Anda di halaman 1dari 3

Gus Dur: Bapak Pluralisme Dunia

Perspektif Online
21 September 2006

Syafi’i Anwar mengatakan bahwa Gus Dur adalah bapak pluralisme Indonesia. Wimar
Witoelar menambahkan bahwa beliau sebetulnya juga adalah bapak plularisme dunia,
mengingat bahwa dunia kini kekurangan tokoh pluralisme dan bahkan didominasi oleh
pemimpin eksklusif dari semua pihak.

Kedua pernyataan ini keluar pada dalam peluncuran buku ‘Islamku, Islam Anda, Islam
Kita’ karya Gus Dur. Pluralisme dan Pembelaan adalah dua kata kunci dalam kumpulan
tulisan Abdurrahman Wahid ini. Tulisan berangkat dari perspektif korban, terutama
minoritas agama, gender, keyakinan, etnis, warna kulit, posisi sosial. ‘Tuhan tidak perlu
dibela,’ kata Gus Dur, tapi umatNya atau manusia pada umumnya justru perlu dibela.
Salah satu konsekwensi dari pembelaan adalah kritik, dan terkadang terpaksa harus
mengecam, jika sudah melewati ambang toleransi.

Komentar Syafi’i Anwar dan Wimar Witoelar disusul pula oleh Bambang Harymurti dan
akhirnya Abdurrahman Wahid sendiri pada acara peluncuran buku ‘Islamku, Islam
Anda, Islam Kita’ sekaligus perayaan hari ulang tahun kedua The Wahid Institute. Hadir
di Hotel Aryaduta tgl 21 September malam antara lain (berdasarkan abjad) Bambang
Harymurti, Dawam Rahardjo, Erlan Suparno (Menteri Tenaga Kerja), Hariman Siregar,
Jaya Suprana, Luhut Panjaitan (mantan Menteri Perindustrian dan Perdagangan),
Mahfud MD (mantan Menteri Pertahanan), Marsillam Simandjuntak (mantan Sekkab dan
Jaksa Agung), Dr. Nikolaos van Dam (Duta Besar Belanda), Rosiana Silalahi, Roy BB
Janis, Sarwono Kusumaatmadja, Shaban Shahidi Moaddab (Duta Besar Iran), Todung
Mulya Lubis, dan Taufik Kiemas.

Dalam sambutannya selaku pemberi Kata Pengantar buku tersebut, Direktur International
Center for Islam and Pluralism (ICIP) M. Syafi’i Anwar mengatakan sejak awal Gus Dur
memihak kelompok minoritas. Komitmen itu ditujukkan dengan bukti sehingga Indonesia
tetap menjadi negara plural. Karena itu Gus Dur adalah Bapak Pluralisme Indonesia.

Pendapat tersebut didukung Wimar Witoelar. Berbicara sebagai kolega dan sahabat
keluarga Gus Dur, Wimar mengatakan Gus Dur bukan hanya Bapak Pluralisme Indonesia
tetapi juga sudah menjadi Bapak Pluralisme Dunia. Saatnya tepat karena dunia saat ini
sedang kehilangan tokoh-tokoh pluralisme dan sebaliknya didominasi oleh tokoh yang
bersikap eksklusif.

Wimar mengingat kembali waktu menemani Gus Dur selama dan setelah masa
kepresidenannya. Setiap kunjungan ke luar negeri seperti Melbourne dan Washington,
masyarakat di sana sangat menyambut hangat kehadiran Gus Dur. Justru dukungan ini
terasa setelah Gus Dur tidak lagi menjabat Presiden. Bagi dunia tidak penting
perkembangan politik di Indonesia, tapi mereka melihat Indonesia sebagai pusat
pluralisme karena ketokohan Gus Dur dalam bersahabat dengan semua golongan. Satu
contoh respek luar negeri adalah sambutan luarbiasa yang diberikan kepadanya dengan
ditunjuk menjadi keynote speaker pada Kongres American Jewish Committee di
Washington, DC. Ditambah lagi dengan penampilannya bersama Condoleezza Rice
sebagai after-dinner speaker pada penutupan acarfa terbesar kaum Jahudi di Amerika
tersebut. Pada acara itu Gus Dur duduk bersama sahabatnya Uskup Agung Paris Jean-
Marie Lustiger. Masyarakat dunia menaruh harapan pada Indonesia dengan sikap
moderat Gus Dur yang menarik perhatian dunia setelah peristiwa 11 September 2001.

Sementara itu, Gus Dur dalam pidatonya mengatakan pluralisme yang menjadi isi buku
dan roh dirinya diambil dari keputusan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) pada 1935.
Muktamar memutuskan menjalankan syariat Islam tapi tidak perlu negara Islam di
Indonesia. Keputusan tersebut lahir dari pemikiran kakeknya KH Hasyim Ashari dan
bapaknya KH Wahid Hasyim yang melihat Indonesia sebagai negara plural. Sampai saat
ini tokoh-tokoh Islam sebagian besar menolak Negara Islam. Gus Dur sangat menolak
peraturan daerah berdasarkan syariah Islam yang mulai menyebar di Indonesia.

Buku ‘Islamku, Islam Anda, Islam Kita’ telah diminta untuk dialihbahasakan ke tujuh
bahasa yaitu Jerman, Belanda, Prancis, Inggris, Jepang, Korea, dan China.

Gus Dur dan Pluralisme


Indonesia kembali kehilangan salah satu putra terbaiknya. Gus Dur telah dianggap cukup
oleh Allah menjalankan misinya di dunia. Gus Dur Allahu yarham dipanggil pulang pada
30 Desember 2009.

Saya tidak kenal secara pribadi dengan beliau meskipun mempunyai nama belakang
sama. Tetapi saya termasuk penikmat dan mengikuti pemikiran-pemikirannya, bahkan
sejak saya di bangku SMA, sekitar 20 tahun yang lalu. Saya banyak membaca tulisan-
tulisan Gus Dur, termasuk yang lumayan banyak dimuat Majalah Prisma pada waktu itu.
Bahkan tulisan-tulisan Gus Dur sewaktu masih menjadi guru di Madrasah Aliyah di
Jombang pun saya pernah baca.

Di perpustakaan pribadi saya tidak banyak buku yang ditulis oleh Gus Dur karena setahu
saya memang tidak banyak satu buku yang ditulis sendiri. Tetapi, banyak buku tentang
Gus Dur atau buku suntingan yang berisi tulisan Gus Dur. Seingat saya buku tentang Gus
Dur terakhir yang saya beli beberapa tahun yang lalu adalah Gagasan Islam Liberal di
Indonesia karya Greg Burton. Gus Dur adalah salah satu tokoh sentral di samping
Nurcholis Madjid, Djohan Effendi, dan Ahmad Wahib. Beberapa buku yang di dalamnya
tidak hanya buku yang menyangkut pemikiran Islam, tetapi juga yang terkait dengan
masalah kebangsaan. Sebut saya misalnya, buku suntingan yang berjudul Passing Over:
Melintasi Batas Agama.
Ketika membaca tulisan-tulisan tersebut, sangat terasa bahwa dia adalah “orang besar”,
orang dengan ide-ide besar dan cemerlang. Perspektif yang digunakan bukan perspektif
jalanan yang banyak digunakan orang. Dia adalah orang dengan pemikiran yang
seringkali mendahului zamannya. Kalau sempat, coba Anda search Google.com dan cari
berita dalam bahasa asing dengan kalimat Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Tidak
hanya warga nahdliyin yang kehilangan. Bangsa Indonesia lintas agama dan banyak
tokoh dunia dan agama-agama dunia lain, termasuk “agama” Mormon, juga merasa
kehilangan. Mereka sangat terkesan dengan semangat pluralisme yang dibawa oleh Gus
Dur.

Dia adalah penganjur toleransi yang gigih. Toleransi bukan melemahkan iman. Toleransi
adalah menata kehidupan bersama. Tidak ada tawar-menawar aqidah di sana. Ini yang
sering disalah artikan. Pluralisme adalah buahnya. Tidak ada dalam kamus prularisme
yang berarti mencampur adukkan agama. Pluralisme menghendaki semangat ko-
eksistensi, saling menghormati. Untuk memahami orang, jangan kita terlalu sibuk dengan
logika kita. Gunakan logika orang lain!

Dalam sebuah tulisannya, Prof. Mukti Ali, pernah menyatakan bahwa orang atheis tidak
bisa dialog tentang agama, karena dia tidak mempunyai pengalaman keberagamaan. Kita
tidak bisa dialog dengan orang di luar bidang kita kalau kita sibuk hanya dengan dunia
kita sendiri. Perlu kita sekali-sekali melompat batas, mencoba memahami orang lain.
Bukankah Nabi juga mengajarkan demikian? Ketika Nabi diludahi oleh orang Quraysy,
Nabi tidak marah. Bukankah itu karena Nabi menjadi sabar karena berpikir dalam posisi
orang yang meludahi? Kita masih ingat bagaimana Nabi dapat hidup berdampingan
dengan kaum agama lain di Madinah ketika baru hijrah. Ini adalah contoh lain.

Saya secara pribadi merindukan pemikiran-pemikiran yang menghargai perbedaan dan


bebas dari truth claim dengan mengkafirkan pihak lain, dan tidak bisa bergaul dengan
orang pemahaman berbeda. Hanya saja memang kita tidak menutup mata, ada I am more
moslem than you are syndrome. Dialog ternyata tidak hanya antar umat beragama (inter-
faiths), tetapi juga antar umat Islam.

Selamat jalan Gus Dur! Saya percaya, Allah telah menyiapkan tempat terbaik!