Anda di halaman 1dari 11

https://docs.google.com/document/d/1_HP84zryCidFc8yvni7lX_gemzxA2mT7kbJMdlL2EU/edit?

hl=in&pli=1
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr Wb.
Puji dan syukur penyusun panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas rahmat dan
hidayah-Nyalah penyusun diberi kelancaran dan kemudahan dalam menyusun makalah yang
berjudul Zakat dan Pajak dalam Perspektif Hukum Islam.
Makalah yang penyusun buat ini berisi tentang Pengertian Pajak dan Zakat, kewajiban
dalam membayar zakat dan pajak serta pandangan para ulama terhadap kewajiban tersebut.
Adapun maksud dan tujuan penyusun membuat makalah ini adalah untuk memenuhi salah
satu tugas Mata Kuliah Perkembangan Hukum Islam, Semester IV, Tahun Akademik 20072008.
Tak lupa penyusun ucapkan terima kasih kepada pihak yang telah membantu dalam
proses pembuatan dan penyelesaian makalah ini. Diantaranya adalah Dosen Pembimbing
kami, Bapak Drs. Ahmad Abdul Ghani, M.Ag.
Pembuatan makalah ini penyusun lakukan semaksimal mungkin. Namun, kritik dan saran
akan senantiasa penyusun hargai dan akan penyusun terima dengan senang hati.
Akhir kata, semoga makalah yang penyusun buat ini dapat diterima oleh Bapak Dosen
dan makalah ini mendapatkan penilaian yang terbaik. Hanya kepada Allah-lah kami
memohon petunjuk dan pertolongan.
Bandung,06 Mei 2008
Penyusun
i

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...............
DAFTAR ISI..............
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah..


B. Identifikasi Masalah.
C. Tujuan..
D. Kerangka Pemikiran........
E. Metode Penelitian........
F. Sistematika...

BAB II
1.

ZAKAT DAN PAJAK DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM

Pengertian Zakat dan Pajak.........................................................

i
ii
1
2
2
2
3
3
5
7

2.
3.

Kewajiban dalam membayar zakat dan Pajak............................. 9


Pendapat para ulama tentang kewajiban membayar pajak dan
zakat.............................................................................................
11

BAB III ANALISA MASALAH


BAB IV PENUTUP
Kesimpulan.....
Saran...
DAFTAR PUSTAKA

1
5
1
5
iii

ii

BAB I
PENDAHULUAN
A.

Latar Belakang Masalah


Dalam melaksanakan pembangunan pemerintah membutuhkan dana untuk
pemenuhan hal-hal yang dibutuhkan, dana tersebut diambil oleh pemerintah melalui
pajak yang diambil dari masyarakat sehingga pajak ini menjadi salah satu kewajiban
masyarakat. Namun di sisi lain, selain adanya kewajiban untuk membayar pajak,
masyarakat yang beragama Islam mempunyai kewajiban lain yang harus ditunaikan
yaitu membayar zakat.
Kedudukan zakat penting dalam kehidupan manusia karena merupakan bentuk
pelaksanaan interaksi manusia sebagai makhluk sosial dan juga mendorong manusia
untuk berusaha mendapatkan harta benda sehingga dapat menunaikan kewajibannya
berzakat sebagai bukti pelaksanaan rukun Islam.
Zakat dan pajak merupakan dua hal yang penting dan tidak dapat dipungkiri
keberadaannya dalam kehidupan masyarakat sehingga timbul permasalahan mengenai
hal mana yang harus lebih diutamakan.
Oleh karena itu, penyusun akan mencoba memaparkan lebih jauh lagi mengenai
zakat dan pajak ini dalam makalah kami yang berjudul Zakat dan Pajak dalam Perspektif
Hukum Islam.

Identifikasi Masalah
Dengan melihat latar belakang yang telah penyusun paparkan sebelumnya, maka ada
beberapa hal yang akan penyusun bahas dalam makalah ini, diantaranya:

B.

Apa pengertian Zakat dan Pajak?


Apakah orang yang membayar zakat harus membayar pajak, dan sebaliknya,
atau harus membayar kedua-duanya?
3.
Bagaimana pendapat ulama tentang kewajiban membayar zakat dan pajak
tersebut?
1.
2.

Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini, antara lain:

C.

Mengetahui pengertian zakat dan pajak.


Mengetahui orang yang membayar zakat harus membayar pajak, dan
sebaliknya, atau harus membayar kedua-duanya.
3.
Mengetahui pendapat ulama tentang kewajiban membayar zakat dan pajak
tersebut.
1.
2.

D.

Kerangka Pemikiran
Pajak dan zakat sama-sama penting, namun mana diantara salah satunya yang harus
didahulukan, atau mungkin seseorang yang telah membayar zakat kehilangan
kewajibannya untuk membayar zakat dan sebaliknya ataukah orang tersebut harus
membayar kedua-duanya.

E.

Metode Penelitian
Untuk mendapatkan data dan informasi yang dibutuhkan, penyusun menggunakan beberapa
metode, antara lain :
3

F.

1.

Studi pustaka
Pada metode ini, kami membaca buku-buku dan literatur yang berhubungan dengan
penyusunan makalah ini.

2.

Pemikiran
Kami mencoba untuk belajar mengungkapkan pemikiran kami sendiri dan kemudian
kami tuangkan pada makalah ini.
3. Jaringan Informasi
Kami menggunakan jaringan informasi berupa internet guna menambah nilai lebih
dari makalah ini.
Sistematika
BAB I PENDAHULUAN
Bab ini terdiri dari latar belakang masalah, Identifikasi Masalah, Tujuan,
Kerangka Pemikiran, Metode Penelitian dan Sistematika.

BAB II ZAKAT DAN PAJAK DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM


Pada bab ini penyusun membahas isi dari identifikasi diantaranya Pengertian Zakat dan
Pajak, kewajiban dalam pembayaran keduanya dan pendapat para ulama
tentang hal tersebut.
BAB III ANALISIS MASALAH
Penyusun berusaha untuk memaparkan pemikiran yang didasarkan pada pembahasan yang
dikemukakan pada bab II, diantaranya tentang Pengertian Zakat dan Pajak,
kewajiban dalam pembayaran keduanya dan pendapat para ulama tentang
hal tersebut.
4
4
BAB IV PENUTUP
Bab ini terdiri dari kesimpulan dan saran dari penyusun.

BAB II
ZAKAT DAN PAJAK DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM
Pengertian Zakat dan Pajak
Zakat menurut bahasa adalah suci dan subur. Zakat menurut istilah syara ialah kadar
harta tertentu yang diberikan kepada yang berhak menerimanya dengan beberapa syarat.#
Zakat adalah kewajiban atas harta yang bersifat mengikat dan bukan anjuran.
Kewajiban tersebut terkena kepada setiap muslim (baligh atau belum, berakal atau gila)
ketika mereka memiliki sejumlah harta yang sudah memenuhi batas nisabnya.
Sedangkan mengenai pajak, terdapat bermacam-macam batasan atau definisi tentang
"pajak" yang dikemukakan oleh para ahli diantaranya adalah:
Menurut Prof. Dr. P. J. A. Adriani, pajak adalah iuran masyarakat kepada negara
(yang dapat dipaksakan) yang terutang oleh yang wajib membayarnya menurut peraturanA.

peraturan umum (undang-undang) dengan tidak mendapat prestasi kembali yang langsung
dapat ditunjuk dan yang gunanya adalah untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran umum
berhubung tugas negara untuk menyelenggarakan pemerintahan.
Menurut Prof. Dr. H. Rochmat Soemitro SH, pajak adalah iuran rakyat kepada Kas
Negara berdasarkan undang-undang (yang dapat dipaksakan) dengan tiada mendapat jasa
timbal (kontra prestasi) yang langsung dapat ditunjukkan dan yang digunakan untuk
membayar pengeluaran umum. Definisi tersebut kemudian dikoreksinya yang berbunyi
sebagai berikut: Pajak adalah peralihan kekayaan dari pihak
6
rakyat kepada Kas Negara untuk membiayai pengeluaran rutin dan surplusnya digunakan
untuk public saving yang merupakan sumber utama untuk membiayai public investment.
Sedangkan menurut Sommerfeld Ray M., Anderson Herschel M., & Brock Horace
R, pajak adalah suatu pengalihan sumber dari sektor swasta ke sektor pemerintah, bukan
akibat pelanggaran hukum, namun wajib dilaksanakan, berdasarkan ketentuan yang
ditetapkan lebih dahulu, tanpa mendapat imbalan yang langsung dan proporsional, agar
pemerintah dapat melaksanakan tugas-tugasnya untuk menjalankan pemerintahan.#
Adapun perbedaan antara pajak dan zakat ini diantaranya:
Pertama, zakat merupakan manifestasi ketaatan ummat terhadap perintah Allah SWT dan
Rasulullah SAW sedangkan pajak merupakan ketaatan seorang warganegara kepada ulil
amrinya (pemimpinnya).
Kedua, zakat telah ditentukan kadarnya di dalam Al Quran dan Hadits, sedangkan pajak
dibentuk oleh hukum negara.
Ketiga, zakat hanya dikeluarkan oleh kaum muslimin sedangkan pajak dikeluarkan oleh
setiap warganegara tanpa memandang apa agama dan keyakinannya.
Keempat, zakat berlaku bagi setiap muslim yang telah mencapai nishab tanpa memandang
di negara mana ia tinggal, sedangkan pajak hanya berlaku dalam batas garis teritorial suatu
negara saja.
7
Kelima, zakat adalah suatu ibadah yang wajib di dahului oleh niat sedangkan pajak tidak
memakai niat. Dan sesungguhnya masih banyak lagi hal-hal yang membedakan antara zakat
dan pajak.#
Kewajiban Membayar Zakat dan Pajak
1.
Landasan Kewajiban Membayar Zakat
Zakat adalah rukun Islam ketiga yang diwajibkan di Madinah pada bulan Syawal tahun
kedua Hijriyah setelah diwajibkannya puasa Ramadhan dan zakat Fitrah. Ayat-ayat zakat,
shodaqah dan infaq yang turun di Makkah baru berupa anjuran dan penyampaiannya
menggunakan metodologi pujian bagi yang melaksanakannya dan cacian atau teguran bagi
yang meninggalkannya.
Landasan kewajiban mewmbayar zakat diantaranya:
AL QUR'AN
Surat Al-Baqaraah ayat 43: Artinya: "Dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat dan
ruku'lah bersama dengan orang-orang yang ruku'".
B.

Surat At-Taubah ayat 103: Artinya: "Ambilah zakat dari sebagian harta mereka, dengan
zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan do'akanlah mereka karena
sesungguhnya do'amu dapat memberikan ketenangan bagi mereka. Dan Allah Maha
Mendengar lagi Maha Mengetahui".
Surat Al An'aam ayat 141: Artinya: "Makanlah buahnya jika telah berbuah dan tunaikan
haknya (kewajibannya) dihari memetik hasilnya (dengan dikeluarkan zakatnya)".
AS-SUNNAH
Rasulullah SAW bersabda yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim dari Abdullah
8
bin Umar: Artinya: "Islam dibangun atas lima rukun: Syahadat tiada Tuhan kecuali Allah
dan Muhammad saw utusan Allah, menegakkan shalat, membayar zakat, menunaikan haji
dan puasa Ramadhan".
Hadist diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dari Ali ra: Artinya: "Sesungguhnya Allah
mewajibkan (zakat) atas orang-orang kaya dari umat Islam pada harta mereka dengan
batas sesuai kecukupan fuqoro diantara mereka. Orang-orang fakir tidak akan kekurangan
pada saat mereka lapar atau tidak berbaju kecuali
karena ulah orang-orang kaya diantar mereka. Ingatlah bahwa Allah akan menghisab
mereka dengan keras dan mengadzab mereka dengan pedih".
Landasan Kewajiban Membayar Pajak
Di dalam Hukum Islam, Dasar membayar pajak itu hukumnya adalah wajib,
berdasarkan kepada ayat Al-Quran Surat At-Taubah : 29.
"Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak pula kepada
hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya dan tidak beragama dengan agama yang benar (Agama Allah), yaitu orang-orang yang
diberi Al-kitab kepada mereka, sampai mereka membayar "Jizyah" dengan patuh, sedang
mereka dalam keadaan tunduk."
Pembebanan kewajiban membayar pajak hanyalah terhadap kaum laki-laki dan
kaum Hawa yang normal, sedangkan orang yang tidak mampu, dibebaskan dari kewajiban
tersebut. Pembebanannya pun disesuaikan dengan status sosial dan kondisi keuangannya.#
Dalam pengaturan pajak tersebut haruslah sesuai dengan Undang-undang, yaitu
pasal 23 UUD 1945 yang berbunyi: Pajak dan pungutan yang bersifat untuk keperluan
negara diatur dengan undang-undang.
2.

9
Pendapat para ulama tentang kewajiban membayar Zakat dan Pajak
Islam adalah agama yang anti kedzaliman. Pengutipan pajak tidak dapat dilakukan
sembarangan dan sekehendak hati penguasa. Pajak yang diakui dalam sejarah fiqh Islam dan
sistem yang dibenarkan harus memenuhi beberapa syarat yaitu :
1. Benarbenar harta itu dibutuhkan dan tak ada sumber lain.
Pajak itu boleh dipungut apabila negara memang benar benar membutuhkan dana,
sedangkan sumber lain tidak diperoleh. Demikianlah pendapat Syeikh Muhammad Yusuf
Qardhawy.
Para ulama dan para ahli fatwa hukum Islam menekankan agar memperhatikan
syarat ini sejauh mungkin. Sebagian ulama mensyaratkan bolehnya memungut pajak apabila
C.

Baitul Mal benar benar kosong. Para ulama benar benar sangat hati hati dalam
mewajibkan pajak kepada rakyat, karena khawatir akan membebani rakyat dengan beban
yang di luar kemampuannya dan keserakahan pengelola pajak dan penguasa dalam mencari
kekayaan dengan cara melakukan korupsi hasil pajak.
2. Pemungutan Pajak yang Adil.
Apabila pajak itu benar-benar dibutuhkan dan tidak ada sumber lain yang memadai,
maka pengutipan pajak, bukan saja boleh, tapi wajib dengan syara. Tetapi harus dicatat,
pembebanan itu harus adil dan tidak memberatkan. Jangan sampai menimbulkan keluhan
dari masyrakat. Keadilan dalam pemungutan pajak didasarkan kepada pertimbangan
ekonomi, sosial dan kebutuhan yang diperlukan rakyat dan pembangunan.
3. Pajak hendaknya dipergunakan untuk membiayai kepentingan umat, bukan untuk maksiat
dan hawa nafsu.
10
4. Persetujuan para ahli/cendikiawan yang berakhlak.
Kepala negara, wakilnya, gubernur atau pemerintah daerah tidak boleh bertindak
sendiri untuk mewajibkan pajak, menentukan besarnya, kecuali setelah dimusyawarahkan
dan mendapat persetujuan dari para ahli dan cendikiawan dalam masyarakat.#
Sedangkan mengenai pembayaran zakat, para ulama telah sepakat akan kewajiban
zakat dan bagi yang mengingkarinya berarti telah kafir dari Islam.

BAB III
ANALISIS MASALAH
Pengertian Zakat dan Pajak
Secara bahasa zakat berarti tumbuh, bersih, berkembang dan berkah. Seorang yang
membayar zakat karena keimanannya niscaya akan memperoleh kebaikan yang banyak.
Allah berfirman disurat At-Taubah ayat 103, artinya: "Pungutlah zakat dari sebagian
kekayaan mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka". Surat AlBaqaraah 276, artinya: "Allah memusnahkan riba dan mengembangkan sedekah".
Disebutkan dalam hadist Rasulullah saw yang diriwatkan Bukhari dan Muslim, ada malaikat
yang senantiasa berdo'a setiap pagi dan sore :
Artinya: "Ya Allah berilah orang berinfak gantinya". Dan berkata yang lain: "Ya
Allah jadikanlah orang yang menahan infak kehancuran".
Sedangkan menurut terminology Syari'ah zakat berarti kewajiban atas harta atau
kewajiban atas sejumlah harta tertentu untuk kelompok tertentu dan dalam waktu tertentu.
Yang dimaksud dengan pajak adalah iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan
undang-undang sehingga dapat dipaksakan dengan tiada mendapat balas jasa secara
langsung. Pajak dipungut penguasa berdasarkan norma-norma hukum guna menutup biaya
produksi barang-barang dan jasa kolektif untuk mencapai kesejahteraan umum.
Baik pajak maupun zakat, pelaksanaan keduanya haruslah sesuai dengan tujuan dari
ekonomi Islam yang sesungguhnya yaitu untuk:
11
1. Mewujudkan ekonomi umat yang makmur dengan melaksanakan produksi
barang dan jasa dengan kuantitas dan kualitas yang cukup guna memenuhi
kebutuhan jasmani dan rohani dalam rangka menumbuhkan kesejahteraan
duniawi dan ukhrawi secara serasi dan seimbang.
12
b.
Mewujudkan kehidupan ekonomi umat yang adil dan merata dengan jalan
melaksanakan distribusi barang, jasa, kesempatan, kekuasaan dan pendapatan
masyarakat secara jujur, terarah dan selalu meningkatkan keadilan serta
pemerataannya.
b. Mewujudkan kehidupan ekonomi umat yang serasi, bersatu, damai dan maju,
dalam suasana kekeluargaan sesama umat dengan jalan menghilangkan nafsu
untuk menguasai dan menumpuk harta.
b. Mewujudkan kehidupan ekonomi umat yang menjamin kemerdekaan, baik
dalam memilih jenis barang dan jasa, memilih sistem jenis dan organisasi
produksi, maupun memilih sistem distribusi sehingga tingkat partisipasi
masyarakat dapat dikerahkan secara maksimal dengan meniadakan
penguasaan berlebihan dari sekelompok masyarakat serta menumbuhkan
sikap kebersamaan.
b. Mewujudkan kehidupan ekonomi yang tidak menimbulakn kerusakan di
bumi, sehingga kelestarian alam dapat dijaga baik alam fisik, kultural, sosial
maupun spiritual.
A.

b.

B.

Mewujudkan kehidupan ekonomi yang mandiri tanpa ketergantungan kepada


kelompok masyarakat lain.#

Kewajiban Membayar Zakat dan Pajak


Baik membayar zakat maupun membayar pajak hukumnya adalah wajib. Aturan
mengenai keduanya bisa kita lihat dalam Al-Quran. Namun, jika kita mempertanyakan mana
yang harus didahulukan, maka kita dapat berpikir terbuka terbuka dengan mengandalkan akal
dan rasional. Kita memiliki dua kewajiban yang melekat pada penghasilan kita, yaitu
kewajiban membayar Pajak dan kewajiban mengeluarkan Zakat. Pajak merupakan
kewajiban kita terhadap negara atau Pemerintah, sedangkan Zakat merupakan
kewajiban kita sebagai seorang muslim terhadap Allah SWT. Secara hirarki, bentuk
pertanggungjawaban yang paling tinggi adalah kepada Allah SWT. Dengan menggunakan
logika yang sama, maka yang harus kita tunaikan lebih dahulu adalah mengeluarkan Zakat
dari penghasilan kita, baru setelah itu membayar Pajak ke negara.
13

C.

Pendapat para ulama tentang kewajiban membayar Zakat dan Pajak


Membayar pajak itu hukumnya wajib, karena memang aturannya pun secara jelas
tercantum di dalam Al-Quran. Sedangkan mengenai kewajiban membayar pajak, Menurut
Syeikh Muhammad Yusuf Qardhawy, pajak itu boleh dipungut apabila negara benar-benar
membutuhkan dana, sedangkan sumber lain tidak diperoleh. Pembayaran pajak dapat juga
dibenarkan dalam syariat Islam karena memiliki beberapa konsideran:
1. Solidaritas sosial dan tolong menolong sesama muslim dan sesama umat manusia
merupakan kewajiban. Allah berfirman dalam surat Al_maidah ayat 2, artinya: "Dan
olong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan janganlah
tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran".
2. Sasaran zakat terbatas sedangkan kebutuhan negara tidak terbatas. Para ahli fiqh tidak
boleh mercampur adukkan harta zakat dengan pajak. Berkata Abu Yusuf: "Tidaklah layak
kiranya harta kharaj (pajak bumi) digabungkan dengan harta zakat, karena harta kharaj
adalah harta rampasan untuk seluruh kamu muslimin, sedangkan harta zakat
diperuntukkan bagi mereka yang disebutkan Allah dalam Al-Qur'an. Para ulama berkata:
"Zakat tidak boleh digunakan untuk membangun jembatan, perbaikan jalan, membuat
sungai, pembuatan masjid, sekolah, pengairan dan bendungan".
3. Kaidah-kaidah Umum Hukum Syara'. Banyak sekali kaidah yang dapat dipakai untuk
melegalisasi pembayaran pajak, diantaranya Maslahah Mursalah.
4. Kebutuhan untuk biaya jihad dengan segala kaitannya.
14
5. Kerugian dibayar dengan keuntungan, yaitu ketika umat Islam membayar pajak, dia
dapat merasakan hasil pajak tersebut lewat pembangunan dan keamanan.

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
A.
1.

KESIMPULAN

Zakat menurut bahasa adalah suci dan subur. Zakat menurut istilah syara ialah kadar
harta tertentu yang diberikan kepada yang berhak menerimanya dengan beberapa syarat.
Pajak adalah iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan undang-undang,
sehingga dapat dipaksakan dengan tiada mendapatkan balas jasa secara langsung.
Baik zakat maupun pajak pembayarannya bersifat wajib, dan orang yang sudah
membayar zakat wajib pula membayar pajak, begitupun sebaliknya.
2. para ulama berpendapat bahwa zakat itu wajib dibayarkan, sedangkan pajak itu
boleh diambil apabila kas negara benar-benar dalama keadaan kosong.
2.

B.

SARAN

Zakat dan pajak diwajibkan bagi umat Islam, tetapi kewajiban pajak harus diberikan
keringanan, sehingga tidak memberatkan karena dua kali beban.
2.
Masyarakat sebaiknya bersikap lebih seimbang baik terhadap pembayaran zakat
maupun terhadap pembayaran pajak, karena keduanya merupakan kewajiban.
3.
Pemerintah hendaknya lebih memperhatikan syarat-syarat pemungutan pajak yang
telah dirumuskan oleh para ulama demi terwujudnya keadilan dalam masyarakat.
1.

15

DAFTAR PUSTAKA
Buku:
Lubis, Ibrahim, 1995, Ekonomi Islam, Jakarta: Kalam Mulia.
Yusuf, Ali Anwar 2005, Afeksi Islam, Bandung: Tafakur.
Undang-Undang:
Undang-Undang Dasar 1945
Sumber lain:
www.google.com/zakat+pajak.

Wikipedia Indonesia/Ensiklopedia bebas


Ensiklopedia Islam/Fiqh/Pajak&Zakat

iii
iii