Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PENDAHULUAN

BRONKIEKTASIS
A. DEFINISI
Bronkiektasis adalah keadaan yang ditandai dengan dilatasi kronik bronkus dan
bronkiolus ukuran sedang (kira-kira percabangan keempat sampai ke sembilan). (Sylvia dan
Lorraine, 2006)
Bronkiektasis adalah pelebaran bronkus yang disebabkan oleh kelemahan dinding
bronkus yang sifatnya permanen. Diagnosis bronkiektasis ditegakkan dengan bantuan
bronkografi, namun sekarang tindakan bronkografi tidak banyak dilakukan, dan digantikan
oleh HRCT (High resolution computed tomography). Bronkiektasis sering pula dimasukkan
kedalam golongan penyakit infeksi saluran pernapasan dengan diagnosis bronkiektasis
terinfeksi. (Djojodibroto, 2006)
Bronkiektasis merupakan kelaianan bronkhus di mana terjadi pelebaran atau dlatasi
bronkus local dan permanen karena kerusakan struktur dinding. Bronkiektasis merupakan
kelainan saluran pernafasan yang sering kali tidak berdiri sendiri, akan tetapi dapat
merupakan bagian dari sindrom atau sebagai akibat (penyulit) dari kelainan paru yang lain
(Arif Muttaqin, 2008).
B. ANATOMI FISIOLOGI
Pernapasan atau respirasi adalah suatu peristiwa tubuh kekurangan oksigen,
kemudian oksigen yang berada diluar tubuh dihirup (inspirasi) melalui organ-organ
peernapasan, dan pada keadaan tertentu bila tubuh kelebihan karbondioksida maka tubuh
berusaha untuk mengeluarkannya dengan cara menghembuskan napas, sehingga terjadi
keseimbangan antara oksigen dan karbondioksida dalam tubuh (Syaifuddin, 2011)
Sistem pernapasan terdiri dari : Hidung, Faring, Laring, Trakea, Bronkus, Alveoli,
Alveolus, paru-paru,pleura.
Bronkus (cabang tenggorokan) merupakan lanjutan dari trakea. Bronkus terdapat
pada ketinggian vertebrae torakalis IV dan V. Bronkus mempunyai struktur sama dengan
trakea dan dilapisi oleh sejenis sel yang sama dengan trakea dan berjalan kebawah kea rah

tampuk paru. Bagian bawah trakea mempunyai cabang dua kiri dan kanan yang dibatasi oleh
garis pembtas. Setiap perjalanan cabang utama tenggorokan ke sebuah lekuk yang panjang
di tengah permukaan paru (syaifuddin, 2011).
Bronkus prinsipalis terdiri dari dua bagian:
1. Bronkus prinsipalis dextra: panjangnya
sekitar 2,5 cm masuk hilus pulmonalis
paru kanan, mempercabangkan bronkus
lubalis superior. Pada waktu masuk ke
hilus bercabang tiga menjadi bronkus
lobaris medius, bronkus lobaris medius,
bronkus lobaris inferior, dan bronkus
lobaris
V.azigos,

superior,

diatasnya

dibawahnya

A.

terdapat
pulmonalis

dextra.
2. Bronkus prinsipalis sinistra: lebih sempit
dan lebih panjang serta lebih horizontal dibandingkan bronkus dextra, panjangnya sekitar
5 cm, berjalan kebawah aorta dan didepan esophagus, masuk ke hilus pulmonalis kiri,
bercabang menjadi dua (bronkus lobaris superior dan bronkus lobaris inferior)
(syaifuddin, 2011).
C. ETIOLOGI
Bronkiektasis biasanya didapat pada masa anak-anak. Kerusakan bronkus pada
penyakit ini hamper selalu disebabkan oleh infeksi. Penyebab infeksi tersering adalah H.
influenza dan P. Aeruginosa. Infeksi oleh bakteri lain seperti klebsiela dan staphylococcus
Aureus disebabkan oleh absen atau terlambatnya pemberian antibiotic pada pengobatan
pneumonia. Bronkiektasis ditemukan pula pada pasien dengan HIV atau virus lainnya
seperti adenovirus atau virus influenza.
Faktor penyebab non infeksi yang dapat menyebabkan penyakit ini adalah paparan
substansi toksik, misalnya terhirup gas toksik (ammonia, aspirasi asam dari cairan lambung
dan lain-lain). Kemungkinan adanya factor inun yang terlibat belum diketahui dengan pasti
karena bronkiektasis dapat ditemukan pula pada pasien colitis ulseratif, reumathoid artritis,
dan sindrom sjorgen.

Faktor predisposisi terjadinya bronkiektasis dapat dibagi menjadi tiga, yaitu:


1. Kekurangan mekanisme pertahanan yang didapat atau kongenital, biasanya kelainan
imunologi berupa kekurangan globulin gamma atau kelainan imunitas seluler atau
kekurangan alfa-1antitripsin.
2. Kelainan struktur kongenital seperti fibrosis kistik, sindrom kartagener, kekurangan
kartilago bronkus, dan kifoskoliosis kongenital.
3. Penyakit paru primer seperti tumor paru, benda asing, atau tuberculosis paru.
D. PATOFISIOLOGI
Infeksi yang masuk ke tubuh merusak dinding bronchial, menyebabkan kehilangan
struktur pendukungnya dan menghasilkan sputum yang kental yang akhirnya dapat
menyumbat bronki dinding bronchial menjadi teregang secara permanen akibat batuk hebat.
Infeksi meluas kejaringan peribronkial sehingga dalam kasus bronkiaktasis sakular, setiap
tuba yang berdilatasi sebenarnya adalah abses paru, yang eksudatnya mengalir bebas melalui
bronkus.Bronkiektasis biasanya setempat, menyerang lobus atau segmen paru. Lobus yang
paling bawah lebih sering terkena. (Smeltzer, 2002)
Penumpukan secret dan timbulnya obstruksi pada akhirnya menyebabkan alveoli
distal menjadi terobstruksi dan kolaps (atelektasis). Jaringan parut akibat peradangan atau
fibrosis akan menggantikan fungsi dari jaringan paru-paru. Pada waktunya kondisi pasien
berkembang kearah insufisiensi pernapasan dengan tanda menurunya kapasitas vital,
penururnan ventilasi, dan peningkatan rasioresidual volume terhadap kapasitas total paruparu.Adanya kerusakan akan menyebabkan bercampurnya gas inspirasi (ventilasi-perfusi
imbalance) dan terjadi hipoksemia. (Smeltzer, 2002)
E. MANIFESTASI KLINIS
Bronkiektasis kongenital sering asimtomayik dan baru terdeteksi saat dewasa ketika
terjadi infeksi sekunder. Tanda-tanda fisik sering tidak ditemui, foto thoraks konvensional
tidak menggambarkan adanya kelainan walaupun kadang-kadang terdapat bayangan cincin
yang berdinding tipis yang dapat terlihat jelas. Jumlah sputum yang dihasilkan bervariasi,
mulai dari sedikit sampai beberapa ml perhari. Dapat dikatakan bahwa gejala bronkiektasis
adalah pengeluaran dahak yang banyak yang berasal dari lobus paru yang letaknya
bergantung. Pada infeksi sekunder kuman anaerobic, dahak tersebut berbau busuk. Dahak

sering disertai darah darah atau bahkan sering terdapat hemoptysis massif sehingga dapat
digolongkan sebagai keadaan gawat darurat. Hasil pemeriksaan fisik tergantung pada derajat
kerusakan patologik. Pada bentuk ringan tanpa komplikasi, pemeriksaan fisik tidak akan
menunjukan gejala kelainan. Pada tingkat yang lebih berat, dapat terdengar rales dan ronkhi
pada daerah yang terkena. Jari tabuh sering ditemukan pada pasien bronkiektasis yang telah
berlangsung lama. Jika terdapat infeksi, penyakit ini sering disertai demam. (Djojodibroto,
2006)
F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Pemeriksaan darah tepi : Biasanya ditemukan dalam batas normal. Kadang ditemukan
adanya leukositosis yang menunjukan adanya supurasi aktif dan anemia yang
menunjukan adanya infeksi menahun.
2. Pemeriksaan Urine: Ditemukan dalam batas normal, kadang ditemukan adanya
proteinuria yang bermakna dan disebabkan oleh amyloidosis. Namun immunoglobulin
serum biasanya dalam batas normal kadang bias meningkat atau menurun.
3. Pemeriksaan Sputum: Pemeriksaan sputum meliputi volume dan warna sputum serta selsel dan bakteri yang ada dalam sputum. Bila terdapat infeksi maka volume sputum akan
meningkat dan menjadi purulent serta mengandung lebih banyak leukosit dan bakteri.
4. Pemeriksaan Radiologi Thoraks Foto (AP dan Latersl): Biasanya ditemukan corakan paru
menjadi lebih kasar dan batas-batas corakan menjadi kabur, mengelompok, kadangkadang ada gambaran sarang tawon (honey comb structure) serta gambaran kistik dan
batas-batas permukaan udara cairan.
5. Pemeriksaan Bronkhogram: Bronkhogram tidak rutin dikerjakan, tetapi bila ada indikasi
dilakukan untuk mengevaluasi klien yang akan dioperasi.
G. PENATALAKSANAAN
Intervensi bertujuan untuk memperbaiki drainase secret dan mengobati infeksi.
Penatalaksanaan tersebut meliputi:
1. Pemberian antibiotic dengan spectrum luas (Amfisilim, kotrimoksasol, atau amoksisilin)
selama 5-7 hari pemberian.
2. Postural drainase, latihan fisioterapi untuk pernapasan, serta batuk yang efektif untuk
mengeluarkan secret secara maksimal.
H. PATHWAY

Kekurangan mekanisme
pertahanan yang didapat
/kongenital

Pneumonia berulang

Kelainan Struktur kongenital

Infeksi bakteri pada dinding


bronkus

Kerusakan pada jaringan otot dan


elastin
Kerusakan permanen pada
dinding bronkus

Penyakit paru primer (tumor,


benda asing, tb paru)
Jalan napas bronkial mnyempit

Atelektasis, penyerapan udara di


parenkim, dan sekitarnya
tersumbat
Tekanan intrapleura lebih
negative dari tekanan atmosfer

Kerusakan bronkus yang


menetap

Peningkatan produksi mucus dan


penurunan kemampuan batuk
efektif
Ketidakefektifan bersihan jalan
napas
Risiko tinggi infeksi pernapasan

Bronkus dilatasi

Peningkatan usaha dan frekuensi


pernapasan, penggunaan otot
bantu pernapasan

Respon sistemis dan psikologis

Peningkatan kerja Pernapasan,


hipoksemia secara reversibel

Keluhan sistemis, mual, intake


nutrisi tidak adekuat, malaise,
kelemahan, dan keletihan fisik

Gangguan pertukaran gas


Perubahan pemenuhan nutrisi
kurang dari kebutuhan.

Keluhan psikososial, kecemasan,


ketidaktahuan akan prognosis

Kecemasan
Ketidaktahuan/ pemenuhan
informasi.

I. ASUHAN KEPERAWATAN
Gangguan pemenuhan ADL
1. Pengkajian
a. Anamnesis
Bronkhiektasis merupakan penyakit yang sering dijumpai pada usia muda, 69%
penderita berumur dari 20 tahun. Gejala dimulai sejak masa kanak-kanak, 60% dari
penderita gejalanya timbul sejak umur kurang dari 10 tahun. Gejalanya bergantung pada
luas, berat, lokasi, dan ada/tidaknya komplikasi.

Batuk kronis adalah keluhan utama bronkiektasis. Klien biasanya mempunyai


riwayat merokok dan riwayat batuk kronis yang lama, tinggal atau bekerja di area
dengan polusi udara berat, adanya riwayat alergi pada keluarga, adanya riwayat asma
pada anak-anak.
Batuk dengan sputum menyertai batuk pilek selama 1-2 minggu atau tidak ada
gejala sama sekali (bronkiktasis ringan). Batuk yang terus menerus dengan sputum yang
banyaknya 200-300 cc, disertai demam, tidak ada nafsu makan, penurunan berat
badan, anemia, nyeri pleura, dan lemah badan kadang-kadang sesak napas dan sianosis.
Selain itu, sputum juga sering mengandung bercak darah dan batuk darah. Pada
pemeriksaan tangan klien dengan bronkiektasis sering ditemukan jari-jari tabuh
(clubbing finger) pada hamper sekitar 30-50% kasus.
b. Pemeriksaan Fisik
- Inspeksi: Klien dengan bronkiktasis terlihat mengalami batuk-batuk dengan sputum
yang banyak terutama pada pagi hari serta setelah tiduran dan berbaring. Pada
inspeksi, bentuk dada biasanya normal. Adanya batuk darah sering dijumpai pada
sekitar 50 % dari klien dengan bronkiektasis biasanya bersifat massif karena sering
melibatkan pecahnya pembuluh darah arteri yang meregang pada dinding bronkus
dan melemahnya dinding bronkus akibat stimulus batuk lama dapat menyebabkan
-

batuk darah massif.


Palpasi: Pada palpasi, ekspansi paru meningkat dan taktil fremitus biasanya

menurun.
Perkusi: pada perkusi, didapatkan suara normal sampai hipersonor.
Auskultasi: Sering didapatkan adanya bunyi napas ronchi dan wheezing sesuai
tingkat keparahan obstruksi pada bronnkus.

2. Diagnosa keperawatan
a. Ketidakefektifan bersihan jalan napas berhubungan dengan
b. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan
c. Risiko infeksi berhubungan dengan
d. Ganguan pemenuhan kebutuhan nutrisis kurang dari kebutuhan berhubungan dengan

N
O

Diagnosa
Keperawatan

Tujuan Dan Criteria Hasil

Intervensi

Bersihan Jalan Nafas NOC :


tidak Efektif
v Respiratory status : Ventilation
v Respiratory status : Airway

Definisi
: patency
Ketidakmampuan
v Aspiration Control

untuk membersihkan
sekresi atau obstruksi Kriteria Hasil :
dari saluran pernafasan
v Mendemonstrasikan
batuk

untuk
efektif dan suara nafas yang
mempertahankan
bersih, tidak ada sianosis dan

kebersihan jalan nafas. dyspneu


(mampu
mengeluarkan sputum, mampu

Batasan Karakteristik : bernafas dengan mudah, tidak


Dispneu, Penurunan ada pursed lips)
v Menunjukkan jalan nafas yang
suara nafas
paten (klien tidak merasa

Orthopneu
tercekik,
irama
nafas,
Cyanosis

Kelainan
suara frekuensi pernafasan dalam
nafas (rales, wheezing) rentang normal, tidak ada
Kesulitan berbicara suara nafas abnormal)
v Mampu
mengidentifikasikan
Batuk, tidak efekotif
dan mencegah factor yang

atau tidak ada


dapat menghambat jalan nafas
Mata melebar
Produksi sputum

Gelisah
Perubahan frekuensi
dan irama nafas
Faktor-faktor
yang
berhubungan:
Lingkungan
:
merokok, menghirup
asap rokok, perokok
pasif-POK, infeksi
Fisiologis
:
disfungsi
neuromuskular,
hiperplasia
dinding
bronkus, alergi jalan
nafas, asma.

NIC :
Airway suction
Pastikan kebutuhan oral /
tracheal suctioning
Auskultasi
suara
nafas
sebelum
dan
sesudah
suctioning.
Informasikan pada klien dan
keluarga tentang suctioning
Minta klien nafas dalam
sebelum suction dilakukan.
Berikan
O2
dengan
menggunakan nasal untuk
memfasilitasi
suksion
nasotrakeal
Gunakan alat yang steril sitiap
melakukan tindakan
Anjurkan pasien untuk istirahat
dan napas dalam setelah
kateter
dikeluarkan
dari
nasotrakeal
Monitor status oksigen pasien
Ajarkan keluarga bagaimana
cara melakukan suksion
Hentikan suksion dan berikan
oksigen
apabila
pasien
menunjukkan
bradikardi,
peningkatan saturasi O2, dll.
Airway Management
Buka jalan nafas, guanakan
teknik chin lift atau jaw thrust
bila perlu
Posisikan pasien untuk
memaksimalkan ventilasi
Identifikasi pasien perlunya
pemasangan alat jalan nafas
buatan
Pasang mayo bila perlu
Lakukan fisioterapi dada

Obstruksi
jalan
nafas : spasme jalan
nafas, sekresi tertahan,
banyaknya
mukus,
adanya jalan nafas
buatan,
sekresi
bronkus,
adanya
eksudat di alveolus,
adanya benda asing di
jalan nafas.

jika perlu
Keluarkan sekret dengan
batuk atau suction
Auskultasi suara nafas,
catat adanya suara tambahan
Lakukan suction pada mayo
Berikan bronkodilator bila
perlu
Berikan pelembab udara
Kassa basah NaCl Lembab
Atur intake untuk cairan
mengoptimalkan
keseimbangan.
Monitor respirasi dan status
O2

Gangguan Pertukaran NOC :


gas
v Respiratory Status : Gas
exchange
Definisi : Kelebihan
v Respiratory Status : ventilation
atau kekurangan dalam
v Vital Sign Status
oksigenasi dan atau Kriteria Hasil :
pengeluaran
v Mendemonstrasikan
karbondioksida
di peningkatan ventilasi dan
dalam
membran oksigenasi yang adekuat
kapiler alveoli
v Memelihara kebersihan paru
paru dan bebas dari tanda
Batasan karakteristik : tanda distress pernafasan
Gangguan
Mendemonstrasikan
batuk
penglihatan
efektif dan suara nafas yang
Penurunan CO2
bersih, tidak ada sianosis dan
Takikardi
dyspneu
(mampu
Hiperkapnia
mengeluarkan sputum, mampu
Keletihan
bernafas dengan mudah, tidak
somnolen
ada pursed lips)
Iritabilitas
Tanda tanda vital dalam rentang
Hypoxia
normal
kebingungan
Dyspnoe
nasal faring
AGD Normal

Kaji suara paru, frekuensi


napas, kedalaman, dan usaha
napas, dan produksi sputum.
Pantau saturasi O2 dengan
oksimetri nadi
Pantau hasil gas darah
Pantau kadar elektrolit
Manajemen jalan napas:
Atur
posisi
untuk
memaksimalkan
potensial
ventilasi
Atus
posisi
untuk
mengurangi dyspnea
Pasang
jalan
napas
memalui
mulut
atau
nasofaring, sesuai dengan
kebutuhan
Bersihkan secret dengan
menganjurkan batuk atau
melalui pengisapan
Dukung untuk bernapas
pelan, dalam dan batuk.
Lakukan fisioterapi dada
bila perlu.

sianosis
warna kulit abnormal
(pucat, kehitaman)
Hipoksemia
hiperkarbia
sakit kepala ketika
bangun
frekuensi
dan
kedalaman
nafas
abnormal

Faktor faktor yang


berhubungan :
ketidakseimbangan
perfusi ventilasi
perubahan membran
kapiler-alveolar
Ketidakseimbangan
NOC :
nutrisi kurang dari
v Nutritional Status : food and
kebutuhan tubuh
Fluid Intake

Kriteria Hasil :

Definisi : Intake nutrisi


v Adanya peningkatan berat
tidak cukup untuk badan sesuai dengan tujuan
keperluan metabolisme
v Berat badan ideal sesuai dengan
tubuh.
tinggi badan

v Mampu
mengidentifikasi
Batasan karakteristik : kebutuhan nutrisi

Berat badan 20 %
v Tidak
ada
tanda
tanda
atau lebih di bawah malnutrisi
ideal
v Tidak terjadi penurunan berat

Dilaporkan adanya badan yang berarti

intake makanan yang


kurang dari RDA
(Recomended
Daily

Allowance)
Membran
mukosa
dan konjungtiva pucat

Kelemahan otot yang


digunakan
untuk
menelan/mengunyah

NIC :
Nutrition Management
Kaji adanya alergi makanan
Kolaborasi dengan ahli gizi
untuk menentukan jumlah
kalori dan nutrisi yang
dibutuhkan pasien.
Anjurkan
pasien
untuk
meningkatkan intake Fe
Anjurkan
pasien
untuk
meningkatkan protein dan
vitamin C
Berikan substansi gula
Yakinkan diet yang dimakan
mengandung tinggi serat
untuk mencegah konstipasi
Berikan makanan yang terpilih
(
sudah
dikonsultasikan
dengan ahli gizi)
Ajarkan pasien bagaimana
membuat catatan makanan
harian.
Monitor jumlah nutrisi dan

Luka, inflamasi pada


rongga mulut
Mudah
merasa
kenyang, sesaat setelah
mengunyah makanan
Dilaporkan atau fakta
adanya
kekurangan
makanan
Dilaporkan adanya
perubahan sensasi rasa
Perasaan
ketidakmampuan
untuk
mengunyah
makanan
Miskonsepsi
Kehilangan
BB
dengan
makanan
cukup
Keengganan
untuk
makan
Kram pada abdomen
Tonus otot jelek
Nyeri
abdominal
dengan atau tanpa
patologi
Kurang
berminat
terhadap makanan
Pembuluh
darah
kapiler mulai rapuh
Diare
dan
atau
steatorrhea
Kehilangan rambut
yang cukup banyak
(rontok)
Suara usus hiperaktif
Kurangnya informasi,
misinformasi
Faktor-faktor
berhubungan :

kandungan kalori
Berikan informasi tentang
kebutuhan nutrisi
Kaji kemampuan pasien untuk
mendapatkan nutrisi yang
dibutuhkan

yang

Nutrition Monitoring
BB pasien dalam batas normal
Monitor adanya penurunan
berat badan
Monitor tipe dan jumlah
aktivitas yang biasa dilakukan
Monitor interaksi anak atau
orangtua selama makan
Monitor lingkungan selama
makan
Jadwalkan pengobatan dan
tindakan tidak selama jam
makan
Monitor kulit kering dan
perubahan pigmentasi
Monitor turgor kulit
Monitor kekeringan, rambut
kusam, dan mudah patah
Monitor mual dan muntah
Monitor kadar albumin, total
protein, Hb, dan kadar Ht
Monitor makanan kesukaan
Monitor pertumbuhan dan
perkembangan
Monitor pucat, kemerahan, dan
kekeringan
jaringan
konjungtiva
Monitor kalori dan intake
nuntrisi
Catat
adanya
edema,
hiperemik, hipertonik papila
lidah dan cavitas oral.
Catat jika lidah berwarna

Ketidakmampuan
pemasukan
atau
mencerna
makanan
atau mengabsorpsi zatzat gizi berhubungan
dengan faktor biologis,
psikologis
atau
ekonomi.
Resiko infeksi
v
Definisi : Peningkatan
v
resiko
masuknya
v
organisme patogen
v
Faktor-faktor resiko :
Prosedur Infasif v
Ketidakcukupan
pengetahuan
untuk
menghindari paparan
patogen
Trauma
v
Kerusakan jaringan
dan
peningkatan
paparan lingkungan v
Ruptur
membran
amnion
v
Agen
farmasi
(imunosupresan)
Malnutrisi
Peningkatan
paparan
lingkungan
patogen
Imonusupresi
Ketidakadekuatan
imum buatan
Tidak
adekuat
pertahanan sekunder
(penurunan
Hb,
Leukopenia,
penekanan
respon

magenta, scarlet

NOC :
Immune Status
Knowledge : Infection control
Risk control
Kriteria Hasil :
Klien bebas dari tanda dan
gejala infeksi
Mendeskripsikan
proses
penularan penyakit, factor
yang
mempengaruhi
penularan
serta
penatalaksanaannya,
Menunjukkan
kemampuan
untuk mencegah timbulnya
infeksi
Jumlah leukosit dalam batas
normal
Menunjukkan perilaku hidup
sehat

NIC :
Infection Control (Kontrol
infeksi)
Bersihkan
lingkungan
setelah dipakai pasien lain
Pertahankan teknik isolasi
Batasi pengunjung bila
perlu
Instruksikan
pada
pengunjung untuk mencuci
tangan saat berkunjung dan
setelah
berkunjung
meninggalkan pasien
Gunakan
sabun
antimikrobia
untuk
cuci
tangan
Cuci tangan setiap sebelum
dan
sesudah
tindakan
kperawtan
Gunakan
baju,
sarung
tangan sebagai alat pelindung
Pertahankan
lingkungan
aseptik selama pemasangan
alat
Ganti letak IV perifer dan
line central dan dressing
sesuai dengan petunjuk umum
Gunakan kateter intermiten
untuk menurunkan infeksi
kandung kencing
Tingktkan intake nutrisi
Berikan terapi antibiotik

inflamasi)
Tidak
adekuat
pertahanan
tubuh
primer (kulit tidak
utuh, trauma jaringan,
penurunan kerja silia,
cairan tubuh statis,
perubahan sekresi pH,
perubahan peristaltik)
Penyakit kronik

bila perlu
Infection
Protection
(proteksi terhadap infeksi)
Monitor tanda dan gejala
infeksi sistemik dan lokal
Monitor hitung granulosit,
WBC
Monitor
kerentanan
terhadap infeksi
Batasi pengunjung
Saring pengunjung terhadap
penyakit menular
Partahankan teknik aspesis
pada pasien yang beresiko
Pertahankan teknik isolasi
k/p
Berikan perawatan kuliat
pada area epidema
Inspeksi kulit dan membran
mukosa terhadap kemerahan,
panas, drainase
Ispeksi kondisi luka / insisi
bedah
Dorong masukkan nutrisi
yang cukup
Dorong masukan cairan
Dorong istirahat
Instruksikan pasien untuk
minum antibiotik sesuai resep
Ajarkan
pasien
dan
keluarga tanda dan gejala
infeksi
Ajarkan cara menghindari
infeksi
Laporkan
kecurigaan
infeksi
Laporkan kultur positif