Anda di halaman 1dari 21

BAB I

LAPORAN KASUS
1.1 Identifikasi Pasien
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Nama
: Aprilia Novita Sari
Umur
: 5 tahun 3 bulan
Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat
: Terusan (Baturaja)
Agama
: Islam
Ayah
:
Nama : Chandra
Pekerjaan: Buruh
Usia : 35 tahun
g. Ibu
:
Nama : Idaswari
Pekerjaan
: Ibu Rumah Tangga
Usia : 25 tahun
h. Dikirim oleh : Datang sendiri
i. MRS
: 04 Juli 2014
1.2 Anamnesis (Alloanamnesis)
Tanggal

: 07 Juli 2014

Diberikan oleh

: Ibu pasien

a. Riwayat Penyakit Sekarang


1. Keluhan Utama
: Demam
2. Keluhan Sekarang
: Nyeri Menelan + Batuk
1 minggu SMRS pasien mengalami demam dan batuk. Demam yang dialami
tinggi terus-menerus. Pasien diberikan obat penurun panas yang dibeli dari
warung namun panasnya tetap tidak turun. Penderita juga mengalami batuk yang
berdahak. Dahak yang dikeluarin berwarna putih. Pasien juga mengeluh pilek.
Sesak nafas tidak ada, nyeri saat menelan ada, muntah tidak ada, BAB dan BAK
biasa. Tanda-tanda perdarahan tidak ada.
2 hari SMRS panas pasien masih tidak turun dan mulai disertai nyeri saat
menelan. Pasien kemudian dibawa ke bidan untuk berobat dan diberikan obat
parasetamol sirup namun panasnya tetap tidak turun. Nafsu makan pasien mulai

menurun dan terlihat lemas. BAK dan BAB tetap biasa, sesak tidak ada lalu
pasien dibawa ke RS Dr. Ibnu Sutowo untuk berobat.
b. Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat penyakit yang sama disangkal
c. Riwayat Penyakit Dalam Keluarga
Riwayat mengalami keluhan yang sama dalam keluarga disangkal
d. Riwayat Keluarga

e. Riwayat Kehamilan dan Kelahiran


Masa Kehamilan

: 9 bulan

Partus

: Spontan

Ditolong oleh

: Bidan

BBL

: 2800 gram

PBL

: tidak diketahui

Keadaan Lahir

: langsung menangis

f. Riawayat Imunisasi
BCG

: 1 kali

Polio

: 4 kali

DPT

: 3 kali

Hepatitis B

: 3 kali

Campak

: 1 kali

Kesan

: Riwayat Imunisasi lengkap

g. Riwayat Sosial Ekonomi

Penderita merupakan anak tunggal. Ayah penderita bernama Chandra dan bekerja
sebagai buruh. Ibu penderita bernama Ida Suwari, Ibu rumah tangga. Total
penghasilan Rp 1.000.000,00/bulan.
Kesan: status ekonomi menengah ke bawah.
h. Riwayat Higienitas Rumah dan Lingkungan
Penderita sekeluarga tinggal di rumah yang terdiri dari kamar tidur, dua kamar
mandi, satu ruang tamu, satu dapur. Sumber air yang digunakan yakni air ledeng
(PAM). Ibu pasien mengaku rajin menguras bak air, menutup tampungan air
dengan baik, dan mengubur barang-barang bekas (kaleng, botol, dan benda-benda
lain yang dapat menampung air).
Kesan: sanitasi cukup baik
i. Riwayat Makanan
ASI

: 0 6 bulan

Susu Formula : 6 bulan- sekarang


Bubur Nasi

: 6 bulan 1 tahun

Nasi Tim

: 6 bulan 1 tahun

Nasi Biasa

: 1 tahun- sekarang

Daging/Ayam : 1x/minggu (@ potong/kali makan)


Ikan

: 3 hari sekali (@ 1 potong/kali makan)

Tahu / tempe : Setiap Hari (@1 potong/kali makan )


Telur

: 2-3x minggu (@1 biji telur/ kali makan )

Sayur

: Seminggu sekali (@ centong sayur/kali makan)

Buah

: pisang (@1x/minggu)

Kesan

: kualitas dan kuantitas makan kurang

j. Riwayat Perkembangan Fisik


Bicara

: 9 bulan

Merangkak

: 8 bulan

Berdiri

: 1 tahun

Berjalan

: 14 bulan

Lain lain

: Keluarga Lupa

Kesan : perkembangan fisik dan bicara dalam batas normal


Status Gizi
TB/U : 0- (-2) SD
BB/U : 0- (-2) SD
BB/PB : 1-0 SD
Kesan : Gizi Normal
1.3 Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum
Kesadaran
Nadi
RR
Suhu

: tampak sakit sedang


: compos mentis
: 99x/menit reguler,isi dan tegangan cukup
: 34x/menit
: 38,2o C

Keadaan Spesifik
KEPALA
Ubun-ubun

: Rata

MATA
Palpebra

: tidak ada kelainan

Konjungtiva

: anemis (-/-)

Sklera

: ikterik (-/-)

Pupil

: bulat, isokor
Diameter

: 3mm/3mm

Refleks cahaya: +/+


HIDUNG
Nafas Cuping Hidung

: tidak ada

Bentuk

: normal

Deviasi Septum

: tidak ada

Mukosa

: hiperemis

Sekret

: ada

MULUT
BIBIR
Bentuk

: normal agak kering

Warna

: merah muda

Pecah-pecah

: tidak pecah-pecah

Cheilosis

: tidak ada

Stomatitis

: ada

Sianosis

: tidak ada

Bengkak

: tidak ada

GIGI
Kebersihan

: cukup

Karies

: ada

LIDAH
Bentuk

: normal

Gerakan

: normal

Tremor

: tidak ada

Warna

: merah muda

Selaput

: tidak ada

Hiperemis

: tidak ada

Atrofi Papil

: tidak ada

FARING TONSIL
Warna

: hiperemis

Edema

: tidak ada

Selaput

: tidak ada

Pembesaran Tonsil

: ada

Ukuran
Simetris

: T2-T2
: Simetris

TELINGA
Bentuk

: normal

Sekret

: tidak ada

Serumen

: tidak terlihat

Liang Telinga

: tidak ada sumbatan liang telinga

Nyeri Tarik Auricula : tidak ada


Nyeri Tekan Prosesus Mastoideus

: tidak ada

LEHER
Struma

: tidak ada

Tortikolis

: tidak ada

Kaku kuduk

: tidak ada

Pergerakan

: luas

Kelenjar Getah Bening

: tidak terjadi pembesaran

THORAK DAN PARU


INSPEKSI STATIS
Bentuk

: normal

Simetris

: simetris

Sela Iga

: normal, tidak melebar

Bendungan vena

: tidak ada

INSPEKSI DINAMIS
Gerakan

: simetris

Bentak Pernafasan

: abdominothorakal

Retraksi

: tidak ada

PALPASI
Nyeri Tekan

: tidak ada

Fraktur Iga

: tidak ada

Stemfremitus

: paru kanan-kiri sama

Krepitasi

: tidak ada

PERKUSI
Bunyi Ketuk

: sonor/sonor

Nyeri Ketuk

: tidak ada

Batas Paru Hati

: belum dapat dinilai

Peranjakan

: belum dapat dinilai

AUSKULTASI
Bunyi Nafas Pokok

: vesikuler (+) normal

Bunyi Nafas Tambahan


Rhonki

: tidak ada

Wheezing

: tidak ada

JANTUNG
INSPEKSI
Ictus Cordis

: tidak terlihat

PALPASI
Ictus Cordis

: teraba di ICS IV linea midclavicula sinistra

Thrill

: tidak teraba

PERKUSI
Batas Kiri

: belum dapat dinilai

Batas Kanan

: belum dapat dinilai

Batas Atas

: belum dapat dinilai

Batas Bawah

: belum dapat dinilai

AUSKULTASI
HR

: 99x/menit

Bunyi Jantung I-II

: normal

Pulsus Defisit

: tidak ada

ABDOMEN
INSPEKSI
Bentuk

: Datar

Ptekie

: tidak ada

Spider nevi

: tidak ada

Caput medusae

: tidak ada

PALPASI
Nyeri Tekan

: tidak ada

Nyeri Lepas

: tidak ada

Defans Muskuler

: tidak ada

Hepar

: tidak teraba

Lien

: tidak teraba

PERKUSI
Bunyi ketuk

: timpani

Nyeri ketuk

: tidak ada

AUSKULTASI
Bising Usus

: Normal

EKSTREMITAS
Bentuk

: normal

Akral

: hangat, tidak pucat

CRT

: <2

1.4. Resume
Pasien seorang anak perempuan berusia 5 tahun datang dengan keluhan
utama 1 minggu SMRS pasien mengeluh demam dan batuk. Demam yang dialami
tinggi terus-menerus. Pasien diberikan obat penurun panas yang dibeli dari

warung namun panasnya tetap tidak turun. Penderita juga mengalami batuk yang
berdahak. Dahak yang dikeluarin berwarna putih. Pasien juga mengeluh pilek.
Sesak nafas tidak ada, ada nyeri saat menelan, muntah tidak ada, BAB dan BAK
biasa. Tanda-tanda perdarahan tidak ada. Kejang tidak ada, suara serak tidak ada.
Transfusi darah sebelumnya tidak ada. 2 hari SMRS panas pasien masih tidak
turun dan mulai disertai nyeri saat menelan. Pasien kemudian dibawa ke bidan
untuk berobat dan diberikan obat parasetamol sirup namun panasnya tetap tidak
turun. Nafsu makan pasien mulai menurun dan terlihat lemas. BAK dan BAB
tetap biasa, sesak tidak ada lalu pasien dibawa ke RS Dr. Ibnu Sutowo untuk
berobat.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan frekuensi nadi 99x/menit,regular,isi
dan tegangan cukup, frekuensi napas 34x/menit, temperatur 38,1 oC. Pada
pemeriksaan fisik pasien ini didapatkan adanya peningkatan suhu dari hari
pertama sampai keempat dan menurun pada hari kelima dan seterusnya, pada
mata konjunctiva pucat dan sklera ikterik tidak ada, perdarahan dari hidung dan
gusi tidak ada, pada pemeriksaan mulut didapatkan faring hiperemis dan
pembesaran tonsil T2-T2, hiperemis, detritus (-), kripta melebar (-). Pemeriksaan
toraks dan abdomen dalam batas normal,pada pemeriksaan ekstremitas, tidak
didapatkan pucat atau bintik-bintik merah serta pemeriksaan rumple lead test ( -)

1.5. Diagnosis Banding

Tonsilofaringitis Akut
Demam Berdarah Dengue
Malaria
Infeksi Saluran Kemih (ISK)

10

1.6. Diagnosis Kerja


Tonsilofaringitis
1.7. Terapi

IVFD KAEN I B
Propiretik 6x160mg supp
Vitamin B kompleks 3x1 tablet per oral
Diet Nasi Biasa 3x 1 porsi
Pemeriksaan Anjuran

Cek Urin Rutin Ulang


1.8. Prognosis
Quo ad vitam

: bonam

Quo ad fungsionam

: bonam

Quo ad sanasionam

: dubia ad bonam

1.10. Dokumentasi Follow Up di Ruang Rawat Inap


Senin, 7 Juli 2014
S
O

Batuk berdahak (+) sakit tenggorokan (+)


Keadaan umum : tampak sakit sedang
Kesadaran
: compos mentis
Nadi
: 115x/menit
RR
: 26x/manit
:

11

A
P

Kepala
: kunjungtiva anemik -/- sklera ikterik -/-, pupil bulat,
isokor, RC +/+. Nafas cuping hidung (-)
Leher
: pembesaran KGB (-),faring hiperemis (+)
Thoraks
: simetris, retraksi (-)
Cor
: BJ I-II (-) N, m (-), g (-)
Pulmo
: vesicular (+)N, ronki (-) whezzing (-)
Abdomen
: datar, lemas. H/L ttb, bising usus (+) N
Turgor kembali cepat.
Ekstremitas
: akral hangat, pucat (-) CRT ,2
Tonsilofaringitis

Selasa, 8 Juli 2014


S
O

A
P

batuk berdahak (+) sakit tenggorokan (+)


Keadaan umum : tampak sakit sedang
Kesadaran
: compos mentis
Nadi
: 110x/menit
RR
: 28x/manit
:
Kepala
: kunjungtiva anemik -/- sklera ikterik -/-, pupil bulat,
isokor, RC +/+. Nafas cuping hidung (-)
Leher
: pembesaran KGB (-),faring hiperemis (+)
Thoraks
: simetris, retraksi (-)
Cor
: BJ I-II (-) N, m (-), g (-)
Pulmo
: vesicular (+)N, ronki (-) whezzing (-)
Abdomen
: datar, lemas. H/L ttb, bising usus (+) N
Turgor kembali cepat.
Ekstremitas
: akral hangat, pucat (-) CRT ,2
Tonsilofaringitis

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

12

2.1. TONSILOFARINGITIS
2.1.1. Definisi
Tonsilofaringitis adalah peradangan pada tosil atau faring ataupun
keduanya yang disebabkan oleh bakteri dan virus. Radang faring pada anak selalu
melibatkan orang sekitarnya sehingga infeksi pada faring biasanya juga mengenai
tonsil sehingga disebut sebagai tonsilofaringitis. Tonsilofaringitis merupakan
faringitis akut dan tonsilitis akut yang ditemukan bersama-sama.

Ukuran Tonsil :

T0 Tonsil sudah di angkat


T1 Tonsil masih didalam fossa tonsilaris
T2 Tonsil sudah melewati piar posterior belum melewati garis para median
T3 Tonsil melewati garis paramedian belum melewati garis median ( pertengahan

uvula)
T4 Tonsil melewati garis median, biasanya pada tumor

2.1.2. Epidemiologi
Tonsilofaringitis dapat mengenai semua umur, dengan insiden tertinggi
pada anak-anak usia 5-15 tahun. Pada anak-anak, Group A streptococcus
menyebabkan sekitar 30% kasus tonsilofaringitis akut, sedangkan pada orang
dewasa sekitar 5-10%.
13

2.1.3. Etiologi
Virus merupakan etiologi terbanyak dari faringitis akut terutama pada anak
berusia 3 tahun. Virus penyebab penyakit respiratori seperti adenovirus,
rhinovirus, dan virus parainfluenza dapat menjadi penyebabnya. Streptococcus
beta hemolitikus grup A adalah bakteri terbanyak penyebab penyakit faringitis
atau tonsilofaringitis akut. Bakteri tersebut mencakup 15-30% pada anak
sedangkan pada dewasa hanya sekitar 5-10% kasus. Mikroorganisme seperti
klamidia dan mikoplasma dilaporkan dapat menyebabkan infeksi, tetapi sangat
jarang terjadi.
Faringotonsilitis kronik memiliki faktor predisposisi berupa radang kronik di
faring, seperti rhinitis kronik, sinusitis, iritasi kronik oleh rokok, minum alcohol,
inhalasi uap dan debu, beberapa jenis makanan, hygiene mulut yang buruk,
pengaruh cuaca, kelelahan fisik, dan pengobatan tonsillitis akut sebelumnya yang
tidak adekuat.
Tabel 1. Etiologi Tonsilofaringitis
Virus
A-B

Bakteri
hemolytic

Adenovirus

Group

Rhinovirus
Influenza
Coronavirus
RSV
EBV

(GABHS)
Staphylococcus aureus
Streptococcus pneumonia
Mycoplasma pneumonia
Corynebacterium diphteriae
Chlamydia pneumoniae

streptococcus

2.1.4. Patofisiologi
Nasofaring dan orofaring adalah tempat untuk organisme ini, kontak
langsung dengan mukosa nasofaring dan orofaring yang terinfeksi atau dengan
benda yang terkontaminasi, serta melalui makanan merupakan cara penularan
yang kurang berperan. Penyebaran SBGA memerlukan penjamu yang rentan dan
difasilitasi dengan kontak yang erat.

14

Bakteri maupun virus dapat secara langsung menginvasi mukosa faring yang
kemudian menyebabkan respon peradangan lokal. Sebagian besar peradangan
melibatkan nasofaring, uvula, dan palatum mole. Perjalanan penyakitnya ialah
terjadi inokulasi dari agen infeksius di faring yang menyebabkan peradangan lokal
sehingga menyebabkan eritem faring, tonsil, atau keduanya. Infeksi streptococcus
ditandai dengan invasi lokal serta penglepasan toksin ekstraseluler dan protease.
Transmisi dari virus dan SBHGA lebih banyak terjadi akibat kontak tangan
dengan sekret hidung atau droplet dibandingkan kontak oral. Gejala akan tampak
setelah masa inkubasi yang pendek yaitu 24-72 jam.

2.1.5. Manifestasi Klinis


Gejala faringitis yang khas akibat bakteri streptococcus berupa nyeri
tenggorokan dengan awitan mendadak, disfagia, dan demam. Urutan gejala yang
biasanya dikeluhkan oleh anak berusia di atas 2 tahun adalah nyeri kepala, nyeri
perut, dan muntah. Selain itu juga didapatkan demam tinggi dan nyeri tenggorok.
Gejala seperti rhinorrea, suara serak, batuk, konjungtivitis, dan diare biasanya
disebabkan oleh virus. Kontak dengan pasien rhinitis dapat ditemukan pada
anamnesa.
Pada pemeriksaan fisik, tidak semua pasien tonsilofaringitis akut streptococcus
menunjukkan tanda infeksi streptococcus yaitu eritem pada tonsil dan faring yang
disrtai pembesaran tonsil.
Faringitis streptococcus sangat mungkin jika dijumpai gejala seperti awitan akut
disertai mual muntah, faring hiperemis,

demam, nyeri tenggorokan, tonsil

bengkak dengan eksudasi, kelenjar getah bening leher anterior bengkak dan nyeri,
uvula bengkak dan merah, ekskoriasi hidung disertai impetigo sekunder, ruam
skarlatina, petekie palatum mole.
Tanda khas faringitis difteri adalah membrane asimetris, mudah berdarah, dan
berwarna kelabu pada faring. Pada faringitis akibat virus dapat ditemukan ulkus di
palatum mole, dan didnding faring serta eksudat di palatum dan tonsil. Gejala

15

yang timbul dapat menghilang dalam 24 jam berlangsung 4-10 hari dengan
prognosis baik.
2.1.6

Penegakan Diagnosa

Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala klinik, pemeriksaan fisik, dan


pemeriksaan laboratorium. Baku emas penegakan diagnosis faringitis bakteri atau
virus adalah melalui pemeriksaan kultur dari apusan tenggorok. Pada saat ini
terdapat metode cepat mendeteksi antigen streptococcus grup A dengan
sensitivitas dan spesivitas yang cukup tinggi.
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan adalah pemeriksaan
laboratorium :
1. Leukosit
: terjadi peningkatan
2. Hemoglobin
: terjadi penurunan
3. Usap tonsil untuk pemeriksaan kultur bakteri dan tes sinsitifitas obat
2.1.7. Penatalaksanaan
Tatalaksana Umum :
1. Istirahat yang cukup
2. Pemberian cairan dan nutrisi yang cukup
3. Pemberian obat kumur dan hisap pada anak yang lebih besar untuk mengurangi
nyeri tenggorok
4. Pemberian antipiretik, dianjurkan parasetamol atau ibuprofen
Tujuan dari pemberian terapi ini adalah untuk mengurangi gejala dan
mencegah terjadinya komplikasi. Faringitis streptococcus grup A merupakan
faringitis yang memiliki indikasi kuat dan aturan khusus dalam penggunaan
antibiotik. Istirahat cukup dan pemberian cairan yang sesuai merupakan terapi
suportif yang dapat diberikan. Pemberian obat kumur dan obat hisap pada anak
cukup besar dapat mengurangi gejala nyeri tenggorok. Apabila terdapat nyeri
berlebih atau demam dapat diberikan paracetamol atau ibuprofen.
Antibiotik pilihan pada terapi faringitis akut streptococcus grup A adalah
penisislin V oral 15-30 mg/kgBB/hari dibagi 3 dosis selama 10 hari atau benzatin
penisilin G IM dosis tunggal dengan dosis 600.000 IU (BB<30 kg) dan 1.200.000

16

IU (BB>30 kg). Amoksisilin dapat digunakan sebagai pengganti pilihan pengganti


penisislin pada anak yang lebih kecil karena selain efeknya sama amoksisilin
memiliki rasa yang enak. Amoksisilin dengan dosis 50 mg/kgBB/ hari dibagi 2
selama 6 hari. Selain itu eritromisin 40mg/kgBB/hari, Klindamisin 30
mg/kgBB/hari, atau sefadroksil monohidrat 15 mg/kgBB/hari dapat digunakan
untuk pengobatan faringitis streptococcus pada penderita yang alergi terhadap
penisilin.
Pembedahan elektif adenoid dan tonsil telah digunakan secara luas untuk
mengurangi frekuensi tonsillitis rekuren. Indikator klinis yang digunakan adalah
Childrens Hospital of Pittsburgh Study yaitu tujuh atau lebih episode infeksi
tenggorokan yang diterapi dengan antibiotik pada tahun sebelumnya, lima atau
lebih episode infeksi tenggorok yang diterapi antibiotik setiap tahun selama 2
tahun sebelumnya, dan tiga atau lebih episode infeksi tenggorok yang diterapi
dengan

antibiotik

selama

tahun

sebelumnya.

Adenoidektomi

sering

direkomendasikan sebagai terapi tambahan pada otitis media kronis dan berulang.
Indikasi tonsiloadenektomi yang lain adalah bila terjadi obstructive sleep apneu
akibat pembesaran adenotonsil.

2.1.8. Komplikasi
Komplikasi apabila tonsilofaringitis tidak dapat ditangani :

Tonsilofaringitis kronis
Otitis media
Mastoiditis
Sinusitis
Abses peritonsillar
Demam rematik
Glomerulonephritis

2.1.9.

Prognosis
Dapat disembuhkan dengan pemberian antibiotik yang tepat, namun

infeksi dapat berulang. Tonsilofaringitis dengan penyebab virus bersifat self


limiting disiase sehingga dapat sembuh dengan sendirinya dengan istirahat yang
cukup.
17

Quo ad vitam

: bonam

Quo ad functionam

: bonam

BAB III
ANALISIS MASALAH
Pada kasus ini, anak prempuan, Aprilia Novita Sari, 5 tahun, datang ke
dokter puskesmas dengan keluhan demam Keluhan demam dari 2 hari yang lalu
(<7hari) dapat disebabkan :

Infeksi saluran pernafasan akut (ISPA), misalnya faringitis atau


tonsilitis

18

Malaria
Demam Berdarah
Infeksi Saluran Kemih

Untuk menyingkirkan diagnosis banding perlu dilakukan anamnesis lebih


lanjut. Dari anamnesis pada kasus ini, diketahui demam tinggi terus menerus.
Kejang tidak ada, menggil tidak ada. Keluhan nyeri menelan ada, keluhan nyeri
BAK disangkal, keluhan perdarahan disangkal. Keluhan BAB hitam berdarah dan
BAK berdarah disangkal. Riwayat sakit malaria dan minum obat malaria dari
warung disangkal.
Pada demam karena ISPA, biasanya demam tinggi terus menerus dan nyeri
saat menelan (+). Biasanya disertai batuk dan pilek, namun pada kasus ini tidak
ada. Dari pemeriksan fisik didapatkan faring hiperemis dan pembesaran tonsil T2T2 hiperemis. Diagnosis banding demam lainnya seperti malaria, perlu ditanyakan
riwayat pernah sakit malaria, demam disertai kuning, warna BAK berubah
menjadi teh tua, dan minum obat malaria dari warung (Rexohin, Ribokuin) dalam
satu bulan terakhir disangkal. Demam biasanya disertai menggigil, berkeringat,
dapat disertai sakit kepala, mual, muntah, diare dan nyeri otot pegal-pegal.
Namun, semua gejala disangkal. Selain itu, penyebab lainnya adalah ISK, namun
epidemiologi ISK biasanya pada anak perempuan dan ada keluhan nyari saat
BAK., selain itu didapatkan hematuria atau peningkatan leukosit pada
pemeriksaan urinalisa. Namun, pada pemeriksaan ini tidak mengarah ke ISK.
Pada demam berdarah, riwayat perdarahan disangkal.
Pada hari ke-5 Demam, pasien berobat ke bidan karena kondisi pasien
tidak membaik pasien dibawa ke RSUD Dr. Ibnu Sutowo.
Dalam hal ini, riwayat pengobatan ditanyakan untuk melihat apa saja
pengobatan yang sudah didapatkan sebelumnya dan apakah pengobatan yang
diberikan sudah tepat dan adekuat, serta untuk memperkirakan apakah obat
tersebut sudah terjadi resisten terhadap pasien.
Pada anamnesis riwayat imunisasi dasar sudah lengkap. Asupan makan
dinilai dari kualitas dan kuantitasnya kurang, perkembangan fisik dan mental
dalam batas normal.

19

Pada pemeriksaan umum anak tampak sakit sedang dengan Nadi


99x/Menit, Temp 38,1oC dan Respiratory Rate 34x/Menit,Status gizi normal
Pada pemeriksaan fisik pasien ini didapatkan adanya peningkatan suhu dari hari
pertama sampai keempat dan menurun pada hari kelima dan seterusnya, pada
mata konjunctiva pucat dan sklera ikterik tidak ada, perdarahan dari hidung dan
gusi tidak ada, pada pemeriksaan mulut didapatkan faring hiperemis dan
pembesaran tonsil T2-T2, hiperemis, detritus (-), kripta melebar (-). Pemeriksaan
toraks dan abdomen dalam batas normal,pada pemeriksaan ekstremitas, tidak
didapatkan pucat atau bintik-bintik merah serta pemeriksaan rumple lead test ( -)
Pasien diberikan IVFD KAEN I B, Propiretik 6x160mg supp,Vitamin B kompleks
3x1 tablet per oral dan Diet Nasi Biasa 3x 1 porsi. Prognosis pasien ini untuk
fungsional dan vitalnya adalah bonam. Komplikasi tonsilofaringitis akut jarang
terjadi, seperti sinusitis, otitis media, glomerulonefritis.

Daftar Pustaka
Adam, George L. MD. 1997. Boies, Buku Ajar Penyakit THT. Edisi 6. Jakarta :
Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Bailey J. Byron, Coffey Amy, R. 1996. Atlas of Head & Neck Surgery
Otolaryngology.
Depkes RI. 2005. Pharmaceutical Care untuk Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan.
Diakses di www.binifas.depkes.go.id
Gates, G.A. 2005. Journal of Tonsilitis. http://www.nidcd.nih.gov

20

Soepardi, Arsyad, SpTHT. 2001. Buku ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung
Tenggorok Kepala Leher. Edisi ke 5. Fakultas Kedokteran Unsri.

21