Anda di halaman 1dari 18

Skenario B Blok 28 Tahun 2014

Dr. Gudman merupakan dokter umum ytang bertugas di sebuah kecamatan yang
penduduknya kebanyakan bekerja sebagai petani dan buruh kerja di perkebunan. Dr. Gudman
juga telah melakukan kontrak BPJS.
Hari ini dia kembali dikunjungi oleh pak Kasti yang sudah lama menjadi langganannya. Dulu
setiap 1 bulan sekali pak Kasti datang berobat ke dokter Gudman. Kalau bukan darah
tingginya yang kumat maka gastritisnya yang kambuh. Tapi akhir-akkhir ini pak Kasti makin
sering datang dan penyakitnya cenderung lebih berat. Namun dr. Gudman selalu menerima
pak Kasti dengan ramah dan meresepkan obat-obatan yang biasa diberikannnya.
Tapi kali ini pak Kasti tidak langsung pulang sehabis menerima resep terseebut. Ia
menanyakan kepada dokter tentang istrinya yang sejak lama sering mengalami sakit kepala.
Setiap kali minum obat sakit kepala penyakitnya tersebut sembuh, tapi tidak beberapa
kemudian sakit kepalanya terasa kembali. Sekarang ia juga sering merasa sakit diperut seperti
saya. Tapi karena tidak separah yang saya alami ia tidak mau diajak berobat kesini.
Bagaimana menurut dokter ? mendengar itu Dr. Gudman menasihatkan kepada pak Kasti
agar kalau ada waktu membawa istrinya datang berobat.
Sebagai salah satu seorang dokter praktek umum yang telah mandapat pelatihan tentang
prinsip-prinsip dokter keluarga dan dokter layanan primer yang telah dikontrak oleh BPJS,
anda diminta untuk mengevaluasi dan mengkritisi penatalaksanaan pasien yang telah
dilakukan dr, Gudman dalam menangani pasien tersebut dengan menerapkan secara lengkap
dan benar semua prinsip-prinsip kedokteran keluarga dan dokter layanan primer.

I.

Klarifikasi Istilah

No.

Istilah

Pengertian

1.

Dokter Praktek Umum

Dokter yang memiliki kemampuan mengobati


berbagai penyakit dan melakukan praktik medis
umum.

2.

BPJS

Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang


ditugaskan untuk menyelenggarakan jaminan
pemeliharaan kesehatan bagi rakyat Indonesia.

3.

Darah Tinggi

Peningkatan tekanan darah sistolik > 140 mmHg


dan tekanan darah diastolik > 90 mmHg

4.

Gastritis

Kondsi medis yang ditandai dengan peradangan


pada lapisan lambung

5.

Dokter Keluarga

Dokter praktek umum yang menyelenggarakan


pelayanan primer yang komprehensif, kontinu,
integratif,
holistik,
koordinatif
dengan
menjalankan promosi, pencegahan, menimbang
peran keluarga dan lingkungan serta sekitarnya.

6.

Dokter Layanan Primer

Dokter yang dapat memberikan pelayanan


kesehatan yang berorientasi komunitas dengan
titik berat pada keluarga, dia tidak hanya
memandang penderita hanya sebagai individu yg
sakit tetapi sebagai bagian dari unit keluarga dan
tidak hanya menanti secara pasif, tetapi bila perlu
aktif mengunjungi penderita atau keluarganya.

II.

Identifikasi Masalah

1. Dr. Gudman merupakan dokter umum ytang bertugas di sebuah kecamatan yang
penduduknya kebanyakan bekerja sebagai petani dan buruh kerja di perkebunan.
Dr. Gudman juga telah melakukan kontrak BPJS.
2. Hari ini dia kembali dikunjungi oleh pak Kasti yang sudah lama menjadi
langganannya. Dulu setiap 1 bulan sekali pak Kasti datang berobat ke dokter
Gudman. Kalau bukan darah tingginya yang kumat maka gastritisnya yang
kambuh. Tapi akhir-akkhir ini pak Kasti makin sering datang dan penyakitnya
cenderung lebih berat. Namun dr. Gudman selalu menerima pak Kasti dengan
ramah dan meresepkan obat-obatan yang biasa diberikannnya.
3. Tapi kali ini pak Kasti tidak langsung pulang sehabis menerima resep terseebut. Ia
menanyakan kepada dokter tentang istrinya yang sejak lama sering mengalami
sakit kepala. Setiap kali minum obat sakit kepala penyakitnya tersebut sembuh,
tapi tidak beberapa kemudian sakit kepalanya terasa kembali. Sekarang ia juga
sering merasa sakit diperut seperti saya. Tapi karena tidak separah yang saya alami
ia tidak mau diajak berobat kesini. Bagaimana menurut dokter ? mendengar itu
Dr. Gudman menasihatkan kepada pak Kasti agar kalau ada waktu membawa
istrinya datang berobat.

III.

Analisis Masalah

1. Dr. Gudman merupakan dokter umum ytang bertugas di sebuah kecamatan yang
penduduknya kebanyakan bekerja sebagai petani dan buruh kerja di perkebunan. Dr.
Gudman juga telah melakukan kontrak BPJS.
a. Apa saja tugas dari Dokter Keluarga?
Karakteristik Dokter Keluarga menurut IDI (1982)
a. Memandang pasien sebagai individu, bagian dari keluarga dan masyarakat
b. Pelayanan menyeluruh dan maksimal
c. Mengutamakan pencegahan, tingkatan taraf kesehatan
d. Menyesuaikan dengan kebutuhan pasien dan memenuhinya
e. Menyelenggarakan pelayanan primer dan bertanggung jawab atas kelanjutannya

Tugas Dokter Keluarga, meliputi :


1. Menyelenggarakan pelayanan primer secara paripurna menyuruh, dan
bermutu
guna penapisan untuk pelayanan spesialistik yang diperlukan,
2. Mendiagnosis secara cepat dan memberikan terapi secara cepat dan tepat,
3. Memberikan pelayanan kedokteran secara aktif kepada pasien pada saat sehat
dan
sakit,
4. Memberikan pelayanan kedokteran kepada individu dan keluarganya,
5. Membina keluarga pasien untuk berpartisipasi dalam upaya peningkatan taraf
kesehatan, pencegahan penyakit, pengobatan dan rehabilitasi,
6. Menangani penyakit akut dan kronik,
7. Melakukan tindakan tahap awal kasus berat agar siap dikirim ke rumah sakit,
8. Tetap bertanggung-jawab atas pasien yang dirujukan ke Dokter Spesialis atau
dirawat di RS,

9. Memantau pasien yang telah dirujuk atau di konsultasikan,


10.Bertindak sebagai mitra, penasihat dan konsultan bagi pasiennya,
11.Mengkordinasikan pelayanan yang diperlukan untuk kepentingan pasien,
12.Menyelenggarakan rekam Medis yang memenuhi standar,
13.Melakukan penelitian untuk mengembang ilmu kedokteran secara umum dan
ilmu kedokteran keluarga secara khusus.

DOKTER PRAKTEK UMUM


Cakupan Pelayanan

Terbatas

DOKTER KELUARGA
Lebih Luas
Menyeluruh, Paripurna, bukan sekedar

Sifat Pelayanan

Sesuai Keluhan

yang dikeluhkan
Kasus per kasus dengan

Cara Pelayanan

Kasus per kasus dengan pengamatan sesaat

berkesinambungan sepanjang hayat


Lebih kearah pencegahan, tanpa

Jenis Pelayanan

Lebih kuratif hanya untuk penyakit tertentu

mengabaikan pengobatan dan rehabilitasi

Peran keluarga

Kurang dipertimbangkan

Lebih diperhatikan dan dilibatkan

Tidak jadi perhatian

Jadi perhatian utama

Promotif dan
pencegahan

Dokter pasien teman sejawat dan


Hubungan dokter-pasien

Dokter pasien

konsultan
Secara individual sebag ai bagian dari

Awal pelayanan

b.

Secara individual

keluarga komunitas dan lingkungan

Apa perbedaan antara Dokter Umum, Dokter Keluarga dan Dokter Layanan
Primer?

c. Bagaimana cara dokter umum agar dapat bekerja sama dengan BPJS?

BPJS : Badan Pengelola Jaminan Sosial


PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 71 TAHUN 2013
TENTANG
PELAYANAN KESEHATAN PADA JAMINAN KESEHATAN NASIONAL
BAB II
PENYELENGGARA PELAYANAN KESEHATAN
Pasal 2
(1) Penyelenggara pelayanan kesehatan meliputi semua Fasilitas Kesehatan yang bekerja
sama dengan BPJS Kesehatan berupa Fasilitas Kesehatan tingkat pertama dan
Fasilitas Kesehatan rujukan tingkat lanjutan.
(2) Fasilitas Kesehatan tingkat pertama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat
berupa:
a. puskesmas atau yang setara;
b. praktik dokter;
c. praktik dokter gigi;
d. Klinik pratama atau yang setara; dan
e. Rumah Sakit Kelas D Pratama atau yang setara

Pasal 3
(1) Fasilitas Kesehatan tingkat pertama yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan harus
menyelenggarakan pelayanan kesehatan komprehensif.

(2) Pelayanan kesehatan komprehensif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa
pelayanan kesehatan promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif, pelayanan kebidanan,
dan Pelayanan Kesehatan Darurat Medis, termasuk pelayanan penunjang yang
meliputi pemeriksaan laboratorium sederhana dan pelayanan kefarmasian sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(3) Dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan komprehensif sebagaimana dimaksud
pada ayat (1), bagi Fasilitas Kesehatan yang tidak memiliki sarana penunjang wajib
membangun jejaring dengan sarana penunjang.
(4) Dalam hal diperlukan pelayanan penunjang selain pelayanan penunjang sebagaimana
dimaksud pada ayat (2), dapat diperoleh melalui rujukan ke fasilitas penunjang lain.
BAB III
KERJA SAMA FASILITAS KESEHATAN DENGAN BPJS KESEHATAN
Bagian Kesatu
Umum
Pasal 4
(1) Fasilitas Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 mengadakan kerja sama
dengan BPJS Kesehatan.
(2) Kerja sama Fasilitas Kesehatan dengan BPJS Kesehatan sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dilakukan melalui perjanjian kerja sama.
(3) Perjanjian kerja sama Fasilitas Kesehatan dengan BPJS Kesehatan dilakukan antara
pimpinan atau pemilik Fasilitas Kesehatan yang berwenang dengan BPJS Kesehatan.
(4) Perjanjian kerja sama sebagaimana dimaksud pada ayat (3) berlaku sekurangkurangnya 1 (satu) tahun dan dapat diperpanjang kembali atas kesepakatan bersama.

Pasal 5
(1) Untuk dapat melakukan kerja sama dengan BPJS Kesehatan, Fasilitas Kesehatan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 harus memenuhi persyaratan.

(2) Selain ketentuan harus memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
BPJS Kesehatan dalam melakukan kerja sama dengan Fasilitas Kesehatan juga harus
mempertimbangkan kecukupan antara jumlah Fasilitas Kesehatan dengan jumlah
Peserta yang harus dilayani.
Bagian Kedua
Persyaratan, Seleksi dan Kredensialing
Pasal 6
(1) Persyaratan yang harus dipenuhi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1), bagi
Fasilitas Kesehatan tingkat pertama terdiri atas:
a. untuk praktik dokter atau dokter gigi harus memiliki:
1. Surat Ijin Praktik;
2. Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP);
3. perjanjian kerja sama dengan laboratorium, apotek, dan jejaring lainnya; dan
4. surat pernyataan kesediaan mematuhi ketentuan yang terkait dengan Jaminan
Kesehatan Nasional.
b. untuk Puskesmas atau yang setara harus memiliki:
1. Surat Ijin Operasional;
2. Surat Ijin Praktik (SIP) bagi dokter/dokter gigi, Surat Ijin Praktik Apoteker (SIPA) bagi
Apoteker, dan Surat Ijin Praktik atau Surat Ijin Kerja (SIP/SIK) bagi tenaga kesehatan lain;
3. perjanjian kerja sama dengan jejaring, jika diperlukan; dan
4. surat pernyataan kesediaan mematuhi ketentuan yang terkait dengan Jaminan Kesehatan
Nasional.
c. untuk Klinik Pratama atau yang setara harus memiliki:
1. Surat Ijin Operasional;

2. Surat Ijin Praktik (SIP) bagi dokter/dokter gigi dan Surat Ijin Praktik atau Surat Ijin Kerja
(SIP/SIK) bagi tenaga kesehatan lain;
3. Surat Ijin Praktik Apoteker (SIPA) bagi Apoteker dalam hal klinik menyelenggarakan
pelayanan kefarmasian;
4. Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) badan;
5. perjanjian kerja sama dengan jejaring, jika diperlukan; dan
surat pernyataan kesediaan mematuhi ketentuan yang terkait dengan Jaminan Kesehatan
Nasional.
(2) Selain persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Fasilitas Kesehatan tingkat
pertama juga harus telah terakreditasi.
Pasal 8
(1) Dalam hal di suatu kecamatan tidak terdapat dokter berdasarkan penetapan
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat, BPJS Kesehatan dapat
bekerja sama dengan praktik bidan dan/atau praktik perawat untuk
memberikan Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama sesuai dengan kewenangan
yang ditentukan dalam peraturan perundang-undangan.
Manajemen Pembiayaan Klinik Doga
Keuangan dalam praktik DOGA tercatat secara seksama dengan cara yang umum dan
bersifat transparansi. Manajemen keuangannya dapat mengikuti sistem pembiayaan
praupaya maupun sistem pembiayaan fee for service.

Berdasarkan bagan tersebut, dapat disimpulkan bahwa sistem pembiayaan


klinik dokter keluarga dapat berasal dari asuransi sosial, asuransi komersial, dan out
of pocket. Model pembiayaan yang diterapkan sesuai dengan kebutuhan.
Untuk dapat menyelenggarakan pelayanan dokter keluarga tentu diperlukan
tersedianya dana yang cukup. Tidak hanya untuk pengadaan pelbagai sarana dan
prasarana medis dan non medis yang diperlukan (investment cost), tetapi juga untuk
membiayai pelayanan dokter keluarga yang diselenggarakan (operational cost)
Seyogiyanyalah semua dana yang diperlukan ini dapat dibiayai oleh pasien dan atau
keluarga yang memanfaatkan jasa pelayanan dokter keluarga. Masalah kesehatan
seseorang dan atau keluarga adalah tanggung jawab masing-masing orang atau
keluarga yang bersangkutan. Untuk dapat mengatasi masalah kesehatan tersebut
adalah amat diharapkan setiap orang atau keluarga bersedia membiayai pelayanan
kesehatan yang dibutuhkannya.

2. Hari ini dia kembali dikunjungi oleh pak Kasti yang sudah lama menjadi
langganannya. Dulu setiap 1 bulan sekali pak Kasti datang berobat ke dokter Gudman.
Kalau bukan darah tingginya yang kumat maka gastritisnya yang kambuh. Tapi akhirakkhir ini pak Kasti makin sering datang dan penyakitnya cenderung lebih berat.
Namun dr. Gudman selalu menerima pak Kasti dengan ramah dan meresepkan obatobatan yang biasa diberikannnya.
a. Apakah dr.Gudman telah melakukan prinsip-prinsip Dokter Keluarga dengan
baik?

Dokter keluarga memiliki 5 prinsip yang dimiliki, yaitu (Azrul Azwar, dkk. 2004):
a. Care Provider (Penyelenggara Pelayanan Kesehatan)
Yang mempertimbangkan pasien secara holistik sebagai seorang individu dan
sebagai bagian integral (tak terpisahkan) dari keluarga, komunitas, lingkungannya,
dan

menyelenggarakan

pelayanan

kesehatan

yang

berkualitas

tinggi,

komprehensif, kontinu, dan personal dalam jangka waktu panjang dalam wujud
hubungan

profesional

dokter-pasien

yang

saling

menghargai

dan

mempercayai. Juga sebagai pelayanan komprehensif yang manusiawi namun tetap


dapat dapat diaudit dan dipertangungjawabkan
b. Comunicator (Penghubung atau Penyampai Pesan)
Yang mampu memperkenalkan pola hidup sehat melalui penjelasan yang efektif
sehingga memberdayakan pasien dan keluarganya untuk meningkatkan dan
memelihara kesehatannya sendiri serta memicu perubahan cara berpikir menuju
sehat dan mandiri kepada pasien dan komunitasnya
c. Decision Maker (Pembuat Keputusan)
Yang melakukan pemeriksaan pasien, pengobatan, dan pemanfaatan teknologi
kedokteran berdasarkan kaidah ilmiah yang mapan dengan mempertimbangkan
harapan pasien, nilai etika, cost effectiveness untuk kepentingan pasien
sepenuhnya dan membuat keputusan klinis yang ilmiah dan empatik
d. Manager
Yang dapat berkerja secara harmonis dengan individu dan organisasi di dalam
maupun di luar sistem kesehatan agar dapat memenuhi kebutuhan pasien dan
komunitasnya berdasarkan data kesehatan yang ada. Menjadi dokter yang cakap
memimpin klinik, sehat, sejahtera, dan bijaksana
e. Community Leader (Pemimpin Masyarakat)
Yang memperoleh kepercayaan dari komunitas pasien yang dilayaninya,
menyearahkan kebutuhan kesehatan individu dan komunitasnya, memberikan

nasihat kepada kelompok penduduk dan melakukan kegaiatan atas nama


masyarakat dan menjadi panutan masyarakat
Selain prinsip, ada pula tugas dokter keluarga, yaitu :
a. Mendiagnosis dan memberikan pelayanan aktif saat sehat dan sakit
b. Melayani individu dan keluarganya
c. Membina dan mengikut sertakan keluarga dalam upaya penanganan penyakit
d. Menangani penyakit akut dan kronik
e. Merujuk ke dokter spesialis
Kewajiban dokter keluarga :
a. Menjunjung tinggi profesionalisme
b. Menerapkan prinsip kedokteran keluarga dalam praktek
c. Bekerja dalam tim kesehatan
d. Menjadi sumber daya kesehatan
e. Melakukan riset untuk pengembangan layanan primer
dr. Gudman belum memenuhi prinsip-prinsip dokter keluarga dengan lengkap, ia
belum menerapkan prinsip comunicator dengan baik, belum membuat pak Kasti
memelihara kesehatannya sendiri serta memicu perubahan cara berpikir menuju
sehat dan mandiri kepada pak Kasti sehingga pak Kasti sangat bergantung kepada
dokter dan dr. Gudman juga tetap memberikan obat yang sama meskipun penyakit
pak Kasti semakin berat.
b. Apa yang harusnya dilakukan oleh dr.Gudman kepada Pak Kasti? (mengenai
penyakit maupun pengobatan)
Seharusnya dr.Gudman dapat menyelenggarakan pelayanan primer yang
komprehensif,

kontinu,

mempertimbangkan

keluarga,

mengutamakan
komunitas

pencegahan,
dan

lingkungannya

koordinatif,
dilandasi

ketrampilan dan keilmuan yang mapan.

3. Tapi kali ini pak Kasti tidak langsung pulang sehabis menerima resep terseebut. Ia
menanyakan kepada dokter tentang istrinya yang sejak lama sering mengalami sakit
kepala. Setiap kali minum obat sakit kepala penyakitnya tersebut sembuh, tapi tidak
beberapa kemudian sakit kepalanya terasa kembali. Sekarang ia juga sering merasa

sakit diperut seperti saya. Tapi karena tidak separah yang saya alami ia tidak mau
diajak berobat kesini. Bagaimana menurut dokter? mendengar itu Dr. Gudman
menasihatkan kepada pak Kasti agar kalau ada waktu membawa istrinya datang
berobat.
a. Sebagai dokter yg telah mendapatkan pelatihan kedokteran keluarga, Apa yang
perlu dilakukan dr.Gudman kepada istri Pak Kasti?
Meminta istri pak Kasti untuk memeriksakan diri ke dr. Gudman, kemudian
memberikan tindakan kuratif, promotif, preventif dan rehabilitatif yang tepat pada
istri pak Kasti.
b. Apa saja upaya promotif dan preventif yang perlu dilakukan kepada masyarakat
yg bekerja sebagai petani dan buruh kerja di perkebunan?
Menganjurkan masyarakat untuk melaksanakan prilaku hidup bersih dan sehat
dengan melakukan berbagai penyuluhan untuk mencegah angka kesakitan yang
meningkat di masyarakat.
4. Apa saja prinsip-prinsip Dokter Layanan Primer?
Dengan mengacu pada Deklarasi Alma Ata dan konsep PHC dari WHO
(1978), definisi pelayanan primer dari Institute of Medicine (1996), definisi disiplin
ilmu GP/F dari WONCA Europe (2011), UU Dikdok 2013, dan konsensus yang
melatarbelakanganinya; maka yang dimaksud dengan DLP adalah dokter masa depan
(saat ini belum ada) yang disiapkan untuk menjadi fondasi sistem pelayanan
kesehatan di era JKN. DLP didefinisikan sebagai berikut:
Dokter Layanan Primer adalah dokter spesialis di bidang generalis yang secara
konsisten menerapkanprinsip-prinsip

Ilmu Kedokteran Keluarga,

ditunjang

dengan Ilmu Kedokteran Komunitas dan Ilmu Kesehatan Masyarakatyang mampu


memimpin maupun menyelenggarakan pelayanan kesehatan primer.
Penjelasan setelah definisi DLP diperlukan mengenai:
1. Spesialis di bidang Generalis:
Dokter yang menempuh pendidikan lanjutan dengan kualifikasi sama dengan dokter
spesialis untuk menangani masalah kesehatan pada individu, keluarga dan
masyarakat, dengan tidak memandang usia, jenis kelamin, keluhan dan penyakit.

2. Prinsip-prinsip Ilmu Kedokteran Keluarga:


Sebuah cabang Ilmu Kedokteran yang memfokuskan pada pelayanan kontak pertama
yang komprehensif dan sinambung, dengan memperhatikan bahwa setiap individu itu
unik dan spesifik, mempertimbangkan bio-psiko-sosio-kultural-spiritual tanpa
memandang usia, jenis kelamin dan penyakit, melayani individu dalam konteks
keluarga, komunitas, dan masyarakat.
3. Ilmu Kedokteran Komunitas:
Sebuah cabang Ilmu Kedokteran yang memfokuskan pada pelayanan individu dalam
komunitasnya yang spesifik (kedokteran kerja, kedokteran olah raga, kedokteran
kelautan, kedokteran hiperbarik, kedokteran perusahaan, dan semacamnya)
4. Ilmu Kesehatan Masyarakat:
Sebuah cabang Ilmu Kedokteran yang memfokuskan pada kesehatan populasi melalui
upaya prevensi dan promosi
5. Ilmu Kedokteran Keluarga mewarnai sebagian besar dari kompetensi Dokter
Layanan Primer mencakup kurang-lebih 80% dari area kompetensi DLP. Sedangkan
Ilmu Kedokteran Komunitas dan Ilmu Kesehatan Masyarakat menunjang kuranglebih 20% dari area kompetensi DLP.
Secara lebih spesifik, definisi DLP di atas mengandung makna berikut ini:
DLP adalah dokter yang pertama kali dikunjungi individu yang membutuhkan
pelayanan

kesehatan,

dan

yang

bertanggung

jawab

penyediaan

pelayanan

komprehensif dan berkelanjutan (sinambung) pada kliennya tanpa dibatasi usia, jenis
kelamin, dan penyakit
DLP melayani setiap individu dalam konteks keluarga, komunitas, dan budaya
kliennya, dan selalu menghormati otonomi kliennya.
DLP memiliki tanggung jawab profesional pada komunitas yang ia layani.
DLP mengintegrasikan, psikologis, faktor sosial, budaya dan eksistensial fisik
kliennya dengan memanfaatkan pengetahuan dan kepercayaan yang dibangun melalui
kontak berulang dengan klinnya.

DLP melaksanakan peran profesionalnya melalui promosi kesehatan, pencegahan


penyakit, pengobatan, dan pelayanan paliatif, serta promosi pemberdayaan dan
manajemen diri klien, yang ia lakukan sendiri atau melalui pihak lain sesuai dengan
kebutuhan dan sumber daya yang tersedia, dan bila diperlukan membantu kliennya
mengakses layanan ini
DLP bertanggung jawab untuk mengembangkan dan memelihara keterampilan,
keseimbangan pribadi dan nilai-nilai profesi sebagai dasar dalam memberikan
pelayanan efektif dan menjaga keselamatan kliennya.
DLP bertanggung jawab memantau terus menerus, memelihara, dan meningkatkan
pelayanan, keselamatan dan kepuasan kliennya.
DLP peduli terhadap masalah kesehatan nasional, dan mengakui memiliki tanggung
jawab profesional untuk berpartisipasi aktif melaksanakan program yang menjadi
prioritas nasional dan melaksanakan advokasi untuk mendukung pencapaian program
nasional.
DLP Memahami cara pendekatan individu, keluarga dan komunitas dan masyarakat,
sesuai kawasan perkotaan
DLP Memahami cara pendekatan individu, keluarga dan komunitas, dan masyarakat
sesuai kawasan pedesaan
DLP Memahami cara pendekatan individu, keluarga dan komunitas, dan masyarakat
sesuai kawasan DTPK dan Suku Terasing

5. Apakah semua prinsip Dokter Layanan Primer telah dilakukan dr.Gudman dengan
lengkap dan benar?
Belum.

6. Bagaimana kriteria merujuk pasien pada kasus ini?


a. Anamnesis
b. Pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang
c. Penegakkan diagnosis dan diagnosis banding
d. Prognosis

e. Konseling membantu pasien (dan keluarga) untuk menentukan pilihan terbaik


penatalaksanaan untuk pasien sendiri.
f. Konsultasi jika diperlukan, dokter keluarga dapat melakukan konsultasi ke
dokter lain (dokter keluarga lain, dokter keluarga konsultan, dokter spesialis, atau
dinas kesehatan) yang dianggap lebih berpengalaman.
g. Rujukan
h. Tindak lanjut
i. Tindakan
j. Pengobatan rasional
k. Pembinaan keluarga dilakukan bila dinilai bahwa penatalaksanaan pasien akan
lebih baik jika adanya partisipasi keluarga.
7. Bagaimana cara merujuk pasien yang benar?
Tata cara rujukan (Anies, 2006):
Pasien harus dijelaskan selengkap mungkin alasan akan dilakukan konsultasi dan
rujukan. Penjelasan ini sangat perlu, terutama jika menyangkut hal-hal yang peka,
seperti dokter ahli tertentu.
Dokter yang melakukan konsultasi harus melakukan komunikasi langsung dengan
dokter yang dimintai konsultasi. Biasanya berupa surat atau bentuk tertulis yang
memuat informasi secara lengkap tentang identitas, riwayat penyakit dan penanganan
yang dilakukan oleh dokter keluarga.
Keterangan yang disampaikan tentang pasien yang dikonsultasikan harus selengkap
mungkin. Tujuan konsultasi pun harus jelas, apakah hanya untuk memastikan
diagnosis, menginterpretasikan hasil pemeriksaaan khusus, memintakan nasihat
pengobatan atau yang lainnya.
Sesuai dengan kode etik profesi, seyogianya dokter dimintakan konsultasi wajib
memberikan bantuan profesional yang diperlukan. Apabila merasa diluar keahliannya,
harus menasihatkan agar berkonsultasi ke dokter ahli lain yang lebih seuai.
Terbatas hanya pada masalah penyakit yang dirujuk saja
Tetap berkomunikasi antara dokter konsultan dan dokter yg meminta rujukan
Perlu disepakati pembagian wewenang dan tanggungjawab masing-masing pihak
Pembagian wewenang & tanggung jawab:
1. Interval referral, pelimpahan wewenang dan tanggungjawab penderitasepenuhnya
kepada dokter konsultan untuk jangka waktu tertentu, dan selama jangka waktu
tersebut dokter tsb tidak ikut menanganinya.

2. Collateral referral, menyerahkan wewenang dan tanggungjawab penanganan


penderita hanya untuk satu masalah kedokteran khusus saja.
3. Cross referral, menyerahkan wewenang dan tanggungjawab penanganan penderita
sepenuhnya kepada dokter lain untuk selamanya.
4. Split referral, menyerahkan wewenang dan tanggungjawab penanganan penderita
sepenuhnya kepada beberapa dokter konsultan, dan selama jangka waktu pelimpahan
wewenang dan tanggungjawab tersebut dokter pemberi rujukan tidak ikut campur.
8. Apa saja kompetensi dokter keluarga?
Kompetensi dokter keluarga yang tercantum dalam Standar Kompetensi Dokter
Keluarga yang disusun oleh Perhimpunan Dokter Keluarga Indonesia tahun 2006
adalah (Danasari, 2008) :
a. Keterampilan komunikasi efektif
b. Keterampilan klinik dasar
c. Keterampilan menerapkan dasar ilmu biomedik, ilmu klinik, ilmu perilaku dan
epidemiologi dalam praktek kedokteran keluarga
d. Keterampilan pengelolaan masalah kesehatan pada individu, keluarga ataupun
masyarakat dengan cara yang komprehensif, holistik, berkesinambungan,
terkoordinir dan bekerja sama dalam konteks Pelayanan Kesehatan Primer
e. Memanfaatkan, menilai secara kritis dan mengelola informasi
f. Mawas diri dan pengembangan diri atau belajar sepanjang hayat
g. Etika moral dan profesionalisme dalam praktek
Hipotesis : dr.Gudman seorang dokter praktek umum belum memenuhi prinsip- prinsip Dokter
Keluarga dan Dokter Layanan Primer.

DAFTAR PUSTAKA

Anies. 2006. Kedokteran Keluarga & Pelayanan Kedokteran yang Bermutu.Semarang


Azwar, Azrul. 1995. Pengantar Pelayanan Dokter Keluarga. IDI : Jakarta
Azwar, Azrul ; Gan, Goh Lee ; Wonodirekso, Sugito. 2004. A Primer On Family
Medicine Practice. Singapore International Foundation : Singapore
Danakusuma, Muhyidin. 1996. Pengantar Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran
Komunitas. IDI : Jakarta

Danasari. 2008. Standar Kompetensi Dokter Keluarga. PDKI : Jakarta


Eva Irene Yu-Maglonzo, MD., 2001, Family Medicine, Counseling, and the
Biopsychosocial Approach, Counseling for The Family Medicine Specialist,
University of The Philippines.
Oryzati Hilman dkk., 2002, Panduan Praktikum Kedokteran Keluarga, Ed.1,
Laboratorium Kedokteran Keluarga, Universitas Muhammadiyah, Yogyakarta.
Qomariah. 2000. Sekilas Kedokteran Keluarga. FK-Yarsi : Jakarta
Widyastuti Wibisana dkk., 2000, Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat
(JPKM), Departemen Kesehatan RI, Jakarta.
World Health Organization, 1978, Primary Health Care, Report of the International
conference on Primary health Care, 6-12 September 1978, Alma Ata, USSR,
Geneva: WHO.