Anda di halaman 1dari 4

ADA APA DI DASAR LAUT SEKITAR P. NUNUKAN-SEBATIK, KALIMANTAN TIMUR ?

Submitted by admin on Mon, 04/12/2010 - 13:50

Penulis Artikel Puslitbang Geologi Kelautan : Kresna Tri Dewi, Noor C.D Aryanto dan Yogi Noviadi
Pada umumnya, dasar laut yang disajikan dalam media cetak dan elektronik digambarkan sebagai
pelamparan terumbu karang, padang lamun, kerang-kerangan dan biota lain yang beraktivitas di
sekitar dasar laut. Selain biota, dasar laut juga digambarkan sebagai pelamparan pasir atau lumpur
yang oleh orang awam dianggap seragam di satu tempat dengan di tempat lain. Kenampakan dasar
laut tersebut dapat dilihat secara langsung baik misalnya saat menyelam maupun secara tidak
langsung melalui hasil dokumentasi atau dideteksi dengan menggunakan teknologi inderaja untuk
mendapatkan data batimetri dan kondisi terumbu karang. Namun sejauh ini kenampakan mikroskopis
dasar laut belum terlihat bagi orang awam dan hanya dinikmati terbatas oleh komunitas ilmuwan
tertentu. Oleh karena itu pada kesempatan ini, kami sajikan kenampakan material dasar laut secara
mikroskopis dengan harapan dapat memberi informasi dan gambaran yang lebih spesifik.

Pendahuluan
Pada umumnya, dasar laut yang disajikan dalam media cetak dan elektronik digambarkan sebagai
pelamparan terumbu karang, padang lamun, kerang-kerangan dan biota lain yang beraktivitas di
sekitar dasar laut. Selain biota, dasar laut juga digambarkan sebagai pelamparan pasir atau lumpur
yang oleh orang awam dianggap seragam di satu tempat dengan di tempat lain. Kenampakan dasar
laut tersebut dapat dilihat secara langsung baik misalnya saat menyelam maupun secara tidak
langsung melalui hasil dokumentasi atau dideteksi dengan menggunakan teknologi inderaja untuk
mendapatkan data batimetri dan kondisi terumbu karang. Namun sejauh ini kenampakan mikroskopis
dasar laut belum terlihat bagi orang awam dan hanya dinikmati terbatas oleh komunitas ilmuwan
tertentu. Oleh karena itu pada kesempatan ini, kami sajikan kenampakan material dasar laut secara
mikroskopis dengan harapan dapat memberi informasi

dan gambaran yang lebih spesifik.

Secara umum, dasar laut terdiri dari sedimen, mineral dan material biogenik dimana kandungan dan
komposisinya sangat bervariasi tergantung pada kondisi lingkungan setempat. Material biogenik
dalam sedimen yang berukuran mikroskopis terdiri dari beberapa kelompok organisme yang menurut
Haq dan Boersma, 1984 dapat dibedakan berdasar bahan pembentuk cangkangnya yaitu kelompok

berdinding gampingan (misalnya foraminifera dan ostracoda), berdinding silikatan (radiolaria),


berdinding organik dan fosfat. Selain itu, di dasar laut juga ditemukan moluska, pecahan koral, spikula
dan

lain-lain

yang

dapat

dilihat

secara

megaskopis.

Seperti diketahui bahwa foraminifera bentik merupakan salah satu kontributor penting dalam
pembentukan pelamparan terumbu karang. Menurut catatan, foraminifera bentik merupakan pemasok
utama (0.2%) dari pesisir sekitar Oahu, Hawaii dan didominasi oleh Amphistegina yang mencapai
90% dari produksi total (Hallock, 1976 dalam Tomascik dkk, 1997). Sedangkan di pelamparan
Spermonde, foraminifera bentik besar menempati sekitar 40-70% sedimen dasar laut (Renema &
Troelstra, 2002). Demikian juga dengan ostracoda, beberapa spesies tertentu merupakan penghuni
utama ekosistem terumbu karang dan pulau-pulau kecil, seperti di Kepulauan Seribu dan Solomon
(Whatley & Watson, 1988). Di perairan laut dalam, foraminifera plangtonik merupakan komponen
penting (>75%) yang membentuk endapan dengan ketebalan mencapai ratusan meter di suatu
cekungan (Tomascik dkk, 1997). Kemudian timbul pertanyaan, ada apa di dasar laut di sekitar Pulau
Nunukan-Sebatik, Kalimantan Timur?
Perairan

Sekitar

Pulau

NunukanSebatik

Wilayah sekitar Pulau Nunukan-Sebatik, Kalimantan Timur dimana kegiatan survei dilakukan pernah
menjadi topik hangat di berbagai media massa baik yang menyangkut isu tenaga kerja maupun yang
menyangkut klaim sepihak dari negara tetangga Malaysia berkaitan dengan kepemilikian Blok
Ambalat

di

lepas

perairan

Karang

Unarang.

Berdasarkan bukti geologi (tektonik dan penyebaran cekungan) daerah telitian secara umum
merupakan

kelanjutan

alamiah

dari

Kalimantan

Timur

dan

Selat

Makasar.

Pengambilan sedimen dasar perairan sekitar P.Sebatik-Nunukan, Kalimantan Timur menggunakan


pemercontoh comot dan 47 sampel sedimen terpilih digunakan untuk studi mikrofauna (foraminifera
dan ostracoda). Kemudian sebagian sampel sedimen dikeringkan dan dengan berat kering yang
sama dilakukan pencucian dalam ayakan berukuran 2, 3, dan 4 phi dan terakhir dikeringkan. Studi
ostracoda dilakukan hingga tingkat spesies bila memungkinkan dan perhitungan spesimen/individu
tiap spesies/jenis. Sedangkan analisis foraminifera hanya dilakukan sepintas sebagai pembanding
dan penunjang atau informasi tambahan apabila tidak ditemukan ostracoda atau ada penemuan yang
menarik untuk dibahas dalam tulisan ini.
Kenampakan

mikroskopis

dasar

laut

Dasar perairan di daerah penelitian yang diuraikan dalam tulis ini lebih difokuskan pada material
biogenik dan material lain yang dominan. Kandungan dan komposisi material tersebut bervariasi di
satu titik lokasi dengan di titik lokasi lain, terutama pada zona dekat pantai dan laut lepas.
Kenampakan mikroskopis pada beberapa titik lokasi mewakili dasar perairan sekitar P.NunukanSebatik disajikan pada Gambar 2. yang tidak dapat dilihat dengan kasat mata secara rinci. Secara
umum tampak adanya perubahan kenampakan mikroskopis dasar laut seperti sisa tanaman dijumpai
dominan pada titik lokasi yang tidak jauh dari daratan, di sebelah selatan P. Sebatik terlihat
percampuran antara material biogenik dan nobiogenik secara seimbang dan di laut lepas didominasi
oleh material biogenik. Berikut ini diuraikan kondisi dasar perairan berdasarkan pada material
dominan di daerah penelitian.
Material

biogenik

Dalam tulisan ini diutamakan pada foraminifera dan ostracoda sebagai kelompok gampingan yang
mendominasi perairan dangkal. Dua kelompok ini antara lain bermanfaat untuk interpretasi

lingkungan pengendapan. Di daerah penelitian dijumpai 82 spesies ostracoda dan sembilan


diantaranya mempunyai kandungan cukup melimpah dan tersebar cukup merata terutama di laut
lepas seperti Hemicytheridea cf. H. reticulata, Hemicytheridea reticulata, genus Keijella, Keijella
kloempritensis, Keijella multisulcus, Keijella reticulata Phlyctenophora orientalis, Cytherella semitalis,
Pistocythereis

bradyiformis,

dan

Alocopocythere

kendengensis.

Secara umum, keterdapatan baik ostracoda maupun foraminifera dari sangat jarang di perairan
sekitar P. Nunukan dan cenderung bertambah melimpah dan beraneka ragam menuju ke arah laut
lepas. Pengaruh daratan tercermin dari rendahnya kandungan foraminifera dan ostracoda di sekitar P.
Nunukan dan tingginya kandungan material organik lain seperti sisa-sisa tanaman dari daratan.
Hanya beberapa spesies tertentu yang dapat beradaptasi dan bertahan pada kondisi lingkungan
berenergi tinggi ini. Di wilayah ini ditemukan Myocyprideis sp. dan Sinocytheridea sp. yang
merupakan penciri perairan transisi antara air tawar dan asin. Sisa-sisa tanaman tersebut menyebar
ke arah selatan di bandingkan ke sebelah utara daerah penelitian. Secara tidak langsung
keterdapatannya

dapat

mencerminkan

arah

aliran

air

yang

berasal

dari

daratan.

Hal yang sangat menarik adalah ditemukannya ostracoda dan foraminifera secara melimpah di
sekitar Pulau Tinabasan diantara sedimen berukuran pasiran. Namun kondisi cangkang kedua
kelompok tersebut ditemukan dalam keadaan abnormal yaitu berwarna kecoklatan atau gelap
dibandingkan dengan warna normal yang putih sampai opak, bentuk morfologi tidak sempurna, dan
cangkang ostracoda ditemukan dalam keadaan terkatup. Kondisi cangkang yang berwarna tidak
normal, menurut Whatley (1988 dan Frenzel, 2005, komunikasi pribadi) terjadi pada lingkungan
perairan yang tenang, dasar perairan terdiri dari lumpur yang kaya akan zat organik dan aktivitas
bakteria menyebabkan cangkang diselimuti oleh zat besi dan mangan. Namun apabila dilihat lebih
detil, warna gelap terkonsentrasi di bagian hiasan/retikulasi yang mengindikasikan bahwa kumpulan
ini sebagai hasil akumulasi dari kondisi lingkungan tenang ke titik lokasi tersebut. Keterdapatan
cangkang ostracoda dalam keadaan terkatup secara melimpah memberi indikasi adanya peran arus
kuat yang menyebabkan kecepatan sedimentasi tinggi. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa
kumpulan tersebut berasal dari lingkungan tenang atau terlindung dan dalam waktu yang tidak
lama/mendadak terpindahkan ke titik lokasi tersebut sebelum cangkang terpisahkan menjadi dua
seperti

pada

kerang-kerangan.

Di laut lepas sekitar P. Sebatik, keterdapatan foraminifera dan ostracoda mulai melimpah sampai
sangat melimpah dan mempunyai keanekaragaman spesies cukup tinggi. Ada beberapa spesies
yang dijumpai sangat melimpah pada titik lokasi tertentu seperti Foveoleberis cypraeoides sangat
dominan, Phlyctenophora orientalis dan Hemicytheridea reticulata. Demikian juga untuk Foraminifera
bentik: Asterorotalia trispinosa, Ammonia beccarii, Cibicides sp., Elphidium gunteri, Quinqueloculina
sp. dan Textularia sp. Munculnya beberapa spesies secara melimpah di satu titik lokasi tertentu
menunjukkan bahwa titik lokasi tersebut merupakan habitat yang cocok untuk kehidupan spesies
tersebut dengan mengalahkan spesies lain sebagai pesaing dalam memenuhi kebutuhan hidupnya
atau merupakan spesies yang mampu dalam pertahanan diri terhadap kondisi lingkungan setempat.
Penemuan menarik di daerah laut lepas adalah Asterorotalia yang mempunyai banyak variasi bentuk
morfologis yaitu berduri dua, empat, lima bengkok dan ada dua duri yang muncul berdekatan. Pada
umumnya genus ini berduri tiga yang muncul pada bagian sudut cangkang secara teratur. Menurut
Boltovskoy & Wright (1976), variasi morfologis dari suatu takson dapat berkaitan erat dengan faktor
genetis, geografis yang terisolasi, dan kondisi lingkungan setempat. Adanya perubahan lingkungan
yang drastis seperti salinitas, pasokan makanan, temperatur, konsentrasi elemen jejak dapat
mengakibatkan timbulnya variasi morfologis dari cangkang foraminifera. Oleh karena itu untuk
memastikan faktor mana yang berperan dari kemunculan variasi spesies tersebut, diperlukan studi

lebih lanjut. Studi ini diperlukan untuk mendapatkan jumlah spesimen dalam bentuk juvenil dan
dewasa

yang

akan

menghasilkan

informasi

akurat.

Selain itu dijumpai pula cangkang yang tidak normal pada Elphidium berupa kerusakan kamarkamarnya. Bentuk morfologis yang abnormal dari foraminifera, khususnya genus Elphidium berkaitan
dengan beberapa faktor seperti faktor mekanis berupa lingkungan berenergi tinggi yang dapat
merusak cangkang atau faktor biologis berupa aktivitas bakteri yang mengakibatkan cangkang
menjadi abnormal.
Mineral
Selain kehadiran material biogenik di atas, dasar laut Perairan Nunukan-Sebatikpun mengandung
material abiogenik dalam hal ini mineral. Adapun mineral-mineral yang dijumpai antara lain seperti:
magnetit, hematit, zirkon dan pirit yang keterdapatannya menyebar secara relatif merata di sekitar
perairan Karang Unarang. Secara mikroskopis, kuarsa mendominasi beberapa titik lokasi terutama di
sekitar P. Nunukan bagian dalam.
Penutup
Kenampakan dan kehadiran material biogenik dasar laut secara mikroskopis dapat mencerminkan
dinamika dasar perairan tersebut. Keterdapatan ostracoda-foraminifera secara melimpah dan dalam
warna cangkang yang berbeda dari keadaan normal dapat mengindikasikan adanya perubahan
kondisi lingkungan.
Ucapan

terima

kasih

Kami mengucapkan terima kasih atas dorongan yang diberikan oleh Bapak Ir. Subaktian Lubis untuk
menyajikan tulisan ini. Demikian juga kepada Tim Sebatik atas kerja sama, diskusi dan saran yang
diberikan kepada kami.
Daftar

Pustaka

Boltovskoy, E. & Wright, R., 1976. Recent Foraminifera. W. Junk. B.v. Publisher, The Haque, 515 hal.
Haq,B.U.,& Boersma, A., 1984.Introduction to Marine Micropaleontology. Elsevier375 hal.
Renema, W., & Troelstra. S., 2002. Larger foraminifera distribution on the mesotrophic carbonate
shelf in the SW Sulawesi, Indonesia. Paleogeography, Paleoclimatology and Paleoecology 175 (1-4):
125-146.
Tomascik, T., A. Janice, A. Nontji, & M. K. Moosa. 1997. The Ecology of Indonesian Seas Part Two.
Periplus

Edition,

Little

Road,

Jakarta,

Sydney,

Kawasaki

dan

Oxford,

688

hal.

Whatley, R.C., 1988. Population structure of ostracods: some general principles for the reoconitioan of
paleoenvironemnts. Dalam DeDeckker, P., Colin, J.P., & Peypouquet, J.P., 1988. Ostracdoa in the
Earth

Sciences.

245-256.

Whatley, R.C. & Watson, K., 1988. A preliminary account of the Distribution of Ostracoda in Recent
Reef and Reef Associated Environments in Pulau Seribu or Thousand Island Group, Java Sea. In
Hanai, T., Ikeya, N., and Ishizaki, K., (eds). Evolutionary Biology on Ostracoda:Proceeding of the
Ninth International Symposium on Ostracoda, Shizuoka, 399 411.