Anda di halaman 1dari 15

DIARE AKUT CAIR

Definisi
Yang dimaksud dengan diare cair adalah buang air besar dengan peningkatan
frekuensi buang air besar dengan konsistensi tinja cair, tanpa terlihat darah, dan
dapat disertai gejala lain seperti mual, muntah, demam, atau nyeri perut.
Sedangkan, yang dimaksud dengan diare akut adalah diare yang berlangsung kurang
dari 7 hari.
Epidemiologi
Meskipun angka kematian diare akut menurun dari 4,5 juta kematian pada tahun
1979 menjadi 1,6 juta pada tahun 2002 di negara berkembang, tetapi angka
kejadian diare akut masih masuk urutan 5 besar dari penyakit yang sering
menyerang anak. Di Indonesia, angka kejadian diare akut diperkirakan masih sekitar
60 juta episode setiap tahunnya, dan 1-5% diantaranya berkembang menjadi diare
kronis.
Etiologi
Diare dapat disebabkan oleh berbagai hal, diantaranya

infeksi (saluran cerna

maupun luar saluran cerna), gangguan absorpsi (malabsorpsi), alergi makanan,


keracunan makanan, imunodefisiensi. Infeksi saluran cerna merupakan penyebab
tersering. Rotavirus merupakan penyebab utama (70-80%), sedangkan bakteri dan
parasit ditemukan pada 20% dan 10% anak.
Gejala klinis
Selain diare, anak menjadi cengeng, gelisah, suhu badan mungkin meningkat, nafsu
makan berkurang atau tidak ada nafsu makan. Tinja mungkin mengandung darah
dan/atau lendir. Meningkatnya asam laktat akibat fermentasi laktosa di dalam usus
besar menyebabkan tinja menjadi asam yang dapat mengiritasi anus dan sekitarnya
sehingga lecet. Muntah dapat terjadi sebelum diare.
Kehilangan air dan elektrolit dapat menyebabkan dehidrasi; berat badan
turun, ubun-ubun besar cekung pada bayi, tonus dan turgor kulit berkurang, selaput
lendir mulut dan bibir tampak kering. Kehilangan cairan dan elektrolit yang
berlebihan dapat menimbulkan gejala klinis sesak, kejang, dan kesadaran menurun.
Patogenesis
Ada 2 prinsip mekanisme terjadinya diare cair, yaitu sekretorik dan osmotik.
Meskipun dapat melalui

kedua mekanisme tersebut, diare sekretorik lebih sering

ditemukan pada infeksi saluran cerna. Begitu pula kedua mekanisme tersebut dapat
terjadi bersamaan pada satu anak.
Diare sekretorik
Diare sekretorik disebabkan oleh sekresi air dan elektrolit ke dalam usus halus
yang terjadi akibat gangguan absorpsi natrium oleh vilus saluran cerna,
sedangkan sekresi klorida tetap berlangsung atau meningkat. Keadaan ini
menyebabkan air dan elektrolit keluar dari tubuh sebagai tinja cair. Diare
sekretorik ditemukan diare yang disebabkan oleh infkesi baketri akibat
rangsangan pada mukosa usus oleh toksin, misalnya toksin E.coli atau
V.cholera 01
Diare Osmotik
Mukosa usus halus adalah epitel berpori, yang dapat dilalui oleh air dan
elektrolit dengan cepat untuk mempertahankan tekanan osmotik antara lumen
usus dengan cairan ekstrasel. Oleh karena itu, bila di dalam lumen usus
terdapat bahan yang secara osmotik aktif dan sulit diserap akan menyebabkan
diare. Bila bahan tersebut adalah larutan isotonik, air, atau bahan yang larut,
maka akan melewati mukosa usus halus tanpa diabsorbsi sehingga terjadi diare.
Patofisiologi
Diare dapat menyebabkan :
1. Dehidrasi, akibat kehilangan air (output) lebih banyak dibanding masukan air
(input).
2. Gangguan keseimbangan asam-basa (metabolik asidosis) karena :

kehilangan Na-bikarbonat bersama tinja

ketosis kelaparan

penimbunan asam laktat karena anoksia jaringan

produk metabolisme yang bersifat asam meningkat karena tidak dapat


dikeluarkan oleh ginjal (terjadi oliguria/anuria)

pemindahan ion Na dari cairan ekstraselular ke dalam cairan intraselular.

3. Hipoglikemia: hipoglikemia terjadi pada 2-3% anak yang menderita diare dan
sering

pada

anak

yang

sebelumnya

sudah

menderita

KKP.

Gejala

hipoglikemia akan muncul jika kadar glukosa darah menurun sampai 40 mg%,
yang berupa anak lemah, apatis, peka rangsang, tremor, berkeringat, pucat,
syok, kejang sampai koma.

4. Gangguan nutrisi : pada saat anak menderita diare, sering terjadi gangguan
nutrisi akibat penurunan berat badan dalam waktu singkat. Hal ini dapat
disebabkan oleh :

makanan sering dihentikann orangtua karena takut diare atau muntah


akan bertambah hebat

susu diberikan dengan pengenceran dan dalam waktu yang lama

makanan yang diberikan sering tidak dicerna dan diabsorpsi dengan


baik, karena adanya hiperperistaltik.

5. Gangguan sirkulasi: diare dengan/ tanpa disertai muntah dapat menyebabkan


gangguan
jaringan

sirkulasi
yang

darah

berkurang

berupa

renjatan

menyebabkan

(syok)
hipoksia,

hipovolemik.
asidosis

Perfusi

metabolik

bertambah hebat, perdarahan otak, penurunan kesadaran, dan bila tidak


segera ditolong dapat meninggal.
Lakukan anamnesis dengan teliti terutama tentang asupan peroral, frekuensi dan volume
tinja yang keluar, keadaan umum, aktivitas anak, dan frekuensi miksi/urin. Data lain yang
diperlukan adalah adanya kunjungan ke tempat penitipan anak, daerah endemik diare,
penggunaan antibiotik, kontak dengan orang lain yang mempunyai gejala sama, asupan
makanan laut dan sayuran yang tidak dicuci, susu yang tidak dipasturisasi, air yang
terkontaminasi, atau daging yang tidak dimasak. Lama dan beratnya diare, konsistensi
tinja, adanya lendir dan darah, dan gejala lain yang berhubungan seperti demam, muntah,
kejang juga penting untuk diketahui.
Demam menunjukkan proses inflamasi dan dapat pula timbul karena adanya
dehidrasi. Mual dan muntah merupakan gejala yang tidak spesifik, tetapi muntah
menunjukkan adanya mikroorganisme yang menginfeksi saluran cerna atas, seperti virus
enteric, bakteri yang memproduksi enterotoksin, Giardia, dan Cryptosporidium. Demam
merupakan hal yang sering terjadi pada pasien dengan diare karena infeksi, sedangkan
nyeri perut biasanya pada diare yang lebih berat, dan tenesmus dapat timbul pada perut
bagian bawah dan rektum yang menunjukkan adanya keterlibatan usus besar. Pada diare
noninflamasi, demam biasanya tidak ada atau tidak tinggi, nyeri biasanya berupa keram,
periumbilikal, dan tidak berat, dan diare yang lebih banyak air menunjukkan keterlibatan
saluran cerna bagian atas. Pasien dengan defisiensi imun biasanya memerlukan
pertimbangan khusus, sehingga informasi tentang penyakit kronis atau defisiensi imun
yang mendasari diare penting untuk diketahui.
Tatalaksana

Pada saat seorang anak datang dengan keluhan diare, lakukan langkah-langkah
pemeriksaan/penilaian yang mencakup :
1. Anamnesis dan pemeriksaan fisik yang cermat
2. Tentukan derajat dehidrasi

Tanpa dehidrasi : kekurangan cairan < 5% berat badan (Kategori A)

Dehidrasi ringan-sedang : kekurangan cairan 5-10% berat badan (Kategori B)

Dehidrasi berat : kekurangan cairan >10% berat badan (Kategori C)

Tabel 1. Penilaian derajat dehidrasi pada pasien diare


Kategori
Lihat/inspeksi :
Kondisi
Mata
Derajat haus

baik, sadar
gelisah
normal
layu/cekung
minum biasa, tidak haus haus, sangat haus

Raba/palpasi :
cubitan pada kulit kembali dengan cepat
Tentukan:

Tatalaksana :

Tanpa dehidrasi

Rencana terapi A

C
letargi, tidak sadar
layu/cekung
minum dengan lemas/
tidak mampu minum

kembali lambat

kembali sangat lambat

Dehidrasi ringansedang
Bila terdapat 2 atau
lebih tanda *

Dehidrasi Berat

Rencana terapi B

Bila terdapat 2 atau lebih


tanda *
Rencana terapi C

Catatan :

Letargi berbeda dengan tidur. seorang anak yang letargi bukan hanya tertidur tetapi
status mental/kesadaran anak menurun dan sulit untuk dibangunkan
Pada beberapa anak, dalam keadaan normal mata tampak layu/cekung, sehingga
sangat penting menanyakan pada orangtua apakah mata anaknya lebih layu/cekung
dari biasanya.
Pada bayi/anak dengan gizi buruk atau obesitas, cubitan kulit biasanya tidak berguna.
Tanda-tanda lain yang menunjukkan anak dengan gizi buruk mengalami dehidrasi
harus dicari

3. Pilih rencana pengobatan yang sesuai


Prinsip pengobatan diare meliputi (a) terapi cairan, (b) dietetik, (c) terapi suportif,
dan, (d) edukasi.
Tujuan pengobatan di atas dapat dicapai dengan cara mengikuti rencana terapi yang
sesuai, seperti yang tertera di bawah ini :
1. Rencana terapi A: terapi dilaksanakan di rumah untuk mencegah dehidrasi dan
malnutrisi. Seorang anak dengan diare tanpa tanda dehidrasi memerlukan cairan
dan garam tambahan untuk mengganti cairan dan elektrolit yang hilang untuk

mencegah terjadinya dehidrasi. Beberapa hal yang harus diajarkan kepada ibu
untuk mencegah dehidrasi, malnutrisi dan saat merujuk :
-

Berikan anak cairan lebih dari biasanya untuk mencegah dehidrasi

Teruskan pemberian makanan pada anak untuk mencegah malnutrisi

Beri suplemen Zinc elemental (10 mg untuk anak usia < 6 bulan dan
20 mg usia > 6 bulan) , selama 10 14 hari

Bawa anak ke dokter/tenaga kesehatan bila terdapat tanda-tanda


dehidrasi atau masalah lainnya seperti tinja cair keluar amat sering,
muntah

berulang,

rasa

haus

meningkat,

atau

tidak

dapat

makan/minum seperti biasanya


Cairan Rehidrasi Oral (CRO)
Komposisi CRO sangat penting untuk memperoleh penyerapan yang optimal. Terapi
CRO yang dianjurkan oleh WHO selama 3 dekade ini dengan menggunakan cairan
elektrolit dan glukosa telah berhasil menurunkan angka kematian akibat dehidrasi
pada diare, karena kombinasi gula dan garam ini dapat meningkatkan penyerapan
cairan di usus. CRO selain murah juga mudah digunakan dan aman, sehingga sangat
efektif dan efisien digunakan pada pusat pelayanan kesehatan dengan jumlah tenaga
kesehatan yang terbatas serta tidak mempunyai tenaga yang terlatih. Sesuai dengan
anjuran WHO saat ini dianjurkan penggunaan CRO dengan komposisi Na 75 mmol/L,
K 20 mmol/L, Cl mmol/L, Glukosa 75 mmol/L, Sitrat 10 mmol/L.
2. Rencana terapi B:
Pada

dehidrasi

ringan-sedang,

CRO

diberikan

dengan

pemantauan

yang

dilakukan di Ruang Rawat Inap Sehari atau Pojok Upaya Rehidrasi Oral selama 3
jam. Penilaian kembali derajat dehidrasi, bila masukan minum/makan baik,
penderita dapat dipulangkan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan saat
pemantauan, yaitu :
-

Jumlah CRO yang harus diberikan ?

Cara pemberian CRO ?

Pemantauan kemajuan terapi rehidrasi oral

Penghentian terapi CRO

Kapan rehidrasi oral dianggap gagal ?

Pemberian zinc

Pemberian makanan

Tabel 2. Panduan terapi dehidrasi ringan-sedang


Jumlah cairan rehidrasi oral (CRO) yang harus diberikan 3 jam pertama
Usia

< 4 bln

4-11 bln

12-23 bln

2-4 th

5-14 th

> 15 th

Berat badan

< 5 kg

5-7,9 kg

8-10,9 kg

11-15,9 kg

16-29,9 kg

> 30 kg

Jumlah(mL)

200-400

400-600

600-800

800-1200

1200-2200

2200-4000

Keterangan: Panduan usia digunakan bila berat badan tidak diketahui.


3. Rencana terapi C: terapi dehidrasi berat
Bila anak dapat minum, CRO dapat diberikan sampai cairan parenteral dapat
diberikan. Cairan parenteral yang diberikan adalah Ringer laktat sebanyak 100
ml/kgBB dengan tahapan sebagai berikut :
Tabel 3. Panduan terapi intravena pada dehidrasi berat
Usia

Pertama beri 30 ml/kg dalam :

Selanjutnya beri 70 ml/kg dalam :

1 jam*

5 jam

Bayi (<1 tahun)


Anak (>1 tahun)

jam

2 jam

Catatan:
- Ringer laktat diberikan pada 1 jam tahap pertama, sedangkan pada tahap

selanjutnya dapat diberikan KaEN 3B


- Setelah 6 jam (Bayi) atau 3 jam (anak), pasien dievaluasi dengan menggunakan
tabel penilaian dehidrasi dan tentukan rencana terapi selanjutnya sesuai status
dehidrasi (A,B, C).
- *Ulangi 1 kali lagi bila pulsasi nadi masih sangat lemah atau tidak teraba
Gangguan elektrolit
Pada diare akut cair sering disertai gangguan elektrolit (hiponatremia, hipokalemia,
dan hipernatremia) akibat keluarnya cairan dan elektrolit melalui tinja. Oleh karena
itu, pemantauan dan koreksi gangguan yang ada sangat penting untuk dilakukan.
Terapi dietetik
1. ASI tetap diberikan
2. Bila tidak mendapat ASI atau sudah mendapat tambahan susu formula :
a. Diare tanpa dehidrasi atau dehidrasi ringan sedang, susu formula tidak
perlu diganti
b. Diare dengan dehidrasi berat diberikan susu formula bebas laktosa

c. Diare dengan dehidrasi ringan-sedang disertai gejala klinis intoleransi


laktosa yang jelas, dapat diberikan susu formula bebas laktosa
3. Makanan sehari-hari sesuai usianya diteruskan dan diberikan sebanyak dia mau.
Pemberian sedikit-sedikit dan sering lebih dapat diterima dibanding jumlah besar
tetapi jarang.
4. Setelah diare berhenti, berikan makanan paling tidak satu kali lebih banyak dari
biasanya setiap hari selama 1 minggu.
Diare cair dengan dugaan kolera
Bila kita mencurigai bahwa diare yang terjadi merupakan kolera, awasi tanda
dehidrasi yang seringkali berat. Kolera sebaiknya dipikirkan pada anak usia lebih dari
5 tahun yang menderita dehidrasi berat akibat diare akut cair (biasanya disertai
muntah). Pantau ketat terhadap tanda-tanda dehidrasi, bila perlu berikan cairan
parenteral,

berikan

antibiotika

peroral

yang

efektif

untuk

strain

V.Cholera

(oksitetrasiklin atau doksisiklin) dan berikan suplementasi zinc secepatnya setelah


gejala muntah berhenti. Dosis pertama harus diberikan secepatnya setelah muntah
berhenti, biasanya 4-6 jam setelah terapi rehidrasi.
Daftar Pustaka
1.

Burkhart DM. Management of acute gastroenteritis in children. Am Fam Physician 1999;60:2555-66.

2.

Eliason BC, Lewan RB. Gastroenteritis in children: principles of diagnosis and treatment. Am Fam
Physician 1998;58:..

3.

Hahn S, Kim Y, Garner P. Reduced osmolarity oral rehydration solution for treating dehydration due to
diarrhoea in children: systematic review. BMJ 2001;323:81-5.

4.

Pediatric gastroenterology subdivision Child Health Department Medical Faculty University of


Indonesia. Teaching medical students about diarrheal disease. Disitasi dari http://www.who.int/childadolescent-health/New-Publications/CHILD_Health pada tanggal 15 April 2003.

5.

DITJEN PPM & PLP Departemen Kesehatan RI. Epidemiologi dan etiologi diare. Dalam: DITJEN PPM &
PLP Departemen Kesehatan RI, penyunting. Pendidikan Medik Pemberantasan Diare (PMPD): Buku
ajar diare, 1999.h.3-16.

6.

WHO/UNICEF. Joint statement : Clinical management of acute diarrhea 2004.

7.

Hegar B, Kadim M. Tata laksana diare akut pada anak. MKKI 2003;1:219-23.

8.

Pyckering LK, Snyder JD. Gastroenteritis. Dalam: Behrman RE, Kliegman RM, Jenson HB, penyunting.
Nelson textbook of Pediatrics. Edisi ke-17. Philadelphia: Saunders, 2004. h.1272-6.

9.

USAID, WHO, Unicef. Overview of the management of diarrhea. Dalam: USAID, WHO, Unicef,
penyunting. Diarrhoea treatment guidelines for clinic-based healthcare workers, 2005.h.1-10.

10. Department of Child and Adolescent Health and Development WHO. The treatment of diarrhoea: A
manual for physicians and other senior health workers. Edisi ke-4. Geneva : WHO , 2005.

11. Hahn S, Kim Y, Garner P. Reduced osmolarity oral rehydration solution for treating dehydration due to
diarrhea in children: systematic review. BMJ 2001;323:81-5.
12. Duggan C, Fontaine O, Pieree NF, Glass RI, Mahalanabis D, Alam NH, et al. Scientific rationale for a
change in the composition of oral rehydration solution. JAMA 2004;291:2628-31.
13. Department of child health and adolescent health and development WHO. Reduced osmolarity oral
rehydration salts (ORS) formulation. Report from a meeting of experts jointly organized by UNICEF
and WHO house. USA 2001.
14. Santosham M, Fayad I, Zikri MA, Hussein A, Amponsah A, Duggan C, et al. A double-blind clinical trial
comparing World Health Organization oral rehydration solution with a reduced osmolarity solution
containing equal amounts of sodium and glucose. J Pediatr 1996;128:45-51.
15. USAID, WHO, Unicef. Diarrhoea treatment guidelines; including new recommendations for the use of
ORS and zinc supplementation for clinic-based health workers. Arlington: The MOST project, 2005.

DIARE AKUT BERDARAH


Sekitar 10% episode diare pada anak kurang dari 5 tahun biasanya disertai darah
pada tinjanya, dan hal ini menyebabkan 15-25% kematian akibat diare pada
kelompok umur ini. Dibandingkan dengan diare akut cair, diare akut berdarah
biasanya lebih lama sembuh dan berhubungan dengan komplikasi yang lebih banyak,
antara lain dapat mempengaruhi pertumbuhan anak dan memiliki risiko kematian
lebih tinggi. Diare akut berdarah pada anak yang lebih kecil biasanya merupakan
pertanda masuknya bakteri invasif yang serius pada usus besar.
Definisi
Terminologi diare berdarah biasanya ditujukan pada episode diare akut yang pada
tinjanya ditemukan darah yang terlihat secara kasat mata. Darah yang hanya
terlihat secara mikroskopis atau tinja berwarna hitam yang menandakan adanya
darah pada saluran cerna atas, bukan merupakan diare berdarah.3 Diare berdarah
sering disebut juga disentri, walaupun seringkali disentri lebih dihubungkan dengan
diare berdarah yang diikuti dengan demam, keram perut, nyeri pada rectum dan
tinja berlendir.
Etiologi
1.

Bakteri invasif
Shigella merupakan penyebab tersering penyebab diare berdarah pada anak di
Negara berkembang. Shigella menyebabkan lebih dari 50% dari seluruh episode
diare berdarah, dan sebagian besar dari 370.000 kematian akibat diare berdarah

per tahunnya di dunia pada anak kurang dari 5 tahun.

Terdapat 4 spesies

Shigella yang bersifat pathogen terhadap manusia yaitu S. sonnei, S. boydii yang
biasanya memberikan gejala klinis lebih ringan, S. fleneri yang merupakan
spesies utama penyebab shigellosis endemik di negara berkembang, dan S.
dysenteriae tipe 1 yang menyebabkan shigellosis epidemik dan endemik di
negara berkembang. Spesies ini biasanya menyebabkan gejala klinis berat dan
mempunyai case fatality rate tinggi.
Episode diare berdarah oleh bakteri patogen lain lebih jarang terjadi dan
biasanya tidak serius dan penyebabnya biasanya lebih sulit untuk ditentukan
kecuali pada laboratorium penelitian. Bakteri pathogen lain penyebab diare
berdarah yaitu Campylobacter jejuni, enteroinvasive E. coli, entero-hemoragic E.
coli dan Salmonella serotipe non-tifoid.
2. Entamoeba histolytica
Amoebiasis merupakan penyebab diare akut berdarah pada anak yang jarang
terjadi yaitu kurang dari 3% dari episode diare akut berdarah. Sebuah penelitian
di Cina, India, Myanmar dan Pakistan yang melibatkan 3640 anak di bawah 3
tahun dengan diare akut teryata hanya 10 kasus merupakan amoebiasis (0,3%
dari seluruh episode diare atau 1,5% dari seluruh episode diare berdarah). Di
Bangladesh, penelitian yang dilakukan pada 101 anak dengan diare berdarah
(usia rerata 21 bulan) tidak ditemukan tropozoit E. histolytica pada tinjanya.
Entamoeba histolytica menyebar melalui transmisi fekal-oral dari kista amuba.
Kista amuba yang tertelan dapat menyebabkan infeksi pada kolon yang invasif
maupun tidak.
3. Non infeksi
Penyebab diare berdarah non infeksi dapat disebabkan oleh kelainan anatomi
misalnya intususepsi, gangguan hematologi misalnya defisiensi vitamin K pada
bayi baru lahir, kelainan imunologis misalnya purpura Henoch-Schnlein serta
kolitis ulseratif atau penyakit Crohn's.
Manifestasi klinis dan diagnosis
Diagnosis klinis diare berdarah/disentri biasanya hanya didasarkan oleh adanya
darah yang dapat dilihat secara kasat mata pada tinja. Hal ini dapat langsung
ditanyakan pada orang tua maupun dilihat sendiri oleh dokter, namun kedua cara ini

sama akuratnya. Pada pemeriksaan secara mikroskopis, tinja mengandung banyak


sel-sel pus/nanah (leukosit polimorfonuklear (PMN) yang menandakan adanya infeksi
bakteri yang menginvasi mukosa usus misalnya C. jejuni atau Shigella. Pada
beberapa episode Shigellosis, diare pada awalnya lebih cair, dan menjadi berdarah
setelah 1 2 hari. Diare cair ini kadang-kadang sangat berat dan menyebabkan
dehidrasi. Pada episode diare berdarah seringkali disertai demam, nyeri perut, nyeri
pada rektum, tenesmus, namun pada anak yang lebih kecil biasanya tidak dapat
mengungkapkan hal tersebut.
Komplikasi yang kadang terjadi selama disentri yang disebabkan oleh Shigella
yaitu perforasi usus, megakolon toksik, prolaps rektal, kejang (dengan atau tanpa
demam

tinggi),

sepsis,

sindrom

hemolotik

uremik

(SHU),

dan

hiponatremia

berkepanjangan. Komplikasi lain yang sering terjadi adalah kehilangan berat badan
dan penurunan status gizi yang cepat. Hal ini biasanya disebabkan oleh nafsu makan
yang kurang, kebutuhan nutrisi meningkat untuk melawan infeksi dan mengganti
jaringan yang rusak, serta kehilangan serum protein melalui jaringan usus yang
rusak (misalnya

protein-losing enteropathy). Kematian akibat disentri biasanya

disebabkan oleh kerusakan yang berat pada ileum dan kolon, komplikasi sepsis,
infeksi sekunder (misalnya pneumonia), atau gizi buruk.
Tata laksana
Prinsip pengobatan diare akut berdarah meliputi: (1) pemberian antimikroba yang
efektif terhadap Shigella, (2) pemberian cairan rehidrasi

oral atau cairan lainnya

untuk mencegah serta mengatasi dehidrasi, (3) melanjutkan pemberian makanan


pada anak selama anak diare dengan cara sedikit-sedikit dan sering (small frequent
feeding), melanjutkan pemberian ASI kapan saja anak ingin minum ASI, dan (4)
melakukan pemantauan secara ketat setiap 24-48 jam terhadap respons terapi,
terutama pada anak dengan risiko morbiditas serius atau kematian. Bila keempat
tahap ini dilakukan dengan baik, sebagian besar diare akut berdarah dapat sembuh
dengan cepat dan komplikasi yang serius dapat dihindari. Pemberian makanan
dengan porsi ekstra sebaiknya dilanjutkan sampai minimal 2 minggu pasca diare
untuk mengembalikan kehilangan berat badan selama diare. Anak dengan diare
berdarah dengan status gizi buruk harus dirawat di rumah sakit.
Berbagai antimikroba dianggap efektif untuk mengobati shigellosis, seperti
ampisilin, kotrimoksazol dan asam nalidiksat. Antimikroba ini diberikan selama 5 hari
sebelum didapatkan hasil resistensi strain Shigella lokal terhadap antibiotika. Hal ini

10

disebabkan karena sebagian besar kasus diare akut berdarah pada anak disebabkan
oleh Shigella

dan hampir seluruh episode diare yang disebabkan oleh Shigella

adalah diare yang berat. Menentukan sensitivitas terhadap antibiotika pada strain
Shigella lokal sangat penting, karena resistensi terhadap antibiotika sering terjadi
dengan jenis resistensi yang berbeda-beda. Walaupun demikian saat ini pilihan
antimikroba tersebut semakin sempit karena meluasnya resistensi antibiotika.
Resistensi Shilgella terhadap sulfonamid, tetrasiklin, ampisilin dan kotrimoksazol
telah menyebar di seluruh dunia (resistensi Shigella terhadap antibiotika dapat
dilihat pada tabel 1).
Pada anak dianjurkan pemberian sefalosporin generasi ketiga seperti sefiksim
per oral, dan bila tidak menunjukkan respon pengobatan yang baik dapat diberikan
dan seftriakson intravena. Obat-obat baru lain yang dikatakan efektif untuk
shigellosis antara lain adalah pivmesillinam dan golongan fluoroquinolon baru
misalnya norfloksasin, levofloksasin, siprofloksasin dan enoksasin, namun demikian
antibiotika golongan quinolon ini tidak direkomendasikan pada anak. Penelitian
terbaru membuktikan bahwa azitromisin mempunyai efektivitas yang cukup baik
dalam mengobati Shigellosis. Selain itu sebaiknya diberikan suplementasi zinc pada
anak dengan diare tanpa dehidrasi maupun dehidrasi ringan-sedang.
Tabel 1. Antimikroba yang tidak efektif terhadap Shigellosis
Antimikroba yang tidak efektif terhadap Shigellosis
Metronidazol
Streptomisin
Tetrasiklin
Kloramfenikol
Sulfonamid
Amoksisilin

Nitrofuran
(contoh : nitrofurantoin, furazolidon)
Aminoglikosida
(contoh: gentamisin, kanamisin)
Sefalosporin generasi pertama & kedua
(contoh: sefaleksin, sefamandol)

Pemantauan dilakukan setelah 2 hari pengobatan, dilihat apakah ada


perbaikan tanda tanda seperti demam, diare berkurang, darah dalam feses
berkurang dan peningkatan nafsu makan. Jika tidak ada perbaikan maka periksa
adanya penyulit, hentikan pemberian antibiotik sebelumnya dan berikan antibiotik
lini kedua di untuk strain Shigella lokal. Jika kedua jenis antibiotik tersebut diatas
tidak memberikan perbaikan maka periksa lagi adanya penyulit, atau obati sebagai
pasien rawat jalan sebagai amoebiasis dengan pemberian metronidazol 10 mg/kg 3

11

kali sehari selama 5 hari. Pada bayi kurang dari 2 bulan perlu dipikirkan penyebab
bedah seperti invaginasi dan enterokolitis, konsultasikan ke ahli bedah dan berikan
antibiotik IM/IV seftriakson 80-100 mg/kg sekali sehari selama 5 hari. Pemeriksaan
tinja dapat melihat adanya bentuk trofozoit Entamoeba yang memastikan diagnosis
amubiasis.

Gizi buruk

Ya

Rujuk ke Rumah sakit

Tidak
Beri antimikroba yang
efektif terhadap Shigella
Tidak
Membaik dalam 2 hari ?

Ya

Lanjutkan pengobatan
sampai 5 hari

Tidak
Awal masuk dehidrasi
usia < 1 tahun
menderita campak 6
minggu terakhir

Ya
Rujuk ke Rumah sakit

Tidak
Ganti antimikroba kedua
untuk Shigella
Tidak
Membaik dalam 2 hari ?

Ya

Lanjutkan pengobatan
sampai 5 hari

Tidak
Rujuk ke rumah sakit atau
berikan pengobatan
ammoebiasis
Gambar 1. Pengobatan diare berdarah pasien rawat jalan berusia kurang dari 5 tahun

Pengobatan juga harus termasuk (i) pemberian terapi rehidrasi oral untuk
mencegah atau mengobati dehidrasi dan (ii) melanjutkan pemberian
makanan termasuk ASI
a

12

Gunakan antimikroba oral yang efektif terhadap Shigella di daerah tersebut.


Berikan antimikroba 3 5 hari
c
Bila tropozoit E. histolytica terlihat pada tinja dengan teknisi yang dipercaya,
pengobatan terhadap amoebiasis harus diberikan
Terapi penunjang berupa pencegahan dan koreksi terhadap dehidrasi serta
meneruskan makan. Jangan pernah berikan obat simptomatis untuk sakit perut dan
antidiare karena akan memperberat penyakitnya. Pengelolaan cairan yaitu dengan
memberikan cairan sesuai dengan derajat dehidrasi yang terjadi. Pengelolaan nutrisi
yaitu memberikan

makanan dengan nilai gisi yang tinggi perlu diberikan untuk

mencegah agar tidak menjadi gisi buruk karena pada diare berdarah nafsu makan
akan berkurang. Adanya nafsu makan yang membaik adalah pertanda kesembuhan
sudah mulai.
ASI harus diteruskan selama terjadinya diare berdarah dan diberikan dengan
frekuensi lebh sering dari biasanya karena bayi yang menderikan diare berdarah
akan minum ASI lebih sedikit jumlahnya dibanding dalam keadaan sehat. Anak umur
6 bulan keatas sebaiknya mendapat makan seperti biasanya.
Pengelolaan komplikasi
1. Hipokalemia: keadaan ini bisa dicegah dengan pemberian ORS jika ada
indikasi, atau pemberian makanan kaya kalium seperti pisang, air kelapa atau
sayuran berwarna hijau tua.
2. Demam tinggi: Jika demam melebihi 39C, berikan parasetamol
3. Prolaps rektal: masukkan kembali dengan hati hati prolaps rektal dengan
memakai sarung tangan atau kasa basah. Alternatif lain buat larutan
magnesium sulfat dalam air hangat dan kompreskan untuk mengurangi
prolaps dan udemnya.
4. Kejang:

Kejang hanya sekali merupakan gejala yang sering terjadi akan

tetapi jika ini terjadi lama dan berulang kali maka sebaiknya berikan
antikonvulsan IM, hindari pemberian antikonvulsan rektal.
5. HUS: Jika laboratorium tidak memungkinkan untuk mendiagnosis HUS maka
pasien dengan gangguan kesadaran, pucat serta urin sedikit patut dicurigai
adanya HUS. Pengelolaan disesuaikan dengan tata laksana gagal ginjal.
Pemantauan ketat harus dilakukan pada anak yang mengalami dehidrasi,
berusia kurang dari 1 tahun, menderita campak 6 minggu terakhir, dan tidak
mengalami perbaikan yang cepat. Tanda-tanda perbaikan meliputi hilangnya demam,

13

berkurangnya darah pada tinja, jumlah tinja yang keluar berkurang, nafsu makan
membaik, dan anak dapat beraktivitas seperti semula. Gambar 1 menunjukkan tata
laksana diare berdarah pada pasien rawat jalan.
Pengobatan amoebiasis secara rutin sebaiknya tidak dilakukan pada anak.
Pengobatan sebaiknya dilakukan berdasarkan pemeriksaan mikroskopis pada tinja
segar yang dilakukan oleh laboratorium yang dapat dipercaya menemukan tropozoit
dari E. histolytica mengandung sel darah merah, atau telah diberikan 2 macam
antibiotika yang berbeda yang biasanya sensitif terhadap Shigella di daerah tersebut
namun tidak didapatkan perbaikan. Antimikroba yang secara empiris efektif untuk
amoebiasis adalah metronidazol.
Daftar Pustaka
1.

Pediatric gastroenterology subdivision Child Health Department Medical Faculty University of


Indonesia. Dysentery, persistent diarrhoea, and diarrhoea associated with other illnesses. Teaching
medical

students

about

diarrheal

disease.

Disitasi

dari

http://www.who.int/child-adolescent-

health/New-Publications/CHILD_Health pada tanggal 15 April 2003.


2.

DITJEN PPM & PLP Departemen Kesehatan RI. Disentri, diare persisten, dan diare yang terjangkit
dengan penyakit lain. Dalam: DITJEN PPM & PLP Departemen Kesehatan RI, penyunting. Pendidikan
Medik Pemberantasan Diare (PMPD): Buku ajar diare, 1999.h.87-102.

3.

WHO. The management of bloody diarrhoea in young children. Disitasi dari http://www.who.int/childadolescent-health/New_Publications/CHILD_HEALTH-/WHO_CDD_94.49.htm . Diakses pada tanggal
10 Nopember 2006.

4.

WHO. The outpatient management of bloody diarrhea in young children. Update No. 16 October 1994.
Disitasi

dari

http://www.who.int/child-adolescent-health/New_Publications/CHILD_HEALTH/updt-

16.htm Diakses pada tanggal 10 Nopember 2006.


5.

Department of Child and Adolescent Health and Development WHO. Management of acute bloody
diarrhoea (Dysentery). The treatment of diarrhoea: A manual for physicians and other senior health
workers. Edisi ke-4. Geneva : WHO , 2005.h.17-19.

6.

USAID, WHO, Unicef. Child with blood in the stools. Diarrhoea treatment guidelines; including new
recommendations for the use of ORS and zinc supplementation for clinic-based health workers.
Arlington: The MOST project, 2005.h.12.

7.

Niyogi SK. Shigellosis. J Microbiol. 2005;4(2): 133-43

8.

WHO. Guidelines for the management of common illnesses with

limited resources. Pocket Book of

Hospital Care for Children. 2005: 127-130

14

15