Anda di halaman 1dari 13

AKSESIBILITAS BAGI DIFABEL

PADA FASILITAS PEJALAN KAKI


Trisna Hidayat1
Magister Teknik Sipil, Universitas Katolik Parahyangan, Jl. Merdeka No. 30 Bandung
Email: trisna.hidayat@ymail.com

ABSTRAK

Untuk menghasilkan suatu fasilitas pelayanan publik yang memenuhi kriteria


aksesibilitas yang berkelanjutan bagi difabel diperlukan pengukuran aksesibilitas
untuk mengetahui tingkat pelayanan fasilitas jalan berdasarkan persyaratan geometrik
dan pemilihan bahan yang sesuai dengan ketentuan teknik yang besifat kuantitatif,
selain itu dapat digunakan untuk mengevaluasi kinerja dari program dan layanan
yang sudah ada dan membuat perubahan untuk meningkatkan cakupan aksesibilitas,
efektivitas, dan efisiensi terhadap difabel. Penelitian ini menemukan bahwa seluruh
ruas jalan yang di survei tidak aksesibel bagi difabel berdasarkan tiga standar.
Sebagai rekomendasi, standar dari UN ESCWA dapat diadopsi ke dalam standar
yang ada di Indonesia.
Kata kunci: Difabel, Aksesibilitas, Fasilitas Jalan.
ABSTRACT

To produce a public service facilities that meet the criteria of sustainable accessibility for
disability, accessibility measurement required to determine the level of service
roads based on the geometric requirements and selection of materials in accordance with
the provisions of quantitative techniques, in addition it can be used to evaluate the
performance of programs and services that already exist and make changes to improve
the coverage of accessibility, effectiveness, and efficiency of the disabled. This study
found that all the roads in the survey are not accessible for the disabled based on three
standards. As the recommendations of the UN ESCWA standards can be adopted into
existing standards in Indonesia.
Keywords: Disability, Accessibility, Road Facility
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Dalam skala internasional, dinyatakan oleh United Nations (1993) bahwa negara harus
mengakui dan menjamin aksesibilitas para penyandang cacat melalui penetapan programprogram aksi untuk mewujudkan aksesibilitas fisik penyandang cacat dan memberikan akses
terhadap informasi dan komunikasi. Jadi, dalam perencanaan suatu fasilitas publik sudah
mempertimbangkan aksesibilitas penyandang cacat (difabel) dan manusia usia lanjut (elderly)
untuk memberikan jaminan dan melindungi hak-hak mereka dalam mendapatkan kesempatan
yang sama guna meningkatkan kehidupan dan penghidupannya (Setyaningsih 2005).
World Health Organization (WHO) (2001) mendefiniskan difabel sebagai
ketidakmampuan atau keterbatasan seseorang akibat adanya ketidaknormalan atau hilangnya
struktur, fungsi psikologis, dan anatomis untuk melakukan aktivitas yang dianggap normal
bagi manusia, Sedangkan elderly adalah manusia yang mempunyai usia antara 60 74 tahun
yang ditandai dengan penurunan fungsi biologis dan psikis. Dari pengertian dapat disimpulkan
bahwa difabel sangat memerlukan penyediaan fasilitas publik yang memenuhi kriteria asas
aksesibilitas yaitu asas prioritas, integrasi, dan berkesinambungan (Pemerintah RI 1997).

UUD 1945 pasal 34 ayat 3 menyatakan bahwa Negara bertanggungjawab atas


penyediaan fasilitas kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak. Hal ini berarti
pemerintah berkewajiban untuk meyediakan aksesibilitas pelayanan umum yang memadai
untuk seluruh warga negara tanpa kecuali, dan Pemerintah berkewajiban untuk menjamin
perencanaan dan penyediaan fasilitas publik sudah mempertimbangkan aksesibilitas bagi
difabel tanpa mengabaikan faktor kenyamanan, keamanan, dan keselamatan.
Australian Capital Territory (2013) menyatakan tren di 2012 hasil survei pelanggan
terhadap aksesibilitas berfokus lebih banyak pada kualitas layanan, fasilitas, keamanan dan
penyediaan informulirasi bukan pada penilaian aksesibilitas secara terukur. Aksesibilitas sering
dimasukkan sebagai tujuan dalam perencanaan transportasi, perencanaan tata guna lahan, dan
desain bangunan tetapi jarang diterjemahkan ke dalam ukuran kinerja dimana kebijakan
dievaluasi, sehingga sangat sulit untuk membandingkan alternatif solusi dengan cara rasional
sehubungan dengan perubahan aksesibilitas (Handy dan Niemeier, 1997).
Sebagai contoh standar aksesibilitas yang dikeluarkan oleh The American with Disabilities
Act (ADA) telah mengakomodir bagi difabel , tetapi hanya dianggap untuk memastikan bahwa
aksesibilitas untuk mereka sudah disediakan. Standar tersebut belum memiliki kepekaan bahwa
langkah-langkah lain untuk pengembangan aksesibilitas mungkin tersedia, karena standar ini
tidak memberikan perhatian khusus untuk penilaian atau kualitas akses yang sudah tersedia
(Church dan Marston 2002).
Maria C. Makri dan Caroline F. (1999) melakukan penelitian ini aksesibilitas diukur
dengan indikator jarak dan waktu tempuh perjalanan berdasarkan variabel tata guna lahan (land
use) dan sistem informasi geografis (GIS). Ukuran aksesibilitas yang dipilih untuk studi kasus ini
adalah ukuran jarak zone-to-point yang dihitung secara terpisah untuk berbagai tipe perjalanan
dan jenis pengguna jalan, yang menggunakan data asal-tujuan sebagai jarak terpendek dan waktu
tempuh perjalanan.
Richard L. Church dan James R. Marston melakukan pengukuran aksesibilitas dengan
mengukur aksesibilitas relatif yaitu kemudahan untuk mencapai suatu tempat atau lokasi yang
sama dengan cara yang berbeda tergantung jenis difabel. Indikator yang dipakai adalah jarak,
waktu tempuh, dan variabel yang digunakan berupa pemilihan rute yang dilalui dan jenis difabel.
Laura Ferrari, Michele Berlingerio, Franscesco Calabrese, Bill Curtis Davidson (2012)
mengukur aksesibilitas bagi penyandang cacat khususnya pengguna kursi roda pada jaringan
transportasi publik mereka menggunakan waktu tempuh asal-tujuan sebagai indikator dengan
variabel jenis kendaraan yang digunakan, akses ke halte bis dan rute terpendek. Dengan
menggunakan data origins-destination mereka mensimulasikan permintaan perjalanan, dan
mengevaluasi rute yang disediakan oleh perencana perjalanan jika perjalanan dilakukan oleh
pengguna kursi roda, dan ditemukan bahwa waktu tempuh yang digunakan 50% lebih lama dari
yang tidak menggunakan kursi roda.
Penelitian Sony Sulaksono Wibowo dan Farainy Adinda Gitawardhani (2011), mengukur
aksesibilitas bagi pejalan kaki dengan indikator nyaman atau tidak nyaman berdasarkan
karakteristik pejalan kaki seperti jenis kelamin, kepemilikan kendaraan bermotor, pendidikan,
pekerjaan, penghasilan, dan usia terhadap fasilitas jalur pejalan kaki. Penelitian ini dilakukan
untuk mengetahui ruang minimum yang dibutuhkan para pejalan kaki terhadap pemanfaatan
jalur trotoar jalan yang memenuhi rasa nyaman yang lebih baik sehingga orang akan
menggunakan moda berjalan lebih sering dibandingkan moda kendaraan bermotor untuk jarak
perjalanan yang pendek.
Slamet Thohari (2014) mengukur aksesibilitas dengan 3(tiga) indikator yaitu aksesibel,
kurang aksesibel, dan tidak aksesibel berdasarkan pada variabel fasilitas untuk disabilitas, yaitu
Ramp untuk pengguna kursi roda, guiding block bagi tuna netra, toilet khusus penyandang
disabilitas, dan parkir khusus bagi penyandang disabilitas di kota Malang. Penelitian ini
menghasilkan fasilitas umum di Kota Malang 72% tidak aksesibel, 24% kurang aksesibel, dan
0% aksesibel sesuai dengan standar peraturan yang ada.
2

Berdasarkan beberapa penelitian tersebut, untuk menghasilkan suatu fasilitas pelayanan


publik yang memenuhi kriteria aksesibilitas yang berkelanjutan bagi difabel diperlukan
pengukuran aksesibilitas untuk mengetahui tingkat pelayanan fasilitas jalan berdasarkan
persyaratan geometrik dan pemilihan bahan yang sesuai dengan ketentuan teknik yang besifat
kuantitatif (Kementerian PU 1999). Selain itu, pengukuran aksesibilitas bagi difabel dapat
digunakan untuk mengevaluasi kinerja dari program dan layanan yang sudah ada dan membuat
perubahan untuk meningkatkan cakupan aksesibilitas, efektivitas, dan efisiensi terhadap difabel
(WHO, 2011).
Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dapat dirumuskan permasalahan dalam kajian ini
adalah;
a. Variabel apa saja yang harus ada dan menjadi tolak ukur dalam standar aksesibilitas
bagi difabel pada fasilitas jalan.
b. Kondisi eksisting yang ada apakah sudah memenuhi kriteria aksesibilitas bagi
difabel
c. Membandingkan standar Aksesibilitas difabel pada fasilitas jalan sudah terpenuhi
atau belum.
Tujuan Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan:
a. Mengindentifikasi dan memetakan status atau kondisi eksisting berdasarkan observasi
lapangan.
b. Membandingkan standar aksesibilitas bagi difabel yang ada di Indonesia dan luar negeri
pada fasilitas jalan, dan membandingkan dengan hasil observasi lapangan
c. Memberikan masukan komponen atau variabel yang harus terdapat di dalam standar
aksesibilitas bagi difabel yang ada di Indonesia.
Ruang Lingkup Analisis
Ruang lingkup analisis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Memetakan ukuran dimensi komponen-komponen aksesibilitas bagi difabel pada fasilitas
jalan berdasarkan peraturan-peraturan dan persyaratan yang ada di dalam dan di luar negeri.
b. Melakukan survey atau observasi lapangan dalam memperoleh data untuk mengindentifikasi dan
mengevaluasi kondisi eksisting.
c. Menyusun usulan kerangka pendekatan standarisasi ukuran komponen-komponen aksesibilitas
bagi difabel pada fasilitas jalan berdasarkan pemetaan dari berbagai standar yang ada.
d. Menyusun rekomendasi sebagai alternatif solusi dalam upaya meningkatkan aksesibilitas
para difabel terhadap fasilitas jalan.
TINJAUAN PUSTAKA
Definisi Difabel
World Health Organization (WHO) (2001) mendefinisikan kecacatan dalam 3 kategori,
yaitu:
1.
Impairment , adalah hilangnya atau ketidaknormalan struktur atau fungsi psikologis, fisik
atau anatomi.
2.
Disability, mengacu kepada keterbatasan kemampuan untuk melakukan aktivitas secara
normal yang disebabkan oleh impairment .
3.
Handicap, merupakan keadaan yang merugikan bagi seseorang yang diakibatkan oleh
impairment dan disability yang mencegahnya dari pemenuhan peranan yang normal dalam
konteks usia, jenis kelamin, social budaya maupun ekonomi
WHO merevisi konsep ini menjadi International Classification of Functioning Disability
and Health (ICF). Pada konsep ini, impairment bukanlah satu-satunya faktor yang menjadi
3

fokus dalam menilai keberfungsian kemampuan seseorang. Ada dua komponen utama yang
perlu dipelajari dalam memahami masalah difabel, yaitu:
1.
Functioning (keberfungsian), meliputi keberfungsian badan/anatomi dan struktur serta
aktivitas dan partisipasi.
2.
Disability
(ketidakmampuan),
bagian
pertama
meliputi
keberfungsian
badan/anatomi dan struktur serta aktivitas dan partisipasi, sedangkan bagian kedua terdiri
dari faktor-faktor kontekstual, seperti faktor lingkungan dan faktor faktor yang sifatnya
personal.
Menurut konsep ini, masalah difabel timbul sebagai interaksi dari berbagai komponenkomponen tersebut. Keberfungsian secara fisik dan mental seseorang merupakan prasyarat
baginya untuk dapat berpartisipasi dalam berbagai aktivitas. Namun cara ini juga direfleksikan
dalam kehidupan sosial yang menyebabkan terhambatnya kaum difabel mendapatkan
kesempatan berpartisipasi secara sama dalam berbagai aktivitas dalam kehidupan masyarakat
(Eva Kasim, 2004).
Difabel merupakan istilah yang diindonesiakan dari diffable (people with different
abilities) yang berarti ketidakmampuan atau keterbatasan seseorang akibat adanya
ketidaknormalan atau hilangnya struktur, fungsi psikologis, dan anatomis untuk melakukan
aktivitas yang dianggap normal bagi manusia. Difabel bukan disable yang tidak memiliki
kemampuan, mereka memiliki kekurangan dan kelebihan sebagaimana manusia lain yang
mempunyai tugas dan kewajiban dalam penghidupannya (Sitorus 2012).
Jumlah difabel yang terdata di Indonesia adalah tuna netra 1.749.981 jiwa, tuna rungu
wicara 602.784 jiwa, tuna daksa 1.652.741 jiwa, dan tuna grahita 777.761 Jiwa
(Departemen Sosial 2011). Jumlah tersebut terbilang tinggi, bahkan belum termasuk penyandang
cacat yang belum terdata. Berdasarkan angka yang ditetapkan oleh WHO (World Health
Organization) terdapat 15% penyandang disabilitas di Indonesia, dengan demikian terdapat
populasi mencapai 36 juta lebih dari populasi penduduk Indonesia 245 juta (WHO 2012).
Gambaran umum mengenai peraturan bagi difabel di negara lain diantaranya sebagai berikut:
a.
Inggris memiliki tiga landasan hokum untuk difabel antara lain Disability Discrimination
Act 1995, Special Education Needs and Disability Act 2001, dan Disability Discrimination
Act 2005. Inggris juga memiliki kementerian khusus difabel (Ministry of Disability
People).
b.
Di Kanada peraturan yang dimiliki dikenal dengan Ontarians with Disability Act 2002,
selain lebih lengkap dibandingkan Inggris pemerintah Kanada juga sangat ketat dalam
implementasinya.
c.
Di Singapura Undang undang Difabel mengacu pada hukum Inggris.
d.
Jepang tidak memiliki undang-undang khusus tentang difabel karena UUD Jepang sudah
menjamin hak-hak difabel.
Aksesibilitas
Pengertian aksesibilitas menurut Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor
30/PRT/M/2006 tentang Pedoman Teknis Fasilitas dan Aksesibilitas pada Bangunan Gedung
Negara adalah kemudahan yang disediakan bagi semua orang termasuk penyandang cacat dan
lansia guna mewujudkan kesamaan kesempatan dalam segala aspek kehidupan dan penghidupan.
Aksesibilitas dalam bangunan gedung dan lingkungan harus dilengkapi dengan penyediaan
fasilitas dan aksesibilitas, dan setiap orang atau badan termasuk instansi pemerintah dalam
penyelenggaraan pembangunan wajib memenuhi persyaratan teknis fasilitas dan aksesibilitas.
Menurut Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1997 aksesibilitas merupakan kemudahan yang
disediakan bagi difabel guna mewujudkan kesamaan kesempatan dalam segala aspek kehidupan
dan penghidupan. Sedangkan yang dimaksud dengan kesamaan kesempatan adalah keadaan yang
memberikan peluang kepada difabel untuk mendapatkan kesempatan yang sama dalam segala
aspek kehidupan dan penghidupan.
4

Hak aksesibiltas difabel juga ditegaskan pada bagian lain dari Undang-Undang Nomor 4
Tahun 1997 ini pada pasal 9 bahwa setiap penyandang cacat mempunyai kesamaan kesempatan
dalam segala aspek kehidupan dan penghidupan. Kemudian dijelaskan dalam pasal 10 tentang
kesamaan hak para difabel, yaitu meliputi kesamaan kesempatan bagi penyandang cacat dalam
segala aspek kehidupan dan penghidupan dilaksanakan melalui penyediaan aksesibilitas.
Dalam Pedoman Teknik Persyaratan Aksesibilitas pada Jalan Umum No. 022/T/BM/199
dijelaskan tentang Prinsip asas aksesibilitas sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang
Nomor 4 tahun 1997 adalah sebagai berikut:
1.
Asas Prioritas, yaitu asas yang memprioritaskan kawasan tertentu untuk menyediakan
prasarana aksesibilitas pada jalan umum, khususnya bagi para pejalan kaki termasuk
penyandang cacat.
2.
Asas Integrasi, yaitu asas yang menyediakan prasarana aksesibilitas pada jalan umum yang
terintegrasi dengan prasarana aksesibilitas pada bangunan umum dan lingkungan, sehingga
para pemakai prasarana in menjadi mandiri tanpa merasa menjadi objek belas kasihan
(object of charity).
3.
Asas Kesinambungan, yaitu asas yang memperhatikan prasarana aksesibilitas secara terus
menerus tanpa terputus dari asal sampai ke tujuan bagi para pemakai prasarana ini
sehingga semua orang dapat memasuki dan menikmati prasarana aksesibilitas pada jalan
umum dengan baik.
Dan persyaratan yang paling penting dalam menyediakan prasarana aksesibilitas pada jalan
umum adalah memenuhi persyaratan dan ketentuan teknik dari geometrik jalan , yaitu:
1.
Aman, yaitu dengan memperhatikan permukaannya yang harus stabil, kuat dan tahan
cuaca, dan bertekstur halus tetapi tidak licin.
2.
Nyaman, yaitu dengan memperhatikan keleluasaan bergerak bagi pemakai prasarana
aksesibilitas.
3.
Legal, yaitu dengan pemasangan rambu lalu lintas dan marka jalan, sehingga pengguna
jalan memberikan perhatian dan mentaatinya secara hukum.
METODOLOGI PENELITIAN
Tahapan Penelitian
Untuk tahapan penelitian dapat dilihat pada Gambar 1, dan secara umum pelaksanaan
penelitian ini akan terdiri dari 3 tahapan utama, yakni:
1.
Tahap persiapan, yang dimulai dari latar belakang, perumusan masalah, tujuan penelitian,
dan batasan ruang lingkup analisis. Pada tahap ini digambarkan tentang kondisi sekarang
tentang aksesibilitas difabel, dan mengapa perlu adanya pengukuran terhadap kinerja
aksesibilitas difabel tersebut pada latar belakang dan perumusan masalah. Pada tujuan
penelitian disebutkan tujuan yang ingin dicapai dengan disertai oleh pembatasan pada
ruang lingkup analisis.
2.

Tahap Design, yang berisi tinjauan pustakadari berbagai sumber yang dianggap relevan
dengan penelitian ini. Untuk tahapan ini akan menghasilkan suatu design instrumen
penelitian. Dalam penelitian ini instrumen penelitian yang dihasilkan dalam bentuk
Formulir survei. Formulir survei tersebut akan digunakan untuk pengumpulan data primer
dari observasi lapangan.

3.

Tahap Pelaksanaan, tahap pelaksanaan terdiri dari pengumpulan dan pengolahan data,
analisis dan pembahasan, penarikan kesimpulan berdasarkan hasil penelitian, serta saran
untuk pengembangan penelitian selanjutnya.

Teknik Pengumpulan Data


Metode yang digunakan dalam pengumpulan data terbagi dua cara, yaitu :
1.
Observasi, dengan pengamatan langsung yang dilakukan pada lokasi penelitian. Lokasi
yang diambil dalam penelitian ini adalah beberapa ruas jalan di Kota Bandung.
5

2.

Studi Pustaka, dengan maksud untuk memperoleh berbagai informasi konsep dan teoritis
untuk memenuhi kebutuhan secara faktual dilapangan melalui pencarian pada dokumen,
peraturan, jurnal dan melalui internet.

Gambar 1 Bagan Alir

PEMBAHASAN
PELAKSANAAN SURVEI LAPANGAN
Sebelum dilakukan survei pada penelitian ini, terlebih dahulu harus diketahui kondisi
eksisting lokasi survei. Kondisi eksisting pada lokasi survei dibahas menurut dua hal, yaitu:
1.
Fungsi dan Status Jalan
2.
Geometrik Jalan
Fungsi dan Status Jalan
Lokasi survei diambil hanya beberapa ruas jalan dalam kewenangan Pemerintah Kota
Bandung. Panjang jalan masing-masing ruas jalan juga berdasarkan panjang jalan di observasi
yang akan dibagi dalam beberapa segmen, jadi bukan merupakan panjang jalan secara
keseluruhan. Nama jalan, fungsi, dan statusnya ditampilkan pada Tabel 1.
6

Tabel 1 Fungsi dan Status Jalan Lokasi Survei


No.

Ruas Jalan

Fungsi

Tipe

Panjang
Observasi
(m)

Status

Jl. Diponegoro

Arteri Sekunder

4/2 D dan UD

1200

Kota Bandung

Jl. WR Supratman

Arteri Sekunder

4/2 D

1160

Kota Bandung

Jl. Ir Juanda

Kolektor Sekunder

4/2 D

1400

Kota Bandung

Jl. Merdeka

Kolektor Sekunder

4/2 UD

800

Kota Bandung

Jl. Banda

Lokal

2/2 UD

350

Kota Bandung

Jl. Belitung

Lokal

2/2 UD

300

Kota Bandung

Jl. Gudang Utara

Lokal

2/2 UD

800

Kota Bandung

Jl. Gandapura

Lokal

2/2 UD

700

Kota Bandung

Geometrik Jalan
Dari 8 (delapan) ruas jalan yang diambil sebagai sampel penelitian ini, masing-masing ruas
jalan tersebut akan dibagi ke dalam beberapa segmen yang berguna untuk memudahkan
pelaksanaan survei. Panjang segmen pada tiap ruas jalan tidak sama. Sebagai acuan, panjang
observasi adalah adanya persimpangan, keseragaman geometrik jalan, dan kondisi variabel
aksesibilitas yang ditemukan pada eksisting. Kondisi Geometrik dan pembagian segmen ruas
jalan yang di survei terdapat pada Tabel 1.
HASIL SURVEI AKSESIBILITAS BAGI DIFABEL PADA FASILITAS JALAN
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa standar yang digunakan dalam penelitian
ini hanya mengambil 3(tiga) standar, yang terdiri dari 1 (satu) standar dari dalam negeri dan
2(dua) standar dari luar negeri, yaitu:
1. Pedoman Teknik Persyaratan Aksesibilitas pada Jalan Umum No. 022/T/BM/1999 Dept.
Pekerjaan Umum
2. Federal Highway Administration (FHWA)
3. United Nations Economic and Social Commission for Western Asia (UN ESCWA)
Trotoar
Kesimpulan dari matriks standar tentang trotoar terhadap hasil survei sebagai berikut:
1.
Lebar trotoar yang terdapat semua ruas jalan tidak sama dan bervariasi dengan lebar antara
1- 2,5 m (sebagian) dengan kondisi seragam dan stabil. Dari sisi lebar trotoar hanya
sedikit segmen yang telah memenuhi lebar yang disyaratkan oleh Pedoman Teknik Dept.
PU dan UN ESCWA,sedangkan sebagian besar segmen memiliki lebar trotoar dibawah 1,5
m, dan menurut standar FHWA seluruh segmen jalan diponegoro tidak memenuhi
persyaratan yang ditentukan yaitu 1,8 m 3 m.
2.
Jalur pemandu yang berupa ubin pemandu dan ubin peringatan tidak terdapat pada hampir
seluruh jalan yang di survei, jalur pemandu hanya terdapat pada sebagian jalan Gudang
Utara, Jalan Merdeka, dan Jalan Gandapura , yang penempatan posisinya tidak
mempertimbangkan seperti yang disyaratkan seperti pada setiap perubahan ketinggian
trotoar, perubahan arah, disekitar perabot jalan yang menjadi penghalang atau pada tempat
penyeberangan. Dari dimensi hanya memenuhi persyaratan dari Standar Pedoman Teknik
Dept. PU, tetapi untuk penempatan posisi tidak memenuhi syarat dari ketiga standar.

Rintangan/Penghalang (Obstructions)
Kesimpulan hasil survei apabila dibandingkan dengan 3 standar:
1.
Dari 31 segmen terdapat 22 segmen yang masih aksesibel dan memenuhi standar UN
ESCWA lebar trotoar bebas minimal 0,9 meter dan FHWA dengan lebar trotoar bebas
minimal 0,69 meter.
2.
Untuk syarat tinggi area bebas minimal 2 meter (UN ESCWA) dan 2,03 meter (FHWA)
terpenuhi pada seluruh segmen jalan.
3.
Penghalang paling dominan yaitu tiang listrik dan pohon yang penempatan posisinya
berada di tengah trotoar.
4.
Ubin peringatan tidak terdapat pada sekitar objek penghalang, hanya ada ubin pemandu
pada beberapa segmen Jalan Merdeka, Jalan Gudang Utara, Jalan Banda, dan Jalan
Belitung.
Rambu-rambu (Signage)
Kesimpulan 3 standar bila dibandingkan dengan hasil survei dapat dijelaskan sebagai
berikut:
1.
Dua standar yaitu Pedoman Teknik Dept. PU dan UN ESCWA mensyaratkan bahwa harus
dipasang rambu petunjuk khusus bagi difabel dengan simbol internasional yang tidak
ditemukan pada seluruh segmen ruas jalan yang disurvei.
2.
Rambu petunjuk hanya berupa rambu lalu lintas dan rambu petunjuk jalan standar Dept.
Perhubungan, yang penempatan posisinya pada beberapa segmen jalan menjadi
penghalang, seperti pada Jalan Banda, Jalan Belitung, Jalan Merdeka, dan Jalan
Gandapura.
Perabot Jalan (Street Furniture)
Dari ketiga standar terhadap hasil survei didapatkan kesimpulan antara lain:
1.
Standar Pedoman Teknik Dept. PU dan UN ESCWA mensyaratkan penyediaan rest area
pada trotoar setiap jarak 90 m yang tidak terpenuhi pada seluruh segmen jalan yang di
survei, dan standar FHWA menentukan ruang khusus perabot jalan dengan lebar 1,2 meter1,8 meter yang tidak mengganngu jalur pejalan kaki yang juga tidak terpenuhi pada seluruh
segmen ruas jalan.
2.
Perabot jalan yang terdapat pada seluruh ruas jalan sebagian besar hanya menjadi
penghalang bagi difabel, penempatan posisi yang tidak tepat (UN ESCWA dan FHWA)
dan tanpa dilengkapi dengan ubin peringatan (UN ESCWA) mengurangi lebar minimum
bebas trotoar.
3.
Halte bis dan Bus Stop yang terdapat pada sebagian ruas jalan yang disurvei dari desain
yang dibangun tidak mengakomodasi bagi para difabel karena tidak terdapat ramp acces
dan lebar minimal juga tidak memenuhi dibawah 1,5 m. Dari 3(tiga) standar yang ada
secara keseluruhan tidak memenuhi.
Kerb dan Pinggiran Kelandaian (Curb Ramps)
Dari hasil survei jika dibandingkan dengan 3 standar sebagai berikut:
1.
Curb ramp tampaknya belum familiar untuk dimasukkan dalam setiap perencanaan
penyeberangan pejalan kaki walaupun didalam Pedoman Teknik Dept. PU sudah diatur
standar dan penempatannya.
2.
Satu-satunya jalan yang mempunyai curb ramp pada lokasi survei adalah penyeberangan
pejalan kaki pada Jalan Ir. Juanda dan Jalan Surapati dengan kondisi curb ramp yang tidak
dapat di akses bagi difabel karena hanya tersedia pada satu sisi saja, dan terdapat
perbedaan tinggi dengan badan jalan , serta tidak didukung oleh lapak tunggu yang
terdapat pada median.

Penyeberangan Pejalan Kaki (Pedestrian Crossing)


Perbandingan matriks dari ketiga standar tentang penyeberangan pejalan kaki terhadap
hasil survei:
1.
Dari hasil survei 31 segmen terdapat 20 penyeberangan sebidang dan 3 penyeberangan
tidak sebidang. Penyeberangan sebidang semuanya tidak tersedia pelikan seperti yang
disyaratkan 3 standar.
2.
Kelengkapan pendukung seperti curb ramp tidak tersedia pada 19 tempat penyeberangan
pejalan kaki yang disurvei, dan pada 1 tempat penyeberangan hanya tersedia pada satu sisi
saja.
3.
Ubin pemandu/peringatan tidak tersedia pada seluruh persimpangan yang di survei,
sedangkan lapak tunggu terdapat pada 3 penyeberangan di jalan Ir Juanda dengan lebar <
1 meter tanpa ramp acces.
Parkir (Parking)
Kesimpulan standar terhadap hasil survei adalah pada seluruh segmen ruas jalan yang di
survei tidak ditemukan area parkir yang diperuntukkan khusus untuk difabel, baik di dalam
maupun diluar gedung
Kesimpulan dari masing-masing variabel penelitian berdasarkan pemetaan 3(tiga) standar
terhadap hasil observasi lapangan dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2 Pemetaan Hasil Survei terhadap 3(tiga) standar
No

Variabel

Koridor/trotoar

Rintangan/Penghalang
(Obstructions)

Rambu Petunjuk
(Signage)

Perabot Jalan (Street


Furniture)

Kerb dan Pinggiran


Kelandaian (Curb
Ramps)

Penyeberangan
Pejalan Kaki
(Pedestrian Crossings)

Indikator

- Lebar (m)
- Kelandaian (%)
- Permukaan (Material,
kondisi)
- Ubin Pemandu (Dimensi,
Posisi, kondisi)
- Ubin Peringatan (Dimensi,
Posisi, kondisi)
- Bentuk
- Syarat
- Penempatan Posisi
- Ubin Peringatan (posisi)
- Ketentuan (Warna, simbol)
- Penempatan Posisi
- Dimensi
- Jenis/Bentuk
- Syarat
- Ubin Peringatan
- Penempatan Posisi
- Dimensi
- Penempatan Posisi
- Ubin Pemandu/peringatan
- Kelandaian
- Jenis (Bersinyal/tidak
bersinyal atau
sebidang/tidak sebidang)
- Curb Ramps (ada/tidak ada)
- Pelikan

Dept.
UN
PU ESCWA

FHWA

Parkir (Parking)

- Ubin Pemandu/peringatan
- Lapak tunggu (Ada/tidak
ada, dimensi)
- Lokasi
- Dimensi
- Ubin Pemandu/peringatan
- Curb Ramps (Lebar,
kelandaian)
- Rambu Petunjuk

Keterangan :
= Standar Terpenuhi
= Standar Tidak Terpenuhi

DISKUSI TENTANG STANDAR DAN VARIABEL AKSESIBILITAS DIFABEL PADA


FASILITAS JALAN
Dari hasil observasi pada ruas jalan di kota bandung didapatkan temuan lapangan bahwa
pada perencanaan awal pemilihan ruas jalan yang dipilih berdasarkan fungsi jalan diperkirakan
akan didapatkan hasil temuan yang berbeda untuk hasil aksesibilitas bagi difabel pada jalan
tersebut. Setelah dilakukan observasi lapangan, penulis memutuskan bahwa pembahasan variabel
pada hasil observasi lapangan dilakukan tanpa membedakan fungsi jalan karena hal-hal sebagai
berikut:
1.
Dari 7 variabel yang disurvei pada ruas jalan, temuan mengenai masalah relatif sama dan
seragam pada seluruh ruas jalan dan fungsi jalan.
2.
Tidak ditemukan banyak perbedaan fasilitas jalan berdasarkan fungsi jalan pada ruas-ruas
jalan di Kota Bandung, perbedaan hanya pada lebar badan jalan pada jalan lokal.
3.
Fungsi jalan pada ruas-ruas jalan yang diobservasi di Kota Bandung tidak dapat dijadikan
tolak ukur bahwa semakin tinggi tingkatan fungsi jalan maka variabel aksesibilitas yang
tercapai juga semakin banyak, karena perencanaan dan pembangunan jalan tidak sesuai
dengan ketentuan teknis yang berlaku.
4.
Fungsi jalan pada ruas-ruas jalan di Kota Bandung belum memenuhi persyaratan sesuai
dengan PP No.34 tahun 2006 tentang jalan.
Untuk standar dan variabel yang digunakan pada penelitian ini mengacu pada Peraturan
Pemerintah No. 43 Tahun 1998 tentang upaya peningkatan kesejahteraan sosial penyandang
cacat, bahwa perencanaan dan pembangunan prasarana aksesibilitas fisik harus memberikan
kemudahan pencapaian, prasarana aksesibilitas yang dimaksud dapat berupa akses ke dan dari
jalan umum, akses ke tempat pemberhentian bis/kendaraan, jembatan atau jalur penyeberangan
bagi pejalan kaki, tempat parkir dan naik/turun penumpang, tanda/rambu-rambu lalu lintas dan
atau marka jalan, dan trotoar bagi pejalan kaki/pemakai kursi roda.
Ketentuan yang terdapat pada PP tersebut harus dijadikan pedoman untuk menyusun
standar aksesibilitas bagi difabel pada fasilitas jalan. Selanjutnya, dari penelitian ini dapat
disimpulkan dua hal penting yang tidak boleh dilupakan pada penyusunan standar aksesibilitas
bagi difabel adalah jalur sirkulasi pejalan kaki dan akses rute pejalan kaki.
Jalur sirkulasi pejalan kaki bagi difabel merupakan jalur yang disusun sedemikian rupa
pada ruang manfaat jalan (RUMAJA) sehingga penempatan posisi penghalang baik secara
vertikal maupun horizontal tidak mengganggu jalur pejalan kaki. Jalur sirkulasi ini dapat
langsung berbatasan dengan jalan berupa atau dapat dibelakang pagar pembatas, Atau dengan
kata lain jalur sirkulasi pejalan kaki harus mempertimbangkan perletakan perabot jalan dan
pelengkap jalan.
Rute akses pejalan kaki merupakan bagian jalur sirkulasi pejalan kaki yang
menghubungkan ke semua fasilitas pejalan kaki dan ruang yang berdekatan yang diperlukan
10

untuk diakses, rute akses pejalan kaki bagi difabel ini harus bebas dari penghalang vertikal
maupun horizontal, dilengkapi dengan ramp acces dan curb ramp apabila terjadi perbedaan
ketinggian, dan memenuhi syarat lebar minimum yang diperlukan oleh difabel sesuai dengan
anthropometri (pengukuran dimensi tubuh manusia) difabel. Rute akses pejalan kaki juga harus
didukung oleh kelandaian tidak melebihi ketentuan dan jenis permukaan yang kuat, stabil, dan
anti slip.
Dari pemetaan hasil survei terhadap 3 standar pada tabel 2 dapat diketahui bahwa hasil
observasi lapangan hanya 3 indikator dari variabel trotoar yang memenuhi standar, sedangkan
untuk variabel yang lainnya tidak memenuhi standar. Dan untuk mengambil kesimpulan apakah
ruas jalan yang disurvei tersebut aksesibel atau tidak aksesibel perlu juga dipertimbangkan
apakah derajat kepentingan masing-masing indikator dari variabel juga perlu diperhitungkan.
Dari hasil observasi lapangan dan studi literatur penulis dapat mengambil kesimpulan masingmasing indikator memiliki derajat kepentingan yang sama dan sangat sulit untuk diperhitungkan
variable yang menjadi prioritas karena:
1.
Aksesibilitas bagi difabel secara logika merupakan suatu link aktivitas yang terhubung satu
sama lain sehingga menjadi suatu rantai perjalanan yang apabila salah satu link tersebut
tidak dapat diakses maka perjalanan menjadi tidak mungkin.
2.
Aksesibilitas yang dijadikan penelitian ini bersifat khusus yaitu bagi difabel yang memiliki
keterbatasan, sehingga bila salah satu indikator dari variabel tidak terpenuhi akan
menyulitkan aksesibilitas difabel.
3.
Derajat kepentingan indikator dari variabel aksesibilitas dapat diperhitungkan apabila yang
menjadi objek adalah manusia normal yang tidak memiliki keterbatasan, dan tidak
mempengaruhi aksesibilitas mereka apabila salah satu variabel atau indikator tersebut
dihilangkan.
4.
Ruas jalan tersebut tetap dikatagorikan tidak aksesibel bagi difabel, karena ruas ruas
jalan yang disurvei tidak berdiri sendiri dan tetap sebagai suatu jaringan, walaupun pada
saat survei ruas jalan tersebut dibagi menjadi beberapa segmen, dan terdapat segmen yang
memenuhi beberapa indikator dari standar.
KESIMPULAN
Dari hasil penelitian mengenai aksesibilitas dapat diambil kesimpulan:
1.
Berdasarkan hasil observasi lapangan terhadap 7 variabel pada 8 ruas jalan didapatkan
bahwa seluruh ruas jalan yang di survei tidak aksesibel bagi difabel, karena untuk aksesibel
seluruh indikator harus terpenuhi karena indikator dari variabel memiliki derajat
kepentingan yang sama.
2.
Dari perbandingan dan pemetaan 3(tiga) standar terhadap hasil survei lapangan didapati
bahwa:
a. Standar aksesibilitas bagi difabel berdasarkan Pedoman Teknik No. 022/T/BM/1999
Dept. Pekerjaan Umum dan Standar UN ESCWA hanya terpenuhi 3 indikator dari
variabel trotoar, sedangkan untuk variabel yang lainnya secara keseluruhan semua
indikator tidak terpenuhi.
b. Standar Federal Highway Administration (FHWA) memenuhi 2 indikator dari variabel
trotoar, sedangkan variabel yang lain sama dengan 2 standar yang lain tidak memenuhi.
3.
Sebagai rekomendasi, dari hasil penelitian ini adalah:
a. Standar dari UN ESCWA mengenai trotoar, rintangan/penghalang, signage, perabot
jalan, curb ramp, penyeberangan pejalan kaki dapat diadopsi dan dimasukkan ke dalam
standar yang ada di Indonesia.
b. Untuk standar mengenai parkir khusus difabel kurang cocok untuk diaplikasikan di
Indonesia karena membutuhkan ruang dan dimensi yang lebih luas yang susah untuk
diakomodir disebabkan keterbatasan lahan.

11

SARAN
Beberapa saran untuk penelitian selanjutnya sebagai berikut :
1.
Penelitian ini dilakukan dengan batasan ruang lingkup beberapa ruas jalan di Kota
Bandung. Dapat dilakukan penelitian serupa dengan batasan ruang lingkup nasional atau
dapat juga dilakukan secara bertahap pada wilayah-wilayah tertentu sehingga pada
akhirnya dapat digeneralisasi secara nasional. Untuk melakukan penelitian dengan ruang
lingkup wilayah yang luas harus dipertimbangkan mengenai ketersediaan dana dan waktu
penelitian.
2.
Pada penelitian ini usulan pendekatan standardisasi mengadopsi 3(tiga) standar yaitu
Pedoman Teknik Persyaratan Aksesibilitas pada Jalan Umum No. 022/T/BM/1999 Dept.
Pekerjaan Umum, Standar Federal Highway Administration (FHWA), dan Standar United
Nations Economic and Social Commission for Western Asia (UN ESCWA), dapat
dilakukan penelitian serupa dengan tambahan referensi standar yang berasal dari negara
lain.
UCAPAN TERIMAKASIH
1.
Tri Basuki Joewono, Ph.D., selaku Dosen Pembimbing pada penelitian ini
2.
Bapak Santoso Urip Gunawan, Ir., MT., dan Bapak Dr. Ir. Hikmat Iskandar, M.Sc., yang
telah banyak memberikan masukan dalam penyelesaian penelitian ini.
3.
Universitas Katolik Parahyangan untuk memfasilitasi penelitian ini.
4.
Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) yang telah berkenan untuk menerima tulisan ini
pada Jurnal Kokoh.
DAFTAR PUSTAKA
Australian Capital Territory. (2013), Action Plan for Accessible Public Transport in the ACT
2013 2018, Justice and Community Safety Directorate, Canberra.
Boodlal, L. (2001), Accessible Sidewalks and Street Crossings-an Informational Guide, Federal
Highway Administration, U.S. Department of Transportation, Virginia.
Church, R. L., dan Marston, J. R. (2003), Measuring Accessibility for People with a Disability,
Geographical Analysis Vol. 35 No.1, The Ohio State University, Ohio USA.
United States Department of Justice Civil Rights Division. (1996), The Americans with
Disabilities Act (ADA) Accessibility Guidelines for Buildings and Facilities, Washington.
D.C.
Ferari, L., Berlingerio, M., Calabrese, F., Davidson, B.C. (2012), Measuring The Accessibility of
a Public Transportation Metwork for People with Disabilities, IBM Research, Dublin.
Handy, S. L., dan Niemeier, D.A. (1997). Measuring Accesibility , An Exploration of Issues and
Alternatives . Environment and Planning A 29, 1175-1194, USA.
Makri, M.C., dan Folkesson. C. (1998), Accessibility Measures for Analyses of Land Use and
Travelling with Geographical Information Systems, Sweden.
Medisa, PT. (1999), Persyaratan Aksesibilitas Pada Jalan Umum N0.022/T/BM/1999,
Departemen Pekerjaan Umum, Jakarta.

12

Pemerintah Republik Indonesia. (1945), Undang-undang Dasar Negara Kesatuan Republik


Indonesia 1945, Jakarta.
Pemerintah Republik Indonesia. (1997), Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1997 tentang
Penyandang Cacat, Jakarta.
Pemerintah Republik Indonesia. (1998), Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 1998 tentang
upaya peningkatan kesejahteraan sosial penyandang cacat, Jakarta.
Pemerintah Republik Indonesia. (2011), Peraturan Menteri Perhubungan RI Nomor Pm 13
Tahun 2014 tentang Rambu Lalu Lintas, Jakarta.
Setyaningsi, W. (2005), Policy and regulation supporting inclusion in Indonesia. Perwujudan
Elemen Aksesibilitas Bangunan Gedung dan Lingkungan, UNS, Unit Kajian Aksesibilitas
Arsitektur, Solo.
Solidere. (2001), Accessibility for The Disabled A Design Manual For Barrier Free
Environment, UN ESCWA, New York.
Thohari, S. (2014), Pandangan Disabilitas dan Aksesibilitas Fasilitas Publik bagi Penyandang
Disabilitas di Kota Malang, Universitas Brawijaya, Malang.
United Nation. (1993), Standard Rules on the Equalization of Oppurtunities for Person With
Disabilities, New York
Wibowo, S.S. dan Gitawardhani, F.A. (2011), Ruang Pejalan Kaki Yang Nyaman Untuk
Kawasan Perkotaan, Institut Teknologi Bandung, Bandung.
World Health Organization. (2011), World Report on Disability 2011, Geneva.

13