Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Materi yang menyusun tubuh organisme berasal dari bumi. Materi
yang berupa

unsur-unsur terdapat

dalam senyawa

kimia

yang

merupakan

materi dasar makhluk hidup dan tak hidup. Ada 40 unsur yang diperlukan bagi
kehidupan,diantaranya yang terpenting adalah karbon (C), nitrogen (N), fosfor
(P), belerang (S), oksigen (O), kalium (Ca), magnesium (Mg), kalium (K),
natrium (Na), silicon (Si), besi (Fe), dan aluminium (Al), selain itu sebagian
unsur-unsur ini juga tersimpan dalam bentuk organik dalam tubuh makhluk hidup
yang masih hidup atau yang sudah mati.
Unsur-unsur tersebut terus-menerus diambil oleh makhluk hidup dari
lingkungan, tapi tidak akan habis, karena setelah dimanfaatkan dalam tubuh,
unsur-unsur itu akan dikembalikan lagi ke lingkungan melalui proses pernafasan,
fotosintesis, pembusukan, dan ekskresi. Semua unsur kimia (senyawa anorganik)
ini mengadakan sirkulasi dari alam ke organisme dan kembali lagi ke alam,
selanjutnya masuk ke organisme lagi, demikian seterusnya sehingga membentuk
suatu daur/siklus yang berulang. Proses ini disebut Daur ataupun siklus
Biogeokimia.
Materi yang menyusun tubuh organisme berasal dari bumi. Materi yang
berupa unsur-unsur terdapat dalam senyawa kimia yang merupakan materi dasar
makhluk hidup dan tak hidup. Siklus biogeokimia atau siklus organik anorganik
adalah siklus unsur atau senyawa kimia yang mengalir dari komponen abiotik ke
biotik dan kembali lagi ke komponen abiotik. Siklus unsur-unsur tersebut tidak
hanya melalui organisme, tetapi juga melibatkan reaksi-reaksi kimia dalam
lingkungan abiotik sehingga disebut siklus biogeokimia (Krisna, 2013).
Di bumi banyak terdapat fosfor yang antara lain sumber fosfor di dapat
dari batuan, bahan organik, tanaman, dan juga tanah. Input daur fosfor berupa
hasil pelapukan bebatuan, sedangkan outputnya menghasilkan fiksasi mineral dan
pelindikan. Daur biogeokimia juga melibatkan reaksi-reaksi kimia dalam
lingkungan abiotik. Karena itu, daur ini disebut juga daur organik dan daur biotikabiotik. Daur biokimia sangat diperlukan untuk kelestarian makhluk hidup dan
ekosistem, jika daur materi ini terganggu, makhluk hidup akan mati dan ekosistem

akan punah. Siklus-siklus tersebut antara lain: siklus air, siklus oksigen, siklus
karbon, siklus nitrogen, dan siklus fosfor (Indra, 2013).
Siklus fosfor dan siklus nitrogen merupakan siklus yang sangat penting di
suatu perairan. Fosfor sangat berguna bagi organisme perairan baik hewan
maupun tumbuhan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Untuk kelangsungan
hidupnya, makhluk hidup memerlukan zat-zat seperti air,oksigen, karbohidrat,
nitrogen dan sebagainya. Mengingat akan pentingnya keberlangsungan hidup
organisme terhadap siklus yang terjadi, maka pada tugas makalah ini, kami akan
membahas mengenai salah satu siklus, yaitu siklus fosfor.
1.2 Tujuan
Tujuan dari makalah ini antara lain yaitu :
1) Untuk mengetahui siklus fosfor yang terjadi di alam
2) Untuk mengetahui siklus fosfor yang terjadi didalam laut
3) Memberikan informasi yang berkaitan dengan siklus fosfor.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2
Tugas Pengantar Ilmu Lingkungan

Siklus Fosfor

2.1 Pengertian Fosfor


Fosfor adalah zat yang dapat berpendar karena mengalami fosforesens,
unsur

kimia yang

memiliki lambang P dengan

nomor

atom

15.

Fosfor

berupa nonlogam, bervalensi banyak, termasukgolongan nitrogen, banyak ditemui


dalam batuan fosfat anorganik dan dalam semua sel hidup tetapi tidak pernah
ditemui dalam bentuk unsur bebasnya.
Fosfat merupakan bentuk fosfor yang dapat dimanfaatkan oleh tumbuhan.
Karakteristik fosfor sangat berbeda dengan unsur-unsur utama lain yang
merupakan penyusun biosfer karena unsur ini tidak terdapat di atmosfer. Fosfat
merupakan unsur yang penting dalam pembentukan protein dan membantu proses
metabolisme sel suatu organisme (Hutagalung et al, 1997).
Fosfor amatlah reaktif, memancarkan pendar cahaya yang lemah ketika
bergabung dengan oksigen, ditemukan dalam berbagai bentuk, Fosfor berupa
berbagai jenis senyawa logam transisi atau senyawa tanah langka seperti zink
sulfida (ZnS) yang ditambah tembaga atau perak, dan zink silikat (Zn2SiO4) yang
dicampur dengan mangan. Unsur kimia fosforus dapat mengeluarkan cahaya
dalam

keadaan

tertentu,

tetapi

fenomena

ini

bukan

fosforesens,

melainkan kemiluminesens. Fosfor merupakan unsur penting dalam makhluk


hidup (Peppo dkk, 2010).
Daur Fosfor adalah proses perubahan fosfat dari fosfat anorganik menjadi
fosfat organik dan kembali menjadi fosfat anorganik secara kesinambungan dan
tanpa jeda. Fosfor merupakan bahan makanan utama yang digunakan oleh semua
organisme untuk pertumbuhan dan sumber energi. Fosfor adalah komponen
penting pada membran sel, asam nukleat dan tranfer energi pada respirasi sel.
Fosfor juga ditemukan sebagai komponen utama dalam pembentukan gigi dan
tulang vertebrata (Anonim, 2012).

2.2 Sejarah Fosfor


Fosfor (berasal dari bahasa Yunani, phosphoros, yang memiliki cahaya;
nama kuno untuk planet Venus ketika tampak sebelum matahari terbit). Seorang
3
Tugas Pengantar Ilmu Lingkungan

Siklus Fosfor

ilmuwan asal Jerman, Brand menemukan fosfor di tahun 1669 secara tidak
sengaja dalam percobaan menggali bebatuan. Fosfor dapat ditemukan di bumi di
dalam air, tanah dan sedimen (Kanti, 2006).
Tidak seperti senyawa materi lain siklus fosfor tidak dapat ditemukan di
udara yang mempunyai tekanan tinggi. Hal ini karena fosfor biasanya cair pada
suhu dan tekanan normal. Hal ini terutama melakukan siklus kembali melalui air,
tanah dan sedimen.. Dalam suasana siklus fosfor terutama dapat ditemukan
sebagai partikel debu yang sangat kecil. bergerak perlahan-lahan dari endapan di
darat dan di sedimen, organisme hidup, dan jauh lebih lambat daripada kembali ke
tanah air dan sedimen (Barus, 2002).
Fosfor yang paling sering ditemukan dalam formasi batuan sedimen dan
laut sebagai garam fosfat. Garam fosfat yang dilepaskan dari pelapukan batuan
melalui tanah biasanya larut dalam air dan akan diserap oleh tanaman. Karena
jumlah fosfor dalam tanah pada umumnya kecil, sering kali faktor pembatas bagi
pertumbuhan tanaman. Itu sebabnya manusia sering menggunakan fosfat sebagai
pupuk pada tanah pertanian.
Fosfat juga merupakan faktor pembatas bagi pertumbuhan tanaman di
ekosistem laut, karena tidak begitu larut dalam air. Hewan menyerap fosfat
dengan makan tumbuhan atau binatang pemakan tumbuhan Siklus fosfor melalui
tanaman dan hewan jauh lebih cepat daripada yang dilakukannya melalui batu dan
sedimen. Ketika hewan dan tanaman yang mati, fosfat akan kembali ke tanah atau
lautan lagi selama pembusukan. Setelah itu, fosfor akan berakhir di formasi
batuan sedimen atau lagi, tetap di sana selama jutaan tahun. Akhirnya, fosfor yang
dilepaskan kembali melalui pelapukan dan siklus dimulai lagi (Arfiati, 1989).
2.3 Macam - Macam Fosfor
Fosfor dapat berada dalam empat bentuk atau lebih alotrop: putih (atau
kuning), merah, dan hitam (atau ungu). Yang paling umum adalah fosfor merah
dan putih, keduanya mengelompok dalam empat atom yang berbentuk tetrahedral.
Fosfor putih terbakar ketika bersentuhan dengan udara dan dapat berubah menjadi
fosfor merah ketika terkena panas atau cahaya (Krisna, 2013).

4
Tugas Pengantar Ilmu Lingkungan

Siklus Fosfor

Fosfor putih juga dapat berada dalam keadaan alfa dan beta yang
dipisahkan oleh suhu transisi -3,8C. Fosfor merah relatif lebih stabil dan
menyublim pada 170C pada tekanan uap 1 atm, tetapi terbakar akibat tumbukan
atau gesekan. Alotrop fosfor hitam mempunyai struktur seperti grafit atom atom yang tersusun dalam lapisan - lapisan heksagonal yang menghantarkan
listrik (Darmadi, 2010).
Di perairan unsur fosfor tidak ditemukan dalam bentuk bebas sebagai
elemen melainkan dalam bentuk senyawa anorganik yang terlarut (ortofosfat dan
polifosfat) dan senyawa organik yang berupa partikulat. Senyawa fosfor
membentuk kompleks ion besi dan kalsium pada kondisi aerob, bersifat tidak
larut, dan mengendap pada sedimen sehingga tidak dapat dimanfaatkan oleh algae
akuatik (Jeffries dan Mill dalam Effendi 2003).
Pada kerak bumi, keberadaan fosfor relatif sedikit dan mudah mengendap.
Fosfor juga merupakan unsur yang esensial bagi tumbuhan tingkat tinggi dan
algae, sehingga unsur ini menjadi faktor pembatas bagi tumbuhan dan algae
akuatik serta sangat mempengaruhi tingkat produktivitas perairan (Kanti, 2006).
Di alam, fosfor terdapat dalam dua bentuk, yaitu senyawa fosfat organik
dan senyawa fosfat anorganik. Fosfat organik adalah sebutan untuk senyawa
fosfat yang terkandung dalam binatang dan tumbuhan. Sedangkan fosfat
anorganik adalah senyawa fosfat yeng terdapat pada tanah, batuan dan air. Fosfor
di dalam air laut, berada dalam bentuk senyawa organik dan anorganik.
Dalam bentuk senyawa organik, fosfor dapat berupa gula fosfat dan hasil
oksidasinya, nukloeprotein dan fosfo protein. Sedangkan dalam bentuk senyawa
anorganik meliputi ortofosfat dan polifosfat. Senyawa anorganik fosfat dalam air
laut pada umumnya berada dalam bentuk ion (orto) asam fosfat (H3PO4), dimana
10% sebagai ion fosfat dan 90% dalam bentuk HPO42-. Sumber fosfat diperairan
laut pada wilayah pesisir dan paparan benua adalah sungai (Bariani, 2006).
Di alam ini terdapat dua jenis fosfor yaitu senyawa fosfat organik (pada
tumbuhan dan hewan) dan senyawa fosfat anorganik (pada air dan tanah).
Oleh dekomposer atau pengurai, fosfat yang berasal dari tumbuhan serta hewan
yang mati kemudian di uraikan menjadi fosfat anorganik. Fosfat banyak ditemui
5
Tugas Pengantar Ilmu Lingkungan

Siklus Fosfor

pada fosil dan batu karang, karena fosfat dari air tanah atau air laut terurai dan
selanjutnya mengendap pada sedimen laut (Effendi, 2003).
2.4 Peranan Fosfor
Fosfor sangat penting dan dibutuhkan oleh mahluk hidup tanpa adanya
fosfor tidak mungkin ada organik fosfor di dalam Adenosin trifosfat (ATP) Asam
Dioksiribo nukleat (DNA) dan Asam Ribonukleat (ARN) mikroorganisme
membutuhkan fosfor untuk membentuk fosfor anorganik dan akan mengubahnya
menjadi organik fosfor yang dibutuhkan untuk metabolisme karbohidrat, lemak,
dan asam nukleat (Darmadi, 2010).
Kegunaan fosfor yang terpenting adalah dalam pembuatan pupuk, dan
secara luas digunakan dalam bahan peledak, korek api, kembang api, pestisida,
odol, dan deterjen. Kegunaan fosfor yang paling umum ialah pada ragaan tabung
sinar katoda (CRT) dan lampufluoresen, sementara fosfor dapat ditemukan pula
pada berbagai jenis mainan yang dapat berpendar dalam gelap (glow in the dark)
(Barus, 2002).
Fosfor merupakan unsur yang sangat penting dalam kehidupan. Dalam
beberapa tahun terakhir, asam fosfor yang mengandung 70% 75% P 2O5, telah
menjadi bahan penting pertanian dan produksi tani lainnya. Fosfor juga digunakan
dalam memproduksi baja, perunggu fosfor, dan produk-produk lainnya. Trisodium
fosfat sangat penting sebagai agen pembersih, sebagai pelunak air, dan untuk
menjaga korosi pipa-pipa. Fosfor juga merupakan bahan penting bagi sel-sel
protoplasma, jaringan saraf dan tulang. Oleh karena itu, kita harus mengetahui
tentang betapa pentingnya fosfor dalam kehidupan.
Fosfat juga seringkali digunakan sebagai pupuk penyubur tanah. Sumber
fosfat bukan hanya berasal dari batu-batuan tapi juga dari kotoran hewan yang
disebut guano. Guano adalah nama dari sejenis kotoran burung laut yang
merupakan sumber utama fosfor dunia terutama yang kemudian diolah menjadi
pupuk.
2.6 Kelemahan Fosfor

6
Tugas Pengantar Ilmu Lingkungan

Siklus Fosfor

Penyalahgunan fosfor menjadi Bom yang sangat mengerikan. Fosfor


bomb memiliki sifat utama membakar. Menurut Ang Swee Chai, seorang
perempuan, dokter ortopedis kelahiran Malaysia yang juga seorang ahli medis.
Dalam bukunya From Beirut to Jerusalem (Kuala Lumpur, 2002), zat fosfornya
biasanya akan menempel di kulit, paru-paru, dan usus para korban selama
bertahun-tahun, terus membakar dan menghanguskan serta menyebabkan nyeri
berkepanjangan. Para korban bom ini akan mengeluarkan gas fosfor hingga nafas
terakhir (Bariani, 2006).

BAB III
7
Tugas Pengantar Ilmu Lingkungan

Siklus Fosfor

PEMBAHASAN
3.1 Siklus Fosfor
Siklus fosfor yaitu daur atau siklus yang melibatkan fosfor, dalam hal
input atau sumber fosfor-proses yang terjadi terhadap fosfor- hingga kembali
menghasilkan fosfor lagi. Daur fosfor dinilai paling sederhana daripada daur
lainnya, karena tidak melalui atmosfer. Fosfor di alam didapatkan dari berbagai
batuan, bahan organik, tanah, tanaman, serta PO4- dalam tanah. kemudian
inputnya adalah hasil pelapukan batuan. dan outputnya yaitu fiksasi mineral dan
pelindikan. Fosfor berupa fosfat yang diserap tanaman untuk sintesis senyawa
organik. Humus dan partikel tanah mengikat fosfat, jadi daur fosfat dikatakan daur
lokal (Darmadi, 2010).
Di alam, fosfor terdapat dalam dua bentuk, yaitu senyawa fosfat organik
(pada tumbuhan dan hewan) dan senyawa fosfat anorganik (pada air dan tanah).
Fosfat organik dari hewan dan tumbuhan yang mati diuraikan oleh decomposer
(pengurai) menjadi fosfat anorganik. Fosfat anorganik yang terlarut di air tanah
atau air laut akan terkikis dan mengendap di sedimen laut. Oleh karena itu, fosfat
banyak terdapat di batu karang dan fosil. Fosfat dari batu dan fosil terkikis dan
membentuk fosfat anorganik terlarut di air tanah dan laut. Fosfat anorganik ini
kemudian akan diserap oleh akar tumbuhan lagi.
Siklus ini berulang terus menerus. Fosfor dialam dalam bentuk terikat
sebagai Ca-fosfat, Fe- atau Al-fosfat, fitat atau protein. Bakeri yang berperan
dalam

siklus

fosfor

Bacillus,

Pesudomonas,

Aerobacter

aerogenes,

Xanthomonas, dll. Mikroorganisme (Bacillus, Pseudomonas, Xanthomonas,


Aerobacter aerogenes) dapat melarutkan P menjadi tersedia bagi tanaman.
Daur fosfor terlihat akibat aliran air pada batu-batuan akan melarutkan
bagian permukaan mineral termasuk fosfor akan terbawa sebagai sedimentasi ke
dasar laut dan akan dikembalikan ke daratan. Siklus fosfor atau daur fosfat
diawali dengan pembentukan fosfat anorganik oleh alam. Fosfor terdapat di alam
dalam bentuk ion fosfat (PO43-) dan banyak terdapat pada batu-batuan.
Gambaran siklus fosfor dapat dilihat pada gambar 1 :

8
Tugas Pengantar Ilmu Lingkungan

Siklus Fosfor

Gambar 1. Siklus Fosfor

Batu-batuan yang kaya dengan fosfat yang mengalami erosi dan pelapukan
terkikis dan hanyut oleh air membentuk larutan fosfat. Larutan fosfat kemudia
diserap oleh tumbuhan dan makhluk hidup autotrof seperti protista fotosintesis
dan Cyanobacteri. Manusia dan hewan memperoleh fosfat dari tumbuhan yang
dimakannya.
Jika kandungan fosfat dalam tubuh makhluk hidup berlebihan maka fosfat
akan dikeluarkan kembali kealam dalam bentuk urine ataupun feces yang
kemudian diuraikan oleh bakteri pengurai kembali menjadi fosfat anorganik.
Selain dari sisa-sisa metabolisme tubuh, fosfat juga di peroleh dari dekomposisi
makhluk hidup yang telah mati oleh bakteri pengurai (Effendi, 2003).
Di alam, fosfor terdapat dalam dua bentuk, yaitu senyawa fosfat organik
(pada tumbuhan dan hewan) dan senyawa fosfat anorganik (pada air dan tanah).
Fosfat organik dari hewan dan tumbuhan yang mati diuraikan oleh dekomposer
(pengurai) menjadi fosfat anorganik. Fosfat anorganik yang terlarut di air tanah
atau air laut akan terkikis dan mengendap di sedimen laut.
Oleh karena itu, fosfat banyak terdapat di batu karang dan fosil. Fosfat dari
batu dan fosil terkikis dan membentuk fosfat anorganik terlarut di air tanah dan
laut. Fosfat anorganik ini kemudian akan diserap oleh akar tumbuhan lagi. Siklus
ini berulang terus menerus. Gambar 4 dibawah ini menunjukkan siklus fosfor
dialam :

9
Tugas Pengantar Ilmu Lingkungan

Siklus Fosfor

Gambar 2. Siklus fosfor di alam

Daur/siklus fosfor adalah proses yang tidak pernah berhenti mengenai


perjalanan fosfor dari lingkungan abiotik hingga dimanfaatkan dalam proses
biologis. Berbeda dengan daur hidrologi, daur karbon, dan daur nitrogen, Daur
fosfor tidak melalui komponen atmosfer. Fosfor terdapat dialam dalam bentuk ion
fosfat (fosfor yang berikatan dengan oksigen yaitu H2PO4- dan HPO42-). Ion
fosfat banyak terdapat dalam bebatuan. Pengikisan dan pelapukan batuan
membuat fosfat larut dan terbawa menuju sungai sampai laut sehingga
membentuk sedimen. Sedimen ini muncul kembali ke permukaan karena adanya
pergerakan dasar bumi.
Ion fosfat dapat

memasuki

air tanah sehingga

tumbuhan

dapat

mengambil fosfat yang terlarut melalui absorbsi yang dilakukan oleh akar. Dalam
proses rantai makanan, Herbivora mendapatkan fosfat dari tumbuhan yang
dimakannya. Selanjutnya karnivora mendapatkan fosfat dari herbivora yang
dimakannya.
3.2 Sumber dan Distribusi
Sungai membawa hanyutan sampah maupun sumber fosfat daratan
lainnya, sehingga sumber fosfat dimuara sungai lebih besar dari sekitarnya.
Keberadaan fosfat di dalam air akan terurai menjadi senyawa ionisasi, antara lain
dalam bentuk ion H2PO4- , HPO42- , PO43- . Fosfat diabsorpsi oleh fitoplankton dan
seterusnya masuk kedalam rantai makanan. Senyawa fosfat dalam perairan berasal
daari sumber alami seperti erosi tanah, buangan dari hewan dan pelapukan
10
Tugas Pengantar Ilmu Lingkungan

Siklus Fosfor

tumbuhan, dan dari laut sendiri. Peningkatan kadar fosfat dalam air laut, akan
menyebabkan terjadinya ledakan populasi (blooming) fitoplankton yang akhirnya
dapat menyebabkan kematian ikan secara massal. Batas optimum fosfat untuk
pertumbuhan plankton adalah 0,27 5,51 mg/liter (Hutagalung et al, 1997).
Fosfat dalam air laut berbentuk ion fosfat. Ion fosfat dibutuhkan pada
proses fotosintesis dan proses lainnya dalam tumbuhan (bentuk ATP dan
Nukleotid koenzim). Penyerapan dari fosfat dapat berlangsung terus walaupun
dalam keadaan gelap. Ortofosfat (H 3PO4) adalah bentuk fosfat anorganik yang
paling banyak terdapat dalam siklus fosfat. Distribusi bentuk yang beragam dari
fosfat di air laut dipengaruhi oleh proses biologi dan fisik.
Dipermukaan air, fosfat di angkut oleh fitoplankton sejak proses
fotosintesis. Konsentrasi fosfat di atas 0,3 m akan menyebabkan kecepatan
pertumbuhan pada banyak spesies fitoplankton. Untuk konsentrasi dibawah 0,3
m ada bagian sel yang cocok menghalangi dan sel fosfat kurang diproduksi.
Mungkin hal ini tidak akan terjadi di laut sejak NO 3 selalu habis sebelum PO4
jatuh ke tingkat yang kritis. Pada musim panas, permukaan air mendekati 50%
seperti organik -P.
Di Laut Dalam kebanyakan P berbentuk inorganik. Di musim dingin
hampir semua P adalah inorganik. Variasi di perairan pantai terjadi karena proses
upwelling dan kelimpahan fitoplankton. Pencampuran yang terjadi dipermukaan
pada musim dingin dapat disebabkan oleh bentuk linear di air dangkal. Setelah
musim dingin dan musim panas kelimpahan fosfat akan sangat berkurang.
3.3 Spesiasi Kimia
Secara rinci perputaran campuran organik P yang ditunjukkan di
permukaan air secara garis besar tidak diketahui. Sepenuhnya adalah larutan
inorganik fosfor seperti hasil ionisasi pada H3PO4
H3PO4

H+ + H2PO4

H3PO4

H+ + HPO42-

H3PO4

H+ + PO43-

Pecahan pada bentuk ini dibatasi oleh pH dan komposisi pada air. Ionisasi konstan
untuk tiga tahap penguraian dapat didefinikan sebagai :
11
Tugas Pengantar Ilmu Lingkungan

Siklus Fosfor

K1= [H+] [H2PO4] [H3PO4]


K2 = [H+] [HPO42- ] [H2PO4- ]
K3 = [H+] [PO33-] [HPO42-]
Pehitungan persen pada beragam bentuk fosfat di H2O, NaCl, air laut,
seperti sebuah fungsi pada pH. Di laut dalam ion fosfat bentuknya lebih penting
(50% pada P= 1000 bar atau 10.000 m ). H2PO4- bebas adalah lebih besar dengan
persentase 49%, MgPO4- 46%, dan 5% CaHPO4. Sementara PO43- 27% seperti
MgPO4- dan 73% seperti CaPO4.

Gambar 3. Grafik Spesiasi Fosfat

3.4 Proses pengambilan secara Fisik dan Biologi


Ortofosfat dihasilkan dari dekomposisi tanaman atau jaringan yang
membusuk, karena hal tersebut merupakan proses yang mudah dan cepat maka
terjadi sangat tinggi di kolom perairan sehingga menyediakan fosfat untuk
tanaman (Davis dalam Effendi, 1987). Ketika fitoplankton mati, organik-P dengan
cepat berubah menjadi fosfat. Banyak fitoplankton dikonsumsi oleh zooplankton
dimana proses ini menghasilkan PO4. Inorganik fosfat terlarut terdiri atas 90%
dari total fosfor selama waktu ketika produksi organik, maka dari itulah proses
pengambilan rendah. Tipe ini muncul saat musim dingin. Saat musim panas,
ketika produktifitas tinggi inorganik fosfat berkurang setengah dari jumlah total.

12
Tugas Pengantar Ilmu Lingkungan

Siklus Fosfor

3.5 Siklus Alami Fosfat


Banyak sumber fosfat yang di pakai oleh hewan, tumbuhan, bakteri,
ataupun makhluk hidup lain yang hidup di dalam laut. Misalnya saja fosfat yang
berasal dari feses hewan (aves). Sisa tulang, batuan, yang bersifat fosfatik, fosfat
bebas yang berasal dari proses pelapukan dan erosi, fosfat yang bebas di atmosfer,
jaringan tumbuhan dan hewan yang sudah mati. Di dalam siklus fosfor banyak
terdapat interaksi antara tumbuhan dan hewan, senyawa organik dan inorganik,
dan antara kolom perairan, permukaan, dan substrat. Contohnya beberapa hewan
melepaskan sejumlah fosfor padat di dalam kotoran mereka. Dalam perairan laut
yang normal, rasio N/P adalah sebesar 15:1. Ratio N/P yang meningkat potensial
menimbulkan blooming atau eutrofikasiperairan, dimana terjadi pertumbuhan
fitoplankton yang tidak terkendali.
Eutrofikasi potensial berdampak negatif terhadap lingkungan, karena
berkurangnya oksigen terlarut yang mengakibatkan kematian organisme akuatik
lainnya (asphyxiation), selain keracunan karena zat toksin yang diproduksi oleh
fitoplankton (genus Dinoflagelata). Fitoplankton mengakumulasi N, P, dan C
dalam tubuhnya, masing masing dengan nilai CF (concentration factor) 3 x 104
untuk P, 16(3 x 104) untuk N dan 4 x 103 untuk C (Sanusi 2006).

Gambar 4. Siklus Fosfat Dilaut

13
Tugas Pengantar Ilmu Lingkungan

Siklus Fosfor

3.6 Siklus Fosfor di Perairan Tawar


Fosfor memainkan peran utama di dalam metabolisme biologis.
Dibandingkan dengan mikro nutrien lain yang dibutuhkan oleh biota fosfor
memiliki kemelimpahan minimum dan umunya merupakan unsur pertama
pembatas produktivitas biologis. Banyak data kuantitatif yang berasal dari
penyebaran fosfor musiman dan ruang di sungai-sungai dan danau, serta laju
muatan terhadap periaran penerima dari drainase cekungan (Kanti, 2006).
Orthofosfat (PO43-) merupakan bentuk fosfat anorganik terlarut yanga
secara langsung dapat digunakan. Fosfat reaktif secara ekstrim dan berinteraksi
dengan berbagai kation seperti Ca dan Fe yang terbentuk pada saat kondisi
tersedianya (oxic), yakni suatu senyawa yang secara relative tidak terlarut dan
akan mengendap lalu keluar dari badan air. Ketersediaan fosfat juga menurun
adsorpsi menjadi senyawa anorganik koloid dan partikulat seperti liat, karbonat,
dan hidroksid (Kanti, 2006).
Fosfor dengan proporsi yang cukup besar di perairan tawar, terikat dalam
fosfat organik dan sel-sel penyusun organisme hidup ataupun mati, serta di dalam
atau diabsorbsi menjadi koloid. Kisaran fosfor total di perairan tawar cukup besar
dari <5 ug I-1 pada perairan yang sangat tidak produktif sampai > 100 ug I-1 di
perairan yang sangat eutrofik. Sebagian besar perairan tawar yang tidak
terkontaminasi mengandung fosfor 10-50 ug total P I-1.
Konsentrasi fosfor terlarut dan total danau oligotrofik menunjukan variasi
yang kecil dengan meningkatnya kedalaman, sedangkan di danau eutrofik yang
dengan profil oksigen elinograde yang kuat, pada umumnya menunjukan suatu
peningkatan yang sangat jelas kandungan fosfor di hipolimnion bagian bawah.
Bentuk fosfor yang meningkat di hipolimnion, sebagian besar dalam bentuk
terlarut pada bagian yang dekat antarmuka air sedimen.
Pertukaran fosfor melintasi antar muka air sedimen diatur oleh interaksi
reduksi-oksidasi (redoks) yang tergantung pada pasokan oksigen, kelarutan
mineral, mekanisme sorptif, aktivitas metabolisme bakteri dan fungi, serta
turbulensi dari aktivitas biotik dan fisik. Secara keseluruhan, tapi pada beberapa
millimeter di atas sedimen, pertukaran cukup lambat dan dikendalikan oelh laju
difusi yang rendah pula. Jika air di atas sedimen dioksidasi sekitar >1 O2 I14
Tugas Pengantar Ilmu Lingkungan

Siklus Fosfor

1 suatu wilayah mikro yang teroksidasi terbentuk di bawah antarmuka air


sedimen (0-5 mm) di bawah sedimen biasanya menjadi tereduksi secara ekstrim.
Oksidasi wilayah mikro secara efektif mencegah fosfor yang terlarut di bawah
kondisi tereduksi di dalam sedimen dari migrasi melalui difusi ke arah
permukaan ke dalam kolom air. Dengan menjadi anoksinya hipolimnion di danau
eutrofik, wilayah mikro yang teroksidasi hilang sehingga terjadi pelepasan yang
cepat pada besi fero dan fosfat ke dalam air saat kondisi reduksi mencapai suatu
potensial redoks sekitar 200 mv (Kanti, 2006).
Fosfor terlarut dapat terakumulasi dalam jumlah yang cukup besar di
hipolimnion anaerob. Dengan adanya sirkulasi musim gugur, besi fero dengan
segera dioksidasi dan mengendapkan banyak fosfat sebagai feeri fosfat.
Metebolisme bakteri dari bahan organik merupakan mekanisme utama konversi
fosfor organik menjadi fosfat di dalam sedimen, serta menciptakan kondisi
tereduksi yang diperlukan untuk pelepasan fosfat ke dalam air. Pergerakan fosfor
dari air di celah-celah sedimen dapat dipercepat oleh turbulensi fisik oleh biota.
Tumbuhan air berakar mendapatkan fosfornya dari sedimen dan dapat
melepaskannya dalam jumlah yang cukup besar ke dalam air, baik selama
pertumbuhan aktif maupun selama proses menua dan mati. Kepadatan populasi
invertebrate penghuni sedimen yang tinggi seperti larva midge (serangga air)
dapat meningkatkan pertukaran fosfoe melintasi antarmuka air sedimen.
Studi siklus fosfor yang terbaru di wilayah trofogenik menunjukan bahwa
pertukaran fosfor di antara berbagai bentuknya seringkali cepat dan meliput
sejumlah lintasan yang kompleks. Sebagian besar sering di atas 95 %, fosfor
terikat di dalam fase partikel dari biota hidup terutama alga. Fosfor organik dari
seston perairan terbuka minimal terdiri dari dua fraksi utama yakni fosfor organik
terlarut dan koloid. Sedimentasi partikel mengakibatkan kehilangan fosfor secara
konstan dari wilayah trofogenik.
Dengan demikian, harus ada pasokan fosfor baru yang memasuki
ekosistem dalam tahap untuk mempertahankan atau meningkatkan produktivitas
(Kanti, 2006). Fosfor memasuki perairan tawar melalui presipitasi atmosfer dari
limpasan permukaan dan dari air tanah. Laju muatan fosfor bervariasi luas

15
Tugas Pengantar Ilmu Lingkungan

Siklus Fosfor

dengan pola tata guna lahan, geologi, dan morfologi drainase cekungan, aktivitas
manusia, pencemaran, dan faktor-faktor lainnya.
Siklus fosfor lebih sederhana dibandingkan dengan siklus karbon atau
siklus nitrogen. Siklus fosfor tidak meliputi pergerakan melalui atmosfer, karena
tidak ada gas yang mengandung fosfor secara signifikan. Selain itu, fosfor hanya
ditemukan dalam satu bentuk fosfat (P0 43-) anorganik (pada air dan tanah) dan
yang diserap oleh tumbuhan dan digunakan untuk sintesis organik. Pelapukan
bebatuan secara perlahan-lahan menambah fosfat ke dalam tanah (Arfiati, 1989).
Setelah produsen menggabungkan fosfor ke dalam molekul biologis,
fosfor dipindahkan ke konsumen dalam bentuk organik. Fosfat organik dari hewan
dan tumbuhan yang mati diuraikan oleh dekomposer (pengurai) menjadi fosfat
anorganik. Fosfat anorganik yang terlarut di air tanah akan terkikis dan
mengendap di sedimen. Oleh karena itu, fosfat banyak terdapat di batu dan fosil.
Fosfat dari batu dan fosil terkikis dan membentuk fosfat anorganik terlarut di air
tanah. Fosfat anorganik ini kemudian akan diserap oleh akar tumbuhan lagi.
Siklus ini berulang terus menerus. Dengan demikian, sebagian besar fosfat
bersiklus ulang secara lokal di antara tanah, tumbuhan, dan konsumen atas dasar
skala waktu ekologis (Arfiati, 1989)

16
Tugas Pengantar Ilmu Lingkungan

Siklus Fosfor

BAB IV
KESIMPULAN
Dari pembahasan yang telah dilakukan, maka dapat diambil kesimpulan
sebagai berikut :
1. Fosfor memasuki perairan tawar melalui presipitasi atmosfer dari limpasan
permukaan dan dari air tanah.
2. Daur Fosfor adalah proses perubahan fosfat dari fosfat anorganik menjadi
fosfat

organik

dan

kembali

menjadi

fosfat

anorganik

secara

kesinambungan membentuk siklus.


3. Fosfor terlarut dapat terakumulasi dalam jumlah yang cukup besar di
hipolimnion anaerob.
4. Fosfat organik berasal dari hewan dan tumbuhan yang mati diuraikan oleh
dekomposer menjadi fosfat anorganik sedangkan Fosfat anorganik terlarut
di air tanah atau air laut akan terkikis dan mengendap di sedimen.
5. Di perairan unsur fosfor tidak ditemukan dalam bentuk bebas sebagai
elemen melainkan dalam bentuk senyawa anorganik yang terlarut.
6. Dalam proses rantai makanan, Herbivora mendapatkan fosfat dari
tumbuhan yang dimakannya, sedangkan karnivora mendapatkan fosfat dari
herbivora yang dimakannya.
7. Kegunaan fosfor yang terpenting adalah dalam pembuatan pupuk, dan
secara luas digunakan dalam bahan peledak, korek api, kembang api,
pestisida, odol, dan deterjen.

DAFTAR PUSTAKA

17
Tugas Pengantar Ilmu Lingkungan

Siklus Fosfor

Anonim.

2012.

Siklus

Fosfor

Daur

Fosfat

Dalam.

http://www.kamusq.com/2012/10/siklus-fosfor-daur-fosfat-dalam.html
diakses pada tanggal 1 Februari 2014 pukul 08.30 WIB
Arfiati,Diana.1989. Komunitas-Komunitas Alga Perifiton di sungai Cikarangelan,
Cikampek Jawa Barat sebagai Tempat Pembuangan Limbah Air Pabrik
Pupuk Urea. Bandung: Institut Teknologi Bogor
Bariani. 2006. Peran dan Fungsi Duslit Limnologi. Diakses pada tanggal 1
Februari 08.45 WIB
Barus,A. 2002. Pengantar Limnologi. Jurusan Biologi. FMIPA. Medan :
Universitas Sumatera Utara
Darmadi.

2010.

Siklus

Fosfor

di

Alam.

http://dhamadharma.wordpress.

com/2010/02/11/siklus-fosfor-di-alam/ diakses pada tanggal 2 Februari


2014 pukul 08.00 WIB
Effendi,H. 2003. Telaah Kualitas Air. Erlangga : Yogyakarta
Indra,

Widi.

2013.

Siklus

Fosfor

dan

Nitrogen

di

Perairan.

http://widiindrakesuma.blogspot.com/2013/10/siklus-fosfor-dan-nitrogendi-perairan_8865.html diakses pada tanggal 2 Februari 08.55 WIB


Kanti,Atit. 2006. Merga Candida Khamir Tanah Pelarut Fosfat yang Diisolasi
dari Tanah Kebon Biologi Wamena Papua. biodiversitas.mipauns.ac.id/
D/D0702/0670202/pdfvolume 7, nomor 2, halaman 105-108N:k112-033x
Diakses pada tanggal 2 Februari 09.00 WIB
Krisna, Dwi. 2013. Mengenal Siklus Fosfor. http://bisakimia.com/2013/07/
22/mengenal-siklus-fosfor/
Peppo, dkk. 2010. Oceanografi dan Limnologi di Indonesia Vol 36. Diakses pada
tanggal 1 Februari 20.15 WIB

18
Tugas Pengantar Ilmu Lingkungan

Siklus Fosfor