Anda di halaman 1dari 17

1.

Pengertian Hutan Mangrove


Hutan Mangrove berasal dari kata mangue/mangal (Portugish) dan grove
(English). Hutan mangrove dikenal juga dengan istilah tidal forest, coastal woodland,
vloedbosschen, atau juga hutan bakau. Hutan mangrove dapat didefinisikan sebagai tipe
ekosistem hutan yang tumbuh di daerah batas pasang-surutnya air, tepatnya daerah pantai
dan sekitar muara sungai. Tumbuhan tersebut tergenang di saat kondisi air pasang dan
bebas dari genangan di saat kondisi air surut. Hutan mangrove merupakan komunitas
vegetasi mayoritas pesisir pantai di daerah tropis & sub tropis yang didominasi oleh
tumbuhan mangrove pada daerah pasang surut pantai berlumpur khususnya di tempattempat di mana terjadi pelumpuran dan akumulasi bahan organik.
Tumbuhan mangrove bersifat unik karena merupakan gabungan dari ciri-ciri
tumbuhan yang hidup di darat dan di laut dan tergolong dalam ekosistem peralihan atau
dengan kata lain berada di tempat perpaduan antara habitat pantai dan habitat darat yang
keduanya bersatu di tumbuhan tersebut. Hutan mangrove juga berperan dalam
menyeimbangkan kualitas lingkungan dan menetralisir bahan-bahan pencemar.
Umumnya mangrove mempunyai sistem perakaran yang menonjol yang disebut
akar nafas (pneumatofor). Sistem perakaran ini merupakan suatu cara adaptasi terhadap
keadaan tanah yang miskin oksigen atau bahkan anaerob. Pada hutan mangrove: tanah,
air, flora dan fauna hidup saling memberi dan menerima serta menciptakan suatu siklus
ekosistem tersendiri. Hutan mangrove memberikan masukan unsur hara terhadap
ekosistem air, menyediakan tempat berlindung dan tempat asuhan bagi anak-anak ikan,
tempat kawin/pemijahan, dan lain-lain. Sumber makanan utama bagi organisme air di
daerah mangrove adalah dalam bentuk partikel bahan organik (detritus) yang dihasilkan
dari dekomposisi serasah mangrove (seperti daun, ranting dan bunga).

Hutan mangrove sangat berbeda dengan tumbuhan lain di hutan pedalaman tropis
dan subtropis, ia dapat dikatakan merupakan suatu hutan di pinggir laut dengan
kemampuan adaptasi yang luar biasa. Akarnya, yang selalu tergenang oleh air, dapat
bertoleransi terhadap kondisi alam yang ekstreem seperti tingginya salinitas dan garam.
Hal ini membuatnya sangat unik dan menjadi suatu habitat atau ekosistem yang tidak ada
duanya.
Kita sering menyebut hutan di pinggir pantai tersebut sebagai hutan bakau.
Sebenarnya, hutan tersebut lebih tepat dinamakan hutan mangrove. Istilah mangrove
digunakan sebagai pengganti istilah bakau untuk menghindarkan kemungkinan salah
pengertian dengan hutan yang terdiri atas pohon bakau Rhizophora spp. Karena bukan
hanya pohon bakau yang tumbuh di sana. Selain bakau, terdapat banyak jenis tumbuhan
lain yang hidup di dalamnya.
Hutan mangrove mempunyai tajuk yang rata dan rapat serta memiliki jenis pohon
yang selalu berdaun. Keadaan lingkungan di mana hutan mangrove tumbuh, mempunyai
faktor-faktor yang ekstrim seperti salinitas air tanah dan tanahnya tergenang air terus
menerus. Meskipun mangrove toleran terhadap tanah bergaram (halophytes), namun
mangrove lebih bersifat facultative daripada bersifat obligative karena dapat tumbuh
dengan baik di air tawar. Flora mangrove terdiri atas pohon, epipit, liana, alga, bakteri
dan fungi. Jenis-jenis tumbuhan yang ditemukan di hutan mangrove Indonesia adalah
sekitar 89 jenis, yang terdiri atas 35 jenis pohon, 5 jenis terna, 9 jenis perdu, 9 jenis liana,
29 jenis epifit dan 2 jenis parasit.
Dari sekian banyak jenis mangrove di Indonesia, jenis mangrove yang banyak
ditemukan antara lain adalah jenis api-api (Avicennia sp), bakau (Rhizophora sp), tancang
(Bruguiera sp), dan bogem atau pedada (Sonneratia sp), merupakan tumbuhan mangrove
utama yang banyak dijumpai. Jenis-jenis mangrove tersebut adalah kelompok mangrove

yang menangkap, menahan endapan dan menstabilkan tanah habitatnya. Fauna mangrove
hampir mewakili semua phylum, meliputi protozoa sederhana sampai burung, reptilia dan
mamalia. Secara garis besar fauna mangrove dapat dibedakan atas fauna darat
(terrestrial), fauna air tawar dan fauna laut. Fauna darat, misalnya kera ekor panjang
(Macaca spp.), Biawak (Varanus salvator), berbagai jenis burung, dan lain-lain.
Sedangkan fauna laut didominasi oleh Mollusca dan Crustaceae. Golongan Mollusca
umunya didominasi oleh Gastropoda, sedangkan golongan Crustaceae didominasi oleh
Bracyura.
2. Ciri-ciri Hutan Mangrove
Hutan mangrove memiliki ciri-ciri fisik yang unik di banding tanaman lain. Hutan
mangrove mempunyai tajuk yang rata dan rapat serta memiliki jenis pohon yang selalu
berdaun. Keadaan lingkungan di mana hutan mangrove tumbuh, mempunyai faktor-faktor
yang ekstrim seperti salinitas air tanah dan tanahnya tergenang air terus menerus.
Meskipun mangrove toleran terhadap tanah bergaram (halophytes), namun mangrove
lebih bersifat facultative daripada bersifat obligative karena dapat tumbuh dengan baik di
air tawar.
Hal ini terlihat pada jenis Bruguiera sexangula, Bruguiera gymnorrhiza, dan
Sonneratia caseolaris yang tumbuh, berbuah dan berkecambah di Kebun Raya Bogor dan
hadirnya mangrove di sepanjang tepian sungai Kapuas, sampai ke pedalaman sejauh lebih
200 km, di Kalimantan Barat. Mangrove juga berbeda dari hutan darat, dalam hal ini
jenis-jenis mangrove tertentu tumbuh menggerombol di tempat yang sangat luas.
Disamping Rhizophora spp., jenis penyusun utama mangrove lainnya dapat tumbuh
secara coppice. Asosiasi hutan mangrove selain terdiri dari sejumlah jenis yang toleran
terhadap air asin dan lingkungan lumpur, bahkan juga dapat berasosiasi dengan hutan air

payau di bagian hulunya yang hampir seluruhnya terdiri atas tegakan nipah Nypa
fruticans.
Ciri-ciri ekosistem mangrove terpenting dari penampakan hutan mangrove,
terlepas dari habitatnya yang unik, adalah :

memiliki jenis pohon yang relatif sedikit;

memiliki akar tidak beraturan (pneumatofora) misalnya seperti jangkar melengkung dan
menjulang pada bakau Rhizophora spp., serta akar yang mencuat vertikal seperti pensil
pada pidada Sonneratia spp. dan pada api-api Avicennia spp.;

memiliki biji (propagul) yang bersifat vivipar atau dapat berkecambah di pohonnya,
khususnya pada Rhizophora;

memiliki banyak lentisel pada bagian kulit pohon.

Sedangkan tempat hidup hutan mangrove merupakan habitat yang unik dan memiliki ciriciri khusus ekosistem mangrove, diantaranya adalah :

tanahnya tergenang air laut secara berkala, baik setiap hari atau hanya tergenang pada
saat pasang pertama;

tempat tersebut menerima pasokan air tawar yang cukup dari darat;

daerahnya terlindung dari gelombang besar dan arus pasang surut yang kuat;

airnya berkadar garam (bersalinitas) payau hingga asin.

3. Fungsi Dan Manfaat Hutan Mangrove


Peranan, Manfaat dan Fungsi Hutan Magrove dalam kehidupan masyarakat yang
hidup di daerah pesisir sangat banyak sekali. Baik itu langsung dirasakan oleh penduduk
sekitar maupun peranan, manfaat dan fungsi yang tidak langsung dari hutan mangrove itu
sendiri.
Tumbuhan yang hidup di hutan mangrove bersifat unik karena merupakan
gabungan dari ciri-ciri tumbuhan yang hidup di darat dan di laut. Umumnya mangrove
mempunyai sistem perakaran yang menonjol yang disebut akar nafas (pneumatofor).
Sistem perakaran ini merupakan suatu cara adaptasi terhadap keadaan tanah yang miskin
oksigen atau bahkan anaerob. Mangrove tersebar di seluruh lautan tropik dan subtropik,
tumbuh hanya pada pantai yang terlindung dari gerakan gelombang; bila keadaan pantai
sebaliknya, benih tidak mampu tumbuh dengan sempurna dan menancapkan akarnya.
Menurut kamus Webster, habitat didefinisikan sebagai the natural abode of a
plant or animal, esp. the particular location where it normally grows or lives, as the
seacoast, desert, etc. terjemahan bebasnya kira-kira adalah, tempat bermukim di alam
bagi tumbuhan dan hewan terutama untuk bisa hidup dan tumbuh secara biasa dan
normal, seperti pantai laut, padang pasir dan sebagainya. Salah satu tempat tinggal
komunitas hewan dan tanaman adalah daerah pantai sebagai habitat mangrove. Di habitat
ini bermukim pula hewan dan tanaman lain. Tidak semua habitat sama kondisinya,
tergantung pada keaneka ragaman species dan daya dukung lingkungan hidupnya.
Telah banyak diketahui bahwa pulau, sebagai salah satu habitat komunitas
mangrove, bersifat dinamis, artinya dapat berkembang meluas ataupun berubah mengecil
bersamaan dengan berjalannya waktu. Bentuk dan luas pulau dapat berubah karena
aktivitas proses vulkanik atau karena pergeseran lapisan dasar laut. Tetapi sedikit orang
yang mengetahui bahwa mangrove berperan besar dalam dinamika perubahan pulau,

bahkan cukup mengagetkan bila ada yang menyatakan bahwa mangrove itu dapat
membentuk suatu pulau. Dikatakan bahwa mangrove berperan penting dalam
membentuk pulau.
Beberapa berpendapat bahwa sebenarnya mangrove hanya berperan dalam
menangkap, menyimpan, mempertahankan dan mengumpulkan benda dan partikel
endapan dengan struktur akarnya yang lebat, sehingga lebih suka menyebutkan peran
mangrove sebagai shoreline stabilizer daripada sebagai island initiator atau sebagai
pembentuk pulau. Dalam proses ini yang terjadi adalah tanah di sekitar pohon mangrove
tersebut menjadi lebih stabil dengan adanya mangrove tersebut. Peran mangrove sebagai
barisan penjaga adalah melindungi zona perbatasan darat laut di sepanjang garis pantai
dan menunjang kehidupan organisme lainnya di daerah yang dilindunginya tersebut.
Hampir semua pulau di daerah tropis memiliki pohon mangrove.
Bila buah mangrove jatuh dari pohonnya kemudian terbawa air sampai
menemukan tanah di lokasi lain tempat menetap buah tersebut akan tumbuh menjadi
pohon baru. Di tempat ini, pohon mangrove akan tumbuh dan mengembangkan sistem
perakarannya yang rapat dan kompleks. Di tempat tersebut bahan organik dan partikel
endapan yang terbawa air akan terperangkap menyangkut pada akar mangrove. Proses ini
akan berlangsung dari waktu ke waktu dan terjadi proses penstabilan tanah dan lumpur
atau barisan pasir (sand bar). Melalui perjalanan waktu, semakin lama akan semakin
bertambah jumlah pohon mangrove yang datang dan tumbuh di lokasi tanah ini,
menguasai dan mempertahankan daerah habitat baru ini dari hempasan ombak laut yang
akan meyapu lumpur dan pasir. Bila proses ini berjalan terus, hasil akhirnya adalah
terbentuknya suatu pulau kecil yang mungkin akan terus berkembang dengan

pertumbuhan berbagai jenis mangrove serta organisme lain dalam suatu ekosistem
mangrove.
Dalam proses demikian inilah mangrove dikatakan sebagai bisa membentuk
pulau. Sebagai barisan pertahanan pantai, mangrove menjadi bagian terbesar perisai
terhadap hantaman gelombang laut di zona terluar daratan pulau. Hutan mangrove juga
melindungi bagian dalam pulau secara efektif dari pengaruh gelombang dan badai yang
terjadi. Mangrove merupakan pelindung dan sekaligus sumber nutrien bagi organisme
yang hidup di tengahnya.
Daun mangrove yang jatuh akan terurai oleh bakteri tanah menghasilkan makanan
bagi plankton dan merupakan nutrien bagi pertumbuhan algae laut. Plankton dan algae
yang berkembang akan menjadi makanan bagi berbagai jenis organisme darat dan air di
habitat yang bersangkutan. Demikianlah suatu ekosistem mangrove dapat terbentuk dan
berkembang dari pertumbuhan biji mangrove.
Pada saat terjadi badai, mangrove memberikan perlindungan bagi pantai dan
perahu yang bertambat. Sistem perakarannya yang kompleks, tangguh terhadap
gelombang dan angin serta mencegah erosi pantai. Pada saat cuaca tenang akar mangrove
mengumpulkan bahan yang terbawa air dan partikel endapan, memperlambat aliran arus
air. Apabila mangrove ditebang atau diambil dari habitatnya di pantai maka akan dapat
mengakibatkan hilangnya perlindungan terhadap erosi pantai oleh gelombang laut, dan
menebarkan partikel endapan sehingga air laut menjadi keruh yang kemudian
menyebabkan kematian pada ikan dan hewan sekitarnya karena kekurangan oksigen.
Proses ini menyebabkan pula melambatnya pertumbuhan padang lamun (seagrass).
Ekosistem hutan mangrove memberikan banyak manfaat baik secara tidak
langsung (non economic value) maupun secara langsung kepada kehidupan manusia
(economic vallues). Beberapa manfaat mangrove antara lain adalah:

Menumbuhkan pulau dan menstabilkan pantai.

Salah satu peran dan sekaligus manfaat ekosistem mangrove, adalah adanya
sistem perakaran mangrove yang kompleks dan rapat, lebat dapat memerangkap sisa-sia
bahan organik dan endapan yang terbawa air laut dari bagian daratan. Proses ini
menyebabkan air laut terjaga kebersihannya dan dengan demikian memelihara kehidupan
padang lamun (seagrass) dan terumbu karang. Karena proses ini maka mangrove
seringkali dikatakan pembentuk daratan karena endapan dan tanah yang ditahannya
menumbuhkan perkembangan garis pantai dari waktu ke waktu. Pertumbuhan mangrove
memperluas batas pantai dan memberikan kesempatan bagi tumbuhan terestrial hidup dan
berkembang di wilayah daratan. Akar pohon mangrove juga menjaga pinggiran pantai
dari bahaya erosi. Buah vivipar yang dapat berkelana terbawa air hingga menetap di dasar
yang dangkal dapat berkembang dan menjadi kumpulan mangrove di habitat yang baru.
Dalam kurun waktu yang panjang habitat baru ini dapat meluas menjadi pulau sendiri.

Menjernihkan air.

Akar pernafasan (akar pasak) dari api-api dan tancang bukan hanya berfungsi
untuk pernafasan tanaman saja, tetapi berperan juga dalam menangkap endapan dan bisa
membersihkan kandungan zat-zat kimia dari air yang datang dari daratan dan mengalir ke
laut. Air sungai yang mengalir dari daratan seringkali membawa zat-zat kimia atau
polutan. Bila air sungai melewati akar-akar pasak pohon api-api, zat-zat kimia tersebut
dapat dilepaskan dan air yang terus mengalir ke laut menjadi bersih. Banyak penduduk
melihat daerah ini sebagai lahan marginal yang tidak berguna sehingga menimbunnya

dengan tanah agar lebih produktif. Hal ini sangat merugikan karena dapat menutup akar
pernafasan dan menyebabkan pohon mati.

Mengawali rantai makanan.

Daun mangrove yang jatuh dan masuk ke dalam air. Setelah mencapai dasar
teruraikan oleh mikro organisme (bakteri dan jamur). Hasil penguraian ini merupakan
makanan bagi larva dan hewan kecil air yang pada gilirannya menjadi mangsa hewan
yang lebih besar serta hewan darat yang bermukim atau berkunjung di habitat mangrove.

Melindungi dan memberi nutrisi.

Akar tongkat pohon mangrove memberi zat makanan dan menjadi daerah nursery bagi hewan
ikan dan invertebrata yang hidup di sekitarnya. Ikan dan udang yang ditangkap di laut dan di
daerah terumbu karang sebelum dewasa memerlukan perlindungan dari predator dan suplai
nutrisi yang cukup di daerah mangrove ini. Berbagai jenis hewan darat berlindung atau singgah
bertengger dan mencari makan di habitat mangrove.

Manfaat bagi manusia.

Masyarakat daerah pantai umumnya mengetahui bahwa hutan mangrove sangat berguna dan
dapat dimanfaatkan dalam berbagai cara untuk memenuhi kebutuhan hidup. Pohon mangrove
adalah pohon berkayu yang kuat dan berdaun lebat. Mulai dari bagian akar, kulit kayu, batang
pohon, daun dan bunganya semua dapat dimanfaatkan manusia. Beberapa kegunaan pohon
mangrove yang langsung dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari antara lain adalah:

Tempat tambat kapal.

Daerah teluk yang terlidung seringkali dijadikan tempat berlabuh dan


bertambatnya perahu. Dalam keadaan cuaca buruk pohon mangrove dapat dijadikan
perlindungan dengan bagi perahu dan kapal dengan mengikatkannya pada batang pohon
mangrove. Perlu diperhatikan agar cara tambat semacam ini tidak dijadikan kebiasaan
karena dapat merusak batang pohon mangrove yang bersangkutan.

Obat-obatan.

Kulit batang pohonnya dapat dipakai untuk bahan pengawet dan obat-obatan.
Macam-macam obat dapat dihasilkan dari tanaman mangrove. Campuran kulit batang
beberapa species mangrove tertentu dapat dijadikan obat penyakit gatal atau peradangan
pada kulit. Secara tradisional tanaman mangrove dipakai sebagai obat penawar gigitan
ular, rematik, gangguan alat pencernaan dan lain-lain. Getah sejenis pohon yang
berasosiasi dengan mangrove (blind-your-eye mangrove) atau Excoecaria agallocha dapat
menyebabkan kebutaan sementara bila kena mata, akan tetapi cairan getah ini
mengandung cairan kimia yang dapat berguna untuk mengobati sakit akibat sengatan
hewan laut. Air buah dan kulit akar mangrove muda dapat dipakai mengusir nyamuk. Air
buah tancang dapat dipakai sebagai pembersih mata. Kulit pohon tancang digunakan
secara tradisional sebagai obat sakit perut dan menurunkan panas. Di Kambodia bahan ini
dipakai sebagai penawar racun ikan, buah tancang dapat membersihkan mata, obat sakit
kulit dan di India dipakai menghentikan pendarahan. Daun mangrove bila di masukkan
dalam air bisa dipakai dalam penangkapan ikan sebagai bahan pembius yang
memabukkan ikan (stupefied).

Pengawet.

Buah pohon tancang dapat dijadikan bahan pewarna dan pengawet kain dan jaring
dengan merendam dalam air rebusan buah tancang tersebut. Selain mengawetkan
hasilnya juga pewarnaan menjadi coklat-merah sampai coklat tua, tergantung pekat dan
lamanya merendam bahan. Pewarnaan ini banyak dipakai untuk produksi batik, untuk
memperoleh pewarnaan jingga-coklat. Air rebusan kulit pohon tingi dipakai untuk
mengawetkan bahan jaring payang oleh nelayan di daerah Labuhan, Banten.

Pakan dan makanan.

Daunnya banyak mengandung protein. Daun muda pohon api-api dapat dimakan
sebagai sayur atau lalapan. Daun-daun ini dapat dijadikan tambahan untuk pakan ternak.
Bunga mangrove jenis api-api mengandung banyak nectar atau cairan yang oleh tawon
dapat dikonversi menjadi madu yang berkualitas tinggi. Buahnya pahit tetapi bila
memasaknya hatihati dapat pula dimakan. .

Bahan mangrove dan bangunan.

Batang pohon mangrove banyak dijadikan bahan bakar baik sebagai kayu bakar
atau dibuat dalam bentuk arang untuk kebutuhan rumah tangga dan industri kecil. Batang
pohonnya berguna sebagai bahan bangunan. Bila pohon mangrove mencapai umur dan
ukuran batang yang cukup tinggi, dapat dijadikan tiang utama atau lunas kapal layar dan
dapat digunakan untuk balok konstruksi rumah tinggal. Batang kayunya yang kuat dan
tahan air dipakai untuk bahan bangunan dan cerocok penguat tanah. Batang jenis tancang
yang besar dan keras dapat dijadikan pilar, pile, tiang telepon atau bantalan jalan kereta

api. Bagi nelayan kayu mangrove bisa juga untuk joran pancing. Kulit pohonnya dapat
dibuat tali atau bahan jaring.
Beberapa manfaat dan fungsi hutan mangrove dapat dikelompokan sebagai
berikut:
1. Manfaat / Fungsi Fisik :
1

Menjaga agar garis pantai tetap stabil

Melindungi pantai dan sungai dari bahaya erosi dan abrasi.

Menahan badai/angin kencang dari laut

Menahan hasil proses penimbunan lumpur, sehingga memungkinkan terbentuknya lahan

baru.
5

Menjadi wilayah penyangga, serta berfungsi menyaring air laut menjadi air daratan yang

tawar
6

B.

Mengolah limbah beracun, penghasil O2 dan penyerap CO2.

Manfaat / Fungsi Biologis :


1. Menghasilkan bahan pelapukan yang menjadi sumber makanan penting bagi plankton,
sehingga penting pula bagi keberlanjutan rantai makanan.

2. Tempat memijah dan berkembang biaknya ikan-ikan, kerang, kepiting dan udang.
3. Tempat berlindung, bersarang dan berkembang biak dari burung dan satwa lain.
4. Sumber plasma nutfah & sumber genetik.
5. Merupakan habitat alami bagi berbagai jenis biota.

1. C.

Manfaat / Fungsi Ekonomis :


1. Penghasil kayu : bakar, arang, bahan bangunan.
2. Penghasil bahan baku industri : pulp, tanin, kertas, tekstil, makanan, obat-obatan,
kosmetik, dll
3. Penghasil bibit ikan, nener, kerang, kepiting, bandeng melalui pola tambak
silvofishery
4. Tempat wisata, penelitian & pendidikan.

2.4.

Luas Hutan Mangrove di Indonesia

Indonesia itu negara yang kaya, kita harus bangga terhadap negara kita ini. kita mempunyai
hutan mangrove yang terluas didunia, sebaran terumbu karang yang eksotik, rumput laut yang
terhampar dihampir sepanjang pantai, sumber perikanan yang tidak ternilai banyaknya. menurut

Rusila Noor, dkk. (1999) Indonesia merupakan negara yang mempunyai luas hutan mangrove
terluas didunia dengan keragaman hayati terbesar didunia dan struktur paling bervariasi didunia.
Apa coba yang kurang masalah data entar deh kita lihat dibawah.
Hutan mangrove atau yang biasa disebut hutan bakau, walaupun penyebutan hutan bakau itu
tidak pas sebenarnya karena bakau hanya merupakan salah satu dari jenis mangrove itu sendiri
yaitu jenis Rhizopora spp. Hutan mangrove merupakan tipe hutan yang khas dan tumbuh
disepanjang pantai atau muara sungai yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Mangrove
banyak dijumpai di wilayah pesisir yang terlindung dari gempuran ombak dan daerah yang
landai di daerah tropis dan sub tropis (FAO, 2007).
Menurut Gunarto (2004) mangrove tumbuh subur di daerah muara sungai atau estuari yang
merupakan daerah tujuan akhir dari partikel-partikel organik ataupun endapan lumpur yang
terbawa dari daerah hulu akibar adanya erosi. Kesuburan daerah ini juga ditentukan oleh adanya
pasang surut yang mentransportasi nutrient.
Berdasarkan data Direktorat Jendral Rehabilitas Lahan dan Perhutanan Sosial (2001) dalam
Gunarto (2004) luas hutan Mangrove di Indonesia pada tahun 1999 diperkirakan mencapai 8.60
juta hektar akan tetapi sekitar 5.30 juta hektar dalam keadaan rusak. Sedangkan data FAO (2007)
luas hutan Mangrove di Indonesia pada tahun 2005 hanya mencapai 3,062,300 ha atau 19% dari
luas hutan Mangrove di dunia dan yang terbesar di dunia melebihi Australia (10%) dan Brazil
(7%).
Di Asia sendiri luasan hutan mangrove indonesia berjumlah sekitar 49% dari luas total hutan
mangrove di Asia yang dikuti oleh Malaysia (10% ) dan Mnyanmar (9%). Akan tetapi

diperkirakan luas hutan manrove diindonesia telah berkurang sekitar 120.000 ha dari tahun 1980
sampai 2005 karena alasan perubahan penggunaan lahan menjadi lahan pertanian (FAO, 2007).
Data Kementerian Negara Lingkungan Hidup (KLH) RI (2008) berdasarkan Direktoral Jenderal
Rehabilitasi lahan dan Perhutanan Sosial (Ditjen RLPS), Dephut (2000) luas potensial hutan
mangrove Indonesia adalah 9.204.840.32 ha dengan luasan yang berkondisi baik 2.548.209,42
ha, kondisi rusak sedang 4.510.456,61 ha dan kondisi rusak 2.146.174,29 ha. Berdasarkan data
tahun 2006 pada 15 provinsi yang bersumber dari BPDAS, Ditjen RLPS, Dephut luas hutan
mangrove mencapai 4.390.756,46 ha.
Data hasil pemetaan Pusat Survey Sumber Daya Alam Laut (PSSDAL)-Bakosurtanal dengan
menganalisis data citra Landsat ETM (akumulasi data citra tahun 2006-2009, 190 scenes),
mengestimasi luas mangrove di Indonesia adalah 3.244.018,46 ha (Hartini et al., 2010).
Kementerian kehutanan tahun 2007 juga mengeluarkan data luas hutan mangrove Indonesia,
adapun luas hutan mangrove Indonesia

berdasarkan kementerian kehutanan adalah

7.758.410,595 ha (Direktur Bina Rehabilitasi Hutan dan Lahan Kementerian Kehutanan, 2009
dalam Hartini et al., 2010), tetapi hampir 70%nya rusak (belum tau kategori rusaknya seperti
apa). kedua instansi tersebut juga mengeluarkan data luas Mangrove per propinsi di 33 Provinsi
di Indonesia.
NASA (2010) juga mengeluarkan informasi tentang luas mangrove dan sebarannya. menurutnya
luas mangrove di indoensia telah berkurang 35% antara tahun 1980-2000 dimana luas mangrove
pada tahun 1980 itu mencapai 4,2 juta ha dan pada tahun 2000 berkurang menjadi 2 juta ha.
Mereka juga (NASA) mengupload beberapa foto konversi lahan dari hutan mangrove manjadi
sawah.

Apapun bentuk datanya, yang jelas hutan mangrove kita telah banyak yang berkurang. Konversi
lahan yang dilakukan oleh manusia terhadap areal hutan mangrove sebagai tambak, areal
pertanian dan pemukiman menyebabkan luas lahan hutan mangrove terus berkurang. Selain itu
pemanfaatan hutan mangrove yang tidak bertanggung jawab sebagai bahan bangunan, kayu
bakar dan juga arang memberi kontribusi yang tidak sedikit terhadap kerusakan hutan mangrove.
Seperti pada gambar di bawah terlihat perubahan penggunaan lahan hutan mangrove menjadi
tambak dari tahun 1992 sampai 1998 didaerah delta mahakam. Menurut Rusila Noor, dkk.
(1999) kematian mangrove secara alami tidak memberikan kontribusi yang signifikan terhadap
hilangnya areal mangrove di Indonesia.

BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Hutan Mangrove berasal dari kata mangue/mangal (Portugish) dan grove (English). Hutan
mangrove dikenal juga dengan istilah tidal forest, coastal woodland, vloedbosschen, atau juga
hutan bakau. Hutan mangrove dapat didefinisikan sebagai tipe ekosistem hutan yang tumbuh di
daerah batas pasang-surutnya air, tepatnya daerah pantai dan sekitar muara sungai.

Hutan mangrove sangat berbeda dengan tumbuhan lain di hutan pedalaman tropis dan subtropis,
ia dapat dikatakan merupakan suatu hutan di pinggir laut dengan kemampuan adaptasi yang luar
biasa. Akarnya, yang selalu tergenang oleh air, dapat bertoleransi terhadap kondisi alam yang
ekstreem seperti tingginya salinitas dan garam. Hal ini membuatnya sangat unik dan menjadi
suatu habitat atau ekosistem yang tidak ada duanya.
Hutan mangrove memiliki ciri-ciri fisik yang unik di banding tanaman lain. Hutan mangrove
mempunyai tajuk yang rata dan rapat serta memiliki jenis pohon yang selalu berdaun. Keadaan
lingkungan di mana hutan mangrove tumbuh, mempunyai faktor-faktor yang ekstrim seperti
salinitas air tanah dan tanahnya tergenang air terus menerus. Meskipun mangrove toleran
terhadap tanah bergaram (halophytes), namun mangrove lebih bersifat facultative daripada
bersifat obligative karena dapat tumbuh dengan baik di air tawar.