Anda di halaman 1dari 12

PENYELAMATAN SUMBERDAYA GENETIK JENIS CENDANA

(Santalum album L.) MELALUI PEMBANGUNAN PLOT KONSERVASI


EKS-SITU DI GUNUNG KIDUL
Conservation of Sandalwood (Santalum Album L.) Genetic Resources By
Establishment Of Ex-Situ Conservation In Gunung Kidul
Ari Fiani

Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan


Jl. Palagan Tentara Pelajar Km 15, Purwobinangun, Pakem, Sleman, Yogyakarta
e-mail : ari_fiani@yahoo.com

Ringkasan
Populasi cendana saat ini mengalami degradasi yang sangat serius sehingga dapat
menimbulkan kemerosotan sumberdaya genetiknya. Secara umum status konservasi cendana
termasuk kategori rawan (Vulnerable:VUA1d.). Sedangkan menurut CITES, cendana
dimasukkan ke dalam jenis Appendix II. Sejak tahun 2002 Balai Besar Penelitian Bioteknologi
dan Pemuliaan Tanaman Hutan Yogyakarta telah melakukan kegiatan pembangunan kebun
konservasi eks-situ di Watusipat, Gunung Kidul dengan tujuan untuk menyelamatkan
sumberdaya genetik cendana dari kepunahan. Koleksi materi genetik yang terkumpul
sebanyak 20 populasi, terdiri dari 18 populasi berasal dari sebaran alam di NTT dan 2
populasi dari Pulau Jawa. Sebaran dari NTT meliputi Pulau Alor, Timor, Sumba, Rote, Flores
dan Pulau Pantar, sementara koleksi materi genetik dari Pulau Jawa diwakili oleh ras lahan
Karangmojo (Gunung Kidul) dan Imogiri (Bantul). Secara umum, tanaman cendana tahun
tanam 2002 mempunyai persen hidup berkisar antara 30 % (populasi Pollen, Mollo Selatan,
Timor Tengah Selatan) sampai dengan 95 % (populasi Waisika, Alor Timur Laut, Alor).
Sedangkan untuk cendana tahun tanam 2005, persen hidupnya berkisar antara 27 % (populasi
Bama, Pulau Flores) sampai dengan 95,3 % (populasi Soebala, Pulau Rote). Secara generatif,
tanaman cendana di Plot Konservasi Watusipat telah mulai berbuah pada kisaran umur 4
tahun. Masa berbuah dan berbunga cendana terjadi dua kali dalam setahun dengan puncak
pembuahan terjadi pada bulan September. Diperlukan waktu 3 bulan sejak pembentukan
bunga sampai dengan buah masak. Inventarisasi terhadap keberadaan hama/penyakit tanaman
menunjukkan organisme pengganggu yang umum dijumpai pada tanaman cendana baik di
persemaian maupun di lapangan, antara lain adalah kutu daun, ulat daun dan embun jelaga.
Melihat kemampuan regenerasinya, plot konservasi eks-situ Watusipat memiliki potensi
sebagai sumber benih untuk pengembangan cendana di daerah lain yang sesuai, baik secara
generatif maupun vegetatif, disamping juga dapat dimanfaatkan sebagai laboratorium alam
untuk penelitian tentang cendana dari berbagai aspek dan sebagai plot percontohan tentang
keberhasilan penanaman cendana.
1

Informasi Teknis
Vol. 15 No. 1, Juli 2014, 1-12

I. PENDAHULUAN
Cendana (Santalum album L.) merupakan tanaman asli Indonesia yang mempunyai
sebaran alami di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Dalam dunia perdagangan, cendana
dikenal dengan nama Sandalwood, merupakan salah satu kayu yang sangat potensial karena
mempunyai nilai ekonomi yang sangat tinggi, baik di pasaran dalam maupun luar negeri.
Kayu cendana banyak dimanfaatkan antara lain untuk produksi minyak, barang kerajinan
(patung, kipas, tasbih), keperluan keagamaan (dupa) maupun sebagai bahan obat tradisional.
Populasi cendana saat ini mengalami penurunan yang sangat drastis sehingga dapat
menimbulkan kemerosotan sumberdaya genetiknya. Eksploitasi yang dilakukan sejak abad
ke-3 tanpa diikuti upaya rehabilitasi telah menjadikan cendana dalam status menuju kepunahan,
sehingga sejak tahun 2000 cendana tidak lagi memberi kontribusi bagi Pemda NTT. Kondisi
tersebut akan mengancam kelestarian serta pengembangannya di masa mendatang. Secara
umum status konservasi cendana termasuk kategori rawan (Vulnerable:VUA1d.). Sedangkan
menurut CITES cendana dimasukkan ke dalam jenis Appendix II (WWF Indonesia, 2008).
Berdasarkan kondisi tersebut, maka sejak tahun 2002 Balai Besar Penelitian Bioteknologi
dan Pemuliaan Tanaman Hutan Yogyakarta telah ikut berkontribusi dalam melestarikan cendana
melalui kegiatan pembangunan kebun konservasi eks-situ di Watusipat, Gunung Kidul. Tujuan
dari kegiatan ini adalah untuk menyelamatkan sumberdaya genetik cendana dari kepunahan.
Sampai dengan tahun 2005 telah dibangun kebun konservasi eks-situ seluas 3,5 ha dengan
materi genetik dikumpulkan dari berbagai sebaran alam yang ada di NTT maupun ras lahan di
Jawa.

II. PEMBANGUNAN PLOT KONSERVASI EKS-SITU


A. Pengumpulan Materi Genetik
Kegiatan penelitian dimulai sejak tahun 2002, diawali dengan kegiatan pengumpulan
materi genetik cendana pada sebaran alaminya di Nusa Tenggara Timur (Gambar 1) maupun
ras lahan di Jawa. Eksplorasi dan pembangunan plot konservasi genetik ini dilakukan secara
bertahap. Sampai akhir tahun 2005 telah dibangun plot konservasi eks-situ genetik cendana
seluas 3,5 ha dengan materi genetik berasal dari 20 populasi dari sebaran alam yang ada di
NTT dan Jawa. Materi genetik yang berasal dari sebaran alam di NTT sebanyak 18 populasi
dan terdapat di Pulau Alor, Timor, Sumba, Rote, Flores dan Pulau Pantar. Sementara koleksi
materi genetik dari Pulau Jawa diwakili oleh ras lahan Karangmojo (Gunung Kidul) dan
Imogiri (Bantul). Koleksi materi genetik selengkapnya disajikan pada Tabel 1. Sedangkan
lokasi dari 18 populasi dari NTT disajikan pada Gambar 1.
2

Penyelamatan Sumberdaya Genetik Jenis Cendana (Santalum Album L.) Melalui Pembangunan Plot Konservasi Eks-Situ di Gunung Kidul
Ari Fiani

Tabel 1. Daftar provenans materi genetik cendana di Plot Konservasi eks-situ Watusipat,
Gunung Kidul
No. Asal Sumber Benih
Sebaran Nusa Tenggara Timur
1 Omtel (Teluk Mutiara, Alor)
2 Aen Ut (Mollo Selatan, Timor Tengah Selatan, Timor)
3 Hambala (Kopeta, Waingapu, Sumba Timur, Sumba)
4 Katikutana ( Kabupaten Sumba Barat, Sumba)
5 Waisika (Alor Timur Laut, Alor)
6 Pailelang (Alor Barat Daya, Alor)
7 Kuma (Mollo Selatan, Timor Tengah Selatan, Timor)
8 Polen (Mollo Selatan, Timor Tengah Selatan, Timor)
9 Oenlasi (Amanatun Selatan, Timor Tengah Selatan, Timor)
10 Haumeni (Amanatun Selatan, Timor Tengah Selatan, Timor),
11 Snok (Amanatun Utara, Timor Tengah Selatan, Timor)
12 Noemuti (Miomafo Timur, Timor Tengah Utara, Timor)
13 Buat (Mollo Selatan, Timor Tengah Selatan, Timor)
14 Sumba, Belu, Seabela (Rote)
15 Fatunisuan (Timor Timur Utara)
16 Pantar (Flores)
17 Balela (Flores)
18 Bama (Flores)
Sebaran Pulau Jawa
1 Karang Mojo (Gunung Kidul)
2 Imogiri (Bantul)

Gambar 1. Distribusi alam Santalum album L. di Nusa Tenggara Timur.


(Arsiran menunjukkan daerah koleksi benih dilakukan)
3

Informasi Teknis
Vol. 15 No. 1, Juli 2014, 1-12

B. Kegiatan Persemaian dan Penanaman di Lapangan


Materi genetik berupa biji disemaikan di persemaian Balai Besar Penelitian Bioteknologi
dan Pemuliaan Tanaman Hutan, Yogyakarta. Setelah siap tanam, bibit ditanam di KHDTK
Watusipat, Gunung Kidul, DIY. Cendana merupakan tanaman semi parasit sehingga teknologi
budidayanya memerlukan penanganan intensif berupa pemberian tanaman inang di persemaian
(inang primer) maupun pada awal pertumbuhan di lapangan (inang sekunder). Salah satu jenis
tanaman inang di persemaian adalah krokot (Alternanthera sp). Fungsi inang adalah untuk
membantu penyerapan unsur hara melalui haustoria. Fungsi haustoria ini akan efektif bila akar
tanaman cendana dan tanaman inang sudah saling menempel. Iyenger (1965) dalam Surata
(2010) menyatakan bahwa unsur hara yang diserap melalui haustoria adalah N, P, asam amino
dan air, sedangkan yang diserap langsung melalui akar cendana adalah Ca dan K. Fungsi
inang sekunder di lapangan, selain membantu penyerapan unsur hara juga sebagai penaung
awal, untuk menjaga kelembaban tanah dengan penutupan tajuknya, serta untuk mengurangi
persaingan tanaman dengan gulma.
Mengingat bahwa haustoria akan efektif berfungsi bila akar sudah saling menempel,
maka sebelum proses penyapihan tanaman inang tersebut harus dipersiapkan / ditumbuhkan
di polybag terlebih dahulu. Demikian juga tanaman inang sekunder di lapangan. Pada awal
pertumbuhan, tanaman memerlukan naungan dan inang sekunder di lapangan. Oleh karena
itu, dalam persiapan lahan tanam, semak yang ada tidak perlu dibersihkan keseluruhan, tetapi
cukup dibabat / dibersihkan pada jalur tanam. Semak yang tertinggal diharapkan akan menjadi
pelindung / naungan dan inang sekunder bagi tanaman cendana.
Pemeliharaan bibit di persemaian adalah pemberian sungkup untuk mempertahankan
kelembaban udara, penyiraman, pemupukan bibit, pemberantasan hama dan penyakit dilakukan
sesuai kebutuhan. Jika batang tanaman sudah mulai berkayu, naungan dibuka sedikit demi
sedikit untuk menguatkan bibit.
C. Pemeliharaan Tanaman di Lapangan
Bibit cendana siap ditanam di lapangan setelah berumur 1 tahun. Pada umur 1 tahun
pada umumnya bibit sudah cukup kuat, batangnya sudah berkayu dan diameter batang kirakira sudah sebesar 0,5 cm. Pemeliharaan yang dilakukan pada plot konservasi eks-situ di
lapangan meliputi pembabatan semak (pengendalian gulma), pendangiran dan pembuatan
guludan, pemupukan serta pemberantasan hama dan penyakit yang menyerang tanaman.
Beberapa kegiatan pemeliharaan yang dilakukan di plot konservasi dapat dilihat pada gambar 2.
4

Penyelamatan Sumberdaya Genetik Jenis Cendana (Santalum Album L.) Melalui Pembangunan Plot Konservasi Eks-Situ di Gunung Kidul
Ari Fiani

Gambar 2. Pemeliharaan Tanaman di Plot Konservasi Eks-situ Watusipat


Pembabatan semak, pendangiran dan pemupukan (a); pengendalian hama
penyakit (b)
Pada tanaman muda, pemeliharaan juga berupa penyiraman dengan menggunakan
metode infus terutama pada saat musim kemarau yang ekstrim (Gambar 3). Metode infus
ini menggunakan botol plastik yang dilubangi bagian bawahnya dan pada lubang tersebut
dipasang sumbu untuk mengalirkan air secara perlahan-lahan. Botol digantungkan pada tiang
penyangga di dekat batang tanaman, kemudian diisi air. Air diharapkan mengalir melalui
sumbu yang terpasang di bagian bawah botol. Untuk botol dengan kapasitas1 liter air mampu
bertahan selama + 1 minggu. Dengan demikian botol kembali diisi air seminggu sekali.

III. EVALUASI PLOT KONSERVASI EKS-SITU


Salah satu indikator keberhasilan program konservasi suatu jenis adalah tanaman
mampu tumbuh dan bereproduksi pada area konservasinya. Oleh karena itu, diperlukan
serangkaian evaluasi terhadap plot konservasi meliputi evaluasi keragaman genetik, evaluasi
pertumbuhan secara periodik, evaluasi terhadap kemampuan regenerasinya serta evaluasi
terhadap kesehatan tanaman.
A. Evaluasi Keragaman Genetik
Evaluasi terhadap keragaman genetik cendana yang terkumpul di Watusipat menunjukkan
bahwa keragaman genetik di dalam populasi dari 17 populasi cendana yang berasal dari
sebaran di NTT dan Jawa tahun tanam 2002 adalah sebesar 0,391 (Rimbawanto dkk., 2006).
Sedangkan keragaman genetik dalam populasi dari 6 populasi sebaran NTT yang lain yang
ditanam pada tahun 2005 adalah sebesar 0,3166 (Haryjanto, 2009).
5

Informasi Teknis
Vol. 15 No. 1, Juli 2014, 1-12

c
Gambar 3. Kegiatan pemeliharaan tanaman di lapangan. Pengangkutan air (a);
Pengisian botol infus (b); Botol infus yang terpasang pada tanaman (c)

Hal ini berarti bahwa jenis cendana yang terkumpul dalam Plot Konservasi Eks-situ di
Watusipat mempunyai keragaman genetik yang cukup tinggi. Tingginya keragaman genetik
cendana tersebut memberikan peluang pemanfaatan selanjutnya bagi program pemuliaan
tanaman cendana untuk mendapatkan sifat-sifat unggul yang diharapkan.
B. Evaluasi Pertumbuhan
Evaluasi terhadap kinerja pertumbuhan melalui pengukuran tinggi dan diameter batang
secara periodik menunjukkan adanya variasi kinerja pertumbuhan tanaman cendana yang berasal
dari berbagai sumber benih (populasi). Adanya variasi ini kemungkinan disebabkan karena
daya adaptasi masing-masing populasi yang berbeda untuk tetap tumbuh di Gunung Kidul. Dari
pengamatan, populasi yang pertumbuhannya paling bagus adalah Soebela (P. Rote). Pada umur
7 tahun setelah tanam, tinggi tanaman populasi Soebela ini mencapai 5,33 m dengan diameter
setinggi dada 4,07 cm dan persen hidup sebesar 95,31%. Secara umum, tanaman cendana tahun
tanam 2002 mempunyai persen hidup berkisar antara 30 % (populasi Pollen, Mollo Selatan,
Timor Tengah Selatan) sampai dengan 95 % (populasi Waisika, Alor Timur Laut, Alor).
6

Penyelamatan Sumberdaya Genetik Jenis Cendana (Santalum Album L.) Melalui Pembangunan Plot Konservasi Eks-Situ di Gunung Kidul
Ari Fiani

Sedangkan untuk cendana tahun tanam 2005, persen hidupnya berkisar antara 27 % (populasi
Bama, Pulau Flores) sampai dengan 95,3 % (populasi Soebala, Pulau Rote). Tampilan tanaman
cendana umur 7 tahun pada Plot Konservasi eks-situ di Watusipat, Gunung Kidul dapat dilihat
pada Gambar 4.

Gambar 4. Tanaman cendana umur 7 tahun (a dan b)

C. Evaluasi Regenerasi
Keberhasilan program konservasi suatu jenis juga dilihat dari kemampuan regenerasi
tanaman tersebut untuk kelestarian jenisnya. Tanaman cendana dapat beregenerasi baik secara
generatif maupun vegetatif. Secara generatif, tanaman cendana di Plot Konservasi Eks-situ
Watusipat telah mulai berbuah pada kisaran umur 4 tahun. Masa berbuah dan berbunga cendana
terjadi dua kali dalam setahun dengan puncak pembuahan terjadi pada bulan September.
Diperlukan waktu 3 bulan sejak pembentukan bunga sampai dengan buah masak. Gambar
bunga dan buah cendana yang ditemukan dari tanaman cendana di plot konservasi eks-situ,
Watusipat disajikan pada gambar 5.

Informasi Teknis
Vol. 15 No. 1, Juli 2014, 1-12

Gambar 5. Regenerasi cendana di Plot Konservasi Eks-situ Watusipat Bunga (a); Buah (b)
Kemampuan regenerasi dari tanaman cendana di Plot Konservasi eks-situ Watusipat
juga dapat dilihat dari banyaknya anakan alam yang tumbuh di seputar areal pertanaman.
Terdapat variasi jumlah anakan yang mampu tumbuh pada beberapa kondisi tempat. Secara
umum jumlah anakan yang ditemukan pada areal terbuka tanpa semak belukar maupun pohon
tinggi paling sedikit dibandingkan jumlah anakan yang berada di bawah tegakan cendana
maupun di bawah tegakan jati di dekat areal plot. Dengan demikian, disarankan bahwa
untuk membangun suatu areal pertanaman cendana maka iklim mikro pada area tersebut
harus terbentuk lebih dahulu, antara lain dengan menjadikan semak menjadi inang sementara
di lapangan maupun sebagai pelindung serta penutupan permukaan tanah untuk menjaga
kelembaban tanahnya. Kondisi permudaan alami pada areal Plot Konservasi eks-situ di
Watusipat dapat dilihat pada Gambar 6.
Dari pengamatan terhadap pembungaan dan pembentukan buah, Baskorowati (2011)
melaporkan bahwa cendana merupakan jenis tanaman yang melakukan penyerbukan silang
(outcrossing). Persentase keberhasilan reproduksi cendana di kebun konservasi ekssitu Watusipat adalah sebesar 7,70% pada penyerbukan silang terkendali; 7,325% pada
penyerbukan secara terbuka dan 1,075% pada penyerbukan sendiri. Sementara itu, jenis
serangga penyerbuk yang mengunjungi bunga cendana ada 11 macam, tetapi yang paling
dominan adalah lebah madu (Aphis mullifera). Dengan demikian, dalam rangka meningkatkan
keberhasilan reproduksi dalam pengelolaan kebun konservasi cendana sangat dianjurkan
untuk membangun sarang-sarang lebah madu.
8

Penyelamatan Sumberdaya Genetik Jenis Cendana (Santalum Album L.) Melalui Pembangunan Plot Konservasi Eks-Situ di Gunung Kidul
Ari Fiani

Gambar 6. Anakan cendana. tumbuh di semak-semak (a); anakan di bawah tegakan


cendana (b)

D. Pembiakan Vegetatif
Secara vegetatif, teknik kultur jaringan untuk perbanyakan klon-klon yang ada di plot
konservasi sudah mulai dikembangkan sejak tahun 2003. Herawan dkk. (2003) melaporkan
bahwa penggunaan beberapa kombinasi media tumbuh dengan zat pengatur tumbuh dapat
meningkatkan pertunasan dan perakaran eksplan cendana. Media Woody Plant Medium (WPM)
merupakan media terbaik untuk pertumbuhan dan perkembangan akar eksplan cendana.
Kombinasi Media WPM dengan Zat Pengatur Tumbuh IBA 90 mg/liter mampu menginduksi
perakaran dan pertunasan cendana. Herawan dkk. (2004) juga melaporkan bahwa teknik
pemangkasan yang tepat, baik waktu maupun posisinya dalam tanaman, memberikan respon
sangat baik terhadap keberhasilan induksi cendana. Ukuran eksplan 3-5 cm dan umur yang
lebih tua keberhasilan induksnya lebih baik daripada yang sangat muda. Multiplikasi tunas
cendana dengan sub kultur berulang mampu meningkatkan jumlah tunas majemuk. Setelah
satu bulan, rata-rata persentasi induksi tunas mencapai 78,38%, jumlah tunas per tabung 5,4
buah dan rata-rata panjang tunas 16,2 cm.

Informasi Teknis
Vol. 15 No. 1, Juli 2014, 1-12

E. Penanganan Hama dan Penyakit


Plot Konservasi eks-situ cendana tidak lepas pula dari keberadaan organisme pengganggu
tanaman. Inventarisasi terhadap keberadaan hama/penyakit tanaman menunjukkan organisme
pengganggu yang umum dijumpai pada tanaman cendana baik di persemaian maupun di
lapangan antara lain adalah kutu daun, ulat daun serta embun jelaga. Beberapa organisme
pengganggu tersebut dapat dilihat pada Gambar 7.

Gambar 7. Organisme pengganggu tanaman cendana di Plot Konservasi Eks-situ Watusipat


Kutu daun (a); Ulat pemakan daun (b); Jamur embun jelaga (c)
Hama jenis kutu daun banyak dijumpai di persemaian. Kutu menghisap cairan sel daun
sehingga pada daun timbul bercak-bercak hitam nekrosis. Setelah menyerang daun, kutu
tersebut akan membentuk selubung yang keras dan melekat pada jaringan tanaman sehingga
bila disemprot insektisida pun kurang efektif. Oleh karena itu, pengendaliannya dilakukan
secara mekanis dengan cara memotong bagian tanaman / daun yang terserang. Ulat pemakan
daun pada tanaman cendana diketahui dari jenis Delias sp (Lepidoptera, Pieridae). Serangan
hama pada tanaman muda dapat menyebabkan kematian bibit, sedangkan pada tanaman tua
di lapangan dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan. Gejala serangan embun jelaga yang
ditemukan adalah adanya lapisan hitam tipis yang melekat pada permukaan daun. Serangan
embun jelaga ini dapat mengakibatkan terganggunya proses fotosintesis pada daun sehingga
pertumbuhan tanaman terhambat (Fiani dkk., 2012)
Anonim (2012) menyatakan bahwa dari hasil pengamatan diketahui bahwa rata-rata
nilai indeks kerusakan (NIK) cendana dari masing-masing provenan berkisar antara 1,89
(provenan Katikutana, Sumba Barat, Sumba) hingga 3,08 (provenan Snok, Amanatun Utara,
Timor Tengah Selatan, Timor); dengan NIK rata-rata dalam plot 2,49. Menurut Pudjiono
10

Penyelamatan Sumberdaya Genetik Jenis Cendana (Santalum Album L.) Melalui Pembangunan Plot Konservasi Eks-Situ di Gunung Kidul
Ari Fiani

(2004) dan Khoiri (2004), NIK pada cendana tersebut termasuk kelas sehat ringan. Dengan
demikian plot konservasi eks-situ cendana di Watusipat Gunung Kidul memiliki kelas
kerusakan yang relatif kecil.

IV. MANFAAT KE DEPAN DARI PLOT KONSERVASI CENDANA WATUSIPAT


Plot konservasi eks-situ cendana di Watusipat ini memiliki koleksi materi genetik yang
cukup lengkap dilihat dari asal sebaran alamnya. Sementara di daerah asal tegakan cendana
yang dulu pernah diambil materi genetiknya, saat ini sebagian besar sudah tidak ada lagi.
Dengan demikian keberadaan Plot konservasi eks-situ cendana ini diharapkan akan mampu
menyelamatkan cendana dari kepunahan. Melihat kemampuan regenerasinya, Plot konservasi
eks-situ Watusipat memiliki potensi sebagai sumber benih untuk pengembangan cendana di
daerah lain yang sesuai, baik secara generatif maupun vegetatif.
Plot konservasi eks-situ cendana di Watusipat ini mempunyai koleksi materi genetik
yang cukup lengkap, sehingga diharapkan plot ini ini dapat menjadi laboratorium alam
yang bisa menjadi ajang penelitian tentang cendana dari berbagai aspek, serta menjadi plot
percontohan tentang keberhasilan penanaman cendana. Hasil utama yang diharapkan dari
tanaman cendana adalah kayu teras dan minyak cendana yang diperoleh dari destilasi kayu
teras. Oleh Karena itu, ke depan penelitian tentang potensi pembentukan kayu teras dan
kandungan minyak dari masing-masing populasi terkoleksi perlu dikaji lebih lanjut.

V. PENUTUP
Cendana merupakan tanaman asli Indonesia yang mempunyai nilai ekonomi cukup
tinggi. Namun demikian populasi di alam semakin menyusut. Untuk mencegah cendana
dari kepunahan dan mempertahankan keragaman genetiknya, maka konservasi sumberdaya
genetik cendana merupakan hal yang sangat diperlukan. Pembangunan Plot Konservasi Ekssitu cendana telah dilakukan di KHDTK Watusipat, Gunung Kidul seluas 3,5 ha. Koleksi
materi genetik sebanyak 20 populasi, 18 populasi berasal dari sebaran alam di Nusa Tenggara
Timur, sedangkan 2 populasi adalah ras lahan Pulau Jawa dengan nilai keragaman genetik
yang cukup tinggi. Evaluasi terhadap Plot Konservasi telah dilakukan, baik terhadap kinerja
pertumbuhan, kemampuan regenerasi maupun terhadap kesehatan tanamannya. Secara umum
kondisi tanaman dalam plot termasuk kategori kelas sehat ringan, dengan kerusakan yang
relatif kecil. Selanjutnya dari plot konservasi tersebut diharapkan akan lebih bermanfaat untuk
kegiatan penelitian tentang cendana, maupun menjadi sumber benih untuk pengembangan
cendana pada daerah pengembangan yang sesuai baik secara generatif maupun vegetatif.
11

Informasi Teknis
Vol. 15 No. 1, Juli 2014, 1-12

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2012. Laporan Tahunan Tahun 2011 Buku 2, Kementerian Kehutanan, Badan
Litbang Kehutanan, Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman
Hutan, Yogyakarta.
Baskorowati, L. 2011. Implikasi Biologi Reproduksi Terhadap Konservasi Genetik Jenis
Santalum album, Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan, 5 : 1 - 11.
Fiani, A., Windyarini, E. dan Yuliah. 2012. Evaluasi Kesehatan Cendana (Santalum album
Linn.) di Kebun Konservasi Ex-situ Watusipat Gunung Kidul, Prosiding Seminar
Nasional Kesehatan Hutan dan Pengusahaan Hutan Untuk Produktivitas Hutan, Bogor,
14 Juni 2012
Haryjanto, L. 2009. Keragaman Genetik Cendana (Santalum album Linn.) di Kebun
Konservasi Ex Situ Watusipat, Gunung Kidul, dengan Penanda Isoenzim. Jurnal
Pemuliaan Tanaman Hutan. 3 : 127-138.
Herawan, T., Naiem, M. dan Sulaksono, G. 2003. Pengaruh penggunaan Media dan Zat
pengatur Tumbuh Pada Perbanyakan Cendana (Santalum album Linn.) Secara Kultur
Jaringan, Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan, 1: 55 - 61.
Herawan, T., Jayusman dan Haryjanto, L. 2004. Perbanyakan Klon Cendana (Santalum
album L) Melalui Kultur Jaringan, Prosiding Ekspose Terpadu Hasil-Hasil Penelitian,
Yogyakarta 11-12 Oktober2004.
Rimbawanto, A., Widyatmoko, AYPBC. dan Sulistyowati, P. 2006. Distribusi Keragaman
genetik populasi Santalum album L. Berdasarkan penanda RAPD. Jurnal Penelitian
Hutan Tanaman, 3 : 175 - 181.
Surata K.I. 2010. Intensifikasi Pengembangan Cendana (Santalum album L.) Dengan Pola
Tumpang Sari Di Nusa Tenggara Timur, Prosiding Seminar Nasional Kontribusi Litbang
Dalam Peningkatan Produktivitas Dan Kelestarian Hutan, Puslitbang Peningkatan
Produktivitas Tanaman Hutan, Bogor, 29 November 2010.

12

Anda mungkin juga menyukai