Anda di halaman 1dari 9

,

DEFENISI
Filariasis adalah penyakit cacing yang disebabkan oleh cacing filaria. Filariasis
disebut juga Elephantiasis ( kaki gajah ).
Filariasis atau yang lebih dikenal juga dengan penyakit kaki gajah merupakan
penyakit menular menahun yang disebabkan oleh infeksi cacing filaria dan ditularkan
oleh berbagai jenis nyamuk. Penyakit ini dapat menimbulkan cacat seumur hidup
berupa pembesaran tangan, kaki, payudara, dan buah zakar. Cacing filaria hidup di
saluran dan kelenjar getah bening. Infeksi cacing filaria dapat menyebabkan gejala
klinis akut dan atau kronik (Depkes RI, 2005).

Etiologi
Menurut sudoyo ( 2006 ), Filariasis disebabkan oleh infeksi cacing filaria yang hidup
di saluran dan kelenjar getah bening. Anak cacing yang disebut mikrofilaria, hidup
dalam darah. Mikrofilaria ditemukan dalam darah tepi pada malam hari. Filariasis di
Indonesia disebabkan oleh tiga spesies cacing filaria yaitu : Wuchereria bancrofti,
Brugia malayi, dan Brugia timori
F. Patofisiologi
Menurut sudoyo ( 2006 ), perubahan patologi utama disebabkan oleh kerusakan
pembuluh getah bening akibat inflamasi yang ditimbulkan oleh cacing dewasa,
bukan oleh mikrofilaria. Cacing dewasa hidup di pembuluh getah bening aferen atau
sinus kelenjar getah bening dan menyebabkan pelebaran pembuluh getah bening
dan penebalan dinding pembuluh. Infiltrasi sel plasm, eosinofil, dan makrofag di
dalam dan sekitar pembuluh getah bening yang mengalami inflamasi bersama
dengan proliferasi sel endotel dan jaringan penunjang, menyebabkan berliku-likunya
sistem limfatik dan kerusakan atau inkompetensi katup pembuluh getah bening.
Parasit memasuki sirkulasi saat nyamuk menghisap darah lalu parasit akan
menuju pembuluh limfa dan nodus limfa. Di pembuluh limfa terjadi perubahan dari
larva stadium 3 menjadi parasit dewasa. Cacing dewasa akan menghasilkan produk
produk yang akan menyebabkan dilatasi dari pembuluh limfa sehingga terjadi
disfungsi katup yang berakibat aliran limfa retrograde. Akibat dari aliran retrograde
tersebut maka akan terbentuk limfedema.
Perubahan larva stadium 3 menjadi parasit dewasa menyebabkan antigen
parasit mengaktifkan sel T terutama sel Th2 sehingga melepaskan sitokin seperti IL
1, IL 6, TNF . Sitokin - sitokin ini akan menstimulasi sum- sum tulang sehingga
terjadi eosinofilia yang berakibat meningkatnya mediator proinflamatori dan sitokin

juga akan merangsang ekspansi sel B klonal dan meningkatkan produksi IgE. IgE
yang terbentuk akan berikatan dengan parasit sehingga melepaskan mediator
inflamasi sehingga timbul demam. Adanya eosinofilia dan meningkatnya mediator
inflamasi maka akan menyebabkan reaksi granulomatosa untuk membunuh parasit
dan terjadi kematian parasit. Parasit yang mati akan mengaktifkan reaksi inflam dan
granulomatosa. Proses penyembuhan akan meninggalkan pembuluh limfe yang
dilatasi, menebalnya dinding pembuluh limfe, fibrosis, dan kerusakan struktur. Hal ini
menyebabkan

terjadi

ekstravasasi

cairan

limfa

ke

interstisial

yang

akan

menyebabkan perjalanan yang kronis.


G. Klasifikasi
Menurut sudoyo ( 2006), Limfedema pada filariasis bancrofti biasanya mengenai
seluruh tungkai. Limfedema tungkai ini dapat dibagi menjadi 4 tingkat, yaitu:
1. Tingkat 1. Edema pitting pada tungkai yang dapat kembali normal (reversibel) bila
tungkai diangkat.
2. Tingkat 2. Pitting/ non pitting edema yang tidak dapat kembali normal (irreversibel)
bila tungkai diangkat.
3. Tingkat 3. Edema non pitting, tidak dapat kembali normal (irreversibel) bila tungkai
diangkat, kulit menjadi tebal.
4. Tingkat 4. Edema non pitting dengan jaringan fibrosis dan verukosa pada kulit
(elephantiasis).
H.
1.
2.
3.

komplikasi
cacat menetap pada bagian tubuh yang terkena
Elephantiasis tungkai
Limfedema : Infeksi Wuchereria mengenai kaki dan lengan, skrotum, penis,vulva

vagina dan payudara,


4. Hidrokel (40-50% kasus), adenolimfangitis pda saluran limfe testis berulang:
pecahnya tunika vaginalisHidrokel adalah penumpukan cairan yang berlebihan di
antaralapisan parietalis dan viseralis tunika vaginalis. Dalam keadaan
cairan yang berada di dalam

normal,

rongga itu memang adadan berada dalam

keseimbangan antara produksi dan reabsorbsi oleh sistem limfatik di sekitarnya.


5. Kiluria : kencing seperti susu
karena bocornya atau pecahnya saluran limfe oleh cacing dewasa yang
menyebabkan masuknya cairan limfe ke dalam saluran kemih.

I.

Pathway / WOC

J. Manifestasi Klinis
Gejala-gejala yang terdapat pada penderita Filariasis meliputi gejala awal (akut)
dan gejala lanjut (kronik). Gejala awal (akut) ditandaidengan demam berulang 1-2
kali atau lebih setiap bulan selama 3-4 hari apabila bekerja berat, timbul benjolan
yang terasa panas dan nyeri pada lipat paha atau ketiak tanpa adanya luka di
badan, dan teraba adanya tali urat seperti tali yang bewarna merah dan sakit mulai
dari pangkal paha atau ketiak dan berjalan kearah ujung kaki atau tangan. Gejala
lanjut (kronis) ditandai dengan pembesaran pada kaki, tangan, kantong buah zakar,
payudara dan alat kelamin wanita sehingga menimbulkan cacat yang menetap
(Depkes RI, 2005).
Menurut simtomatologi filariasis terbagi menjadi 2 yaitu :
1. Stadium akut

Peradangan : limfangitis, funikulitis, epididimistis, setelah bekerja berat berlangsug 2


3 minggu disertai demam, sakit kepala, muntah, lesu, dan anoreksia
2. Stadium menahun
Terjadi hidrokel, limfaedema, dan elephanthiasis
K. Pemeriksaan diagnostik
Menurut sudoyo ( 2006 ), pemeriksaan diagnostik filariasis adalah
1. Pemeriksaan darah lengkap
2. Pemeriksaan USG Dopler skrotum pada pria dan payudara pada wanita
memperlihatkan adanya cacing dewasa yang bergerak aktif di dalam pembuuh
getah bening yang mengalami dilatasi
3. Pemeriksaaan PCR untuk mendeteksi DNA W. Bancrofi sudah mulai dikembangkan.
4. Tes ELISA dan ICT untuk memeriksa antigen W. Bancrofit yang bersirkulasi.
5. Pemeriksaan serologi antibodi ( antibody subklas IgG4 ), digunakan untuk
mendeteksi W. Bancrofit.

L. Penatalaksanaan
Menurut sudoyo ( 2006 ), penatalaksanaan filariasis adalah
1. Perawatan umum
a. Istrahat ditempat tidur, pindah tempat kedaerah yang dingin akan megurangi derajat
serangan akut.
b. Antibiotik dapat diberikan untuk infeksi skunder dan abses
c. Pengikatan didaerah pembendungan akan mengurangi edema
2. Medis
Dietilkarbamasin sitrat (DEC) merupakan obat filariasis yang ampuh, baik untuk
filariasis bancrofti maupun brugia, bersifat makrofilarisidal dan mikrofilarisidal. Obat
ini ampuh, aman dan murah, tidak ada resistensi obat, tetapi memberikan reaksi
samping sistemik dan lokal yang bersifat sementara. Reaksi sistemik dengan atau
tanpa demam, berupa sakit kepala, sakit pada berbagai bagian tubuh, persendian,
pusing, anoreksia, kelemahan, hematuria transien, alergi, muntah dan serangan
asma. Reaksi lokal dengan atau tanpa demam, berupa limfadenitis, abses, ulserasi,
limfedema transien, hidrokel, funikulitis dan epididimitis. Reaksi samping sistemik
terjadi beberapa jam setelah dosis pertama, hilang spontan setelah 2-5 hari dan
lebih sering terjadi pada penderita mikrofilaremik.

Reaksi samping ditemukan lebih berat pada pengobatan filariasis brugia,


sehingga dianjurkan untuk menurunkan dosis harian sampai dicapai dosis total
standar, atau diberikan tiap minggu atau tiap bulan. Karena reaksi samping DEC
sering menyebabkan penderita menghentikan pengobatan, maka diharapkan dapat
dikembangkan penggunaan obat lain (seperti Ivermectin) yang tidak/kurang memberi
efek samping sehingga lebih mudah diterima oleh penderita.
DEC tidak dapat dipakai untuk khemoprofilaksis. Pengobatan diberikan peroral
sesudah makan malam, diserap cepat, mencapai konsentrasi puncak dalam darah
dalam 3 jam, dan diekskresi melalui air kemih. DEC tidak diberikan pada anak
berumur kurang dari 2 tahun, ibu hamil/menyusui, dan penderita sakit berat atau
dalam keadaan lemah.
Pada filariasis bancrofti, Dietilkarbamasin diberikan selama 12 hari sebanyak 6
mg/kg berat badan, sedangkan untuk filariasis brugia diberikan 5 mg/kg berat badan
selama 10 hari. Pada occult filariasis dipakai dosis 5 mg/kg berat badan selama 23
minggu.
Pengobatan sangat baik hasilnya pada penderita dengan mikrofilaremia, gejala
akut, limfedema, chyluria dan elephantiasis dini. Sering diperlukan pengobatan lebih
dari 1 kali untuk mendapatkan penyembuhan sempurna. Elephantiasis dan hidrokel
memerlukan penanganan ahli bedah.
Pengobatan

nonfarmako pada filariasis adalah istirahat di tempat tidur,

pengikatan di daerah pembendungan untuk mengurangi edema, peninggian tungkai,


perawatan kaki, pencucian dengan sabun dan air, ekstremitas digerakkan secara
teratur untuk melancarkan aliran, menjaga kebersihan kuku, memakai alas kaki,
mengobati luka kecil dengan krim antiseptik atau antibiotik, dekompresi bedah, dan
terapi nutrisi rendah lemak, tinggi protein dan asupan cairan tinggi
Dalam pelaksanaan pemberantasan dengan pengobatan menggunakan DEC
ada beberapa cara yaitu dosis standard, dosis bertahap dan dosis rendah.
Dianjurkan Puskesmas menggunakan dosis rendah yang mampu menurunkan mf
rate sampai < 1%. Pelaksanaan melalui peran serta masyarakat dengan prinsip
dasa wisma. Penduduk dengan usia kurang dari 2 tahun, hamil, menyusui dan sakit
berat ditunda pengobatannya. DEC diberikan setelah makan dan dalam keadaan
istirahat.
M. Tindakan Pencegahan dan Pemberantasan Filariasis

Menurut Depkes RI (2005), tindakan pencegahan dan pemberantasan filariasis


yang dapat dilakukan adalah:
1. Melaporkan ke Puskesmas bila menemukan warga desa dengan pembesaran kaki,
2.

tangan, kantong buah zakar, atau payudara.


Ikut serta dalam pemeriksaan darah jari yang dilakukan pada malam hari oleh

petugas kesehatan.
3. Minum obat anti filariasis yang diberikan oleh petugas kesehatan.
4. Menjaga kebersihan rumah dan lingkungan agar bebas dari nyamuk penular.
5. Menjaga diri dari gigitan nyamuk misalnya dengan menggunakan kelambu pada saat
tidur.
N. Kebijakan Program dan Strategi Pemberantasan Filariasis
Menyusul kesepakatan global pada tahun 1997, WHA yang menetapkan
filariasis sebagai masalah kesehatan masyarakat dan diperkuat dengan keputusan
WHO pada tahun 2000 untuk mengeliminasi fiariasis pada tahun 2020, Indonesia
sepakat untuk melakukan program eliminasi filariasis yang dimulai pada tahun 2002.
Berdasarkan surat edaran Menteri Kesehatan nomor 612/MENKES/VI/2004 maka
kepada Gubernur dan Bupati/Walikota di seluruh Indonesia melaksanakan pemetaan
eliminasi filariasis gobal, pengobatan massal daerah endemis filariasis, dan tata
laksana penderita filariasis di semua daerah. Program pelaksaan kasus filariasis
ditetapkan sebagai salah satu wewenang wajib pemerintah daerah sesuai dengan
Keputusan Menteri Kesehatan RI nomor: 1457/MENKES/SK/X/2003 tentang standar
pelayanan minimal bidang kesehatan di Kabupaten/Kota. Kebijakan yang ditetapkan
dalam program pemberantasan filariasis adalah:
1.

Eliminasi filariasis merupakan salah satu prioritas nasional dalam program

pemberantasan penyakit menular.


2. Melaksanakan eliminasi filariasis di Indonesia dengan menerapkan programeliminasi
filariasis limfatik global dari WHO yaitu memutuskan rantai penularan filariasis dan
3.

mencegah serta membatasi kecacatan.


Satuan lokasi pelaksanaan (implementation unit) eliminasi filariasis adalah

Kabupaten/Kota.
4. Mencegah penyebaran filariasis antar kabupaten, propinsi dan negara.
5. Strategi yang dilakukan dalam mendukung kebijakan dalam program
pemeberantasan filariasis adalah:

1. Memutuskan rantai penularan filariasis melalui pengobatan massal di daerah


endemis filariasis.
2. Mencegah dan membatasasi kecacatan melalui penatalaksanaan kasus klinis
filariasis.
3. Pengendalian vektor secara terpadu.
4. Memperkuat kerjasama lintas batas daerah dan negara.
5. Memperkuat survailans dan mengembangkan penelitian.
DAFTAR PUSTAKA
Doengoes C Marilym. (2000). Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta : EGC
Price S.A Wilson. (2006). Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Jakarata:
EGC
Smeltzer C Suzanne. (2001). Buku Ajar Keperawatan Medical Bedah. Jakarta : EGC
Sudoyo, Aru W, dkk. (2009). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid III. Edisi IV. Jakarta:
FKUI
Syaifudin. (2006). Anatomi Fisioloi; untuk Mahasiswa Keperawatan. Edisi III. Jakarta:
EGC