layanan yang mampu melalukan layanan TB-HIV.

2.

Sampai dengan bulan Maret 2014, jumlah Lapas/Rutan/Bapas yang


melaksanakan kegiatan pengendalian HIV-AIDS dan IMS sebagai berikut:
a.

148 Lapas/Rutan/Bapas melaksanakan kegiatan KIE (Komunikasi,


Informasi dan Edukasi).

b.

20 Lapas/Rutan/Bapas melaksanakan kegiatan penjangkauan.

c.

78 Lapas/Rutan/Bapas memiliki Kelompok Dampingan Sebaya (KDS).

d.

45 Lapas/Rutan/Bapas melaksanakan kegiatan Konseling dan Tes HIV.

e.

148 Lapas/Rutan/Bapas melaksanakan kegiatan koordinasi.

f.

9 Lapas/Rutan/Bapas melaksanakan layanan PTRM.

g.
3.

127 Lapas/Rutan/Bapas melaksanakan kegiatan rujukan HIV-AIDS.


Jumlah ODHA yang sedang mendapatkan pengobatan ARV sampai dengan

bulan Juni 2014 sebanyak 43.677 orang. Pemakaian rejimennya adalah 96,06%
(42.394 orang) menggunakan Lini 1 dan 2,94% (1.283 orang) menggunakan Lini 2.
Statistik Kasus AIDS di Indonesia dilapor s/d Juni 2014
Sumber : Ditjen PP & PL Kemenkes RI
Dalam triwulan April s.d. Juni 2014 dilaporkan tambahan kasus HIV & AIDS
sebagaimana berikut:

HIV: 6626

AIDS: 308

Jumlah kasus HIV & AIDS yang dilaporkan 1 Januari s.d. 30 Juni 2014 adalah:

HIV: 15534

AIDS: 1700

Secara kumulatif kasus HIV & AIDS 1 Januari 1987 s.d. 30 Juni 2014, terdiri dari:

HIV: 142950

AIDS: 55623

Jumlah Kumulatif Kasus AIDS Menurut Jenis Kelamin


Jenis Kelamin/Sex
Laki-laki/Male
Perempuan/Female
Tak Diketahui/Unknown
Jumlah/Total*

AIDS
29,882
16,092
9,649
55,623

Jumlah Kumulatif Kasus AIDS Menurut Faktor Risiko


Faktor Risiko/Mode of Transmission
Heteroseksual/Heterosexual
Homo-Biseksual/Homo-Bisexual
IDU
Transfusi Darah/Blood Transfusion
Transmisi Perinatal/Perinatal Trans.
Tak Diketahui/Unknown

AIDS
34,187
1,298
8,451
129
1,499
9,532

Jumlah Kumulatif Kasus AIDS Menurut Golongan Umur


Gol Umur/Age Group
<1
1-4
5 - 14
15 - 19
20 - 29
30 - 39
40 - 49
50 - 59
> 60
Tak Diketahui/Unknown

AIDS
238
963
439
1,717
18,287
15,816
5,951
1,869
550
9,793

Jumlah Kumulatif Kasus HIV & AIDS Berdasarkan Provinsi


No.
Provinsi/Province
HIV
1

AIDS
4

1
2
3

Papua
Jawa Timur/East Java
Jakart

15,686
18,210
31,586

10,184
8,976
7,477

4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17

a
Bali
Jawa Barat/West Java
Jawa Tengah/Central Java
Papua Barat/West Papua
Sulawesi Selatan/South Sulawesi
Kalimantan Barat/West Kalimantan
Sumatera Utara/North Sumatra
Riau
Banten
Sumatera Barat/West Sumatra
DI Yogyakarta/Jogjakarta
Sulawesi Utara/North Sulawesi
Maluku/Moluccas
Nusatenggara Timur/East Nusa

9,051
12,049
8,368
2,545
4,162
4,483
8,794
1,988
3,547
1,087
2,471
2,238
1,388
1,715

4,261
4,157
3,767
1,734
1,703
1,699
1,573
1,104
1,042
952
916
798
512
496

18

Tenggara
Nusatenggara Barat/West Nusa

777

456

19
20
21

Tenggara
Jambi
Lampung
Sumatera Selatan/South Sumatra

716
1,062
1,605

437
423
409

22
23

Kepulauan Riau/Riau Archipelago


Kalimantan Selatan/South

4,322
473

382
364

24
25
26
27
28
29
30
31

Kalimantan
Kalimantan Timur/East Kalimantan
Bangka Belitung
Sulawesi Tenggara/SE Sulawesi
NAD/Aceh
Sulawesi Tengah/Central Sulawesi
Maluku Utara/North Moluccas
Bengkulu
Kalimantan Tengah/Central

2,437
480
300
151
374
247
296
244

332
314
266
193
190
165
160
107

59
39
142,950

68
6
55,623

32
33

Kalimantan
Gorontalo
Sulawesi Barat/West Sulawesi
Jumlah/Total

Prevalensi Kasus AIDS per 100.000 Penduduk Berdasarkan Propinsi


No

Propinsi

.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25

Papua
Papua Barat/West Papua
Bali
DKI Jakarta
Kalimantan Barat/West Kalimantan
Sulawesi Utara/North Sulawesi
Maluku/Moluccas
DI Yogyakarta/Jogjakarta
Bangka Belitung
Jawa Timur/East Java
Kepulauan Riau/Riau Archipelago
Sulawesi Selatan/South Sulawesi
Riau
Sumatera Barat/West Sumatra
Maluku Utara/North Moluccas
Jambi
Sumatera Utara/North Sumatra
Sulawesi Tenggara/SE Sulawesi
Jawa Tengah/Central Java
Nusatenggara Timur/East Nusa Tenggara
Nusatenggara Barat/West Nusa Tenggara
Kalimantan Selatan/South Kalimantan
Banten
Jawa Barat/West Java
Kalimantan Timur/East Kalimantan

Prevalensi
359.43
228.03
109.52
77.82
38.65
35.14
33.39
26.49
25.67
23.95
22.75
21.20
19.93
19.64
15.89
14.13
12.12
11.91
11.63
10.59
10.13
10.04
9.80
9.66
9.34

26
27
28
29
30
31
32
33

Bengkulu
Sulawesi Tengah/Central Sulawesi
Gorontalo
Lampung
Sumatera Selatan/South Sumatra
Kalimantan Tengah/Central Kalimantan
NAD/Aceh
Sulawesi Barat/West Sulawesi
Nasional/National

9.33
7.21
6.54
5.56
5.49
4.84
4.29
0.52
23.41

Jumlah Kasus Baru HIV & AIDS dan Kematian Berdasarkan Tahun Pelaporan
Tahun/Year
1987
1988
1989
1990
1991
1992
1993
1994
1995
1996
1997
1998
1999
2000
2001
2002
2003
2004
2005 (HIV: 1987-2005)
2006
2007
2008
2009
2010
2011
2012
2013
2014
Tidak diketahui/Not known

HIV

859
7,184
6,048
10,362
9,793
21,591
21,031
21,511
29,037
15,534

AIDS
5
2
5
5
15
13
24
20
23
42
44
60
94
255
219
345
316
1,125
2,572
3,665
4,655
5,114
6,073
6,907
7,312
8,747
6,266
1,700

Mati
1
1
2
2
4
4
7
40
5
17
20
73
29
63
111
327
573
793
836
948
1,068
1,296
1,139
1,489
726
175
11

Jumlah/Total
142,950
Sumber: Ditjen PP & PL Kemenkes RI 15 Agustus 2014

55,623

9,760

19520

Edit terakhir: 9 September 2014

KARAKTERISTIK
AIDS adalah suatu penyakit yang menghancurkan kemampuan seseorang untuk melawan
penyakit juga menyerang sel darah merah (Limposit T4) serta menyebabkan suatu gejala
(Symptom) yang kompleks dan keadaan dimana terdapat indikasi adanya kegagalan fungsi
yang serius dari system kekebalan (system Immune).
INFEKSI HIV
AIDS disebabkan oleh suatu virus yang dikenal dengan beberapa nama antara lain HTLV-III
(Human T-cell Lymphatropic Virus type III), LAV, ARV, dan HIV (Human Immuno deficiency
Virus) yang menginfeksi suatu kelompok khusus dari sel-sel darah putih helper T-cells atau
sel T pembantu. HIV juga merusak berbagai jenis sel-sel lain yang diinfeksinya.
HIV diduga berasal dari Afrika dan ditularkan oleh monyet hijau Afrika yang mempunyai
struktur dekat dengan manusia. 70% dari 200 monyet di Afrika terinfeksi virus HIV, tapi
anehnya meskipun monyet-monyet tersebut terinveksi virus HIV, penyakit AIDS tidak
diderita oleh monyet tersebut.
BAI (Badan AIDS Indonesia) mengatakan bahwa saat terjadi infeksi, jumlah sel CD-4
(Limposit) akan berkurang 1/2 nya.
Virus berkembang biak pada inangnya dan sel yang berkembang biak tersebut mengandung
bahan genetik virus. Dengan demikian, infeksi HIV bersifat Irreversible (tidak dapat kembali
dan berlangsung seumur hidup).
PENGOBATAN

Sampai saat ini, belum ada penyembuhan / pengobatan yang sempurna untuk AIDS. Untuk
mengembangkan cara penyembuhan AIDS, memang memerlukan waktu yang cukup panjang.
Tetapi baru-baru ini suatu obat anti virus yang dikenal sebagai azidothymedine (AZT) telah
menunjukkan khasiat berupa dapat memperbaiki kesehatan penderita dan memperpanjang
usia penderita AIDS tersebut, akan tetapi masih belum jelas apakah bisa menyembuhkan
AIDS tersebut.
Obat lain untuk mengatasi infeksi HIV sekarang sedang diuji di USA dan Eropa. Obat ini
mengandung AL-721, dideoxycytidine (DDC), phosphoroformate (Foscarnet), HPA-23,
interferon alpha, Isoprinosine, naltrexone, dan ribavirin.
Untuk menyembuhkan AIDS diperlukan tidak hanya untuk menghentikan pertumbuhan virus,
tapi juga membangun kembali system kekebalan, dan melawan semua kelemahan tubuh
sebagai akibat dari AIDS. Adanya kemajuan ilmu kedokteran dan cara pengobatan yang lebih
sempurna semakin memperbesar harapan hidup bagi penderita AIDS.
JALUR PENULARAN
HIV diketahui dapat ditularkan melalui

Kontak dengan kotoran seksual yang infektif dengan membran mucosa


Suntikan darah yang terinfeksi atau produk darah (tranfusi darah)
Penularan perinatal (sebelum lahir) dari ibu yang terinfeksi kepada janin selama dalam
kandungan
Oral sex
Hubungan sex yang menimbulkan luka / peradangan.
Alat-alat medis
MASA INKUBASI
Masa inkubasi penyakit AIDS berkisar antara 1 9 tahun atau lebih. Masa inkubasi lebih
singkat terjadi pada bayi-bayi yang lahir dari ibu yang terjangkit AIDS yaitu antara 15 20
bulan. Bayi-bayi tersebut mulai menunjukkan gejala-gajalanya pada saat umur 1 tahun.
HIV MUDAH HANCUR
HIV lebih mudah dihancurkan dibandingkan dengan virus penyebab flu. Virus ini dapat
dibunuh dengan panas, sabun biasa, air, cairan pembersih kuman, dan chlorine yang
digunakan di kolam renang. HIV tak ditularkan melalui kontak (sentuhan) dengan obyek
bernyawa.

PERNYATAAN US PUBLIC HEALTH SERVICE


Public health service (pelayanan kesehatan masyarakat) di Amerika Serikat menyatakan
sebagai berikut

AIDS adalah berkaitan dengan darah, penyakit yang ditularkan secara seksual dan tidak
menyebar melalui sentuhantidak diketemukan resiko penularan terhadap rekan kerja clien
(rekanan), atau konsumen yang berada di sekitar pekerja yang terinfeksi HIV di kantor,
sekolah, di pabrik-pabrik, atau perusahaan kontruksi pekerja yang diketahui terinfeksi oleh
HIV tidak perlu diberhentikan kerja. Juga tak perlu dibatasi atau dilarang menggunakan
telepon, peralatan kantor, toilet, fasilitas untuk makan, atau air mancur.
POLA PENYAKIT YANG TELAH DAPAT DIIDENTIFIKASI
Pada tahun 1979, terdapat 11 kasus AIDS di USA sejak 16 Maret 1987, sejumlah
32.825 kasus telah dilaporkan. Jumlah kasus yang dilaporkan meningkat dua kali semula
setiap tahun, tapi laju peningkatannya baru-baru ini agak menurun. Federal Center for
Disease Control (FCDC) melaporkan informasi menyangkut bagaimana AIDS ditularkan
sebagai berikut

CARA PENULARAN

JUMLAH %

o
1

Hubungan seksual

69

Jarum suntik untuk obat lewat intravena

24

Tranfusi dengan darah yang terkontaminasi atau darah buatan dalam

pengobatan kasus tertentu


4

Penularan sebelum kelahiran (bayi dalam janin)

Model penularan yang belum diketahui dengan pasti

RESIKO TAK TENTU


Kurang lebih tiga persen dari semua kasus AIDS termasuk dalam kategori penularan dimana
diberi label dengan tak tertentu. Kategori ini mencakup

Penderita yang mana informasi risiko tidak lengkap sebab mereka meninggal, gagal
diwawancarai, atau tak dapat dilokasikan.

Penderita yang sedang diwawancarai

Penderita yang tak punya resiko yang lekas selain hubungan seksual antara pria dan
wanita yang dapat diidentifikasi.

APA YANG DAPAT ANDA LAKUKAN TERHADAP AIDS


Yang paling penting hal yang dapat anda lakukan untuk melindungi diri anda sendiri dan
yang lain adalah mencegahpenularan HIV. Anda dapat belajar untuk membedakan situasisituasi dimana penularan HIV mungkin terjadi, dari situasi yang mempunyai resiko kecil atau
tanpa resiko penularan. Yang jelas, untuk aktivitas sehari-hari yang tak ada hubungannya
dengan hubungan seksual, anda tak perlu melakukan pembatasan tertentu. Dalam hubungan
seksual, serta penggunaan obat-obat intravena, perlu diperhatikan hal-hal yang berkaitan
dengan proses penularan / penyebaran HIV. Tindakan-tindakan ini sering disebut sebagai
pengurangan resiko
TES ANTIBODI HIV
FAKTA TENTANG UJI ANTIBODI HIV
Jika hasil tes HIV mendeteksi adanya anti bodi HIV , hal ini berarti bahwa anda punya
beberapa point untuk terinfeksi HIV dan anda harus menganggap diri anda sebagai mampu
untuk menyebarkan virus. Tes antibody terdiri dari serangkaian tes yang diulang-ulang, dan
memberikan suatu informasi yang akurat pada anda.
HASIL POSITIF BERARTI TERDAPAT ANTIBODI HIV
Tes antibody HIV akan menunjukkan apakah darah anda mengandung antibody terhadap
HIV. Antibody adalah suatu protein yang dibuat oleh system kekebalan anda sebagai tanda
adanya bahan/benda asing yang tidak diinginkan seperti halnya bakteri atau virus yang
mungkin masuk ke tubuh anda.
UNTUK KETEPATAN DIBUTUHKAN DUA TES
Untuk memperoleh ketepatan hasil tes antibody dapat dilakukan hanya melalui kombinasi
dari dua tes yaitu

1. Tes ELISA, untuk menunjukkan bahwa antibody kemungkinan muncul.


2. Western Blot Test untuk mengkonfirmasikan bahwa antibody tersebut benar-benar ada.
KELAMBATAN 4 s/d 6 BULAN SEBELUM ANTIBODI TERMONITOR
Antibody HIV biasanya dapat dimonitor setelah 14 minggu sejak terjadi infeksi. Jika
waktunya belum mencukupi, tes antibody mungkin memberikan hasil negative meskipun
virus itu ada.

Hasil tes antibody yang positif tidak dapat memberikan ketentuan bahwa anda menderita
AIDS, jika anda menderita ARC, atau apakah anda akan mengalami kondisi yang lain dimasa
mendatang.
GEJALA-GEJALA DARI INFEKSI HIV
1. pembengkakan kelenjar limfe.
2. demam yang tidak jelas sebabnya lebih dari 10 hari.
3. pengeluaran keringat yang berlebihan dimalam hari
4. kelelahan yang berkepanjangan yang bukan dikarenakan aktivitas fisik atau tekanan
emosi.
5. diare yang parah dan menetap
6. kehilangan berat yang drastic tanpa diketahui sebabnya ( lebih dari 10%)
7. oral candidiasis atau adanya lapisan yang mengeras pada mulut dan lidah
8. batuk kering flu, tenggorokan luka-luka terdapat goresan-goresan ( untuk bukan perokok )
dalam beberapa minggu
9. munculnya bercak-bercak berwarna keunguan atau tidak berwarna pada kulit atau selaput
mukosa yang tidak menghilang dan secara perlahan ukurannya meningkat.
10. mudah terjadi memar-memar atau pendarahan karena alasan yang tidak jelas.
FAKTOR-FAKTOR PSIKOLOGIS
Beberapa gejala psikologis kadang-kadang berkembang pada seseorang penderita AIDS lebih
parah dibanding gejala pokok untuk AIDS, hal ini mencakup :
1. kesedihan dan perasaan tanpa harapan yang menetap
2. mudah tersinggung dan rasa gelisah, takut berlebihan
3. sering merasa gelisah dan panic secara mendadak
4. cenderung untuk keasyikan dengan penyakit atau gejala fisik
5. peningkatan pemakaian obat-obat tertentu termasuk alkohol
6. tidak mampu berkosentrasi dan kehilangan energi
7. tidak mampu melakukan tugas-tugas ditempat kerja atau dirumah
8. tidak mampu menikmati kehidupan sosial atau seksual
9. menolak perawatan medis yang diperlukan
10. keinginan untuk bunuh diri

STRATEGI BARU MELAWAN AIDS


Salah satu penemuan baru dalam melawan AIDS adalah dengan pencangkokan
sum-sum tulang. Dengan ini, para dokter tidak hanya berhasil mencegah aktivitas HIV,
bahkan mereka berhasil melenyapkan sama sekali virus tersebut dari tubuh penderita.
Percobaan pencangkokan sum-sum tulang ini tak lepas dari usaha pengembangan
pemakaian AZT ( Azido thymidine ) yakni satu-satuya obat yang disahkan untuk
percobaan penghancur virus HIV.
Dengan pencangkokan sumsum tulang pada pengobatan HIV, para dokter tidak
menunggu hasilnya sampai terjadi kerusakan sel-sel tubuh, mereka bertindak cepat,
mengeluarkan sel-sel yang terserang HIV, dan membersihkannya diluar tubuh.
Hasil

percobaan

ini

ternyata

menakjubkan,

sum-sum

tulang

yang

telah

mengalami proses pembersihan ( dengan AZT ) setelah dicangkokkan langsung tumbuh,


dan tak ada lagi HIV pada tubuh pasien, baik pada darah maupun sum-sum tulang.
Meskipun HIV sudah berhasil dibersihkan, akan tetapi masih belum bisa diketahui bagaimana
caranya memperbaiki system kekebalan tubuh yang sudah terserang.
DAFTAR OBAT-OBAT YANG DIANGGAP PALING SESUAI UNTUK PENDERITA AIDS

Obat / Pabrik

Keterangan

AZT

Obat yang pertama kali bisa dipakai untuk memperpanjang hidup

Burroughs

penderita AIDS. Terutama mereka yang masih dalam tahap dini.

Wellcome

Mampu menahan proses pembiakan virus AIDS, namun bisa


menimbulkan akibat sampingan, yakni munculnya penyakit anemia.
Obat sejenis AZT, yang dalam percobaan di laboratorium

DDC

memperlihatkan hasil menggembirakan. Walaupun baru dicoba pada

Hofman-la Roche

sembilan penderita, para ahli yakin DDC akan lebih ampuh, dan

Al 721

tidak menimbulkan akibat sampingan.


Penelitian penggunaan obat ini masih dalam taraf permulaan.

Praxis

Percobaan

Pharmaceuticals

yang

dilakukan

terhadap

sembilan

penderita

pembengkakan getah bening akibat virus AIDS cukup memberi


harapan

GRANULOCYT
E-MONOCYTE
COLONYSTIMULATING

Percobaan bahan ini terhadap binatang cukup memuaskan, tapi


penerapannya pada manusia masih membutuhkan waktu lama

FACTOR
Institut Genetika
ALPHA
INTERFERON

Terbukti cukup efektif untuk mengobati sarcoma Kaposi, kanker

Biogen/Schering-

kulit yang merupakan petunjuk penyakit AIDS. Sekarang sedang

plough Hofmann-

diteliti kemungkinan kombinasi dengan AZT untuk melawan AIDS

La
Roche/Genentch
INTERLEUKIN2
Hofmann-La

Penggunaan IL-2 memang mengecewakan, namun diduga akan


lebih efektif bila dikombinasikan dengan AZT.

Roche/Immunex
Cetus
CYCLOSPORIN

Obat ini sangat beracun, dipakai untuk mencegah penolakan organ

tubuh yang dicangkok, mampu menahan penyebaran virus AIDS

Sandoz

pada stadium dini.

KESIMPULAN
AIDS merupakan hasil infeksi yang parah oleh virus yang disebut HIV. Belum ada
cara penyembuhan yang sempurna atau vaksin yang memadai untuk perlindungan terhadap
AIDS. Tapi berbagai cara pengobatan sedang dalam proses percobaan dewasa ini. Cara
terbaik untuk melawan wabah ini adalah mencegah penularan dan penyebaran virusnya. Jalur
utama dari penyebaran / penularan HIV adalah hubungan seksual dan diketahui hanya terjadi
lewat kontak dengan darah yang terinfeksi, atau mungkin sekresi vagina atau cervic ( leher

rahim ) dengan selaput lendir ( membran mucosa ) sejumlah kecil kasus telah ditularkan
melalui ibu ke janin atau melalui tranfusi dengan darah atau benda yang berasal dari darah
yang terkontaminasi. Jumlah penduduk yang menderita AIDS semakin meningkat. Sejumlah
besar penduduk di dunia telah terinfeksi HIV tetapi tidak menunjukkan gejala apapun.
SARAN
Di Negara yang tidak luput dari infeksi HIV ini, kita sebagai warga Negara yang baik
hendaknya turut membantu pemerintah untuk menanggulangi penyebaran HIV AIDS. Kita
seharusnya ikut berpartisipasi semampu kita baik dengan cara mengadakan penyuluhan AIDS
maupun yang lainnya yang kita bisa.
Dengan begitu, setidaknya kita telah membantu pemerintah Indonesia maupun Negara
lain untuk mengurangi jumlah penderita AIDS.

http://www.kebijakanaidsindonesia.net/id/progress-activity-and-monthly-report/89-outlook2014-kebijakan-hiv-aids
http://spiritia.or.id/Stats/StatCurr.php?lang=id&gg=1