Anda di halaman 1dari 17

Hari Lingkungan Hidup

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas


Hari Lingkungan Hidup Sedunia

Disebut juga
Tanggal
Berhubungan dengan

Hari Lingkungan Hidup


5 Juni
Hari Bumi

Hari Lingkungan Hidup Sedunia ditetapkan dalam Sidang Umum PBB tahun 1972 untuk
menandai pembukaan Konferensi Lingkungan Hidup di Stockholm. Hari Lingkungan Hidup
Sedunia diperingati setiap tahun pada tanggal 5 Juni untuk meningkatkan kesadaran global akan
kebutuhan untuk mengambil tindakan lingkungan yang positif.[1] Hari Lingkungan Hidup seDunia merupakan instrumen penting yang digunakan PBB untuk meningkatkan kesadaran
tentang lingkungan dan mendorong perhatian dan tindakan politik di tingkat dunia. Sebagai milik
seluruh masyarakat, hari peringatan ini memberi kesempatan kepada semua orang untuk menjadi
bagian aksi global dalam menyuarakan proteksi terhadap planet bumi, pemanfaatan sumber daya
alam yang berkelanjutan serta gaya hidup yang ramah lingkungan.
Hari itu adalah hari di mana Konferensi PBB tentang Lingkungan Hidup Manusia dimulai.
Konferensi PBB tentang Lingkungan Hidup Manusia adalah pada tanggal 5-16 Juni 1972 yang
didirikan oleh Majelis Umum PBB pada tahun 1972.[2]

Ilmu lingkungan adalah bidang akademik multidisipliner yang mengintegrasikan ilmu fisika,
biologi, kimia, ekologi, ilmu tanah, geologi, sains atmosfer, dan geografi untuk mempelajari
lingkungan, dan solusi dari permasalahan lingkungan. Ilmu lingkungan menyediakan pendekatan
interdisipliner yang terintegrasi dan kuantitatif untuk mempelajari sistem lingkungan.[1]
Bidang terkait untuk dipelajari yaitu pembelajaran lingkungan dan teknik lingkungan.
Pembelajaran lingkungan menggabungkan berbagai ilmu sosial untuk memahami hubungan
antar manusia, persepsi, dan kebijakan mengenai lingkungan. Teknik lingkungan fokus pada
desain dan teknologi untuk meningkatkan kualitas lingkungan di berbagai aspek. Ilmuwan
lingkungan bekerja pada subjek seperti memahami proses yang terjadi di bumi, mengevaulasi
sistem energi, kendali dan mitigasi polusi, manajemen sumber daya alam, dan efek dari
perubahan iklim. Masalah lingkungan seringkali mencakup interaksi proses fisika, kimia, dan
biologis.
Ilmu lingkungan memulai pembelajaran dan investigasi substantif dan aktif pada tahun 1960an
dan 1970an, didorong oleh:

kebutuhan pendekatan multidisipliner untuk menganalisis masalah lingkungan yang


kompleks.

kedatangan hukum terkait lingkungan yang membutuhkan protokol dan investigasi


lingkungan

tumbuhnya kesadaran masyarakat terhadap aksi nyata dari gerakan yang menyinggung
masalah lingkungan

Publikasi bertemakan lingkungan karya Rachel Carson, Silent Spring, mendorong


berkembangnya ilmu lingkungan,[2] bersamaan dengan bencana lingkungan seperti tumpahan
minyak Santa Barbara tahun 1969 dan sungai Cuyahoga di Cleveland, Ohio, juga pada tahun
1969.
National Center for Education Statistics di Amerika Serikat mendefinisikan ilmu lingkungan
sebagai:
Program yang fokus pada aplikasi prinsip biologi, kimia, dan fisika untuk mempelajari
lingkungan fisik dan solusi dan permasalahan lingkungan, termasuk subjek seperti meredakan
atau mengendalikan polusi dan degradasi lingkungan; interaksi antara masyarakat dan
lingkungan alam; dan manajemen sumber daya alam. Termasuk kaidah permodelan dalam
biologi, kimia, fisika, ilmu kebumian, klimatologi, statistik, dan matematika.[3]

Komponen
Ilmu atmosfer
Ilmu atmosfer fokus pada atmosfer bumi, dengan menitik beratkan pada hubungan ke sistem
lainnya. Ilmu atmsfer mencakup pembelajaran meteorologi, fenmena gas rumah kaca,
permodelan persebaran atmosfer terkait kontaminasi di udara,[4][5] fenomena propagasi suara
terkait dengan polusi suara, hingga polusi cahaya.
Pada kasus pemanasan global, ahli fisika membuat permodelan komputer terhadap sirkulasi
atmosfer dan transmisi radiasi inframerah, ahli kimia memeriksa susunan kimia atmosfer dan
reaksinya, ahli biologi menganalisis kontribusi karbon dioksida hewan dan tumbuhan, dan pakar
di bidang meteorologi dan oseanografi memperkaya pemahaman dinamika atmosfer.
Ekologi
Ekologi adalah studi interaksi antara organisme dan lingkungannya. Ahli ekologi
menginvestigasi hubungan antara populasi organisme dan karakteristik fisik dari lingkungan
mereka, seperti konsentrasi bahan kimia; atau menginvestigasi interaksi antara dua populasi
organisme yang berbeda melalui hubungan simbiotik atau kompetisi.
Kimia lingkungan
Kimia lingkungan adalah studi perubahan kimia di dalam lingkungan. Prinsip studi mencakup
kontaminasi tanah dan polusi air. Topik analisis mencakup degradasi kimia di dalam lingkungan,
transportasi multi-fase kimiawi (evaporasi pelarut bahan kimia yang mencemari lingkungan) dan
efek bahan kimia terhadap biota.
Geosains
Geosains mencakup geologi lingkungan, ilmu tanah lingkungan, fenmena vulkanik, dan efolusi
kerak bumi. Dalam beberapa sistem klasifikasi, geosains juga mencakup hidrologi, termasuk
oseanografi.

Asas Ilmu Lingkungan berjumlah 14 beserta aplikasinya di alam dan lingkungan sekitar kita.
Asas 1. SEMUA ENERGI YANG MEMASUKI SEBUAH ORGANISMA (HIDUP)POPULASI
ATAU EKOSISTEM DAPAT DIANGGAP SEBAGAI ENERGI YANG TERSIMPAN ATAU
TERLEPASKAN. ENERGI DAPAT DIUBAH DARI BENTUK SATU KE BENTUK YANG
LAIN, TETAPI TIDAK DAPAT HILANG, DIHANCURKAN, ATAU DICIPTAKAN.
Aplikasinya : Seperti halnya kita membuat pembukuan keluar masuk uang. Misalnya, berapa
banyak kalori, energi yang masuk dalam bentuk makanan diubah olae jasad hidup untuk tumbuh,

berbiak , untuk menjalankan proses metabolisme, dalam bentuk beraknya, sebagian diambil oleh
parasit yang terdapat dalam tubuhnya. Metabolisme hewan kemudian terbagi dalam beberapa
komponen yang dapat mempertahankan dasar kerja tubuh untuk tetap dapat menyokong berbagai
aktivitas tubuh. Energi yang masuk kedalam tubuh mengalami pemisahan ke dalam beberapa
komponen
untuk
maksud
yang
berbeda-beda
:
a.
Pemisahan
karena
ada
energi
yang
tak
terasimilasi
b. Pemisahan karena ada energi yang digunakan sebagai bahan baker, dan ada pula yang
digunakan
untuk
membentuk
materi
bahan
hidup.
c. Pemisahan energi karena ada yang diambil oleh hewan pengeksploitasi, seperti parasit atau
pemangsa
d. Energi terpisah menjadi bagian energi yang bergabung dengan bahan yang dapat digunakan
untuk tumbuh dan berkembangbiak (dalam bentuk protein), dan yang tersimpan sebagai lemak
untuk
digunakan
dikemudian
hari
e.
Pemisahan
energi
untuk
tumbuh
dan
berbiak
f. Pemisahan energii untuk baan baker berbagai kegiatan, dan untuk menjalankan metabolisme
dasar.
Asas 2. TAK ADA SISTEM PENGUBAH ENERGI YANG BETUL-BETUL EFISIEN
Aplikasinya : Meskipun energi tidak pernah hilang di ala mini, tetapi energi itu akan terus diubah
ke dalam bentuk yang kurang bermanfaat. Misalnya energi yang masuk dalam tubuh organisme
berbebtuk bahan makanan yang padat dan bermanfaat, sedangkan energi yang keluar dari tubuh
hewan berbentuk panas (kalor). Aliran energi akan tampak bahwa energi itu banyak terbuang,
mulai tumbuhan sampai karnivora. Makin naik tingkat makanan, makin kurang biomassanya.
Asas 3. MATERI, ENERGI, RUANG, WAKTU, DAN KEANAKARAGAMAN, SEMUANYA
TERMASUK
KATEGORI
ALAM.
Aplikasinya : Manusia lebih senang bila makanan yang dihidangkan beranekaragam, sehingga
dapat memilih. Makin banyak macam sumber makanan bagi hewan, makin menurun
kemungkinan terjadi bahaya kelaparan.
Asas 4. UNTUK SEMUA KATEGORI ALAM, KALAU PENGADAANNYA SUDAH
MENCAPAI OPTIMUM, PENGARUH UNIT KENAIKANNYA SERING MENURUN
DENGAN PENAMBAHAN SUMBER ALAM ITU SAMPAI KE SUATU TINGKAT
MAKSIMUM. MELAMPAUI BATAS MAKSIMUM INI TAK AKAN ADA YANG
MENGUNTUNGKAN LAGI . UNTUK SEMUA KATEGORI ALAM (KECUALI
KEANAKARAGAMAN
DAN
WAKTU)KENAIKAN
PENGADAANNYA
YANG
MELAMPAUI BATAS MAKSIMUM, BAHKAN AKAN BERPENGARUH MERUSAK
KARENA KESAN PERACUNAN. INI ADALAH ASAS PENJENUHAN, UNTUK BANYAK
GEJALA SERING BERLAKU KEMUNGKINAN PENGHANCURAN YANG DISEBABKAN
OLEH PENGADAAN SUMBER ALAM YANG SUDAH MENDEKATI BATAS MAKSIMUM.
Aplikasinya : Batas suhu maksimum membatasi berbagai kegiatan hidup didalam system biologi.

Karena adanya ukuran optimum pengadaan sumber alam bagi suatu populasi, maka naik
turunnya individu dalam suatu polulasi itu bergantung pada pengadaan sumber alam itu pada
suatu jumlah tertentu. Akan terjadi pengintensifan perjuangan hidup, jika persediaan alam itu
berkurang, dan sebaliknya. Akan terdapat ketenangan, jika sumber daya alam itu bertambah.
Akibatnya kepadatan populasi yang berlebihan akan membawa penurunan jumlah anggota
populasi, dan sebaliknya. Gejala ini dikenal dengan pengaturan populasi karena factor yang
bergantung pada kepadatan (density-independent factor)
Asas 5. ADA DUA JENIS SUMBER ALAM DASAR, YAITU SUMBER ALAM YANG
PENGADAIANNYA DAPAT MERANGSANG PENGGUNAAN YANG SETE RUSNYA, DAN
YANG TAK MEMPUNYAI DAYA RANGSANG PENGGUNAAN LEBIH LANJUT.
Aplikasinya :Jika ada suatu jenis hewan sedang mencari berbagai sumber bahan makanan. Jika
kemudian diketahui, bahwa suatu jenis makanan tiba-tiba menjadi sangat banyak jumlahnya
dialam maka hewan tersebut akan memusatkan perhatiannya kepada penggunaan jenis makanan
itu. Jadi, kenaikan pengadaan sumber alam (makanan) merangsang kenaikan pendayagunaan.
Asas 6. INDIVIDU DAN SPESIES YANG MEMEPUNYAI LEBIH BANYAK KETURUNAN
DARI PADA SAINGANNYA, CENDERUNG BERHASIL MENGALAHKAN SAINGANNYA
ITU.
Aplikasinya : Berbagai jasad hidup mempunyai perbedaan sifat keturunan dalam hal tingkat
adptasi terhadap lingkungan. Jika terjadi kenaikan kepadatan populasi dan persaingan, maka
yang kurang mampu beradaptasi akan kalah.
Asas 7. KEMANTAPAN KEANAKARAGAMAN SUATU KOMUNITAS LEBIH TINGGI
DIALAM
LINGKUNGAN
YANG
MUDAH
DIRAMAL.
Aplikasinya : Lingkugan yang mantap secara fisik merupakan lingkungan dengan banyak spesies
mulai dari yang paling bayak sampai yang paling jarang. Semua spesies secara evolusi dapat
melakukan penyesuaian kepada tingkat optimum keadaan lingkungan. Lingkungan yang tidak
mantap hanya dihuni spesies dalan jumlah relative sedikit, tingkat kepadatan relative serupa.
Asas 8. SEBUAH HABITAT DAPAT JENUH ATAU TIDAK OLEH KEANEKARAGAMAN
TAKSON, BERGANTUNG KEPADA BAGAIMANA NICIA DALAM LINGKUNGAN
HIDUP
ITU
DAPAT
MEMISAHKAN
TAKSON
TERSEBUT.
Aplikasinya : Tiap spesies mempunyai nicia tertentu. Dengan demikian, spesies itu dapat hidup
berdampingan dengan spesias lain tanpa persaingan, karena masing-masing mempunyai
keperluan dan fungsi yang berbeda-beda dialam.
Asas 9. KEANEKARAGAMAN KOMUNITAS APA SAJA SEBANDING DENGAN
BIOMASSA
DIBAGI
PRODUKTIFITAS.
Aplikasinya : Konsep kestabilan akan selalu diikuti dengan keanekaragaman yang tinggi

sehingga rantai makanan akan terbentuk stabil dengan komponen biotic yang lengkap. Hal ini
akan mempengaruhi tingkat produktivitas yang tinggi.
Asas 10. PADA LINGKUNGAN YANG STABIL PERBANDINGAN ANTARA BIOMASSA
DAN PRODUKTIVITAS DALAM PERALANAN WAKTU NAIK MENCAPAI SEBUAH
ASIMTOT.
Aplikasinya : (ini merupakan kelanjutan asas 7 dan 9). Sebuah komunitas dapat dibuat tetap
muda dengan memperlakukan fluktualisasi iklim atau cuaca yang tak teratur atau dengan
pemungutan hasil panae dari komunitas itu dari manusia, atau dengan eksploitasi oleh hewan
untuk keperluan makanannya, atau oleh banjir yang sewaktu-waktu melanda secara tak teratur
dan sebagainya.
Asas 11. SISTEM YANG SUDAH MANTAP (DEWASA) MENGEKSPLOITASI SISTEM
YANG
BELUM
MANTAP
(BELUM
DEWASA)
Aplikasinya : energi plankton diperairan, arus orang muda kekota menuju keanekaragaman
kehidupan. Dokter, insinyur enggan kembali kekampung. Transaksi ekonomi selalu
menguntungkan negara maju. Transmigran pasang-surut melawan binatang yang menyerbu dari
hutang, energi mengalir dari daerah keanakaragaman rendah.
Asas 12. KESEMPURNAAN ADPTASI SUATU SIFAT ATAU TABIAT BERGANTUNG
KEPADA KEPENTINGAN RELATIFNYA DI DALAM LEADAAN SUATU LINGKUNGAN.
Aplikasinya : Dalam ekosistem yang mantap dan habitat yang stabil, sifat response terhadap
fluktualisasi factor alam yang tidak terduga, tidaklah diperlakukan. Didaerah tropis adaptasi
tampak pada ikan atau serangga yang berwarna-warni, anekaragam.
Asas 13. LINGKUNGAN YANG SECARA FISIK MANTAP MEMUNGKINKAN
TERJADINYA PENIMBUNAN KEANEKARAGAMAN BIOLOGI DALAM EKOSISTEM
YANG MANTAP YANG KEMUDIAN DAPAT MENGALAHKAN KEMANTAPAN
POPULASI.
Aplikasinya : Perubahan ketergantungan manusia dari aliran energi (sinar matahari) ke
persediaan energi (minyak, gas bumi, tenaga atom dan sebagainya), memisahkan manusia dari
dunia tumbuhan dan hewan alam. Dan mengubah cara berfikir manusia untuk tidak
menghawatirkan menggunakan energi semaunya hingga suatu ketika persediaan energi itu dapat
habis. Sedangkan apa yang berlaku dalam jalinan keseimbangan alam yang berlangsung dalam
perjalanan massa yang lama sekali (evolusi).
Asas 14. DERAJAT POLA KETERATURAN NAIK-TURUNNYA POPULASI
NERGANTUNG KEPADA JUMLAH KETURUNAN DALAM SEJARAH POPULASI
SEBELUMNYA YANG NANTI AKAN MEMPENGARUHI POPULASI ITU.
Aplikasinya : Misalnya burung elang makanannya tikus tanah, yang memekan umbi tanaman
tertentu yang tumbuh di daerah tertentu. Pada tahun t populasi tikus banyak sekali, hingga timbul

bahaya kelimpahan. Pada tahun t1 populasi tikus menurun. Pada tahun t2 umbi melimpah. Pada
tahun t3 populasi tikus naik, sehingga menaikan populasi elang. Dan seterusnya akan terjadi naik
turun populasi elang

EKOLOGI, ILMU LINGKUNGAN DAN ASAS-ASAS PENGETAHUAN LINGKUNGAN


A. Ekosistem
Ekosistem terbentuk oleh komponen hidup dan tidak hidup, yang berinteraksi dalam suatu
tempat sebagai suatu kesatuan yang teratur. Keteraturan ekosistem terjadi oleh adanya arus
materi, energi, dan informasi. Komponen-komponen dalam ekosistem menunjukkan bahwa,
ekosistem tersebut berada dalam suatu keseimbangan tertentu. Keseimbangan tersebut sifatnya
tidak statis, namun dinamis, selalu berubah, dapat besar atau kecil, dapat terjadi secara alami atau
dibuat oleh manusia. Sebagai contoh, keadaan bumi tidak tetap (kandungan CO2 dan O2 dalam
udara), iklim, gunungnya, flora/faunanya. Dalam skala kecil, Gn. Krakatau (1883) meletus,
kehidupan di pulau tersebut menjadi rusak. Dari penelitian, diketahui bahwa mula- mula hanya
ada tumbuhan tingkat rendah (lumut, paku), baru kemudian timbul tumbuhan tingkat tinggi.
Inilah yang disebut suksesi. Keseimbangan Gn.Krakatau berubah total. Di dunia ini tidak ada
yang kekal Akuarium dapat dianggap sebagai ekosistem, dimana ikan, air, tumbuhan air, pasir,
plankton, mineral, dan oksigen terlarut merupakan komponen ekosistem. Hutan luas dengan
tumbuhan tinggi, rendah, tumbuhan perdu, hewan danau, ada suatu keteraturan yang seimbang
dalam ekosistem tersebut. Ekosistem terbagi menjadi dua: -ekosistem air , contoh: sungai, danau
rawa,(air tawar), hutan bakau, pantai, rawa payau (air laut) -ekosistem darat, contoh: bioma,
hutan hujan, savana, padang rumput, gurun, hutan gugur. Struktur Ekosistem Menurut UndangUndang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, batasan dari ekosistem
adalah tatanan unsur lingkungan hidup yang merupakan kesatuan utuh menyeluruh dan saling
mempengaruhi dalam membentuk keseimbangan, stabilitas, dan produktivitas lingkungan hidup.
Secara struktural ekosistem terdiri dari komponen biotik dan abiotik. Komponen biotik
ekosistem meliputi: sumber daya tumbuhan, sumber daya hewan, jasad renik, dan sumber daya
manusia. Komponen abiotik ekosistem meliputi: sumber daya tanah, sumber daya air, sumber
daya energi fosil, udara, serta cuaca dan iklim. Masing-masing komponen yang menjadi bagian
dari ekosistem tersebut saling berinteraksi dan saling mempengaruhi dengan erat. Adapun faktor
lingkungan pembatas berperan besar dalam menentukan komposisi organisme dalam suatu
ekosistem. Dalam konsep faktor pembatas dikemukakan bahwa setiap organisme memiliki
kisaran toleransi terhadap setiap faktor lingkungan abiotik. Fungsi Ekosistem Untuk memahami
bagaimana ekosistem berfungsi maka hal mendasar yang perlu dipahami adalah terdapatnya
aliran energi ke dalam ekosistem dan terjadinya daur materi di dalam ekosistem. Kedua hal
tersebut dapat diamati pada proses produksi dan dekomposisi, rantai dan jaring makanan, adanya
tingkatan tropik di dalam ekosistem, serta terjadinya daur biogeokimia yang berlangsung secara
terus-menerus dan berkesinambung-an. Energi ialah segala sesuatu yang dapat melakukan
pekerjaan. Sumber energi dapat dikelompokkan menjadi: sumber energi tak terbarui (non

renewable) yaitu sumber energi fosil dan nuklir, sumber energi terbarui (renewable) yaitu sumber
energi bukan fosil, misalnya tenaga air dan tenaga angin. Rantai makanan merupakan
perpindahan energi makanan dari sumber daya tumbuhan melalui seri organisme atau melalui
jalur makan-memakan. Rantai makanan dibagi atas dua tipe dasar, yaitu: rantai makanan
rerumputan (grazing food chain), dan rantai makanan sisa (detritus food chain). Unsur yang
merupakan persinggungan (interface) antara komponen habitat yaitu tanah/batuan, air, dan
atmosfer, terjadi proses-proses baik fisik, kimia, maupun biologi yang silih berganti atau
bersamaan yang disebut proses biogeokimia, karena proses ini terjadi berulang-balik, maka
proses ini disebut daur biogeokimia. Di dalam daur unsur atau senyawa kimia dapat ditemukan
adanya 2 (dua) kutub, yaitu kutub cadangan dan kutub pertukaran atau kutub peredaran. Dari
segi biosfer, daur biogeokimia terdiri dari 2 (dua) kelompok, yaitu tipe gas dan tipe sedimen. B.
Ekologi Ekologi adalah ilmu yang mempelajari seluruh pola hubungan timbal balik antara
mahluk hidup dengan sesamanya dan mahluk hidup dengan komponen sekitarnya. Ekologi
sebenarnya mempertanyakan tentang berbagai hal seperti :
1. Bagaimana alam bekerja
2. Bagaimana spesies beradaptasi dalam habitatnya
3. Apa yang diperlukan dari habitatnya untuk melangsungkan kehidupan
4. Bagaimana mereka mencukupi materi dan energi
5. Bagaimana mereka berinteraksi dengan spesies lain
6. Bagaimana individu dalam spesies itu diatur dan berfungsi sebagai populasi
Ekologi merupakan disiplin baru dari biologi yang merupakan mata rantai fisik serta
proses biologi yang menjembatani antara ilmu alam dan ilmu social. Tahun 1900, Ekologi
menjadi acuan ilmu-ilmu lainnya, yang wajib diketahui, karena dapat menerangkan, memberikan
ilham, mencari jalan menuju hidup layak. Setelah 1968, timbul kesadaran lingkungan di seluruh
dunia, dimana setiap orang dituntut untuk hemat dalam penggunaan sumber daya, hemat energi,
dan dapat mengurangi pencemaran tanah, air, udara, yang merupakan masalah lingkungan
sedunia (globalisasi lingkungan). Setelah ada gerakan sadar lingkungan (di dunia, 1968 dan di
Indonesia 1972), maka setiap orang mulai memikirkan : masalah pencemaran, rusaknya daerahdaerah alami, hutan, pantai, meningkatnya perkembangan penduduk, yang berdampak pada
masalah pangan, penggunaan energi, kenaikan suhu akibat efek gas rumah kaca, menipisnya
lapisan ozon, dst.
Ruang lingkup ekologi:
1. Populasi adalah kelompok individu yang memiliki kesamaan genetik, dan berada
bersama-sama dalam tempat dan waktu yang sama.
2. Ekosistem adalah hubungan timbal balik antara unsur-unsur hayati dengan nonhayati
yang membentuk sistem ekolog atau tingkatan organisasi kehidupan yang mencangkup
organisme dan lingkungan tak hidup, dimana kedua komponen tersebut saling mempengaruhi
dan berinteraksi. Rantai makanan adalah proses peristiwa makan di makan contoh : rumput belalang - burung kecil - ular elang Daur biokimia yaitu daur unsur atau zat contoh:
karbondioksida, oksigen, air, nitrogen, fosfor, jika biogekimia berhenti maka ekosistem rusak.

Daur air, contoh air sungai/danau, dan laut meluap menjadi awan - awan jatuh menjadi air hujan
dan dimanfaatkan oleh manusia, hewan dan tumbuhan, sebagaian meresap ke tanah kemudian
muncul mata air, sebagaian lagi langsung mengalir melalui sungai ke laut.
3. Biosfer adalah bagian luar dari planet bumi, mencakup udara, daratan, dan air, yang
memungkinkan kehidupan dan proses biotik berlangsung.
4. Komunitas adalah kelompok populasi yang berada bersama-sama dalam tempat dan
waktu tertentu.
Ekologi manusia adalah ilmu yang mempelajari rumah tangga manusia secara objektif,
apa adanya. Dengan demikian dapat di artikan bahwa ekologi manusia sebagai studi yang
mempelajari bentuk dan perkembangan komunitas dalam sebuah populasi manusia, dan
memahami antara spesies manusia dan lingkungannya. Ekologi Manusia, sebagaimana ekologi
tumbuh-tumbuhan dan manusia, mempresentasikan penerapan khusus dari pandangan umum
pada sebuah kelas khusus dalam sebuah kehidupan. Ini meliputi dua kesadaran kesatuan
mendasar dari lingkungan hidup dan kesadaran bahwa ada perbedaan dalam kesatuan tersebut.
Sebagaimana kita tahu, Manusia tidak hanya bekerja dalam sebuah tempat jaringan kehidupan,
melainkan dia juga mengembangkan di antara anggota-anggotanya sebuah pengalaman
hubungan lingkungan yang sebanding dalam tanggungjawab pentingnya atas lingkungan hidup
yang lebih terbuka. Steiner (2002) menyatakan bahwa ruang lingkup ekologi manusia adalah
meliputi: Set of connected stuff (sekelompok hal yang saling terkait) Integrative traits (ciri-ciri
yang integratif) Scaffolding of place and change (Perancah tempat dan perubahan). Kesadaran
individu dalam masyarakat mengenai lingkungan hidup dan kelestariannya merupakan hal yang
amat penting dewasa ini di mana pencemaran dan perusakan lingkungan merupakan hal yang
sulit dihindari. Kesadaran masyarakat yang terwujud dalam berbagai aktifitas lingkungan
maupun aktifitas kontrol lainnya adalah hal yang sangat diperlukan untuk mendukung apa yang
dilakukan pemerintah melalui kebijakan-kebijakan penyelamatan lingkungannya. Kesadaran
terhadap lingkungan tidak hanya bagaimana menciptakan suatu yang indah atau bersih saja, akan
tetapi ini sudah masuk pada kewajiban manusia untuk menghormati hak-hak orang lain. Hak
orang lain tersebut adalah untuk menikmati dan merasakan keseimbangan alam secara murni.
Sehingga kegiatan-kegiatan yang sifatnya hanya merusak saja, sebaiknya dihindari dalam
perspektif ini. Oleh karena itu, tindakan suatu kelompok yang hanya ingin menggapai
keuntungan pribadi saja sebaiknya juga harus meletakkan rasa toleransi ini. Dengan begitu kita
bisa mengatakan bahwa kesadaran masyarakat akan lingkungannya adalah suatu bentuk dari
toleransi ini. Toleransi atau sikap tenggang rasa adalah bagian dari konsekuensi logis dari kita
hidup bersama sebagai makhluk sosial. Melanggar konsekuensi ini juga berarti melanggar etika
berkehidupan bersama. Seperti dikatakan Plato bahwa manusia adalah makhluk sosial yang perlu
menghargai satu dan lainnya, sumber daya alam sangat berkaitan dengan teknologi
pembangunan dan ekologi.
C. Lingkungan hidup

Lingkungan hidup adalah sikap dan prilaku manusia dengan segenap tanggung jawab dan
kewajiban maupun haknya untuk mencermati tatanan lingkungan dengan sebaik-baiknya.
Lingkungan hidup manusia adalah sistem kehidupan yang merupakan kesatuan ruang dengan
segenap pengada (entity) baik pengada ragawi abiotik atau benda (materi) maupun pengada
insani, biotik atau makhluk hidup termasuk manusia dan prilakunya, mempengaruhi
kelangsungan kehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk lainnya. Efek dari ekologi
adalah kematian, perpindahan, kelahiran, dan kelangsungan hidup. Manusia sangat berhubungan
erat di lingkungannya maka pemanfaatan sumber daya alam yang baik merupakan hal yang
sangat penting dalam keberlangsungan hidup. Ilmu Lingkungan adalah suatu studi yang
sistematis mengenai lingkungan hidup dan kedudukan manusia yang pantas di dalamnya.
Perbedaan utama ilmu lingkungan dan ekologi adalah dengan adanya misi untuk mencari
pengetahuan yang arif, tepat (valid), baru, dan menyeluruh tentang alam sekitar, dan dampak
perlakuan manusia terhadap alam. Misi tersebut adalah untuk menimbulkan kesadaran,
penghargaan, tanggung jawab, dan keberpihakan terhadap manusia dan lingkungan hidup secara
menyeluruh. Timbulnya kesadaran lingkungan sudah dimulai sejak lama, contohnya Plato pada 4
abad Sebelum Masehi telah mengamati kerusakan alam akibat perilaku manusia. Pada zaman
modern, terbitnya buku Silent Spring tahun 1962 mulai menggugah kesadaran umat manusia. Di
Indonesia tulisan tentang masalah lingkungan hidup mulai muncul pada 1960-an. Sejak itu
Indonesia terus aktif mengikuti pertemuan puncak yang membicarakan tentang lingkungan hidup
secara global, yaitu Konferensi Stockholm pada 1972; Earth Summit di Rio de Janiero tahun
1992; dan WSSD di Johannesburg, tahun 2002. Ilmu lingkungan meliputi hubungan interaksi
yang sangat kompleks sehingga untuk memudahkan mempelajarinya dilakukan berbagai
pendekatan, antara lain: homeostasis, energi, kapasitas, simbiosis, sistem, dan model.
Permasalahan lingkungan hidup terdiri dari permasalahan lingkungan global dan sektoral.
Contoh permasalahan lingkungan global adalah: pertumbuhan penduduk, penggunaan sumber
daya alam yang tidak merata; perubahan cuaca global karena berbagai kasus pencemaran dan
gaya hidup yang berlebihan; serta penurunan keanekaragaman hayati akibat perilaku manusia,
yang kecepatannya meningkat luar biasa akhir-akhir ini. Contoh permasalahan lingkungan
sektoral dibahas masalah lingkungan yang terjadi di Indonesia. Masalah tersebut terjadi pada
berbagai ekosistem, seperti yang terjadi di kawasan pertanian, hutan, pesisir, laut, dan perkotaan.
Adapun usaha mengatasi permasalahan lingkungan dilakukan dengan berbagai pendekatan.
Pendekatan yang dibahas adalah cara ilmu pengetahuan dan teknologi, ekonomi, penegakan
hukum, dan etika lingkungan. Untuk mengatasi permasalahan lingkungan yang menjadi sangat
kompleks diperlukan berbagai upaya pendekatan sekaligus secara sinergis.
ASAS-ASAS ILMU LINGKUNGAN
Asas 1
(Hukum Thermodinamika I) Semua energi yang memasuki sebuah organisme hidup, populasi
atau ekosistem dapat dianggap sebagai energi yang tersimpan atau terlepaskan. Energi dapat
diubah dari satu bentuk ke bentuk yang lain tetapi tidak dapat hilang, dihancurkan atau

diciptakan. Asas ini adalah sebenarnya serupa dengan hokum Thermodinamika I, yang sangat
fundamental dalam fisika. Asas ini dikenal sebagai hukum konservasi energi dalam persamaan
matematika. Contoh: Banyaknya kalori, energi yang terbuang dalam bentuk makanan diubah
oleh jasad hidup menjadi energi untuk tumbuh, berbiak, menjalankan proses metabolisme, dan
yang terbuang sebagai panas. Jumlah energi yang masuk dan keluar dari suatu pemisahan atau
suatu proses, berupa materi. Jumlah energi yang masuk dan keluar dari suatu pemisahan atau
suatu proses, berupa tenaga atau panas. Asas 1 ini disebut juga dengan hukum konservasi energi,
dalam ilmu fisika sering disebut sebagai hukum termodinamika pertama. Asas ini menerangkan
bahwa energi dapat diubah, dan energi yang memasuki jasad hidup, populasi ataupun ekosistem
dianggap sebagai energi yang tersimpan ataupun yang terlepaskan, sehingga dapat dikatakan
bahwa sistem kehidupan sebagai pengubah energi. Dengan demikian dalam sistem kehidupan
dapat ditemukan berbagai strategi untuk mentransformasi energi, maka dibutuhkan pembukuan
masukan dan keluaran kalori dalam sistem kehidupan Contohnya makanan yang dimakan oleh
hewan.
Asas 2
Tak ada system pengubahan energi yang betul- betul efisien. Pengertian: Asas ini tak lain adalah
hokum Thermodinamika II, Ini berarti energi yang tak pernah hilang dari alam raya, tetapi energi
tersebut akan terus diubah dalam bentuk yang kurang bermanfaat. Asas ini sama dengan hukum
termodinamika kedua dalam ilmu fisika. Hal ini berarti meskipun energi itu tidak pernah hilang,
namun demikian energi tersebut akan diubah dalam bentuk yang kurang bermanfaat. Secara
keseluruhan energi di planet kita ini terdegradasi dalam bentuk panas tanpa balik, yang kemudian
beradiasi ke angkasa. Dalam sistem biologi, energi yang dimanfaatkan baik oleh jasad hidup,
populasi maupun ekosistem kurang efisien, karena masukan energi dapat dipindahkan dan
digunakan oleh organisme hidup yang lain. Contohnya pada piramida makanan, tingkatan
konsumen yang paling bawah mendapatkan asupan energi yang banyak, sebaliknya konsumen
paling atas hanya mendapatkan sedikit, disamping itu pada setiap tingkatanpun energi tidak
dimanfaatkan secara efisien (banyak terbuang). Sumber alam adalah segala sesuatu yang
diperlukan oleh organisme hidup, populasi, atau ekosistem yang pengadaannya hingga ke tingkat
optimum atau mencukupi, sehingga akan meningkatkan daya pengubahan energi.
Asas 3
Materi, energi, ruang, waktu, dan keanekaragaman, termasuk kategori sumberdaya alam.
Pengertian: Pengubahan energi oleh system biologi harus Berlangsung pada kecepatan yang
sebanding dengan adanya materi dan energi di lingkungannya. Pengaruh ruang secara asas
adalah beranalogi dengan materi dan energi sebagai sumber alam. Contoh: Ruang yang sempit:
dpt mengganggu proses pembiakan organisme dg kepadatan tinggi. Ruang yang terlalu luas:
jarak antar individu dalam populasi semakin jauh, kesempatan bertemu antara jantan dan betina
semakin kecil sehingga pembiakan akan terganggu. Jauh dekatnya jarak sumber makanan akan
berpengaruh terhadap perkembangan populasi. Materi dan energi sudah jelas termasuk kedalam
sumber alam. Ruang yang dimanfaatkan oleh organisme hidup untuk hidup, berkembang biak
dsb. dapat dianalogkan dengan materi dan energi, karena dibutuhkan, sehingga secara asas

termasuk katagori sumber alam. Begitu pula dengan waktu, meskipun tidak dapat berdiri sendiri,
namun termasuk kategori sumber alam, karena berapa waktu yang dibutuhkan oleh mahluk
hidup untuk mendapatkan makanan. Keanekaragaman juga termasuk ke dalam kategori sumber
alam, karena apabila suatu spesies hanya memakan satu spesies saja akan mudah terancam
punah, namun apabila makanannya beranekaragam dia akan mampu survive. Asas 3 ini
mempunyai implikasi yang penting bagi kehidupan manusia untuk mencapai kesejahteraannya
Asas 4
Untuk semua kategori sumber daya alam, kalau pengadaannya sudah mencapai optimum,
pengaruh unit kenaikannya sering menurun dengan penambahan sumberalam itu sampai ke suatu
tingkat maksimum. Melampaui batas maksimum ini tak akan ada pengaruh yang menguntungkan
lagi. Untuk semua kategori sumber alam (kecuali keanekaragaman dan waktu) kenaikan
pengadaannya yang melampui batas maksimum, bahkan akan berpengaruh merusak karena
kesan peracunan. Ini adalah asas penjenuhan. Untuk banyak gejala sering berlaku kemungkinan
penghancuran yang disebabkan oleh pengadaan sumberalam yang sudah mendekati batas
maksimum. Asas 4 tersebut terkandung arti bahwa pengadaan sumberalam mempunyai batas
optimum, yang berarti pula batas maksimum, maupun batas minimum pengadaan sumberalam
akan mengurangi daya kegiatan sistem biologi. Contoh: Pada keadaan lingkungan yang sudah
stabil, populasi hewan atau tumbuhannya cenderung naik-turun (bukan naik terus atau turun
terus). Maksudnya adalah akan terjadi pengintensifan perjuangan hidup, bila persediaan
sumberalam berkurang. Tetapi sebaliknya, akan terdapat ketenangan kalau sumberalam
bertambah. Untuk semua kategori sumberdaya alam (kecuali keanekaragaman dan waktu)
kenaikan pengadaannya yang melampaui batas maksimum, bahkan akan berpengaruh merusak
karena kesan peracunan. Ini adalah asas penjenuhan. Untuk banyak gejala sering berlaku
kemungkinan penghancuran yang disebabkan oleh pengadaan sumber alam yang sudah
mendekati batas maksimum. Pada asas ini mempunyai arti bahwa pengadaan sumber alam
mempunyai batas optimum, yang berarti bahwa batas maksimum maupun minimum sumber
alam akan mengurangi daya kegiatan sistem biologi. Dari sini dapat ditarik suatu arti yang
penting, yaitu karena adanya ukuran optimum pengadaan sumber alam untuk populasi, maka
naik turunnya jumlah individu populasi itu tergantung pada pengadaan sumber alam pada jumlah
tertentu.
Asas 5
Pada asas 5 ini ada dua hal penting, pertama jenis sumber alam yang tidak dapat menimbulkan
rangsangan untuk penggunaan lebih lanjut, sedangkan kedua sumber alam yang dapat
menimbulkan rangsangan untuk dapat digunakan lebih lanjut. Contoh: Suatu jenis hewan sedang
mencari berbagai sumber makanan. Kemudian didapatkan suatu jenis tanaman yang melimpah di
alam, maka hewan tersebut akan memusatkan perhatiannya kepada penggunaan jenis makanan
tersebut. Dengan demikian, kenaikan sumberalam (makanan) merangsang kenaikan
pendayagunaan.

Asas 6
Individu dan spesies yang mempunyai lebih banyak keturunan daripada saingannya, cenderung
berhasil mengalahkan saingannya. Pengertian: Asas ini adalah pernyataan teori Darwin dan
Wallace. Pada jasad hidup terdapat perbedaan sifat keturunan Dalam hal tingkat adaptasi
terhadap faktor lingkungan fisik atau biologi. Kemudian timbul kenaikan kepadatan populasinya
sehingga timbul persaingan. Jasad hidup yang kurang mampu beradaptasi akan kalah dalam
persaingan. Dapat diartikan pula bahwa jasad hidup yang adaptif akan mampu menghasilkan
banyak keturunan daripada yang non-adaptif. Pada asas ini berlaku seleksi alam, artinya bagi
spesies-spesies yang mampu beradaptasi baik dengan faktor biotik maupun abiotik, dia akan
berhasil daripada yang tidak dapat menyesuaikan diri. Dapat diartikan pula, spesies yang adaptif
akan mampu menghasilkan keturunan lebih banyak daripada yang non adaptif, Sehingga
individu-individu yang adaptif ini mempunyai kesan lebih banyak merusak
Asas 7
Kemantapan keanekaragaman suatu komunitas lebihtinggi di alam yang mudah diramal.
Pengertian : Mudah diramal : : adanya keteraturan yang pasti pada pola faktor lingkungan pada
suatu periode yang relative lama. Terdapat fluktuasi turun-naiknya kondisi lingkungan di semua
habitat, tetapi mudah dan sukarnya untuk diramal berbeda dari satu habitat ke habitat lain.
Dengan mengetahui keadaan optimum pada faktor lingkungan bagi kehidupan suatu spesies,
maka perlu diketahui berapa lama keadaan tersebut dapat bertahan. Pada asas ini arti kata
mudah diramal ialah adanya keteraturan yang pasti pada pola faktor lingkungan dalam suatu
periode yang relatif lama. Adanya fluktuasi turun-naiknya kondisi lingkungan, besar-kecilnya
fluktuasi, dan dan sukar-mudahnya untuk diramal berbeda untuk semua habitat. Sehingga
diharapkan pada setiap lingkungan adanya penyebaran spesies yang berbeda-beda kepadatannya.
Apabila terjadi perubahan lingkungan sedemikian rupa, maka akan terjadi perubahan
pengurangan individu yang sedemikian rupa sampai pada batas yang membahayakan individuindividu spesies tersebut. Lingkungan yang stabil secara fisik merupakan lingkungan yang
mempunyai jumlah spesies yang banyak, dan mereka dapat melakukan penyesuaian terhadap
lingkungannya tersebut (secara evolusi). Sedangkan lingkungan yang tidak stabil adalah
lingkungan yang dihuni oleh spesies yang jumlahnya relatif sedikit.
Asas 8
Sebuah habitat dapat jenuh atau tidak oleh keanekaragaman takson, bergantung kepada
bagaimana niche dalam lingkungan hidup itu dapat memisahkan takson tersebut. Pengertian:
Kelompok taksonomi tertentu dari suatu jasad hidup ditandai oleh keadaan lingkungannya yang
khas (niche), tiap spesies mempunyai niche tertentu. Spesies dapat hidup berdampingan dengan
spesies lain tanpa persaiangan, karena masing-masing mempunyai keperluan dan fungsi yang
berbeda di alam. Pada asas ini menyatakan bahwa setiap spesies mempunyai nicia tertentu,
sehingga spesies-spesies tersebut dapat berdampingan satu sama lain tanpa berkompetisi, karena
satu sama lain mempunyai kepentingan dan fungsi yang berbeda di alam. Tetapi apabila ada
kelompok taksonomi yang terdiri atas spesies dengan cara makan serupa, dan toleran terhadap

lingkungan yang bermacam-macam serta luas, maka jelas bahwa lingkungan tersebut hanya akan
ditempati oleh spesies yang keanekaragamannya kecil.
Asas 9
Keanekaragaman komunitas sebanding dengan biomassa dibagi produktivitas. T = K x (B/P) ; D
T T = waktu rata-rata penggunaan energi K = koefisien tetapan B = biomassa P = produktivitas
D = keanekaragaman Pengertian: Asas ini mengandung arti, bahwa efisiensi penggunaan aliran
energidalam sistem biologi akan meningkat dengan meningkatnya kompleksitas organisasi
sistem biologi dalam suatu komunitas. Pada asas ini menurut Morowitz (1968) bahwa adanya
hubungan antara biomassa, aliran energi dan keanekaragaman dalam suatu sistem biologi.
Asas 10
Pada lingkungan yang stabil perbandingan antara biomasa dengan produktivitas (B/P) dalam
perjalanan waktu naik mencapai sebuah asimtot. Pengertian: Sistem biologi menjalani evolusi
yang Mengarah kepada peningkatan efisiensi penggunaan energi dalam lingkungan fisik yang
stabil, dan memungkinkan berkembangnya keaneka-ragaman. Dalam asas ini dapat disimpulkan
bahwa sistem biologi mengalami evolusi yang mengarah kepada peningkatan efisiensi
penggunaan energi dalam lingkungan fisik yang stabil, yang memungkinkan berkembangnya
keanekaragaman. Dengan kata lain kalau kemungkinan produktivitas maksimum sudah
ditetapkan oleh energi matahari yang masuk kedalam ekosistem, sedangkan keanekaragaman dan
biomassa masih dapat meningkat dalam perjalanan waktu, maka jumlah energi yang tersedia
dalam sistem biologi itu dapat digunakan untuk menyokong biomassa yang lebih besar. Apabila
asas ini benar, maka dapat diharapkan bahwa dalam komunitas yang sudah berkembang lanjut
pada proses suksesi, rasio biomassa produktivitas akan lebih tinggi bila dibandingkan dengan
komunitas yang masih muda. Pada kenyataan di alam memang demikian, sebab spesies
bertambah, dan ditemukan pula tumbuhan berkayu sehingga diperoleh stratifikasi. Implikasi dari
asas ini bahwa sebuah komunitas dapat dibuat tetap muda dengan jalan memperlakukan fluktuasi
iklim yang teratur. Atau pada komunitas buatan lahan pertanian dengan jalan mengambil daundaunannya untuk makanan hewan.
Asas 11
Sistem yang sudah mantap (dewasa) akan mengekploitasi yang belum mantap (belum dewasa).
Pengertian: Ekosistem, populasi atau tingkat makanan yang sudah dewasa memindahkan energi,
biomasa, dan keanekaragaman dari tingkat organisasi yang belum dewasa. Dengan kata lain,
energi, materi, dan keanekaragaman mengalir melalui suatu kisaran yang menuju ke arah
organisasi yang lebih kompleks. (Dari subsistem yang rendah keanekara-gamannya subsistem
yang tinggi keanekaragamannya). Arti dari asas ini adalah pada ekosistem, populasi yang sudah
dewasa memindahkan energi, biomassa, dan keanekaragaman tingkat organisasi ke arah yang
belum dewasa. Dengan kata lain, energi, materi dan keanekaragaman mengalir melalui suatu
kisaran yang menuju ke arah organisasi yang lebih kompleks, atau dari subsistem yang lebih
rendah keanekaragamannya ke subsistem yang lebih tinggi keanekaragamannya

Asas 12
Kesempurnaan adaptasi suatu sifat atau tabiat bergantung pada kepentingan relatifnya dalam
keadaan suatu lingkungan. Pengertian: Populasi dalam ekosistem yang belum mantap, kurang
bereaksi terhadap perubahan lingkungan fisikokimia dibandingkan dengan populasi dalam
ekosistem yang sudah mantap. Populasi dalam lingkungan dengan kemantapan fisiko kimia yang
cukup lama, tak perlu berevolusi untuk meningkatkan kemampuannya beradaptasi dengan
keadaan yang tidak stabil. Asas ini merupakan kelanjutan dari asas 6 dan 7. Apabila pemilihan
(seleksi) berlaku, tetapi keanekaragaman terus meningkat di lingkungan yang sudah stabil, maka
dalam perjalanan waktu dapat diharapkan adanya perbaikan terus-menerus dalam sifat adaptasi
terhadap lingkungan. Jadi, dalam ekosistem yang sudah mantap dalam habitat (lingkungan ) yang
sudah stabil, sifat responsive terhadap fluktuasi faktor alam yang tak terduga ternyata tidak
diperlukan. Yang berkembang justru adaptasi peka dari perilaku dan biokimia lingkungan sosial
dan biologi dalam habitat itu. Evolusi pada lingkungan yang sukar ditebak perubahan faktor
alamnya cenderung memelihara daya plastis anggota populasi. Sedangkan evolusi pada
lingkungan yang mantap, beranekaragam secara biologi cenderung menggunakan kompleksitas
itu untuk bereaksi terhadap kemungkinan beraneka-macam perubahan. Implikasi dari asas ini
bahwa sesungguhnya tidak ada sebuah strategi evolusi yang terbaik dan mandiri, semua
tergantung pada kondisi lingkungan fisik. Kesimpulannya bahwa populasi pada ekosistem yang
belum mantap, kurang bereaksi terhadap perubahan lingkungan fisikokimia dibandingkan
dengan populasi pada ekosistem yang sudah mantap.
Asas 13
Lingkungan yang secara fisik mantap memungkinkan terjadinya penimbunan keanekaragaman
biologi dalam ekosistem yang mantap, yang kemudian dapat menggalakkan kemantapan
populasi lebih jauh lagi. Asas ini merupakan penjabaran dari asas 7, 9 dan 12. Pada komunitas
yang mantap, jumlah jalur energi yang masuk melalui ekosistem meningkat, sehingga apabila
terjadi suatu goncangan pada salah satu jalur, maka jalur yang lain akan mengambil alih, dengan
demikian komunitas masih tetap terjaga kemantapannya. Apabila kemantapan lingkungan fisik
merupakan suatu syarat bagi keanekaragaman biologi, maka kemantapan faktor fisik itu akan
mendukung kemantapan populasi dalam ekosistem yang mantap dan komunitas yang mantap
mempunyai umpan-balik yang sangat kompleks. Disini ada hubungan antara kemantapan
ekosistem dengan efisiensi penggunaan energi.
Asas 14
Derajat pola keteraturan naik-turunnya populasi tergantung pada jumlah keturunan dalam sejarah
populasi sebelumnya yang nanti akan mempengaruhi populasi itu. Asas ini merupakan kebalikan
dari asas ke 13, tidak adanya keanekaragaman yang tinggi pada rantai makanan dalam ekosistem
yang belum mantap, menimbulkan derajat ketidakstabilan populasi yang tinggi. Ciri-Ciri
Lingkungan/ Komunitas yang Mantap: Jumlah jalur energi yang masuk melalui ekosistem

meningkat (banyak) Lingkungan fisik mantap (mudahdiramal) Sistem control umpan balik
(feedback) komunitas sangat kompleks Efisiensi penggunaan energi Tingkat keanekaragaman
tinggi
Copy the BEST Traders and Make Money (One Click) : http://ow.ly/KNICZ