Anda di halaman 1dari 8

1

A. FISIOLOGI DAN PERSARAFAN PADA KANDUNG KEMIH


Vesika Urinaria adalah kantong berotot yang dapat mengempis, terletak 3
sampai 4 cm dibelakang simpisis pubis (tulang kemaluan). Vesica urinaria
mempunyai fungsi :
1. Sebagai tempat penyimpanan urin sebelum meninggalkan tubuh.
2. Dibantu uretra, vesica urinaria berfungsi mendorong urin keluar tubuh.
Didalam vesica urinaria mampu menampung urin antara 170-230 ml.
Kandung kemih merupakan suatu ruang otot polos yang terdiri dari dua bagian
utama, yaitu:
a) Bagian korpus yang merupakan bagian utama kandung kemih dan tempat
pengumpulan urin.
b) Bagian leher berbentuk corong yang merupakan perluasan bagian korpus
kandung kemih, berjalan ke bawah dan ke depan menuju segitiga urogenital
dan berhubungan dengan uretra. Bagian bawah leher kandung kemih disebut
juga uretra posterior karena bagian ini berhungan dengan uretra.

Gambar 1. Struktur Vesica Urinaria

Otot polos kandung kemih di sebut otot detrusor. Serabut-serabut


ototnya meluas ke segala arah dan ketika berkontraksi, dapat meningkatkan
tekanan di dalam kandung kemih hingga 40-60 mmHg. Jadi, kontraksi otot
detrusor merupakan tahap utama pada proses pengosongan kandung kemih.
Sel-sel otot polos pada otot detrusor bergabung satu sama lain sehingga
terbentuk jalan elektrik bertahan rendah dari sel otot yang satu ke yang lain.
Oleh karena itu, ptensial aksi dapat menyebar ke seluruh kandung kemih
pada saat yang bersamaan.
Pada dinding posterior kandung kemih, tepat diatas leher kandung
kemih, terdapat aderah segitiga kecil yang disebut trigonum. Pada bagian
dasar apekss trigonum, leher kandung kemih membuka kearah uretra
posterior, dan kedua uretra memasuki kandung kemih pada sudut puncak
trigonum. Trigonum dapta dikenali karena mukosanya (lapisan bagian
dalam kandung kemih) yang halus, berbeda dengan mukosa dibagian lain
kandung kemih yang berlipat-lipat membentuk rugae,. Setiap ureter, saat
memasuki kandung kemih, berjalan miring melintasi otot detrusor dan
kemudian berjalan lagi 1-2 cm dibawah mukosa kandung kemih sebelum
mengosongkan urin ke kandung kemih.
Panjang leher kandung kemih (uretra posterior) adalah 2-3 cm, dan
dindingnya tersusun atas otot detrusor yang membentuk jalinan dengan
sejumlah besar jaringan elastik. Otot didaerah ini disebut sfingter interna.
Tonus alamiahnya menahana leher kandung kemih dan uretra posterior
untuk mengosongkan urin dan dengan demikian, mencegah pengosongan
kandung kemih hingga tekanan pada bagian utama kandung kemih menigkat
melampaui nilai ambang.
Setelah melewati uretra posterior, uretra berjalan melalui diafragma
uregenital, yang mengandung suatu lapisan otot yang disebut sfingter
eksterna kandung kemih. Otot ini merupakan otot rangka yang volunter,
berbeda dengan otot pada bagian korpus dan leher. Kandung kemih, yang
seluruhnya merupakan otit polos. Otot sfingter eksterna berada di bawah
kendali volunter oleh sistem saraf dan dapat digunakan untuk mencegah

miksi secara sadar bahkan keika kendali involunter berusaha untuk


mengosongkan kandung kemih.
B. PERSARAFAN KANDUNG KEMIH
Kandung kemih mendapat persarafan utama dari saraf-saraf pelvis,
yang berhubungan dengan medulla spinalis melalui pleksus sakralis,
terutama berhubungan dengan segmen sakral 2 dan sakral 3 dari medulla
spinalis perjalanan melalui saraf pelvis terdapat dalam 2 bentuk
persarafan, yaitu serabut saraf sensorik dan serabut sarf motorik. Serabut
saraf sensorik mendeteksi derajat regangan dalam kandung kemih. sinyalsinyal regangan khususnya dari uretra posterior merupakan sinyal yang
kuat dan terutama berperan untuk memicu refleks pengosongan kandung
kemih.

Gambar 2. Persarafan Kandung Kemih

Persarafan motorik yang dibawa dalam saraf-saraf pelvis


merupakan serabut parasimpatis. Saraf ini berakhir di sel ganglion yang
terletak di dalam dinding kandung kemih. Kemudian sarf-saraf
postganglionik yang pendek akan mempersarafi otot detrusor.
Selain saraf pelvis, terdapat dua jenis persarafan lain yang penting
untuk mengatur fungsi kandung kemih. Yang paling penting adalah serabut
motorik skeletal yang di bawa melalui saraf pudendus ke sfingter eksterna
kandung kemih. Saraf ini merupakan serabut saraf somatic yang
mempersarafi dan mengatur otot rangka volunteer pada sfingter tersebut.
Kandung kemih juga mendapatkan persarafan simpatis dari rangkaian
simpatis melalui saraf-saraf hipogastrik, yang terutama berhubungan
dengan segmen lumbal 2 dari medulla spinalis. Serabut simpatis ini
terutama merangsang pembuluh darah dan member sedikit efek terhadap
proses kontraksi kandung kemih. Beberapa serabut saraf sensorik juga
berjalan melalui persarafan simpatis dan mungkin penting untuk sensai
rasa penuh dan nyeri (pada beberapa kasus) (Guyton, 2012).
Bertambahnya perubahan tekanan tonus selama pengisian kandung
kemih merupakan peningkatan tekanan akut periodik yang terjadi selama
beberapa detik hingga lebih dari semenit. Puncak tekanan dapat meningkat
hanya beberapa sentimeter air atau mungkin meningkat hingga lebih dari
100 sentimeter air. Puncak tekanan ini disebut sebagai refleks mikturisi,
dan refleks mikturisi ini dapat dibantu oleh kontraksi volunter untuk
mengeluarkan urin. Pada proses pengeluaran urin terdapat 2 mekanisme,
yaitu:
a. Refleks Berkemih
Miksi atau berkemih adalah proses pengosongan kandung kemih yang
diatur oleh dua mekanisme: refleks berkemih dan kontrol volunter.
Refleks berkemih terpicu ketika reseptor regang di dalam dinding
kandung kemih terangsang. Kandung kemih pada orang dewasa dapat
menampung hingga 250 sampai 400 ml urin sebelum tegangan di

dindingnya mulai cukup meningkat untuk mengaktifkan reseptor regang.


Semakin besar tegangan melebihi ukuran ini, semakin besar tingkat
pengaktifan reseptor. Serat-serat aferen dari reseptor regang membawa
impuls ke medula spinalis dan akhirnya, melalui antar neuron
merangsang saraf parasimpatis untuk kandung kemih dan menghambat
neuron motorik ke sfingter eksternus. Stimulasi saraf parasimpatis
kandung kemih menyebabkan organ ini berkontraksi. Tidak ada
mekanisme khusus yang dibutuhkan untuk membuka sfingter internus,
perubahan bentuk kandung kemih selama kontraksi akan secara
mekanis menarik terbuka sfingter internus. Secara bersamaan, sfingter
eksternus melemas karena neuron-neuron motoriknya dihambat. Kini
kedua sfingter terbuka dan urin terdorong melalui uretra oleh gaya
yang ditimbulkan oleh kontraksi kandung kemih.
b. Kontrol Volume Berkemih
Selain memicu refleks berkemih, pengisian kandung kemih juga
menyadarkan yang bersangkutan akan keinginan untuk berkemih.
Persepsi penuhnya kandung kemih rnuncul sebelum sfingter eksternus
secara refleks melemas, memberi peringatan bahwa miksi akan segera
terjadi. Akibatnya, kontrol volunter berkemih, yang dipelajari selama
toilet training pada masa anak-anak dini, dapat mengalahkan refleks
berkemih sehingga pengosongan kandung kemih dapat berlangsung
sesuai keinginan yang bersangkutan dan bukan ketika pengisian
kandung kemih pertama kali mengaktifkan reseptor regang. Jika waktu
refleks miksi tersebut dimulai kurang sesuai untuk berkemih, maka
yang bersangkutan dapat dengan sengaja mencegah pengosongan
kandung kemih dengan mengencangkan sfingter eksternus dan
diafragma pelvis. Impuls eksitatorik volunter dari korteks serebri
mengalahkan sinyal inhibitorik refleks dari reseptor regang ke neuronneuron motorik yang terlibat (keseimbangan relatif PPE dan PPI)
sehingga otot-otot ini tetap berkontraksi dan tidak ada urin yang keluar.

Berkemih tidak dapat ditahan selamanya. Karena kandung


kemih terus terisi maka sinyal refleks dari reseptor regang meningkat
seiring waktu. Akhirnya, sinyal inhibitorik refleks ke neuron motorik
sfingter eksternus menjadi sedemikian kuat sehingga tidak lagi dapat
diatasi oleh sinyal eksitatorik volunter sehingga sfingter melemas dan
kandung kemih secara tak terkontrol mengosongkan isinya.
Berkemih juga dapat secara sengaja dimulai, meskipun kandung
kemih tidak teregang, dengan secara sengaja melemaskan sfingter
eksternus

dan

diafragma

pelvis.

Turunnya

dasar

panggul

memungkinkan kandung kemih turun, yang secara simultan menarik


terbuka sfingter uretra internus dan meregangkan dinding kandung
kemih. Pengaktifan reseptor regang yang kemudian terjadi akan
menyebabkan kontraksi kandung kemih melalui refleks berkemih.
Pengosongan kandung kemih secara sengaja dapat dibantu oleh
kontraksi dinding abdomen dan diafragma pernapasan. Peningkatan
tekanan intraabdomen yang ditimbulkannya menekan kandung kemih
ke bawah untuk mempermudah pengosongan.

C. Mikturisi (berkemih)
Mikturisi adalah proses pengosongan kandung kemih stelah terisi
oleh urin. Mikturisi melibatkan 2 tahap utama, yaitu:
1) Kandung kemih terisis secara progresif hingga tegangan pada
dindingnya meningkat melampaui nilai ambang batas, keadaan ini akan
mencetuskan tahap selanjutnya
2) Adanya refleks saraf (disebut

refleks

mikturisi)

yang

akan

mengosongkan kandung kemih atau jika gagal, setidaknya akan


menyebabkan keinginan berkemih yang di sadari. Meskipun refleks
mikturisi adalah refleks medulla spinali yang bersifat autonom, refleks
ini dapat di hambat atau di fasilitasi oleh pusat-pusat di korteks cerebri
atau batang otak.
Lapisan otot vesica urinaria terdiri dari otot polos, yang menebal
pada bagian leher untuk membentuk spincter vesicae. Inervasi otot polos
berasal dari pleksus nervosus hypogastricus. Serabut postganglionic
simpatis berasal dari ganglia lumbalis I dan II. Truncus simpaticus, dan
berjalan ke pleksus nervosus hypogastricus.
Serabut praganglionik parasimpatis muncul sebagai nervus
splanchnici pelvic nervus sakralis II, III, dan IV. Saraf-saraf tersebut
berjalan melalui pleksus nervosus hypogastricus untuk mencapai dinding
vesicae lalu bersinaps dengan neuron-neuron post ganglionik.
Saraf simpatis muskulus detrusor tidak atau sedikit bekerja pada otot
polos di vesica dan pembuluh-pembuluh darah
Saraf simpatis muskulus spingter vesicae hanya sedikit menmbulkan
kontraksi muskulus spingter untuk mempertahankan kontinensia urin.
Pada laki-laki menimbulkan kontraksi aktif leher vesica selama
ejakulasi sehingga mencegah cairan seminalis masuk ke vesica urinaria
Serabut parasimpatis merangsang kontraksi otot polos dinding vesica
dan menghambat kontraksi muskulus spingter vesicae.
Daftar Pustaka

Guyton, Arthur C dan Hall John. 2012. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 11.
Jakarta: EGC.
Sherwood, Lauralee. 2012. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem Edisi 6. Jakarta:
EGC.
Snell, Richard S. 2013. Neuroanatomi Kilinik Edisi 6 untuk Mahasiswa
Kedokteran. Jakarta : EGC.