Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Sejarah tentang terorisme berkembang sejak berabad lampau. Hal ini ditandai

dengan bentuk kejahatan murni berupa pembunuhan dan ancaman yang bertujuan
untuk mencapai tujuan tertentu. Perkembangannya bermula dan bentuk fanatisme
aliran kepercayaan yang kemudian berubah menjadi pembunuhan, baik yang
dilakukan secara perorangan maupun oleh suatu kelompok terhadap penguasa yang
dianggap sebagai tiran. Pembunuhan terhadap individu ini sudah dapat dikatakan
sebagai bentuk murni dari terorisme dengan mengacu pada sejarah terorisme modern
Terorisme muncul pada akhir abad 19 dan menjelang terjadinya Perang
Dunia-I dan terjadi hampir di seluruh permukaan bumi. Sejarah mencatat pada tahun
1890-an aksi terorisme Armenia melawan pemerintah Turki, yang berakhir dengan
bencana pembunuhan masal terhadap warga Armenia pada PD-I.
Perkembangan kejahatan terorisme global telah menunjukkan peningkatan
yang cukup signifikan baik modus, kuantitas maupun kualitasnya, Indonesia tidak
lepas dari sasaran terorisme. Terungkap fakta adanya keterkaitan jaringan militan
lokal dengan jaringan internasional. Selain ancaman terorisme, ancaman non
tradisional lainnya yang muncul saat ini telah merebak pula lewat pintu sendi
kehidupan bangsa. Aktivitas teroris telah membidik dan memanfaatkan ideologi dan
agama bagi masyarakat dunia sebagai garapan agar memihak kepada perjuangan
mereka. Oleh sebab itu perlu ditangani secara bijak. Untuk mencegah dan
menanggulangi segala bentuk tindakan dan kegiatan teroris, Pemerintah Indonesia
menyikapi fenomena terorisme secara arif, menganilisis berbagai aspek kehidupan
bangsa saat ini, guna memerangi aksi terorisme, bersama dunia internasional.
Berbagai usaha yang dilakukan bahkan setelah terjadi Bom Bali 1
pemerintahan RI membentuk suatu ketentuan undang-undang yang dinamakan
Undang-undang Republik Indonesia Nomor.15 Tahun 2003 Tentang Penetapan

Penanggulangan tindak terorisme demi persatuan NKRI

Peraturan Pemerintah Pengganti undang-undang nomor.1 Tahun 2002 tentang


pemberantasan tindak pidana terorisme menjadi undang-undang.
Terlebih Pemerintahan RI membentuk suatu kesatuan khusus yang dinamakan
Detasemen Khusus 88 atau Densus 88 adalah satuan khusus Kepolisian Negara
Republik Indonesia untuk penanggulangan teroris di Indonesia. Pasukan khusus
berompi merah ini dilatih khusus untuk menangani segala ancaman teror, termasuk
teror bom. Beberapa anggota juga merupakan anggota tim Gegana. Hingga pada
puncaknya pasukan khusus ini dapat menghentikan sepak terjang salah satu gembong
teroris yang paling diburu yakni Gembong teroris Noordin M Top yang tewas dalam
penggerebekan Densus 88 di Solo, Jawa Tengah, 17 September 2009 lalu, ternyata
semua itu bukan akhir dari pada sepak terjang para teroris yang ada di Indonesia
namun akan tetapi telah mengembangkan jaringan sel-sel baru terorisme.
Di era globalisasi seperti sekarang, terorisme bukan hanya di lakukan dalam
bentuk pengeboman ataupun pembajakan alat transportasi massal. Melainkan dengan
cara doktrinasi, dimana sarsarannya sebagian besar berasal dari kalangan pelajar
terutama mahasiswa yang secara psikologis masih bisa di goyahkan pendiriannya
seperti yang di lakukan oleh organisasi NII (Negara Islam Indonesia). Sekarang
gerakan NII ini makin merajalela dan mengancam saudara-saudara kita. Sasaran
utama mereka adalah remaja dan mahasiswa.
Hal yang paling penting adalah kita semua harus menyadari bahwa terorisme
adalah musuh kita bersama dan harus dilawan bersama karena menyengsarakan
rakyat. Oleh sebab itu dibutuhkan peran aktif semua komponen dalam masyarakat
untuk bahu-membahu dalam mencegah dan memberantas teroris agar masyarakat di
bumi Indonesia yang tercinta ini dapat hidup aman, damai dan tenteram.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Apa yang dimaksud dengan terorisme ?
2. Apa faktor yang melatar-belakangi tindakan terorisme di Indonesia ?
3. Bagaimana tindakan terorisme di Indonesia dan cara mengatasinya ?
1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Mengetahui yang dimaksud dengan terorisme
Penanggulangan tindak terorisme demi persatuan NKRI

2. Mengetahui faktor-faktor yang melatarbelakangi tindakan terorisme di


Indonesia
3. Mengetahui tindakan terorisme yang telah terjadi di Indonesia dan cara
mengatasinya

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Terorisme
Terorisme

adalah

serangan-serangan

terkoordinasi

yang

bertujuan

membangkitkan perasaan teror terhadap sekelompok masyarakat. Berbeda dengan


perang, aksi terorisme tidak tunduk pada tatacara peperangan seperti waktu
Penanggulangan tindak terorisme demi persatuan NKRI

pelaksanaan yang selalu tiba-tiba dan target korban jiwa yang acak serta seringkali
merupakan warga sipil. Menurut beberapa versi terorisme adalah sebagai berikut :
Menurut Konvensi PBB tahun 1937, Terorisme adalah segala bentuk tindak
kejahatan yang ditujukan langsung kepada negara dengan maksud menciptakan
bentuk teror terhadap orang-orang tertentu atau kelompok orang atau masyarakat
luas.
US Department of Defense tahun 1990. Terorisme adalah perbuatan melawan
hukum atau tindakan yang mengan-dung ancaman dengan kekerasan atau paksaan
terhadap individu atau hak milik untuk memaksa atau mengintimidasi pemerintah
atau masyarakat dengan tujuan politik, agama atau idiologi.
TNI - AD, berdasarkan Bujuknik tentang Anti Teror tahun 2000. Terorisme
adalah cara berfikir dan bertindak yang menggunakan teror sebagai tehnik untuk
mencapai tujuan.
Istilah teroris oleh para ahli kontraterorisme dikatakan merujuk kepada para
pelaku yang tidak tergabung dalam angkatan bersenjata yang dikenal atau tidak
menuruti peraturan angkatan bersenjata tersebut. Aksi terorisme juga mengandung
makna bahwa serangan-serangan teroris yang dilakukan tidak berperikemanusiaan
dan tidak memiliki justifikasi, dan oleh karena itu para pelakunya (teroris) layak
mendapatkan pembalasan yang kejam.
James H.Wolfe (1990) menyebutkan beberapa karakteristik terorisme sebagai
berikut:
1. Terorisme dapat didasarkan pada motivasi yang bersifat politis maupun
nonpolitis.
2. Sasaran yang menjadi obyek aksi terorisme bisa sasaran sipil (super market,
mall, sekolah, tempat ibadah, rumah sakit dan fasilitas umum lainya) maupun
sasaran non-sipil.
3. Aksi terorisme dapat ditujukan untuk mengintimidasi atau mempengaruhi
kebijakan pemerintah negara.
4. Aksi terorisme dilakukan melalui tindakan yang tidak menghormati hukum
internasional atau etika internasional.
5. Serangan yang dilakukan dengan sengaja untuk membinasakan penduduk sipil
seperti yang terjadi di Kuta adalah pelanggaran hukum internasional.
Penanggulangan tindak terorisme demi persatuan NKRI

6. Persiapan atau perencanaan aksi teror bisa bersifat multinasional. Kejadian di


Bali, kalau memang benar sebagai teror, bisa dilakukan oleh orang Indonesia,
orang asing atau gabungan keduanya.
7. Tujuan jangka pendek aksi terorisme adalah menarik perhatian media massa
dan untuk menarik perhatian publik. Jadi pemberitaan yang gencar di seluruh
penjuru dunia tentang kejadian di Bali dapat disebut sebagai cara teroris untuk
menarik perhatian publik.
8. Aktivitas terorisme mempunyai nilai mengagetkan (shock value) yang bagi

teroris berguna untuk mendapatkan perhatian. Untuk itulah dampak aktivitas


teroris selalu terkesan kejam, sadis dan tanpa menghargai nilai-nilai
kemanusiaan. Kalau memang betul aksi terorisme, maka tragedi di Bali justru
akan mengangkat perhatian publik, yang berguna bagi kepentingan teroris.
2.2 Faktor Faktor yang Mempengaruhi Tindakan Terorisme di Indonesia

Faktor-faktor pendorong terbentuknya radikalisme dan terorisme di Indonesia


bukanlah semata-mata untuk kepentingan individu. Sebab, apabila dimotivasi untuk
kepentingan individu, maka semestinya hal tersebut apa yang dilakukannya dan
tindakannya tidak menyakitkan baik itu diri sendiri maupun orang lain. Adapun
faktor-faktor yang mendorong terbentuknya terorisme:

2.2.1 Faktor ekonomi


Kita dapat menarik kesimpulan bahwa faktor ekonomi merupakan motif
utama bagi para terorisme dalam menjalankan misi mereka. Keadaan yang
semakin tidak menentu dan kehidupan sehari-hari yang membikin resah orang
untuk melakukan apa saja. Dengan seperti ini pemerintah harus bekerja keras
untuk merumuskan rehabilitasi masyarakatnya. Kemiskinan membuat orang
gerah untuk berbuat yang tidak selayaknya diperbuat seperti; membunuh,
mengancam orang, bunuh diri, dan sebagainya.
2.2.2 Faktor sosial
Dalam keseharian hidup yang kita jalani terdapat pranata sosial yang
membentuk pribadi kita menjadi sama. Situasi ini sangat menentukan
Penanggulangan tindak terorisme demi persatuan NKRI

kepribadian seseorang dalam melakukan setiap kegiatan yang dilakukan. Sistem


sosial yang dibentuk oleh kelompok radikal atau garis keras membuat semua
orang yang mempunyai tujuan sama dengannya bisa mudah berkomunikasi dan
bergabung dalam garis keras atau radikal.
2.2.3 Faktor Ideologi
Faktor ini yang menjadikan seseorang yakin dengan apa yang
diperbuatnya. Perbuatan yang mereka lakukan berdasarkan dengan apa yang
sudah disepakati dari awal dalam perjanjiannya. Dalam setiap kelompok
mempunyai misi dan visi masing-masing yang tidak terlepas dengan
ideologinya. Dalam hal ini terorisme yang ada di Indonesia dengan
keyakinannya yang berdasarkan Jihad yang mereka miliki.
2.3

Tindakan Terorisme di Indonesia dan Cara Mengatasinya


2.3.1 Tindakan Terorisme di Indonesia

Terorisme di Indonesia yang dilakukan oleh grup teror Jemaah


Islamiyah yang berhubungan dengan al-Qaeda. Sejak tahun 2002, beberapa
"target negara Barat" telah diserang. Korban yang jatuh adalah turis Barat dan
juga penduduk Indonesia. Terorisme di Indonesia dimulai tahun 2000 dengan
terjadinya Bom Bursa Efek Jakarta, diikuti dengan empat serangan besar
lainnya, dan yang paling mematikan adalah Bom Bali 2002.
Berikut adalah beberapa kejadian terorisme yang telah terjadi di
Indonesia dan instansi Indonesia di luar negeri:
1. Pada Tahun 1981
Garuda Indonesia Penerbangan 206, 28 Maret 1981. Sebuah
penerbangan maskapai Garuda Indonesia dari Palembang ke
Medan pada Penerbangan dengan pesawat DC-9 Woyla berangkat
dari Jakarta pada pukul 8 pagi, transit di Palembang, dan akan
terbang ke Medan dengan perkiraan sampai pada pukul 10.55.
Dalam penerbangan, pesawat tersebut dibajak oleh 5 orang teroris
yang menyamar sebagai penumpang. Mereka bersenjata senapan
Penanggulangan tindak terorisme demi persatuan NKRI

mesin dan granat, dan mengaku sebagai anggota Komando Jihad.


1 kru pesawat tewas, 1 tentara komando tewas, 3 teroris tewas.
2. Pada Tahun 1985
Bom Candi Borobudur 1985, 21 Januari 1985. Peristiwa terorisme
ini adalah peristiwa terorisme bermotif "jihad" kedua yang
menimpa Indonesia.
3. Pada Tahun 2000
Bom Kedubes Filipina, 1 Agustus 2000. Bom meledak dari
sebuah mobil yang diparkir di depan rumah Duta Besar Filipina,
Menteng, Jakarta Pusat. 2 orang tewas dan 21 orang lainnya luka

luka, termasuk Duta Besar Filipina Leonides T Caday.


Bom Kedubes Malaysia, 27 Agustus 2000. Granat meledak di
kompleks Kedutaan Besar Malaysia di Kuningan, Jakarta. Tidak

ada korban jiwa.


Bom Bursa Efek Jakarta, 13 September 2000. Ledakan
mengguncang lantai parkir P2 Gedung Bursa Efek Jakarta. 10
orang tewas, 90 orang lainnya luka-luka. 104 mobil rusak berat,

57 rusak ringan.
Bom malam Natal, 24 Desember 2000. Serangkaian ledakan bom
pada malam Natal di beberapa kota di Indonesia, merenggut
nyawa 16 jiwa dan melukai 96 lainnya serta mengakibatkan 37

mobil rusak.
4. Pada Tahun 2001
Bom Gereja Santa Anna dan HKBP, 22 Juli 2001. di Kawasan

Kalimalang, Jakarta Timur, 5 orang tewas.


Bom Plaza Atrium Senen Jakarta, 23 September 2001. Bom

meledak di kawasan Plaza Atrium, Senen, Jakarta. 6 orang cedera.


Bom restoran KFC, Makassar, 12 Oktober 2001. Ledakan bom
mengakibatkan kaca, langit-langit, dan neon sign KFC pecah.
Tidak ada korban jiwa. Sebuah bom lainnya yang dipasang di
kantor MLC Life cabang Makassar tidak meledak.

Penanggulangan tindak terorisme demi persatuan NKRI

Bom sekolah Australia, Jakarta, 6 November 2001. Bom rakitan


meledak di halaman Australian International School (AIS),

Pejaten, Jakarta.
5. Pada Tahun 2002
Bom Tahun Baru, 1 Januari 2002. Granat manggis meledak di
depan rumah makan ayam Bulungan, Jakarta. Satu orang tewas
dan seorang lainnya luka-luka. Di Palu, Sulawesi Tengah, terjadi

empat ledakan bom di berbagai gereja. Tidak ada korban jiwa.


Bom Bali, 12 Oktober 2002. Tiga ledakan mengguncang Bali. 202
korban yang mayoritas warga negara Australia tewas dan 300
orang lainnya luka-luka. Saat bersamaan, di Manado, Sulawesi
Utara, bom rakitan juga meledak di kantor Konjen Filipina, tidak

ada korban jiwa.


Bom restoran McDonald's, Makassar, 5 Desember 2002. Bom
rakitan yang dibungkus wadah pelat baja meledak di restoran

McDonald's Makassar. 3 orang tewas dan 11 luka-luka.


6. Pada Tahun 2003
Bom Kompleks Mabes Polri, Jakarta, 3 Februari 2003, Bom
rakitan meledak di lobi Wisma Bhayangkari, Mabes Polri Jakarta.

Tidak ada korban jiwa.


Bom Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, 27 April 2003. Bom
meledak dii area publik di terminal 2F, bandar udara internasional
Soekarno-Hatta, Cengkareng, Jakarta. 2 orang luka berat dan 8

lainnya luka sedang dan ringan.


Bom JW Marriott, 5 Agustus 2003. Bom menghancurkan
sebagian Hotel JW Marriott. Sebanyak 11 orang meninggal, dan

152 orang lainnya mengalami luka-luka.


7. Pada Tahun 2004
Bom Palopo, 10 Januari 2004. Menewaskan empat orang.
Bom Kedubes Australia, 9 September 2004. Ledakan besar terjadi
di depan Kedutaan Besar Australia. 5 orang tewas dan ratusan
lainnya luka-luka. Ledakan juga mengakibatkan kerusakan

Penanggulangan tindak terorisme demi persatuan NKRI

beberapa gedung di sekitarnya seperti Menara Plaza 89, Menara

Grasia, dan Gedung BNI.


Ledakan bom di Gereja Immanuel, Palu, Sulawesi Tengah pada
12 Desember 2004.

8. Pada Tahun 2005


Dua Bom meledak di Ambon pada 21 Maret 2005
Bom Tentena, 28 Mei 2005. 22 orang tewas.
Bom Pamulang, Tangerang, 8 Juni 2005. Bom meledak di
halaman rumah Ahli Dewan Pemutus Kebijakan Majelis
Mujahidin Indonesia Abu Jibril alias M Iqbal di Pamulang Barat.

Tidak ada korban jiwa.


Bom Bali, 1 Oktober 2005. Bom kembali meledak di Bali.
Sekurang-kurangnya 22 orang tewas dan 102 lainnya luka-luka
akibat ledakan yang terjadi di R.AJA's Bar dan Restaurant, Kuta

Square, daerah Pantai Kuta dan di Nyoman Caf Jimbaran.


Bom Pasar Palu, 31 Desember 2005. Bom meledak di sebuah
pasar di Palu, Sulawesi Tengah yang menewaskan 8 orang dan

melukai sedikitnya 45 orang.


9. Pada Tahun 2009
Bom Jakarta, 17 Juli 2009. Dua ledakan dahsyat terjadi di Hotel
JW Marriott dan Ritz-Carlton, Jakarta. Ledakan terjadi hampir
bersamaan, sekitar pukul 07.50 WIB.
10. Pada Tahun 2010
Penembakan warga sipil di Aceh Januari 2010
Perampokan bank CIMB Niaga September 2010
11. Pada Tahun 2011
Bom Cirebon, 15 April 2011. Ledakan bom bunuh diri di Masjid
Mapolresta Cirebon saat Salat Jumat yang menewaskan pelaku

dan melukai 25 orang lainnya.


Bom Gading Serpong, 22 April 2011. Rencana bom yang
menargetkan Gereja Christ Cathedral Serpong, Tangerang
Selatan, Banten dan diletakkan di jalur pipa gas, namun berhasil
digagalkan pihak Kepolisian RI

Penanggulangan tindak terorisme demi persatuan NKRI

Bom Solo, 25 September 2011. Ledakan bom bunuh diri di GBIS


Kepunton, Solo, Jawa Tengah usai kebaktian dan jemaat keluar
dari gereja. Satu orang pelaku bom bunuh diri tewas dan 28
lainnya terluka.

2.3.2 Cara Mengatasi Terorisme di Indonesia

Masih adanya ancaman terorisme di Indonesia juga disebabkan oleh


belum adanya payung hukum yang kuat bagi kegiatan intelijen untuk
mendukung upaya pencegahan dan penanggulangan terorisme. Kendala lain
dalam pencegahan dan penanggulangan terorisme adalah belum adanya
pembinaan yang menjamin dapat mengubah pemikiran radikal menjadi
moderat. Sementara itu masih lemahnya sistem pengawasan terhadap peredaran
berbagai bahan pembuat bom, menyebabkan para teroris masih leluasa
melakukan perakitan bom yang jika tidak terdeteksi dapat menimbulkan
kekacauan di berbagai tempat.
Berikut adalah arah kebijakan yang ditempuh oleh Pemerintah dalam
rangka mencegah dan menanggulangi kejahatan terorisme pada tahun 2005
2009 adalah sebagai berikut:
1. Penguatan koordinasi dan kerja sama di antara lembaga Pemerintah
2. Peningkatan kapasitas lembaga pemerintah dalam pencegahan dan
3.

penanggulangan teroris, terutama satuan kewilayahan


Pemantapan operasional penanggulangan terorisme dan penguatan upaya

4.

deteksi secara dini potensi aksi terorisme;


Penguatan peran aktif masyarakat dan pengintensifan dialog dengan

5.

kelompok masyarakat yang radikal,


Peningkatan pengamanan terhadap area publik dan daerah strategis yang

6.
7.

menjadi target kegiatan terorisme;


Sosialisasi dan upaya perlindungan masyarakat terhadap aksi terorisme;
Pemantapan deradikalisasi melalui upaya-upaya pembinaan (soft
approach)

untuk

mencegah

rekrutmen

kelompok

teroris

serta

merehabilitasi pelaku terror yang telah tertangkap.

Penanggulangan tindak terorisme demi persatuan NKRI

10

Selain itu, tindakan deradikalisasi juga perlu dilakukan. Deradikalisasi


adalah suatu upaya menetralisir paham radikal bagi mereka yang terlibat teroris
dan para simpatisannya serta anggota masyarakat yang telah terekspos dengan
paham-paham tersebut. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan
bahwa radikalisme adalah paham atau aliran yang radikal dalam politik, yang
menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara
kekerasan, berpikir asasi, dan bertindak ekstrim. Sedangkan deradikalisasi
berasal dari kata radikal lalu ditambah awalan de di depan katanya yang
berarti mengurangi atau mereduksi, dan kata asasi, di belakang kata radikal
berarti proses, cara atau perbuatan. Jadi deradikalisasi bisa diartikan sebagai
upaya untuk mereduksi kegiatan-kegiatan yang berbau radikal atau penuh
dengan tindak kekerasan.
Kekhawatiran masyarakat terhadap bahaya teror bom masih ada. Hal ini
apabila tidak segera ditangani secara bijak akan mempengaruhi roda
perekonomian. Di sisi lain, penindakan, penangkapan atau pemeriksaan oleh
aparat terhadap siapa dan organisasi yang ada di masyarakat perlu sikap hatihati, agar tidak menimbulkan sentimen negatif di kalangan masyarakat itu
sendiri, pemerintah diangapnya diskriminatif atau muncul berbias pada
permasalahan baru yang bernuansa SARA.
Permasalahan yang dihadapi dalam pencegahan dan penanggulangan
terorisme yaitu : Penegakan hukum terhadap sistem kejahatan terorisme masih
lemah. Kualitas SDM mudah dimanfaatkan dan masih rentan terhadap aksi
penggalangan menjadi simpatisan kelompok teroris. Tingkat kewaspadaan
masyarakat terhadap modus operandi teroris masih lemah. Kemampuan aparat
keamanan dalam mendeteksi dini, menangkal, mencegah dan menangkap
kelompok teroris masih terkendala baik peralatan maupun koordinasi di
lapangan.
Dalam rangka mencegah dan menanggulangi ancaman terorisme di
dalam negeri, Pemerintah telah menempuh berbagai cara, terutama dengan
mengambil tindakan-tindakan yang sesuai dengan prosedur hukum yang
Penanggulangan tindak terorisme demi persatuan NKRI

11

berlaku. Pemerintah, melalui aparat terkait, telah melakukan pendekatan


melalui tokoh masyarakat, tokoh agama moderat dan yang cenderung radikal
guna mengubah pemikiran radikal menjadi moderat, yakni dengan memberikan
pengertian sesungguhnya tentang istilah jihad yang selama ini disalahartikan.
Permasalahan terorisme hanya dapat diselesaikan melalui kerja sama
dan koordinasi antara berbagai pemangku kepentingan (stake holder), baik
instansi pemerintah maupun masyarakat. Untuk itu, TNI dan Polri terus
melakukan latihan gabungan mengingat pentingnya kerja sama TNI-Polri untuk
terorisme. Untuk membantu penanganan kasus yang berhubungan dengan
terorisme, Kejaksaan Agung membentuk satuan tugas penanganan tindak
pidana terorisme dan tindak pidana lintas negara sehingga diharapkan
penyelesaian kasus terorisme dapat dilakukan dengan lebih baik.
Dalam mencegah dan menanggulangi terorisme, Pemerintah tetap
berpedoman pada prinsip yang telah diambil sebelumnya, yakni melakukan
secara preventif dan represif yang didukung oleh upaya pemantapan kerangka
hukum sebagai dasar tindakan proaktif dalam menangani aktivitas, terutama
dalam mengungkap jaringan terorisme. Peningkatan kerja sama intelijen, baik
dalam negeri maupun dengan intelijen asing, melalui tukar-menukar informasi
dan bantuan-bantuan lainnya, terus ditingkatkan. Untuk mempersempit ruang
gerak pelaku kegiatan terorisme, Pemerintah akan terus mendorong instansi
berwenang untuk meningkatkan penertiban dan pengawasan terhadap lalu lintas
orang dan barang di bandara, pelabuhan laut, dan wilayah perbatasan, termasuk
lalu lintas aliran dana, baik domestik maupun antarnegara.
Penertiban dan pengawasan juga akan dilakukan terhadap tata niaga dan
penggunaan bahan peledak, bahan kimia, senjata api dan amunisi di lingkungan
TNI, Polisi, dan instansi pemerintah. Selain itu, TNI, Polisi, dan instansi
pemerintah juga terus melakukan pengkajian mendalam bekerja sama dengan
akademisi, tokoh masyarakat, dan tokoh agama.

Peningkatan kemampuan

berbagai satuan anti teror dan intelijen dalam menggunakan sumber-sumber


primer dan jaringan informasi diperlukan agar dapat membentuk aparat anti
Penanggulangan tindak terorisme demi persatuan NKRI

12

teror yang profesional dan terpadu dari TNI, Polri, dan BIN. Selanjutnya, kerja
sama internasional sangat perlu untuk ditingkatkan karena terorisme merupakan
permasalahan lintas batas yang memiliki jaringan dan jalur yang tidak hanya
ada di Indonesia.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan

Penanggulangan tindak terorisme demi persatuan NKRI

13

Terorisme adalah serangan-serangan terkoordinasi yang bertujuan


membangkitkan perasaan teror terhadap sekelompok masyarakat dan masih
banyak lagi definisi teng terorisme ini sendiri. Faktor Faktor yang
mempengaruhi tindakan terorisme di Indonesia dibagi menjadi tiga faktor yaitu
faktor ekonomi, faktor sosial, dan faktor ideologi. Terorisme di Indonesia telah
tejadi sejak tahun 1981 yang menimpa Garuda Indonesia Penerbangan 206 pada
tanggal 28 Maret 1981 dan berlanjut sampai sekarang. Pemerintah telah
menempuh berbagai cara dalam mengatasi berbagai macam bentuk terorisme dari
penguatan koordinasi dan kerja sama di antara lembaga Pemerintah sampai
pembentukan Detasemen Khusus 88 atau yang lebih dikenal dengan densus 88
yang khusus mengatasi berbagai macam bentuk terorisme di Indonesia.
Pencegahan dan penanggulangan terorisme membutuhkan suatu
kerjasama secara menyeluruh. Selain kualitas dan kuantitas aparat yang telah
dibentuk pemerintah juga perlu adanya dukungan terhadap kepedulian
masyarakat, karena dengan melibatkan masyarakat penanggulanan dan
pencegahan secara dini terhadap seluruh aksi atau kegiatan terorisme dapat
dengan mudah diatasi.
Sistem pertahanan dan keamanan semesta dimana TNI dan Polri
merupakan elemen utama dalam menghadapi aksi kejahatan terotisme harus
selalu melakukan koordinasi dengan instansi-instansi pemerintah lainnya atau
dengan swasta atau elemen sipil lainnya karena dukungan dan koordinasi dalam
mendeteksi dan mengatasi berbagai permasalah teroris akan mudah diatasi.
Didalam pencegahan dan penanggulangan terorisme di Indonesia dibutuhkan
suatu

badan

ekstra

semacam

lembaga

anti

terorisme

nasional

yang

pengawakannya ditangani secara terpadu antara TNI dan Polri serta unsur
masyarakat dengan dibawah satu komando pengendali. Selain itu dengan dasar
hukum yang kuat diharapkan mampu melindungi berbagai kepentingan baik
kepentingan publik maupun hak-hak asasi manusia.
3.2 Saran
Penanggulangan tindak terorisme demi persatuan NKRI

14

Rangkaian tindakan terorisme di Indonesia telah menelan banyak


korban jiwa dan harta serta menghancurkan sendi-sendi kehidupan masyarakat.
Mengungkap dan mendeteksi secara dini setiap aksi terorisme disarankan. Dalam
rangka mencegah dan menanggulangi terorisme perlu segera adanya kerjasama
menyeluruh antara aparat baik TNI maupun Polri serta dengan melibatkan
seluruh lapisan masyarakat mulai tingkat RT dan RW.
Pemerintah perlu melakukan penyuluhan dan sosialisasi tentang
bahaya ancaman terorisme yang dimulai dari para tokoh masyarakat, tokoh
agama dan tokoh pemuda serta kepada lapisan masyarakat paling bawah.
Pemerintah bersama DPR perlu segera melakukan penyempurnaanpenyempurnaan undang-undang yang berkaitan dengan tindakan tindak pidana
terorisme karena hal ini merupakan fondasi hukum yang kokoh dalam
melindungi segala kepentingan masyarakat maupun hak-hak asasi manusia.
Pemerintah perlu segera meningkatkan kerjasama dengan negara-negara didunia
dalam mencegah dan menanggulangi segala bentuk tindakan terorisme karena
kegiatan terorisme di Indonesia sangat berkaitan dengan kegiatan terorisme
internasional

Penanggulangan tindak terorisme demi persatuan NKRI

15