Anda di halaman 1dari 3

uli 2008

Tampilan cetak
Kamis, 3 Juli 2008
Bacaan : Yakobus 3:1-12
Setahun : Mazmur 84-88
Nats
: Siapa tidak bersalah dalam perkataannya, ia orang yang sempurna, yang dapat juga
mengendalikan seluruh tubuhnya (Yakobus 3:2)
MULUTMU HARIMAUMU

"Mulutmu Harimaumu," demikianlah bunyi slogan iklan sebuah perusahaan jasa telepon selular.
Ungkapan ini benar. Kata-kata yang keluar dari mulut kita ibarat harimau: sangat berkuasa.
Ucapan hakim di pengadilan bisa menentukan hidup matinya seorang terdakwa. Ucapan seorang
pejabat bisa memengaruhi nasib rakyat. Ucapan pengusaha pada rekannya dapat membuat
transaksi bisnis jadi atau batal. Ucapan seorang pria pada kekasihnya bisa membuatnya
tersanjung atau tersinggung. Sekali salah ucap, akibatnya bisa gawat!
Tidak heran, Yakobus menasihati agar orang berpikir ulang jika hendak menjadi guru. Tanggung
jawab yang ditanggung berat. Setiap hari guru mengucapkan ribuan kata. Ucapannya membentuk
cara berpikir murid. Idealnya, semua yang guru ucapkan harus benar. Padahal, kerap kali kita
salah bicara. Mengucapkan apa yang tidak perlu atau tidak pantas. Mengendalikan lidah memang
lebih sulit daripada mengendalikan api atau menjinakkan binatang. Tanpa dikekang, lidah bisa
menjadi liar. Kadang mengucapkan berkat, kadang kutuk. Tidak konsisten. Jika ini terjadi, mana
bisa guru menjadi teladan? Mana bisa dipegang perkataannya?
Setiap orang percaya adalah "guru". Pendidik. Kita diberi tugas mengajar dan menasihati sesama.
Setiap orangtua pun bertugas menjadi guru bagi anak-anaknya. Jadi, belajarlah mengekang lidah.
Berpikirlah lebih dulu, baru berbicara. Saring dulu, baru ucapkan. Lebih penting lagi: jagalah
hati agar selalu murni. Sebab apa yang keluar dari mulut, berasal dari hati (Matius 15:18). Hatihatilah: mulutmu harimaumu. Jangan menerkam orang lain dengan kata-kata Anda -JTI
PERKATAAN YANG DIUCAPKAN TEPAT PADA WAKTUNYA
ADALAH SEPERTI BUAH APEL EMAS DI PINGGAN PERAK -AMSAL 25:11
Bacaan : Mazmur 141:1-10
Setahun : Yehezkiel 46-48
Nats
: Awasilah mulutku, ya TUHAN, berjagalah pada pintu bibirku! (Mazmur 141:3)
Pepatah "mulutmu harimaumu" mengajarkan kepada kita bahwa perkataan yang keluar dari
mulut ini harus kita kendalikan. Jika tidak, perkataan itu menjadi galak seperti harimau yang
bisa menerkam balik kita. Mulut adalah media untuk mengartikulasikan segala sesuatu yang ada
di dalam pikiran dan hati. Oleh karena itu, pepatah ini ingin mengajarkan kepada kita untuk
selalu mengendalikan mulut kita. Dengan apakah kita mengendalikannya?

Pemazmur mengajarkan kepada kita, bahwa untuk menyaring perkataan yang keluar dari mulut
kita, tidak cukup dengan usaha sendiri, melainkan dengan berdoa. Berdoa adalah perlawanan
yang paling tepat terhadap perkataan yang kotor dan jahat. Dalam doanya pada waktu petang,
Daud berseru kepada Tuhan, meminta Tuhan melindungi dan memampukannya untuk hidup bagi
kemuliaan-Nya. Permohonan ini begitu penting sehingga Daud berharap agar Tuhan
menolongnya dalam pergumulan melawan berbagai bentuk pencobaan. Ia meminta Allah
mengontrol perkataan, pikiran, dan tindakannya.
Kerinduan orang percaya adalah hidup kudus dalam setiap aspek kehidupannya. Dosa dalam
berbagai bentuk akan berusaha menyimpangkannya. Yang berupa perkataan, misalnya, kita
mengucapkan kata-kata kasar yang menyakitkan orang lain. Padahal, kita seyogyanya
mengucapkan kata-kata yang penuh kasih dan membangun orang lain. Selaku pengikut Tuhan,
kita perlu terus berdoa meminta tuntunan-Nya. Dengan berdoa, kita menaklukkan diri kepada
Allah hingga terhindar dari dosa karena mulut kita. --Eddy Nugroho
KARENA SEPATAH KATA ORANG BISA DIANGGAP PANDAI;
KARENA SEPATAH KATA PULA ORANG BISA DIANGGAP BODOH. LUN GI
Kamis, 7 Juni 2001

Yakobus 3:1-12
Hati-hati dengan kata-kata yang keluar dari mulutmu! Jemaat mula-mula menempatkan
seorang pengajar dalam posisi penting dan terhormat. Dari para pengajar ini jemaat mendapatkan
banyak pengajaran-pengajaran tentang kehidupan - norma-norma etika yang berlaku, tentang
hukum, dlsb. Sesuai dengan kedudukannya, para pengajar itu mengemban tugas dan tanggung
jawab yang berat. Karena ia tidak hanya bertanggungjawab terhadap isi ajaran yang
diajarkannya, tetapi juga harus mampu mencerminkannya dalam sikap hidupnya.
Di masa sekarang ini, kita mengenal banyak sekali orang yang menekuni profesi pengajar.
Misalnya, guru, dosen, pendeta, dlsb. Seperti halnya jemaat mula-mula, kita juga tahu bahwa
profesi ini tidak hanya memikul tanggung jawab dalam isi pengajaran, tetapi juga
bertanggungjawab untuk memperlihatkan sikap yang sesuai dengan pengajarannya, harus
menjadi teladan, harus memperlihatkan sikap hidup yang sesuai dengan norma- norma hukum
yang berlaku dalam masyarakat. Namun, sebenarnya tanggung jawab terhadap pengajaran itu
juga menjadi tanggung jawab semua orang. Dalam hal ini semua orang dapat berfungsi sebagai
pengajar karena hal yang paling penting adalah benar atau tidaknya pengajaran itu. Karena itu
peringatan Yakobus tentang penguasaan lidah tidak hanya berlaku bagi jemaat penerima surat,
tetapi berlaku juga bagi kita saat ini. "Memang lidah tak bertulang, tak terbatas kata-kata" .
Kalimat ini mengingatkan kita tentang fungsi lidah, ibarat api kecil yang dapat membakar hutan
besar. Lidah juga dapat menodai seluruh tubuh, dan membakar roda kehidupan kita. Lidah dapat

mengubah kawan menjadi lawan. Bahkan lidah bisa mengakibatkan tercetusnya perang saudara,
perang antarnegara, berjuta-juta manusia terbunuh, berjuta-juta manusia kehilangan tempat
tinggal, berjuta- juta manusia mengarahkan hidupnya pada kesesatan, dlsb. Lihatlah akibat yang
ditimbulkan oleh orang-orang yang tidak dapat mengendalikan lidahnya, kebinasaan menjadi
bagiannya! Sebenarnya, lidah adalah alat saja.
Renungkan: Waspadai dan kendalikan lidah Anda dan lakukan perkara- perkara besar melalui
bagian kecil dalam tubuh Anda tersebut. Dari kemurnian hati pancarkanlah mutiara- mutiara kata
yang memuliakan Tuhan, membangun diri, dan menjadi berkat bagi orang lain