Anda di halaman 1dari 14

BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK FKUP/RSHS BANDUNG

Sari pustaka :

/Januari/2010

Subdivisi

: PICU

Oleh

: Yulia Ismail

Pembimbing : dr. Hj. Enny Harliany, Sp.A(K)


dr. H. Dadang Hudaya S, Sp.A(K)
dr. Dzulfikar DLH, Sp.A, M. Kes
dr. Stanza Uga P, SpA, M.Kes
Hari/Tanggal : Selasa, 5 Januari 2010
PENGGUNAAN KRISTALOID DAN ATAU KOLOID
PADA ANAK SAKIT KRITIS

Pendahuluan
Seorang anak dikatakan mengalami sakit kritis dan memerlukan perawatan di ruang
intensif apabila terdapat kondisi tertentu misalnya penderita terpasang pipa endotrakeal
atau keadaan emergensi yang memerlukan intubasi endotrakeal dan ventilasi mekanik,
terpasang trakeostomi, disritmia yang mengancam nyawa, trauma kepala dengan tekanan
tinggi intrakranial, dll (Roberts, 1998). Hal ini dapat ditemukan pada keadaan sepsis,
trauma, perdarahan, luka bakar, atau pembedahan. Pada anak dengan sakit kritis terjadi
pelepasan sejumlah mediator inflamasi seta aktivasi leukosit yang menyebabkan
kerusakan integritas endotel vaskular, meningkatkan permeabilitas vaskular, dan akhirnya
menyebabkan ekstravasasi cairan ke interstisial (Aird, 2003).
Tujuan terapi cairan pada sakit kritis adalah mengembalikan volume intravaskular
baik makrosirkulasi atau mikrosirkulasi, meningkatkan pengiriman oksigen kepada
jaringan sehingga dapat memperbaiki hipoksia jaringan serta mencegah edema jaringan
(Boldt, 2003). Cairan yang sering digunakan sebagai terapi inisial adalah cairan kristaloid,
koloid, dan yang sedang dikembangkan adalah pemberian cairan dengan teknik small
volume rescucitation menggunakan cairan koloid hipertonik (Silva, 2005). Perbedaan yang
mendasar antara kristaloid dan cairan koloid adalah cairan koloid menghasilkan colloid
osmotic pressure (COP). Yang termasuk kedalam cairan kristaloid adalah Ringer Laktat
dan normal saline, sedangkan yang temasuk ke dalam koloid adalah starch, dekstran,
albumin (larutan 5% dalam normal saline) dan gelatin (ATS, 2004).

Terapi cairan yang optimal pada sakit kritis hingga saat ini masih menjadi
perdebatan. Beberapa penelitian memperlihatkan bahwa resusitasi dengan cairan
kristaloid berhubungan dengan mortalitas yang lebih rendah dan albumin meningkatkan
mortalitas sebesar 4-6 % pada pasien sakit berat (Shierhout 1998, Cochrane 1998). Hal
yang harus dipertimbangkan dalam memilih jenis cairan pada anak sakit kritis antara lain
sifat farmakologis, pengaruh terhadap hemostasis dan koagulasi, efek samping, risiko
infeksi dan biaya (Sparrow 2002). Pada sari kepustakaan ini akan dibahas mengenai
komposisi cairan tubuh, patofisiologi endotel pada sakit kritis, berbagai jenis cairan koloid
dan kristaloid serta penggunaan kristaloid atau koloid untuk anak dengan sakit kritis.

Komposisi Cairan Tubuh


Jumlah seluruh cairan dalam tubuh manusia disebut cairan tubuh total (CTT). CTT
berbeda antara satu orang dengan lainnya. Banyak hal yang mempengaruhi CTT, antara
lain adalah usia dan jenis kelamin. Pada bayi baru lahir, cukup bulan, CTT berkisar antara
75-80% berat badan, selanjutnya berubah selama masa anak hingga mencapai dewasa.
Pada bayi prematur, persentasi CTT terhadap berat badan lebih tinggi lagi. CTT selama
masa kanak-kanak besarnya kira-kira 65% berat badan. Pada masa remaja terjadi
perubahan komposisi tubuh yang dipengaruhi hormon seks. Selanjutnya, pria dewasa
memiliki CTT sekitar 60% berat badan, wanita dewasa sekitar 55%. CTT terbagi dalam 2
ruang utama yaitu ruang intrasel dan ruang ekstrasel. Jumlah semua cairan yang terdapat
di dalam sel tubuh disebut cairan intrasel (CIS), yang terdapat di luar sel disebut cairan
ekstrasel (CES). Cairan ekstrasel terbagi lagi menjadi cairan interstisial (CIN) dan cairan
intravaskular (CIV) (Thieme 2003).

Gambar 1. Distribusi cairan tubuh


Dikutip dari: Thieme 2003

CES terutama mengandung larutan natrium klorida dan bikarbonat. Ion anorganik
lainnya, terdapat dalam jumlah yang kecil, seperti kalium, kalsium, magnesium sulfat dan
fosfat. Ion organik terbesar, berupa anion, adalah protein plasma. Natrium dan anionnya
merupakan partikel dominan yang mempertahankan air dalam CES, kadar Na dalam CES
140

mEq/L sedangkan

dalam

CIS

hanya

mEq/L.

Partikel

yang

dominan

mempertahankan air dalam CIS adalah kalium dan anionnya. Anion utama dalam CIS
adalah polivalen protein dan fosfat organik (Thieme 2003).Pada keadaan patologis
endotel kapiler dapat mengalami perubahan sifat hingga tidak lagi berfungsi sebagai
membran yang semipermeabel. Larutan glukosa yang masuk ke ruang intravaskular akan
mengalami metabolisme menjadi CO2 dan air. Larutan natrium yang masuk ke ruang
intravaskular akan memicu pelepasan aldosteron dan mempengaruhi osmoreseptor yang
berperan pada pelepasan ADH. Asidosis mempengaruhi hampir semua organ, secara
langsung akan memacu kerja ginjal dan merubah keseimbangan elektrolit intra dan
ekstrasel akibat peningkatan ion H+ (Thieme 2003).

Gambar 2. Osmolalitas dan Ion Kompartemen Cairan Tubuh


Dikutip dari: Porth 2005

Patofisiologi Respon Endotel Pada Sakit Kritis

Gambar 3. Peran Endotel pada Sakit Kritis


Dikutip dari: Shilva 2005

Gambar 4.Interaksi Mediator Inflamasi pada Endotel


Dikutip dari: Shilva 2005

Cairan Kristaloid dan Koloid

Istilah kristaloid dan koloid digunakan untuk membedakan apakah suatu larutan dengan
partikel dapat melewati membran semi permeabel atau tidak. Kristaloid terdiri dari
kristaloid hipotonik, isotonik dan hipertonik. Sedangkan cairan koloid ada yang bersifat
alami (albumin) dan sintetis (dekstran, gelatin, dan hydroxyethylstarch atau HES) (Forbes
1997).
Kristaloid
Dalam praktek, hanya NaCI 0,9%, Ringer Laktat (RL) dan Ringer Asetat (RA) yang
digunakan sebagai cairan kristaloid. Kandungan Natrium dalam RL dan RA adalah 130
mEq/L, sedangkan NaCI 0,9% 154 mEq/L.13,14 RL merupakan larutan isotonik yang paling
mirip dengan CES (tabel 1).14
Tabel 1. Perbandingan elektrolit antara NaCl 0.9%, Ringer Laktat dan Ringer Asetat
NaCl 0.9%

Ringer
Laktat

Ringer
Asetat

0
285-308
0
20-25
1-4
0.5
Asidosis
metabolik
hiperkloremik

0
250-273
0
20-25
1-4
0.5
Hiperkalemia

0
250-273
0
20-25
1-4
0.5

Karakteristik
Berat molekul
Osmolalitas (mOsm/L)
Colloid Oncotic Pressure (COP)(mmHg)
Volume Ekspansi (%)
Durasi Volume Ekspansi (jam)
Waktu Paruh Plasma (jam)
Efek samping

Sumber: ATS 2004


Perbedaan antara RL dan RA terletak pada sumber bikarbonatnya. RL
mengandung 28 mmol laktat per liter, sedangkan RA mempunyai 28 mmol asetat per liter.
Setelah masuk ke dalam tubuh, komponen laktat atau asetat diubah menjadi bikarbonat,
yang menghasilkan dapar untuk asidosis metabolik.Laktat dapat mengalami metabolisme
menjadi bikarbonat melalui siklus trikarboksilik (laktat piruvat asetil ko-A) atau dapat
pula memasuki jalur glukoneogenesis dan membentuk glukosa dan bikarbonat. Sebagian
besar laktat diambil oleh hepar untuk dimasukkan ke dalam jalur glukoneogenesis. RL
yang mengandung D-laktat mengalami metabolisme lebih lambat daripada asetat.
Natrium asetat dapat mengalami metabolisme menjadi bikarbonat oleh jaringan-jaringan
seperti ginjal, jantung dan otot (Forbes 1997).

Kristaloid hanya akan mengisi ruang ekstrasel, kira-kira seperempat dari jumlah
kristaloid yang diberikan akan tinggal dalam ruang intravaskular. Kristaloid biasanya
digunakan untuk mengisi volume intravaskular, mengoreksi defisit cairan dan elektrolit
atau prosedur diagnostik volume challenge. Untuk tujuan penggantian cairan, hanya
kristaloid yang bersifat isotonik dan hipertonik yang digunakan, sedangkan kristaloid yang
bersifat hipotonik seperti Dextose (D) 5% NS, D5% NS) tidak digunakan karena tidak
dapat bertahan di intravaskular Keunggulan kristaloid antara lain adalah harganya yang
murah, relatif aman dari efek samping. Pemberian yang berlebihan akan menyebabkan
edema perifer hingga edema paru. Hal yang patut diingat dalam penggunaan kristaloid
pada resusitasi adalah sifat kristaloid akan mengisi ruang interstisial lebih banyak dari
ruang intravaskular. Untuk mengisi volume intravaskular akibat kehilangan darah
sebanyak 1 liter pada orang dewasa dibutuhkan kristaloid sebanyak 5 lite. Hemodilusi
dengan cairan kristaloid meningkatkan koagubilitas darah sehingga pemberian kristaloid
dapat meningkatkan risiko trombosis akibat agregasi trombosit (Ruttmann 1998).
Kristaloid Hipertonik
Penggunaan cairan kristaloid hipertonik dalam penggantian cairan sering disebut smallvolume resuscitation. Penelitian Nakayama pada tahun 1984 untuk percobaan dengan
binatang yang mengalami syok karena perdarahan menyimpulkan terdapat perbaikan
curah jantung dan peningkatan tekanan darah setelah pemberian menggunakan lautan
NaCl

hipertonik

(3-7.5%).

Pemberian

cairan

kristaloid

hipertonik

menyebabkan

hiperosmolalitas ruang ekstraselular sementara karena tidak mengandung koloid untuk


memperpanjang efek volume sehingga memiliki waktu kerja yang pendek. Hal ini
menyebabkan perpindahan cairan dari ruang intraselular ke ruang ekstraselular karena
adanya perbedaan tekanan osmotik. Hal ini dapat terjadi karena pada keadaan kritis
(syok), terdapat peningkatan volume sel yang disebabkan oleh hilangnya adenosin
trifosfat (ATP) dan disfungsi membran sel. Perpindahan cairan ini memberikan
keuntungan, yaitu: (Carvalho 2007)
Normalisasi

volume

Peningkatan volume plasma cepat (3-4 kali yang diberikan)

.1

sel

.2

endotel

dan

lumen

pembuluh

darah

sehingga

.meningkatkan aliran darah pada pembuluh darah kecil

Gambar 5. Pengaruh pembuluh darah kecil terhadap cairan hipertonik


Sumber: Carvalho 2007
Para peneliti kemudian mengembangkan penelitiannya yaitu menggabungkan
antara NaCl hipertonik dengan cairan koloid yang menunjukkan efek sinergis yaitu
peningkatan osmolalitas plasma dan peningkatan tekanan onkotik plasma. Sehingga
pengertian small-volume resuscitation berubah dari pemberian hanya NaCl hipertonik
menjadi NaCl hipertonik dan cairan koloid. Campuran larutan kristaloid hipertonik dan
koloid antara lain HyperHAES yaitu larutan 6%HES (200/0.5) dalam 7.2% NaCl yang
bersifat isoonkotik, hipertonik. Dengan osmolaritas 2464 mOsm/L memiliki efek volume 35 kali, onset of action segera, duration of action 30-60 menit ideal untuk terapi inisial
.hipovolemi akut dan syok (Shilva 2005, Boldt 2007)

Tabel 2. Karakteristik Cairan Kristaloid Hipertonik

Sumber: Boldt 2007


Risiko penggunaan NaCl hipertonik (terutama bila terjadi peningkatan serum
natrium tiba-tiba) yaitu sel-sel otak mengkerut sehingga menyebabkan robekan pembuluh
darah, perdarahan subarahnoid, dan gangguan sawar darah otak. Hal lain yang terjadi
yaitu central pontine myelinolysis (kehilangan struktur mielin dan struktur penunjang di
pons dan bagian otak lainnya) dengan gejala perubahan neurologis ireversibel yang
bertahap. Central pontine myelinolysis sering terjadi pada pasien yang mempunyai kadar
natrium sangat rendah (<120 mmol/L) sebelum mendapat terapi saline hipertonik, namun
hal ini tidak terjadi pada pasien yang sebelumnya memiliki kadar natrium normal. Cairan
kristaloid hipertonik memiliki berbagai keuntungan antara lain meningkatkan fungsi
jantung yaitu memperbaiki kontraktilitas otot jantung dan menurunkan resistensi vaskular
sistemik. Penelitian lain menyimpulkan bahwa larutan hipertonik menurunkan perlekatan
dan migrasi lekosit, menurunkan produksi prostaglandin, dan mengubah permeabilitas
pembuluh darah. Sebagai kesimpulan, cairan kristaloid hipertonik dapat menghambat
terjadinya respons inflamasi. Komplikasi lain karena NaCl hipertonik adalah gangguan
keseimbangan elektrolit (hipernatremia, hipokalemia, dan hiperkloremia).3 Kecepatan
pemberian cairan NaCl hipertonik ini 1ml/kgBB/menit untuk menghindari efek samping
.bradikardi, hipotensi, bronkokonstriksi, pernapasan cepat dan dangkal (Shilva 2005)
Koloid

Cairan koloid secara teori memiliki keuntungan sesuai dengan hukum Starling, yaitu
ekspansi volume makin besar sesuai dengan jumlah yang diinfuskan dan kemampuan
untuk mempertahankan COP. Koloid dapat dibedakan menjadi dua yaitu sintetik seperti
gelatin, dextran dan starches, atau nonsintetik (alamiah) yaitu darah dan produk darah
yang berasal dari plasma yaitu albumin. Masing-masing jenis koloid memiliki beberapa
risiko dalam penggunaannya. Koloid sintetik memiliki risiko terjadinya koagulopati, rekasi
anafilaktoid sementara albumin memiliki risiko infeksi karena dibuat dari kumpulan
plasma.Selain mengembalikan volume intravaskular, koloid yang ideal diharapkan mampu
memodulasi proses inflamasi seperti peningkatan permebilitas vaskular, pembentukan
edema jaringan, disfungsi kontrol vasomotor, peningkatan perputaran netrofil, perlekatan
dan aktivasi (ATS 2004).
Tabel 3. Karakteristik Fisiologis dan Efek Klinis Beberapa Cairan Koloid yang
Sering Digunakan
Albumin

Berat molekul (kD)


Osmolalitas (mOsm/L)
COP (mmHg)
Durasi ekspansi
volume (jam)
Waktu paruh plasma
(jam)
Kemampuan
menimbulkan
efek
simpang
Efek samping yang
mungkin

4%, 5%

20%, 25%

69
290
20-30

69
310
70-100

Starches
Hetastarch
(3%, 6%,
10%)
450
300-310
23-50

12-24

12-24

16-24

Dextran-40

Dextran
Dextran-70

Gelatin

40
280-3254
20-60

70
300-350
20-60

30-35
300-350
25-42

8-36

1-2

< 8-24

< 4-6

16-24

50

4-6

~ 12

~ 2-9

++

+++

+++

++

Reaksi
alergi
Penularan
infeksi

Reaksi
alergi
Penularan
infeksi

Disfungsi
renal
Koagulopati
Pruritus
Reaksi
anafilaktoid

Reaksi
anafilaktoid
Rekasi alergi

Reaksi
anafilaktoid
Rekasi alergi

Tinggi Ca
Reaksi
anafilaktoid

Sumber: ATS, 2004


A. Albumin
Albumin memiliki waktu paruh albumin 16 jam dan dalam 2 jam setelah pemberian, 90%
albumin masih tetap berada dalam ruang intravaskular. Satu gram albumin dalam ruang
intravaskular, dengan daya onkotiknya, dapat mengikat 18 mL air. Albumin tersedia dalam
bentuk larutan 5% dan 25% dalam NaCI 0,9%. Karena daya onkotiknya, pemberian
larutan albumin 25% sebanyak 100 mL intravena akan meningkatkan volume
intravaskular menjadi 450 mL dalam waktu 30-60 menit. Penambahan 350 mL dalam
ruang intravaskular terjadi akibat perpindahan 350 mL air dari ruang interstisial ke ruang

intravaskular. Albumin dapat mempertahankan volume intravaskular selama 3,5-4,5 jam.


Efek samping pemberian albumin antara lain adalah edema paru, reaksi anafilaksis,
menurunkan kadar kalsium ion serum dan transmisi hepatitis. Berbagai efek samping ini
secara praktis lebih merupakan debat teoritis yang tidak banyak dijumpai dalam klinis. Hal
lain yang patut dipertimbangkan dalam klinis adalah harga albumin yang relatif tinggi
(Matejshuk 2000).
B. Dextran
Dextran adalah larutan glukosa polimer yang dibuat dari fermentasi sukrosa yang
berasal gula bit (sejenis umbi) oleh enzim dextransucrase yang dihasilkan oleh bakteri
Leuconostoc mesenteroides (Gambar 6).

Gambar 6. Molekul Dekstran


Sumber: Tominaga 2001
Dextran tersedia dalam sediaan 10% berat molekul 40.000 (dextran 40) dan
sediaan 6% berat molekul 70.000 (dextran 70 (Tabel 2). Dalam tubuh, molekul dextran
dengan berat molekul kurang dari 15.000 akan keluar melalui filtrasi ginjal, tidak
direasorbsi tubulus. Molekul besar akan tinggal lebih lama dalam ruang intravaskular
namun daya osmotiknya tidak sebesar partikel dextran dengan berat molekul kecil.
Dextran 40 mengandung partikel dengan berat molekul antara 10.000-80.000, Dextran 70
antara 40.000-100.000. Waktu paruh partikel dengan berat molekul 14.000-18.000 adalah
15 menit, partikel dengan berat molekul lebih dari 55.000 dapat bertahan beberapa hari.
Partikel

dengan

berat

molekul

lebih

dari

80.000

akan

difagosit

oleh

sistim

retikuloendotelial dan mengalami degradasi menjadi karbon dioksida dan air. Enampuluh
hingga 70% dextran 40 dan 30-40% dextran 70 akan hilang dari sirkulasi dalam 12 jam.
Pemberian 500 mL dextran 40 akan meningkatkan cairan intravaskular sebesar 750 mL
dalam 1 jam dan menjadi 1050 mL pada jam ke 2. Dextran 40 dapat mempertahankan
volume intravaskular sekitar 3,5-4,5 jam, sedang dextran 70 sekitar 6-8 jam..
Tabel 4. Karakteristik Cairan Dekstran

10

Sumber: Boldt 2007


Dextran 70 6% digunakan pada syok hipovolemik karena dapat mempertahankan
volume intravaskular lebih lama dibandingkan dengan Dextran 40%. Selain itu Dextran 70
juga digunakan untuk profilaksis tromboembolisme karena memiliki efek antitrombotik
sehingga dapat diberikan perioperatif untuk mengurangi risiko trombosis vena dalam dan
emboli paru. Dextran 40 10% tidak direkomendasikan penggunaannya pada syok
hipovolemik karena dapat menimbulkan gagal ginjal akibat obtruksi tubulus renalis.
Produksi urine yang kurang setelah pemberian dextran 40 dalam jumlah besar dapat
diakibatkan oleh gangguan fungsi ginjal (Wills 2001).
Efek samping dextran antara lain adalah reaksi anafilaksis, diatesis hemoragik dan
gangguan sistim retikuloendotelial. Reaksi anafilaksis biasanya terjadi pada pemberian
100 ml pertama, sehingga pada awal pemberian harus dilakukan observasi ketat. Dextran
dapat mengakibatkan kesalahan pengukuran gula darah karena pada pengukuran,
reagen yang bersifat asam dapat mengubah dextran menjadi dextrose. Selain itu dextran
juga dapat mengganggu proses cross matching darah akibat adesi molekul dextran pada
antigen membran sel darah merah (Stoelting 2001).
Penggunaan dekstran untuk mengganti volume darah atau plasma yang besar
hendaknya dibatasi sampai 1 liter (< 1,5 gr/kg BB/hari) karena penggunaan lebih dari 1 L
dapat mengganggu hemostasis akibat terjadinya disfungsi trombosit dan penurunan
fibrinogen dan faktor VIII sehingga dextran diindikasikontrakan pada disseminated
intravascular coagulation (DIC) (Tominaga 2005).
C. Hydroxyethyl starch (HES)
Larutan HES merupakan molekul sintetik yang mirip glikogen. Berasal dari amilopektin
yang diperoleh dari biji jagung. Tersedia dalam sediaan 6% dan 10% dalam NaCI 0,9%,
dapat berupa hetastarch, hexastarch, pentastarch atau tetrastarch dengan berat molekul
10.000 sampai dengan 1.000.000. Berdasarkan berat molekul HES dibagi menjadi tiga

11

yaitu berat molekul besar (450.000 dalton), berat molekul sedang (200.000 dalton) dan
berat molekul rendah (130.000 dalton).

Gambar 7. Struktur Hidroksietil


Sumber: Banks 2006
Dalam tubuh amilopektin akan diuraikan oleh enzim 1,4 amilase dengan masa
paruh 10 menit. Agar bertahan lebih lama dalam ruang intravaskular dilakukan substitusi
gugus hidroksietil. Bila dalam formula dinyatakan derajat substitusi 0,5 berarti 5 dari 10
molekul glukosa disubstitusi gugus hidroksietil, 0,4 berarti 4 dari 10 molekul glukosa
disubstitusi. Efek volume juga ditentukan oleh berat molekul larutan dalam ruang
intravaskular. Contoh HES 6% 130/0,4 artinya 6 gram per 100 mL HES dengan berat
molekul 130.000 dengan substitusi 0,4.

HES yang paling umum digunakan adalah

hetastarch.
Tabel 5. Karakteristik Larutan HES

Sumber: Boldt 2007


Degradasi larutan HES dalam tubuh bergantung pada tingkat substitusinya.
Setelah masuk ke dalam sirkulasi, HES menghilang ke dalam jaringan (terutama hati dan
limpa), kemudian kembali lagi ke dalam sirkulasi, perlahan-lahan difagosit sistim
retikuloendotelial. Molekul kecil (kurang dari 50.000) dikeluarkan tubuh melalui urin dan
empedu. Larutan dengan berat molekul besar tinggal dalam ruang intravaskular lebih

12

lama. Peningkatan tekanan koloid osmotik akibat pemberian hetastarch setara dengan
peningkatan akibat pemberian albumin. Penambahan volume plasma setelah pemberian
hetastarch 6% dengan berat molekul sedang setara dengan pemberian albumin 5%
dengan efektivitas dalam ruang intravaskular selama kurang lebih 3 jam (Tominaga 2005).
Hetastarch tidak menyebabkan pelepasan histamin. Reaksi anafilaktik dengan
hetastarch berat molekul lebih dari 16.000 kurang dari 0,085% (Forbes 2007). Efek
samping utama pemberian HES adalah pruritus yang berat dan tidak dapat diobati.
Diduga fenomena ini berkaitan dengan jumlah HES yang terdeposit di dalam jaringan.
Dalam sebuah penelitian didapatkan bahwa deposisi HES di jaringan tergantung pada
dosis dan waktu. Pada kelompok yang menerima HES 3,1 15 gr/kgBB selama beberapa
hari memperlihatkan endapan HES yang masif di dalam jaringan, sedangkan kelompok
yang mendapatkan HES dosis rendah (0,3 1,9 gr.kgBB) hanya memperlihatkan
endapan dalam derajat ringan hingga sedang (Sirtl 2006).
D. Gelatin
Gelatin berasal dari hidrolisis kolagen hewan yang mengandung 3 rantai peptida dengan
berat molekul antara 100.000-120.000. Dua jenis preparat yang beredar merupakan
modifikasi peptida tersebut dengan menggunakan gugus suksinil atau urea sebagai
jembatan (linked) dengan tujuan memperbesar berat molekul agar menimbulkan efek
onkotik. Gelatin tersedia dalam larutan 3-3,5%. Preparat gelatin dengan ikatan urea
mengandung kalsium hingga dapat terjadi bekuan bila digunakan bersama dengan
tranfusi darah (Forbes 2007).

Gambar 8. Struktur Kimia Gelatin


Dikutip dari: Forbes 2007
Sebagian besar gelatin akan dikeluarkan melalui ginjal. Enampuluh persen
dikeluarkan dalam 24 jam pertama dan 95% dalam 1 minggu. Sebagian kecil akan
mengalami degradasi menjadi peptida rantai lebih pendek atau asam amino. Satu gram
gelatin dapat mengikat kurang lebih 14 mL air, sehingga efek volume gelatin lebih kecil
dari albumin. Gelatin mempertahankan volume intravaskular sekitar 2 jam. Gelatin bersifat

13

hipoonkotik yang memiliki efek volume 70%, mengalami metabolisme cepat di ginjal.
Pemberian gelatin tidak menyebabkan continuous supply of osmotically acctive particles
sehingga sebaiknya digunakan untuk terapi pengganti cairan jangka pendek.
Ringkasan
Hingga saat ini pertanyaan mengenai cairan mana yang paling tepat untuk
penatalaksanaan pada anak sakit kritis masih belum memiliki jawaban

14

Beri Nilai