Anda di halaman 1dari 45

BAB 1

KONSEP MEDIS
A. Definisi
a. Pre eklampsi (toksemia gravidarum) adalah tekanan darah tinggi
yang disertai dengan proteinuria (protein dalam air kemih) atau
edema (penimbunan cairan), yang terjadi pada kehamilan 20
minggu sampai akhir minggu pertama setelah persalinan.
(Manuaba, 1998).
b. Preeklampsia adalah timbulnya hipertensi disertai proteinuria dan
edema akibat kehamilan setelah usia kehamilan 20 minggu atau
segera setelah persalinan. (Mansjoer, 2000)
c. Menurut kamus saku kedokteran Dorland, preeclampsia adalah
toksemia

pada

kehamilan

lanjut

yang

ditandai

oleh

hipertensi,edema, dan proteinuria. Eklampsia adalah konvulsi dan


koma, jarang koma saja, yang terjadi pada wanita hamil atau
dalam masa nifas dengan disertai hipertensi, edema dan atau
proteinuria.
B. Etiologi
Penyebab terjadinya pre-eklamsia sampai sekarang belum diketahui.
Faktor-faktor Predisposisi
Meliputi :
a. Nulipara umur belasan tahun
b. Pasien yang miskin dengan pemeriksaan antenatal yang kurang atau
tidak sama sekali dan nutrisi yang buruk, terutama dengan diet
kurang protein
c. Mempunyai riwayat pre eklampsia atau eklampsia dalam keluarga
d. Mempunyai penyakit vaskular hipertensi sebelumnya
e. Kehamilan-kehamilan dengan trofoblas yang berlebihan ditambah
villi korion :
Kehamilan ganda
Mola hidatidosa
Diabetes mellitus
Hidrops fetalis
Bertambahnya frekuensi pada primigravida, kehamilan
ganda, hidramnion, dan mola hidatidosa.
Bertambahnya frekuensi seiring makin tuanya kehamilan.
Page | 1

Dapat terjadinya perbaikan keadaan penderita dengan


kematian janin dalam uterus.
Timbulnya hipertensi, edema, proteinuria, kejang dan koma

C. Patofisiologi
Pada preeklampsia terdapat penurunan aliran darah. Perubahan ini
menyebabkan

prostaglandin plasenta menurun dan mengakibatkan

iskemia uterus. Keadaan iskemia pada uterus , merangsang pelepasan


bahan tropoblastik yaitu akibat hiperoksidase lemak dan pelepasan renin
uterus.

Bahan

tropoblastik

menyebabkan

terjadinya

endotheliosis

menyebabkan pelepasan tromboplastin. Tromboplastin yang dilepaskan


mengakibatkan pelepasan tomboksan dan aktivasi / agregasi trombosit
deposisi fibrin. Pelepasan tromboksan akan menyebabkan terjadinya
vasospasme sedangkan aktivasi/ agregasi trombosit deposisi fibrin akan
menyebabkan koagulasi intravaskular yang mengakibatkan perfusi darah
menurun

dan

konsumtif

koagulapati.

Konsumtif

koagulapati

mengakibatkan trombosit dan faktor pembekuan darah menurun dan


menyebabkan gangguan faal hemostasis. Renin uterus yang di keluarkan
akan mengalir bersama darah sampai organ hati dan bersama- sama
angiotensinogen menjadi angiotensi I dan selanjutnya menjadi angiotensin
II. Angiotensin II bersama tromboksan akan menyebabkan terjadinya
vasospasme. Vasospasme menyebabkan lumen arteriol menyempit. Lumen
arteriol yang menyempit menyebabkan lumen hanya dapat dilewati oleh
satu sel darah merah. Tekanan perifer akan meningkat agar oksigen
mencukupi kebutuhan sehingga menyebabkan terjadinya hipertensi. Selain
menyebabkan vasospasme, angiotensin II akan merangsang glandula
suprarenal untuk mengeluarkan aldosteron. Vasospasme bersama dengan
koagulasi intravaskular akan menyebabkan gangguan perfusi darah dan
gangguan multi organ.
Gangguan multiorgan terjadi pada organ- oragan tubuh diantaranya otak,
darah, paru- paru, hati/ liver, renal dan plasenta. Pada otak akan dapat
menyebabkan terjadinya edema serebri dan selanjutnya terjadi peningkatan
tekanan intrakranial. Tekanan intrakranial yang meningkat menyebabkan
Page | 2

terjadinya gangguan perfusi serebral , nyeri dan terjadinya kejang sehingga


menimbulkan diagnosa keperawatan risiko cedera. Pada darah akan terjadi
enditheliosis menyebabkan sel darah merah dan pembuluh darah pecah.
Pecahnya

pembuluh

darah

akan

menyebabkan

terjadinya

pendarahan,sedangkan sel darah merah yang pecah akan menyebabkan


terjadinya anemia hemolitik. Pada paru- paru, LADEP akan meningkat
menyebabkan terjadinya kongesti vena pulmonal, perpindahan cairan
sehingga akan mengakibatkan terjadinya edema paru. Oedema paru akan
menyebabkan

terjadinya

kerusakan

pertukaran

gas.

Pada

hati,

vasokontriksi pembuluh darah menyebabkan akan menyebabkan gangguan


kontraktilitas miokard sehingga menyebabkan payah jantung dan
memunculkan diagnosa keperawatan penurunan curah jantung. Pada
ginjal, akibat pengaruh aldosteron, terjadi peningkatan reabsorpsi natrium
dan menyebabkan retensi cairan dan dapat menyebabkan terjadinya edema
sehingga dapat memunculkan diagnosa keperawatan kelebihan volume
cairan. Selin itu, vasospasme arteriol pada ginjal akan meyebabkan
penurunan GFR dan permeabilitas terrhadap protein akan meningkat.
Penurunan GFR tidak diimbangi dengan peningkatan reabsorpsi oleh
tubulus sehingga menyebabkan diuresis menurun sehingga menyebabkan
terjadinya oligouri dan anuri. Oligouri atau anuri akan memunculkan
diagnosa keperawatan gangguan eliminasi urin. Permeabilitas terhadap
protein yang meningkat akan menyebabkan banyak protein akan lolos dari
filtrasi glomerulus dan menyenabkan proteinuria. Pada mata, akan terjadi
spasmus arteriola selanjutnya menyebabkan oedem diskus optikus dan
retina. Keadaan ini dapat menyebabkan terjadinya diplopia dan
memunculkan diagnosa keperawatan risiko cedera. Pada plasenta
penurunan perfusi akan menyebabkan hipoksia/anoksia sebagai pemicu
timbulnya gangguan pertumbuhan plasenta sehinga dapat berakibat
terjadinya Intra Uterin Growth Retardation serta memunculkan diagnosa
keperawatan risiko gawat janin.

Page | 3

Hipertensi akan merangsang medula oblongata dan sistem saraf


parasimpatis akan meningkat. Peningkatan saraf simpatis mempengaruhi
traktus gastrointestinal dan ekstrimitas. Pada traktus gastrointestinal dapat
menyebabkan terjadinya hipoksia duodenal dan penumpukan ion H
menyebabkan HCl meningkat sehingga dapat menyebabkan nyeri
epigastrik. Selanjutnya akan terjadi akumulasi gas yang meningkat,
merangsang mual dan timbulnya muntah sehingga muncul diagnosa
keperawatan ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh. Pada
ektrimitas dapat terjadi metabolisme anaerob menyebabkan ATP
diproduksi dalam jumlah yang sedikit yaitu 2 ATP dan pembentukan asam
laktat. Terbentuknya asam laktat dan sedikitnya ATP yang diproduksi akan
menimbulkan keadaan cepat lelah, lemah sehingga muncul diagnosa
keperawatan intoleransi aktivitas. Keadaan hipertensi akan mengakibatkan
seseorang kurang terpajan informasi dan memunculkan diagnosa
keperawatan kurang pengetahuan.
D. Manifestasi Klinik
Diagnosis preeklampsia ditegakan berdasarkan tiga gejala, yaitu
A Penambahan berat badan yang berlebihan dan edema
Penambahan berat badan yang berlebihan bila terjadi kenaikan 1 kg
seminggu beberapa kali. Edema terlihat sebagai peningkatan berat
badan,pembengkakan kaki, jari tangan, dan muka.
B Hipertensi
Tekanan darah > 140/90 mmHg atau tekenen sistolik meningkat > 30
mmHg atau tekanan diastolik > 15 mmHg yang di ukur setelah pasien
beristirahat selama 30 menit. Tekanan diastolik pada trimester kedua
yang lebih dari 85 mmHg patut dicurigai sebagai bakat preeklampsia.
C Proteinuria.
Proteinuria apabila terdapat protein sebanyak 0,3 g/l dalam air kencing
24 jam atau pemeriksaan kualitatif menunjukan +1 atau 2 ;atau kadar
protein > 1g /l dalam urin yang dikeluarkan dengan kateter atau porsi
tengah, diambil minimal 2 kali dengan jarak waktu 6 jam
Berikut tanda dan gejala berdasarkan klasifikasi:

Page | 4

Pre eklampsia digolongkan ke dalam Pre eklampsia ringan dan Pre


eklampsia berat dengan gejala dan tanda sebagai berikut:
A. Pre eklampsia Ringan
Tekanan darah sistolik 140 atau kenaikan 30 mmHg dengan
interval pemeriksaan 6 jam
Tekanan darah diastolic 90 atau kenaikan 15 mmHg dengan
interval pemeriksaan 6 jam
Kenaikan berat badan 1 kg atau lebih dalam seminggu. Edema
umum, kaki, jari tangan dan muka.
Proteinuria 0,3 gr atau lebih dengan tingkat kualitatif 1 sampai 2
pada urin kateter atau urin aliran pertengahan.
B. Pre-eklampsia Berat
Tekanan darah sistolik 160 mmHg
Tekanan darah diastolik 110 mmHg
Peningkatan kadar enzim hati dan atau ikterus (kuning)
Trombosit < 100.000/mm3
Oliguria (jumlah air seni < 400 ml / 24 jam)
Proteinuria (protein dalam air seni > 3 g / L)
Nyeri ulu hati
Gangguan penglihatan atau nyeri kepala bagian depan yang berat
Perdarahan di retina (bagian mata)
Edema (penimbunan cairan) pada paru
Koma
E. Penatalaksanaan
Tujuan penatalaksaan adalah:
ac Mencegah kejang dan komplikasi lainnya
bc Melahirkan bayi hidup
cc Mencegah keadaan patologi yang tesisa
1. Preeklamsi ringan
Jika kehamilan <37 minggu, dan tidak ada tanda-tanda perbaikan
,lakukan penilaian 2 kali semanggu secara rawat jalan:
terminasi dengan seksio sesarea.
2. Preeklamsia berat
Beri obat antikonvulsan
Perlengkapan untuk penanganan kejang [jalan nafas
sedotan,masker oksigen,oksigen
Lindungi pasien dari kemungkinan trauma
Aspirasi mulut dan tenggorokan

Page | 5

Baringkan pasien pada sisi kiri, posisi trendelemberg untuk

mengurangi risiko aspirasi


Beri oksigen 4-6 liter/menit
3. Penanganan Umum
Jika tekanan diatolik >110 mmHg, berikan antihipertensi,

sampai tekanan diastolik di antara 90-100 mmHg


Pasang infus RL dengan jarum besar(16 gauge atau >)
Ukur keseimbangan cairan, jangan sampai terjadioverload
Kateterisasi urine untuk pengeluaran volume dan protenuria
Jika jumlah urine <30 ml per jam
Jangan tinggalkan pasien sendiri. Kejang disertai aspirasi dapat

mengakibatkan kematian ibu dan janin.


Observasi tanda-tanda vital, refleks,dan denyut jantung janin

setiap jam.
Auskultasi paru untuk mencari tanda-tanda edema paru .
Krepitasi merupakan tanda edema paru. Jika ada edema paru
,stop pemberian cairan dan berikan diuretik misalnya

furosemide 40 mg IV.
Nilai pembekuan darah dengan uji pembekuan bedside. Jika
pembekuan tidak terjadi sesudah 7 menit , kmungkinan

terdapat koagulopati.
Antihipertensi
Obat pilihan adalah hidralazin , yang diberikan 5 mg IV pelan-

pelan selama 5 menitsampai tekanan darah turun


Jika perlu, pemberian hidralazin dapat diulang setip jam, atau

12,5 mgIM setiap 2 jam


Jika hidralazin tidak tersedia
Nifedipine 5 mgsublingual,. Jika respon tidak baik setelah 10

menit, beri tambah 5 mg sublingual


Labetolol 10 mg IV, yang jika respon tidak baik setelah 10

menit diberikan lagi labetolol 20 mg IV


Perawatan post partum
Anti konvulsan diteruskan sampai 24 jam post partum atau

kejang terahkir
Teruskan terapi antihipertensi jika tekanan diastolik masih
>110 mmHg

Page | 6

Pantau urine

F. Pemeriksaan Diagnostik
a. Tes Laboratorium
Pemeriksaan Darah Lengkap dengan Apusan Darah : Peningkatan
hematrokit dibandingkan nilai yang diketahui sebelumnnya memberi
kesan hemokonsentrasi, atau menurunnya volume plasma. Jika
hematrokit lebih rendah dari yang diperkirakan, kemungkinan
hemolisis intravaskular akibat proses hemolisis mikroangiopatik perlu
dipertimbangkan. Analisa apusan darah tepi dapat mengungkapkan selsel darah merah yang mengalami distorsi dan skistosit.
b. Amniosentesis
Tes dari cairan ketuban (rasio L/S;fosfatidilgliserol;fosfatidilkolin
januh)memberikan penilaian dari maturasi paru janin.
c. Ultrasonografi
Pengukuran secara seri dari diameter biparietal dapat menerangkan
kejadian dini dari retardasi pertumbuhan intrauterin. Gerakan
pernapasan janin, aktivitas janin dan volume cairan ketuban
memberikan penilaian tambahan dari kesehatan janin. Sonografi dap;at
mengidentifikasi kehamilan ganda atau anomali janin
d. Pengukuran estriol
Memberikan penilaian fungsi fetoplasental. Kadar yang rendah atau
menurun memberi kesab insufisiensi fetoplasental
e. Human placental lactogen (HPL)
HPL yang kurang dari 4 mcg/ml memberi kesan fungsi plasenta yang
abnormal dan janin dalam bahaya.

BAB II

Page | 7

KONSEP KEPERAWATAN
A. Pengkajian
Pengkajian merupakan tahap awal dari proses keperawatan, suatu proses
kolaboratif melibatkan perawat, klien dan tim kesehatan lainnya.
Pengkajian dilakukan melalui wawancara dan pemeriksaan pisik, dalam
pengkajian diperlukan kecermatan dan ketelitian agar data yang terkumpul
lebih akurat, sehingga dapat dikelompokkan dan dianalisa untuk
mengetahui masalah dan kebutuhan klien terhadap perawatan.
1. Pengkajian yang dilakukan kepada klien pre-eklamsia meliputi :
. Identitas umum klien.
2. Data riwayat kesehatan
a. Riwayat kesehatan dahulu
Kemungkinan klien menderita penyakit hipertensi

sebelum hamil.
Kemungkinan klien mempunyai riwayat pre-eklamsia

pada kehamilan terdahulu


Biasanya mudah terjadi pada klien yang obsitas
Klien mungkin pernah menderita penyakit ginjal kronis
tekanan darah klien sebelum hamil normotensif

b. Riwayat kesehatan sekarang


Klien merasa sakit kepala didaerah frontal.
Terasa sakit diulu hari/nyeri epigastrium
Gangguan virus : Penglihatan kabur, skotoma, diplopia.
Mual dan muntah, tidak ada nafsu makan.
Gangguan serebral lainnya: oyong, reflek tinggi, tidak

tenang.
Oedema pada ekstremitas.
Tengkuk terasa berat.
Kenaikan berat badan 1 kg seminggu.

c. Riwayat kesehatan keluarga


Kemungkinan mempunyai riwayat preeklampsia dan
eklampsia dalam keluarga.
d. Riwayat perkawinan.
Biasanya terjadi pada wanita yang menikah di bawah
usia 20 tahun atau di atas 35 tahun
3.Pemeriksaan fisik / biologis

Page | 8

Keadaan Umum

Pencernaan/abdomen

Ekstremitas

: Leiovaskuler Hipertensi, mudah


terkejut
: Nyeri daerah epigastrium,anoreksia,
mual dan muntah
: Oedema pada kaki dan tangan serta
jari-jari

Sistem persyarafan
Genito urinaria
Pemeriksaan janin

: Hiperrefleksi, klonus pada kaki


: Oliguria. Proteinuria
: Bunyi jantung janin tidak teratur,
Gerakan janin melemah

4. Pemeriksaan Penunjang
A. Pemeriksaan laboraturium
a. Pemeriksaan darah lengkap dengan hapusan daerah.
Penurunan haemoglobin (nilai rujukan atau kadar
normal haemoglobin untuk wanita hamil adalah 12-14
gr %)
Hematokrit meningkat (nilai rujukan 37-43 vol %)
Trombosit menurun (nilai rujukan 150-450 ribu/mm3)
b. Urinalisi
Ditemukan protein dalam urin
c. Pemeriksaan fungsi hati
Bilirubin meningkat ( N =<1 mg/dl)
LDH ( lactic dehydrogenase) meningkat
Aspartate Aminotransferase (AST)> 60 u/l
Serum Glutamic Pyruvic Transaminate ( SGPT )
meningkat ( N= 15-45 u/ml
Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase
( SGOT ) meningkat (N = <31 u/l)
Total protein serum menurun ( N = 6,7 8,7 g/dl)
Tes
kimia
darah
Asam urat meningkat ( N= 2,4 2,7 mg/dl)
B. Radiologi
Ultrasonografi
Ditemukannya retardasi pertumbuhan intra uterin
Pernafasan janin lambat, aktifitas janin lambat, volume
cairan ketuban sedikit Terlihat kehamilan kembar
Kardiotografi
Diketahui denyut jantung bayi lemah

Page | 9

C. Diagnosa Keperawatan
1. Gangguan perfusi jaringan otak berhubungan dengan penurunan
cardiac output sekunder terhadap vasospasme pembuluh darah
ditandai akral dingin dan sianosis
2. Resiko terjadi gawat janin intra uteri (hipoksia) berhubungan dengan
penurunan suplay O2 dan nutrisi ke jaringan plasenta ditandai
dengan kematian janin dan solutio plasenta
3. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan ditandai
dengan pasien tidak dapat beraktivitas dengan baik, akral dingin,
frekuensi jantung dan TD abnormal

Page | 10

4. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan hipoksia


duodenal dan penumpukan ion H+ ditandai dengan akumulasi gas
meningkat
5. Pola napas tidak efektif berhubungan dengan edema paru ditandai
dengan frekuensi napas abnormal, ada bunyi napas tambahan
6. Ansietas berhubungan dengan koping yang tidak efektif terhadap
proses persalinan
7. Nutrisi kurang dari

kebutuhan

tubuh

berhubungan

dengan

peningkatan HCl ditandai dengan mual, muntah, penurunan berat


badan, dan nafsu makan menurun
8. Gangguan pola eliminasi alvi berhubungan dengan penurunan
peristaltic usus ditandai dengan konstipasi
9. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan kongesti vena
pulmonal ditandai dengan takipnea, suara napas ronchi
10. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan penurunan cardiac
output sehingga terjadi penumpukan darah, LAEDP meningkat,
kongesti

vena

pulmonal,

terjadi

perpindahan

cairan

dari

intravaskuler ke ekstra vaskuler yang ditandai dengan adanya edema


11. . Resiko tinggi terjadi gangguan pertumbuhan, perkembangan dan
keamanan pada janin berhubungan dengan rusaknya perfusi placenta
dari ibu.
12. Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan diaporesia

Page | 11

D. Intervensi Keperawatan
C.
D.

E. Diagnosa

F. Tujuan

G. Interv

keperawata
I.

n
J. Gangguan

H. Rasional

ensi
1. Setelah

dilakukan

1. Jelaskan

penyebab 1. terjadi karena penurunan curah

perfusi

tindakan keperawatan

terjadinya gangguan

jantung

jaringan

selama x 24 jam,

perfusi jaringan

vasokonstriksi dan menyebabkan

otak

perfusi

jaringan

Y.

berhubung

adekuat dan tercapai

Z.

an dengan

secara

penurunan

dengan criteria hasil :

cardiac

sempurna 2. Observasi

gangguan perfusi jaringan


AD.
2. vasokonstriksi
sistemik
adanya

pucat, sianosis, akral

a.

dingin / hangat, dan

output

Sianos

catat kekuatan nadi

sekunderte

is (-)

rhadap

T.

U.

perifer
AA.
b.
3. Observasi

vasospasm

akral

teraba

pembuluh

hangat

dan

masukan
perubahan

keluaran urine
AB.

menyebabkan

diakibatkan
curah

jantung

penurunan
ditunjukkan

dengan penurunan perfusi kulit


dan penurunan nadi
AE.
3. penurunan pemasukan
mengakibatkan
volume

sirkulasi,

dapat

penurunan
yang

berdampak buruk pada perfusi


dan organ.

Page | 12

oleh

darah

c.

ditandai

nadi

akral

perifer

dingin dan

kuat

sianosis

W. d.inta

K.

keoutp

L.

ut

M.

seimb

N.

ang,

O.

tidak

P.

ada

Q.

oedem

R.
S.

Page | 13

V.

X.

AC.

AF.

IW.Resiko

1. Setelah

AG.

terjadi

tinadakan

AH.

gawat

keperawatan

AI.

janin intra

x24

AJ.

uteri

janin

AK.

(hipoksia)

bayi

AL.

berhubung

dipertahankan sampai

AM.

an dengan

37 minggu atau BBL

AN.

penurunan

AO.

suplay O2

AP.

dan nutrisi

AQ.

ke jaringan

AR.

plasenta

AS.

ditandai

AT.

dengan

AU.

kematian

AV.
AW.
AX.

Page | 14

janin

dan

solutio
plasenta

dilakukan 1. Ajarkan pasien untuk 1. deteksi dini terhadap adanya


melakuakn

jam,
tidak

selama

secara teratur sesuai

gawat

dengan

terjadi,
dapat

2500 gr, dengan


criteria hasil :
I.
Gerakan
janin
II.

120-140

III.

x/mnt
Kontraksi uterus /

IV.

his tidak ada


Kehamilan dapa
di

masa

kahamilan :
1 x/bln pada trimester
I
2 x/bln pada trimester
II
1

x/minggu

trimester III
UZ.
2. Anjurkan

aktif
DJJ

pertahankan

sampai

37

minggu dan BBL

ANC

untuk

tidur

kekiri
VA.
3. Observasi

2. meminimalkan
pasien
miring

konttraksi uterus / his,


gerakan janin setiap
VB.

ZG.

pada

DJJ,

hari

penyimpangan pada kehamilan


YX.
YY.
YZ.
ZA.
ZB.
ZC.
ZD.
ZE.
ZF.
tekanan

pada

aorta sehingga O2 yang di suplay


ke plasenta dan janin lebih lancar
ZH.
3. penurunan DJJ dan gerakan janin
sebagai prediksi adanya asfiksia
janin
ZI.
ZJ.
ZK.
1. aktivitas yang maju memberikan

AY.

IX.

AZ.

IY.
IZ.
JA.
JB.
JC.
JD.
JE.
JF.
JG.
JH.
JI.
JJ.
JK.
JL.
JM.
JN.
JO.
JP.
JQ.
JR.
JS. Intoleransi

BA.
BB.
BC.
BD.
BE.
BF.
BG.
BH.
BI.
BJ.
BK.
BL.
BM.
BN.
BO.
BP.
BQ.

Page | 15

aktivitas
berhubung

2500 gr
VC.
kontrol jantung, meningkatkan
RC.
1. Jelaskan
pola
regangan,
dan
mencegah
1. Setelah
dilakukan
peningkatan bertahap
aktivitas berlebihan.
tindakan keperawatan
ZL.
dari aktivitas
selama x24 jam,
2. aktivitas dengan menahan napas
VD.
kebutuhan
pasien
dan
menunduk
dapat
VE.
terpenuhi
dengan
mengakibatkan
bradikardia,
2. Anjurkan
pasien
criteria hasil pasien
menurunkan curah jantung,
menghindari
dapat
beraktivitas
takikardia dengan peningkatan
peningkatan tekanan
dengan baik
TD.
abdomen, mengejan
3. parameter menunjukkan respon
RD.
saat defekasi.
fisiologis pasien terhadap stress
RE.
VF.
aktivitas dan indicator derajat
RF.
3. Observasi
toleransi
pengaruh
kelebihan
kerja
RG.
pasien
terhadap
jantung.
RH.
aktivitas
ZM.
RI.
menggunakan
ZN.
RJ.
parameter berikut :
ZO.
RK.
nadi 20/mnt di atas
ZP.
RL.
frekuensi
nadi
ZQ.
RM.

BR.

an dengan

RN.

istirahat,

catat

ZR.

BS.

kelemahan

RO.

peningkatan

TD,

ZS.

BT.

ditandai

RP.

dispnea, nyeri dada,

ZT.

BU.

dengan

RQ.

kelelahan

ZU.

BV.

pasien

RR.

kelemahan,

BW.

tidak dapat

RS.

berkeringat,

BX.

beraktivita

RT.

BY.

RU.

BZ.

baik, akral 1. Setelah

CA.

dingin,

tindakan keperawatan

CB.

frekuensi

selamax 24 jam,

CC.

jantung

rasa nyeri pada pasien

CD.

dan

CE.

abnormal

CF.
CG.
CH.
CI.
CJ.

Page | 16

JT.
JU.
JV.
JW.
JX.
JY.

dengan

TD

sudah

napas

gas

RW.
RX.

dapat
untuk
bila

VH.
VJ.
VK.
makanan

dalam porsi sedikit


tapi sering

terjadi

vasodilatasi pembuluh

darah,

expansi paru optimal sehingga


02

pada

jaringan

terpenuhi.
ZW.

VI.

2. Berikan

berelaksasi

kebutuhan

timbul nyeri

dengan criteria hasil

RV.

pusing 1. Dengan nafas dalam otot-otot

dalam

berkurang

kembali normal

ZV.

atau pingsan.
VG.
1. Ajarkan ibu

dilakukan

akumulasi

berat,

2. Menurunkan

kelemahan,

meningkatkan
,dan

pemasukan

mencegah

distensi

gaster
3. Ambang

ZX.
nyeri

setiap

orang

VL.

berbeda ,dengan demikian akan

VM.

dapat

menentukan

tindakan

CK.
CL.
CM.
CN.
CO.
CP.
CQ.
CR.
CS.
CT.
CU.
CV.
CW.
CX.
CY.
CZ.
DA.
DB.
DC.

Page | 17

JZ.
KA.
KB.
KC.
KD.
KE.
KF.
KG.
KH.
KI.
KJ.
KK.
KL.
KM.
KN.
KO.
KP.
KQ.
KR.
KS.
KT.
KU.
KV.
KW.

RY.

3. Observasi

RZ.

nyeri pasien

SB.

VO.

SC.

VP.

paru

SD.

VQ.

meningkat

1. Jelaskan

dilakukan

Gangg

menunjukan
napas

efektif

ZY.
1. terjadi penumpukan darah pada

penyebab

terjadinya pola napas


tidak efektif

selama x 24 jam,
pola

respon pasien terhadap nyerinya

VN.

tindakan keperawatan
pasien

perawatan yang sesuai dengan

SA.

SE.
1. Setelah

intensitas

VR.
jadi

menyebabkan
sehingga

LAEDP
timbul

edema dan menyebabkan pola


napas tidak efektif
ZZ.

ter 2. area yang tidak terventilasi dapat


diidentifikasi dengan tak adanya

VS.

bunyi napas.

dengan criteria hasil :


VT.
AAA.
Frekuensi napas 2. Auskultasi paru untuk
AAB.
normal
(12-20
penurunan / tak ada
AAC.
x/mnt)
bunyi napas dan 3. distress pernapasan dapat terjadi
Kedalaman napas
adanya
bunyi
sebagai akibat stress fisiologis
dalam
rentang
tambahan
atau
dapat
menunjukkan
normal
VU.
terjadinya syok sehubungan
Bunyi
napas 3. Observasi frekuensi

DD.

uan

DE.

nyaman

SF.

VV.

AAD.

DF.

nyeri

SG.

VW.

AAE.

DG.

berhubung

SH.

VX.

DH.
DI.
DJ.
DK.
DL.
DM.
DN.
DO.
DP.
DQ.
DR.
DS.
DT.
DU.

Page | 18

rasa

normal

dan fungsi pernapasan

dengan perdarahan.

1. informasi yang terlalu banyak


akan sulit untuk diingat, pasien
an dengan
SI.
VY.
dapat merujuk pada materi
hipoksia
SJ.
VZ.
tertulis atau rekaman sesuai
duodenal
1. Setelah
dilakukan 1. Berikan
informasi
kebutuhan untuk menyegarkan
tertulis atau rekaman
daya ingat / mempelajari
dan
tindakan keperawatan
WA.
informasi baru
penumpuk
selama x 24 jam,
WB.
AAF.
an ion H+
kecemasan
ibu
WC.
2. langkah awal dalam mengatasi
WD.
perasaan adalah identifikasi dan
ditandai
berkurang atau hilang
WE.
ekspresi. Mendorong penerimaan
dengan
dengan criteria hasil :
WF.
situasi dan kemampuan diri

Ibu
tampak
akumulasi
2. Dorong pasien untuk
untuk mengatasi
tenang
mengakui
dan
AAG.
gas
Ibu
kooperatif
menyatakan perasaan
terhadap tindakan
3. Tingkat kecemasan ringan dan
lambung
WG.
perawatan
sedang bisa ditoleransi dengan
meningkat
WH.
Ibu
dapat
pemberian pengertian sedangkan
WI.
KX.
menerima kondisi
yang berat diperlukan tindakan
WJ.
KY.
yang
dialami
medikamentosa
3.
Observasi
tingkat
KZ.
sekarang
AAH.
kecemasan ibu
LA.

DV.
DW.
DX.
DY.
DZ.
EA.
EB.
EC.
ED.
EE.
EF.
EG.
EH.
EI.
EJ.
EK.
EL.
EM.
EN.

Page | 19

LB.
SK.
WK.
LC.
WL.
SL.
LD.
WM.
SM.
LE.
WN.
1.
Setelah
dilakukan
LF.
WO.
LG.
pasien
tindakan keperawatan 1. Ajarkan
LH.
istirahat
sebelum
selama x 24 jam,
LI.
makan
nutrisi
pasien
LJ.
WP.
LK.
terpenuhi
dengan
LL.
2. Berikan
makan
criteria hasil :
LM.
peningkatan berat
sedikit dan makanan
LN.
badan
kecil tambahan yang
LO. Pola

mual
dan
muntah
napas tidak
tepat
efektif
berkurang
WQ.
nafsu
makan
berhubung
3. Observasi masukan
an dengan
meningkat
edema
dan
perubahan
SN.
paru
simtomatologi
SO.
ditandai
WR.
dengan
1. Setelah
dilakukan
WS.
frekuensi
tindakan keperawatan
napas
WT.
selama x 24 jam,
abnormal,

AAI.
1. menenangkan peristaltic
meningkatkan

energi

dan
untuk

makan
AAJ.
2. dilatasi gaster dapat terjadi bila
pemberian makan terlalu cepat
setelah periode puasa
AAK.
3. memberikan rasa control pada
pasien dan kesempatan untuk
memilih

makanan

diinginkan

dan

yang
dapat

meningkatkan masukan
AAL.
1. konstipasi

terjadi

karena

peristaltic usus menurun yang


disebabkan
hipoksia

karena
deudenal

terjadi
dan

EO.
EP.
EQ.
ER.
ES.
ET.
EU.
EV.
EW.
EX.
EY.
EZ.
FA.
FB.
FC.
FD.
FE.
FF.
FG.

Page | 20

ada bunyi
napas
tambahan
LP.
LQ.
LR.
LS.
LT.
LU.
LV.
LW.
LX.
LY.
LZ.
MA.
MB.
MC.
MD.
ME.
MF.
MG.
MH.
MI.
MJ.
MK.

gangguan

pola 1. Jelaskan

penyebab

penumpukan ion H+
AAM.
eliminasi feses pasien
terjadinya gangguan
2. membantu dalam memperbaiki
teratasi,
dengan
pola eliminasi feses
konsistensi feses bila konstipasi.
criteria
hasil
WU.
AAN.
konsistensi
feses
WV.
3. mengetahui kadar air dalam
lembek, pritaltik usus
WW.
feses.
SP. Meningkat
2. Berikan cairan 2500SQ.
AAO.
SR.
3000 cc/ hari
4. makanan yang mengandung serat
SS.
WX.
ST.
yang
menyebabkan
feses
SU.
3. Observasi konsistensi
menjadi lunak dengan bentuk
SV.
feses
SW.
yang normal serta menurunkan
SX.
WY.
resiko feses yang keras dan sulit
SY.
4. Kolaborasi
dengan
1. setelah
dilakukan
dikeluarkan
ahli
gizi
dalam
tindakan keperawatan
AAP.
pemberian makanan
selama
x
24
1. pertukaran gas terjadi karena
tinggi serat
jam,pertukaran
gas
adanya gangguan pada alveoli
WZ.
pasien
kembali
yang disebabkan oleh adanya
XA.
normal,
dengan
edema pada paru-paru.
XB.
criteria hasil :
AAQ.

FH.
FI.
FJ.
FK.
FL.
FM.
FN.
FO.
FP.
FQ.
FR.
FS.
FT.
FU.
FV.
FW.
FX.
FY.
FZ.

Page | 21

ML. Ansieta
s
berhubung
an dengan
koping
yang tidak
efektif
terhadap
proses
persalinan
MM.
MN.
MO.
MP.
MQ.
MR.
MS.
MT.
MU.
MV.
MW.
MX.
MY.

Suara

napas 1. Jelaskan

kepada

AAR.

normal
Distress

pasien dan keluarga

AAS.

pernapasannya

penyebab

teratasi
Tidak

kerusakan pertukaran

pasien

ada

sianosis
SZ.
TA.
TB.
TC.
TD.
TE.
TF.
TG.
TH.
TI.
TJ.
TK.
TL.
TM.
TN.
TO.
TP.
TQ.
1. Setelah

tentang

2. membuat

terjadinya

udara

gas.
XC.
2. Anjurkan

luar,

menggunakan bibir

menghilangkan

pendek

akibat

nyeri

mekanisme

XG.

terhadap

XH.
frekuensi,
dan

perubahan membrane
mukosa ada tidaknya
sianosis

napas

3. pernapasan meningkat sebagai

XF.

dilakukan

membantu

AAT.

XE.

kedalaman,

mencegah

sehingga

XD.

3. Observasi

untu

menyebarkan udara melalui paru


dan

bernapas

melawan

kolaps atau penyempitan jalasn


napas,

pasien

tahanan

atau

sebagai

kompensasi
hilangnya

awal

jaringan

paru. Namun peningkatan kerja


napas

dan

menunjukkan

sianosis

dapat

peningkatan

konsumsi oksigen
AAU.
4. bunyi napas dapat menurun atau

GA.
GB.
GC.
GD.
GE.

MZ.
NA.
NB.
NC.
ND.
NE.

Nutrisi

GF.

kurang

GG.

dari

GH.

kebutuhan

GI.

tubuh

GJ.

berhubung

GK.

an dengan

GL.

peningkata

GM.

GN.

ditandai

GO.

dengan

HCl

mual,
GP.

muntah,

GQ.

penurunan

GR.

berat

Page | 22

tindakan keperawatan
XI.
tidak ada pada area yang sakit.
dalam waktu ...x 24
XJ.
Mengi adalah bukti konstriksi
jam kelebihan volume
XK.
bronkus atau penyempitan jalan
cairan teratasi, dengan
XL.
napas
sehubungan
dengan
kriteria hasil :
balance
cairan 4. Observasi
ada
edema.
masuk dan keluar.
tidaknya bunyi napas
AAV.
vital sign dalam
dan adanya bunyi
AAW.
batas yang dapat
diterima.
tambahan,
seperti 1. Kelebihan volume cairan terjadi
tanda-tanda
mengi
karena adanya penurunan cardiac
edema tidak ada.
XM.
output
sehingga
terjadi
suara nafas bersih
TR.
XN.
penumpukan darah, LAEDP
TS.
XO.
meningkat,
kongesti
vena
TT.
1. Jelaskan
penyebab
pulmonal, terjadi perpindahan
TU.
TV.
terjadinya kelebihan
cairan dari intravaskuler ke
TW.
volume cairan
ekstra vaskuler.
TX.
XP.
AAX.
TY.
XQ.
AAY.
TZ.
XR.
2. adanya
bunyi
krekels
UA.
XS.
UB.
mengindikasikan edema paru
UC.
XT.
sekunder akibat dekompensasi
UD.
XU.

GS.

badan, dan

GT.

nafsu

GU.

makan

GV.

menurun

UE.
UF.
UG.
UH.
UI.
UJ.

XV.
XW.
XX.
XY.
XZ.
YA.

GW.

NF.

GX.

NG.

GY.

NH.

GZ.

NI.

HA.

NJ.

HB.

NK.

gangguan

HC.

NL.

pertumbuhan dan

UK.
1. Setelah

2. Auskultasi

dilakukan

tindakan keperawatan
... x 24 jam
tidak

HD.

NM.

HE.

NN.

Gangg

bunyi

3. Catat adanya DVJ,


adanya

edema

jantung

penurunan

keluaran

Keseimbangan

cairan

urine.
positif

berulang pada adanya gejala lain

dalam

YD.

keadaan

aman

YE.

menunjukkan klebihan

eliminasi

HH.

alvi

HI.

berhubung

dalam kandungan 4. Ukur


masukan/keluaran,
UL.
D

an dengan

engan kriteria

Page | 23

curah

ginjal, retensi cairan/Na, dan

HG.

penurunan

ABA.

YC.

uan

HK.

kelebihan volume cairan.

mengakibatkan gangguan perfusi

dependen.

gagal

YB.

janin
Janin

UM.

terjadinya

4. Penurunan

krekels.

catat

adanya

jantung kongestif dan terjadinya

HF.

HJ.

pola

kecurigaan

nafas untuk adanya

terjadi

perkembangan

jantung.
AAZ.
3. untuk
mengetahui

ABB.

penurunan

pengeluaran,

sifat

ABC.
1. gangguan

pertumbuhan

perkembangan

janin

dan
terjadi

karena rusaknya perfusi plasenta


dari ibu

HL.

peristaltic

HM.

usus

HN.

asil :

konsentrasi.

Hitung

ABD.

keseimbnagan cairan.

ABE.

Janin

dalam

ditandai

keadaan

aman

HO.

dengan

sesuai

HP.

konstipasi

pertumbuhan

agal
jantun

buruk diduga sebagai salah satu

penyebab

NO.

dan

HR.

NP.

ngannya

HS.

NQ.

HT.

NR.

HU.

NS.

HV.

NT.

HW.

NU.

HX.

NV.

HY.

NW.

HZ.

NX.

IA.

NY.

tindakan keperawatan

IB.

NZ.

IC.

OA.

selama x 24 jam,
UY.

ID.

OB.

Page | 24

perkemba

ABF.
ABG.
2. Defisiensi protein dan gizi yang
pre

eklampsia.

YG.

Peninkatan

YH.

diperuntukkan untuk mengganti

1. Jelaskan

diet

protein

kepada

kehilangan protein yang keluar

pasien dan keluarga

melalui urin
3. Istirahat dan tidur miring terbukti

pasien

penyebab

terjadinya

gangguan

pertumbuhan
dilakukan

vol
ume/g

dengan

HQ.

UN.
UO.
UP.
UQ.
UR.
US.
UT.
UU.
UV.
UW.
UX.
1. Setelah

YF.

perkembangan
janin.
YI.
2. Tingkatkan
protein
gr/kgBB/hari

dan
pada

menurunkan

tekanan

darah,

meningkatkan aliran darah ke


uterus

dan

mengembalikan

ginjal,
cairan

yang

kelua kembali ke intravaskuler.


intake
1

ABH.
4. Pertumbuhan

yang

terganggu

IE.

OC.

IF.

OD.

Kerusa

YJ.

atau pertumbuhan yang tidak

YK.

sesuai dengan usia kehamilan

IG.

kan

YL.

dapat

IH.

pertukaran

YM.

terjadi gangguan pertumbuhan

II.

gas

IJ.

berhubung

bed rest dengan tidur

ABI.

IK.

an dengan

miring ke kiri.

ABJ.

IL.

kongesti

YN.

IM.

vena

YO.

ABK.

IN.

pulmonal

YP.

ABL.

IO.

ditandai

YQ.

ABM.

IP.

dengan

IQ.

takipnea,

fundus

IR.

suara

sesuaikan dengan usia

IS.

napas

kehamilan ( HPHT )

IT.

ronchi

YR.

ABO.

IU.

(mengi),

YS.

3. mengetahui balance cairan dalam

IV.

sianosis
OE.

Page | 25

3. Anjurkan klien untuk

4. Observasi

YT.
YU.

suatu

indikai

janin.

1. mencegah diaporesis

tinggi
uteri

menjadi

dan

2. aktivitas yang berlebihan dapat


menyebabkan

vasodilatasi

pembuluh darah di kulit


ABN.

ABP.
ABQ.

tubuh

OF.

1. Anjurkan

pasien

OG.

memakai

pakaian

OH.

yang

OI.
OJ.
OK.
OL.
OM.
ON.
OO.
OP.
OQ.
OR.
OS.
OT.
OU.
OV.
OW.
OX.

Page | 26

tipis

dan

menyerap keringat
2. Anjurkan
pasien
untuk

mengurangi

aktivitas

yang

berlebihan
YV.
3. Observasi pemasukan
dan haluaran urine
YW.

OY.
OZ.
PA.
PB.
PC.
PD.
PE.
PF. Kelebihan
volume
cairan
berhubung
an dengan
penurunan
cardiac
output
sehingga
terjadi
penumpuk
an

Page | 27

darah,

LAEDP
meningkat,
kongesti
vena
pulmonal,
terjadi
perpindaha
n

cairan

dari
intravaskul
er
ekstra
vaskuler
yang
ditandai
dengan
adanya
edema.
PG.

Page | 28

ke

PH.
PI.
PJ.
PK.
PL.
PM.
PN.
PO.
PP.
PQ.
PR.
PS.
PT.
PU.
PV.
PW.
PX.
PY.
PZ.Resiko

Page | 29

tinggi
terjadi
gangguan
pertumbuh
an,
perkemban
gan

dan

keamanan
pada janin
berhubung
an dengan
rusaknya
perfusi
placenta
dari ibu.
QA.
QB.
QC.
QD.

Page | 30

QE.
QF.
QG.
QH.
QI.
QJ.
QK.
QL.
QM.
QN.
QO.
QP.
QQ.
QR.
QS.
QT.
QU.
QV.
QW.

Page | 31

QX.
QY.

Resiko

kekuranga
n

volume

cairan
berhubung
an dengan
diaporesia
QZ.
RA.
RB.
ABR.
ABS.
ABT.
ABU.
ABV.
ABW.
ABX.
ABY.
ABZ.
E. Implementasi keperawatan

Page | 32

ACA.
ACB.

ACC. H

ACD.

ACE.

ACF. Implementasi

ACJ.

ACK.
1. Menjelaskan

ACG. Evaluasi

ari /
Tan
gga
l
ACH.

ACI.

penyebab

terjadinya

gangguan perfusi jaringan


ACL.
ACM.
2. Mengobservasi adanya pucat, sianosis,
akral dingin / hangat, dan catat kekuatan
nadi perifer
ACN.
3. Mengobservasi masukan dan perubahan
keluaran urine
ACO.
ACP.

ACQ. S : pasien
sudah tidak
pucat lagi
ACR.
ACS. O : tidak
sianosis
ACT.
ACU. A :masalah
teratasi
ACV.
ACW. P
:perthankan
intervensi

Page | 33

ACY.

AEN.

AEO.

AFT.
1. Mengajarkan pasien untuk melakuakn

ACZ.

AEP.

ANC secara teratur sesuai dengan masa

ADA.

AEQ.

kahamilan :
1 x/bln pada trimester I
2 x/bln pada trimester II
1 x/minggu pada trimester III
AFU.
2. Menganjurkan pasien untuk tidur miring

ADB.

AER.

ADC.

AES.

ADD.

AET.

ADE.

AEU.

ADF.

AEV.

ADG.

AEW.

ADH.

AEX.

his, gerakan janin setiap hari

ADI.

AEY.

AFW.

ADJ.

AEZ.

AFX.

ADK.

AFA.

AFY.

ADL.

AFB.

ADM.

AFC.

ADN.

AFD.

ADO.

Page | 34

AFE.

kekiri
AFV.
3. Mengobservasi DJJ, konttraksi uterus /

sudah bisa tidul


dalam posisi
miring
AGI.
AGJ. O :klien
tampak tertivur
dalam posisi
miring
AGK.
AGL. A: masalah
teratasi

1. Menjelaskan pola peningkatan bertahap

AGM. P :
pertahankan

dari aktivitas
AFZ.

intervensi

AGA.
2. Manganjurkan

ACX.
AGH. S :klien

AGN.
pasien

menghindari

peningkatan tekanan abdomen, mengejan

AGO.

ADP.

AFF.

ADQ.

AFG.

ADR.

AFH.

ADS.

saat defekasi.

AGP.

AGB.

AGQ.

3. mengobservasi toleransi pasien terhadap

AGR.

AFI.

aktivitas menggunakan parameter berikut

AGS.

ADT.

AFJ.

: nadi 20/mnt di atas frekuensi nadi

AGT.

ADU.

AFK.

istirahat, catat peningkatan TD, dispnea,

AGU.

ADV.

AFL.

nyeri dada, kelelahan berat, kelemahan,

AGV. S ; klien

ADW.

AFM.

berkeringat, pusing atau pingsan.

ADX.

AFN.

ADY.

AFO.

ADZ.

AFP.

AEA.

AFQ.

AEB.

AFR.

AEC.

AFS.

mulai

AGC.

beraktifitas

1. Mengajarkan ibu untuk napas dalam bila


timbul nyeri

AGW.

AGD.
2. Memberikan

makanan

AGX. P :tandadalam

porsi

sedikit tapi sering


AGE.

AED.

3. Mengobservasi intensitas nyeri pasien

AEE.
AEF.
AEG.

Page | 35

AGF.
AGG.

dengan hati-hati

tanda vital dalam


keadaan normal
AGY.
AGZ. O :masalah
teratasi
AHA.
AHB.

AEH.

AHC. P

AEI.

:pertahankan

AEJ.

intervensi

AEK.

AHD.

AEL.

AHE.

AEM.

AHF.
AHG.
AHH. S : klien
sudah dapat
mengatasi nyeri
dengan baik
AHI.
AHJ. O :klien
tampak rileks
AHK.
AHL. A :masalah
teratasi
AHM.
AHN. P
:pertahankan
intervensi
AHO.

Page | 36

AHP.
AHQ.
AHR.
AHT.

AHU.

AHV.

AHW.
1. Menjelaskan penyebab terjadinya pola
napas tidak efektif
AHX.

terjadi

AHZ.
2. Mengauskultasi paru untuk penurunan /
tak ada bunyi napas dan adanya bunyi
tambahan
AIA.
3. Mengobservasi frekuensi dan fungsi
AIB.
AIC.
AID.

sesak
AIF.

O: tanda-

tanda vital dalam


kedaan normal
AIG.
AIH. A : masalah
teratasi
AII.
AIJ.

P:

pertahankan
intervensi
AIK.
AIL.
AIM.
AIN.

Page | 37

AHS.
S : Klien

sudah tidak

AHY.

pernapasan

AIE.

AIO.
AIP.
AIQ.
AIR.
AIT.

AIU.

AIV.

AIW.
1. Memberikan informasi tertulis atau
rekaman
AIX.
AIY.
AIZ.
2. Mendorong pasien untuk mengakui dan
menyatakan perasaan
AJA.
AJB.
AJC.
3. Mengobservasi tingkat kecemasan ibu
AJD.
AJE.

AJF.

AIS.
S: klien

sudak tidak
cemas lagi
AJG.
AJH. O: k;lien
tampak tenang
AJI.
AJJ.

A: masalah

Teratasi
AJK. P:
pertahankan
intervensi
AJL.
AJM.
AJN.
AJO.

Page | 38

AJP.

AJQ.

AJR.

AJS.
1. Mengajarkan pasien istirahat sebelum
makan

AJZ.

S: klien

dapat
AJT.

menghabiskan

2. Memberikan makan sedikit dan makanan


kecil tambahan yang tepat

porsi makan
yang berikan

AJU.

AKA.

3. Mengobservasi masukan dan perubahan


simtomatologi

AKB. O: klien
tampak segar

AJV.

dan tidak lemah

AJW.

lagi

AJX.

AKC.

AJY.

AKD. A: masalah
Teratasi
AKE. P:
pertahankan
Intervensi
AKF.

AKH.

Page | 39

AKI.

AKJ.

AKK.
1. Menjelaskan

penyebab

terjadinya

AKG.
AKS. S: klien bisa

gangguan pola eliminasi feses


AKL.

AKT.

AKM.

AKU. O: tidak

AKN.
2. Memberikan cairan 2500-3000 cc/ hari
AKO.
3. Mengobservasi konsistensi feses
AKP.
4. Kolaborasi dengan ahli gizi dalam
pemberian makanan tinggi serat
AKQ.
AKR.
1.

BAB

terdapat distensi
abdomen
AKV.
AKW. A: masalah
Teratasi
AKX. P:
pertahankan
Intervensi
AKY.
AKZ.
ALA.
ALB.
ALC.
ALD.
ALE.
ALF.
ALG.
ALH.

Page | 40

ALI.

ALJ.

ALK.

ALL.
1. Menjelaskan kepada pasien dan keluarga
pasien

tentang

penyebab

kerusakan pertukaran gas.


ALM.
2. Menganjurkan
pasien

terjadinya

sudah tidak
sesak nafas

bernapas

menggunakan bibir

O : R; 24x/menit
ALQ.
A :masalah

ALN.
3. Mengobservasi

ALP. S : Klien

frekuensi, kedalaman,

dan perubahan membrane mukosa ada


tidaknya sianosis
4. Mengobservasi ada tidaknya bunyi napas

teratasi
ALR.
P : pertahankan
intervensi

dan adanya bunyi tambahan, seperti


mengi

ALS.

ALO.

ALT.
ALU.
ALV.
ALW.
ALX.
ALY.
ALZ.

Page | 41

AMA.
AMB.
AMC.
AMD.
AME.
AMF.
AMG.
AMH.
AMJ.

AMK.

AML.

AMM.
1. Menjelaskan
penyebab
terjadinya
kelebihan volume cairan
AMN.
AMO.
2. Mengauskultasi bunyi nafas untuk
adanya krekels.
3. Mencatat adanya DVJ, adanya edema
dependen.

bengkak lagi
O : denyut
jantung janin

masukan/keluaran,

normal
catat

penurunan pengeluaran, sifat konsentrasi.

Page | 42

klien tidak

dalam keadaan
AMP.

4. Mengukur

AMI.
AMT. S :tubuh

A :masalah

Hitung keseimbnagan cairan.


AMQ.

teratasi

volume/gagal

jantung

P :pertahankan

AMR.

intervensi

AMS.
AMU.
AMV.
AMW.
AMX.
AMZ.

ANA.

ANB.

ANC.
1. Menjelaskan kepada pasien dan keluarga

AMY.
ANH. S : klien

pasien penyebab terjadinya gangguan

tampak

pertumbuhan dan perkembangan pada

bebrbaring

janin.
AND.
2. Meniningkatkan

dengan nyaman
intake

protein

gr/kgBB/hari
ANE.

O : intake nutrisi
sudah baik

3. Menganjurkan klien untuk bed rest


dengan tidur miring ke kiri.

Page | 43

A :masalah

ANF.
4. Mengobservasi tinggi fundus uteri dan
sesuaikan

dengan

usia

kehamilan

( HPHT )
ANG.

teratasi
P :pertahankan
intervensi
ANI.
ANJ.
ANK.
ANL.

ANN.

ANO.

ANP.

ANQ.
1. Menganjurkan pasien memakai pakaian
yang tipis dan menyerap keringat
ANR.
2. Menganjurkan pasien untuk mengurangi
aktivitas yang berlebihan

ANM.
ANU. S : klien
tampak berhatihati dalam
beraktivitas

ANS.
3. Mengobservasi pemasukan dan haluaran
urine
ANT.

Page | 44

O : urine klien
dalam kedaan
normal

A :masalah
teratasi
P :pertahankan
intervensi
ANV.
ANW.
ANX.
ANY.
ANZ.
AOA.
AOB.
AOC.
AOD.
AOE.
AOF.

Page | 45