Anda di halaman 1dari 6

Tahapan perizinan dalam pembukaan usaha pertambangan mineral dan batubara (minerba)

adalah sebagai berikut :


1. SKIP (Surat Keterangan Izin Peninjauan). SKIP merupakan kegiatan peninjauan
lokasi yang diperkirakan ada potensi endapan bahan galian (minerba).
2. Apabila hasil SKIP (peninjauan lokasi) diyakini daerah tersebut terdapat indikasi
endapan bahan galian (minerba), selanjutnya dilakukan pengajuan Izin Usaha
Pertambangan Eksplorasi (IUP Eksplorasi).
3. Setelah IUP Eksplorasi didapat, selanjutnya dilakukan kegiatan :
Eksplorasi detail untuk menghasilkan data yang akurat berkaitan dengan lokasi

keterdapatan endapan bahan galian (minerba)


Data eksplorasi yang didapat digunakan untuk perhitungan dalam penyusunan

Dokumen Feasibility Study (FS)


Untuk mendapatkan Izin Usaha Pertambangan Operasi Produksi (IUP OP), selain

Dokumen FS juga diperlukan Dokumen AMDAL (Analisis Mengenai Dampak


Lingkungan), Dokumen RPT (Rencana Penutupan Tambang) dan Dokumen RKAB
(Rencana Kerja dan Anggaran Belanja).
4. Setelah semua syarat dokumen terpenuhi maka akan didapat Izin Usaha
Pertambangan Operasi Produksi (IUP OP) dan atau Izin Usaha Pertambangan
Pengangkutan (IUP Pengangkutan).

Dalam merancang atau desain pemboran dan peledakan, perlu dipertimbangkan pemilihan
peralatan dan metode/sistem yang akan diterapkan harus disesuaikan dengan kondisi
lapangan (kondisi batuan dan target produksi) dan lain sebagainya.
1. Macam-macam alat bor
- Jack Hummer

Alat bor ini digunakan untuk pemboran batuan dimana lokasi kerja yang sangat terbatas
seperti pemboran pada lereng-lereng bukit disamping itu juga alat ini sering digunakan untuk
secondary blasting. Diameter bit 1-1,5 inchi dan pada umumnya kedalaman lebih kecil atau
sama dengan 6 m.
- Crawler Drill

Alat bor ini digunakan untuk pemboran batuan di daerah kerja yang relatif luas dengan
diameter bit 2-4 inchi dan kedalaman lebih kecil atau sama dengan 12 m. Kompresor yang
digunakan untuk menggerakkan crawler drill ini terpisah. Arah pemboran dapat diatur sesuai
dengan sudut kemiringan yang diinginkan.

- Rock Drill

Alat bor ini kompressornya menjadi satu dengan unit rock drill dan kemampuan pemboran
alat bor ini dapat mencapai 30-40 m dan diameter bit 4-8 inchi. Arah pemboran dapat diatur
sesuai dengan sudut kemiringan yang diinginkan.
- Drill Master

Alat bor ini kompressornya menjadi satu dengan unit drill master dan kemampuan pemboran
alat bor ini relatif lebih dalam dapat mencapai 60 m dan diameter bit 4-10 inchi. Arah
pemboran tidak dapat diatur (hanya untuk pemboran vertikal).
2. Macam-macam mata bor (bit).
Ada tiga macam bit yang dapat digunakan untuk pemboran batuan, yaitu : cross bit, button bit
dan tricone bit.
Pertimbangan pemilihan alat bor dan mata bor yang akan digunakan disesuaikan dengan
target produksi, kondisi lapangan dan jenis material batuan yang akan diledakkan.
3. Pola Pemboran
Ada dua pola pemboran lubang ledak yang sering digunakan yaitu paralel pattern dan zigzag

pattern (bentuk rectangular dan square). Pada umumnya digunakan zigzag pattern dan untuk
penentuan bentuk geometri dan ukuran lubang ledak (burden x spacing) tergantung dengan
orientasi struktur joints batuan (dip, strike, joints spacing).
4. Geometri dan bahan peledak
Untuk menentukan dimensi geometri dan jumlah bahan peledak yang digunakan dapat
menggunakan beberapa rumus-rumus empiris : RL Ash, Konya, Langerfors, Anderson, ICI,
dan rumus empiris lainnya.
5. Sistem pengisian bahan peledak
Ada beberapa cara pengisian bahan peledak, yaitu : coloumn loading dan deck loading serta
dengan top priming atau bottom priming dan deck loading. Untuk peledakan lobang ledak
ukuran kecil (diameter bit 1-1,5 inchi) pada umumnya menggunakan bahan peledak
berbentuk cartridge dan untuk diameter bit lebih besar dari 2 inchi pada umumnya
menggunakan blasting agent ANFO dan high explosive (sebagai primer).
6. Sistem rangkaian dan penyalaan serta system delay
Ada empat system rangkaian peledakan yaitu : seri, parallel, seri-paralel dan paralel-seri.
Sedangkan system penyalaan ada beberapa macam, yaitu peledakan listrik dan peledakan
non-listrik (sumbu bakar dan cordtex/detonating fuse). Pertimbangan pemilihan system
rangkaian dan system penyalaan ini antara lain jumlah detonator yang akan diledakkan,
kapasitas blasting machine dan kondisi lapangan.
Pada umumnya system delay atau penundaan penyalaan digunakan dengan tujuan untuk
mengurangi getaran (ground vibration dan air blast), mengatur fragmentasi serta arah
tumpukan.

Direncanakan peledakan batuan granit dengan tinggi jenjang Y m, dan diameter bit yang
digunakan X inci. Diketahui: densitas batu granit insitu= 2,6 t/m3, swell factor =
0,70. Hitung: Geometri peledakan dan jumlah bahan peledak yang dibutuhkan dengan
menggunakan berbagai rumus empiris: RL Ash, Konya, Langerfors, Anderson, ICI,
dan rumus empiris lainnya!
LAMPIRAN
SPESIFIKASI BAHAN PELEDAK DAN DETONATOR
1.

Ammonium Nitrate

Pabrik pembuat
Bentuk
Komposisi kimia
Berat per-kemasan
Warna
Density
Kecepatan detonasi
Ketahanan terhadap air
Panas peledakan
Bahan campuran

2. Damotin
Pabrik pembuat
Bentuk
Komposisi kimia
- Amonium nitrat NH4NO3
Berat per-cartridge
Panjang
Diameter
Density
Kecepatan peledakan
Warna
Ketahanan terhadap air
3. Detonator listrik
Pabrik pembuat
Tipe

:
:
:
:
:
:
:
:
:
:

PT. Multi Nitrotama Kimia Cikampek


Butiran (prill)
NH4NO3
25 kg
Putih
0,9 kg/dm3
2667 m/detik
Buruk
3,6 MJ/kg
Solar

: PT. Dahana (Persero) Tasikmalaya


: Cartridge (dodol batangan)
: Nitroglyserin C3 H5 (NO3)
:
:
:
:
:
:

1000 gram
400 mm
50 mm
1,44 kg/dm3
5000 6000 m/detik
Kuning tua
: Baik

: PT. Dahana (Persero) Tasikmalaya


: Instantaneous

Nomor delay
Warna leg wire
Panjang leg wire
Bentuk
Panjang
Diameter
Komposisi

:
:
:
:
:
:
:

1 dan 3
Kuning dan Merah
1.8 meter
Cap (tabung aluminium)
5,5 cm
0,6 cm
Sulfur, aspalt, fulminat