Anda di halaman 1dari 25

Jantung, Sistem Enzim di Jantung dan Elektrokardiogram

Elbert Aldrin Harijanto


10-2013-030
Fakultas Kedokteran Universitas Krida Wacana
Jl. Arjuna Utara No 6, Jakarta
E-mail : e.a.harijanto@gmail.com

Pendahuluan
Jantung merupakan organ muscularis yang mempunyai rongga di dalamnya dan
berbentuk kerucut (conus) dengan ukuran sebesar kepal/tinju pemiliknya. Jantung bersandar
pada diaphragma di antara bagian inferior kedua paru dan dibungkus oleh membran khusus
yang disebut pericardium.
Jantung terletak di dalam mediastinum media pars inferior, di sebelah ventral ditutupi
oleh sternum dan cartilago costalis III VI. Apex kerucut terletak di inferior, anterior dan ke
sinistra. Hampir 2/3 bagian jantung terletak di sebelah sinistra bidang media.1
Jantung terdiri atas empat ruang, yaitu dua ruang yang berdinding tipis disebut atrium
(serambi) dan dua ruang yang berdinding tebal disebut ventrikel (bilik). Fungsi kontraktilitas
otot jantung sebagai pompa merupakan bagian terpenting dari fungsi jantung.2

Strutur Makroskopis Jantung


Jantung pada manusia dewasa mempunyai ukuran panjang 12 cm, lebar 8 - 9 cm
dengan diameter anteroposterior 6 cm. Berat jantung seorang laki-laki sekitar 280 - 350 gram
sedangkan jantung pada seorang perempuan berkisar 230 - 280 gram.

Pericardium

Pericardium merupakan kantung serofibrosa, berbentuk conus, berisi jantung dan


pangkal pembuluh darah besar. Terletak pada mediastrinum, di posterior corpus sterni dan
cartilago costalis II IV, di anterior vertebra thoracalis V VIII.
Pericardium terdiri dari dua saccus yang berhubungan erat satu sama lain tetapi
berbeda struktur, yaitu :
-

Saccus externa dikenal sebagai pericardium fibrosa, terdiri dari jaringan ikat

fibrosa
Saccus interna dikenal sebagai pericardium serosa, merupakan membran halus
yang berbatasan dengan saccus fibrosa dan meliputi jantung.

Jantung pada pertumbuhannya mengadakan invaginasi dinding saccus serosa dari atas
dan bawah sehingga praktis menutupi rongga tersebut sehingga hanya merupakan ruang
potensial saja.
Pericardium Fibrosa
Merupakan kantong berbentuk conus, ke superior menyempit dan melanjut sebagai
lapisan luar pembuluh darah besar dan fascia pretrachealis, ke arah inferior melekat pada
centrum tendineum dan pars muscularis diaphragma sinistra. Pericardium fibrosa
mengadakan perlekatan pada dataran posterior sternum lewat :
1. Lig. pericardiacosternalis superior : berhubungan dengan ujung superior corpus
sternum.
2. Lig. pericardiacosternalis inferior : berhubungan dengan ujung superior corpus
sterni.
Hubungan ini berfungasi untuk memelihara jantung tetap di posisinya dan mencegah
over distensi. Pericardium fibrosa di anterior dipisahkan oleh paru dan pleura terhadap
dinding anterior thorax. Di posterior pericardium fibrosa berhubungan dengan bronchus,
oesophagus, plexus esophagei, aorta descendens, dam fascia mediastinalis bagian posterior
paru.
Di sebelah lateral pericardium ini tertutup oleh pleura dan berhubungan dengan
fascies mediastinalis paru dan n. phrenicus. Di sebelah caudal melekat pada centrum
tendineum diaphragma. Pembuluh darah yang terbungkus oleh pericardium fibrosa adalah
aorta, V. cava superior, A. pulmonalis dextra dan sinistra, serta keempat Vv. pulmonales.
2

Pericardium Serosa
Merupakan kantung tertutup yang berhubungan dengan pericardium fibrosa dan
didesak (invaginasi) jantung sehingga terbentuk pars parietalis dan pars visceralis, hal mana
memudahkan jantung bergerak bebas dalam pericardium fibrosa.
Pars visceralis = epicardium, membungkus jantung dan pembuluh darah besar, dan
pada pembuluh darah ini pars visceralis mengadakan reflexi (pelipatan balik) menjadi pars
parietalis yang bersuperioran dengan pericardium fibrosa.
Bagian pericardium serosa yang menutupi pembuluh darah seolah-olah tersusun
dalam bentuk 2 tabung, yaitu :
1. Aorta dan truncus pulmonalis tersusun dalam satu tabung
2. V. cava superior et inferior dan keempat vv. pulmonales tersusun dalam tabung
yang lain yang perletakannya terhadap pars parietalis membentuk sinus huruf U
terbalik yang terletak di posterior atrium sinistrum dan disebut sebagai sinus
obliquus pericardii. Sedangkan sinus yang terletak di antara aorta, truncus
pulmonalis di sebelah anterior dan atrium di sebelah posterior disebut sinus
transversus pericardii.
Dinding Jantung
Dinding jantung terdiri dari tiga lapis, yaitu epicardium, myocardium, dan
endocardium. Epicardium merupakan lapis terluar dari dinding jantung. Lapisan dalam
epicardium disebut dengan membrana serosa (pericardium viscerale), merupakan selapis sel
squamosa yang bersandar pada lamina propia jaringan ikat halus. Di antara membrana serosa
dengan myocardium terdapat jaringan ikat fibrosaelastis. Jaringan ikat ini bercampur dengan
jaringan lemak yang mengisi cela dan sulcus sehingga permukaan jantunga tampak halus.
Pembuluh darah besar dan saraf terdapat di dalam lapisan ini.
Myocardium, merupakan lapis tengah dinding jantung. Myocardium tersusun dari
beberapa lapis otot jantung. sedangkan endocardium merupakan lapis terdalam dinding
jantung. Endocardium merupakan lapisan sel squamosa endothelial dan melanjut pada
endothel pembuluh darah yang melapisi permukaan dalam rongga jantung.

Walaupun jantung bebas bergerak dan tidak melekat pada organ sekitarnya, untuk
menjaga supaya tetap di tempatnya, hal ini dilakukan oleh pembuluh darah besar dan
pericardium.1
Ruang-Ruang Jantung
Jantung merupakan suatu organ otot berongga yang terletak di pusat dada. Jantung
mempunyai dua sisi, dimana setiap sisi bekerja sebagai pompa terpisah. Setiap sisi dibagi lagi
menjadi 2 ruangan, jadi keseluruhannya ada 4 ruangan. Dua ruangan di bagian atas yaitu
atrium yang berfungsi sebagai tempat menampung, dua dibawah, ventrical, berkontraksi
memompa darah. Sisi kanan jantung menerima darah dari seluruh tubuh melalui pembuluh
vena dan memompa ke paru untuk mengambil oksigen. Sisi kiri jantung menampung darah
yang balik dari paru-paru dan memompa keseluruh jaringan tubuh yang memerlukan oksigen.
Keempat ruangan dari jantung, yaitu:
1. Atrium kanan
Darah vena mengalir kedalam jantung melalui vena kava superior dan inferior
masuk ke dalam atrium kanan, yang tertampung selama fase sistol ventrikel.
Secara anatomis atrium kanan terletak agak ke depan dibanding dengan ventrikel
kanan atau atrium kiri. Pada bagian antero- superior atrium kanan terdapat
lekukan ruang atau kantung berbentuk daun telinga disebut aurikel.Permukaan
endokardium atrium kanan tidak sama; pada posterior dan septal licin dan rata,
tetapi daerah lateral dan aurikel permukaannya kasar dan tersusun dari serabut
serabut otot yang berjalan paralel yang disebut otot pektinatus.Tebal rata rata
dinding atrium kanan adalah 2 mm.
2. Ventrikel kanan
Letak ruang ini paling depan di dalam rongga dada, yaitu tepat dibawah
manubrium sterni.Sebagian besar ventrikel kanan berada di kanan depan ventrikel
kiri dan di medial atrium kiri. Perbedaan bentuk kedua ventrikel dapat dilihat pada
potongan melintang.Ventrikel kanan berbentuk bulan sabit atau setengah bulatan,
berdinding tipis dengan tebal 4 5 mm. Secara fungsional ventrikel kanan dapat
dibagi dalam alur masuk dan alur keluar.Ruang alur masuk ventrikel kanan ( right
ventricular inflow tract) dibatasi oleh katup trikuspid, trabekula anterior dan
dinding inferior ventrikel kanan.Sedangkan alur keluar ventrikel kanan (right
ventricular outflow tract) berbentuk tabung atau corong, berdinding licin terletak
dibagian superior ventrikel kanan yang disebut infundibulum atau konus
4

arteriosus.Alur masuk dan alur keluar dipisahkan oleh krista supraventrikuler yang
terletak tepat di atas daun katup trikuspid.
3. Atrium kiri
Menerima darah dari empat vena pulmonal yang bermuara pada dinding postero
superior atau postero-lateral, masing - masing sepasang vena kanan dan kiri.Letak
atrium kiri adalah di posterior-superior ari ruang jantung lain, sehingga pada foto
sinar tembus dada tidak tampak.Tebal dindingnya 3 mm, sedikit lebih tebal
daripada dinding atrium kanan.Endokardiumnya licin dan otot pektinati hanya ada
pada aurikelnya.
4. Ventrikel kiri
Berbentuk lonjong seperti telur, dimana bagian ujungnya mengarah ke anteroinferior kiri menjadi apeks kordis.Bagian dasar ventrikel tersebut adalah anulus
mitral. Tebal dinding ventrikel kiri adalah 2- 3 kali lipat diding ventrikel kanan.
Tebal dinding ventrikel kiri saat diastol adalah 8 12 mm.
Katup Katup Jantung
Fungsi dari katup jantung adalah untuk mempertahankan aliran satu arah. Katup
mitral (bikuspidalis) dan trikuspidalis letaknya mendatar. Selama sistolik ventrikel tepi daun
katup yang bebas saling menyentuh dan adanya tarikan chordae mencegah terjadinya eversi.
M. papillaris bisa mengalami ruptur sebagai komplikasi infark miokard. Secara klinis
terdengar sebagai murmur pansistolik yang menandai adanya aliran regurgitasi darah dari
ventrikel ke atrium. Katup aorta dan pulmonal terdiri dari tiga daun katup semilunaris yang
berbentuk cangkir. Selama diastolik ventrikel tekanan darah yang ada di atas katup
menyebabkan terjadinya pengisian dan kemudian penutupan katup.3
Pendarahan Jantung
Jantung mendapatkan darah dari arteria coronaria dextra dan sinistra, yang berasal
dari aorta ascendens tepat di atas valve aortae. Arteriae coronariae dan cabang-cabang
utamanya terdapat di permukaan jantung, terletak di dalam jaringan ikat subepicardial.
Pembuluh Nadi Jantung
Arteria coronaria dextra berasal dari sinus anterior aortae dan berjalan ke depan di
antara truncus pulmonalis dan auricular dextra. Arteri ini berjalan turun hampir vertical di
dalam sulcus atrioventriculare dextra, dan pada pinggir inferior jantung pembuluh ini
melanjutkan ke posterior sepanjang sulcus atrioventricularis untuk beranastomosis dengan

arteria coronaria sinistra. Cabang-cabang arteria coronaria dextra mendarahi atrium dextrum
dan ventriculus dexter, sebagian dari atrium sinistrum dan ventriculus sinister, dan septum
atrioventriculare.
Arteria coronaria sinistra, yang biasanya lebih besar dibandingkan dengan arteria
coronaria dexter, mendarahi sebagian besar jantung, termasuk sebagian besar atrium sinister,
ventrikulus sinister, dan septum ventriculare. Arteria ini berasal dari posterior kiri sinus
aortae aorta ascendens danberjalan ke depan di antara truncus pulmonalis dan auricular
sinister. Kemudian pembuluh ini berjalan di sulcus atrioventricularis dan bercabang dua
menjadi ramus interventricularis anterior dan ramus circumflexus.
Pembuluh Balik Jantung
Sebagian besar darah dari dinding jantung mengalir ke atrium kanan melalui sinus
coronaries yang terletak pada bagian posterior sulcus atrioventricularis dan merupakan
lanjutan dari vena cardiaca magna. Pembuluh ini bermuara ke atrium dextrum sebelah kiri
vena cava inferior. Vena cardiaca parva dan vena cardiaca media merupakan cabang sinus
coronaries. Sisanya dialirkan ke atrium dextrum melalui vena ventriculi dextri anterior dan
melalui vena-vena kecil yang bermuara langsung ke ruang-ruang jantung.4
Persarafan jantung
Jantung menerima persarafan simpatis dan parasimpatis sehingga denyut jantung bisa
dikendalikan sesuai kebutuhan. Persarafan parasimpatis (efek bradikardi) berasal dari n.
vagus. Persarafan simpatis (efek takikardi dan inotropik positif) berasal dari ganglia simpatis
servikalis dan torakalis atas melalui pleksus cordis superfisialis dan profunda.
Nervus phrenicus
N. phrenicus keluar dari radiks saraf C3, C4, dan C5 di leher. N. phrenicus dextra
turun sepanjang jalur yang hampir vertikal, di sebelah anterior pangkal paru, berdampingan
dengan: v. brachiocephalica dextra, v. cava superior, dan atrium kanan sebelum melewati
pintu v. cava inferior pada diafragma (T8). Di sini n. phrenicus memasuki pintu cava dan
langsung menembus diafragma yang dipersarafinya. N. phrenicus sinistra turun sepanjang a.
subclavia sinistra. Pada arcus aorta nervus ini melewati v. intercostalis superior sinistra dan
turun di depan pangkal paru kiir menuju perikardium yang terletak di atas ventrikel kiri.
Nervus ini kemudian melubangi otot diafragma sebagai struktur soliter.N. phrenicus sebagian
6

besar terdiri dari serabut motoris yang mempersarafi diafragma. Namun, ada juga serabut
sensoris menuju perikardium fibrosa, pleura mediastinal dan peritoneum, serta bagian tengah
diafragma.
Nervus vagus
N. vagus dextra turun melekat pada trakea torakalis sebelum lewat di belakang
pangkal paru untuk membentuk pleksus pulmonalis posterior. Akhirnya nervus ini mencapai
esofagus bawah di mana terbentuk pleksus esofageal dengan vagus sinistra. Dari pleksus ini,
trunkus vagal anterior dan posterior turun pada esofagus dan lewat ke abdomen melalui pintu
abdomen pada diafragma setinggi T10. N. vagus sinistra menyilang arcus aorta dan cabangcabangnya. Di sini, dengan sendirinya nervus ini disilang oleh v. intercostalis superior
sinistra. Di bawah, nervus ini turun di belakang pangkal paru untuk mencapai esofagus di
mana nervus ini bergabung membentuk pleksus esofageal seperti telah disebutkan di atas.
Truncus simpatis thoracalis
Rantai simpatis thoracalis adalah kelanjutan dari rantai servikalis. Rantai ini turun
sepanjang toraks di belakang pleura tepat di lateral korpus vertebralis dan lewat di bawah
ligamentum arkuata mediale diafragma dan berlanjut sebagai truncus simpatis lumbalis.
Rantai thoracalis membawa ganglion untuk tiap saraf spinalis; yang teratas seringkali
bergabung dengan ganglion servikalis inferior membentuk ganglion stelata. Tiap ganglion
menerima ramus komunikans alba yang mengandung serabut preganglionik dari saraf spinalis
yang berhubungan dan mengirim balik ramus grisea, yang membawa serabut postganglionik.
Pleksus kordis
Cabang kordis dari pleksus ini mempersarafi jantung dimana saraf ini berjalan
bersama a. coronaria sebagai kontrol vasomotor dan mempersarafi nodus sino-atrial serta
atrioventrikular dengan fungsi kardio-inhibisi dan kardio-akselerasi. Cabang pulmonal
mempersarafi otot polos dinding bronkial dan pembuluh darah pulmonal sebagai kontrol
vasomotor.3
Struktur Mikroskopis Jantung
1. Dinding jantung
Dinding jantung baik atrium dan ventrikulus terdiri atas 3 lapisan utama yaitu:
Endocardium, Myocardium, Epicardium.
7

Endokardium, analog dengan tunika intima, tersusun atas endotel dengan jaringan
ikat longgar dan fibroblas. Di bawah endokardium dapat ditemukan lapis subendokardium
yang terususn atas jaringan ikat longgar. Lapissubendokardium memiliki serabut Purkinje
yang membentuk sistem penghantaran kelistrikan di jantung.
Miokardium merupakan lapisan tengah yang paling tebal dari ketiga lapis jantung.
Identik denagan tunika media. Miokardium memiliki fungsi untuk menghasilkan kontraksi
otot jantung yang mempoma arah. Beberapa miokardium memiliki fungsi khusus,yakni
mengandung granul sekretori seperti atriopeptin, ANP, cardiodilatin, dan cardionatrin.
Miokardium denganfungsi khusus ini umumnya terletak di dinding atrium amupun di septum
interventrikularis jantung.
Epikardium merupakan lapis terluar dinding jantung yang memiliki nama lain pars
visceral perikardium parietal. Identik dengan tunika adventisia. Epiakardium tersusun atas
mesotel (sel epitel selapis). Lapis subepikardium banyak memiliki pembuluh darahkoroner,
saraf, dan ganglion. Lemak juga dapat ditimpu

2. Katup jantung
Katup jantung adalah lempengan jaringan ikat yang berpangkal pada anulus fibrosus.
- Katub antioventrikular
: Katup ini terdiri dari katup mitral dan katup trikuspid.
- Katup mitral
: menghunungkan atrium kiri dan ventrikel kiri
- Katup trikuspid
: menghubungkan atrium kanan dengan ventrikel
kanan.

3. Struktur arteri dan vena


a. Arteri
Darah dibawa dari jantung kejala kapiler dijaringan melalui arteri, dimulai dari aorta
dan dengan arteri pulmonalis darah dibawa dari jantung. Dalam perjalanannya arteri
bercabang-cabang makin jauh dari pembuluh darah, ukurannya akan semakin kecil, namun
penampang lintang pembuluh darah makin besar, akibatnya aliran darah dalam kapiler makin
melambat sehingga kesempatan pertukaran zat dengan jaringan makin longgar. Struktur arteri
berbeda-beda menurut fungsi yang dipikul nya, dinding dari arteri besar atau arteri elastis,
misalnya: aorta, arteri pulmonalis, arteri karotis mengandung lembaran serabut elastis yang
berjendela.
Dinding arteri terdiri atas 3 lapisan pokok yakni :
1. Tunika intima, merupakan lapisan otot dan beberapa unsur yang terususun longitudinal.
8

2. Tunika media, merupakan lapisan otot paling tebal, terdiri atas unsur yang tersusun
melingkar.
3. Tunika adventitia, terdiri atas unsur-unsur yang tersusun longitudinal.
-

Arteriola dan Arteri kecil


Tunica intima dari arteriola disusun oleh endothelium dan dikelilingi oleh tunika
media yang terdiri atas satu lapisan serabut otot polos. Pada arteriola yang lebih besar, diluar
tunika intima terdapat membrana elastika interna, dibawah endothelium terlihat sebagai garis
mengkilat dan bergelombang karena kontraksi ototnya. Tunika media dari arteri kecil terdiri
atas beberapa sel otot polos dengan ukuran 15-20 m, pada potongan melintang terlihat
mengelilingi lumen. Tunica adventitia tebalnya hampir sama dengan tunika media, terdiri atas
serabut kolagen dan elastis yang tersusun longitudinal dengan fibroblas. Batas dengan
jaringan sekitarnya tidak jelas. Pada arteri kecil sulit dilihat adanya membrana elastika
eksternal.

Arteri tipe otot berukuran sedang


Merupakan tipe arteri yang paling banyak jumlahnya. Pada tipe kecil dari golongan
arteri ini dibawah endothelium terdapat tunica elastika interna. Sel endothelium melepaskan
prosessi nya pada sel otot polos tunika media, mungkin celah pada tunika elastika sangat
penting untuk difusi metabolit lumen. Tunika elastika interna berkembang baik, dengan
mikroskop elektron terlihat bagian yang kosong dengan titik halus berupa serabut elastis,
bagian ini mempunyai afinitas yang kecil terhadap osmium.

Arteri Elastis Besar


Dinding sangat tebal tetapi lebih tipis dibandingkan dengan arteri sedang. Bentuk
endothelium poligonal, pada tunika interna ditemukan fibroblast dan berkas halus serabut
kolagen, kadang-kadang juga ditemukan makrofag pengembara. Pada bagian luar tunika
intima disusun atas serabut elastis yang bercabang, diantara serabut elastis ditemukan serabut
kolagen, fibroblast dan otot polos. Dibagian luarnya terdapat membrana elastika fenestra
yang menempati tunika elastika interna dari vasa yang lebih kecil, tetapi tidak seperti vasa
yang kecil yang terdiri dari lapisan terang yang memisahkan tunica interna dan media,
melainkan merupakan lapisan serabut elastis yang kemudian melanjutkan diri ke tunika
media. Jadi pada arteri tipe elastis besar tidak ada batas yang jelas antara tunika interna dan
media.
b. Vena

Vena berfungsi membawa darah dari kapiler kembali ke jantung, makin dekat dengan
jantung maka ukuran vena makin besar dan dindingnya makin tebal. Vena biasanya berjalan
dengan arteri yang senama. Jumlah vena lebih banyak dari arteri dan lumen vena lebih lebar,
dindingnya lebih tipis tapi kurang elastis, sehingga apabila dipotong bentuknya tidak
teratur.Vena dibagi menjadi tiga: vena kecil, sedang dan besar, pembagian ini tidak
memastikan karena tidak selalu terdapat korelasi positip antara besarnya lumen dan tebalnya
dinding. Dinding vena terdiri atas tiga lapisan: tunika intima, media dan adventitia.
-

Vena Kecil
Kumpulan kapiler membentuk saluran dengan diameter 2-20 m, terdiri atas
endothelium yang diselubungi dengan serabut kolagen tersusun longitudinal dan fibroblast.
Pada vena yang berukuran 45 m, diantara endothelium dan jaringan ikat ditemukan sel otot
dengan sedikit defrensiasi, awalnya muncul secara terpisah, makin besar ukuran venanya
maka jarak sel otot semakin dekat.

Vena Sedang
Vena sedang berdiameter 2-9 mm Tunika intima dibentuk oleh sel endothelium
berbentuk poligonal dengan batas sel kurang jelas. Pada tunika intima kadang ditemukan
lapisan jaringan ikat yang kurang jelas dengan beberapa sel dan serabut elastis tipis. Dalam
hal ini seringkali tunia media dan tunika intima dianggap satu lapisan, karena tunika intima
kurang berkembang.

Vena Besar
Struktur tunika intima pada vena besar sama dengan pada vena sedang. Vena yang
sangat besar disusun atas jaringan ikat sangat tebal. Tunika medianya tipis sampai tidak ada,
strukturnya sama dengan vena sedang. Tunika adventitia merupakan bagian utama dari
dinding vena dan tebalnya beberapa kali lipat tebal tunika media.5
Mekanisme Kerja Jantung
Aktivitas Listrik Jantung
Jantung

memiliki

kemampuan

sebagai

Autorhythmicity

yang

dapat

membangkitkan sendiri impuls listrik yang ritmis. Sifat ini dimiliki oleh sistem penghantar
khusus. Terdapat dua jenis sel otot jantung khusus, yaitu:

10

1. 99% sel otot jantung adalah sel kontraktil yang melakukan kerja mekanis, yaitu
memompa. Sel-sel pekerja ini dalam keadaan normal tidak menghasilkan sendiri
potensial aksi.
2. Sisanya, sel autoritmik tidak berkontraksi tetapi mengkhususkan diri mencetuskan dan
menghantarkan potensial aksi yang bertanggung jawab untuk kontraksi sel-sel
pekerja.6
Sel otot jantung berbeda dengan sel saraf dan sel otot rangka, yang membrannya tetap
berada pada potensial istirahat yang konstan, kecuali apabila sel dirangsang. Sel-sel otoritmik
jantung tidak memiliki potensial istirahat. Sel-sel tersebut memperlihatkan aktivitas pemacu
(pace maker activity), yaitu membrane mereka secara perlahan mengalami depolarisasi, atau
bergeser antara potensial-potensial aksi sampai ambang tercapai, pada saat membrane
membrane mengalami potensial aksi. Sel-sel otot ritmis ini secara siklis mencetuskan
potensial aksi, yag kemudian menyebar ke seluruh jantung untuk mencetuskan denyut
jantung secara berirama tanpa pasangan saraf apapun. Secara umum pergeseran potensial
diperkirakan terjadi karena penurunan siklis fluks pasif K + ke luar yang berlangsung
bersamaan dengan kebocoran lamban Na+ ke dalam. Di sel-sel otoritmik jantung, antara
potensial-potensial aksi permeabilitas K+ tidak menetap seperti di sel saraf dan sel otot
rangka. Permeabilitas membrane terhadap K+ menurun antara potensial-potensial aksi, karena
saluran K+ di-inaktifkan, yang mengurangi aliran ke luar ion kalium positif mengikuti
penurunan gradien konsentrasi mereka. Karena influks pasif Na + dalam jumlah kecil tidak
berubah, bagian dalam secara bertahap menjadi kurang negative, yaitu membrane secara
bertahap mengalami depolarisasi dan bergeser kea rah ambang. Setelah ambang dicapai,
terjadi fase naik dari potensial aksi sebagai respons terhadap pengaktifan saluran Ca ++ dan
influks Ca++ kemudian. Influks Na+ mengubah potensial aksi kea rah positif. Fase turun
disebabkan oleh efluks K+ yang terjadi karena peningkatan permeabilitas K+ akibat
pengaktifan saluran K+.4 Setelah potensial aksi usai, inaktifasi saluran-saluran K+ ini
mengawali depolarisasi berikutnya. Sel-sel Autorhythmicity ditemukan dilokasi-lokasi
berikut ini:
1. Nodus sinoatrium (SA), daerah kecil khusus di dinding atrium kanan dekat
lubang(muara) vena kava superior.
2. Nodus atrioventrikel (AV), sebuha berkas kecil sel-sel otot jantung khusus di dasar
atrium kanan dekat septum, tepat di atas pertautan atrium dan ventrikel.

11

3. Berkasi His (berkas atrioventrikel), suatu jaras sel-sel khusus yang berasal dari nodus
AV dan masuk ke septum antar ventrikel, tempat berkas tersebut bercabang
membentuk berkas kanan dan kiri yang berjalan ke bawah melalui septum, melingkari
ujung bilik ventrikel, dan kembali ke atrium di sepanjang dinding luar.
4. Serat Purkinje, serat-serat terminal halus yang berjalan dari bekas his dan menyebar
ke seluruh miokardium ventrikel seperti ranting-ranting pohon.7
Sel-sel Autorhythmicity berbeda dalam hal kecepatan normal untuk menghasilkan
potensial aksi. Sel A memiliki kecepatan depolarisasi yang lebih besar dan dengan demikian,
sel A mencapai ambang lebih cepat dan menghasilkan potensial aksi lebih cepat dari sel B.
Sel-sel jantung yang memiliki kecepatan pembentukan potensial aksi tertinggi terletak di
Nodus SA. Sekali potensial aksi timbul di salah satu sel otot jantung, potensial aksi tersebut
akan menyebar ke seluruh miokardium melalui gap junction dan sistem penghantar khusus.
Oleh karena itu, nodus SA yang dalam keadaan normal memperlihatkan kecepatan
Autorhythmicity tertinggi, yaitu 70-80 potensial aksi/menit dan dikenal sebagai
pemacu(pacemaker, penentu irama) jantung. Jaringan Autorhythmicity lain tidak mampu
menjalankan kecepatan mereka yang rendah, karena mereka sudah diaktifkan oleh potensial
aksi yang berasal dari nodus SA sebelum mereka mencapai ambang dengan irama mereka
yang lebih lambat. Jaringan Autorhythmicity bukan nodus SA adalah pemacu laten yang
dapat mengambil alih, walaupun dengan kecepatan yang lebih rendah, apabila pemacu
normal tidak bekerja. Apabila hantaran impuls antara atrium dan ventrikel terhambat, atrium
akan terus berdenyut dengan kecepatan 70kali/menit dan jaringan ventrikel yang tidak
dijalankan oleh kecepatan nodus SA yang lebih tinggi, berdenyut dengan kecepatan
30kali/menit yang dimulai oleh sel Autorhythmicity ventrikel(serat-serat purkinje). Blok
jantung total merupakan fenomena dimana jaringan penghantar antara atrium dan ventrikel
rusak dan tidak berfungsi. Kecepatan denyutan ventrikel 30 kali/menit hanya dapat
menunjang gaya hidup yang sangat santai. Pada keadaan-keadaan dengan kecepatan denyut
jantung sangat rendah, misalnya kegagalan nodus SA atau blok jantung, dapat digunakan alat
pacu buatan (artificial pacemaker).8
Sel miokardium memiliki potensial membrane istirahat yang mantap, yaitu 90
mV(fase 4). Impuls listrik dari pacemaker merangsang miokardium dan menimbulkan
serangkaian perubahan. Pada fase depolarisasi cepat(fase 0) terjadi peningkatan tiba-tiba
permeabilitas membrane untuk ion Na sehingga pemasukan Na banyak dan potensial intrasel
menjadi +20mV. Setelah itu permeabilitas ion Na segera turun(repolarisasi, fase 1) dan
12

potensial membrannya akan dipertahankan selama beberapa mili detik sampai fase Palteu.
Karena aktifitas lambat channel Ca(fase 2) dan terjadi pemasukan lambat ion Ca untuk
mempertahankan kepositifan intrasel. Pada fase Pleateu diikuti inaktifasi channel Ca,
pemasukan Ca kedalam sel menurun. Peningkatan tiba-tiba permeabilitas membrane untuk
ion K+ membuta difusi cepat ion K keluar sel dan terjadi repolarisasi cepat(fase 3). Setelah
itu, potensial membrane kembali ke keadaan semula(fase 4). Masa refrakter sel miokardium
adalah 250m detik karena potensial aksinya yang panjang. Masa kontraksi otot jantung
adalah 300m detik. Akibatnya, otot jantung tidak dapat dirangsang ulang sampai kontraksi
hampir selesai, sehingga penjumlahan kontraksi dan tetanus otot jantung tidak mungkin
terjadi. Ini merupakan mekanisme proteksi yang penting, karena pemompaan darah
mengharuskan adanya periode kontraksi(pengosongan) dan relaksasi(pengisian) yang
bergantian. Penyebab masa refrakter yang panjang adalah fase Pleateu. Periode refrakter otot
atrium jauh lebih singkat daripada periode refrakter otot ventrikel, yaitu 0,15 detik pada
atrium dan 0,25-0,30 detik pada ventrikel.8
Kontraksi Jantung
Kontraksi otot jantung untuk mendorong darah dicetuskan oleh potensial aksi yang
menyebar melalui membran sel otot. Jantung berkontraksi atau berdenyut secara berirama
akibat potensial aksi yang ditimbulkan sendiri,suatu sifat yang dikenal dengan otoritmisitas.
Terdapat dua jenis khusus sel otot jantung yaitu 99% sel otot jantung kontraktil yang
melakukan kerja mekanis, yaitu memompa. Sel - sel pekerja ini dalam keadaan normal tidak
menghasilkan sendiri potensial aksi. Sebaliknya, sebagian kecil sel sisanya adalah, sel
otoritmik, tidak berkontraksi tetapi mengkhususkan diri mencetuskan dan menghantarkan
potensial aksi yang bertanggungjawab untuk kontraksi sel - sel pekerja.
Kontraksi otot jantung dimulai dengan adanya aksi potensial pada sel otoritmik.
Penyebab pergeseran potensial membran ke ambang masih belum diketahui. Secara umum
diperkirakan bahwa hal itu terjadi karena penurunan siklis fluks pasif K+ keluar yang
langsung bersamaan dengan kebocoran lambat Na+ ke dalam. Di sel - sel otoritmik jantung,
antara potensial - potensial aksi permeabilitas K+ tidak menetap seperti di sel saraf dan sel
otot rangka. Permeabilitas membran terhadap K+ menurun antara potensial - potensial aksi,
karena saluran K+ diinaktifkan, yang mengurangi aliran keluar ion kalium positif mengikuti
penurunan gradien konsentrasi mereka. Karena influks pasif Na+ dalam jumlah kecil tidak
berubah, bagian dalam secara bertahap mengalami depolarisasi dan bergeser ke arah ambang.
Setelah ambang tercapai, terjadi fase naik dari potensial aksi sebagai respon terhadap
13

pengaktifan saluran Ca2+ dan influks Ca2+ kemudian; fase ini berbeda dari otot rangka,
dengan influks Na+ bukan Ca2+ yang mengubah potensial aksi ke arah positif. Fase
turundisebabkan seperti biasanya, oleh efluks K+ yang terjadi karena terjadi peningkatan
permeabilitas K+ akibat pengaktifan saluran K+.Setelah potensial aksi usai, inaktivasi saluran
- saluran K+ ini akan mengawali depolarisasi berikutnya. Sel - sel jantung yang mampu
mengalami otortmisitas ditemukan pada nodus SA, nodus AV.9
Tabel 1. Kecepetan Pembentukan Potensial Aksi di Jaringan Jantung.9
Kecepatan normal pembentuk potensial aksi di jaringan otoritmik jantung
Jaringan
Potensial Aksi per menit
Nodus SA
70-80
Nodus AV
40-60
Berkas HIS
20-40
Sebuah potensial aksi yang dimulai di nodus SA pertama kali akan menyebar ke
atrium melalui jalur antar atrium dan jalur antar nodus lalu ke nodus AV. Karena konduksi
nodus AV lambat maka terjadi perlambatan sekitar 0,1 detik sebelum eksitasi menyebar ke
ventrikel. Dari nodus AV, potensial aksi akan diteruskan ke berkasHis sebelah kiri lalu kanan
dan terakhir adalah ke sel purkinje. Potensial aksi yang timbulkan di nodus SA akan
menghasilkan gelombang depolarisasi yang akan menyebar ke sel kontraktil melalui gap
junction.
Kontraksi otot jantung dilihat dari segi biokimia, otot terdiri dari aktin, miosin, dan
tropomiosin. Aktin, G aktin monomerik menyusun protein otot sebanyak 25 % berdasarkan
beratnya. Pada kekuatan ion fisiologik dan dengan adanya ion Mg2+ akan membentuk F
aktin. Miosin, turut menyusun 55 % protein otot berdasarkan berat dan bentuk filamen tebal.
Miosin merupakan heksamer asimetrik yang terdiri 1 pasang rantai berat dan 2 pasang rantai
ringan. Troponin ada 3 jenis yaitu troponin T yang terikat pada tropomiosin, troponin I yang
menghambat interaksi F aktin miosin dan troponin C yang mengikat kalsium.9
Mekanisme kontraksi otot, adanya eksitasi pada miosit akan menyebabkan
peningkatan kadar Ca2+ di intraseluler.Eksitasi akan menyebabkan Ca2+ msk dari ECM ke
intrasel melalui L type channels lalu Ca2+ tersebut akan berikatan dengan reseptor ryanodinsensitive reseptor di Sarkoplasmik retikulum dan akan dihasilkan lebih banyak lagi Ca 2+
( CICR = Ca2+ induced Ca2+ release). Kalsium yang masuk akan berikatan dengan troponin
C dan dengan adanya energi dari ATP akan menyebabkan kepala miosin lepas dari aktin dan
dengan ATP berikutnya akan menyebabkan terdorongnya aktin ke bagian dalam ( M line ).
Proses ini terjadi berulang - ulang dan akhirnya terjadi kontraksi otot.
14

Sumber ATP untuk kontraksi berasal dari anaerob glikolisis, glikogenolisis, kreatin
fosfat, dan fosforilasi oksidatif. Sumber ATP pertama sekali adalah cadangan ATP, setelah itu
menggunakan kreatin fosfat diikuti dengan glikolisis anaerob, lalu glikolisis aerob dan
akhirnya lipolisis.9
Enzim Jantung
Enzim pada sistem kardiovaskuler dibagi dalam 2 macam, yaitu enzim fungsional dan
nonfungsional. Enzim fungsional umumnya dibuat dalam hati dan terdapat dalam sirkulasi.
Enzim ini kontinu/intermiten dan kadarnya lebih besar dalam jaringan. Contoh enzim ini
adalah lipoprotein lipase, pseudocholinestrase, proenzim pembekuan darah dan pemecahan
bekuan darah. Enzim nonfungsional dalam keadaan normal, tidak berfungsi dalam darah
melainkan dalam sel. Karena tidak berfungsi dalam darah, substratnya tidak ada dalam darah.
Kadar enzim ini sangat rendah bila dibandingkan dengan kadar di jaringan. Apabila terjadi
kelainan, seperti kerusakan sel, enzim tersebut akan berdifusi lepas ke darah. Maka kadar
enzim ini dalam plasma darah akan menjadi meningkat. Contoh enzim ini antara lain amilase
pankreas, lipase, sekresi eksokrin.10
Macam-macam Enzim Kardiovaskuler, yaitu:
1.

GOT (glutamic oxaloacetic transaminase)


Terlokalisasi dalam mitokondria dan sitoplasma.

2. GPT
Terlokalisasi dalam sitoplasma. Apabila terkadi kerusakan jaringan, maka enzimini
akan dibebaskan ke serum darah.
3. CK / CPK (creatine phospokinase)
Enzim ini banyak terdapat dalam otot lurik. Enzim ini mempunyai beberapabentuk
isozim. Isozim merupakan sekelompok enzim yang mempunyai mekanisme sama
namun dengan struktur yang berbeda. Bentuk isozim tersebut antara lain: CPK 1 (BB)
pada otak, CPK 2 (MB), dan CPK 3 (MM) pada ototskelet.
4. LDH (lactic dehidrogenase)
Terdiri atas 5 jenis protein yang bisa dipisahkan dan masing-masing terbentuk dari
sejumlah tetramer dengan 2 tipe, atau subunit H dan M. Kelima isoenzim tersebut
dapat dibedakan berdasarkan sifat-sifat kinetika, elektroforesis, kromatografi, dan
15

imunologiknya. Berdasarkan pemisahan elektroforesis, mobilitas isoenzim sesuai


dengan protein serum 1, 2, 1, dan 2. Masing-masing isoenzim mempunyai berat
molekul sekitar 134.000 kDa. Biasanya isoenzim ini diberi nomor 1(yang bergerak
paling cepat),2,3,4, dan 5(yang bergerak paling lambat). Pada jantung terdapat
isoenzim nomor 1 sedangkan pada hati dan otot isoenzim nomor 5.10
Pompa Darah
Secara anatomi jantung terbagi menjadi 4 ruangan dan memiliki fungsi kerjanya
masing-masing. Jantung terbagi menjadi bagian kanan dan kiri. Rongga-rongga atas (atrium)
menerima darah yang kembali ke jantung dan memindahkannya ke rongga bawah (ventrikel)
yang memompa dari dari jantung. Pembuluh yang mengembalikan darah dari jaringan ke
atrium adalah vena, dan yang membawa darah dari ventrikel ke jaringan adalah arteri. Kedua
paruh jantung dipisahkan oleh septum, yang merupakan suatu partisi berotot kontinyu yang
mencegah pencampuran darah dari kedua sisi jantung. Pemisahan ini sangat penting karena
separuh kanan jantung menerima dan memompa darah miskin O2, sementara sisi kiri jantung
menerima dan memompa darah kaya O2.11
Pertukaran oksigen dan karbondioksida dalam sistem kapiler dapat diterangkan
dengan teori difusi di mana molekul-molekul gas akan bergerak dari konsentrasi yang lebih
besar ke konsentrasi yang lebih kecil sehingga konsentrasinya akan merata. Molekul-molekul
tersebut akan saling bertumbukan.11
Dalam pompa jantung, berlaku hukum starling yang menguraikan bahwa aliran fluida
masuk dan keluar dari pembuluh darah kapiler. Gerakan zat cair melalui dinding kapiler
merupakan hasil dari 2 jenis tekanan yaitu tekanan hidrostatik dan tekanan osmotik. Tekanan
hidrostatik memaksa zat cair dan oksigen keluar dari kapiler, sedangkan tekanan osmotik
membawa zat cair dan karbondioksida masuk ke dalam kapiler. Volume darah yang
dipompakan jantung umumnya sebesar 80cc dengan tekanan pada pulmonalis sebesar kurang
lebih 25 mmHg dan tekanan pada sistemik sebesar kurang lebih 125 mmHg. Usaha yang
dilakukan jantung merupakan hasil kali tekanan dengan volume.11
Tegangan yang dialami pembuluh darah diakibatkan adanya tekanan. Besarnya
tegangan ini bergantung pada tekanan dan diameter pembuluh darah. Prinsip Bernoulli dapat
diterapkan dalam sistem sirkulasi ini. Prinsip ini didasarkan pada hukum kekekalan energi.
Tekanan fluida merupakan bentuk dari energi potensial dan gerakan fluida merupakan bentuk
16

dari energi kinetik. Kecepatan rata-rata darah meninggalkan jantung umumnya kurang lebih
30 cm/detik, maka energi kinetik untuk 1cc darah setara dengan berkurangnya energi
potensial sebesar 450 erg atau tekanan darah sebesar 0,4 mmHg. Saat seseorang melakukan
latihan fisik, maka kecepatan aliran darah akan meningkat yang mengakibatkan energi
potensial jantung akan berkurang.11
Kecepatan aliran darah dalam pembuluh darah sendiri tergantung pada tekanan,
viskositas atau kekentalan darah, temperatur, oanjang dan diameter pembuluh darah.
Temperatur semakin tinggi, maka viskositas darah sebaliknya akan semakin kecil, begitu
sebaliknya semakin rendah temeratur maka viskositas darah akan semakin tinggi. Kecepatan
aliran darah biasanya dihitung dengan menggunakan hukum Poisseuille.11
Pada umumnya, hampir di semua pembuluh darah terdapat aliran laminar. Akan
tetapi, ketika darah mengalir cepat melewati katup-katup jantung atau ketika terjadi
penyumbatan atau penyempitan pembuluh darah, maka aliran darah yang tadinya laminar
berubah menjadi aliran turbulen. Saat kecepatan aliran ditambah dengan mengurangi
diameter pembuluh darah, maka akan dicapai kecepatan kritis dimana aliran laminer tadi
berubah menjadi aliran turbulen. Buka dan tutup katup jantung berkontribusi terhadap suara
jantung karena perubahan aliran darah ini akan menghasilkan vibrasi. Pada keadaan normal,
frekuensi suara jantung berkisar antara 20-200 Hz dan unutk memperoleh informasi dari
suara jantung dapat menggunakan stetoskop ataupun phonocardiography.11
Pada orang yang sedang istirahat jantungnya berdebar sekitar 70 kali satu menit dan
memompa 70ml setiap denyut(volume denyutan adalah 70ml). Jumlah darah yang setiap
menit dipompa adalah 70 x70 ml atau sekitar 5 liter. Sewaktu banyak bergerak kecepatan
jantung dapat menjadi 150 setiap menit dan volume denyut jantung lebih dari 150ml, yang
membuat daya pompa jantung 20 sampai 25 liter per-menit. Tiap menit sejumlah volume
yang tepat sama kembali dari vena ke jantung. Akan tetapi, bila pengembalian dari vena tidak
seimbang dan ventrikel gagal mengimbanginya dengan daya pompa jantung, terjadi payah
jantung. Vena-vena besar dekat jantung menjadi membengkak berisi darah, sehingga tekanan
dalam vena naik. Jika tidak cepat ditangani akan terjadi udema.11
Siklus Jantung
Siklus jantung terdiri dari sistol (kontraksi dan pengosongan) dan diastole (relaksasi
dan pengisian) yang bergantian. Kontraksi terjadi karena penyebaran eksitasi ke seluruh
17

jantung, sementara relaksasi mengikuti repolarisasi otot jantung. Atrium dan ventrikel
melakukan siklus sistol dan diastole secara terpisah. Kecuali jika disebutkan kata sistol dan
diastole merujuk kepada apa yang terjadi di ventrikel. Berikut ini adalah penjelasan pada sisi
kiri jantung, tetapi perlu diingat bahwa proses serupa terjadi juga di sisi kanan jantung,
kecuali bahwa tekanannya lebih rendah. Untuk menuntaskan satu siklus jantung lengkap,
pembahasan akan dimulai dan diakhiri dengan diastole ventrikel.11
-

Middiastol Ventrikel
Selama sebagian besar diastole ventrikel, atrium juga masih berada dalam diastole.
Tahap ini berkorespondensi dengan interval TP pada EKG-interval setelah
repolarisasi ventrikel dan sebelum depolarisasi atrium berikutnya. Karena darah dari
sistem vena terus mengalir ke dalam atrium maka tekanan atrium sedikit melebihi
tekanna ventrikel meskipun kedua rongga ini berada dala keadaan relaksasi. Karena
perbedaan tekanan ini maka katup AV terbuka, dan darah mengalir langsung dari
atrium ke dalam ventrikel sepanjang diastole ventrikel. Akibat pengisian pasif ini,
volume ventrikel secara perlahan meningkat bahkan sebelum atrium mulai

berkontraksi.
Menjelang akhir diastole ventrikel
Menjelang akhir diastole ventrikel, nodus SA mencapai ambang dan melepaskan
muatan. Impuls menyebar ke seluruh atrium yang tampak di EKG sebagai
gelombang P. Depolarisasi atrium menyebabkan kontraksi atrium, meningkatkan
kurva tekanan atrium dan memeras lebih banyak darah ke dalam ventrikel. Proses
penggabungan eksitasi-kontraksi berlangsung selama jeda singkat antara gelombang
P dan peningkatan tekanan atrium. Peningkatan ventrikel yang terjadi secara
bersamaan dengan peningkatan tekanan atrium disebabkan oleh tambahan volume
darah yang dimasukkan ke ventrikel oleh kontraksi atrium. Sepanjang kontraksi
atrium, tekanan atrium sedikit lebih tinggi daripada tekanan ventrikel sehingga

katup AV tetap terbuka.


Akhir diastole ventrikel
Diastol ventrikel berakhir pada awitan kontraksi ventrikel. Pada saat ini, kontraksi
atrium dan pengisian ventrikel telah tuntas. Volume darah di ventrikel pada akhir
diastole dikenal sebagai volume diastolic akhir (VDA) dengan rata-rata sekitar 135
ml. Tidak ada lagi darah yang akan ditambahkan ke ventrikel selama siklus ini.
Karena itu, volume diastolic akhir adalah jumlah maksimal darah yang akan

dikandung oleh ventrikel selama siklus ini.


Eksitasi ventrikel dan awitan sistol ventrikel
18

Setelah eksitasi atrium, impuls merambat melalui nodus AV dan sistem penghantar
khusus untuk merangsang ventrikel. Secara bersamaan kedua atrium berkontraksi.
Pada saat pengaktifan ventrikel selesai, kontraksi atrium sudah berlalu. Kompleks
QRS mencerminkan eksitasi ventrikel ini yang memicu kontraksi ventrikel. Kurva
tekanan ventrikel meningkat tajam segera setelah kompleks QRS mengisyaratkan
awitan sistol ventrikel. Jeda singkat antara kompleks QRS dan awitan sistol
ventrikel yang sebenarnya adalah waktu yang diperlukan untuk terjadinya proses
penggabungan eksitasi-kontraksi. Sewaktu kontraksi ventrikel dimulai, tekanan
ventrikel segera melebihi tekanan atrium. Berbaliknya perbedaan ini menyebabkan
-

katup menutup.
Kontraksi ventrikel isovolumetrik
Setelah tekanan ventrikel melebihi tekana atrium dan katup AV tertutup, untuk
membuka katup aorta tekanan ventrikel harus terus meningkat sampai melebihi
tekanna aorta. Karena itu, setelah katup AV tertutup dan sebelum katup aorta
terbuka, terdapat periode singkat ketika ventrikel menjadi suatu ruangan tertutup.
Karena semua katup tertutup, maka tidak ada lagi darah yang masuk atau keluar dari
ventrikel selama waktu ini. Interval ini dinamakan periode kontraksi ventrikel
isovolumetrik. Karena tidak ada darah yang masuk atau meninggalkan ventrikel,
maka volume rongga ventrikel tidak berubah, dan panjang serat-serat ototnya tidak

berubah.
Ejeksi ventrikel
Ketika tekanan ventrikel melebihi tekanan aorta, katup aorta terbuka dan dimulailah
ejeksi darah. Jumlah darah yang dipompa keluar dari masing-masing entrikel pada
setiap kontraksi disebut isi sekuncup. Kurva tekanan aorta meningkat sewaktu darah
dipaksa ke dalam aorta dari ventrikel lebih cepat daripada darah mengalir ke dalam
pembuluh pembuluh yang lebih halus di sebelah hilir. Volume ventrikel menurun

secara bermakna.
Akhir sistol ventrikel
Ventrikel tidak mengosongkan isinya secara sempurna selama fase ejeksi. Dalam
keadaan normal, hanya separuh dari darah di dalam ventrikel pada akhir diastole
dipompa keluar selama sistol berikutnya. Jumlah darah yang tertinggal di ventrikel
pada akhir sistol ketika ejeksi selesai disebut volum sistolik akhir ( VSA ) yang rata-

rata besarnya 65 ml.


Repolarisasi ventrikel dan awitan diastole ventrikel
Gelombang T menandakan repolarsasi ventrikel pada akhir sistol. Sewaktu ventrikel
mulai melemas pada repolarisasi, tekanan ventrkel turun dibawah tekana aorta dan
19

katup aorta menutup. Tidak ada lagi darah yang keluar dari ventrikel selama siklus
-

ini.
Pengisian ventrikel
Ketika tekanan ventrikel turun di bawah tekanan atrium, katup AV membuka, dan
ventrikel kembali terisi. Diastol ventrikel mencakup baik periode relaksasi ventrikel
isovolumetrik maupun fase pengisian ventrikel. Repolarisasi atrium dan depolarisasi
ventrikel terjadi bersamaansehingga atrium berada dalam keadaan diastole sama
sistol ventrikel. Darah terus mengalir dari vena-vena paru ke dalam atrium kiri.
Dengan berkumpulnya darah yang masuk ini ke dalam atriummaka tekanan atrium
terus meningkat. Ketika katup AV membuka pada akhir sistol ventrikel, darah yang
terumpul di atrium selama sistol entrikel mengalir deras ke dalam ventrikel. Karena
itu, pengisian ventrikel mula-mula berlangsung cepat karena meningkatnya tekanan
atrium yang terjadi akibat akumulasi darah di atrium. Pengisian ventrikel melambat
sewaktu darah yang terakumulasi tersebut telah disalurkan ke ventrikel, dan tekanan
atrium mulai turun. Selama penurunan pengisian ini, darah terus mengalir dari vena
pulmonalis ke dalam atrium kiri dan menemus katup AV ke dalam ventrikel kiri.
Selama diastole tahap akhir, ketika pengisian ventrikel elambat, nodus SA kembali
melepaskan muatan dan siklus jantung berulang. 11

Elektrokardiogram
Elektrokardiogram ( EKG ) adalah rekaman penyebaran keseluruhan aktivitas listrik
jantung. Arus listrik yang dihasilkan oleh otot jantung selama depolarisasi dan repolarisasi
menyebar ke dalam jaringan sekitar jantung dan dihantarkan melalui cairan tubuh. Pola pasti
aktivitas listrik yang direkam dari permukaan tubuh bergantung pada orientasi elektroda
perekam. Elektroda dapat secara kasar dianggap sebagai mata yang melihat aktivitas listrik
dan menerjemahkannya menjadi tekanan yang dapat dilihat, yang disebut rekaman EKG.
Yang terekam adalah defleksi ke bawah atau ke atas bergantung pada bagian mana elektroda
diorentasikan dalam kaitannya dengan aliran arus di jantung. Untuk menghasilkan
perbandingan yang baku, rekaman EKG secara rutin terdiri 12 sistem elektroda konvensional
atau sadapan (lead). Ketika sebuah mesin elektrokardiograf dihubungkan antara elektrodaelektroda perekam di dua titik di tubuh maka susunan spesifik dari masing-masing pasangan
koneksi disebut sadapan. Terdapat 12 sadapan berbeda yang masing-masing merekam
aktivitas listrik di jantung dari lokasi yang berbeda-beda. 6 sadapan dari ekstremitas dan 6
20

sadapan di dada di berbagai tempat di sekitar jantung. Gelombang-gelombang yang terdapat


pada EKG:

Gelombang P : Mencerminkan depolarisasi atrium.


Kompleks QRS : Mencerminkan depolarisasi ventrikel.
Gelombang T : Mencerminkan repolarisasi ventrikel.11

Gambar 1. Gelombang yang Terdapat pada EKG


Karena gelombang pergeseran depolarisasi dan repolarisasi ini masing-masing
menyebabkan kontraksi dan relaksasi jantung maka proses siklik mekanis jantung berlangsug
sedikit lebih belakangan dari perubahan ritmis aktivitas listrik. Hal-hal berikut ini tentang
rekaman EKG :
1.

Lepas muatan nodus SA tidak menghsilkan aktivitas listrik yang cukup besar untuk
mencapai permukaan tubuh sehingga tidak terekam adanya gelombang pada
depolarisasi nodus SA. Karena itu, gelombang yang pertama kali terekam,
gelombang P, terjadi ketika impuls atau gelombang depolarisasi menyebar ke

2.

seluruh atrium.
Pada EKG normal, tidak terlihat gelombang terpisah untuk repolarisasi atrium.
Aktivitas listrik yang berkaitan dengan repolarisasi atrium normalnya terjadi
bersamaan dengan depolarisasi ventrikel dan ditandai oleh kompleks QRS.

21

3.

Gelombang P jauh lebih kecil daripada kompleks QRS karena atrium memiiki
massa otot yang jauh lebih kecil daripada ventrikel dan karenanya menghasilkan
aktivitas listrik yang lebih kecil.
DI tiga titik waktu berikut tidak terdapat aliran arus netto di otot jantung sehingga

4.

EKG tetap berada di garis basal.


- Sewaktu jeda / penundaan di nodus AV. Jeda ini tercermin oleh interval waktu
antara akhir P dan awal QRS; segmen EKG ini dikenal sebagai segmen PR karena
defleksi Q kecil dan kadang tidak ada, sementara defleks R adalah gelombang
yang dominan dalam kompleks ini. Arus mengalir melalui nodus AV, tetapi
-

kekuatannya terlalu kecil untuk dideteksi oleh EKG.


Ketika ventrikel terdepolarisasi sempurna dan sel-sel kontraktil mengalami fase
datar potensial aksi sebelum mengalami repolarisasi diwakili oleh segmen ST.
Segmen ini terletak antara QRS dan T; segmen ini bersesuaian dengan waktu saat
pengaktifan

ventrikel

selesai

dan

ventrikel

sedang

berkontraksi

dan

mengosongkan isinya. Perhatikan bahwa segmen ST bukan rekaman aktivitas


-

kontraktil jantung
Ketika otot jantung mengalami repolarisasi sempurna dan beristirahat dan
ventrikel sedang terisi setelah gelombang T dan sebelum gelombang P berikutnya.
Periode ini disebut interval TP. 11

Vaskularisasi
Pembuluh darah pada mediastinum terdiri dari arteri dan vena besar. Pada
mediastinum superior bagian retrosternal dapat dijumpai vena-vena seperti v. anonyma
sinistra dan dextra (V. brachicephalica) dan v. cava superior. V. anonyma sinistra merupakan
persatuan v. jugularis interna sinistra dan v. subclavia sinistra yang menerima dara ari venavena bagian sinistra kepala, leher, dan extremitas superior. V. anonyma sinistra akan bersatu
dengan v. anonyma dextra untuk membentuk v. cava superior di posterior bagian atas
manubrium sterni. Selanjutnya v. cava superior akan bermuara ke atrium dextrum jantung. V.
anonyma sinistra ini dipisahkan dari articulation sternoclavicularis dan manubrium sterni oleh
m. sternohyoid. Dibawa v. anonyma sinistra terletak arcus aortae. Di belakangnya terdapat
ketiga cabang besar dari arcus aortae dan saraf yang menyilang arcus aortae.4
V. anonyma dextra dibentuk oleh pertemuan v. jugularis interna dextra dan v.
subclavia dextra di posterior ujung sterna clavicula dextra, yang kemudian berjalan vertikal
ke bawah untuk bergabung dengan v. anonyma sinistra sebagai v. cava superior. Selanjutnya
22

v. cava superior akan berjalan vertical ke bawah sampai cartilage costa 3 dextra dimana v.
cava superior masuk ke atrium dextrum.4
V. cava supetior terdiri dari v. cava superior extra pericardial dan v. cava superior intra
pericardial.V. cava superior extra pericardial terletak dalam mediastinum superior.Vena ini
erjalan verikal pada sisi dextra sternum kemudian menembus pericardium.V. cava superior
extra pericardial ini menerima v. azygos yang masuk dari posterior yang melengsung di aas
radix pulmonum dextra. V. cava superior intra pericardial terletak di anterior radix pulmonum
dextra dan di dalam mediastinum inferior.4
Aorta di dalam thorax dapat dibedakan menjadi aorta ascendens yang terletak di
mediastinum inferior pars media, acrus aorta yang terletak di mediastinum superior, dan aorta
descendens yang terletak di mediastinum inferior pars posterior.4
Pada aorta terdapat percabangan pada bagian arcus aortanya yaitu a. anonyma, a.
carotis communis sinistra, dan a.subclavvia sinistra.A. anonyma merupakan cabang terbesar
dari arcus aorta. Arteri ini dipercabangkan setinggi tepi atas cartilage II dextra, kemudian
akan

berjalan

ke

superoposterior

dextra

sampai

setinggi

tepi

atas

articulation

sternoclavicularis dimana nantinya akan bercabang lagi menjadi a. carotis communis dextra,
a subclavia dextra, dan a. thyroidea.4

23

Gambar 2. Sirkulasi Sistemik pada Tubuh Manusia

A. carotis communis sinistra dibedakan menjadi bagian cervical dan bagian thoracal.
Bagain cervical timbul dari arcus aorta yang berjalan ke atas di sebelah sinistra dan agak ke
posterior dari a. anonyma sampai ke atas a. sternoclavicularis.Bagian thoracal dipisahkan dari
manubrium sterni oleh m. sternohyoid dan m. sternothyroid dan v. sinistra.4
A. subclavia sinistra juga terdiri dari bagian cervical dan bagian thoracal. Arteri ini
berpangkal pada arcus aorta di sebelah sinistra dan posterior dari a. carotis communis setinggi
tepi atas vertebra thoracalis IV yang naik ke atas di sebelah lateral dari trachea dan masuk ek
dalam leher.4
Aorta decendens dimulai dari tepi bawah dari vertebra thoracalis IV dan berakhir pada
tepi baawah vertebra thoracalis XII pada hiatus aorticus di diaphragm. Pada permulaannya
aorta descendens terletak di sebelah sinistra dari columna vertebralis, ini kemudian akan
berjalan ke bawah mendekati linea mediana dan akhirnya terletak di anterior columna
verteralis. Pada sebelah ventral, aorta descendens berhubungan dengan radix pulmonis
sinistra, pericardium, oesophagus, dan diaphragm. Di sebelah dorsal akan berhubungan
dengan columna vertebralis dan v. hemiazygos. Di sebelah dextra akan berhubungan dengan
v. azygos dan ductus thoracicus. Di sebelah sinistra akan berhubungan dengan pleura dan
paruss sinistra.4
Aorta descendens memiliki dua cabang, yaitu cabang visera dan cabang
parietal.Cabang visera terdiri dari R. pericardii, a. bronchialis, a. oesophagii, dan r.
mediastinalis.Cabang parietal yaitu a. intercostalis posterior yang berjumlah Sembilan pasang
yaitu untuk spatium intercostales yang bawah. Spatium intercostalis 1 dan 2 berasal dari a.
intercostalis suprema yang berasal dari truncus costocervicalis a. subclavia.4
Kesimpulan
Jantung adalah sebuah komponen terpenting dalam tubuh manusia. Hal ini
dikarenakan jantung berfungsi untuk memompa darah ke seluruh tubuh yang membawa
nutrisi dan oksigen bagi tubuh. Jantung memiliki kelistrikan di dalamnya, dan kelistrikan ini
berhubungan dengan kerja jantung kita. Jika terjadi kesalahan pada kelistrikan jantung, maka
kerja jantung kita juga akan terjadi kesalahan. Peranan enzim juga sangat berpengaruh pada
kerja jantung kita. Jantung kita tidak pernah berhenti bekerja walaupun kita dalam keadaan
istirahat atau tidur.
24

Jadi, hipotesis diterima. Gangguan jantung dapat dideteksi dengan kadar enzim darah
dan juga EKG.
I.

Daftar Pustaka
1. Winami W, Kindangen K, Listiawati E. Buku ajar anatomi : sistem kardiovaskular
1. Jakarta: Bagian Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida
Wacana; 2013.h.14-7, 36-48.
2. Muttaqin A. Pengantar asuhan

keperawatan

dengan

gangguan

sistem

kardiovaskular. Jakarta: Salemba Medika; 2009.h.2.


3. Faiz O, Moffat D. At a glance series anatomi. Jakarta: Erlangga; 2004.h.15-21.
4. Snell, R S. Anatomi klinik untuk mahasiswa kedokteran. Edisi ke-6. Jakarta:
Penerbit buku kedokteran. EGC; 2006.h.101-12.
5. Junqueira,Luiz C, Jose C.Otot Jantung.dr.Frans Dany(eds).Histologi dasar teks dan atlas
ed 10.Jakarta: EGC,2007.

6. Guyton AC, Hall JE. Buku ajar fisiologi kedokteran. Jakarta: EGC; 2008. h.1087.
8.
9.
10.

16.
Brooker C. Ensiklopedia keperawatan. Jakarta: EGC; 2008. h. 246.
Wibowo DS. Anatomi tubuh manusia. Jakarta: Grasindo; 2005. h. 58-9.
Ganong, W. 2001. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 17. EGC. Jakarta .
Murray KR, Granner DK, Mayes PA. Biokimia harper. Edisi 27. Jakarta: EGC;

2006. h. 113-5.
11. Sherwood L. Fisiologi manusia dari sel ke sistem. Jakarta: EGC; 2012. h. 326-55.

25