Anda di halaman 1dari 4

Gaya Antar Molekul

05.44

Susilo tri atmojo

No comments

1. Gaya London
Seorang ahli fisika dari Jerman Fritz London, pada tahun 1930 menguraikan terjadinya
tarikan yang lemah di antara molekul pada senyawa kovalen, hal ini disebabkan oleh dipol
imbasan sesaat yang kemudian dikenal dengan Gaya London. Terjadinya tarikan antar
elektron satu molekul dan inti molekul yang lain dapat dibayangkan sebagai akibat
menggesernya posisi atau getaran (Vibrasi) elektron dan inti-inti itu. Suatu molekul non polar
seperti gas N2, O2, H2 yang tidak memiliki ujung-ujung yang bermuatan atau moment dipol,
elektron akan bergerak terus menerus yang mengakibatkan terbentuknya moment dipol sesaat
seperti digambarkan berikut

selanjutnya apabila terdapat molekul yang saling berdekatan, seperti digambarkan berikut ini

Dengan adanya molekul- molekul yang saling berdekatan, seperti digambarkan


diatas maka akan terjadi tarik - menarik antar molekul, gaya tarik - menarik inilah selanjutnya
disebut dengan gaya London. Gaya london ini memiliki keterkaitan dengan Mr.
Hubungan antara gaya london dengan struktur molekul atau Mr dari molekul dapat
dijelaskan sebagai berikut:

Struktur dan Mr propana lebih besar dari Metana sehingga tarikan yang terjadi antar
dua molekul Propana lebih kuat dari pada dua molekul Metana.sehingga gaya london pada

propana akan lebih besar dibandingkan dengan metana, selajutnya karena gaya tarik menarik
pada propana lebih besar maka titik didih pada propana akan lebih besar dibandingkan
dengan metana. Dengan demikian dapat disimpulkan semakin besar molekulnya maka gaya
londonnya akan semakin besar, akibatnya titik didih dari molekul tersebut akan semakin
besar.
2. Gaya tarik dipol-dipol
Gaya tarik dipol-dipol disebabkan oleh moment dipol permanen, sehingga gaya ini hanya
terdapat pada senyawa polar saja. Gaya taril dipol-dipol dapat dilihat pada gambar dibawah
ini

Sedangkan pada untuk membedakan kekuatan gaya dipol pada molekul polar dan
non polar, dapat dijelaskan berikut :

Arah vektor menuju ke atom yang lebih elektronegatif ujung plus menunjukkan ke
atom yang kurang elektronegatif. Gaya tarik antar dua molekul polar disebut Gaya tarik
dipol-dipol. Tarikan ini lebih kuat dari pada tarikan antara molekul-molekul non polar.
3 Gaya Van der Waals
Gas mempunyai sifat bentuk dan volumenya dapat berubah sesuai tempatnya. Jarak
antara molekul-molekul gas relatif jauh dan gaya tarik menariknya sangat lemah. Pada
penurunan suhu, fasa gas dapat berubah menjadi fasa cair atau padat. Pada keadaan ini jarak
antara molekul-molekulnya menjadi lebih dekat dan gaya tarik menariknya relatif lebih kuat.
Gaya tarik menarik antara molekul-molekul yang berdekatan ini disebut gaya Van der walls.
Karena gaya Van der Waals merupakan gaya tarik menarik antara molekul yang
berdekatan, sedangkan gaya tarik menarik antara molekul terdapat 2 macam yaitu gaya
london dan gaya tarik dipol-dipol, maka gaya Van der Waals dapat juga disebut sebagai

jumlah gaya london dan gaya tarik dipol-dipol pada molekul. Akibatnya gaya Van der Waals
pada molekul non polar anya dipengaruhi oleh gaya london, sedangkan pada molekul polar
dipengaruhi oleh gaya london dan gaya tarik dipl-dipol.Untuk mengetahui pengaruh gaya
london atau gaya tarik dipol-dipol dapat dilihat dari membandingkan titik didih antara
molekul-mollekul di bawah ini :
1. HCl dibandingkan dengan HI
Pada senyawa polar HCl dibandingkan HI, HCl memiliki gaya tarik dipol lebih besar
dibandingkan dengan HI, tetapi gaya london pada HCl akan lebih kecil dibandingkan dengan
HI, seperti ditunjukkan pada tabel berikut ini :
Tabel IX.1 perbandingan antara HCl dan HI
Molekul
Mr
Momen dipol
Titik didih
HCl
HI

36,5
126

1,08
0,38

-85
-35

Dari tabel terlihat bahwa titik didih pada HI lebih besar dibandingkan engan HCl,
yang berarti gaya Van der Waals pada HCl lebih kecil dibandingkan dengan HI. Hal ini
disebabkan pada HI gaya london memberikan pengaruh yang sangat besar dibandingkan gaya
tarik dipol pada HCl
2. CCl4 dibandingkan dengan CHCl3

CHCl3 termasuk senyawa polar sehingga gaya Van der Waalsnya dipengaruhi oleh
gaya London dan gaya tarik dipol-dipol, sedangkan pada CCl 4 termasuk senyawa non polar
yang berati gaya Van der Waals hanya dipengaruhi oleh gaya London saja. Dari hasil
pengukuran ternyata titik didh CHCl3 lebih kecil dibandinngkan CCl4. Sehingga Gaya london
sangat mempengaruhi besarnya titik didh pada senyawa.
4. Ikatan Hidrogen

Ikatan hidrogen merupakan gaya tarik menarik antara atom H dengan atom lain yang
mempunyai keelektronegatifan besar pada satu molekul dari senyawa yang sama. Ikatan
hidrogen terjadi ketika sebuah molekul memiliki atom N, O, atau F yang mempunyai

pasangan elektron bebas (lone pair electron). Hidrogen dari molekul lain akan berinteraksi
dengan pasangan elektron bebas ini membentuk suatu ikatan hidrogen dengan besar ikatan
bervariasi mulai dari yang lemah (1-2 kJ mol-1) hingga tinggi (>155 kJ mol-1). Hal ini
ditampilkan pada gambar dibawah ini

Kekuatan ikatan hidrogen ini dipengaruhi oleh perbedaan elektronegativitas antara atomatom dalam molekul tersebut. Semakin besar perbedaannya, semakin besar ikatan hidrogen
yang terbentuk.
Ikatan hidrogen mempengaruhi titik didih suatu senyawa. Semakin besar ikatan
hidrogennya, semakin tinggi titik didihnya. Namun, khusus pada air (H 2O), terjadi dua ikatan
hidrogen pada tiap molekulnya. Akibatnya jumlah total ikatan hidrogennya lebih besar daripada
asam florida (HF) yang seharusnya memiliki ikatan hidrogen terbesar (karena paling tinggi
perbedaan elektronegativitasnya) sehingga titik didih air lebih tinggi daripada asam florida. Hal
tersebut dapat dilihat pada grafik dibawah ini.