Anda di halaman 1dari 19

Nama

: NUR SYAMSU
Tugas
: Paper Review1
Mata Kuliah
: Filsafat Ekonomi Islam
Pengampu : Drs. Syararuddin Alwi, M.A

Bibliographical Information.2

Nama Pengarang
Editor

Judul dan Anak Judul

: Charles Issawi
: Abul Hasan M. Sadeq, Aidit Ghazali
: Ibnu Khalduns Analysis of Economic

Issues

Nama dan Tempat Penerbit : Longman Malaysia


Tahun Terbit
: 1991
Jumlah Halaman
: 16 halaman

Penulis sepenuhnya mengacu kepada cara menulis Resensi Buku (Book Report, Book Review, juga Riview
Article) karya Prof. Drs. H. Akh. Minhaji, M.A., Ph. D. hal 97-101. Lihat Akhmad Minhaji, Strategies for Social
Research: The Methodological Imagination in Islamic Studies, Bahan Kuliah untuk Metodologi Penelitian dalam
Bidang Studi Islam.,Yogyakarta: Sunan Kalijaga Press., hal. 97.
2
Ibid, h. 97

2012

|1

1. Reability of the material.3


Apakah buku ini up date?
Buku ini merupakan cetakan pertama. Belum mencetak untuk
edisi berikutnya. Selain itu buku ini hanya dalam bahasa Arab, belum
ada

terjemahan

ke

bahasa

Indonesia.

Bahkan

web

aslinya,

http://binbayyah.net.4

Biodata Pengarang
Sheikh Abdullah Bin Bayyah lahir tahun 1935 di Timur
Mauritania. Ayahnya bernama Sheikh Mahfoudh Ben Bayah. Beliau
salah seorang ulama terkemuka daerah dan kepala Konferensi
Ulama Mauritania didirikan setelah kemerdekaan negara tersebut. 5
Bin Bayyah dikirim untuk belajar Hukum di Fakultas Hukum di
Tunisia dan dilatih di pengadilan Tunisia pada tahun 1961, 12 hakim
dipilih dan masing-masing mempresentasikan sebuah makalah
penelitian dalam metode fikih. Bin Bayah adalah menjadi pemakalah
yang terhebat dalam kegiatan tersebut.6
Bin Bayyah pernah menjabat sebagai Hakim di Pengadilan
Tinggi

Republik

Islam

Mauritania,

Kepala

Urusan

Syariah

di

Departemen Kehakiman, Wakil Presiden Pengadilan Banding, Utama


Negosiator pada Agama di Republik, Pertama Menteri Urusan Islam
dan Pendidikan, Menteri Kehakiman dan Pemegang Resmi dari Seals,
Menteri Negara Sumber Daya manusia - dengan posisi Wakil Perdana
Menteri. Dari tahun 1970-1978 menjadi anggota kabinet dan Komite
Tetap Partai Hukum Mauritania.7
Sementara ini tanggungjawab beliau, Direktur Pusat Global
untuk Pembaruan & Bimbingan, Inggris. Anggota European Research
3

Mencakup apakah buku itu up to date, biodata pengarang seperti siapa dia, berasal dari mana, latar belakang
pendidikan, tugas dan jabatan yang ia emban, dan bagaimana reputasinya dalam dunia akademik paling tidak
terkait dengan tema yang terdapat dalam buku yang diterbitkan. Lihat Web: http://binbayyah.net/english/bio/
diakses tanggal 27 Juli 2012, pukul: 22.37.
4
Lebih jelasnya, lihat di http://binbayyah.net. diakses tanggal 27 Juli 2012, pukul: 22.37.
5
Ibid., (Web: http://binbayyah.net/english/bio/ diakses tanggal 27 Juli 2012, pukul: 22.37).
6
Ibid.
7
Ibid.

2012

|2

& Dewan Fatwa, Irlandia. Wakil Presiden Asosiasi Internasional Ulama


Muslim, Beirut. Anggota Asosiasi Ahli Hukum India, Delhi. Anggota
dari The Royal Aal al-Bayt Institute for Pemikiran Islam, Yordania.8
Karya-karya Bin Bayyah juga sangat banyak, diantaranya:
Terorisme: Diagnosis dan Solusi, Wacana Keamanan dalam Islam dan
Budaya Toleransi dan Harmony, Fatwa dan Refleksi, The Art of Fatwa
Merumuskan (Pendapat Hukum) dan Fiqh Minoritas (Yurisprudensi
yang Berkenaan Dengan Minoritas Muslim), Sebuah Dialog dari Afar:
hak asasi manusia, Sebuah buku tentang metodologi hukum, Sebuah
klarifikasi atas berbagai pendapat hukum yang berkaitan dengan
transaksi keuangan, Manfaat Wakaf, Bukti untuk mereka yang
menderita dari penyakit pada penghargaan Ilahi yang sangat besar
yang menunggu mereka, Tujuan dan Bukti mereka.9
Selain

itu

Bin

Bayyah,

adalah

seorang

pemikir

Islam

kontemporer yang mengajukan Islamologi zaman sekarang baik


secara teologis, maupun historis. Menurutnya, Islamologi klasik
lemah jika dipakai dalam perkembangan zaman ini. 10 Ia menawarkan
perangkat analisis kritis memberikan solusi buat muslim minoritas di
Negara barat.
Perlu untuk diketahui bersama sebagai salah seorang intelektual
muslim Arab terkemuka dewasa ini, Bin Bayyah terlibat dalam tugas
yang sangat penting untuk menyusun dan membuat wacana atau
artikel keagamaan, fiqih, dan filosofis klasik menuju kontemporer.
Tugas yang membuatnya menjadi seorang pemikir kontroversial
dalam menciptakan wacana kritis Arab-Islam modern.
2. Summary/abstract.11
Studi tentang fiqh al-Aqaliyyat atau fiqh untuk masyarakat minoritas
muslim di Barat tidaklah banyak mendapatkan perhatian, setidaknya
sampai akhir tahun 1990-an. Fiqh yang berkembang cenderung
8

http://binbayyah.net/english/bio/ diakses tanggal 27 Juli 2012, pukul: 22.37.


Ibid.
10
Ensiklopedi Islam, Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve. 2005,. h. 201.
11
Bagian ini mencakup garis besar atau gambaran umum pembahasan fiqh al-aqalliyyat.
9

2012

|3

bermuara pada fiqh yang ditulis dan berkembang di negara-negara


Timur Tengah. Kenyataan ini telah menjadikan fiqh Timur Tengah
menjadi kiblat yang mendominasi aplikasi hukum Islam di wilayah nonTimur Tengah, walaupun teori dan kaidah ushul fiqh sendiri membuka
peluang perbedaan fiqh atau hukum islam yang di sebabkan oleh
perbedaan kondisi, tempat dan masa.
Fiqh al-aqalliyyat akan menjadi suatu pegangan bagi minoritas
muslim dalam melaksanakan ajaran-ajaran agama, bukan hanya
sebagai individu, malainkan juga sebagai masyarakat secara umum.
Dan memberikan panduan bagi masyarakat minoritas muslim akan
kewajiban mereka dalam berinteraksi dengan kelompok masyarakat
lainnya, sehingga agama yang di anutnya tidak menjadi dinding
pemisah, tetapi menjadi jembatan penghubung antarmereka. Serta fiqh
al-aqalliyyat

ini

mempermudah

kehidupan

keberagamaan,

mengadvokasi Islam sebagai agama yang elastis dan fleksibel.


Tanpa kehadiran fiqh al-aqalliyyat, kelompok minoritas muslim di
Barat akan mengalami kebingungan dan keraguan dalam menjalankan
ajaran agama mereka.
Opsi-opsi dalam fiqh klasik yang tidak relevan dengan konteks
kehidupan yang dijalani memaksa mereka melakukan dua pilihan,
apakah menjalankan dengan penuh keraguan dan keterpaksaan yang
menyiksa atau meninggalkannya sama sekali dan menjalani hidup
tanpa pedoman.
3. The Hypothesis, Problem or Question, Sense of Academic
Crisis.12
Bin Bayyah sangat melirik masyarakat muslim yang berada di
Negara Barat. Dia berpendapat jika fiqh klasik di terapkan buat
masyarakat muslim yang berada disana, mereka tidak lah bisa
menyesuaikan dengan keadaan geografis tempat mereka tinggal. Tidak
lumrah lagi bahwa disana terdapat berbagai permasalahan yang di
alami muslim minoritas. Sebagian bersifat masalah individu, bersifat
12

Berisi jawaban sementara, masalah yang di alami penulis sehingga menghasilkan solusi yang dituangkan dari
buku karangannya.

2012

|4

kekeluargaan, bersifat kemasyarakatan dan sebagian lagi bersifat


ekonomi.
Realita itu memicu Bin Bayyah dalam memperjuangkan masyarakat
muslim minoritas di negara Barat. Dengan menulis buku fiqh alaqalliyyat perpanjangan tangan dari Thaha Jabir al-Alwani dan Yusuf alQaradhawi yang belum banyak membahasa masalah fiqh tersebut. Bin
Bayyah

mengatakan

dari

lahirnya

fiqh

al-aqalliyyat

ini

akan

menjawabkan semua persoalan-persoalan yang terjadi pada muslim


minoritas di Barat.13
4. Enlightening Circumstance.14
Lahirnya buku fiqh ini sedikit banyaknya melihat fenomena yang
terjadi masyarakat muslim dalam

menjalani sebuah hokum

islam,

yang di mana perbedaan zaman menurut beliau sulit ditegakkan dalam


penerapan zaman sekarang ditengah umat muslim di suatu negara,
dengan kebutuhan-kebutuhan mereka.
Keberadaan fiqh semacam ini secara khusus, dan islam secara
umum, senyatanya memiliki dasar secara kukuh dan otoritatif. Fiqh
minoritas

sama

sekali

bukan

berdasar

pada

subjektivisme,

sebagaimana yang dituduhkan kalangan muslim fundamentalisme. Ia


justru lahir dari hulu ajaran islam dan tumbuh dari akar peradaban
Islam, yang dalam istilah ushul fiqh disebut maqashid al-syariah. Dilihat
dari perspektif mana pun, maqashid al-syariah adalah visi Al-Quran
dan misi Nabi Muhammad SAW.15
Buku ini dapat di anggap cukup konprehensif dalam mengkaji fiqh alaqalliyat, mulai dari kajian istilah, metodologi, hubunganya dengan
mashlahah dan maqashid al-syariah. Dan contoh-contoh fatwa fiqh alaqalliyat yang di keluarkan ECFR (European Council for Fatwa and
Research). Buku ini memang menjelaskan hubungan antara hukum
Islam dan kemashlahatan, tetapi belum menjelaskan secara utuh

13

http://binbayyah.net/english/2012/02/20/on-the-fiqh-of-muslim-minorities/tanggal 27 Juli 2012, pukul 20.38.


Mencakup hal apakah buku itu terdorong oleh peristiwa-peristiwa penting yang terjadi dan disampaikan pula
sumber-sumber yang digunakan dalam penulisan buku tersebut.
15
Ahmad Imam Mawardi, Fiqh Minoritas, al-Aqalliyat dan Evolusi Maqashid Al-Syariah dari Konsep ke
pendekatan, (Yogyakarta: LKiS, 2010)., h. xi.
14

2012

|5

tentang bagaimana tata kerja maqashid al-syariah dalam perumusan


fiqh al-aqalliyat.16
Berbicara sumber-sumber yang di gunakan buku tersebut, beliau
lebih banyak merujuk kepada Thaha Jabir al-Alwani yang memimpin
lembaga FCNA17 (Fiqh Council of North America) di Amerika Utara. Dan
Yusuf al-Qardhawi, memimpin lembaga ECFR18 (European Council for
Fatwa and Research).19
Selain itu karangan Shammai Fishman, Fiqh al-Aqalliyat: A Legal
Theory for Muslim Minorities (Hudson Institute: Research Monograph on
the Muslim World, series no.1), tahun 2006.20 Buku yang dianggap
paling awal membahas fiqh al-aqalliyat adalah karya Khalid Abd alQadir yang berjudul Fiqh al-Aqalliyat al-Muslimah tahun 1998. Sumber
lainnya ditulis oleh Jamal al-Din Atiyyah Muhammad yang berjudul
Nahwa Fiqh jaddi li al-Aqalliyat, tahun 2003.

21

5. Kind of book.22
Buku ini tergolong pada karya kritik fenomena teologis maupun
historis (karena sedikit ataupun banyak, beliau banyak menyinggung
tentang permasalahan dan kondisi dilematis masyarakat minoritas di
negara Barat. Termasuk diantaranya kritik terhadap fiqh klasik, juga
hubungan sejarah ajaran Islam dan lain sebagainya).23
Literatur kontemporer menawarkan maqashid al-syariah sebagai
pendekatan atau mtode kajian hukum Islam, mengungkapkan fiqh alAqalliyat

sebagai

solusi

problematic

dan

dilematis

masyarakat

minoritas muslim di barat, karena itu, fiqh al-Aqalliyat juga menjadi


salah satu contoh dari fiqh kawasan (geografis).24
Dogma (mencoba memberikan pemahaman-pemahaman baru
yang

di

buat

secara

khusus

dalam

menjawab

permasalahan-

16

Ibid., h. 34.
Situs Resmi FCNA beralamatkan www.fiqhcouncil.org. diakses 27 Juli 2012
18
Situs Resmi ECFR beralamatkan www.e-cfr.org. diakses 27 Juli 2012
19
Ahmad Imam Mawardi, Op.cit., h. 30.
20
Ibid., h. 32.
21
Ibid., h. 33.
22
Mencakup hal, apakah buku itu tergolong pada karya kontemporer, perjalanan (travel), kritik literature, dan
yang semacamnya. Upaya-upayakan untuk bisa dihubungkan dengan materi atau bidang-bidang keilmuan
lainnya (secara singkat).
23
Ahmad Imam Mawardi., Op.cit., h. 277.
24
Ibid.
17

2012

|6

permasalahan

minoritas

muslim

di

Barat,

produk

hukum

yang

dihasilkan dalam fiqh ini berbeda pada umumnya. Kalau fiqh yang pada
umumnya, produk hukum didasarkan hujjiyyah al-nash. Fiqh alAqalliyat didasarkan pada hujjiyyah al-maqashid).25
Dan secara garis besar mencakup segala permasalahan tentang
minoritas muslim di negara Barat. Bin Bayyah berusaha menunjukkan
betapa besarnya sumbangan yang dapat diharapkan bagi masyarakat
muslim mayoritas maupun muslim minoritas, dari analisis linguistis dan
semiotik.
6. Authors Intention.26
Secara umum buku ini berisi cakupan-cakupan kajian studi keIslam-an, yang mencakup fiqh minoritas (fiqh al-Aqalliyat), dan juga
mengandung kajian yang amat spesifik dan ilmiah, mayoritas pembaca
yang dapat memahaminya berasal dari spesialis, dosen dan mahasiswa
kajian studi Islam.
7. The Theme of The Book.27
Mengungkapkan Tesis buku, dengan membaca Pengantar dan
Kesimpulan. Ketika membaca buku hendaknya selalu dihubungkan
dengan tesis yang telah ditentukan.
Ketika membaca pengantar Bin Bayyah menjelaskan tentang
fenomena masyarakat muslim di negara Barat.
Dalam mengungkapkan theme of the book, dalam buku ini penulis
menjabarkan sebagai berikut:
Bab
Pertama
Bin
Bayyah

menjelaskan

seputar

proses

pembentukan fatwa. Pengertian fatwa secara bahasa, berarti


petuah, nasihat, jawaban pertanyaan hukum. Menurut Ensiklopedi
Islam, fatwa dapat didefinisikan sebagai pendapat mengenai suatu
hukum dalam Islam

yang merupakan tanggapan atau jawaban

terhadap pertanyaan yang diajukan oleh peminta fatwa dan tidak


25

Ibid.
Mencakup batasan-batasan (cakupan-cakupan) yang ditentukan oleh penulis buku. Apakah buku itu
merupakan buku popular atau buku ilmiah? Apakah mengandung kajian yang amat spesifik ataukah merupakan
sebuah survey? Buku itu ditujukan kepada pembaca yang seperti apa: untuk para spesialis, mahasiswa, atau
pembaca umum?
27
Mencakup hal pengungkapkan Tesis buku, dengan membaca Pengantar dan Kesimpulan, yang ketika
membaca buku hendaknya selalu dihubungkan dengan tesis yang telah ditentukan (isi buku).
26

2012

|7

mempunyai daya ikat.28 Sedangkan fatwa menurut istilah berarti


pendapat yang dikemukakan seorang mujtahid atau faqih sebagai
jawaban atas pertanyaan yang diajukan oleh peminta fatwa dalam
suatu kasus yang sifatnya tidak mengikat. 29 Selanjutnya Perbedaan
Ilmu Fiqh, Fatwa, dan Qadha. Ilmu Fiqh adalah

ilmu untuk

mengetahui hukum Allah yang berhubungan dengan segala amaliah


mukallaf baik yang wajib, sunah, mubah, makruh atau haram yang
digali dari dalil-dalil yang jelas (tafshili). Fatwa, petuah atau nasihat
atau jawaban pertanyaan hukum,30 sedangkan Qadha, karena
mempunyai makna banyak syariat memutlakkan istilah al-Qadha
dalam masalah praktik dan putusan peradilan.31
Bagian pertama membahas fatwa di zaman para sabahat dan
seterusnya. Ada dua hal pokok yang berkembang saat itu berkenaan
dengan hukum. Pertama, bermumculan persoalan secara lahiriah
yang tidak di temukan jawabannya dalam Al-Quran dan Al-Hadits.
Ada peristiwa-peristiwa baru yang tidak pernah terjadi sebelumnya
sehingga untuk menjawabnya diperlukan ijma, dan ijtihad bi ar rayi.
Kedua, muncul permasalahan-permasalahan yang secara lahir telah
di atur dalam Al-Quran dan Al-Hadits, namun ketentuan itu sulit
untuk diterapkan dan perlu pemahaman baru sehingga dapat
diterima masyarakat.32
Bagian kedua membahas tentang seputar mufti. Pengertian Mufti
adalah seorang yang memegang kedudukan tertinggi setelah
presiden yang mempunyai ilmu pengetahuan dan takut kepada
Allah.33

Tugas

mufti

sangat

berat,

termasuk

menulis

fatwa,

menyimpan fatwa dan membatalkan fatwa. Jika dibandingkan


dengan sistem perundangan Malaysia, mufti itu sebenarnya setara

28

http://dariislam.blogspot.com/2010/03/fatwa-pengertian.html, diakses tanggal 27 Juli 2012, Pukul 20.12.


http://binbayyah.net/ diakses tanggal 27 Juli 2012, Pukul: 22.14.
30
Ensiklopedia Islam 2 FAS-KAL, (Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, 1994), h. 6.
31
http://bayupurnanugraha.blog.com/2011/09/27/pengertian-syariah-fiqih-qanun-fatwa-dan-qadha/, diakses
tanggal 27 Juli 2012, pukul 20.40.
32
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/1628/1/arab-nasrah5.pdf diakses tanggal 27 Juli 2012, Pukul
22.39.
33
Ensiklopedia Islam 5 SYA-ZUN, (Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, 1994), h. 120.
29

2012

|8

dengan

seorang

hakim.34

Persyaratan

yang

diperlukan

untuk

melaksanakan profesi ini adalah beragama islam, memiliki integritas


pribadi (adil), dan ahli ijtihad atau memiliki kesanggupan untuk
memecahkan masalah melalui penalaran pribadi. 35 Bin Bayyah
mengatakan seorang mufti harus memiliki pengetahuan yang baik
atas perbedaan-perbedaan pendapat dan memilihnya mana yang
paling tepat dari perbedaan pendapat itu dalam kaitannya dengan
persoalan yang di hadapi.36
Pengertian Mujtahid Muthlaq, secara bahasa artinya tidak terikat.
Dan Mujtahid Muqayyad, yang terbatas dalam lingkaran suatu
madzab.37 Bin Bayyah memaparkan dalam bukunya mufti dalam
pandangan 4 madzab, Abu Hanifah, Maliki, Syafii, dan Ahmad.38
Bab Kedua Bin Bayyah membahas intisari dari buku Fiqh alAqalliyat, dan intisari dari maksud penulis dalam menulis buku
tersebut.
Bagian pertama Bin Bayyah membahas sebab musabab lahirnya
fiqh al-Aqalliyyat. Istilah fiqh al-Aqalliyyat ini muncul pada awal
tahun 1990-an. Tokoh pendirinya adalah Thaha Jabir al-Alwani dan
Yusuf al-Qaradhawi. Thaha Jabir menggunakan istilah ini pertama
kali pada tahun 1994 ketika FCNA yang di pimpinnya mengeluarkan
fatwa boleh bagi kaum muslim Amerika memberikan hak suaranya
pada pemilihan presiden Amerika, yang nota bene calonnya adalah
non-muslim. Lalu, Thaha Jabir menulis beberapa tulisan berkaitan
dengan fiqh al-aqalliyyat, seperti Nazharat tasisiyyah fi fiqh alaqalliyyat.39 Sementara itu Yusuf al-Qardhawi mendirikan ECFR di
London pada tahun 1997 dengan tujuan utama memberikan layanan
hukum Islam kepada masyarakat minoritas muslim di Eropa. Untuk

34
35
36
37

http://soleh.net/2008/11/16/pengertian-mufti-menurut-islam/ diakses tanggal 27 Juli 2012, Pukul 22.40.


Ensiklopedia Islam 2 FAS-KAL., Op.cit., h. 7.
http://binbayyah.net/english/2012/02/20/on-the-fiqh-of-muslim-minorities/tanggal 27 Juli 2012
Pe-review mengambil sumber dari Power Point dosen Fiqh UIN Alauddin Makassar, (Tahir Maloko).

38

http://binbayyah.net/english/2012/02/20/on-the-fiqh-of-muslim-minorities/ diakses tanggal 27 Juli 2012, Pukul:


22.59.
39
Thaha Jabir al-Alwani. Nazharat Tasisiyyah fi Fiqh al-Aqalliyyat, dalam http://www.islamonline.net. Artikel ini
juga merupakan bagian ketiga dalam buku yang ditulis Thaha Jabir al-Alwani, Maqashid al-Syariah (Beirut,
Lebanon: Dar al-Hadi, 2001). h. 95.

2012

|9

itulah ia menulis buku khusus yang berjudul Fi Fiqh al-Aqalliyyat alMuslimah Hayat al-Muslimin Wasat al-Mujtamaat al-Ukhra.40
Kehadiran fiqh al-aqalliyyat ini sesungguhnya berawal

dari

akumulasi kegelisahan masyarakat minoritas di Barat ketika harus


melakukan sesuatu yang berkaitan dengan keagamaan mereka. Di
satu sisi, mereka harus taat pada ajaran agama yang diyakini
sempurna41 dan dipilih oleh Allah sebagai panduan yang sesuai
dengan fitrah manusia dalam menemukan kedamaian di dunia dan
di akhirat.42 Dalam bahasa lebih ringkas, Bin Bayyah menyatakan
bahwa fiqh al-aqalliyyat menjadi penting, memiliki tiga fungsi
utama: 1. Menjadi suatu pegangan bagi minoritas muslim dalam
melaksanakan

ajaran

agama,

bukan

hanya

sebagai

individu,

melainkan juga sebagai masyarakat secara umum; 2. Memberikan


panduan bagi masyarakat minoritas muslim akan kewajiban mereka
dalam berinteraksi dengan kelompok masyarakat lainnya, sehingga
agama yang dianutnya ini tidak menjadi dinding pemisah, tetapi
menjadi jembatan penghubung antarmereka; 3. Mempermudah
kehidupan keberagaman, mengadvokasi Islam sebagai agama yang
elastis dan fleksibel.43
Bagian kedua menjelaskan tentang kaidah fiqh minoritas. Kaidah
taysir tidak dimaksudkan dengan serta merta memilih pendapat
yang paling mudah walaupun tidak memiliki dalil sebagaimana juga
tidak

bermakna

memberikan

hak

istimewa

kepada

kelompok

minoritas muslim yang tidak diberikan kepada kelompok mayoritas


muslim. Contoh kaidah ini adalah kebolehan memberikan susu ASI
yang diambil dari bank ASI untuk bayi-bayi masyarakat muslim.
Fatwa ECFR menyatakan kebolehan, bahwa penggunaan susu dari
bank ASI tidak menyebabkan adanya hubungan mahram (keluarga)

40

Pemakalah lihat ringkasan beliau dalam bentuk PDF, Yusuf al-Qaradhawi, Fi Fiqh al-Aqalliyyat al-Muslimah
Hayat al-Muslimah Hayat al-Muslimin Wasath al-Mujtamaat al-Ukhra (Beirut: Dar al-Syuruq, 2001).
41
Q.S. Al-Maidah ayat 3, (Pe-review merujuk pada buku karangan Ahmad Imam Mawadi).
42
Q.S. Al-Rum ayat 30., Ibid.
43
Abdullah bin al-Syaikh al-Mahfuzh bin Bayyah, Shinaah al-Fatwa wa Fiqh al-Aqalliyyat, (Lubnan, Beirut: Dar
al-Minhaj, 2007), h. 168.

2012

|10

satu susuan, dengan alasan karena tidak bisa ditentukan kadar


susuannya.44
Kaidah perubahan fatwa karena perubahan masa adalah kaidah
umum untuk semua hukum Islam. Kaidah ini sangat fundamental
dalam rangka menjaga keterkaitan konteks dengan ketentuan
hukum. Menurut Yusuf al-Qaradhawi kaidah perubahan zaman
adalah hukum yang ditetapkan dalam urf dan kebiasaan. Contoh
dari kaidah ini, hukum yang menjadi tempat tinggal dan menjadi
warga negara di negara Barat, seperti Amerika dan Inggris yang
sudah jelas pemerintahnya tidak berdasarkan syariat Islam.45
Kaidah kondisi darurat membolehkan sesuatu yang dilarang adalah
popular dan merupakan ijma ulama, sementara kaidah kebutuhan
bisa menempati posisi darurat dalam penentuan hukum adalah
kaidah yang tidak diketahui kalangan umum. Wahbah al-Zuhayli
menyajikan contoh aplikasi kaidah kebutuhan menempati posisi
darurat dalam penentuan hukum ini, seperti washiyyah (wasiat),
jualah (janji hadiah atau upah), hiwalah (pengalihan utang), kafalah
(pemberian garansi atau jaminan).46
Kaidah berikutnya adalah kaidah tentang kebiasaan (al-urf). Bin
Bayyah mengutip pendapat beberapa ulama yang menyatakan kehujjiyah-an urf dalam penentuan hukum atau fatwa, seperti alQarafi, Izz bin Abd al-Salam, al-Suyuthi, al-Ghazali, Ibn Abidin, dll.
Contoh

dari

kaidah

tersebut,

kebolehan

masyarakat

muslim

mengucapkan selamat hari raya agama lain kepada pemeluknya,


karena sudah menjadi tradisi yang dimana jika tidak diikuti akan
memungkinkan berkurangnya bahkan hilangnya tali persahabatan
dan kekeluargaan.47
Kaidah mempertimbangkan akibat-akibat hukum menjadi kaidah
esensial dalam upaya realisasi kemaslahatan. Metode istinbath
hukum dalam ushul fiqh, seperti istihsan, maslahah mursalah, sad
al-dharai wa fathuha, dan semisalnya adalah aplikasi dari kaidah
44
45
46
47

Ibid., h. 350.
Ahmad Imam Mawardi., Op.cit. h. 259-260.
Ibid., h. 262.
Ibid, h. 264.

2012

|11

pertimbangan akibat hukum ini. Dan kaidah yang terakhir tentang


memosisikan masyarakat umum pada posisi hakim. Kaidah ini
sangat bermakna sebagai justifikasi lembaga-lembaga keislaman di
Negara Barat untuk bisa bertindak sebagai hakim dalam urusanurusan

keagamaan.

perceraian,

Dalam

membutuhkan

hal-hal
peran

tertentu,
hakim

pernikahan

sebagaimana

dan
yang

disebutkan dalam fiqh klasik.48


Bagian ketiga Bin Bayyah memaparkan contoh-contoh atau produk
fatwa

dalam

fiqh

al-aqalliyyat

yang

di

bolehkan

terjadi

di

masyarakat minoritas yang berada di negara Barat.


a. Bidang keyakinan
EFCR mengemukakan memberikan ucapan selamat atas hari raya
kepada

mereka

diperbolehkan,

dalilnya

adalah

Q.S.

Al-

Mumtahanah: 8 dan 9.49 Menyampaikan ucapan selamat hari raya


kepada mereka adalah suatu perbuatan yang diperbolehkan
karena bagian dari perbuatan baik ketika memang memberikan
efek positif dalam pola interaksi kemanusiaan. Yang tidak
diperbolehkan

adalah

mengikuti

acara

ritual

keagamaan

mereka.50
b. Bidang ekonomi
Pembelian rumah dengan menggunakan kredit Bank berbunga
dan pemanfaatan zakat untuk membangun lembaga keislaman.51
c. Bidang politik
Hukum
tinggal
di
Negara
non-Islam
dan
memiliki
Kewarganegaraan negara tersebut. Hukum ikut serta dalam
masalah politik. 52
d. Bidang hukum keluarga

48

Ibid, h. 266.

49

Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada
memerangimu Karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai
orang-orang yang berlaku adil.Sesungguhnya Allah Hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orangorang yang memerangimu Karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk
mengusirmu. dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim
50
Ahmad Imam Mawardi, Op.cit, 156.
51
Ibid., h. 159.
52
Ibid., h. 162.

2012

|12

Tentang kebolehan seorang muslim menerima warisan dari


kerabatnya yang beragama non-muslim dan status pernikahan
istri yang masuk Islam sementara suaminya tetap non-muslim. 53

8. The Importance of Topic.54


Studi Fiqh al-aqalliyyat sangat penting di pelajari. Hanya tidak
banyak mendapatkan perhatian. Fiqh yang berkembang cenderung
pada muara fiqh yang ditulis dan berkembang di Negara-negara Timur
Tengah. Kenyataannya Timur Tengah dijadikan kiblat.
Fiqh minoritas sebenarnya bukanlah suatu bentuk fiqh yang seratus
persen baru dan terpisah dari fiqh tradisional. Fiqh minoritas hanyalah
salah satu cabang dari disiplin ilmu fiqh yang luas dalam Islam. Ia
merujuk pada sumber yang sama, yaitu Al-Quran, sunnah, ijma, dan
qiyas. Ia juga menggunakan metodologi ushul fiqh yang sama dengan
fiqh lainnya. Karena itulah, fiqh minoritas tidak perlu ditakuti atau
dicurigai.
Namu demikian fiqh minoritas ini perlu dibedakan fiqh yang lainnya,
karena ia mempunyai sifat khusus yang disebabkan oleh realitas
khusus,

dan

didesain

untuk

kepentingan

kemashlahatan

kaum

minoritas muslin di negara-negara Barat, utamanya di Amerika dan


Inggris.
9. The

Theoritical

Framework/

Approach

and

Research

Methodology.55
Secara garis besar, Bin Bayyah memposisikan maqashid al-syariah
sebagai metode pendekatan ketimbang sebagai konsep nilai yang
agung. Yusuf al-Qaradhawi mengatakan maqashid al-syariah menjadi
suatu kaidah dalam melakukan proses pilihan hukum, tarjih, dan
istinbath hukum.56 Ada dua implikasi besar terhadap perkembangan
53

Ibid., h. 168.
Menjelaskan seberapa penting topik yang dikarang penulis.
55
Bagian ini mencakup metodologi apa yang digunakan penulis, yang berakibatkan kegelisahan-kegelisahan
sehingga buku itu terbit.
56
Ahmad Imam Mawardi., Op.cit, h. 266.
54

2012

|13

fiqh kontemporer, yaitu implikasi pada dasar hukum dan bentuk hukum.
Terjadi pergeseran dasar hukum dari dalil-dalil particular menuju dalil
universal serta pergeseran dari fiqh ideologis transnasional menuju fiqh
geografis lokal.57
Selain itu pe-review

berpendapat Bin

Bayyah menilai

dalam

pendekatan sosio-historis. Mengikuti tesis Peter L. Berger dan Thomas


Luchman, sosiologi adalah sebuah cara menganalisis suatu kenyataan
berdasarkan pada kenyataan-kenyataan yang hidup sehari-hari. 58 Yang
di maksud dengan pendekatan sosiologi dalam studi dan pemikiran
hukum Islam adalah mempelajari fakto-faktor sosial, politik, dan
cultural apa yang melatarbelakangi lahirnya suatu produk pemikiran
hukum Islam, dan bagaimana dampak produk pemikiran hukum Islam
itu terhadap masyarakat.59
Dalam teknik pengumpulan data dipergunakan Library Research
yaitu penyelidikan kepustakaan dengan membaca kitab-kitab yang ada
relevannya dengan judul buku ini. Juga digunakan metode analisis
deduktif dan induktif, yakni menarik kesimpulan dari yang bersifat
khusus kepada bersifat umum dan sebaliknya.60
10.

The Limitation and Key Assumptions.61


Aspek penting yang dibahas adalah dasar-dasar fiqh minoritas

Muslim. Jenis fiqh ini ditolak oleh sebagian orang sementara yang lain
mengambil itu di luar batas-batasnya. Jadi, ini adalah bidang ilmu di
mana untuk mencari moderasi karena kebutuhan untuk membangun
fondasinya. Fondasi dari fiqh minoritas Muslim dapat dibagi ke dalam
tujuan dan aturan.62
Tujuannya adalah Pertama, tujuan umum, yaitu untuk melestarikan
kehidupan keagamaan minoritas Muslim di kedua tingkat individu dan
masyarakat. Kedua, penyebaran Islam di kalangan mayoritas penduduk
57

Ibid, h. 268.
Zuly Qodir, Islam Liberal, (Yogyakarta: LKiS, 2010), h. 57.
59
Yusdani, Menuju Fiqh Keluarga Progresif, (Yogyakarta: Kaukaba, 2011), h. 10.
60
Muhammad Azhar, Fiqh Kontemporer dalam Pandangan Aliran Neomodernisme Islam, (Yogyakarta: LESISKA,
1996), h. 13.
61
Menjelaskan pembahasan yang pokok dalam buku tersebut.
58

62

http://binbayyah.net/english/2012/02/20/on-the-fiqh-of-muslim-minorities/ tanggal 27 Juli 2012, pukul 20.38.

2012

|14

Barat. Ketiga, membentuk dasar hubungan dengan yang lain di tengah


status quo budaya dan internasional untuk menemukan keadaan saling
percaya dan penerimaan, suatu hal yang mungkin tidak terbatas pada
kasus

minoritas

Muslim

karena

situasi

internasional.

Keempat,

membangun fiqh komunal dalam kehidupan minoritas Muslim, yaitu,


bergerak dari individualitas kolektivitas.63
Adapun aturan, ini tidak berarti menemukan kembali yurisprudensi
baru atau aturan hukum. Ini berarti lebih untuk fokus ketika mencari
pada aturan yang ada dalam yurisprudensi dan warisan hukum yang
lebih dekat ke status quo minoritas sehingga untuk memeriksa kembali
dan menemukan kemungkinan berhadapan dengan situasi dari kaum
minoritas. Seperti fiqh klasik, fiqh minoritas Muslim mengacu pada dua
sumber syariah, yaitu Quran dan Sunnah. Fiqh minoritas Muslim
mengacu pada teks-teks tertentu yang berlaku untuk masalah yang
ditemukan di negara-negara minoritas dan bersama oleh mayoritas
Muslim.64
11.

Consistency.65
Sejauhmana ini pe-review buku menganggap penulis buku (Bin

Bayyah) konsisten dalam mengajukan ide-idenya sekaligus argumenargumen

yang

diajukan.

Hal

ini

dapat

dilihat

dalam

setiap

dirasakan

ketika

pembahasannya.
12.

Successful Effort of The Author. 66


Sukses dalam mengemukakan tesis

itulah

membaca buku ini, hal ini disebabkan kita dibawa dalam dunia lain,
yang notabennya tidak pernah kita sangka, seperti masuknya berbagai
macam keilmuan modern dalam pengkajian fiqh. Meskipun sebagian
ulama sepertinya banyak yang belum menyetujuinya, tetapi khazanah

63

Ibid.
Ibid.
65
Mencakup sejauhmana penulis buku konsisten dalam mengajukan ide-idenya sekaligus argumen-argumen
yang diajukan. Jika ada yang tidak konsisten, maka disitulah celah bagi para pe-riview untuk mengajukan kritik
atau bahkan penolakan terhadap Tesis yang diajukan.
66
Mencakup apakah penulis buku sukses dalam mengemukakan Tesis yang diajukan dengan dukungan
argumen yang memadai. Apakah peulis buku sukses menyelesaikan masalah-masalah akademik yang diajukan.
64

2012

|15

keilmuan beliau dalam memaparkan cukup kompleks dan melingkupi


berbagai macam sudut pandang.
13.

Quality of Writing.67
Buku ini ditulis secara baik dengan format yang juga menarik, hanya

belum ada terjemahan ke bahasa inggris atau bahasa Indonesia. Pereview mendapat bantuan dari web beliau dengan google translate dan
teman yang dapat mengartikan bahasa arab.
14.

Further Research.68
Buku ini sangat berimplikasi terhadap munculnya isu-isu penting

yang perlu untuk diteliti lebih lanjut, hal ini terbukti tidak sedikit buku,
artikel,

debat,

dan

lain

sebagainya

yang

muncul

dipermukaan

disebabkan hal-hal kontroversial yang ada di realita.


15.

Impact of the Book.69


Buku ini sangat berpengaruh bagi pe-review serta menarik untuk

dikaji lebih dalam, yang secara garis besarnya Bin Bayyah mengajak
kita untuk tidak hanya mengetahui fiqh klasik dan prihatin melihat
fenomena muslim minoritas di negara Barat. Dan betapa besarnya
sumbangan yang dapat diharapkan bagi kajian Islam dari analisis
linguistis, semiotis, dan kelimuan modern lainnya.
16.

Overall Judgrment.70
Melihat pada suatu karya yang menyajikan berbagai informasi dan

keilmuan tentang hukum Islam yang begitu luas lagi banyak terhadap
pemahaman kita tentang hasil-hasil yang kreatif dari proses budaya
dan peradaban Islam di negara Barat, oleh karenanya setiap pembaca
67

Mencakup hal apakah buku tersebut ditulis decara baik dengan format yang juga menarik, termasuk pula
kesalahan-kesalahan tulis, catatan kaki, daftar pustaka, dan lain sebagainya.
68
Mencakup apakah buku tersebut berimplikasi terhadap munculnya isu-isu penting yang perlu untuk diteliti
lebih lanjut.
69
Mencakup apakah buku itu berpengaruh terhadap pe-review. Jika ya, kemukakan secara singkat respon yang
diperlukan . lebih dari itu, pe-review diharapkan mampu menyajikan argumennya apakah buku itu penting dan
sekaligus menarik untuk dibaca oleh yang lain. Karena buku yang akan di-review cenderung buku yang baik dan
menarik, maka pe-review hendaknya memberi apresiasi wajar dan proporsional terhadap buku tersebut
sekaligus mendorong orang lain untuk membaca. Sebaliknya hal ini diletakkan pada bagian akhir pada book
review.
70
Mencakup terhadap dikemukakannya penilaian umum terhadap karya yang di-review.

2012

|16

dapat mengambil pelajaran dari sudut pandang mereka masingmasing. Buku ini berisi makna yang luar biasa bagi para pengkaji dan
peneliti budaya Islam, pendidikan Islam, terutama dalam pengkajian
hukum Islam. Tidak menutup kemungkinan, hasil yang dicapai suatu
saat dimodifikasi, tatapi hal tersebut tidak akan mudah terjadi dalam
waktu dekat bahkan sebaliknya butuh waktu yang relatif lama.
17.

The Result of Research/The Conclusion.71


Dari pemaparan Bin Bayyah, sangat jelas bahwa muslim minoritas di

negara Barat butuh perhatian lebih. Permasalahan-permasalahan yang


mereka

hadapi

tidak

lah

mudah

dalam

kehidupan

mereka.

Kemungkinan besar mereka telah memakai fiqh klasik dalam kehidupan


sehari-hari, tapi geografis yang berbeda dengan negara bagian Timur,
yang dimana penduduknya mayoritas muslim.
Permasalahan itu melahirkan fiqh al-aqalliyyat dan perkembangan
maqashid al-syariah jadi konsep pendekatan. Fiqh al-aqalliyyat adalah
format fiqh baru yang di buat secara khusus. Fiqh yang di gagas oleh
Thaha Jabir al-Alwani dan Yusuf al-Qaradhawi ini adalah bagian yang
tidak terputuskan dari sejarah perkembangan fiqh secara umum.
Produk hukum yang di hasilkan dari fiqh al-aqalliyyat berbeda dengan
produk hukum fiqh pada umumnya. Kalau dalam fiqh pada umumnya,
produk hukum di dasarkan pada hujjiyyah al-nash, kekuatan atau
otoritas nash, pada produk hukum dalam fiqh al-aqalliyyat didasarkan
pada hujjiyyah al-maqashid.
Selain itu Bin Bayyah juga menggunakan metodologi sosio-historis
dalam melihat faktor-faktor sosial, politik, ekonomi, dan sebagainya.
Demikianlah, buku Shinaah al-Fatwa wa Fiqh al-Aqalliyat yang di
tulis oleh Abdullah bin al-Syaikh al-Mahfuzh bin Bayyah, menawarkan
model ijtihad baru dalam ranah hukum Islam dengan persoalanpersoalan kontemporer yang dihadapi kaum muslimin yang berada di
negara Barat.

71

Menjelaskan kesimpulan pe-review selama membaca buku penulis.

2012

|17

DAFTAR PUSTAKA
Al-Quranul Al-Karim.
al-Alwani, Thaha Jabir. Nazharat Tasisiyyah fi Fiqh al-Aqalliyyat, diakses
di http://www.islamonline.net.
Azhar, Muhammad, Fiqh Kontemporer Dalam Pandangan Neomodernisme
Islam, Yogyakarta: LESISKA, 1996.
Bin Bayyah, Abdullah bin al-Syaikh al-Mahfuzh, Shinaah al-Fatwa wa Fiqh
al-Aqalliyyat, Lubnan, Beirut: Dar al-Minhaj, 2007.
Ensiklopedi Islam, Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve. 2005.
--------- 5 SYA-ZUN, Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, 1994.
--------- 2 FAS-KAL, Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, 1994.
Mawardi, Ahmad Imam, Fiqh Minoritas (Fiqh Al-Aqalliyyat dan Evolusi
Maqashid Al-Syariah dari Konsep ke Pendekatan), Yogyakarta: LKiS,
2010.
Qodir, Zuly, Islam Liberal (Varian-Varian Liberalisme Islam di Indonesia
1991-2002), Yogyakarta: 2010.
Umar, Hasbi, Nalar Fiqh Kontemporer, Jakarta: Gaung Persada Press, 2007.
Yusdani, Menuju Fiqh Keluarga Progresif, Yogyakarta: Kaukaba, 2011.
www.binbayyah.net
www.fiqhcouncil.org
www.e-cfr.org.

2012

|18

http://bayupurnanugraha.blog.com/2011/09/27/pengertian-syariah-fiqihqanun-fatwa-dan-qadha/, diakses tanggal 27 Juli 2012, pukul 20.40.


http://dariislam.blogspot.com/2010/03/fatwa-pengertian.html,

diakses

tanggal 27 Juli 2012, Pukul 20.12.


http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/1628/1/arab-nasrah5.pdf
diakses tanggal 27 Juli 2012, Pukul 22.39.
http://soleh.net/2008/11/16/pengertian-mufti-menurut-islam/

diakses

tanggal 27 Juli 2012, Pukul 22.40.


.

2012

|19