Anda di halaman 1dari 3

KASUS MEDIS : Melena e.c.

Suspect Gastritis Errosive


Subyektif :
Pasien perempuan usia 60 tahun datang dengan keluhan buang air besar (BAB) lembek warna hitam sejak
dua hari sebelum masuk rumah sakit (SMRS). BAB lembek seperti ter, berwarna hitam, lendir (-),
sebanyak 2 kali. Pasien mengeluh nyeri ulu hati seperti ditusuk-tusuk jarum, perih dan sakit saat perut
kosong.
Pasien juga mengeluh tidak nafsu makan, mual, muntah (1x, sedikit, hanya lendir keputihan) dan
perut terasa kembung.
Pasien mengaku buang air kecil normal, tidak ada keluhan. Pola makan pasien tidak teratur dan
jarang mengkonsumsi serat. Sejak hampir 30 tahun terahir pasien sering berobat untuk keluhan nyeri
ulu hati.
Riwayat sering minum jamu dan obat sakit kepala disangkal.
Riwayat Penyakit Dahulu :
Gastritis (+), penyakit paru, hepatitis, ginjal, kencing manis, darah tinggi disangkal.

Riwayat penyakit keluarga : ( - )


Objektif :
Berdasarkan pemeriksaan , didapatkan hasil berupa :
KU : Tampak Sakit Sedang
Kesadaran : Composmentis
Tanda Vital :
TD = 110/70 mmHg ; P = 20x/menit ; N = 80x/menit

; S= 36,70C

Pemeriksaan generalis :
Kepala : rambut berwarna hitam bercampur uban
Mata : Si -/-, Anemis -/-, RCL +/+, RCTL +/+
Cor : S1-S2 reguler, Murmur (-), Gallop (-)
Pulmo : SN vesikular +/+, Rhonki -/-, Wheezing -/Abdomen : lihat status lokalis.
Ekstremitas : akral hangat +/+, edema -/-, CRT < 2
Status lokalis
Abdomen
Inspeksi : Bentuk simetris, sedikit membuncit, caput medusae (-), spider nevi (-)
Palpasi : Dinding perut simetris, sedikit membuncit, supel , Massa (-), Hepar/ Lien tidak teraba
membesar.
Nyeri tekan (+) terutama di kuadran kiri atas (epigastrium)
Nyeri lepas (-), defans muskular (-)
Perkusi : Bunyi timpani , Shifting dullnes (-)
Auskultasi
: Bising usus (+) normal

(Gambar.1. Ilustrasi Gastritis)

Assessment :
Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik diagnosis pasien ini adalah Melena e.c Suspek
Gastritis Erosif.
Berdasarkan anamnesis didapatkan bahwa pasien merupakan seorang perempuan usia 60 tahun
datang dengan keluhan buang air besar (BAB) lembek warna hitam sejak dua hari sebelum masuk rumah sakit
(SMRS). BAB lembek seperti ter, berwarna hitam, lendir (-), sebanyak 2 kali. Pasien mengeluh nyeri
ulu hati seperti ditusuk-tusuk jarum, perih dan sakit saat perut kosong. Disertai gejala anoreksia, vomitus, dan
meteorismus. Dengan riwayat gastritis kronis.
Gastritis adalah proses inflamasi pada lapisan mukosa dan submukosa lambung. Secara histologis dapat
dibuktikan dengan inflamasi sel-sel radang pada daerah tersebut. Gastritis merupakan gangguan yang sering
terjadi dengan karakteristik adanya anorexia, rasa penuh, dan tidak enak pada epigastrium, mual, muntah.
Gastritis adalah peradangan mukosa lambung, erosi mukosa lambung, atau kadang-kadang peradangan
bakteri (H.pylori).
Gejala utama pada gastritis erosif adalah nyeri abdomen quadran kiri atas. Gambaran klinis Gastritis akut
erosif sangat bervariasi pada kasus yang sangat berat gejala yang sangat mencolok adalah hematemesis dan
melena yang dapat berlangsung sangat hebat sampai terjadi renjatan karena kehilangan darah. pada sebagian
besar kasus gejalanya amat ringan bahkan asimtomatis. keluhan itu misalnya nyeri timbul pada ulu hati,
biasanya dapat ditunjuk dengan tempat lokasinya. Kadang-kadang disertai dengan mual dan muntah, anoreksia.
Vomitus terjadi akibat aktivasi N.vagus, namun jarang berlanjut menjadi berat.
Gastritis erosif dapat disebabkan oleh : Obat analgetik anti inflamasi, terutama aspirin, Bahanbahan kimia, merokok, konsumsi alkohol, stres fisik yang disebabkan oleh luka bakar, sepsis,

trauma, pembedahan, gagal pernafasan, gagal ginjal, kerusakan susunan saraf pusat, dan
gastritis kronis.
Seluruh mekanisme yang menimbulkan gastritis erosif karena keadaan-keadaan klinis
yang berat belum diketahui secara pasti, hal ini terjadi karena multi faktor. Faktor-faktor yang
dapat menyebabkan rusaknya mukosa lambung adalah : a) kerusakan mukosa barrier
sehingga difusi balik ion H+ meninggi, b) perfusi mukosa lambung yang terganggu, c)
jumlah asam lambung. Faktor ini saling berhubungan, misalnya stres fisik yang dapat
menyebabkan perfusi mukosa lambung terganggu, sehingga timbul daerah-daerah infark
kecil. Di samping itu, sekresi asam lambung jugasemakin meningkat.
Aspirin dan obat anti inflamasi nonsteroid merusak mukosa lambung melalui beberapa mekanisme. Obat-obat
ini dapat menghambat aktivitas Siklooksigenase mukosa, yang merupakan enzim yang penting untuk
pembentukan prostaglandin dari asam arakidonat. Selain itu aspirin dan obat anti inflamasi nonsteroid tertentu
dapat merusak mukosa secara topikal, karena kandungan asam dalam obat tersebut bersifat korosif sehingga

dapat merusak sel-sel epitel mukosa. Obat-obat tersebut juga dapat menurunkan sekresi bikarbonat dan mukus
oleh lambung sehingga kemampuan faktor defensif terganggu.

Pada gastritis kronis, gastritis karena bahan kimia, obat, mukosa barrier rusak,
menyebabkan difusi balik ion H+ meninggi. Suasana asam yang terdapat pada lumen
lambung akan mempercepat kerusakan mukosa barrier oleh asam lambung. Jika erosi sudah
mengenai pembuluh darah maka dapat terjadi perdarahan lambung yang bermanifestasi
melena atau bahkan hematemesis. Melena terjadi karena darah mengalami oksidasi oleh asam
lambung sehingga darah yang keluar bersama feses berwarna hitam dan kental.
Pada pemeriksaan fisik biasanya jarang ditemukan kelainan berarti, kecuali pada kasus yang
mengalami perdarahan yang hebat, sehingga menimbulkan tanda dan gejala gangguan hemodinamik
yang nyata seperti hipotensi, pucat, keringat dingin, takikardi sampai gangguan kesadaran. Pada
kasus ini hal yang mendukung diagnosis adalah temuan adanya nyeri tekan epigastrium.

Pemeriksaan yang dapat membantu Diagnostik gastritis erosive adalah :


1.
Endoskopi, khususnya gastroduodenoskopi. Hasil pemeriksaan akan ditemukan
gambaran mukosa sembab, merah, mudah berdarah atau terdapat perdarahan spontan, erosi
mukosa yang bervariasi.
2.
Histopatologi, biasanya dilakukan pada kasus berat dan curiga keganasan.
3.
Radiologi dengan kontras ganda, meskipun kadang dilakukan tapi tidak begitu
memberikan hasil yang memuaskan.

Plan :
Penatalaksanaan : Pengobatan sebaiknya meliputi pencegahan terhadap setiap pasien dengan
resiko tinggi gastritif erosif, pengobatan terhadap penyakit yang mendasari, menghentikan zat atau
obat yang menjadi penyebab dan pengobatan suportif dengan obat pelindung epitel lambung dan
menetralisir asam lambung dengan pemberian antasida, sucralfat bismuth dikombinasi dengan obat
untuk mengurangi sekresi asam lambung berupa antagonis H2 atau golongan proton pump inhibitor
(PPI) sehingga mencapai pH lambung menjadi lebih basa. Penggunaan obat-obatan supportif lainnya
yang dapat digunakan berupa antiemetic, dan obat hemostasis.
Pada sebagian kecil pasien perlu dilakukan tindakan yang bersifat invasif untuk menghentikan
perdarahan yang mengancam jiwa. Tindakan-tindakan itu misalnya dengan endoskopi skleroterapi,
embolisasi arteri Gastrika kiri, atau Gastrektomi.
Tindakan yang diberikan pada pasien ini berupa IVFD RL 20 tetes/menit, Ranitidin 50mg
(intravena), Ondansetron 4mg (intravena), Sucralfat 2 sendok makan (oral), Asam tranexamat 250mg
(intravena), Vitamin K (intravena).
Komplikasi yang timbul yaitu perdarahan saluran cerna bagian atas (SCBA) yang semakin memberat berupa
hemotemesis dan melena, berakhir dengan syock hemoragik, terjadi ulkus, jika prosesnya hebat
dan dapat terjadi perforasi.
Pencegahan utama dari gastritis adalah dengan menjaga keseimbangan zat yang ada dalam lambung misalnya
dengan kurangi stress, mengatur pola makan yang teratur dan tidak mengkonsumsi obat-obatan yang berbahaya
untuk lambung (OAINS: Aspiirin), merokok, alkohol, atau zat kimia lain yang dapat merusak dinding lambung.
Sebaiknya dihindari makanan dengan rasa asam dan pedas.
dr.Anton
Dokter Internship Depkes di RSUD Malingping Lebak Banten

Hilman