Anda di halaman 1dari 8

Proses-proses Diagenesa Batuan Karbonat

Posted on Maret 31, 2014by Wida Nur Hasan

Batuan karbonat merupakan salah satu jenis batuan sedimen non


silisiklastik. Pada batuan ini terkandung fraksi karbonat yang lebih besar
jumlahnya daripada fraksi non karbonat, jumlah fraksi karbonatnya lebih
dari 50%. Selama pembentukannya, batuan karbonat melalui serangkaian
proses-proses yang disebut diagenesa. Dengan kata lain diagenesa adalah
perubahan yang terjadi pada sedimen secara alami, sejak proses
pengendapan awal hingga batas (onset) dimana metamorfisme akan
terbentuk. Setelah proses pengendapan berakhir, sedimen karbonat
mengalami proses diagenesa yang dapat menyebabkan perubahan kimiawi
dan mineralogi untuk selanjutnya mengeras menjadi batuan karbonat.
Proses diagnesa sangat berperan dalam menentukan bentuk dan karakter
akhir batuan sedimen yang dihasilkannya. Proses diagenesa akan
menyebabkan perubahan material sedimen. Perubahan yang terjadi
adalah perubahan fisik, mineralogi dan kimia. Pada batuan karbonat,
diagenesa merupakan proses transformasi menuju batugamping atau
dolomit yang lebih stabil. Faktor yang menentukan karakter akhir produk
diagenesa antara lain :
1.
Komposisi sedimen mula-mula
2.
Sifat alami fluida interstitial dan pergerakannya
3.
Proses kimia dan fisika yang bekerja selama diagenesa
Dengan melihat faktor-faktor tersebut dapat diketahui bahwa batuan
karbonat dengan komposisi utama kalsit akan mengalami proses
diagenesa yang berbeda dibandingkan dengan batuan karbonat yang
berkomposisi dominan aragonit maupun juga dolomit. Lingkungan
pelarutan dan lithifikasi yang berbeda, misal di lingkungan air laut dan air
tawar akan menghasilkan batuan yang berbeda. Demikian juga halnya
dengan tekstur semen dan butiran batuan, juga akan bervariasi
bergantung pada tekanan dan temperatur lingkungan diagenesanya.
Lingkungan diagenesa yang berbeda akan memiliki proses kimia dan fisika
yang relatif berbeda pula, sehingga produk diagenesanya pun akan
berbeda. Hal inilah yang dapat dijadikan indikator untuk mengetahui

lingkungan diagenesa yang bersangkutan. Ada beberapa lingkungan


diagenesa beserta produknya, yaitu:
1.

Marine (dicirikan oleh kehadiran semen aragonit, High MgCalcite)


2.
Lagoon (dicirikan oleh adanya dolomititsasi akibat proses
evaporasi)
3.
Phreatic (dicirikan oleh kehadiran kalsit hasil pelarutan)
4.
Vadose (dicirikan oleh kehadiran kalsit hasil pelarutan)
5.
Burial (dicirikan oleh kehadiran kalsit hasil pelarutan
tekanan/pressure solution
Secara umum penggambaran diagenesa batuan karbonat adalah sebagai
berikut:

Sumber: http://www.geol.umd.edu/~hcui/Teaching/DiagenesisHuanCu
i.pdf
Proses-proses diagenesa batuan karbonat meliputi:

Pelarutan (Dissolution)

Merupakan proses melarutnya komponen karbonat yang terjadi saat fluida


pori tidak jenuh (undersaturated) oleh mineral-mineral karbonat.
Pelarutan akan terbantu oleh adanya mineral yang bisa larut (mineral
karbonat yang tidak stabil seperti aragonit dan Mg-calcite), serta nilai pH
yang rendah (lingkungan menjadi asam). Fluida air pori yang ada dalam
ruang antar butiran pada batuan karbonat biasanya akan sangat agresif
melarutkan karbonat jika terkandung konsentrasi gas CO yang
disumbangkan oleh lingkungan sekitar (misalnya karbon dan oksigen yang
2

dilepaskan oleh jasad oganik). Pelarutan karbonat kurang banyak terjadi


di lingkungan laut. Tapi justru banyak terjadi pada lingkungan darat atau
manapun yang ada perkolasi (rembesan) dari air meteorik (air hujan
maupun air tawar). Bentang alam karst merupakan hasil dari proses
pelarutan batuan karbonat. Pembentukkannya dipengaruhi oleh proses
pelarutan yang sangat tinggi di bandingkan dengan batuan di tempat
lainnya dimanapun. Proses pelarutan tersebut umumnya dibarengi
dengan proses-proses lainnya seperti runtuhan, transport dalam bentuk
larutan melalui saluran bawah tanah, juga longsoran dan amblesan
dipermukaan. Pelarutan yang terjadi secara terus menerus, pada akhirnya
menciptakan bentukan alam yang sangat beragam. Proses pelarutan
tersebut dapat digambarkan dalam reaksi kimia yaitu :
CaCO
+ CO +H O ==> Ca + 2HCO
(batu gamping)
(air hujan)
(larutan batu gamping)
3

2-

3-

Salah satu bentangan Karst yang ada di Indonesia yaitu Kawasan Karst
Gunung Sewu, dimana daerah ini memiliki topografi Karst yang terbentuk
oleh proses pelarutan batuan kapur. Kabupaten Wonogiri merupakan
bagian dari bentangan Karst Gunung Sewu yang dimana daerah ini
memiliki topografi karst yang terbentuk oleh proses pelarutan batuan
kapur.
Secara umum, pelarutan karena pergerakan air melewati batuan karbonat
akan melarutkan mineral karbonat yang dilewatinya, maka imbasnya: (1)
air akan berubah kimianya (karena adanya konsentrasi ion karbonat di
dalamnya), (2) air akan masuk ke litologi berbeda atau sebaliknya air
datang membawa material asing dari batuan lain sebelum menerobos
karbonat dan membawa sistem baru, (3) perilaku pelarutan bergantung
pada variabel kontrol kelarutannya (misalnya P, T, Eh, PCO , dll)
(Raymond, 2002).
Pelarutan karbonat lebih intensif terjadi di daerah permukaan, sedangkan
hal sebaliknya terjadi di daerah bawah permukaan. Hal ini disebabkan
karena peningkatan temperatur pada kedalaman cenderung akan
menurunkan tingkat kelarutan karbonat. Kelarutan karbonat akan
meningkat di kedalaman atau dimanapun asalkan ada penambahan gas
2

CO dalam air pori (yang bisa saja berasal dari hasil pembusukan jasad
organisme yang tertimbun), maka meskipun temperatur meningkat kalau
terdapat konsentrasi gas CO dalam air pori, mineral-mineral karbonat
yang ada tetap akan larut.
Berikut adalah gambar sayatan batuan karbonat yang memperlihatkan
bentukan akibat proses pelarutan:
2

Sumber: http://www.psrd.hawaii.edu/Oct96/PAH.html
Sementasi (Cementation)

Merupakan proses presipitasi yang terjadi pada saat lubang antar pori
batuan karbonat terisi oleh fluida jenuh karbonat. Dalam proses ini
butiran-butiran sedimen direkat oleh material lain yang terbentuk
kemudian, dapat berasal dari air tanah atau pelarutan mineral-mineral
dalam sedimen itu sendiri. Proses ini merupakan proses diagenetik yang
penting untuk semua jenis batuan sedimen, termasuk didalamnya batuan
karbonat. Di lantai laut, sementasi terjadi di air hangat dalam pori dari
butiran ruangan antar butiran karbonat. Di meteoric realm (lingkungan
meteorik dimana pengaruh air yang hadir hanya dari hujan saja)
sementasi juga hadir disini, semennya dominan kalsit. Meskipun kondisi
yang mengontrol sementasi pada kedalaman kurang dipahami pasti, tapi
beberapa faktor dapat diketahui mengontrol hal ini. Air pori, peningkatan
temperatur, dan penurunan tekanan parsial dari karbondioksida
merupakan faktor-faktor yang diperlukan untuk presipitasi semen kalsit
ini. Pada proses sementasi ini diperlukan suplai kalsium karbonat secara
mutlak. Sifat sementasi ini berlawanan dengan pelarutan, dimana

sementasi membuat mineral semen (karbonat) terpresipitasi, sementara


pelarutan akan merusak struktur mineral yang telah terbentuk.

Dolomitisasi (Dolomitization)

Merupakan proses penggantian mineral-mineral kalsit menjadi dolomit.


Dolomit mempunyai komposisi CaMg(CO ) dan secara kristalografi serupa
dengan kalsit, namun lebih besar densitasnya, sukar larut dalam air, dan
lebih mudah patah (brittle). Secara umum, dolomit lebih porous dan
permeable dibandingkan limestone. Dalam proses dolomitisasi, kalsit
(CaCO3) ditransformasikan menjadi dolomite (CaMg(CO3)2) menurut
reaksi kimia :
2CaCO3 + MgCl3 ==> CaMg(CO3)2 + CaCl2
3

Menurut para ahli, batugamping yang terdolomitasi mempunyai porositas


yang lebih besar dari pada batugamping itu sendiri. Dolomitisasi bisa
terjadi dilaut dangkal-campuran fresh dan sea water, tidal flat, di danau,
lagoon, dll, apalagi kalau ada batuan yang mengandung Mg yang dilewati
sungai-sungai dan membawanya ke lingkungan dimana batu gamping
berada atau terjadi.

Aktivitas Organisme (Microbial Activity)

Aktifitas organisme akan mempercepat atau memacu terjadinya proses


diagenesis lainnya. Organisme yang menyebabkan proses ini merupakan
organisme yang sangat kecil (mikrobia) dimana aktivitas jasad renik
sangat berhubungan dengan proses dekomposisi material organik. Proses
dekomposisi material organik akan mempengaruhi pH air pori sehingga
mempercepat terjadinya reaksi kimia dengan mineral penyusun sedimen.
Aktifitas mikrobia antara lain fermentasi, respirasi, pengurangan nitrat,
besi, sulfat dan pembentukan gas metana. Organisme dalam lingkungan
pengendapan karbonat merework sedimen dalam bentuk jejak boring,
burrowing, dan sedimen-ingesting activity (memakan dan mencerna
sedimen). Aktivitas ini akan merusak struktur sedimen yang berkembang
pada sedimen karbonat dan meninggalkan jejak-jejak aktivitasnya saat
organisme ini beraktivitas. Kebanyakan bioturbasi terjadi pada sedikit di
bawah permukaan pengendapan, setelah pengendapan material sedimen

dengan kedalaman beberapa puluh sentimeter. Proses ini akan


membentuk kenampakan yang khas pada batuan sedimen yang disebut
struktur sedimen.
Semua jenis organisme kecil macam fungi bakteri, dan alga, membentuk
microboring dalam fragmen skeletal dan butiran karbonat lainnya yang
berukuran besar. Boring dan presipitasi mikrit dapat intensif di
lingkungan yang berair hangat dimana butiran karbonat menjadi
berkurang dan terubah menjadi mikrit, proses pada kondisi ini dikenal
sebagai mikritisasi (Boggs, 2006). Di beberapa kasus, aktivitas organisme
ini dapat meningkatkan kompaksi batuan dan biasanya merusak struktur
sedimen yang halus seperti paralel laminasi (Purdy, 1965). Selama proses
ini beberapa organisme melepaskan material presipitasi yang bisa menjadi
fase semen dalam batuan (Raymond, 2002).

Mechanical Compaction

Merupakan proses diagenesa yang terjadi akibat adanya peningkatan


tekanan overburden. Seperti halnya pada batuan silisiklastik, kompaksi
terjadi karena adanya pembebanan sedimen yang berada diatasnya. Proses
kompaksi ini menyebabkan berkurangnya porositas batuan, karena terjadi
juga thining (penipisan) dari bed (perlapisan batuan) pada kedalaman
dangkal. Seiring bertambahnya kedalaman, tekanan juga akan bertambah,
sedangkan porositas karbonat berkurang sampai setengahnya atau lebih
(porositas saat batuan mengendap) sekitar 50-60% pada kedalaman
sekitar 100 m (Boggs, 2006). Proses kompaksi ini terjadi karena adanya
gaya berat/gravitasi dari material-material sedimen yang semakin lama
semakin bertambah sehingga volume akan berkurang dan cairan yang
mengisi pori-pori akan bermigrasi ke atas, menyebabkan hubungan antar
butir menjadi lebih lekat dan juga air yang dikandung dalam pori terperas
keluar.. Kompaksi menyebabkan berkurangnya porositas batuan karena
adanya rearangement (penyusunan ulang) dari butiran butiran yang
jarang (tidak bersentuhan) menjadi saling bersentuhan atau makin rapat.
Ketika sedimen pertama kali terendapkan tentu saja berupa material lepas
(loose) dan sifatnya porous (berpori), ketika kompaksi terjadi material

lepas ini akan menjadi lebih rapat dan padat yang otomatis akan
mengurangi porositasnya.
Berikut adalah gambaran butiran sedimen karbonat sebelum dan sesudah
mengalami kompaksi:

Sumber: http://thekoist.files.wordpress.com/2012/07/rearangementbutiran-akibat-kompaksi.jpg

Chemical Compaction
Pada kedalaman burial sekitar 200-1500 m, kompaksi kimia dari sedimen
karbonat dimulai. Tekanan larutan pada kontak antar butiran seperti pada
diagenesa sedimen klastik lainnya akan melarutkan permukaan butiran
mineral dan pada karbonat dapat membentuk kontak bergerigi. Pada skala
yang lebih besar pressure solution pada batuan karbonat membentuk pola
bergerigi (zig-zag) yang kita kenal sebagai struktur styolite. Styolite
umumnya hadir pada batuan karbonat berbutir halus. Jadi pressure
solution pada batuan karbonat diikuti perkembangan strktur styolite,
mencirikan hilangnya porositas dan thining (penipisan) dari bed
(perlapisan batuan).
Pada batuan karbonat terkadang tidak mengalami semua proses diagenesa
tersebut, namun biasanya justru hanya melalui beberapa proses diagenesa
saja. Proses diagnesa ini akan sangat berperan dalam menentukan bentuk
dan karakter akhir batuan sedimen yang dihasilkannya.
Referensi:

Boggs, Sam. 2009. Petrology


Cambridge University Press

of

Sedimentary

Rocks. New

York: