Anda di halaman 1dari 74

BUPATI SUMBAWA BARAT

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMBAWA BARAT


NOMOR 2 TAHUN 2012
TENTANG
RENCANA TATA RUANG WILAYAH
KABUPATEN SUMBAWA BARAT TAHUN 2011-2031
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
BUPATI SUMBAWA BARAT,
dalam
rangka
mendorong
peningkatan
Menimbang : a. bahwa
pembangunan Kabupaten Sumbawa Barat yang berbasis
pembangunan pertanian dengan pendekatan agribisnis
dan agroindustri yang didukung oleh pembangunan
pariwisata dan pertambangan menuju terwujudnya
kesejahteraan wilayah yang berkelanjutan, perlu disusun
Rencana Tata Ruang Wilayah;
b. bahwa dengan adanya Undang-Undang Nomor 26 Tahun
2007 tentang Penataan Ruang, Peraturan Pemerintah
Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang
Wilayah Nasional, dan Peraturan Daerah Provinsi Nusa
Tenggara Barat Nomor 3 Tahun 2010 tentang Rencana
Tata Ruang Wilayah Provinsi Nusa Tenggara Barat Tahun
2009-2029, maka kebijakan dan strategi pemanfaatan
ruang wilayah nasional harus dijabarkan ke dalam
Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Sumbawa
Barat;
c. bahwa
berdasarkan
pertimbangan
sebagaimana
dimaksud dalam huruf a dan huruf b, maka perlu
membentuk Peraturan Daerah tentang Rencana Tata
Ruang Wilayah Kabupaten Sumbawa Barat Tahun 20112031.
Mengingat

: 1.
2.

Pasal 18 ayat (6) Undang-Undang Dasar Negara


Republik Indonesia Tahun 1945;
Undang-Undang Nomor 69 Tahun 1958 tentang
Pembentukan Daerah-daerah Tingkat I Bali, Nusa
Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 1958 Nomor 115,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
1649);

3.

Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang


Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 1960 Nomor 104,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
2043);
4. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum
Acara Pidana (Lembaran Negara Tahun 1981 Nomor 76,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
3209);
5. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1984 tentang
Perindustrian (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 1984 Nomor 22, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 3274);
6. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang
Konservasi
Sumber
Daya
Alam
Hayati
dan
Ekosistemnya (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 1990 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 3419);
7. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda
Cagar Budaya (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 1992 Nomor 27, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 3470);
8. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1992 tentang Sistem
Budidaya Tanaman (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 1992 Nomor 46, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 3478);
9. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999
tentang
Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari
Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 75, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3851);
10. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 1999
tentang
Telekomunikasi (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 1999 Nomor 154, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 3881);
11. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang
Kehutanan (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 1999 Nomor 167, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 3888) sebagaimana telah
diubah dengan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2004
tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti
Undang-undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang
Perubahan Atas Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999
tentang Kehutanan menjadi Undang-undang (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 86,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
4412);
12. Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2002 tentang
Pertahanan Negara (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2002 Nomor 3, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 1469);

13. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang


Bangunan Gedung (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2002 Nomor 134, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4247);
14. Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2003 tentang
Pembentukan Kabupaten Sumbawa Barat di Provinsi
Nusa Tenggara Barat (Lembaran Negara Tahun 2003
Nomor 145, Tambahan Lembaran Negara 4340);
15. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber
Daya Air (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2004 Nomor 32, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4377);
16. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem
Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104);
17. Undang-undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang
Perikanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2004 Nomor 118, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4433) sebagaimana telah
diubah dengan Undang-undang Nomor 45 Tahun 2009
tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 31
Tahun 2004 tentang Perikanan (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 1548,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
4433);
18. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437)
sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir
dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang
Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 32
Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
4844);
19. Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004
Nomor 132, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4444);
20. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang
Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional
Tahun
2005-2025
(Lembaran
Negara
Republik
Indonesia Tahun 2007 Nomor 33, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4700);
21. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang
Penanggulangan Bencana (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2007 Nomor 66, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4723);
22. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang
Penanaman Modal (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2007 Nomor 67, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4724);

23. Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang


Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007
Nomor 84, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4727);
24. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang
Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2007 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4725);
25. Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2007 tentang Energi
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007
Nomor 96, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4746);
26. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang
Pelayaran (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2008 Nomor 64, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4849);
27. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang
Pengelolaan Sampah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2008 Nomor 69, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4851);
28. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang
Penerbangan (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2009 Nomor 1, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4956);
29. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang
Pertambangan Mineral dan Batubara (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 4, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4959);
30. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang
Kepariwisataan (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2009 Nomor 11, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4966);
31. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu
Lintas dan Angkutan Jalan (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2009 Nomor 96, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 5025);
32. Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2009 tentang
Ketenagalistrikan (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2009 Nomor 133, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 5052);
33. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang
Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009
Nomor 10, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 5059);
34. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2009 tentang
Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009
Nomor 149, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 5068);

35. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang


Perumahan dan Kawasan Permukiman (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 7,
Tambahan Lembaran Negara Nomor 5188);
36. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang
Pembentukan
Peraturan
Perundang-undangan
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011
Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Nomor 5234);
37. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang
Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 59,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
3838);
38. Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 2000 tentang
Tingkat Ketelitian Peta untuk Penataan Ruang Wilayah
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000
Nomor 20, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 3934);
39. Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2004 tentang
Penatagunaan Tanah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2004 Nomor 45, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4385);
40. Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 2004 tentang
Perencanaan Hutan (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2004 Nomor 146, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4452);
41. Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2004 tentang
Perlindungan Hutan (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2004 Nomor 147, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4453 );
42. Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2005 tentang
Pengembangan
Sistem
Penyediaan
Air
Minum
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005
Nomor 33, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4490);
43. Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2005 tentang
Pedoman Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan
Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2005 Nomor 165, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4593);
44. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2006 tentang
Irigasi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2006 Nomor 46, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4624);
45. Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 2006 tentang
Jalan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2006 Nomor 86, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4655);

46. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2007 tentang


Tata Hutan dan Penyusunan Rencana Pengelolaan
Hutan, serta Pemanfaatan Hutan (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 22, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4696),
sebagaimana
telah
diubah
dengan
Peraturan
Pemerintah Nomor 3 tahun 2008 (Lembaran Negara
Republik Indonesia tahun 2008 Nomor 16, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737);
47. Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2007 tentang
Tata Cara Pelaksanaan Kerjasama Daerah (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 112,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
4761);
48. Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2008 tentang
Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 42
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
4828);
49. Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang
Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 48
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
4833);
50. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2008 tentang
Pengelolaan Sumber Daya Air (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 82, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4858);
51. Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2008 tentang
Air Tanah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2008 Nomor 83, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4859);
52. Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 2010 tentang
Tata Cara Perubahan Peruntukan dan Fungsi Kawasan
Hutan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2010 Nomor 15 Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 5097);
53. Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010 tentang
Penyelenggaraan Penataan Ruang (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 21 Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5103);
54. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2010 tentang
Tata Cara Tata Cara Pelaksanaan Tugas dan Wewenang
Serta Kedudukan Keuangan Gubernur Sebagai Wakil
Pemerintah Di Wilayah Provinsi (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 25 Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5107);
55. Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2010 tentang
Wilayah Pertambangan (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2010 Nomor 28, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 5110);

56. Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2010 tentang


Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral
dan Batubara (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2010 Nomor 29, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 5111);
57. Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2010 tentang
Tata Cara Penetapan Kawasan Khusus (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 59,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
5125);
58. Peraturan Pemerintah Nomor 68 tahun 2010 tentang
Bentuk dan Tata Cara Peran Masyarakat Dalam
Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2010 Nomor 118, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 5160);
59. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 1 Tahun 2008
tentang Pedoman Perencanaan Kawasan Perkotaan;
60. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 28 Tahun 2008
tentang Tata Cara Evaluasi Rancangan Peraturan
Daerah tentang Rencana Tata Ruang Daerah;
61. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 8 Tahun 2009
tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang di Daerah;
62. Peraturan
Menteri
Pekerjaan
Umum
Nomor
11/PRT/M/2009
tentang
Pedoman
Persetujuan
Substansi Dalam Penetapan Rancangan Peraturan
Daerah tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi
dan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Kota,
Beserta Rencana Rincinya;
63. Peraturan
Menteri
Pekerjaan
Umum
Nomor
16/PRT/M/2009
tentang
Pedoman
Penyusunan
Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten;
64. Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.50/ MenhutII/2009 tentang Penegasan Status dan Fungsi Kawasan
Hutan;
65. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 50 Tahun 2009
tentang Pedoman Koordinasi Penataan Ruang Daerah;
66. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 53 Tahun 2011
tentang Pembentukan Produk Hukum Daerah;
67. Peraturan Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat Nomor
3 Tahun 2010 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah
Provinsi Nusa Tenggara Barat Tahun 2009-2029
(Lembaran Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat Tahun
2010 Nomor 26, Tambahan Lembaran Daerah Provinsi
Nusa Tenggara Barat Tahun 2010 Nomor 56);
68. Peraturan Daerah Kabupaten Sumbawa Barat Nomor
20 Tahun 2006 tentang Rencana Pembangunan Jangka
Panjang Daerah (RPJPD) Tahun 2006-2026 (Lembaran
Daerah Kabupaten Sumbawa Barat Tahun 2006 Nomor
20, Tambahan Lembaran Daerah Kabupaten Sumbawa
Barat Tahun 2006 Nomor 35).

Dengan Persetujuan Bersama


DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN SUMBAWA BARAT
dan
BUPATI SUMBAWA BARAT
MEMUTUSKAN :
Menetapkan :

PERATURAN DAERAH TENTANG RENCANA TATA RUANG


WILAYAH KABUPATEN SUMBAWA BARAT TAHUN 20112031
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1

Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan :


1. Kabupaten adalah Kabupaten Sumbawa Barat.
2. Pemerintah Daerah adalah Bupati dan Perangkat Daerah sebagai unsur
penyelenggara Pemerintahan Daerah.
3. Bupati adalah Bupati Sumbawa Barat.
4. Ruang adalah wadah yang meliputi ruang darat, ruang laut dan ruang
udara, termasuk ruang di dalam bumi sebagai satu kesatuan wilayah,
tempat manusia dan makhluk lain hidup, melakukan kegiatan, dan
memelihara kelangsungan hidupnya.
5. Tata ruang adalah wujud struktur ruang dan pola ruang.
6. Struktur ruang adalah susunan pusat-pusat permukiman dan sistim
jaringan prasarana dan sarana yang berfungsi sebagai pendukung
kegiatan sosial ekonomi masyarakat yang secara hierarkhis memiliki
hubungan fungsional.
7. Pola ruang adalah distribusi peruntukan ruang dalam suatu wilayah
yang meliputi peruntukan ruang untuk fungsi lindung dan peruntukan
ruang untuk fungsi budidaya.
8. Penataan ruang adalah suatu sistem proses perencanaan tata ruang,
pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang.
9. Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Sumbawa Barat yang
selanjutnya disingkat RTRW Kabupaten Sumbawa Barat
adalah
arahan kebijakan dan strategi pemanfaatan ruang wilayah daerah yang
menjadi pedoman bagi penataan wilayah yang merupakan dasar dalam
penyusunan program pembangunan.
10. Penyelenggaraan penataan ruang adalah kegiatan yang meliputi
pengaturan, pembinaan, pelaksanaan dan pengawasan penataan
ruang.
11. Pelaksanaan penataan ruang adalah upaya pencapaian tujuan
penataan ruang melalui pelaksanaan perencanaan tata ruang,
pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang.
12. Pemanfaatan ruang adalah upaya untuk mewujudkan struktur ruang
dan pola ruang sesuai dengan rencana tata ruang melalui penyusunan
dan pelaksanaan program beserta pembiayaannya.

13. Pengendalian pemanfaatan ruang adalah upaya untuk mewujudkan


tertib tata ruang sesuai dengan rencana tata ruang yang telah
ditetapkan.
14. Wilayah adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta
segenap unsur terkait padanya yang batas dan sistemnya ditentukan
berdasarkan aspek administratif dan atau aspek fungsional.
15. Wilayah sungai adalah kesatuan wilayah pengelolaan sumber daya air
dalam satu atau lebih daerah aliran sungai dan/atau pulau-pulau kecil
yang luasnya kurang dari atau sama dengan 2.000 km2.
16. Daerah Irigasi atau disingkat DI adalah kesatuan lahan yang mendapat
air dari suatu jaringan irigasi.
17. Daerah Aliran Sungai atau disingkat DAS adalah suatu wilayah daratan
yang merupakan satu kesatuan dengan sungai dan anak-anak
sungainya, yang berfungsi menampung, menyimpan, dan mengalirkan
air yang berasal dari curah hujan ke danau atau ke laut secara alami,
yang batas di darat merupakan pemisah topografis dan batas di laut
sampai dengan daerah perairan yang masih terpengaruh aktivitas
daratan.
18. Kawasan adalah wilayah dengan fungsi utama lindung atau budidaya.
19. Kawasan lindung adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama
untuk melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup
sumber daya alam dan sumber daya buatan.
20. Kawasan budidaya adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungsi
utama untuk dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi sumber
daya alam, sumber daya manusia dan sumber daya buatan.
21. Kawasan perdesaan adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama
pertanian, termasuk pengelolaan sumber daya alam dengan susunan
fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perdesaan, pelayanan jasa
pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi.
22. Kawasan perkotaan adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama
bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat
permukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa
pemerintahan, pelayanan sosial dan kegiatan ekonomi.
23. Hutan adalah suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi
sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam
persekutuan alam lingkungannya, yang satu dengan lainnya tidak
dapat dipisahkan.
24. Kawasan hutan adalah wilayah tertentu yang ditunjuk dan/atau
ditetapkan oleh pemerintah untuk dipertahankan keberadaannya
sebagai hutan tetap.
25. Hutan produksi adalah kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok
memproduksi hasil hutan.
26. Hutan konservasi adalah kawasan hutan dengan ciri khas tertentu,
yang mempunyai fungsi pokok pengawetan keanekaragaman tumbuhan
dan satwa serta ekosistemnya.
27. Pemanfaatan hutan adalah kegiatan untuk memanfaatkan kawasan
hutan, memanfaatkan jasa lingkungan, memanfaatkan hasil hutan
kayu dan bukan kayu serta memungut hasil hutan kayu dan bukan
kayu secara optimal dan adil untuk kesejahteraan masyarakat dengan
tetap menjaga kelestariannya.
28. Pemanfaatan kawasan adalah kegiatan untuk memanfaatkan ruang
tumbuh sehingga diperoleh manfaat lingkungan, manfaat sosial dan

29.

30.

31.

32.

33.

34.
35.

36.

37.

38.

39.

40.

41.
42.

43.

manfaat ekonomi secara optimal dengan tidak mengurangi fungsi


utamanya.
Pemanfaatan jasa lingkungan adalah kegiatan untuk memanfaatkan
potensi jasa lingkungan dengan tidak merusak lingkungan dan
mengurangi fungsi utamanya.
Hutan Tanaman Industri atau disingkat HTI adalah hutan tanaman
pada hutan produksi yang dibangun oleh kelompok industri kehutanan
untuk meningkatkan potensi dan kualitas hutan produksi dengan
menerapkan silvikultur dalam rangka memenuhi kebutuhan bahan
baku industri hasil hutan.
Hutan Tanaman Rakyat atau disingkat HTR adalah hutan tanaman
pada hutan produksi yang dibangun oleh kelompok masyarakat untuk
meningkatkan potensi dan kualitas hutan produksi dengan
menerapkan silvikultur dalam rangka menjamin kelestarian sumber
daya hutan.
Hutan Tanaman Hasil Rehabilitasi atau disingkat HTHR adalah hutan
tanaman pada hutan produksi yang dibangun melalui kegiatan
merehabilitasi lahan dan hutan pada kawasan hutan produksi untuk
memulihkan, mempertahankan dan meningkatkan fungsi lahan dan
hutan dalam rangka mempertahankan daya dukung, produktivitas dan
peranannya sebagai sistem penyangga kehidupan.
Kawasan Suaka Alam atau disingkat KSA adalah kawasan yang
mewakili ekosistem khas yang merupakan habitat alami yang
memberikan perlindungan bagi perkembangan flora dan fauna yang
khas dan beraneka ragam.
Kawasan Taman Wisata Alam adalah kawasan pelestarian alam darat
maupun perairan yang terutama dimanfaatkan untuk pariwisata.
Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung atau disingkat KPHL adalah
kesatuan pengelolaan hutan yang luas wilayahnya seluruhnya atau
didominasi oleh kawasan hutan lindung.
Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi atau disingkat KPHP adalah
kesatuan pengelolaan hutan yang luas wilayahnya seluruhnya atau
didominasi oleh kawasan hutan produksi.
Kesatuan Pengelolaan Hutan Konservasi atau disingkat KPHK adalah
kesatuan pengelolaan hutan yang luas wilayahnya seluruhnya atau
didominasi oleh kawasan hutan konservasi.
Perubahan fungsi kawasan hutan adalah perubahan sebagian atau
seluruh fungsi hutan dalam satu atau beberapa kelompok hutan
menjadi fungsi kawasan hutan yang lain.
Kawasan budidaya adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungsi
utama untuk dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi sumber
daya alam, sumberdaya manusia dan sumberdaya buatan.
Ruang Terbuka Hijau atau disingkat RTH adalah area memanjang/jalur
dan/atau mengelompok, yang penggunaannya lebih bersifat terbuka,
tempat tumbuh tanaman, baik yang tumbuh secara alamiah maupun
yang sengaja ditanam.
Kawasan pesisir adalah kawasan yang merupakan peralihan antara
darat dan laut yang dipengaruhi oleh perubahan di darat dan laut.
Kawasan Strategis Provinsi atau disingkat KSP adalah wilayah yang
penataan ruangnya diprioritaskan karena mempunyai pengaruh sangat
penting dalam lingkup provinsi terhadap ekonomi, sosial, budaya
dan/atau lingkungan.
Kawasan Strategis Kabupaten atau disingkat KSK adalah wilayah yang
penataan ruangnya diprioritaskan karena mempunyai pengaruh sangat

10

44.

45.

46.

47.

48.

49.
50.
51.

52.

53.

54.

55.

56.

57.

58.

59.

penting dalam lingkup kabupaten terhadap ekonomi, sosial, budaya


dan/atau lingkungan.
Pusat Kegiatan Wilayah atau disingkat PKW adalah kawasan perkotaan
yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala provinsi atau beberapa
kabupaten/kota.
Pusat Kegiatan Wilayah Promosi atau disingkat PKWp adalah kawasan
perkotaan yang akan dipromosikan untuk menjadi PKW dengan fungsi
untuk melayani kegiatan skala provinsi atau beberapa kabupaten/kota.
Pusat Kegiatan Lokal atau disingkat PKL adalah kawasan perkotaan
yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala kabupaten/kota atau
beberapa kecamatan.
Pusat Kegiatan Lokal Promosi atau disingkat PKLp adalah kawasan
perkotaan yang akan dipromosikan untuk menjadi PKL dengan fungsi
untuk melayani kegiatan skala kabupaten/kota atau beberapa
kecamatan.
Pusat Pelayanan Kawasan atau disingkat PPK merupakan kawasan
perkotaan yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala kecamatan
atau beberapa desa.
Pusat Pelayanan Lingkungan atau disingkat PPL adalah pusat
permukiman yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala antar desa.
Orang adalah orang perseorangan dan/atau korporasi.
Masyarakat adalah orang perseorangan, kelompok orang termasuk
masyarakat hukum adat, korporasi, dan/atau pemangku kepentingan
nonpemerintah lain dalam penyelenggaraan penataan ruang.
Peran Masyarakat adalah partisipasi aktif masyarakat dalam proses
perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian
pemanfaatan ruang.
Badan Koordinasi Penataan Ruang Nasional atau disingkat BKPRN
adalah badan yang dibentuk dengan Keputusan Presiden yang bertugas
untuk mengkoordinasikan penataan ruang Nasional.
Badan Koordinasi Penataan Ruang Daerah Provinsi atau disingkat
BKPRD Provinsi adalah Badan yang dibentuk dengan Keputusan
Gubernur yang bertugas untuk mengkoordinasikan penataan ruang
wilayah Provinsi Nusa Tenggara Barat.
Badan Koordinasi Penataan Ruang Daerah Kabupaten yang selanjutnya
disebut BKPRD Kabupaten adalah Badan yang dibentuk dengan
Keputusan Bupati yang bertugas untuk mengkoordinasikan penataan
ruang wilayah Kabupaten Sumbawa Barat.
Peraturan zonasi adalah ketentuan yang mengatur tentang persyaratan
pemanfaatan ruang dan ketentuan pengendaliannya dan disusun
untuk setiap blok/zona peruntukan yang penetapan zonanya dalam
rencana rinci tata ruang.
Register Tanah Kehutanan atau disingkat RTK adalah kawasan hutan
yang berada dalam satu kelompok hamparan hutan dan telah
diregisterasi.
Jalan adalah prasarana transportasi darat yang meliputi segala bagian
jalan, termasuk bangunan pelengkap dan perlengkapannya yang
diperuntukkan bagi lalu lintas, yang berada pada permukaan tanah, di
atas permukaan tanah, di bawah permukaan tanah dan/atau air, serta
di atas permukaan air, kecuali jalan kereta api, jalan lori, dan jalan
kabel.
Sistem jaringan jalan primer adalah sistem jaringan jalan dengan
peranan pelayanan distribusi barang dan jasa untuk pengembangan

11

60.

61.

62.

63.

64.

65.
66.
67.

semua wlayah di tingkat nasional, dengan menghubungkan semua


simpul jasa distribusi yang berwujud pusat-pusat kegiatan.
Sistem jaringan jalan sekunder adalah sistem jaringan jalan dengan
peranan pelayanan distribusi barang dan jasa untuk masyarakat dalam
kawasan perkotaan.
Lalu Lintas dan Angkutan Jalan adalah satu kesatuan sistem yang
terdiri atas Lalu Lintas, Angkutan Jalan, Jaringan Lalu Lintas dan
Angkutan Jalan, Prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan,
Kendaraan, Pengemudi, Pengguna Jalan, serta pengelolaannya.
Jaringan sumber Daya air adalah jaringan beserta bangunan lain yang
menunjang kegiatan pengelolaan sumberdaya air, baik langsung
maupun tidak langsung.
Jaringan irigasi adalah adalah saluran, bangunan dan bangunan
pelengkapnya yang merupakan satu kesatuan yang diperlukan untuk
penyediaan, pembagian, pemberian, penggunaan dan pembuangan air
irigasi. Selanjutnya secara operasional dibedakan ke dalam tiga kategori
meliputi jaringan irigasi primer, sekunder dan tersier.
Cekungan air tanah adalah suatu wilayah yang dibatasi oleh batas
hidrogeologis, tempat semua kejadian hidrogeologis seperti proses
pengimbuhan, pengaliran, dan pelepasan air tanah berlangsung.
Terminal adalah
prasarana penunjang transportasi darat sebagai
simpul keluar masuk kendaraan, barang dan orang.
Kawasan pertahanan negara adalah wilayah yang ditetapkan secara
nasional yang digunakan untuk kepentingan pertahanan.
Daerah Tujuan Wisata yang selanjutnya disebut Destinasi Pariwisata
adalah Kawasan Geografis yang berada dalam satu atau wilayah
administratif yang di dalamnya terdapat daya tarik wisata alam,
fasilitas umum, aksesibilitas serta masyarakat yang saling terkait dan
melengkapi terwujudnya kepariwisataan.
BAB II
LUAS DAN BATAS WILAYAH KABUPATEN
Pasal 2

(1) Luas wilayah administrasi Kabupaten Sumbawa Barat terdiri dari luas
daratan sekitar 184.902 Hektar dan luas perairan laut sekitar 124.300
Hektar. Wilayah daratan terdiri dari 8 (delapan) kecamatan, yaitu
Kecamatan Taliwang, Kecamatan Seteluk, Kecamatan Brang Rea,
Kecamatan Jereweh, Kecamatan Sekongkang, Kecamatan Poto Tano,
Kecamatan Brang Ene dan Kecamatan Maluk.
(2) Batas wilayah Kabupaten Sumbawa Barat sebagaimana dimaksud pada
ayat (1), adalah :
a. sebelah barat
: Selat Alas;
b. sebelah timur : Kecamatan Batu Lanteh dan Kecamatan Lunyuk
Kabupaten Sumbawa;
c. sebelah utara
: Laut Flores dan Kecamatan Alas Barat Kabupaten
Sumbawa; dan
d. sebelah selatan : Samudera Hindia.

12

BAB III
TUJUAN, KEBIJAKAN, DAN STRATEGI PENATAAN RUANG
Bagian Kesatu
Tujuan Penataan Ruang
Pasal 3
Tujuan penataan ruang wilayah Kabupaten Sumbawa Barat adalah
mewujudkan ruang wilayah kabupaten yang aman, nyaman, produktif dan
merata yang berbasis pembangunan pertanian dengan pendekatan
agribisnis dan agroindustri yang didukung oleh pembangunan pariwisata
dan pertambangan menuju terwujudnya kesejahteraan wilayah yang
berkelanjutan.
Bagian Kedua
Kebijakan Penataan Ruang
Pasal 4
(1) Agar tujuan penataan ruang wilayah kabupaten tercapai perlu disusun
kebijakan penataan ruang kabupaten.
(2) Kebijakan penataan ruang kabupaten sebagaimana dimaksud pada ayat
(1), terdiri atas:
a. peningkatan kemandirian kawasan melalui pertumbuhan dan
pengembangan wilayah berbasis agroindustri dan agrobisnis;
b. penataan pusat-pusat pertumbuhan wilayah dan ekonomi perkotaan
dan menunjang sistem pemasaran produksi pertanian, perikanan,
dan pariwisata;
c. pengembangan sistem prasarana wilayah yang mendukung
pemasaran hasil pertanian, perikanan, dan pariwisata;
d. pengelolaan pemanfaatan lahan dengan memperhatikan peruntukan
lahan, daya tampung lahan dan aspek konservasi;
e. pengembangan kawasan budidaya dengan memperhatikan aspek
keberlanjutan dan lingkungan hidup;
f. pengembangan kawasan wisata yang berbasis pada potensi alam dan
budaya;
g. pengelolaan kawasan pertambangan dengan konsep pembangunan
berkelanjutan;
h. pemeliharaan kelestarian lingkungan hidup dan pencegahan dampak
negatif kegiatan manusia yang dapat menimbulkan kerusakan
lingkungan hidup dan pemulihan kerusakan lingkungan hidup
dengan memperhatikan mitigasi dan adaptasi kawasan rawan
bencana;
i. pengembangan pemanfaatan ruang pada kawasan strategis baik
untuk fungsi pengembangan wilayah maupun guna perlindungan
kawasan sesuai fungsi utama kawasan;
j. peningkatan fungsi kawasan untuk pertahanan dan keamanan
negara.

13

Bagian Ketiga
Strategi Penataan Ruang
Pasal 5
(1) Untuk melaksanakan kebijakan penataan ruang sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 4 ayat (2) ditetapkan strategi penataan ruang wilayah
kabupaten.
(2) Strategi peningkatan kemandirian kawasan melalui pertumbuhan dan
pengembangan
wilayah
berbasis
agroindustri
dan
agrobisnis
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (2) huruf a, terdiri atas:
a. mengembangkan
wilayah-wilayah
dengan
potensi
unggulan
pertanian, perikanan, peternakan berbasis agrobisnis dan
agroindustri.
b. menetapkan kawasan pertanian, perikanan dan peternakan;
c. mengembangkan kawasan industri perikanan;
d. melakukan delineasi lahan pertanian sawah berkelanjutan;
e. mengembangkan sawah baru pada kawasan potensial;
f. mengoptimalkan pemanfaatan kawasan pertanian lahan kering;
g. mengembangkan
pengelolaan
kawasan
pertanian
dengan
intensifikasi melalui penerapan teknologi pertanian dan teknologi
pasca panen;
h. meningkatkan sistem prasarana dan sarana dan kelembagaan
pengelolaan penunjang kawasan pertanian, perikanan, dan
peternakan yang berorientasi agrobisnis dan agroindustri; dan
i. membangun jaringan pengangkutan dan pemasaran produk
perikanan dalam skala regional dan nasional.
(3) Strategi Penataan pusat-pusat pertumbuhan wilayah dan ekonomi
perkotaan dan menunjang sistem pemasaran produksi pertanian,
perikanan, dan pariwisata sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (2)
huruf b, terdiri atas:
a. menetapkan pusat-pusat kegiatan wilayah secara hierarkis guna
menunjang pengembangan simpul-simpul pertumbuhan ekonomi
wilayah;
b. memantapkan fungsi pusat-pusat kegiatan wilayah;
c. memantapkan keterkaitan antar pusat-pusat kegiatan wilayah
perkotaan dan perdesaan dan wilayah pengaruhnya;
d. menjaga keterkaitan antar kawasan perkotaan, antara kawasan
perkotaan dan kawasan perdesaan, serta antara kawasan perkotaan
dan wilayah di sekitarnya;
e. mengembangkan pusat pertumbuhan baru di kawasan yang belum
terlayani oleh pusat pertumbuhan yang sudah ada; dan
f. mendorong pusat-pusat kegiatan wilayah perkotaan dan perdesaan
agar lebih kompetitif dan lebih efektif dalam pengembangan wilayah di
sekitarnya.
(4) Strategi pengembangan sistem prasarana wilayah yang mendukung
pemasaran hasil pertanian, perikanan, dan pariwisata sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 4 ayat (2) huruf c, terdiri atas:
a. mengembangkan sistem jaringan infrastruktur dalam mewujudkan
keterpaduan pelayanan transportasi darat, laut, dan udara;

14

b.
c.

d.

e.
f.
g.

meningkatkan kualitas dan kuantitas jaringan irigasi dan


mewujudkan keterpaduan sistem jaringan sumberdaya air;
mengembangkan akses jaringan jalan menuju kawasan pertanian,
perkebunan,
perikanan, peternakan, pariwisata, industri, dan
daerah terisolir;
mengembangkan akses penyeberangan di jalur lingkar selatan
Provinsi yang menghubungkan Pulau Lombok melewati Benete,
Sekongkang hingga Sape;
mengembangkan dan meningkatkan jalan lingkar perkotaan dan
jalan lingkar timur-barat wilayah Kabupaten Sumbawa Barat;
mendorong pengembangan infrastruktur telekomunikasi dan
informasi terutama di kawasan terisolir; dan
meningkatkan jaringan energi dengan memanfaatkan energi
terbarukan dan tak terbarukan secara optimal serta mewujudkan
keterpaduan sistem penyediaan tenaga listrik.

(5) Strategi pengelolaan pemanfaatan lahan dengan memperhatikan


peruntukan lahan, daya tampung lahan dan aspek konservasi
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (2) huruf d, terdiri atas:
a. mempertahankan luas kawasan lindung;
b. mempertahankan luasan hutan lindung dan mengembangkan luas
kawasan hutan minimal 30% (tiga puluh persen) dengan sebaran
yang proporsional dari luasan daerah aliran sungai;
c. mengembalikan dan meningkatkan fungsi kawasan lindung yang
telah menurun akibat pengembangan kegiatan budidaya, dalam
rangka mewujudkan dan memelihara keseimbangan ekosistem
wilayah;
d. menyelenggarakan upaya terpadu untuk meningkatkan kuantitas
dan kualitas fungsi kawasan lindung;
e. melestarikan sumber air dan mengembangkan sistem cadangan air
untuk musim kemarau;
f. memelihara kemampuan lingkungan hidup dari tekanan perubahan
dan/atau dampak negatif yang ditimbulkan oleh suatu kegiatan agar
tetap mampu mendukung perikehidupan manusia dan makhluk
hidup lainnya; dan
g. mencegah terjadinya tindakan yang dapat secara langsung atau
tidak langsung menimbulkan perubahan sifat fisik lingkungan yang
mengakibatkan lingkungan hidup tidak berfungsi dalam menunjang
pembangunan yang berkelanjutan.
(6) Strategi pengembangan kawasan budidaya dengan memperhatikan aspek
keberlanjutan dan lingkungan hidup sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 4 ayat (2) huruf e, terdiri atas:
a. mendukung kebijakan moratorium logging dalam kawasan hutan
serta mendorong berlangsungnya investasi bidang kehutanan yang
diawali dengan kegiatan penanaman/rehabilitasi hutan;
b. mengembangkan produksi hasil hutan kayu dari hasil kegiatan
budidaya tanaman hutan dalam kawasan hutan produksi;
c. mengembangkan produksi hasil hutan kayu yang berasal dari hutan
alam, dari kegiatan penggunaan dan pemanfaatan kawasan hutan
dengan izin yang sah;

15

d.
e.
f.
g.
h.

i.
j.

memelihara kawasan peninggalan sejarah dan situs budaya sebagai


objek penelitian dan pariwisata;
mengembangkan ruang terbuka hijau dengan luas paling sedikit
30% (tiga puluh persen) dari luas kawasan perkotaan;
mengelola pemanfaatan sumber daya alam agar tidak melampaui
daya dukung dan daya tampung kawasan;
mengendalikan dampak negatif kegiatan budidaya agar tidak
menurunkan kualitas lingkungan hidup dan efisiensi kawasan;
membatasi perkembangan kawasan terbangun pada kawasan
perkotaan dengan mengoptimalkan pemanfaaatan ruang secara
vertikal dan tidak sporadis untuk mengefektifkan tingkat pelayanan
infrastruktur dan sarana kawasan perkotaan serta mempertahankan
fungsi kawasan perdesaan;
mengendalikan
pemanfaatan
sumber
daya
alam
secara
berkelanjutan; dan
mengelola sumber daya alam tak terbarukan untuk menjamin
pemanfaatannya secara bijaksana dan sumber daya alam yang
terbarukan untuk menjamin kesinambungan ketersediaannya
dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai serta
keanekaragamannya.

(7) Pengembangan kawasan wisata yang berbasis pada potensi alam dan
budaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (2) huruf f terdiri
atas:
a. pengembangan potensi-potensi wisata unggulan;
b. pengembangan potensi-potensi wisata unggulan sebagaimana
dimaksud pada huruf a, meliputi:
1. wisata alam hutan, pegunungan, air terjun, dan wisata bahari;
2. wisata budaya;
c. merevitalisasi nilai-nilai budaya serta situs/cagar budaya yang
bernilai historis;
d. mengembangkan sarana dan prasarana penunjang kepariwisataan;
e. mengembangkan destinasi wisata.
(8) Strategi
Pengelolaan
kawasan
pertambangan
dengan
konsep
pembangunan berkelanjutan sebagaimana dimaksud dalam pasal 4 ayat
(2) huruf g, terdiri atas:
a. menetapkan kawasan eksploitasi dan eksplorasi pertambangan;
b. mengembangkan kawasan lingkar tambang sesuai potensi unggulan
menuju yang terkait dengan kegiatan pertambangan menuju
kemandirian kawasan;
c. melengkapi
prasarana
dan
sarana
penunjang
kegiatan
pertambangan;
d. mengawasi upaya rehabilitasi lingkungan secara bertahap dalam
memperbaiki kualitas lingkungan kawasan tambang pada masa pra
tambang, dan pasca tambang;
e. mengendalikan dampak lingkungan alam dan lingkungan sosial
akibat limbah tailing pertambangan;
f. melakukan pemantauan kualitas lingkungan pesisir dan laut sebagai
dampak kegiatan pertambangan; dan
g. peningkatan kegiatan pertambangan di zona layak tambang sesuai
dengan tata ruang.

16

(9) Strategi pemeliharaan kelestarian lingkungan hidup dan pencegahan


dampak negatif kegiatan manusia yang dapat menimbulkan kerusakan
lingkungan hidup dan pemulihan kerusakan lingkungan hidup dengan
memperhatikan mitigasi dan adaptasi kawasan rawan bencana
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (2) huruf h, terdiri atas:
a. melestarikan kawasan lindung di ruang darat, ruang laut, dan ruang
udara termasuk ruang di dalam bumi;
b. memadukan arahan kawasan lindung nasional dan propinsi dalam
kawasan lindung kabupaten;
c. mewujudkan kawasan berfungsi lindung dengan luas paling sedikit
30 (tiga puluh) persen dari luas wilayah;
d. menetapkan kawasan hutan dan vegetasi tutupan lahan permanen
paling sedikit 30 (tiga puluh) persen dari luas DAS yang berada di
wilayah Sumbawa Barat;
e. melindungi kemampuan lingkungan hidup dari tekanan perubahan
dan/atau dampak negatif yang ditimbulkan oleh suatu kegiatan agar
tetap mampu mendukung perikehidupan manusia dan makhluk
hidup lainnya;
f. mencegah terjadinya tindakan yang dapat secara langsung atau
tidak langsung menimbulkan perubahan sifat fisik lingkungan yang
mengakibatkan lingkungan hidup tidak berfungsi dalam menunjang
pembangunan yang berkelanjutan;
g. mengelola sumber daya alam tak terbarukan untuk menjamin
pemanfaatannya secara bijaksana dan sumber daya alam yang
terbarukan untuk menjamin kesinambungan ketersediaannya
dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai serta
keanekaragamannya;
h. mengembangkan kegiatan budidaya yang mempunyai daya adaptasi
bencana di kawasan rawan bencana;
i. mengendalikan kegiatan budidaya yang terdapat di dalam kawasan
lindung melalui konversi atau rehabilitasi lahan, pembatasan
kegiatan, serta pemindahan kegiatan permukiman penduduk atau
kegiatan budidaya terbangun yang mengganggu, secara bertahap ke
luar kawasan lindung;
j. mengembalikan dan meningkatkan fungsi lingkungan hidup yang
telah menurun;
k. mengendalikan pemanfaatan ruang untuk kawasan budidaya
terbangun di kawasan rawan bencana;
l. mengembangkan kawasan budidaya yang sesuai pada kawasan
rawan bencana untuk mengurangi dampak bencana dan
mengendalikan kegiatan budidaya di sekitar kawasan rawan
bencana;
m. memantapkan dan mengembangkan jalur-jalur evakuasi untuk
mengurangi risiko gangguan dan ancaman langsung maupun tidak
langsung dari terjadinya bencana;
n. menyelenggarakan tindakan preventif dalam penanganan bencana
alam berdasarkan siklus bencana melalui upaya mitigasi dan
adaptasi bencana, pengawasan terhadap pelaksanaan rencana tata
ruang, tanggap darurat, pemulihan, dan pembangunan kembali
pasca bencana; dan
o. menetapkan alokasi ruang kawasan rawan bencana dengan mengacu
pada peta rawan bencana.

17

(10) Strategi pengembangan pemanfaatan ruang pada kawasan strategis


baik untuk fungsi pengembangan wilayah maupun guna perlindungan
kawasan sesuai fungsi utama kawasan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 4 ayat (2) huruf i, terdiri atas:
a. meningkatkan dan memantapkan fungsi dan peran kawasan
strategis pertumbuhan ekonomi;
b. meningkatkan dan memantapkan fungsi dan peran kawasan
strategis sosial dan budaya;
c. meningkatkan dan memantapkan fungsi dan peran kawasan
strategis perlindungan ekosistem dan lingkungan hidup;
d. melestarikan dan meningkatkan fungsi dan daya dukung lingkungan
hidup untuk mempertahankan dan meningkatkan keseimbangan
ekosistem antara hulu dan hilir,melestarikan keanekaragaman
hayati, mempertahankan dan meningkatkan fungsi perlindungan
kawasan, melestarikan keunikan bentang alam, dan melestarikan
warisan budaya daerah;
e. mengembangkan dan meningkatkan fungsi kawasan dalam
pengembangan perekonomian daerah yang produktif, efisien, dan
mampu bersaing;
f. mengembangkan sarana dan infrastruktur pendukung pada
kawasan strategis.
g. memanfaatkan sumber daya alam dan/atau teknologi tinggi secara
optimal untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat;
h. melestarikan dan meningkatkan sosial dan budaya bangsa;
i. melestarikan dan meningkatkan nilai kawasan lindung yang
ditetapkan sebagai warisan dunia; dan
j. mengembangkan kawasan tertinggal untuk mengurangi kesenjangan
tingkat perkembangan antar kawasan.
(11) Strategi peningkatan fungsi kawasan untuk pertahanan dan keamanan
negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (2) huruf j, terdiri
atas:
a. mendukung penetapan kawasan peruntukan pertahanan dan
keamanan;
b. mengembangkan kegiatan budidaya secara selektif di dalam dan di
sekitar kawasan pertahanan dan keamanan untuk menjaga fungsi
dan peruntukannya;
c. mengembangkan kawasan lindung dan/atau kawasan budidaya
tidak terbangun di sekitar kawasan pertahanan negara sebagai zona
penyangga yang memisahkan kawasan tersebut dengan kawasan
budidaya terbangun; dan
d. turut serta menjaga dan memelihara aset-aset pertahanan/TNI.
BAB IV
RENCANA STRUKTUR RUANG WILAYAH
Bagian Kesatu
Umum
Pasal 6
(1) Rencana Struktur Ruang Wilayah Kabupaten, terdiri atas:
a. pusat-pusat kegiatan;
b. sistem jaringan prasarana utama; dan
c. sistem jaringan prasarana lainnya.

18

(2) Rincian rencana struktur ruang wilayah sebagaimana dimaksud pada


ayat (1) tercantum dalam Lampiran I yang tidak terpisahkan dari
Peraturan Daerah ini.
(3) Rencana struktur ruang wilayah sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
digambarkan dalam peta dengan tingkat ketelitian 1:50.000
sebagaimana tercantum dalam Lampiran IV.1 Peta Rencana Struktur
Ruang wilayah Kabupaten Sumbawa Barat yang tidak terpisahkan dari
Peraturan Daerah ini.
Bagian Kedua
Pusat-Pusat Kegiatan
Pasal 7
Pusat-pusat kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) huruf a
ditetapkan sebagai berikut:
a. PKWp ditetapkan di Perkotaan Taliwang
b. PKL ditetapkan di Poto Tano dan Jereweh;
c. PKLp ditetapkan di Seteluk dan Maluk;
d. PPK ditetapkan di Brang Ene, Brang Rea, dan Sekongkang; dan
e. PPL ditetapkan di Air Suning, Labuhan Lalar, Talonang , Mujahidin,
Seteluk Atas, Kokarlian, Senayan, Labuhan Kertasari, Desaberu,
Jelenga, Benete, dan Ai Kangkung.
Pasal 8
(1) PKWp sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 huruf a berfungsi sebagai :
a. pusat pelayanan Pemerintahan skala kabupaten;
b. pusat pelayanan pendidikan dan kesehatan;
c. pusat pelayanan umum dan sosial skala regional;
d. pusat perdagangan, bisnis, keuangan, dan jasa skala regional
dan/atau nasional; dan
e. simpul transportasi skala wilayah.
(2) PKL sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 huruf b berfungsi sebagai :`
a. pusat pelayanan pendidikan dan kesehatan skala lokal dan/atau
regional;
b. pusat perdagangan, bisnis, keuangan, dan jasa skala lokal dan/atau
regional; dan
c. simpul transportasi skala lokal.
(3) PKLp sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 huruf c berfungsi sebagai:`
a. pusat pelayanan pendidikan dan kesehatan skala lokal dan/atau
regional;
b. pusat perdagangan, bisnis, keuangan, dan jasa skala lokal dan/atau
regional; dan
c. simpul transportasi skala lokal.
(4) PPK sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 huruf d berfungsi sebagai:
a. pusat pelayanan umum dan sosial skala kawasan;
b. pusat perdagangan, bisnis, keuangan, dan jasa skala kawasan
dan/atau lokal; dan
c. simpul transportasi skala kawasan.

19

(5) PPL sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 huruf e berfungsi sebagai :


a. pusat pelayanan umum dan sosial skala lingkungan;
b. pusat perdagangan, bisnis, keuangan, dan jasa skala lingkungan
dan/atau kawasan; dan
c. simpul transportasi skala lingkungan.
Bagian Ketiga
Sistem Jaringan Prasarana Utama
Pasal 9
Rencana pengembangan sistem jaringan prasarana utama sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) huruf b, terdiri atas:
a. sistem jaringan transportasi darat;
b. sistem jaringan transportasi laut; dan
c. sistem jaringan transportasi udara.
Paragraf 1
Sistem Jaringan Transportasi Darat
Pasal 10
(1) Sistem jaringan transportasi darat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9
huruf a, terdiri atas:
a. Jaringan jalan dan penyeberangan;
b. Jaringan prasarana Lalu Lintas Angkutan Jalan (LLAJ); dan
c. Jaringan pelayanan Lalu Lintas Angkutan Jalan (LLAJ).
(2) Rencana Jaringan Jalan dan penyeberangan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) huruf a, terdiri atas:
a. jaringan lalu lintas angkutan jalan terdiri atas jaringan jalan, jaringan
prasarana jalan dan jaringan pelayanan;
b. jaringan pelayanan angkutan jalan sebagaimana dimaksud pada
huruf b diatur dengan Peraturan Bupati;
c. jaringan jalan arteri primer meliputi: jalan penghubung Poto Tano dan
batas Kabupaten Sumbawa;
d. jaringan jalan arteri sekunder, meliputi jalan penghubung Sp Negara
(batas Sumbawa Barat) - Seteluk dan Taliwang Simpang Tano
Simpang Seteluk;
e. jaringan jalan kolektor primer, meliputi jalan penghubung Taliwang
Jereweh Maluk Tongo- Tatar - Batas Kabupaten Sumbawa Barat;
f. jaringan jalan kolektor sekunder, meliputi jalan penghubung
Taliwang-Brang Ene dan Taliwang Brang Rea, serta Taliwang
Labuhan Balad;
g. jaringan jalan kolektor sekunder dan lokal primer, berupa jalan-jalan
yang menghubungkan antar pusat kegiatan/ibukota kecamatan dan
antar desa-desa dalam satu wilayah kecamatan;
h. Pengembangan jaringan jalan kabupaten untuk memacu percepatan
pembangunan di wilayah selatan Kabupaten Sumbawa Barat yaitu
jalan lintas selatan Mura-Jereweh;

20

i. Pengembangan jaringan jalan kabupaten untuk memacu percepatan


pembangunan di wilayah barat yaitu jalan lintas barat Kabupaten
Sumbawa Barat yaitu Poto Tano-Kiantar-Tuananga-Kertasari;
j. Pengembangan jaringan jalan kabupaten sebagai jalur produksi dan
distribusi hasil pertanian di lintas timur yaitu Desaberu Rempe
Seteluk dan lintas selatan yaitu Mura Desaberu - Tepas;
k. Pengembangan jaringan jalan lingkar perkotaan di ibukota kabupaten
dan ibukota kecamatan untuk memacu percepatan pembangunan di
wilayah perkotaan; dan
l. Pelabuhan penyeberangan Poto Tano di Kecamatan Poto Tano.
(3) Rencana prasarana Lalu Lintas Angkutan Jalan (LLAJ) sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) huruf b, terdiri atas:
a. Jaringan prasarana mencakup terminal Penumpang Tipe B berada di
Kota Taliwang;
b. Pembangunan terminal tipe C tersebar di Poto Tano, Seteluk, Brang
Ene, Brang Rea, Jereweh dan Sekongkang, serta pengembangan
terminal tipe C di Maluk;
(4) Pelayanan Lalu Lintas Angkutan Jalan (LLAJ) sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) huruf c diatur lebih lanjut dengan Peraturan Bupati.
Paragraf 2
Sistem Jaringan Transportasi Laut
Pasal 11
(1) Sistem jaringan transportasi laut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9
huruf b, terdiri atas:
a. tatanan kepelabuhanan; dan
b. alur pelayaran.
(2) Tatanan kepelabuhanan di wilayah kabupaten sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) huruf a, terdiri atas:
a. pelabuhan laut; dan
b. terminal.
(3) Pelabuhan laut sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a, meliputi
Labuhan Lalar, dan Pelabuhan Benete sebagai pelabuhan pengumpan.
(4) Terminal sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b diarahkan di
Desa Benete Kecamatan Maluk sebagai terminal khusus untuk
kepentingan bongkar-muat pertambangan.
(5) Alur pelayaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b merupakan
alur pelayaran regional yang meliputi Pelabuhan Poto Tano - Kayangan,
Telong Elong - Benete, Labuhan Haji - Labuhan Lalar dan Labuhan
Badas - Benete.
Paragraf 3
Sistem Jaringan Transportasi Udara
Pasal 12
(1) Sistem jaringan transportasi udara Kabupaten Sumbawa Barat
sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 9 huruf c meliputi Bandar

21

Udara Sekongkang dan pengembangan Bandar Udara khusus di Poto


Tano.
(2) Ruang udara untuk penerbangan diatur lebih lanjut dalam rencana
induk bandar udara.
Bagian Keempat
Sistem Jaringan Prasarana Lainnya
Pasal 13
(1) Rencana pengembangan sistem jaringan prasarana lainnya sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) huruf c, terdiri atas:
a. sistem jaringan energi dan kelistrikan;
b. sistem jaringan telekomunikasi;
c. sistem jaringan sumber daya air; dan
d. sistem jaringan prasarana pengelolaan lingkungan;
(2) Rencana pengembangan sistem jaringan sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) tercantum dalam Lampiran I yang tidak terpisahkan dari
Peraturan Daerah ini.
Paragraf 1
Sistem Jaringan Energi Dan Kelistrikan
Pasal 14
(1)

Rencana pengembangan sistem jaringan energi dan kelistrikan


sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (1) huruf a, terdiri atas
pembangkit tenaga listrik dan jaringan tenaga listrik, serta distribusi
minyak dan gas.

(2)

Rencana pengembangan pembangkit tenaga listrik sebagaimana


dimaksud pada ayat 1 dilakukan dengan cara :
a. Peningkatan kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD)
yang ada meliputi PLTD Taliwang di Kecamatan Taliwang, dan PLTD
Sekongkang di Kecamatan Sekongkang;
b. Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) sebesar 2 x 7
MW di Kertasari Kecamatan Taliwang; dan
c. Pemanfaatan sumber energi terbarukan lainnya mencakup :
Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Bintang Bano, Pembangkit
Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) Rarak Rungis, Pembangkit
Listrik Tenaga Surya (PLTS) Mataiyang, Rarak Rungis, Mantar, Batu
Melik, Tongo, Tatar, Talonang, Pembangkit Listrik Tenaga Bayu
(PLTB), Pembangkit Listrik Tenaga Gelombang Laut (PLTGL)
Pembangkit Listrik Tenaga Bio Energi(PLTBE) dan Pembangkit
Listrik Tenaga Arus Bawah Laut.

(3)

Pengembangan pembangkit tenaga listrik sebagaimana dimaksud pada


ayat (2) direncanakan sampai dengan tahun 2031 memiliki kapasitas
daya mampu sebesar 70,5 MW.

22

(4)

Rencana pengembangan jaringan tenaga listrik sebagaimana dimaksud


pada ayat (1), terdiri atas:
a. gardu induk di Taliwang Kecamatan Taliwang;
b. gardu pembagi di masing-masing ibukota kecamatan;
c. jaringan transmisi meliputi SUTT Labuhan - Tano dan Tano
Kertasari; dan
d. jaringan distribusi tersebar di seluruh wilayah Kabupaten Sumbawa
Barat.

(5)

Rencana Pengembangan distribusi minyak dan gas bumi sebagaimana


dimaksud pada ayat 1 terdiri atas:
a. depo bahan bakar minyak di Kecamatan Taliwang,
dan di
Kecamatan Sekongkang;
b. depo gas di Seteluk, Sekongkang, Jereweh; dan
c. pengembangan kilang minyak di Taliwang dan Seteluk.
Paragraf 2
Sistem Jaringan Telekomunikasi
Pasal 15

(1) Rencana pengembangan sistem jaringan telekomunikasi sebagaimana


dimaksud dalam Pasal 13 ayat (1) huruf b, terdiri atas:
a. pengembangan jaringan mikro digital perkotaan di Sekongkang ke
masing-masing : Ai Kangkung (13 km) dan Tatar (11 km), Seteluk
UPT Tambak Sari sepanjang 7,5 km, Taliwang Sampir sepanjang 4
km;
b. penerapan teknologi telematika berbasis teknologi modern;
c. pembangunan teknologi telematika pada wilayah-wilayah pusat
pertumbuhan;
d. pengembangan jaringan telekomunikasi dan informasi yang
menghubungkan setiap wilayah pertumbuhan dengan ibukota
kabupaten;
e. pemanfaatan secara bersama pada satu tower BTS untuk beberapa
operator telepon selular dengan pengelolaan secara bersama; dan
f. pengembangan jaringan televisi dan radio ke seluruh pelosok
pedesaan wilayah Kabupaten Sumbawa Barat.
(2) Rencana Pengembangan sistem Jaringan Telekomunikasi dilakukan
dalam rangka memperlancar arus komunikasi dan mendukung
lancarnya kegiatan perekonomian di wilayah Kabupaten Sumbawa
Barat.
Paragraf 3
Sistem Jaringan Sumber Daya Air
Pasal 16
(1) Rencana pengembangan sistem jaringan sumber daya air sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 13 ayat (1) huruf c dilakukan dalam rangka
memenuhi kebutuhan air bersih dan irigasi dengan cara rencana
pengembangan wilayah sungai dan sistem jaringan irigasi dalam wilayah
terdiri atas:

23

a.
b.
c.
d.

Wilayah Sungai;
Jaringan Irigasi;
Jaringan air minum; dan
Sistem pengendali banjir, erosi dan longsor dan sistem pengamanan
abrasi pantai.

(2) Rencana pengembangan sistem jaringan sumber daya air sebagaimana


di maksud pada ayat (1) dilakukan dalam rangka memenuhi kebutuhan
air bersih, jaringan irigasi serta pengendalian bahaya banjir, erosi,
longsor dan abrasi pantai.
Pasal 17
(1) Rencana pengembangan wilayah sungai (WS) sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 16 ayat (1) huruf a meliputi WS lintas kabupaten meliputi
DAS Jereweh dan DAS Rea.
(2) Rencana pengembangan sistem jaringan irigasi sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 16 ayat (1) huruf b meliputi:
a. rencana pembangunan bendungan/bendung/embung dan sistem
jaringan irigasi yang merupakan kewenangan pemerintah meliputi
Bendungan Bintang Bano Kecamatan Brang Rea, dan Danau Rawa
Taliwang;
b. rencana operasi dan pemeliharaan bendungan/bendung/ embung
dan sistem jaringan irigasi Kalimantong II;
c. DI Nasional terdapat di DI Bintang Bano;
d. DI Provinsi meliputi SDI Elang Desa seluas sekitar 1300 Ha, DI
Kalimatong I seluas 1.550 Ha, DI Kalimatong II seluas sekitar 2.500
Ha, DI Plampoo seluas 1.060 Ha;
e. DI Teknis dan Desa tersebar di seluruh wilayah Kabupaten Sumbawa
Barat;
f. Pengembangan Embung meliputi Embung Petara di Desa Lampok
Kecamatan Brang Ene, Embung Murus di Desa Belo Kecamatan
Jereweh, Embung Ai Tabaka di Desa Kokar Lian Kecamatan Poto Tano
dan Embung Tebo di Desa Tebo Kecamatan Poto Tano, pengembangan
Embung transmigrasi Talonang Kecamatan Sekongkang, Embung Tiu
Nisung Kecamatan Seteluk, Embung Batu Melik Kecamatan Brang
Rea.
(3) Rencana pengembangan sistem jaringan irigasi sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) bertujuan untuk:
a. membatasi perubahan alih fungsi sawah irigasi teknis dan setengah
teknis menjadi kegiatan budidaya lainnya;
b. mengembangkan prasarana irigasi; dan
c. meningkatkan kualitas jaringan irigasi teknis.
(4) Rencana pengembangan sistem jaringan air minum sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 16 ayat (1) huruf c, terdiri atas:
a. rencana pengembangan jaringan perpipaan air bersih meliputi
Kecamatan Sekongkang, Maluk dan Jereweh;
b. saluran perpipaan air baku untuk memenuhi kebutuhan air bersih di
Kecamatan Taliwang dan Kecamatan Seteluk;
c. instalasi Air Bersih di Kecamatan Taliwang, Brang Rea, Seteluk dan
Brang Ene;
d. sumber Air Baku berasal dari danau, air permukaan dan air tanah di
seluruh kecamatan; dan

24

e. reservoar di seluruh kecamatan;


f. rencana pengembangan sumber air baku di danau, sungai dan mata
air.
(5) Sistem pengendali banjir, erosi dan longsor dan sistem pengamanan
abrasi pantai sebagaimana dimaksud pada Pasal 16 ayat (1) huruf d
dilakukan dengan sistem vegetatif dan sipil teknis.
Pasal 18
(1) Pola dan strategi pengelolaan sumber daya air setiap wilayah sungai
sistem jaringan irigasi diatur lebih lanjut dengan Peraturan Bupati.
(2) Rincian rencana pengelolaan sistem jaringan prasarana sumber daya air
kabupaten sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam
Lampiran I yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan
Daerah ini.
Paragraf 4
Sistem Jaringan Prasarana Pengelolaan Lingkungan
Pasal 19
(1) Sistem prasarana pengelolaan lingkungan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 13 huruf d, terdiri atas:
a. sistem jaringan persampahan;
b. sistem jaringan drainase;
c. sistem jaringan air limbah;
d. sistem jaringan sanitasi; dan
e. jalur evakuasi bencana.
(2) Rencana pengembangan sistem jaringan persampahan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) huruf a, terdiri atas:
a. mengembangkan Tempat Pembuangan Sementara (TPS) sebanyak
kurang lebih 400 unit tersebar pada setiap kelurahan/desa;
b. mengembangkan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) pada tiga wilayah
pelayanan meliputi wilayah tengah berlokasi di Desa Batu Putih
Kecamatan Taliwang, wilayah utara di Kecamatan Poto Tano dan di
wilayah selatan di Kecamatan Sekongkang;
c. pengelolaan persampahan diatur lebih lanjut dengan Peraturan
Bupati;
d. penerapan teknologi tepat guna dalam pengolahan sampah dengan
sasaran meminimalkan sampah masuk ke Tempat Pemrosesan Akhir
(TPA);
e. pengembangan sistem terpusat pada daerah perkotaan tingkat
kepadatan tinggi dan pengembangan sistem individual atau
pengelolaan setempat pada daerah terpencil tingkat kepadatan
rendah; dan
f. penerapan sistem 3R (Reuse, Reduce, dan Recycle) dalam pengelolaan
sampah yaitu penerapan pengurangan sampah, pengurangan
kebiasaan buruk masyarakat membuang sampah sembarangan dan
mendorong pemakaian bahan yang bisa didaur ulang.

25

(3) Rencana pengembangan sistem jaringan drainase sebagaimana


dimaksud pada ayat (1) huruf b dilakukan dengan cara:
a. drainase primer dilakukan melalui normalisasi dan penguatan tebing
sungai meliputi DAS Rea dan DAS Jereweh;
b. drainase sekunder dilakukan melalui pembangunan sistem drainase
pada daerah permukiman perkotaan dan perdesaan yang rawan
bencana banjir dan genangan air limbah menuju drainase primer;
dan
c. drainase tersier dilakukan melalui pembangunan sistem drainase
pada lingkungan permukiman perkotaan dan perdesaan menuju
drainase sekunder.
(4) Rencana pengembangan sistem jaringan sanitasi sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) huruf c dilakukan dengan cara:
a. pengembangan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) kabupaten
pada kawasan perkotaan padat penduduk;
b. Rencana pengembangan Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT)
kabupaten pada kawasan perkotaan padat penduduk;
c. Rencana pengembangan limbah Bahan Berbahaya Beracun (B3); dan
d. penerapan teknologi tepat guna dalam pengolahan air limbah dengan
peran aktif masyarakat dan swasta, sehingga air limbah yang
dihasilkan dapat dikelola secara mandiri tanpa mencemari
lingkungan.
(5) Jalur evakuasi bencana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d,
terdiri atas:
a. memanfaatkan daerah/kawasan yang berada disekitar lokasi rawan
bencana dengan topografi yang lebih tinggi dari lokasi rawan
bencana;
b. memanfaatkan bangunan publik sebagai posko posko evakuasi
bencana, meliputi lapangan umum, Kantor Kecamatan, Kantor
Kelurahan/Desa, maupun ruang terbuka hijau dan ruang terbuka
non hijau;
c. evakuasi diarahkan ke utara (menjauhi kawasan pesisir untuk
kawasan rawan abrasi pantai dan gelombang pasang; dan
d. pengembangan sistem peringatan dini (early warning system)
bencana.
BAB V
RENCANA POLA RUANG WILAYAH
Bagian Kesatu
Umum
Pasal 20
(1) Rencana pola ruang wilayah Kabupaten Sumbawa Barat dilaksanakan
berdasarkan:
a. rencana pengembangan kawasan lindung dengan luas kurang lebih
71.292,71 Hektar; dan
b. rencana pengembangan kawasan budidaya dengan luas kurang lebih
113.609,29 Hektar.

26

(2) Rencana pola ruang wilayah sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
digambarkan dalam bentuk Peta Rencana Pola Ruang Wilayah
Kabupaten Sumbawa Barat Tahun 2011 2031 dengan tingkat ketelitian
1:50.000 sebagaimana tercantum dalam Lampiran IV.2 yang merupakan
bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.
Bagian Kedua
Kawasan Lindung
Pasal 21
(1) Kawasan lindung sebagaimana dimaksud pada Pasal 20 ayat (1) huruf a,
terdiri atas:
a. kawasan hutan lindung;
b. kawasan yang memberikan perlindungan bagi kawasan bawahannya;
c. kawasan perlindungan setempat;
d. kawasan suaka alam, pelestarian alam dan cagar budaya; dan
e. kawasan rawan bencana alam.
(2) Kawasan hutan lindung sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a di
wilayah kabupaten adalah seluas 66.230,71 Hektar, penyebarannya
terletak pada:
a. Kelompok Hutan Puncak Ngengas (RTK. 60) seluas 8.062,52 Hektar;
b. Kelompok Hutan Selalu Legini (RTK 59) seluas 49.941,81 Hektar;
c. Kelompok Hutan Olat Lemusung (RTK 91) seluas 7.778,90 Hektar;
dan
d. Kelompok Hutan Pantai Alas dsk (RTK 74) seluas 447,50 Hektar.
(3) Pengelolaan kawasan hutan lindung dilakukan oleh Kesatuan
Pengelolaan Hutan Lindung (KPHL) yang terdiri atas:
a. KPHL Brang Rea seluas 46.124,61 Hektar; dan
b. KPHL Mataiyang mencakup Selalu Legini (RTK 59) seluas 32.107,00
Hektar.
(4) Rencana pengelolaan kawasan lindung di dalam kawasan hutan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 ayat (1) huruf a meliputi semua
upaya perlindungan, konservasi, dan pelestarian fungsi sumber daya
alam dan lingkungannya guna mendukung kehidupan secara serasi yang
berkelanjutan dan tidak dapat dikonversi.
(5) Kawasan hutan yang berfungsi konservasi di Kabupaten Sumbawa Barat
dikelola oleh Pemerintah Pusat meliputi Kesatuan Pengelolaan Hutan
Konservasi (KPHK) seluas 5.062,00 Hektar, meliputi: KSH Jereweh
(Selalu Legini RTK. 59) seluas 3.718,80 Hektar, Cagar Alam Pedauh (RTK.
71) seluas 524,00 Hektar, dan Danau Rawa Taliwang (RTK 76) seluas
819,20 Hektar.
(6) Kawasan yang memberikan perlindungan bagi kawasan bawahannya
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf b adalah Kawasan resapan
air, meliputi Kecamatan Seteluk, Kecamatan Jereweh, Kecamatan Brang
Rea, dan Kecamatan Sekongkang.

27

(7) Kawasan perlindungan setempat sebagaimana dimaksud pada ayat (1)


huruf c, terdiri atas:
a. Kawasan sempadan sungai dilakukan pengelolaan sungai, meliputi:
1. kegiatan pinggir sungai mampu melindungi dan memperkuat serta
pengaturan aliran air, dengan tanaman keras dan rib pengendali
saluran air;
2. daerah sempadan untuk sungai kecil masing-masing selebar 50
meter dijadikan kawasan lindung pada kawasan non pemukiman
dan selebar 10 meter untuk sungai yang melewati pemukiman; dan
3. sungai yang terdapat di tengah pemukiman dapat dilakukan
dengan membuat jalan inspeksi dengan lebar jalan 10 meter.
b. Kawasan sekitar danau atau waduk diarahkan ke seluruh kawasan
sekitar danau dan waduk yang tersebar di Danau Rawa Taliwang,
Bintang Bano, Beringin dan Kalimatong II, lebarnya berimbang
dengan bentuk kondisi fisik danau/waduk antara 50-100 meter dari
titik pasang tertinggi ke arah darat;
c. Kawasan sekitar mata air, garis sempadan ditetapkan sekurangkurangnya 200 m di sekitar mata air dan tersebar di beberapa
kecamatan, dengan ketentuan penetapan perlindungan pada sekitar
mata air ini adalah minimum berjari-jari 200 meter dari sumber mata
air tersebut di luar kawasan permukiman dan 100 meter di dalam
kawasan permukiman;
d. Kawasan sempadan pantai ditetapkan pada kawasan sepanjang
tepian pantai sejauh kisaran 30-250 meter dari pasang tertinggi
secara proporsional sesuai dengan bentuk, letak dan kondisi fisik
pantai; dan
e. Kawasan Ruang Terbuka Hijau (RTH) untuk kawasan perkotaan
dikembangkan pada ibukota kabupaten dan kota kecamatan dengan
ketentuan minimum luasnya 30% (tiga puluh persen) dari luas
perkotaan.
(8) Kawasan suaka alam, pelestarian alam, dan cagar budaya sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) huruf d meliputi:
a. Kawasan Cagar Alam (CA) di Kabupaten Sumbawa Barat yaitu Cagar
Alam (CA) Pedauh seluas 524,00 Hektar;
b. Kawasan Konservasi Penyu Tatar Sepang di Kecamatan Sekongkang;
c. Kawasan Suaka Alam di Jereweh seluas 3.718,80 Hektar;
d. Taman Wisata Alam (TWA) di Kabupaten Sumbawa Barat adalah
Taman Wisata Alam (TWA) Danau Rawa Taliwang seluas 819,20
Hektar;
e. Kawasan cagar budaya meliputi:
1. Kawasan Gua Member di Kecamatan Brang Rea;
2. Makam Seran di Desa Seran Kecamatan Seteluk;
3. Makam Datu Pangeran di Kecamatan Taliwang;
4. Cagar Budaya Desa Mantar di Kecamatan Poto Tano; dan
5. Liang Serunga di Kecamatan Jereweh.
(9) Rencana pengelolaan kawasan suaka alam, kawasan pelestarian alam,
dan cagar alam sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (1) huruf d
dilaksanakan secara kolaborasi, meliputi:
a. Penataan kawasan dalam rangka pemeliharaan batas;
b. Penataan zonasi;

28

c. Penyusunan rencana pengelolaan kawasan suaka alam dan atau


kawasan pelestarian alam;
d. Pembinaan
daya
dukung
kawasan,
antara
lain
inventrasisasi/monitoring flora fauna dan ekosistem, pembinaan dan
monitoring populasi dan habitatnya;
e. Rehabilitasi kawasan penyangga pada kawasan cagar alam;
f. Pemanfaatan kawasan, meliputi:
1. Pariwisata alam dan jasa lingkungan (studi potensi dan obyek
wisata alam dan jasa lingkungan serta perencanaan aktivitas
pariwisata alam);
2. Pendidikan bina cinta alam dan interprestasi (menyusun program
interprestasi).
g. Penelitian dan pengembangan, yang meliputi:
1. Pengembangan program dan penelitian flora, fauna dan
ekosistemnya;
2. Identifikasi/inventariasi sosial budaya masyarakat.
h. perlindungan dan pengamanan potensi kawasan, meliputi:
1. penguatan pelaksanaan perlindungan dan pengamanan;
2. Penguatan pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan.
i. Pengembangan SDM dalam rangka mendukung pengelolaan KSA dan
KPA, meliputi pendidikan dan pelatihan terhadap petugas dan
masyarakat setempat..
j. Pembagunan sarana dan prasarana dalam rangka menunjang
pelaksanaan kolaborasi, meliputi sarana pengelolaan dan sarana
pemanfaatan; dan
k. Pembinaan partisipasi masyarakat, meliputi program peningkatan
kesejahteraan masyarakat dan kesadaran masyarakat.
(10) Penggunaan kawasan hutan untuk pembangunan
kehutanan harus mendapat Izin Menteri Kehutanan.

diluar

sektor

(11) Prosedur, persyaratan dan tata cara izin pinjam pakai penggunaan
kawasan hutan mengacu pada peraturan perundang-undangan yang
berlaku.
(12) Kawasan rawan bencana alam sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
huruf e, terdiri atas:
a. kawasan rawan bencana angin topan meliputi kawasan Kecamatan
Brang Rea dan sekitarnya, Labuhan Lalar di Kecamatan Taliwang,
dan Kuang Busir, Desa Poto Tano di Kecamatan Poto Tano;
b. kawasan rawan bencana tanah longsor meliputi tanah longsor tipe A
di kabupaten Sumbawa Barat meliputi kawasan sekitar Taliwang
(Sebubuk, Pakirum, Poto Batu, Lamunga), Poto Tano (Kokar Lian),
Brang Rea (Bangkat Monteh), Seteluk, Jereweh, dan Maluk;
c. kawasan rawan bencana kekeringan meliputi kawasan Sejorong,
Maluk, Bertong, Tepas, Seteluk dan Poto Tano;

29

d. kawasan rawan bencana banjir meliputi Daerah sepanjang aliran


sungai Brang Rea di Taliwang dan Brang Benete di Jereweh serta
kawasan Seteluk, Brang Rea dan Brang Ene;
e. kawasan rawan bencana gelombang pasang meliputi di kawasan
pantai bagian barat dan selatan meliputi Poto Tano, Kertasari,
Labuhan Lalar, Benete, Maluk, Tongo, Sejorong, dan Sekongkang;
f. kawasan rawan tsunami meliputi kawasan pesisir bagian barat dan
selatan meliputi Benete, Maluk, Tongo, Sejorong, dan Sekongkang;
g. kawasan rawan gempa bumi meliputi seluruh wilayah Kabupaten
Sumbawa Barat terutama bagian selatan Sumbawa Barat meliputi
Sekongkang dan Maluk.
(13) Pengelolaan kawasan rawan bencana sebagaimana dimaksud pada ayat
(12) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Bupati.
Bagian Ketiga
Kawasan Budidaya
Pasal 22
(1) Kawasan budidaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 ayat (1)
huruf b, adalah terdiri atas:
a. kawasan peruntukan hutan produksi;
b. kawasan peruntukan hutan rakyat;
c. kawasan peruntukan pertanian;
d. kawasan peruntukan perikanan dan kelautan;
e. kawasan peruntukan pertambangan;
f. kawasan peruntukan permukiman;
g. kawasan peruntukan industri;
h. kawasan peruntukan pariwisata;
i. kawasan peruntukan lain.
(2) Rincian Rencana pola ruang wilayah sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) tercantum dalam Lampiran II yang merupakan bagian tidak
terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.
Pasal 23
(1) Kawasan peruntukan hutan produksi sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 22 ayat (1) huruf a, terdiri atas:
a. kawasan hutan produksi terbatas; dan
b. kawasan hutan produksi tetap.
(2) Kawasan peruntukan hutan produksi terbatas sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) huruf a meliputi tersebar di hampir semua kecamatan
dengan luas sekitar 35.391,94 Hektar; Pulau Panjang dsk (RTK .73)
seluas 701,26 Hektar yang meliputi Pulau Belang 534,06 Hektar, Pulau
Paserang 40,62 Hektar, Pulau Kenawa 11,88 Hektar, dan Pulau Namo
114,69 Hektar.
(3) Kawasan peruntukan hutan produksi tetap sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) huruf b tersebar di hampir semua kecamatan dengan luas
sekitar 18.651,11 Hektar;

30

(4) Pengelolaan kawasan hutan produksi sebagaimana dimaksud pada ayat


(1) dilakukan oleh KPHP Sejorong mencakup Selalu Legini (RTK 59)
seluas 41.698,05 Hektar;
(5) Rencana Pemanfaatan Hutan Produksi Terbatas dan Hutan Produksi
Tetap sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan huruf b, terdiri
atas:
a. pemanfaatan hasil hutan kayu;
b. pemanfaatan hasil hutan bukan kayu;
c. pemungutan hasil hutan kayu;
d. pemungutan hasil hutan bukan kayu;
e. pemanfaatan jasa lingkungan;
f. pemanfaatan kawasan;
g. pemanfaatan hutan produksi ditujukan untuk kesinambungan
produksi dengan memperhatikan kualitas lingkungan melalui
pencegahan kerusakan tanah dan penurunan kesuburan tanah,
mempertahankan bentang alam serta menjaga ketersediaan air;
h. pengembangan kegiatan budidaya hutan yang dapat mendorong
terwujudnya
kegiatan industri pengolahan hasil hutan, dengan
pengembangan jenis tanaman hutan industri melalui pembangunan
Hutan Tanaman Industri (HTI), Hutan Tanaman Rakyat (HTR), Hutan
Kemasyarakatan (HKm), Hutan Tanaman Hasil Rehabilitasi (HTHR),
Hutan Desa Restorasi Ekosistem (RE) dan program lainnya;
i. Penggunaan kawasan hutan untuk budidaya tanaman obat, budidaya
tanaman hias, jamur, lebah, penangkaran satwa, budidaya sarang
burung walet serta silvo pastura;
j. penggunaan kawasan hutan produksi untuk kegiatan di luar
budidaya hutan
dan
hasil hutan yang penggunaannya untuk
kepentingan umum dan bersifat strategis,
dilakukan dengan
memperhatikan
asas
konservasi
tanah
dan
air
serta
mempertimbangkan luas dan jangka waktu; dan
k. percepatan rehabilitasi kawasan hutan produksi yang mempunyai
tingkat kerapatan tegakan rendah;
Pasal 24
Kawasan peruntukan hutan rakyat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22
ayat (1) huruf b dialokasikan pada lahan-lahan non produktif dan
berbatasan dengan kawasan hutan yang direncanakan tersebar di seluruh
Kecamatan di Kabupaten Sumbawa Barat.
Pasal 25
(1) Kawasan peruntukan pertanian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22
ayat (1) huruf c, terdiri atas:
a. kawasan peruntukan tanaman pangan;
b. kawasan peruntukan hortikultura;
c. kawasan peruntukan perkebunan; dan
d. kawasan peruntukan peternakan.

31

(2) Kawasan peruntukan tanaman pangan sebagaimana dimaksud pada


ayat (1) huruf a tersebar di seluruh Kabupaten Sumbawa Barat dengan
luas kurang lebih 7.750 Hektar, yang terdiri atas:
a. yang beririgasi teknis dengan tanaman pangan berkelanjutan; dan
b. lahan kering dengan tanaman pangan berkelanjutan terdapat di
Kecamatan Poto Tano, sebagian Kecamatan Seteluk, Taliwang, dan
Sekongkang.
(3) Kawasan peruntukan hortikultura sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
huruf b tersebar di seluruh Kabupaten Sumbawa Barat diarahkan di
lahan pertanian yang berada di kawasan perkotaan.
(4) Kawasan peruntukan perkebunan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
huruf c, terdiri atas:
a. pengembangan perkebunan kelapa diarahkan di Kecamatan Taliwang,
Seteluk, Jereweh, Brang Ene, Poto Tano, dan Brang Rea serta
mempertahankan perkebunan kelapa yang sudah ada di Kecamatan
Maluk dan Sekongkang seluas kurang lebih 1.055 Hektar;
b. pengembangan perkebunan kopi diarahkan di Kecamatan Brang Rea
dan Brang Ene seluas kurang lebih 235 Hektar;
c. pengembangan perkebunan jambu mete diarahkan di semua
kecamatan yang ada di Kabupaten Sumbawa Barat seluas kurang
lebih 1.335 Hektar;
d. pengembangan komoditi Sorgum dan Sisal yang berada di Kecamatan
Maluk dan Sekongkang; dan
e. pengembangan Kacang tanah di Samarekat, Kecamatan Poto Tano.
(5) Kawasan peruntukan peternakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
huruf d, terdiri atas:
a. Sebaran lahan peternakan di Kabupaten Sumbawa Barat diarahkan di
Kecamatan Seteluk seluas kurang lebih1.257 Hektar, di Kecamatan
Taliwang seluas kurang lebih 1.510 Hektar, di Kecamatan Brang Rea
seluas kurang lebih162 Hektar, di Kecamatan Jereweh seluas kurang
lebih 289 Hektar, dan di Kecamatan Sekongkang seluas kurang lebih
35 Hektar.
b. kawasan peruntukan peternakan diprioritaskan dikembangkan di
setiap kecamatan dalam rangka mendukung program Bumi Sejuta
Sapi (BSS);
c. Pembangunan Rumah Potong Hewan (RPH) berstandar internasional
di Kecamatan Poto Tano, peningkatan fungsi dan fasilitas pasar
hewan di Kecamatan Poto Tano, dan pembangunan pasar hewan di
Kecamatan Jereweh;
d. pengembangan dan pengelolaan peternakan dilakukan dengan cara
peningkatan produksi ternak, penggemukan ternak, pembibitan
ternak, penyediaan pakan ternak, dan pengembangan industri
pengolahan hasil ternak.
(6) Ketentuan mengenai pengaturan zona peruntukan kawasan pertanian
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sampai dengan ayat (6), diatur
lebih lanjut dengan Peraturan Daerah.

32

Pasal 26
(1) Kawasan peruntukan perikanan dan kelautan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 22 ayat (1) huruf d, terdiri atas:
a. Pengembangan Kawasan Konservasi Perairan di sekitar gugusan Gili
Balu;
b. Pengembangan Kawasan Perikanan Tangkap:
1. Pengembangan perikanan tangkap skala kecil meliputi perairan
pulau, perairan teluk, dan perairan pantai;
2. Pengembangan perikanan tangkap skala besar meliputi perairan
lepas pantai yang meliputi wilayah teritorial Kabupaten Sumbawa
Barat.
c. Pengembangan Kawasan Perikanan Budidaya:
1. Pengembangan kawasan budidaya perikanan air tawar diarahkan
di Kecamatan Seteluk, Kecamatan Taliwang, Kecamatan Brang Rea,
Kecamatan Brang Ene, Kecamatan Maluk, Kecamatan Jereweh, dan
Kecamatan Sekongkang, yang ketentuannya di atur lebih lanjut
melalui peraturan Bupati;
2. Pengembangan kawasan perikanan budidaya air payau/tambak
diarahkan di Kawasan Labuhan Lalar di Kecamatan Taliwang,
Kawasan Kertasari di Kecamatan Taliwang, Kawasan Batu Putih di
Kecamatan Taliwang, Kawasan Poto Tano di Kecamatan Poto Tano,
Kawasan Tambak Sari, Kiantar Tuananga di Kecamatan Poto Tano,
Kawasan Kuang Busir di Kecamatan Poto Tano, Kawasan Pasir
Putih di Kecamatan Maluk, Kawasan Benete di Kecamatan Maluk,
Kawasan Goa Dasan Anyar di Kecamatan Jereweh dan Kawasan
Sekongkang Barat di Kecamatan Sekongkang;
d. Pengembangan
kawasan
budidaya
laut
diarahkan
melalui
pengembangan budidaya perikanan (laut), budidaya mutiara,
budidaya rumput laut dan budidaya lainnya.
e. Pengembangan budidaya laut sebagaimana dimaksud pada huruf d,
meliputi:
1. budidaya mutiara diarahkan di Kecamatan Taliwang dan
Kecamatan Poto Tano;
2. budidaya rumput laut diarahkan di Labuhan Kertasari, Jelenga,
dan Poto Tano;
3. dan budidaya perikanan lainnya yang diarahkan di semua desadesa pesisir di Kabupaten Sumbawa Barat.
(2) Ketentuan mengenai pengaturan zona peruntukan di wilayah pesisir dan
laut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, huruf c, dan huruf d
diatur lebih lanjut dengan Peraturan Daerah tentang Rencana Zonasi
Wilayah Pesisir Laut, dan Pulau-Pulau Kecil Kabupaten dengan tetap
mengacu pada peraturan perundang-undangan terkait yang lebih tinggi.
Pasal 27
(1) Kawasan peruntukan pertambangan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 22 ayat (1) huruf e, terdiri atas:
a. pertambangan mineral logam terletak di kawasan Batu Hijau
Kecamatan Sekongkang;
b. pertambangan mineral bukan logam dan batuan diarahkan di seluruh
wilayah kecamatan;

33

c. Potensi pertambangan mineral logam, bukan logam dan batuan


tersebar di semua kecamatan sesuai potensi masing-masing
kecamatan; dan
d. rincian potensi mineral logam, bukan logam dan batuan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) huruf b tercantum dalam Lampiran II.2 yang
tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.
(2) Pertambangan mineral logam dan mineral bukan logam sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) huruf a dan huruf b dilaksanakan setelah
ditetapkannya Wilayah Pertambangan (WP) berdasarkan usulan
penetapan WP.
(3) Usulan penetapan WP sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
disampaikan oleh Bupati kepada Menteri melalui Gubernur berdasarkan
pertimbangan Badan Koordinasi Penataan Ruang Daerah (BKPRD)
Kabupaten.
(4) Usulan penetapan WP sebagaimana dimaksud pada ayat (3) disusun
melalui kajian dengan mematuhi ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku.
(5) Izin pertambangan mineral logam, bukan logam dan batuan yang telah
diterbitkan dan masih berlaku, tetap diakui sampai masa berlakunya
habis dan perpanjangannya menyesuaikan dengan ketentuan Peraturan
Daerah ini.
(6) Pengelolaan WP sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diatur lebih lanjut
dengan Peraturan Bupati.
Pasal 28
(1) Kawasan peruntukan permukiman sebagaimana dimaksud dalam Pasal
22 ayat (1) huruf f dikembangkan di daerah dengan kemiringan lahan
0%-25% (nol persen sampai dengan dua puluh lima persen), bukan
lahan irigasi teknis, bukan kawasan lindung, bukan kawasan rawan
bencana, aksesibilitas baik dan tersedia air bersih yang cukup.
(2) Kawasan permukiman sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari
permukiman perkotaan dan permukiman pedesaan.
(3) Permukiman perkotaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diarahkan
wilayah perkotaan Taliwang, Perkotaan Seteluk, Perkotaan Brang Rea,
Perkotaan Brang Ene, Perkotaan Poto Tano, Perkotaan Maluk, Perkotaan
Jereweh, dan Perkotaan Sekongkang.
(4) Permukiman perdesaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diarahkan
pada kawasan perdesaan pertanian dan perdesaan pesisir.
(5) Rencana pengelolaan kawasan permukiman sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Bupati.

34

Pasal 29
(1)

Kawasan peruntukan industri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22


ayat (1) huruf g, meliputi sentra industri sedang dan industri rumah
tangga.

(2)

Kawasan sentra industri sedang dan industri rumah tangga


sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas:
a. sentra industri pengolahan hasil perikanan di Labuhan Lalar;
b. sentra industri pengolahan di Taliwang dan Maluk; dan
c. sentra industri maritim di Poto Tano.

(3)

Rencana pengelolaan kawasan peruntukan industri sebagaimana


dimaksud pada ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Bupati.
Pasal 30

(1)

Kawasan peruntukan pariwisata sebagaimana dimaksud dalam Pasal


22 ayat (1) huruf h adalah meliputi kawasan wisata alam dan kawasan
wisata budaya.

(2)

Pengembangan kawasan wisata alam sebagaimana dimaksud pada ayat


(1) ditetapkan di Kawasan wisata Danau Rawa Taliwang, Kawasan
wisata air terjun Pemurun, Kawasan wisata air terjun Batu Nisung,
Kawasan wisata Gua Member, Kawasan wisata Air terjun Sinar
Panujan, Kawasan wisata Air terjun Rarak Ronges, Kawasan wisata air
terjun Sapura Tangkel, Kawasan wisata pantai pasir putih Poto Tano,
Kawasan wisata pantai Labuhan Balad, Kawasan wisata pantai Poto
Batu, Kawasan wisata pantai Labuhan Lalar, Kawasan wisata pantai
pasir putih Jereweh, Kawasan wisata pantai Jelenga, Kawasan wisata
pantai Benete, Kawasan wisata pantai Maluk, Kawasan wisata bahari
Gili Balu, Kawasan wisata pantai Pesin dan pantai Lawar, Tiu Kelamu
Seran, Ai Boro Senayan;

(3)

Pengembangan wisata budaya sebagaimana dimakud pada ayat (1)


mencakup, Kawasan wisata Cagar Budaya Desa Mantar dan Kawasan
wisata Makam Seran di Desa Seran.
Pasal 31

(1)

Rencana kawasan peruntukan lainnya sebagaimana dimaksud dalam


Pasal 22 ayat (1) huruf i meliputi:
a. Kawasan peruntukan perdagangan dan jasa
b. Kawasan peruntukan pusat pemerintahan
c. Kawasan pertahanan keamanan.

(2)

Kawasan peruntukan perdagangan dan jasa sebagaimana dimaksud


pada ayat (1) huruf i, dikembangkan di Perkotaan Taliwang, Perkotaan

35

Seteluk, Perkotaan Brang Rea, Perkotaan Brang Ene, Perkotaan Poto


Tano, Perkotaan Maluk, Perkotaan Jereweh dan Perkotaan Sekongkang.
(3)

Kawasan peruntukan pusat pemerintahan sebagaimana dimaksud pada


ayat (1) huruf b, terletak di Taliwang untuk pemerintahan kabupaten
dan ibukota kecamatan untuk pusat pemerintahan kecamatan.

(4)

Kawasan peruntukan pertahanan keamanan sebagaimana dimaksud


pada ayat (1) huruf c, terdiri atas:
a. Komando Distrik Militer (Kodim) yang terdapat di Taliwang;
b. Komando Rayon Militer (Koramil) yang terdapat di seluruh
kecamatan; dan
c. kawasan lain yang ditetapkan sesuai peraturan perundangan yang
berlaku.
BAB VI
PENETAPAN KAWASAN STRATEGIS
Pasal 32

(1)

Penetapan kawasan strategis dilakukan sesuai


kawasan, prioritas kebutuhan dan kegunaannya.

dengan

potensi

(2) Penetapan kawasan strategis sebagaimana dimaksud pada ayat (1),


terdiri atas:
a. Kawasan Strategis Provinsi (KSP) yang berada di wilayah Kabupaten
Sumbawa Barat; dan
b. Kawasan Strategis Kabupaten (KSK).
(3) Rencana Kawasan Strategis Kabupaten (KSK) sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) huruf b diwujudkan dalam bentuk Peta Rencana Kawasan
Strategis Kabupaten Sumbawa Barat sebagaimana tercantum dalam
Lampiran IV.3 yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari
Peraturan Daerah ini.
Pasal 33
(1)

Kawasan Strategis Provinsi (KSP) yang berada di wilayah Kabupaten


Sumbawa Barat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 ayat (2) huruf
a, terdiri atas:
a. Kawasan Agroindustri Poto Tano berada di Kecamatan Poto Tano
dengan sektor unggulan pertanian dan industri;
b. Kawasan Lingkar Tambang Batu Hijau dan Dodo Rinti dengan
sektor unggulan pertambangan, pertanian dan pariwisata;
c. Kawasan Ekosistem Puncak Ngengas Selalu Legini berada di
Kabupaten Sumbawa Barat dan Kabupaten Sumbawa.

(2)

Kawasan Strategis Kabupaten (KSK) sebagaimana dimaksud dalam


Pasal 32 ayat (2) huruf b, terdiri atas:
a. Kawasan strategis dari sudut kepentingan ekonomi, terdiri atas:
1. Kawasan Perkotaan Taliwang yang merupakan Ibukota
Kabupaten Sumbawa Barat (PKWp) dengan fungsi sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1);
36

2. Kawasan Poto Tano yang merupakan pintu gerbang kabupaten


dan pulau Sumbawa dengan fungsi utama sebagai simpul
transportasi darat dan laut, dan sebagai kawasan agroindustri;
3. Kawasan Strategis Agropolitan Kemutar Telu yang meliputi
Kecamatan Seteluk, Kecamatan Jereweh, dan Kecamatan Brang
Rea dengan sektor unggulan pertanian, peternakan, dan
perkebunan;
4. Kawasan Strategis Labuhan Lalar sebagai kawasan penangkapan
ikan, budidaya laut, budidaya air payau/tambak, pariwisata
bahari, pelestarian ekosistem, dan kawasan pelabuhan;
5. Kawasan Strategis Maluk sebagai kawasan penangkapan ikan,
budidaya laut, pertambangan, wisata bahari, pelestarian
ekosistem, dan kawasan pelabuhan;
6. Kawasan minapolitan Teluk Kertasari dengan sektor unggulan
perikanan tangkap, perikanan budidaya dan wisata bahari;
7. Kawasan Strategis Sekongkang dengan sektor unggulan
pertanian, perkebunan, dan pertambangan;
8. Kawasan Strategis Gili Balu sebagai kawasan wisata bahari.
b. Kawasan strategis dari sudut kepentingan lingkungan hidup, terdiri
atas:
1. Kawasan Strategis Danau Rawa Taliwang sebagai kawasan
konservasi nasional.
2. Kawasan
lindung.

perbukitan

perkotaan

Taliwang

sebagai

kawasan

c. Kawasan strategis dari sudut kepentingan sosial budaya adalah


Kawasan Strategis Cagar Budaya Desa Mantar di Kecamatan Poto
Tano.
(3)

Pengelolaan Kawasan Strategis Kabupaten (KSK) sebagaimana


dimaksud pada ayat (2) dijabarkan lebih lanjut melalui rencana
detail/rinci dan Peraturan Daerah tentang Rencana Detail Kawasan
Strategis Kabupaten (KSK).

(4)

Kawasan Strategis Provinsi (KSP) yang berada di wilayah Kabupaten


Sumbawa Barat dan Kawasan Strategis Kabupaten (KSK), sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diwujudkan dalam bentuk Peta
Kawasan Strategis Kabupaten Sumbawa Barat, sebagaimana tercantum
dalam Lampiran IV.3 yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari
Peraturan Daerah ini.
BAB VII
ARAHAN PEMANFAATAN RUANG WILAYAH
Pasal 34

(1) Ketentuan pemanfaatan ruang wilayah berpedoman pada rencana


struktur ruang dan pola ruang serta penetapan kawasan strategis.

37

(2) Pemanfaatan ruang wilayah dilaksanakan melalui penyusunan dan


pelaksanaan program pemanfaatan ruang.
(3) Program pemanfaatan ruang sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
disusun berdasarkan indikasi program utama lima tahunan meliputi
empat tahapan, meliputi;
a. tahap pertama, lima tahun pertama (2011-2016) yang terbagi atas
program tahunan;
b. tahap kedua, lima tahun kedua (2017-2021);
c. tahap ketiga, lima tahun ketiga (2022-2026); dan
d. tahap keempat, lima tahun keempat (2027-2031).
(4) Program pemanfaatan ruang sebagaimana dimaksud pada ayat (3)
diuraikan dalam Lampiran III yang merupakan bagian tidak terpisahkan
dari Peraturan Daerah ini.
BAB VIII
KETENTUAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG
Bagian Kesatu
Umum
Pasal 35
Ketentuan pengendalian pemanfaatan ruang diatur melalui:
a. ketentuan umum peraturan zonasi;
b. ketentuan umum perizinan;
c. ketentuan umum insentif, dan disinsentif; serta
d. Arahan sanksi.
Bagian Kedua
Ketentuan Umum Peraturan Zonasi
Paragraf 1
Ketentuan Umum Peraturan Zonasi Untuk Sistem Perkotaan
Pasal 36
(1) Ketentuan umum peraturan zonasi untuk sistem perkotaan, terdiri atas:
a. peraturan zonasi untuk Pusat Kegiatan Wilayah promosi (PKWp);
b. peraturan zonasi untuk Pusat Kegiatan Lokal (PKL);
c. peraturan zonasi untuk Pusat Kegiatan Lokal promosi (PKLp);
d. peraturan zonasi untuk Pusat Pelayanan Kawasan (PPK); dan
e. peraturan zonasi untuk Pusat Pelayanan Lingkungan (PPL).
(2) Peraturan zonasi untuk Pusat Kegiatan Wilayah Promosi (PKWp)
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a disusun dengan
memperhatikan pemanfaatan untuk kegiatan ekonomi perkotaan
berskala provinsi dan fungsi kawasan perkotaan sebagai pusat
permukiman dapat dibangun dan dikembangkan di wilayah Taliwang.

38

(3) Peraturan zonasi untuk Pusat Kegiatan Lokal (PKL) sebagaimana


dimaksud pada ayat (1) huruf b disusun dengan memperhatikan
pemanfaatan ruang untuk kegiatan ekonomi berskala kabupaten yang
didukung dengan pembangunan fasilitas dan infrastruktur perkotaan di
Poto Tano dan Jereweh.
(4) Peraturan zonasi untuk Pusat Kegiatan Lokal promosi (PKLp)
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c disusun dengan
memperhatikan pemanfaatan ruang untuk kegiatan ekonomi berskala
kabupaten yang didukung dengan pembangunan fasilitas dan
infrastruktur perkotaan dilaksanakan di Seteluk dan Maluk.
(5) Peraturan zonasi untuk Pusat Pelayanan Kawasan (PPK) sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) huruf d disusun dengan memperhatikan
pemanfaatan ruang untuk melayani kegiatan berskala kecamatan atau
beberapa desa yang didukung dengan pembangunan fasilitas dan
infrastruktur kecamatan dilaksanakan di Brang Rea, Brang Ene dan
Sekongkang.
(6) Peraturan zonasi untuk Pusat Pelayanan Lingkungan (PPL) sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) huruf e disusun dengan memperhatikan
pemanfaatan ruang untuk melayani kegiatan berskala desa atau
beberapa lingkungan yang didukung dengan pembangunan fasilitas dan
infrastruktur lingkungan dilaksanakan di Desa Air Suning, Desa
Labuhan Lalar, Desa Talonang, Desa Belo,
Desa Mujahidin, Desa
Seteluk Atas, Desa Kokarlian, Desa Senayan, Desa Labuhan Kertasari,
Desa Desaberu, Desa Beru, Desa Benete, dan Desa Ai Kangkung.
Paragraf 2
Ketentuan Umum Peraturan Zonasi
Untuk Sistem Jaringan Transportasi Darat
Pasal 37
(1) Ketentuan umum peraturan zonasi untuk sistem jaringan transportasi
darat, terdiri atas:
a. peraturan zonasi untuk jaringan jalan negara;
b. peraturan zonasi untuk jaringan jalan provinsi; dan
c. peraturan zonasi untuk jaringan jalan kabupaten.
(2) Ketentuan umum peraturan zonasi untuk jaringan jalan negara disusun
dengan memperhatikan:
a. pemanfaatan ruang di sepanjang sisi jalan negara dengan tingkat
intensitas
menengah
hingga
tinggi
yang
kecenderungan
pengembangan ruangnya dibatasi;
b. ketentuan pelarangan alih fungsi lahan yang berfungsi lindung di
sepanjang sisi jalan nasional;
c. penetapan garis sempadan bangunan di sisi jalan negara yang
memenuhi ketentuan ruang pengawasan jalan sepanjang 33,00 meter;
d. penetapan koefisien dasar bangunan di sisi jalan negara sebesar 80%
(delapan puluh persen); dan
e. penetapan koefisien lantai bangunan di sisi jalan negara sebesar 160%
(seratus enam puluh persen).

39

(3) Ketentuan umum peraturan zonasi untuk jaringan jalan provinsi


disusun dengan memperhatikan:
a. pemanfaatan ruang di sepanjang sisi jalan propinsi dengan tingkat
intensitas
sedang
hingga
menengah
yang
kecenderungan
pengembangan ruangnya dibatasi;
b. ketentuan pelarangan alih fungsi lahan yang berfungsi lindung di
sepanjang sisi jalan provinsi;
c. penetapan garis sempadan bangunan di sisi jalan provinsi yang
memenuhi ketentuan ruang pengawasan jalan sepanjang 22,00 meter;
d. penetapan koofisien dasar bangunan disisi jalan provinsi sebesar 80%
(delapan puluh persen); dan
e. penetapan koofisien lantai bangunan disisi jalan provinsi sebesar
160% (seratus enam puluh persen).
(4) Ketentuan umum peraturan zonasi untuk jaringan jalan kabupaten
disusun dengan memperhatikan:
a. pemanfaatan ruang di sepanjang sisi jalan kabupaten dengan tingkat
intensitas rendah hingga sedang yang kecenderungan pengembangan
ruangnya dibatasi;
b. ketentuan pelarangan alih fungsi lahan yang berfungsi lindung di
sepanjang sisi jalan kabupaten;
c. penetapan garis sempadan bangunan di sisi jalan kabupaten yang
memenuhi ketentuan ruang pengawasan jalan sepanjang 8,50 meter;
d. penetapan koofisien dasar bangunan disisi jalan kabupaten sebesar
60% (enam puluh persen); dan
e. penetapan koofisien lantai bangunan disisi jalan kabupaten sebesar
120% (seratus dua puluh persen).
Paragraf 3
Ketentuan Umum Peraturan Zonasi
Untuk Sistem Jaringan Transportasi Laut
Pasal 38
(1) Ketentuan umum peraturan zonasi untuk pelabuhan laut harus disusun
dengan mematuhi ketentuan mengenai:
a. pemanfaatan ruang untuk kebutuhan operasional dan pengembangan
kawasan pelabuhan;
b. ketentuan pelarangan kegiatan di ruang udara bebas di atas badan air
yang berdampak pada keberadaan jalur transportasi laut; dan
c. pengembangan atau pemanfaatan ruang di dalam dan/atau di luar
Daerah Lingkungan Kerja Pelabuhan dan Daerah Lingkungan
Kepentingan Pelabuhan harus mendapatkan izin sesuai dengan
peraturan perundang-undangan.
(2) Ketentuan umum peraturan zonasi untuk alur pelayaran harus disusun
dengan mematuhi ketentuan mengenai:
a. pemanfaatan ruang pada badan air di sepanjang alur pelayaran
dibatasi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;
dan

40

b. pemanfaatan ruang pada kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil di


sekitar badan air di sepanjang alur pelayaran dilakukan dengan tidak
mengganggu aktivitas pelayaran.
Paragraf 4
Ketentuan Umum Peraturan Zonasi
Untuk Sistem Jaringan Transportasi Udara
Pasal 39
Ketentuan umum peraturan zonasi untuk bandar udara umum harus
disusun dengan mematuhi ketentuan mengenai:
a. ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan transportasi udara
terdiri dari kawasan lingkungan kerja bandar udara dan Kawasan
Keselamatan Operasi Penerbangan selanjutnya disebut KKOP;
b. kawasan kerja bandar udara diarahkan untuk fasilitas utama
penerbangan, yang meliputi fasilitas sisi udara, fasilitas sisi darat,
fasilitas navigasi penerbangan, fasilitas alat bantu pendaratan visual,
menara pengawas, ruang tempat tunggu penumpang/pengantar, fasilitas
komunikasi penerbangan, rambu-rambu dan papan informasi
serta
pelataran parkir; dan fasilitas penunjang bandar udara, yang meliputi
fasilitas penginapan/hotel, fasilitas penyediaan toko dan restoran,
fasilitas perawatan pada umumnya dan fasilitas lainnya yang menunjang
secara langsung atau tidak langsung kegiatan bandar udara;
c. KKOP sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) diarahkan untuk zona
pendekatan dan lepas landas, zona kemungkinan bahaya kecelakaan,
zona di bawah permukaan horisontal-dalam, dan zona permukaan
kerucut dan permukaan transisi dengan luas KKOP 500 Hektar; dan
d. di dalam KKOP dilarang untuk kegiatan yang menimbulkan asap,
menghasilkan cahaya serta memelihara burung yang mengganggu
keselamatan penerbangan.
Paragraf 5
Ketentuan Umum Peraturan Zonasi Untuk
Sistem Jaringan Energi dan kelistrikan
Pasal 40
(1)

Ketentuan umum peraturan zonasi untuk sistem jaringan energi dan


kelistrikan, terdiri atas:
a. ketentuan umum peraturan zonasi untuk gardu induk dan gardu
pembagi; dan
b. ketentuan umum peraturan zonasi untuk jaringan transmisi tenaga
listrik.

(2)

Ketentuan umum peraturan zonasi untuk gardu diatur sebagaimana


dimaksud pada ayat (1) huruf a disusun dengan memperhatikan:
a. zona gardu terdiri dari zona manfaat dan zona bebas;
b. zona manfaat adalah untuk instalasi GI dan fasilitas pendukungnya;
dan
41

c. zona bebas berjarak minimum 20 meter di luar sekeliling gardu dan


dilarang untuk bangunan dan kegiatan yang mengganggu
operasional gardu.
(3)

Ketentuan umum peraturan zonasi untuk jaringan transmisi tenaga


listrik diatur sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b disusun
dengan memperhatikan:
a. zona jaringan transmisi terdiri dari ruang bebas dan ruang aman;
b. zona ruang bebas harus dibebaskan baik dari orang, maupun benda
apapun demi keselamatan orang, makhluk hidup, dan benda
lainnya;
c. zona ruang aman adalah untuk kegiatan apapun dengan mengikuti
jarak bebas minimum vertikal dan horizontal; dan
d. ketinggian serta jarak bangunan, pohon, pada zona ruang aman
mengikuti ketentuan minimum terhadap konduktur dan as menara
SUTT, berjarak:
1. SUTT satu jalur memiliki ruang bebas sebesar 40 meter; dan
2. SUTT dua jalur memiliki ruang bebas sebesar 65 meter.
Paragraf 6
Ketentuan Umum Peraturan Zonasi Untuk
Sistem Jaringan Telekomunikasi
Pasal 41

(1)

Ketentuan umum peraturan


telekomunikasi, terdiri atas:

zonasi

untuk

sistem

jaringan

a. ketentuan umum peraturan zonasi untuk jaringan tetap dan sentral


telekomunikasi; dan
b. ketentuan umum peraturan zonasi untuk jaringan bergerak selular.
(2)

Ketentuan umum peraturan zonasi untuk jaringan tetap sebagaimana


dimaksud pada ayat (1) huruf a terdiri atas:
a. zonasi jaringan tetap terdiri dari zona ruang manfaat dan zona
ruang bebas;
b. zona ruang manfaat adalah untuk tiang dan kabel-kabel dan dapat
diletakkan pada zona manfaat jalan; dan
c. zona ruang bebas dibebaskan dari bangunan dan pohon yang dapat
mengganggu fungsi jaringan.

(3)

Ketentuan umum peraturan zonasi untuk sentral telekomunikasi,


terdiri atas:
a. zonasi sentral telekomunikasi terdiri dari zona fasilitas utama dan
zona fasilitas penunjang;
b. zona
fasilitas
telekomunikasi;

utama

adalah

untuk

instalasi

peralatan

c. zona fasilitas penunjang adalah untuk bangunan kantor pegawai,


dan pelayanan publik;

42

d. persentase luas lahan terbangun maksimal sebesar 50% (lima puluh


persen); dan
e. prasarana dan sarana penunjang terdiri dari parkir kendaraan,
sarana kesehatan, ibadah gudang peralatan, papan informasi, dan
loket pembayaran.
(4)

Ketentuan umum peraturan zonasi untuk jaringan bergerak selular


atau menara telekomunikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
huruf b, terdiri atas:
a. zona menara telekomunikasi terdiri dari zona manfaat dan zona
aman;
b. zona manfaat adalah untuk instalasi menara baik di atas tanah
atau di atas bangunan;
c. zona aman dilarang untuk kegiatan yang mengganggu sejauh radius
sesuai tinggi menara;
d. menara harus dilengkapi dengan sarana pendukung dan identitas
hukum yang jelas. sarana pendukung antara lain pertanahan
(grounding), penangkal petir, catu daya, lampu halangan
penerbangan (aviation obstruction light), dan marka halangan
penerbangan (aviation obstruction marking), identitas hukum antara
lain nama pemilik, lokasi, tinggi, tahun pembuatan/pemasangan,
kontraktor, dan beban maksimum menara;
e. dilarang membangun menara telekomunikasi pada bangunan
bertingkat yang menyediakan fasilitas helipad;
f. jarak antar menara BTS pada wilayah yang datar minimal 10
kilometer, dan pada wilayah yang bergelombang/berbukit/
pegunungan minimal 5 kilometer;
g. menara telekomunikasi untuk mendukung sistem transmisi radio
microwave, apabila merupakan menara rangka yang dibangun di
atas permukaan tanah maksimum tingginya 72 meter;
h. menara telekomunikasi untuk sistem telekomunikasi yang dibangun
di atas permukaan tanah maksimum tingginya 50 meter;
i. menara telekomunikasi dilarang dibangun pada lahan dengan
topografi lebih dari 800 meter dpl dan lereng lebih dari 20% (dua
puluh persen); dan
j. demi efisiensi dan efektifitas penggunaan ruang, maka menara
harus digunakan secara bersama dengan tetap memperhatikan
kesinambungan pertumbuhan industri telekomunikasi.
Paragraf 7
Ketentuan Umum Peraturan Zonasi
Untuk Sistem Jaringan Sumber Daya Air

Pasal 42
Ketentuan umum peraturan zonasi untuk sistem jaringan sumber daya air
pada wilayah sungai disusun dengan memperhatikan:
a. pemanfaatan ruang pada kawasan di sekitar wilayah sungai dengan tetap
menjaga kelestarian lingkungan dan fungsi lindung kawasan dan
dilarang untuk membuang sampah, limbah padat dan/atau cair dan
mendirikan bangunan permanen untuk hunian dan tempat usaha;

43

b. pemanfaatan ruang pada kawasan di sekitar wilayah sungai dengan tetap


menjaga kelestarian lingkungan dan fungsi pemanfaatan ruang di sekitar
wilayah sungai lintas kabupaten secara selaras dengan pemanfaatan
ruang pada wilayah sungai di kabupaten yang berbatasan;
c. garis sempadan sungai bertanggul di luar kawasan perkotaan adalah
sekurang-kurangnya 5 meter dan di dalam kawasan perkotaan adalah
sekurang-kurangnya 3 meter di sebelah luar sepanjang kaki tanggul;
d. garis sempadan sungai tak bertanggul di luar kawasan perkotaan untuk
sungai besar, yaitu sungai yang mempunyai daerah pengaliran sungai
seluas 500 km2 atau lebih, dilakukan ruas per ruas dengan
mempertimbangkan luas daerah pengaliran sungai pada ruas yang
bersangkutan sekurang-kurangnya 100 meter dan sungai kecil yaitu
sungai yang mempunyai daerah pengaliran sungai seluas kurang dari
500 km2 sekurang-kurangnya 50 meter dihitung dari tepi sungai; dan
e. garis sempadan sungai tak bertanggul di dalam kawasan perkotaan
adalah sekurang-kurangnya 10 meter untuk sungai yang mempunyai
kedalaman tidak lebih dari 3 meter, dan 15 meter untuk sungai yang
mempunyai kedalaman antara 3 meter sampai dengan 20 meter, serta 30
meter untuk sungai yang mempunyai kedalaman meksimum lebih dari
20 meter adalah dari tepi sungai.
Pasal 43
Ketentuan umum peraturan zonasi untuk Sistem Jaringan Sumber Air
Bersih Kabupaten ditetapkan sebagai berikut:
a. pengembangan jaringan air bersih di wilayah Kabupaten Sumbawa Barat
diprioritaskan pada wilayah yang belum terjangkau Perusahaan Daerah
Air Minum;
b. menggali berbagai sumber air baku, baik mata air, air bawah tanah
maupun pengolahan air permukaan;
c. peningkatan koordinasi baik antara sektor antar kecamatan dalam
pemanfaatan air baku untuk air bersih; dan
d. peningkatan sistem pengembangan jaringan air minum melalui
peningkatan peran serta masyarakat, penguatan kelembagaan,
pengembangan alternatif pembiayaan serta pembangunan Instalasi
Pengolahan Air Minum (IPA).

Paragraf 8
Ketentuan Umum Peraturan Zonasi Untuk
Sistem Jaringan Pengelolaan Lingkungan
Pasal 44
Ketentuan umum peraturan zonasi untuk Sistem Jaringan Prasarana
Persampahan Kabupaten, terdiri atas:
a. Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) tidak diperkenankan terletak berdekatan
dengan kawasan permukiman;

44

b. lokasi TPA harus didukung oleh studi Analisa Mengenai Dampak


Lingkungan yang telah disepakati oleh instansi yang berwenang;
c. pengelolaan sampah dalam TPA sampah dilakukan dengan sistem
pembuangan tertutup sesuai ketentuan peraturan yang berlaku;
d. dalam lingkungan TPA
pengelolaan sampah; dan

sampah

disediakan

prasarana

penunjang

e. pengelolaan persampahan dilakukan dengan peningkatan peran serta


masyarakat, penguatan kelembagaan, peningkatan cakupan dan kualitas
pelayanan persampahan serta pengembangan alternatif pembiayaan.
Pasal 45
Ketentuan peraturan zonasi untuk Sistem Jaringan Prasarana Air Limbah
Kabupaten, terdiri atas:
a. pelayanan minimal sistem pembuangan air limbah berupa unit
pengolahan kotoran manusia dilakukan dengan menggunakan sistem
setempat atau sistem terpusat agar tidak mencemari daerah tangkapan
air;
b. pembuatan pengolahan Air Limbah Domestik dengan sistem komunal
terutama di kawasan permukiman;
c. sistem pengolahan limbah domestik dan non domestik pada kawasan
dapat berupa Instalasi Pengolahan Air Limbah sistem konvensional atau
ilmiah dan pada bangunan tinggi berupa Instalasi Pengolahan Air
Limbah dengan teknologi modern; dan
d. pengembangan sistem pengelolaan air limbah
melalui peningkatan
peran serta masyarakat dalam pengelolaan air limbah, penguatan
kelembagaan dan kualitas pengelolaan, serta pengembangan alternatif
sumber pembiayaan.
Paragraf 9
Ketentuan Umum Peraturan Zonasi
Untuk Kawasan Lindung
Pasal 46
(1) Ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan lindung, terdiri atas:
a. ketentuan zonasi untuk kawasan hutan lindung;
b. ketentuan zonasi untuk kawasan yang memberikan perlindungan
terhadap kawasan bawahannya;
c. ketentuan zonasi untuk kawasan perlindungan setempat;
d. ketentuan zonasi untuk ruang terbuka hijau kota;
e. ketentuan zonasi untuk kawasan cagar budaya; dan
f. ketentuan zonasi untuk kawasan rawan bencana alam.
(2) Ketentuan zonasi untuk kawasan hutan lindung sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) huruf a, adalah:

45

a. zonasi hutan lindung terdiri dari zona perlindungan, dan zona


lainnya;
b. zona perlindungan adalah untuk pemanfaatan kawasan, pemanfaatan
jasa lingkungan, dan pemungutan hasil hutan bukan kayu yang tidak
mengurangi fungsi utama kawasan dan tidak merusak lingkungan;
c. zona pemanfaatan adalah untuk pemanfaatan kawasan meliputi
usaha budidaya tanaman obat (herbal), usaha budidaya tanaman
hias; usaha budidaya jamur, usaha budidaya perlebahan, usaha
budidaya penangkaran satwa liar, atau usaha budidaya sarang
burung walet, pemanfaatan jasa lingkungan, dan pemungutan hasil
hutan bukan kayu;
d. pada kawasan hutan lindung dilarang:
1. menyelenggarakan pemanfaatan ruang yang mengganggu bentang
alam, mengganggu kesuburan serta keawetan tanah, fungsi
hidrologi, kelestarian flora dan fauna, serta kelestarian fungsi
lingkungan hidup; dan/atau
2. kegiatan yang dapat mengakibatkan perubahan dan perusakan
terhadap keutuhan kawasan dan ekosistemnya sehingga
mengurangi/menghilangkan fungsi dan luas kawasan seperti
perambahan hutan, pembukaan lahan, penebangan pohon, dan
perburuan satwa yang dilindungi;
e. zona lainnya adalah untuk kegiatan budidaya kehutanan;
f. luas zona inti perlindungan
hutan yang telah ditetapkan;

adalah bagian dari keseluruhan luas

g. pemanfaatan kawasan adalah bentuk usaha seperti budidaya jamur,


penangkaran satwa, dan budidaya tanaman obat dan tanaman hias;
h. pemanfaatan jasa lingkungan adalah bentuk usaha jasa lingkungan
seperti pemanfaatan untuk wisata alam, pemanfaatan air, dan
pemanfaatan keindahan dan kenyamanan; dan
i. pemungutan hasil hutan bukan kayu bentuk kegiatan seperti:
mengambil madu, dan mengambil buah.
(3) Ketentuan zonasi untuk kawasan yang memberikan perlindungan
terhadap kawasan bawahannya sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
huruf b meliputi kawasan resapan air, adalah meliputi:
a. zona resapan air adalah untuk kegiatan budidaya terbangun secara
terbatas yang memiliki kemampuan tinggi dalam menahan limpasan
air hujan dan dilarang untuk menyelenggarakan kegiatan yang
mengurangi daya serap tanah terhadap air;
b. persentase luas lahan terbangun maksimum 10% (sepuluh persen);
c. luas kawasan resapan air adalah bagian dari keseluruhan luas hutan
yang telah ditetapkan dengan luas minimum sebesar 30% (tiga puluh
persen); dan
d. dilengkapi dengan prasarana dan sarana penunjang sumur resapan
dan/atau waduk.
(4) Ketentuan zonasi untuk kawasan perlindungan setempat sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) huruf c meliputi sempadan sungai, sempadan
waduk/danau dan mata air adalah:
a. ketentuan zonasi untuk sempadan sungai diarahkan sebagai berikut:

46

1. pemanfaatan ruang yang mengganggu bentang alam,mengganggu


kesuburan dan keawetan tanah, fungsi hidrologi dan hidraulis,
kelestarian flora dan fauna, serta kelestarian fungsi lingkungan
hidup;
2. pemanfaatan hasil tegakan; dan/atau
3. kegiatan yang merusak kualitas air sungai, kondisi fisik tepi
sungai dan dasar sungai, serta mengganggu aliran air.
b. ketentuan zonasi untuk sempadan danau/waduk diarahkan sebagai
berikut:
1. pemanfaatan ruang yang mengganggu bentang alam, mengganggu
kesuburan dan keawetan tanah, fungsi hidrologi, kelestarian flora
dan fauna, serta kelestarian fungsi lingkungan hidup;
2. pemanfaatan hasil tegakan; dan/atau
3. kegiatan yang merusak kualitas air, kondisi fisik kawasan
sekitarnya dan daerah tangkapan air kawasan yang bersangkutan.
c. ketentuan zonasi untuk sempadan sekitar mata air diarahkan sebagai
berikut :
1. pemanfaatan ruang yang mengganggu bentang alam,mengganggu
kesuburan dan keawetan tanah, fungsi hidrologi dan hidraulis,
kelestarian flora dan fauna, serta kelestarian fungsi lingkungan
hidup;
2. pemanfaatan hasil tegakan; dan/atau
3. kegiatan yang merusak kualitas mata air, kondisi fisik kawasan
sekitarnya dan daerah tangkapan air kawasan yang bersangkutan.
d. ketentuan zonasi untuk sempadan pantai diarahkan sebagai berikut:
1. pemanfaatan yang diperbolehkan adalah pemanfaatan hasil laut
dan pesisir, ruang terbuka hijau, pengembangan struktur alami
dan buatan untuk mencegah bencana pesisir, penelitian dan
pendidikan, kepentingan adat dan kearifan lokal, pertahanan
keamanan, perhubungan dan komunikasi;
2. pemanfaatan yang tidak diperbolehkan adalah pemanfaatan ruang
yang mengganggu bentang alam, mengganggu kesuburan dan
keawetan tanah, fungsi hidrologi, kelestarian flora dan fauna,
kegiatan yang merusak kualitas air serta kelestarian fungsi
lingkungan hidup perairan;
3. kegiatan yang diperbolehkan dengan syarat yaitu kegiatan
rekreasi, wisata bahari, ekowisata, dengan tanpa melakukan
mendirikan bangunan permanen; dan
4. pengaturan batas sempadan pantai memperhatikan perlindungan
terhadap gempa dan tsunami, perlindungan pantai dari erosi atau
abrasi, padang lamun, gumuk pasir, estuaria, dan delta,
pengaturan akses publik, dan pengaturan saluran limbah.
(5) Ketentuan zonasi untuk ruang terbuka hijau (RTH) untuk kawasan
perkotaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d, adalah:
a. zona RTH untuk kawasan perlindungan setempat berupa RTH
sempadan sungai, RTH pengamanan sumber air baku/mata air, dan
rekreasi, serta dilarang untuk kegiatan yang mengakibatkan
terganggunya fungsi ruang terbuka hijau;

47

b. proporsi RTH pada wilayah perkotaan adalah sebesar minimal 30%


(tiga puluh persen) yang terdiri dari 20% (dua puluh persen) ruang
terbuka hijau publik dan 10% (sepuluh persen) ruang terbuka hijau
privat; dan
c. pendirian bangunan dibatasi untuk bangunan penunjang kegiatan
rekreasi dan fasilitas umum lainnya, dan bukan bangunan
permanen.
(6) Ketentuan zonasi kawasan cagar budaya sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) huruf e diarahkan pada:
a. zona cagar budaya terdiri dari zona inti, zona penyangga, dan
pengembang;
b. zona inti adalah
untuk lahan situs; dan dilarang melakukan
kegiatan yang mengurangi, menambah, mengubah, memindahkan,
dan mencemari benda cagar budaya;
c. zona penyangga di sekitar situs adalah
untuk kegiatan yang
mendukung dan sesuai dengan bagi kelestarian situs; serta dilarang
untuk kegiatan yang dapat mengganggu fungsi cagar budaya;
d. zona pengembangan adalah untuk kegiatan untuk sarana sosial,
ekonomi, dan budaya, serta dilarang untuk kegiatan
yang
bertentangan dengan prinsip pelestarian benda cagar budaya dan
situsnya;
e. di kawasan cagar budaya dilarang untuk menyelenggarakan:
1. kegiatan yang merusak kekayaan budaya bangsa yang berupa
peninggalan sejarah, bangunan arkeologi;
2. pemanfaatan ruang dan kegiatan yang mengubah bentukan
geologi tertentu yang mempunyai manfaat tinggi untuk
pengembangan ilmu pengetahuan;
3. pemanfaatan ruang yang mengganggu kelestarian lingkungan di
sekitar peninggalan sejarah, bangunan arkeologi, serta wilayah
dengan bentukan geologi tertentu; dan/atau
4. pemanfaatan ruang yang mengganggu upaya pelestarian budaya
masyarakat setempat.
f.

persentase luas lahan terbangun untuk zona inti dan penyangga


maksimum 40% (empat puluh persen), dan untuk zona pengembang
maksimum 50% (lima puluh persen).

(7) Ketentuan zonasi kawasan rawan bencana alam sebagaimana dimaksud


pada ayat (1) huruf f, terdiri atas:
a. zona kawasan rawan bencana alam tanah longsor terdiri dari zona
tingkat
kerawanan
tinggi,
zona
tingkat
kerawanan
menengah/sedang, dan zona tingkat kerawanan rendah;
b. zona tingkat kerawanan tinggi untuk tipologi A (lereng bukit dan
gunung) adalah untuk kawasan lindung, untuk tipologi B dan C
(kaki bukit dan gunung, tebing/lembah sungai) adalah untuk
kegiatan pertanian, kegiatan pariwisata terbatas; dilarang untuk
budidaya dan kegiatan yang dapat mengurangi gaya penahan
gerakan tanah;
c. zona tingkat kerawanan menengah untuk tipologi A, B, C adalah
untuk kegiatan perumahan, transportasi, pariwisata, pertanian,
48

perkebunan, perikanan, hutan kota/rakyat/produksi, dan dilarang


untuk kegiatan industri;
d. zona tingkat kerawanan rendah tipologi A, B, dan C adalah untuk
kegiatan budidaya, dilarang untuk kegiatan industri;
e. persentase luas lahan terbangun untuk zona
tinggi untuk tipologi A maksimum 5% (lima
tipologi B maksimum 10% (sepuluh persen);
f. persentase luas lahan terbangun untuk zona
menengah untuk tipologi A, B, C maksimum
persen);

tingkat kerawanan
pesen), dan untuk
tingkat kerawanan
40% (empat puluh

g. persentase luas lahan terbangun untuk zona tingkat kerawanan


rendah untuk tipologi A, B, C maksimum 60% (enam puluh persen);
h. zona rawan tsunami kegiatan yang diperbolehkan adalah hutan
bakau disesuaikan peraturan sempadan pantai;
zona penyangga rawan tsunami kegiatan yang diperbolehkan adalah
tambak dan perkebunan;
j.

.i

kegiatan/struktur fisik untuk mitigasi terhadap jenis bencana


tsunami adalah penyediaan sistem peringatan dini, penggunaan
bangunan peredam tsunami, penyediaan fasilitas penyelamatan diri,
penggunaan konstruksi bangunan tsunami, penyediaan sarana dan
prasarana kesehatan, vegetasi pantai dan pengelolaan ekosistem
pesisir;

k. ketentuan zonasi pemanfaatan ruang pada kawasan rawan bencana


tsunami diatur dalam Peraturan Daerah tentang Tata Ruang Pesisir;
l.

ketentuan zonasi untuk bencana gunung merapi adalah penyediaan


sistem peringatan dini, penyediaan bunker, pembangunan jalur
lahar, dan penyediaan sarana dan prasarana evakuasi; dan

m. ketentuan zonasi untuk bencana banjir adalah penyediaan sistem


peringatan dini, pembangunan bangunan pengendalian dan
penyediaan sarana dan prasarana evakuasi.

Paragraf 10
Ketentuan Umum Peraturan Zonasi
Untuk Kawasan Budidaya
Pasal 47
Ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan budidaya, terdiri atas:
a. peraturan zonasi kawasan hutan produksi;
b. peraturan zonasi kawasan hutan rakyat;
c. peraturan zonasi kawasan pertanian;
d. peraturan zonasi kawasan pertambangan;
e. peraturan zonasi kawasan permukiman;
f. peraturan zonasi kawasan industri;
g. peraturan zonasi kawasan perikanan;
h. peraturan zonasi kawasan pariwisata; dan
i. peraturan zonasi untuk peruntukan lainnya.

49

Pasal 48
Peraturan zonasi untuk kawasan hutan produksi sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 47 huruf a, terdiri atas:
a. produksi hasil hutan kayu hanya diperkenankan dari hasil kegiatan
budidaya tanaman hutan dalam kawasan hutan produksi;
b. produksi hutan kayu yang berasal dari hutan alam, hanya dimungkinkan
dari kegiatan penggunaan dan pemanfaatan kawasan hutan dengan ijin
yang sah;
c. dalam kawasan hutan produksi diperuntukan bagi kegiatan budidaya
kehutanan dan kegiatan budidaya di luar kehutanan sesuai dengan
peraturan perundangan yang berlaku;
d. kegiatan pemanfaatan hasil hutan kayu dalam kawasan hutan produksi
tidak diperkenankan dari hutan alam;
e. kawasan hutan produksi tidak dapat dialihfungsikan untuk kegiatan lain
di luar kehutanan; dan
f. sebelum kegiatan pengelolaan hutan produksi dilakukan wajib dilakukan
studi kelayakan dan studi amdal yang hasilnya disetujui oleh tim dari
lembaga yang berwenang.
g. Peraturan zonasi dalam kawasan hutan produksi yang diizinkan
beberapa kegiatan:
1. kegiatan yang diizinkan, meliputi:
a) kegiatan pengembangan/pembangunan hasil hutan kayu dan hasil
hutan bukan kayu serta jasa lingkungan;
b) rehabilitasi hutan produksi;
c) pengembangan fungsi penyangga pada kawasan hutan produksi
yang berbatasan dengan hutan lindung dan hutan konservasi;
d) kegiatan penataan sempadan sungai, danau dan mata air;
e) kegiatan pemanfaatan hutan produksi tetap dan hutan produksi
terbatas;
f) kegiatan pemanfaatan ruang lainnya yang dapat meningkatkan
fungsi hutan produksi.
2. kegiatan yang diizinkan terbatas, meliputi:
a) kegiatan pemungutan hasil hutan kayu dan hasil hutan bukan
kayu;
b) kegiatan pengembangan jasa lingkungan.
3. kegiatan yang diizinkan bersyarat, meliputi:
a) kegiatan budidaya peternakan;
b) kegiatan transmisi, relay dan distribusi listrik, telekomunikasi dan
energi.
4. kegiatan yang dilarang pada kawasan hutan produksi adalah semua
pemanfaatan dan penggunaan ruang kecuali yang dikategorikan
diizinkan, diizinkan terbatas dan diizinkan bersyarat.
Pasal 49
(1) Peraturan zonasi untuk kawasan pertanian sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 47 huruf c dilakukan dengan:
a. kegiatan budidaya pertanian tanaman pangan dan tanaman
hortikultura tidak diperkenankan menggunakan lahan yang dikelola
dengan mengabaikan kelestarian lingkungan, misalnya penggunaan
50

b.
c.

d.

e.
f.

pupuk yang menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan, dan


pengolahan tanah yang tidak memperhatikan aspek konservasi;
dalam pengelolaan pertanian tanaman pangan tidak diperkenankan
pemborosan penggunaan sumber air;
peruntukan budidaya pertanian tanaman pangan dan tanaman
hortikultura diperkenankan untuk dialihfungsikan sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku, kecuali
lahan pertanian tanaman pangan yang telah ditetapkan dengan
undang-undang;
pada kawasan budidaya pertanian diperkenankan adanya bangunan
prasarana wilayah dan bangunan yang bersifat mendukung kegiatan
pertanian;
dalam kawasan pertanian masih diperkenankan dilakukan kegiatan
wisata alam secara terbatas, penelitian dan pendidikan; dan
kegiatan pertanian tidak diperkenankan dilakukan di dalam kawasan
lindung.

(2) Ketentuan peraturan zonasi untuk kawasan peruntukan perkebunan


adalah :
a. dalam kawasan perkebunan dan perkebunan rakyat tidak
diperkenankan penanaman jenis tanaman perkebunan yang bersifat
menyerap air dalam jumlah banyak, terutama kawasan perkebunan
yang berlokasi di daerah hulu/kawasan resapan air;
b. bagi perkebunan besar harus mengajukan permohonan apabila ingin
merubah jenis tanamannya;
c. dalam kawasan perkebunan besar dan perkebunan rakyat
diperkenankan adanya bangunan yang bersifat mendukung kegiatan
perkebunan dan jaringan prasarana wilayah;
d. alih fungsi kawasan perkebunan menjadi fungsi lainnya dapat
dilakukan sepanjang sesuai dan mengikuti ketentuan peraturan
perundang-undangan yang berlaku; dan
e. sebelum kegiatan perkebunan besar dilakukan diwajibkan untuk
dilakukan studi kelayakan dan studi Analisis Mengenai Dampak
Lingkungan Hidup (AMDAL) yang hasilnya disetujui oleh tim evaluasi
dari lembaga yang berwenang;
f. kegiatan perkebunan tidak diperkenankan dilakukan di dalam
kawasan lindung.
(3) Ketentuan peraturan zonasi untuk kawasan peternakan adalah :
a. pengembangan kegiatan peternakan, dengan arahan kegiatan sebagai
berikut :
1. diusahakan secara individual di sekitar permukiman penduduk
dengan sistem kandang, sedangkan untuk peternakan bebas
dapat diusahakan pula pada ladang di luar kawasan permukiman;
2. penyediaan suplai bahan makanan ternak dengan pemanfaatan
lahan kritis untuk pengembangan rumput, leguminosa, semak
dan jenis pohon yang sesuai untuk makanan ternak.
b. pengendalian limbah ternak agar tidak mencemari lingkungan dan
aliran sungai, oleh sebab itu dalam pengembangannya perlu
dilengkapi dengan sistem pengelolaan limbah ternak tersebut.
Pasal 50
Peraturan zonasi untuk kawasan pertambangan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 47 huruf d dilakukan dengan cara:

51

a. kegiatan usaha pertambangan sepenuhnya harus mengikuti ketentuan


yang berlaku di bidang pertambangan;
b. kawasan pasca tambang wajib dilakukan rehabilitasi (reklamasi
dan/atau revitalisasi) sehingga dapat digunakan kembali untuk kegiatan
lain seperti pertanian, kehutanan, dan pariwisata;
c. pada kawasan pertambangan diperkenankan adanya kegiatan lain yang
bersifat mendukung kegiatan pertambangan;
d. kegiatan permukiman diperkenankan secara terbatas untuk menunjang
kegiatan pertambangan dengan tetap memperhatikan aspek-aspek
keselamatan; dan
e. sebelum kegiatan pertambangan operasi produksi, wajib dilakukan studi
kelayakan dan studi Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup
(AMDAL) yang hasilnya disetujui oleh lembaga yang berwenang.
Pasal 51
Peraturan zonasi untuk kawasan permukiman sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 47 huruf e, terdiri atas:
a. pengawasan dan penertiban kawasan permukiman menyangkut Koefisien
Dasar Bangunan (KDB), Koefisien Lantai Bangunan (KLB) dan Tinggi
Lantai Bangunan (TLB), sempadan bangunan harus sesuai dengan ijin
mendirikan bangunan yang dimiliki;
b. penetapan amplop bangunan, penetapan tema arsitektur bangunan
penetapan kelengkapan bangunan dan lingkungan;
c. pengembangan yang mendorong keterpaduan sosial dan menjamin
kualitas sosial dan umum, daya dukung lingkungan, yang mendorong
keterpaduan sosial yang menjamin kualitas hidup yang berkelanjutan;
d. pengembangan pada lahan yang sesuai dengan kriteria fisik, meliputi:
kemiringan lereng, ketersediaan dan mutu sumber air bersih, bebas dari
potensi banjir/genangan;
e. membentuk
klaster-klaster
permukiman
untuk
menghindari
penumpukan dan penyatuan antar kawasan permukiman, dan diantara
klaster permukiman disediakan ruang terbuka hijau (RTH);
f. prioritas pengembangan pada permukiman orde rendah dengan
peningkatan pelayanan fasilitas permukiman dan perdagangan;
g. pengembangan permukiman ditunjang dengan pengembangan fasilitas
pendukung unit permukiman seperti : fasilitas perdagangan, jasa dan
hiburan, pemerintahan, pelayanan sosial (pendidikan, kesehatan dan
peribadatan);
h. peningkatan peran pemerintah dalam mengoptimalisasi pemanfaatan
lahan-lahan tidur yang sementara tidak diusahakan;
i. pengendalian pengembangan kegiatan terbangun dengan pembatasan
perkembangan kawasan terbangun yang berada atau berbatasan dengan
kawasan lindung; dan
j. beberapa program pengembangan perumahan dilaksanakan melalui
kegiatan :
1. penataan lingkungan permukiman di perkotaan dan di perdesaan;
2. pengembangan perumahan layak huni pada daerah kumuh; dan
3. pengembangan perumahan bersubsidi bagi masyarakat kurang
mampu berupa Rumah Sederhana Sehat dan lain sebagainya.

52

Pasal 52
Ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan industri sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 47 huruf f, terdiri atas:
a. pemanfaatan ruang untuk kegiatan industri baik yang sesuai dengan
kemampuan penggunaan teknologi, potensi sumber daya alam dan
sumber daya manusia di wilayah sekitarnya;
b. penyediaan sarana dan prasarana pengelolaan limbah industri dan
sampah; dan
c. pembatasan pembangunan perumahan baru sekitar kawasan peruntukan
industri.
Pasal 53
Ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan perikanan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 47 huruf g, terdiri atas:
a. pengembangan kegiatan perikanan, dengan arahan kegiatan:
1. peningkatan produktivitas perikanan yang sudah berjalan;
2. peningkatan sarana dan prasarana perikanan;
3. pengembangan budidaya perikanan laut dan darat melalui budidaya
di sawah dan kolam air;
4. pengembangan kegiatan perikanan tradisonal penunjang pariwisata;
5. pengembangan kegiatan perikanan skala menengah/besar.
b. pemanfaatan wilayah perairan laut, yaitu : perairan pantai, lepas pantai
dalam batas kewenangan kabupaten bagi peningkatan produktivitas
perikanan laut; dan
c. pengawasan dan pengendalian kerusakan ekosistem dan biota laut.
Pasal 54
Ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan pariwisata sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 47 huruf h, terdiri atas:
a. pada kawasan pariwisata alam tidak diperkenankan dilakukan kegiatan
yang dapat menyebabkan rusaknya kondisi alam terutama yang menjadi
obyek wisata alam;
b. dalam kawasan pariwisata dilarang dibangun permukiman dan industri
yang tidak terkait dengan kegiatan pariwisata;
c. dalam kawasan pariwisata diperkenankan adanya sarana dan prasarana
yang mendukung kegiatan pariwisata dan sistem prasarana wilayah
sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku;
d. pada kawasan pariwisata diperkenankan dilakukan penelitian dan
pendidikan;
e. pada kawasan pariwisata alam tidak diperkenankan adanya bangunan
lain kecuali bangunan pendukung kegiatan wisata alam;
f. pengembangan pariwisata harus dilengkapi dengan upaya pengelolaan
lingkungan dan upaya pemantauan lingkungan serta studi Analisis
Mengenai Dampak Lingkungan; dan
g. mendorong kegiatan pariwisata yang berwawasan lingkungan dan
berbasis masyarakat.
53

Pasal 55
(1) Ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan lainnya sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 47 huruf i meliputi :
a. ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan perdagangan dan
jasa;
b. ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan pemerintahan;
dan
c. ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan pertahanan dan
keamanan.
(2) Ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan perdagangan dan
jasa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a terdiri atas:
a. penetapan kelengkapan bangunan dan lingkungan;
b. tidak terletak pada kawasan lindung dan kawasan bencana alam;
c. lokasi strategis dan kemudahan pencapaian dari seluruh penjuru
kota, dapat dilengkapi dengan sarana penunjang kegiatan komersil
dan kegiatan pengunjung; dan
d. peletakan bangunan dan ketersediaan sarana dan prasarana
pendukung disesuaikan dengan sasaran konsumen yang akan
dilayani.
(3) Ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan pemerintahan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b adalah:
a. penetapan kelengkapan bangunan dan lingkungan;
b. tidak terletak pada kawasan lindung dan kawasan bencana alam;
c. lokasi strategis dan kemudahan pencapaian dari seluruh penjuru
wilayah, dan dilengkapi dengan sarana penunjang kegiatan
pemerintahan; dan
d. peletakan bangunan dan ketersediaan sarana dan prasarana
pendukung disesuaikan kebutuhan pelayanan.
(4) Ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan pertahanan dan
keamanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c adalah :
a. penetapan zona penyangga yang memisahkan kawasan pertahanan
dan keamanan dengan kawasan budidaya terbangun; dan
b. penetapan kegiatan budidaya secara selektif di dalam dan di sekitar
kawasan untuk menjaga fungsi pertahanan dan keamanan.
Pasal 56
Ketentuan umum peraturan zonasi kawasan budidaya yang bersifat khusus
dan spesifik disesuaikan dengan peraturan perundang-undangan.
Pasal 57
Ketentuan lebih lanjut mengenai peraturan zonasi setiap kawasan lindung
dan budidaya akan ditetapkan dengan Peraturan Bupati.

54

Bagian Ketiga
Ketentuan Umum Perizinan
Paragraf 1
Izin Pemanfaatan Ruang
Pasal 58
(1) Ketentuan perizinan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 huruf b
adalah Izin Pemanfaatan Ruang.
(2) Setiap kegiatan yang memanfaatkan ruang di wilayah daerah wajib
dilengkapi dengan Izin Pemanfaatan Ruang.
(3) Izin Pemanfaatan Ruang dikeluarkan oleh instansi yang berwenang
setelah dikoordinasikan, dikaji dan diproses oleh lembaga ad Hoc Tata
Ruang (BKPRD) Kabupaten Sumbawa Barat melalui kegiatan
perencanaan tata ruang (advice planning) yang selanjutnya ditetapkan
oleh Bupati Sumbawa Barat.
(4) Izin Pemanfaatan
selanjutnya.

Ruang

menjadi

dasar

penerbitan

izin-izin

(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai prosedur perolehan Izin Pemanfaatan


Ruang dan perizinan lainnya diatur dengan Peraturan Bupati.
Paragraf 2
Izin Mendirikan Bangunan
Pasal 59
(1) Izin Mendirikan Bangunan Gedung adalah izin yang diberikan kepada
pemilik bangunan gedung untuk membangun baru, mengubah,
memperluas, mengurangi, dan/atau merawat bangunan gedung sesuai
dengan persyaratan administratif dan persyaratan teknis.
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai izin mendirikan bangunan diatur
dengan Peraturan Bupati.
Paragraf 3
Izin Lainnya
Pasal 60
(1) Izin lainnya terkait pemanfaatan ruang adalah ketentuan izin usaha
pertambangan, perkebunan, pariwisata, industri, perdagangan dan
pengembangan sektor lainnya, yang disyaratkan sesuai peraturan
perundang-undangan.

55

(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai izin usaha pengembangan sektoral


diatur dengan Peraturan Bupati.
Bagian Keempat
Ketentuan Insentif dan Disinsentif
Pasal 61
(1) Ketentuan pemberian insentif dan disinsentif sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 35 huruf c merupakan acuan bagi Pemerintah Daerah
dalam pemberian insentif dan pengenaan disinsentif.
(2) Ketentuan insentif diberikan apabila pemanfaatan ruang sesuai dengan
rencana struktur ruang, rencana pola ruang, dan ketentuan umum
peraturan zonasi yang diatur dalam peraturan perundang-undangan.
(3) Ketentuan disinsentif dikenakan terhadap pemanfaatan ruang yang
perlu dicegah, dibatasi, atau dikurangi keberadaannya berdasarkan
ketentuan dalam peraturan perundang-undangan.
Pasal 62
(1) Ketentuan pemberian insentif dan pengenaan disinsentif sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 35 huruf c dalam pemanfaatan ruang wilayah
kabupaten dilakukan oleh pemerintah daerah kepada pengembang
kawasan, dan kepada masyarakat.
(2) Ketentuan pemberian insentif dan pengenaan disinsentif di kabupaten,
dilakukan oleh bupati yang teknis pelaksanaannya melalui Satuan Kerja
Perangkat Daerah kabupaten yang membidangi penataan ruang.
Pasal 63
(1) Ketentuan insentif pemerintah daerah kepada pengembang kawasan,
diberikan dalam bentuk:
a. pemberian kompensasi;
b. urun saham;
c. pembangunan serta pengadaan infrastruktur; dan
d. penghargaan.
(2) Insentif kepada masyarakat, diberikan dalam bentuk:
a. keringanan retribusi;
b. pemberian kompensasi;
c. imbalan;
d. sewa ruang;
e. urun saham;
f. penyediaan infrastruktur;
g. kemudahan prosedur perizinan; dan
h. penghargaan.

56

Pasal 64
(1) Ketentuan disinsentif Pemerintah Daerah kepada pengembang kawasan,
dikenakan dalam bentuk:
a. pembatasan penyediaan infrastruktur;
b. pengenaan kompensasi; dan
c. penalti.
(2) Disinsentif dari Pemerintah Daerah kepada masyarakat, dikenakan
dalam bentuk:
a. pengenaan pajak yang tinggi;
b. pembatasan penyediaan infrastruktur;
c. pengenaan kompensasi; dan
d. penalti.
Pasal 65
(1) Pemberian insentif dan pengenaan disinsentif sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 35 huruf c dilakukan menurut prosedur sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai tatacara pemberian insentif dan
disinsentif diatur dengan Peraturan Bupati.
Bagian Kelima
Arahan Sanksi
Pasal 66
Arahan sanksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 huruf d merupakan
acuan dalam pengenaan sanksi terhadap:
a. pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan rencana struktur ruang
dan pola ruang wilayah kabupaten;
b. pelanggaran ketentuan arahan peratuan zonasi;
c. pemanfaatan ruang tanpa izin pemanfaatan ruang yang diterbitkan
berdasarkan RTRW Kabupaten;
d. pemanfaatan ruang tidak sesuai dengan izin pemanfaatan ruang yang
diterbitkan berdasarkan RTRW Kabupaten;
e. pelanggaran ketentuan yang ditetapkan dalam persyaratan izin
pemanfaatan ruang yang diterbitkan berdasarkan RTRW Kabupaten;
f. pemanfataan ruang yang menghalangi akses terhadap kawasan yang
oleh peraturan perundang-undangan dinyatakan sebagai milik umum;
dan
g. pemanfaatan ruang dengan izin yang diperoleh dengan prosedur yang
tidak benar.

57

Pasal 67
(1) Setiap pelanggaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 66 huruf a,
huruf b, huruf d, huruf e, huruf f, dan huruf g, dikenakan sanksi
administratif berupa:
a. peringatan tertulis;
b. penghentian sementara kegiatan;
c. penghentian sementara pelayanan umum;
d. penutupan lokasi;
e. pencabutan izin;
f. pembatalan izin;
g. pembongkaran bangunan;
h. pemulihan fungsi ruang; dan
i. denda administratif.
(2) Setiap pelanggaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 66 huruf c,
dikenakan sanksi administratif berupa:
a. peringatan tertulis;
b. penghentian sementara kegiatan;
c. penghentian sementara pelayanan umum;
d. penutupan lokasi;
e. pembongkaran bangunan;
f. pemulihan fungsi ruang; dan
g. denda administratif.
Pasal 68
Ketentuan mengenai kriteria dan tata cara pengenaan sanksi administratif
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 67 diatur lebih lanjut dengan
Peraturan Bupati.
Pasal 69
Setiap orang yang melakukan pelanggaran terhadap rencana tata ruang
wilayah yang telah ditetapkan dapat dikenakan sanksi pidana sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
BAB IX
KELEMBAGAAN
Pasal 70
(1) Penyelenggaraan penataan ruang dilakukan oleh Dinas/Instansi yang
ditentukan sesuai peraturan perundang-undangan.
(2) Dalam rangka koordinasi penataan ruang dan kerjasama antar
sektor/antar daerah bidang penataan ruang, dibentuk Badan Koordinasi
Penataan Ruang Daerah (BKPRD).

58

(3) Tugas, susunan organisasi, dan tata kerja Badan Koordinasi Penataan
Ruang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan
Bupati.
BAB X
HAK, KEWAJIBAN DAN PERAN MASYARAKAT
DALAM PENATAAN RUANG
Bagian Kesatu
Hak
Pasal 71
Dalam kegiatan penataan ruang wilayah, masyarakat berhak:
a. Berperan serta dalam proses perencanaan dan penyusunan tata ruang,
pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang;
b. Mengetahui secara terbuka Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten
Sumbawa Barat;
c. Menikmati manfaat ruang dan/atau pertambahan nilai ruang sebagai
akibat dari penataan ruang;
d. Memperoleh penggantian yang layak atas kondisi yang dialaminya
sebagai akibat pelaksanaan kegiatan pembangunan yang sesuai dengan
rencana tata ruang; dan
e. Mengajukan tuntutan pembatalan izin dan penghentian pembangunan
yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang.
Bagian Kedua
Kewajiban
Pasal 72
Setiap orang berkewajiban:
a. mentaati rencana tata ruang yang telah ditetapkan;
b. memanfaatkan ruang sesuai dengan izin pemanfaatan ruang dari pejabat
yang berwenang;
c. mematuhi ketentuan yang ditetapkan dalam ijin pemanfaatan ruang; dan
d. memberikan akses yang seluas-luasnya ke ruang yang dinyatakan oleh
peraturan perundang-undangan sebagai milik umum.
Bagian Ketiga
Peran Masyarakat
Pasal 73
(1) Peran masyarakat dalam penataan ruang di Daerah dilakukan antara
lain melalui:
a. partisipasi dalam penyusunan rencana tata ruang;
b. partisipasi dalam pemanfaatan ruang; dan
c. partisipasi dalam pengendalian pemanfaatan ruang.
(2) Bentuk peran masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a
dapat berupa :
a. memberikan masukan mengenai :
1. penentuan arah pengembangan wilayah;
2. potensi dan masalah pembangunan;

59

3. perumusan rencana tata ruang; dan


4. penyusunan rencana struktur dan pola ruang.
b. menyampaikan keberatan terhadap rancangan rencana tata ruang;
dan
c. melakukan kerja sama dengan Pemerintah, pemerintah daerah
dan/atau sesama unsur masyarakat.
(3) Bentuk peran masyarakat dalam pemanfaatan ruang sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) huruf b dapat berupa:
a. melakukan kegiatan pemanfaatan ruang yang sesuai dengan
kearifan lokal dan rencana tata ruang yang telah ditetapkan;
b. menyampaikan masukan mengenai kebijakan pemanfaatan ruang;
c. memberikan dukungan bantuan teknik, keahlian, dan/atau dana
dalam pengelolaan pemanfaatan ruang;
d. meningkatkan efisiensi,
efektivitas,
dan keserasian dalam
pemanfaatan ruang darat, ruang laut, ruang udara, dan ruang di
dalam bumi dengan memperhatikan kearifan lokal serta sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;
e. melakukan kerjasama pengelolaan ruang dengan Pemerintah,
pemerintah daerah, dan/atau pihak lainnya secara bertanggung
jawab untuk pencapaian tujuan penataan ruang;
f. kegiatan menjaga kepentingan pertahanan dan keamanan serta
memelihara dan meningkatkan kelestarian hidup dan sumber daya
alam.
g. menjaga, memelihara, dan meningkatkan kelestarian fungsi
lingkungan dan SDA;
h. melakukan usaha investasi dan/atau jasa keahlian; dan
i. mengajukan gugatan ganti rugi kepada pemerintah atau pihak lain
apabila kegiatan pembangunan yang dilaksanakan merugikan.
(4) Bentuk peran masyarakat dalam pengendalian pemanfaatan ruang
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c dapat berupa:
a. memberikan masukan mengenai arahan zonasi, perizinan,
pemberian insentif dan disinsentif serta pengenaan sanksi;
b. turut serta memantau dan mengawasi pelaksanaan kegiatan
pemanfaatan ruang, rencana tata ruang yang telah ditetapkan, dan
pemenuhan standar pelayanan minimal di bidang penataan ruang;
c. melaporkan kepada instansi/pejabat yang berwenang dalam hal
menemukan kegiatan pemanfaatan ruang yang melanggar rencana
tata ruang yang telah ditetapkan dan adanya indikasi kerusakan
dan/atau pencemaran lingkungan, tidak memenuhi standar
pelayanan minimal dan/atau masalah yang terjadi di masyarakat
dalam penyelenggaraan penataan ruang;
d. mengajukan keberatan terhadap keputusan pejabat publik yang
dipandang tidak sesuai dengan rencana tata ruang; dan

60

e. mengajukan gugatan pembatalan izin dan/atau penghentian


pembangunan yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang kepada
instansi/pejabat yang berwenang.
Pasal 74
(1) Peran masyarakat di bidang penataan ruang dapat disampaikan secara
langsung dan/atau tertulis.
(2) Peran masyarakat sebagaimana
disampaikan kepada Bupati.

dimaksud

pada

ayat

(1),

dapat

(3) Peran masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) juga dapat
disampaikan melalui unit kerja terkait yang ditunjuk oleh Bupati.
Pasal 75
(1) Dalam rangka meningkatkan peran masyarakat, pemerintah daerah
membangun sistem informasi dan dokumentasi penataan ruang yang
dapat diakses dengan mudah oleh masyarakat.
(2) Pelaksanaan tata cara peran masyarakat dalam penataan ruang
dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
BAB XI
KETENTUAN LAIN-LAIN
Pasal 76
Rencana tata ruang wilayah Kabupaten menjadi pedoman untuk:
a. penyusunan rencana pembangunan jangka panjang daerah;
b. penyusunan rencana pembangunan jangka menengah daerah;
c. pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang di wilayah
kabupaten;
d. mewujudkan keterpaduan, keterkaitan, dan keseimbangan antar sektor;
e. penetapan lokasi dan fungsi ruang untuk investasi; dan
f. penataan ruang Kawasan Strategis Kabupaten.
Pasal 77
(1) Jangka waktu RTRW Kabupaten Sumbawa Barat adalah 20 (dua puluh)
tahun dan dapat ditinjau kembali 1 (satu) kali dalam 5 (lima) tahun.
(2) Dalam kondisi lingkungan strategis tertentu yang berkaitan dengan
bencana alam skala besar dan/atau perubahan batas teritorial wilayah
kabupaten yang ditetapkan dengan peraturan perundang-undangan,
RTRW Kabupaten Sumbawa Barat dapat ditinjau kembali lebih dari 1
(satu) kali dalam 5 (lima) tahun.
(3) Peninjauan kembali sebagaimana dimaksud pada ayat (2) juga
dilakukan apabila terjadi perubahan kebijakan pemerintah provinsi dan
strategi yang mempengaruhi pemanfaatan ruang kabupaten dan/atau
dinamika internal kabupaten.

61

BAB XII
KETENTUAN PERALIHAN
Pasal 78
Dengan berlakunya Peraturan Daerah ini, maka:
a. izin pemanfaatan ruang yang telah dikeluarkan dan telah sesuai dengan
ketentuan Peraturan Daerah ini tetap berlaku sampai dengan berakhir
masa berlakunya;
b. izin pemanfaatan ruang yang telah dikeluarkan tetapi tidak sesuai dengan
ketentuan Peraturan Daerah ini berlaku ketentuan:
1. untuk yang belum dilaksanakan pembangunannya, izin tersebut
disesuaikan dengan fungsi kawasan berdasarkan Peraturan Daerah
ini;
2. untuk yang sudah dilaksanakan pembangunannya, pemanfaatan
ruang dilakukan sampai izin terkait habis masa berlakunya dan
dilakukan penyesuaian dengan fungsi kawasan berdasarkan
Peraturan Daerah ini;
3. untuk yang sudah dilaksanakan pembangunannya dan tidak
memungkinkan untuk dilakukan penyesuaian dengan fungsi kawasan
berdasarkan Peraturan Daerah ini, izin yang telah diterbitkan dapat
dibatalkan dan terhadap kerugian yang timbul sebagai akibat
pembatalan izin tersebut dapat diberikan penggantian yang layak; dan
4. ketentuan dan tata cara pemberian penggantian yang layak
sebagaimana dimaksud pada angka 3 diatur lebih lanjut dengan
Peraturan Bupati.
c. Izin pemanfaatan ruang yang masa berlakunya sudah habis dan tidak
sesuai dengan Peraturan Daerah ini dilakukan penyesuaian berdasarkan
Peraturan Daerah ini;
d. Pemanfaatan ruang di daerah yang diselenggarakan tanpa izin ditentukan
sebagai berikut:
1. yang bertentangan dengan ketentuan Peraturan Daerah ini,
pemanfaatan ruang yang bersangkutan ditertibkan dan disesuaikan
dengan Peraturan Daerah ini; dan
2. yang sesuai dengan ketentuan Peraturan Daerah ini, dipercepat untuk
mendapatkan izin yang diperlukan.
e. Dengan berlakunya Peraturan Daerah ini, maka semua peraturan
pelaksanaan yang berkaitan dengan penataan ruang daerah yang telah
ada dinyatakan berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan dan belum
diganti berdasarkan Peraturan Daerah ini.
Pasal 79
(1) Kawasan lindung yang difungsikan untuk kegiatan budidaya secara
bertahap dikembalikan fungsinya sebagai kawasan lindung setelah izin
kegiatan budidaya habis masa berlakunya.
(2) Perubahan status dan/atau fungsi kawasan hutan, kawasan lahan
pertanian pangan berkelanjutan harus mematuhi ketentuan peraturan
perundang-undangan.

62

BAB XIII
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 80
Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan
Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kabupaten
Sumbawa Barat.
Ditetapkan di Taliwang,
pada tanggal 16 April 2012
BUPATI SUMBAWA BARAT,
ttd
ZULKIFLI MUHADLI

Diundangkan di Taliwang
pada tanggal 16 April 2012

SEKRETARIS DAERAH
KABUPATEN SUMBAWA BARAT
ttd
MUSYAFIRIN

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SUMBAWA BARAT TAHUN 2012 NOMOR

63

PENJELASAN
ATAS
PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMBAWA BARAT
NOMOR 2 TAHUN 2012
TENTANG
RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN SUMBAWA BARAT
TAHUN 2011-2031
I. UMUM
1. Ruang Wilayah Kabupaten Sumbawa Barat sebagai bagian dari
wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, pada hakikatnya
merupakan karunia Tuhan Yang Maha Esa yang harus dikembangkan
dan dilestarikan pemanfaatannya secara optimal agar dapat menjadi
wadah bagi kehidupan manusia serta makhluk hidup lainnya secara
berkelanjutan demi kelangsungan hidup yang berkualitas.
Pancasila merupakan dasar negara dan falsafah negara, yang
memberikan keyakinan bahwa kebahagiaan hidup akan tercapai jika
didasarkan atas keselarasan, keserasian dan keseimbangan, baik
dalam hubungannya dengan kehidupan pribadi, hubungan manusia
dengan manusia lain, hubungan manusia dengan alam sekitarnya
maupun hubungan manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa.
Sedangkan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945
sebagai landasan konstitusional mewajibkan agar sumber daya alam
dipergunakan
untuk
sebesar-besar
kemakmuran
rakyat.
Kemakmuran tersebut haruslah dapat dinikmati oleh generasi
sekarang maupun generasi yang akan datang.
2. Ruang sebagai sumber daya alam tidaklah mengenal batas wilayah,
karena ruang pada dasarnya merupakan wadah atau tempat bagi
manusia dan makhluk hidup lainnya untuk hidup dan melakukan
kegiatannya, akan tetapi jika ruang dikaitkan dengan pengaturannya,
haruslah mengenal batas dan sistemnya. Dalam kaitan tersebut,
ruang wilayah Kabupaten Sumbawa Barat meliputi tiga matra, yakni
ruang daratan, ruang lautan dan ruang udara.
Ruang wilayah Kabupaten Sumbawa Barat sebagai unsur lingkungan
hidup, terdiri atas berbagai ruang wilayah yang masing-masing
sebagai sub sistem yang meliputi aspek alamiah (fisik), ekonomi,
sosial budaya dengan corak ragam dan daya dukung yang berbeda
satu dengan lainnya. Pengaturan pemanfaatan ruang wilayah yang
didasarkan pada corak dan daya dukungnya akan meningkatkan
keselarasan,
keseimbangan
subsistem,
yang
berarti
juga
meningkatkan daya tampungnya. Pengelolaan sub-sistem yang satu
akan berpengaruh kepada kepada subsistem yang lain, yang pada
akhirnya akan mempengaruhi sistem ruang secara keseluruhan. Oleh
karena itu, pengaturan ruang menuntut dikembangkan suatu sistem
dengan keterpaduan sebagai ciri utamanya.
64

Ada pengaruh timbal balik antara ruang dan kegiatan manusia.


Karakteristik ruang menentukan macam dan tingkat kegiatan
manusia, sebaliknya kegiatan manusia dapat merubah, membentuk
dan mewujudkan ruang dengan segala unsurnya. Kecepatan
perkembangan manusia seringkali tidak segera tertampung dalam
wujud pemanfaatan ruang, hal ini disebabkan karena hubungan
fungsional antar ruang tidak segera terwujud secepat perkembangan
manusia. Oleh karena itu, rencana tata ruang wilayah yang disusun,
haruslah dapat menampung segala kemungkian perkembangan
selama kurun waktu tertentu.
3. Ruang wilayah Kabupaten Sumbawa Barat, mencakup wilayah
kecamatan yang merupakan satu kesatuan ruang wilayah yang terdiri
atas satuan-satuan ruang yang disebut dengan kawasan. Dalam
berbagai kawasan terdapat macam dan budaya manusia yang
berbeda, sehingga diantara berbagai kawasan tersebut seringkali
terjadi tingkat pemanfaatan dan perkembangan yang berbeda-beda.
Perbedaan ini apabila tidak ditata, dapat mendorong terjadinya
ketidakseimbangan pembangunan wilayah. Oleh karena itu, rencana
tata ruang wilayah, secara teknis harus mempertimbangkan : (i)
keseimbangan antara kemampuan ruang dan kegiatan manusia
dalam memanfaatkan serta meningkatkan kemampuan ruang ; (ii)
keseimbangan, keserasian dan keselarasan dalam pemanfaatan antar
kawasan dalam rangka meningkatkan kapasitas produktivitas
masyarakat dalam arti luas.
4. Meningkatnya kegiatan pembangunan yang memerlukan lahan, baik
tempat untuk memperoleh sumber daya alam mineral atau lahan
pertanian maupun lokasi kegiatan ekonomi lainnya, seperti industri,
pariwisata, pemukiman dan administrasi pemerintahan, potensial
meningkatkan terjadinya kasus-kasus konflik pemanfaatan ruang dan
pengaruh buruk dari suatu kegiatan terhadap kegiatan lainnya.
Berkenaan dengan hal tersebut, diperlukan perencanaan tata ruang
yang baik dan akurat, agar perkembangan tuntutan berbagai kegiatan
pemanfaatan ruang dan sumber daya yang terdapat di dalamnya
dapat berfungsi secara optimal, terkendali, selaras dengan arah
pembangunan Daerah Kabupaten Sumbawa Barat.
5. Kendatipun perencanaan tata ruang sepenuhnya merupakan tindak
pemerintahan atau sikap tindak administrasi negara, dalam proses
penyusunan sampai pada penetapannya perlu melibatkan peran serta
masyarakat. Peran serta masyarakat dalam perencanaan tata ruang
menjadi penting dalam kerangka menjadikan sebuah tata ruang
sebagai hal yang responsif (responsive planning), artinya sebuah
perencanaan yang tanggap terhadap preferensi serta kebutuhan dari
masyarakat yang potensial terkena dampak apabila perencanaan
tersebut diimplementasikan. Tegasnya, dalam konteks perencanaan
tata ruang, sebenarnya ada dua hal yang harus diperhatikan.
Pertama, kewajiban Pemerintah untuk memberikan informasi, Kedua,
hak masyarakat untuk di dengar (the right to be heard). Dalam
praktek, pada dasarnya dua aspek ini saling berkaitan karena

65

penerapannya menunjukkan adanya jalur komunikasi dua arah.


Dengan kewajiban pemerintah untuk memberi informasi yang
menyangkut rencana kegiatan/perbuatan administrasi, dan adanya
hak bagi yang terkena (langsung maupun tidak langsung) oleh
kegiatan/perbuatan pemerintah,
mengandung makna bahwa
mekanisme itu telah melibatkan masyarakat dalam prosedur
administrasi negara, di pihak lain dapat menunjang pemerintahan
yang baik dan efektif, karena dengan mekanisme seperti itu
pemerintah dapat memperoleh informasi yang layak sebelum
mengambil keputusan. Mekanisme seperti itu dapat menumbuhkan
suasana saling percaya antara pemerintah dan rakyat sehingga dapat
mencegah sengketa yang mungkin terjadi serta memungkinkan
terjadinya penyelesaian melalui jalur musyawarah.
6. Secara normatif, perencanaan tata ruang dimaksud perlu diberi
status dan bentuk hukum agar dapat ditegakkan, dipertahankan dan
ditaati oleh pihak-pihak yang bersangkutan. Hanya rencana yang
memenuhi syarat-syarat hukumlah yang dapat melindungi hak warga
masyarakat dan memberi kepastian hukum, baik bagi warga maupun
bagi aparatur pemerintah termasuk di dalamnya administrasi negara
yang bertugas melaksanakan dan mempertahankan rencana, yang
sejak perencanaannya sampai penetapannya memenuhi ketentuan
hukum yang berlaku. Apabila suatu rencana telah diberi bentuk dan
status hukum, maka rencana itu terdiri atas susunan peraturanperaturan yang pragmatis, artinya segala tindakan yang didasarkan
kepada rencana itu akan mempunyai akibat hukum.
7. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang pada
Pasal 78 mengamanatkan bahwa Peraturan Daerah Kabupaten
tentang rencana tata ruang wilayah kabupaten disusun atau
disesuaikan paling lambat dalam waktu 3 (tiga) tahun terhitung sejak
Undang-Undang ini diberlakukan.
8. Berdasarkan uraian di atas, maka perlu disusun Peraturan Daerah
yang akan menjadi acuan dalam pelaksanaan program-program
pembangunan di daerah serta mendorong percepatan perkembangan
masyarakat secara tertib, teratur dan berencana. Peraturan Daerah
sendiri merupakan bagian tak terpisahkan dari kesatuan sistem
perundang-undangan secara nasional, oleh karena itu peraturan
daerah tidak boleh bertentangan dengan peraturan perundangundangan yang lebih tinggi atau bertentangan dengan kepentingan
umum. Kepentingan umum yang harus diperhatikan bukan saja
kepentingan rakyat banyak daerah yang bersangkutan, melainkan
kepentingan daerah lain dan kepentingan seluruh rakyat Indonesia.
Ini berarti, pembuatan peraturan perundang-undangan tingkat
daerah, bukan sekedar melihat batas kompetensi formal atau
kepentingan daerah yang bersangkutan, tetapi harus dilihat pula
kemungkinan dampaknya terhadap daerah lain atau kepentingan
nasional secara keseluruhan.

66

II. PASAL DEMI PASAL


Pasal 1
Cukup jelas
Pasal 2
Ayat (1)
Penetapan luas batas administratif Kabupaten Sumbawa
Barat ditetapkan berdasarkan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
Ayat (2)
Cukup Jelas
Pasal 3
Cukup jelas
Pasal 4
Cukup jelas
Pasal 5
Cukup jelas
Pasal 6
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan rencana struktur ruang dalam
ketentuan ini adalah gambaran struktur ruang yang
dikehendaki untuk dicapai pada akhir tahun rencana,
yang mencakup struktur ruang yang ada dan yang akan
dikembangkan.
Rencana struktur ruang wilayah kabupaten merupakan
arahan perwujudan sistem perkotaan dalam wilayah
kabupaten dan jaringan prasarana wilayah kabupaten
yang dikembangkan untuk mengintegrasikan wilayah
kabupaten selain untuk melayani kegiatan skala
kabupaten yang meliputi sistem jaringan transportasi,
sistem jaringan energi dan kelistrikan, sistem jaringan
telekomunikasi, dan sistem jaringan sumber daya air.

Pasal
Pasal
Pasal
Pasal
Pasal

Ayat (2)
Cukup Jelas
Ayat (3)
Cukup Jelas
7
Cukup jelas
8
Cukup Jelas
9
Cukup Jelas
10
Cukup Jelas
11
Cukup Jelas
67

Pasal 12
Cukup Jelas
Pasal 13
Cukup Jelas
Pasal 14
Cukup jelas
Pasal 15
Cukup jelas
Pasal 16
Cukup Jelas
Pasal 17
Ayat (1)
Cukup Jelas
Ayat (2)
Cukup Jelas
Ayat (3)
Cukup Jelas
Ayat (4)
Cukup Jelas
Ayat (5)
Metode vegetatif dalam strategi konservasi tanah dan air
melalui:
-

Penanaman dengan tanaman penutup tanah;

Penanaman dalam stripcropping;

Penanaman berganda;

Pemakaian mulsa;

Penghutanan kembali/reboisasi.

Metode sipil teknis dilakukan dengan:


-

Memperkecil aliran permukaan sehingga


dengan kekuatan yang tidak merusak;

Menampung dan menyalurkan aliran permukaan pada


bangunan tertentu yang telah dipersiapkan;

Membuat bangunan untuk meredam banjir, erosi dan


abrasi.

Pasal 18
Cukup Jelas
Pasal 19
Cukup Jelas
Pasal 20
Cukup jelas
Pasal 21
Ayat (1)
Cukup Jelas

68

mengalir

Ayat (2)
Penetapan luasan hutan lindung dilakukan berdasarkan
hasil analisis dan peraturan perundang-undangan.
Ayat (3)
Cukup Jelas
Ayat (4)
Upaya perlindungan, konservasi, dan pelestarian fungsi
sumber daya alam dan lingkungannya guna mendukung
kehidupan secara serasi yang berkelanjutan melalui:
1. Perencanaan rehabilitasi dan pemulihan hutan yang
termasuk di dalam kriteria kawasan lindung dengan
melakukan penanaman pohon lindung yang dapat
digunakan sebagai perlindungan kawasan bawahannya
yang dapat diambil hasil hutan non-kayu;
2. Percepatan rehabilitasi dan pemulihan hutan pada fungsi
hutan lindung dengan tanaman endemik dan/ atau
tanaman unggulan lokal sesuai dengan fungsi lindung;
3. Pelestarian ekosistem yang merupakan ciri khas
kawasan melalui tindakan pencegahan perusakan dan
upaya pengembalian pada rona awal sesuai ekosistem
yang pernah ada;
4. Pemanfaatan kawasan pada hutan lindung dilakukan,
antara lain, melalui kegiatan usaha budidaya tanaman
obat, budidaya tanaman hias, budidaya jamur, budidaya
lebah, penangkaran satwa liar, rehabilitasi satwa, atau
budidaya hijauan makanan ternak;
5. Pemanfaatan jasa lingkungan pada hutan lindung melalui
kegiatan usaha: pemanfaatan jasa aliran air, pemanfaatan
air, wisata alam; perlindungan keanekaragaman hayati,
penyelamatan dan perlindungan lingkungan, atau
penyerapan dan/atau penyimpanan karbon; dan
6. Perencanaan Pemanfaatan hasil hutan bukan kayu.
Ayat (5)
Cukup
Ayat (6)
Cukup
Ayat (7)
Cukup
Ayat (8)
Cukup
Ayat (9)
Cukup
Ayat (10)
Cukup
Ayat (11)
Cukup
Ayat (12)
Cukup

Jelas
Jelas
Jelas
Jelas
Jelas
Jelas
Jelas
Jelas

69

Pasal
Pasal
Pasal
Pasal
Pasal
Pasal
Pasal
Pasal
Pasal
Pasal
Pasal
Pasal
Pasal

Ayat (13)
Cukup Jelas
22
Cukup Jelas
23
Cukup Jelas
24
Cukup Jelas
25
Cukup Jelas
26
Cukup Jelas
27
Cukup Jelas
28
Cukup Jelas
29
Cukup Jelas
30
Cukup Jelas
31
Cukup Jelas
32
Cukup Jelas
33
Cukup Jelas
34
Ayat (1)
Cukup Jelas
Ayat (2)
Cukup Jelas
Ayat (3)
Yang dimaksud dengan indikasi program utama dalam
ketentuan ini menggambarkan kegiatan yang harus
dilaksanakan untuk mewujudkan rencana struktur ruang
dan pola ruang wilayah kabupaten. Selain itu, juga
terdapat
kegiatan
lain,
baik
yang
dilaksanakan
sebelumnya, bersamaan dengan, maupun sesudahnya,
yang tidak disebutkan dalam Peraturan Daerah ini.

Ayat (4)
Cukup Jelas
Pasal 35
Cukup Jelas
Pasal 36
Cukup Jelas
70

Pasal 37
Cukup Jelas
Pasal 38
Cukup Jelas
Pasal 39
Cukup Jelas
Pasal 40
Cukup Jelas
Pasal 41
Ayat (1)
Cukup Jelas
Ayat (2)
Cukup Jelas
Ayat (3)
Cukup Jelas
Ayat (4)
Pembangunan menara sesuai dengan Peraturan Menteri
Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia Nomor:
02/PER/M.KOMINFO/3/2008
tentang
Pedoman
Pembangunan
dan
Penggunaan
Menara
Bersama
Telekomunikasi, Pembangunan Menara harus sesuai
dengan standar baku tertentu untuk menjamin
aspek
keamanan dan keselamatan aktivitas kawasan di
sekitarnya
dengan memperhitungkan faktor-faktor yang
menentukan kekuatan dan
kestabilan
konstruksi
Menara, antara lain:
a. tempat/space penempatan antena dan perangkat
telekomunikasi untuk penggunaan bersama;
b. ketinggian Menara;
c. struktur Menara;
d. rangka struktur Menara;
e. pondasi Menara; dan
f.
Pasal 42
Cukup
Pasal 43
Cukup
Pasal 44
Cukup
Pasal 45
Cukup
Pasal 46
Cukup
Pasal 47
Cukup

kekuatan angin.
Jelas
Jelas
Jelas
Jelas
Jelas
Jelas

71

Pasal 48
Cukup
Pasal 49
Cukup
Pasal 50
Cukup
Pasal 51
Cukup
Pasal 52
Cukup
Pasal 53
Cukup
Pasal 54
Cukup
Pasal 55
Cukup
Pasal 56
Cukup
Pasal 57
Cukup
Pasal 58
Cukup

Jelas
Jelas
Jelas
Jelas
Jelas
Jelas
Jelas
Jelas
Jelas
Jelas
Jelas

Pasal 59
Cukup Jelas
Pasal 60
Cukup Jelas
Pasal 61
Ayat (1)
Cukup Jelas
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan insentif dalam ketentuan ini
kemudahan yang diberikan terhadap pemberian izin
pemanfaatan ruang untuk mendorong tercapainya
perlindungan terhadap kawasan perencanaan.
Ayat (3)
Yang dimaksud dengan disinsentif dalam ketentuan ini
adalah pengekangan yang dilakukan terhadap pemberian
izin pemanfaatan ruang untuk membatasi kecenderungan
perubahan dalam pemanfaatan ruang.
Pasal 62
Cukup Jelas
Pasal 63
Ayat (1)
Cukup Jelas

72

Ayat (2)
Huruf a
Keringanan retribusi yang dimaksud dalam
ketentuan ini adalah pemberian keringanan
pembayaran pajak dan/atau retribusi terhadap
pemanfaatan ruang.
Huruf b
Pemberian kompensasi yang dimaksud dalam
ketentuan ini adalah pemberian imbalan pada
masyarakat yang tidak merubah pemanfaatan ruang
sesuai dengan ketentuan kebijakan operasional.
Huruf c
Pemberian
imbalan
yang
dimaksud
dalam
ketentuan ini adalah pemberian balas jasa pada
masyarakat yang mematuhi ketentuan pemanfaatan
ruang.
Huruf d
Sewa ruang yang dimaksud dalam ketentuan ini
adalah masyarakat berhak mendapatkan sewa
ruang sebagai akibat dari pemanfaatan ruang yang
sesuai fungsi dan dilakukan oleh pihak lain,
menurut ketentuan-ketentuan yang disepakati
bersama.
Huruf e
Urun saham yang dimaksud dalam ketentuan ini
adalah masyarakat berhak mendapatkan bagian
saham dari kegiatan pemanfaatan ruang yang
sesuai fungsi dan dilakukan oleh pihak lain,
menurut ketentuan-ketentuan yang disepakati
bersama.
Huruf f
Penyediaan infratruktur yang dimaksud dalam
ketentuan ini adalah penyediaan sarana dan
prasarana untuk mendukung pengembangan fungsi
ruang yang telah ditetapkan
Huruf g
Kemudahan prosedur perizinan yang dimaksud
dalam ketentuan ini adalah kemudahan dalam
proses perizinan bagi pemanfaatan ruang yang
sesuai dengan fungsinya untuk mendukung
pengembangan fungsi ruang yang telah ditetapkan.
Huruf h
Penghargaan yang dimaksud pada ketentuan ini
adalah penghargaan yang diberikan kepada
masyarakat yang mematuhi ketentuan pemanfaatan
ruang.
Pasal 64
Cukup Jelas
Pasal 65
Cukup Jelas

73

Pasal 66
Cukup Jelas
Pasal 67
Cukup Jelas
Pasal 68
Cukup Jelas
Pasal 69
Peraturan
perundang-undangan
yang
dimaksud
peraturan perundang-undangan bidang penataan ruang.
Pasal 70
Cukup Jelas
Pasal 71
Cukup Jelas
Pasal 72
Cukup Jelas
Pasal 73
Cukup Jelas
Pasal 74
Cukup Jelas
Pasal 75
Cukup Jelas
Pasal 76
Cukup Jelas
Pasal 77
Cukup Jelas
Pasal 78
Cukup Jelas
Pasal 79
Cukup Jelas
Pasal 80
Cukup Jelas

adalah

TAMBAHAN LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SUMBAWA BARAT TAHUN


2012 NOMOR

74