Anda di halaman 1dari 5

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Perpindahan penduduk dari desa ke kota disebut dengan urbanisasi.
Bertambahnya arus urbanisasi akan diikuti dengan pertambahan jumlah penduduk di
kota besar sehingga mengakibatkan semakin padatnya pemukiman dan semakin
terbatasnya lahan yang ada. Untuk mengatasi permasalahan keterbatasan ruang, para
ahli konstruksi membangun ruang ke atas bukan ke samping dalam bentuk bangunan
bertingkat (multy-story building).
Meskipun sepertinya merupakan suatu solusi yang efektif, pembangunan
bangunan bertingkat tidak semudah seperti yang direncanakan. Salah satu hambatan
dalam pembangunan ini ialah keberadaan bangunan purbakala atau heritage building
yang keberadaannya harus dilestarikan. Dengan keberadaan bangunan purbakala,
ruangan untuk membangun bangunan baru semakin berkurang. Untuk itu, munculah
gagasan yakni membangun sebuah bangunan bertingkat di atas bangunan purbakala
yang bersangkutan dengan menggunakan sistem transfer yang terdiri dari balok
transfer dan kolom-kolom pendukung.
Sistem transfer yang ada terdiri dari balok transfer dengan bentang 18 meter
dan kolom-kolom pendukung sebagai dudukan balok transfer. Ukuran kolom
pendukung lebih besar dibandingkan dengan kolom-kolom lainnya, sementara balok
transfer menggunakan balok prategang parsial (partial prestress) yang dirancang
dengan metode load balancing. Sistem transfer (balok transfer dan kolom-kolom
pendukung) akan didesain dengan faktor kuat lebih bangunan dengan tujuan agar
sistem transfer tidak gagal terlebih dahulu dibanding dengan komponen-komponen
struktur lainnya.
Bangunan baru dengan sistem transfer ini rencananya akan dibangun di
Jakarta yang mana merupakan wilayah gempa di Indonesia. Perencanaan tahan
gempa berbasis kekuatan (strength based design) terhadap bangunan baru ini sudah
dilakukan

pada

penelitian

sebelumnya.

Pada

penelitian

ini,

perencanaan

tahan gempa akan mengikuti trend terkini yaitu perencanaan berbasis performa
(performance based design).
Selama puluhan tahun, berbagai peraturan perencanaan bangunan tahan gempa
telah menganggap bahwa kekuatan dan performa (strength and performance) adalah dua
hal yang sama (Priestley : 2000). Bagaimanapun juga, dalam 20 tahun terakhir tercipta
pergeseran pengertian akibat kesadaran manusia bahwa meningkatkan kekuatan
bangunan belum tentu mampu mengurangi kerusakan dan meningkatkan safety
bangunan. Perkembangan selanjutnya menghasilkan desain kapasitas (capacity design)
dari Park dan Paulay tahun 1976 yang menunjukkan bahwa distribusi kekuatan
bangunan lebih penting daripada desain yang hanya berdasarkan gaya geser dasar
semata. Portal bangunan mampu berperilaku lebih baik dengan pembentukan sendi
plastis di balok dan perencanaan geser yang berdasarkan gaya geser akibat kapasitas
lentur. Hal ini menjadi awal mula perkembangan performance based design, dimana
performa bangunan dikontrol sebagai fungsi dari proses desain.
Pada umumnya performance based design merupakan prosedur perancangan
yang didalamnya terdapat analisa non-linier berbasis komputer untuk mengetahui
perilaku inelastis struktur dari berbagai macam intensitas gerakan tanah sehingga dapat
diketahui kinerjanya pada kondisi kritis. Salah satu metode analisis dalam performance
based design ialah analisa pushover, yaitu analisa yang dilakukan dengan memberikan
struktur suatu pola beban lateral statik yang kemudian ditingkatkan dengan faktor
pengali sampai satu target perpindahan lateral di titik tertentu tercapai pada struktur.
Titik ini dinamakan titik kontrol dan terletak di pusat massa atap.
Dalam penelitian ini, bangunan bertingkat dengan sistem transfer dan bangunan
regular tipikal tanpa sistem transfer dicari tahu level kinerjanya dengan analisa
pushover. Kedua bangunan memiliki denah tipikal namun pada salah satu bangunan
memiliki daerah tanpa kolom, yang mana perannya digantikan oleh sistem transfer.
Kedua bangunan kemudian diharapkan memiliki level kinerja yang sama yakni Life
Safety (berdasarkan FEMA 356). Hasil dari penelitian ini akan memberikan level kinerja
kedua bangunan dan pengaruh dari variasi sistem transfer terhadap kinerja bangunan
bertingkat.

1.2 Rumusan Permasalahan


Rumusan permasalahan yang terkandung dalam penelitian ini ialah :
a.

Bagaimana perbandingan karakteristik dinamik kedua jenis bangunan?

b.

Bagaimana perbandingan level kinerja antara bangunan dengan sistem transfer dan
bangunan konvensional tanpa sistem transfer berdasarkan FEMA 356?

c.

Berapakah performa inelastis aktual yang tersedia pada masing-masing struktur dan
perbandingannya satu sama lain?

d.

Bagaimana pengaruh variasi sistem transfer terhadap level kinerja bangunan?

1.3 Tujuan Penelitian


Dengan perumusan masalah seperti yang sudah tertera di atas, tujuan dari penelitian ini
ialah :
a.

Menjelaskan perbandingan karakteristik dinamik antara bangunan dengan sistem transfer


dan bangunan tanpa sistem transfer.

b.

Menjelaskan perbandingan kinerja kedua jenis bangunan berdasarkan dokumen FEMA 356
dan bantuan analisa pushover yang dilakukan dengan program SAP 2000 v.15.0.1.

c.

Mencari tahu performa inelastis aktual struktur serta membandingkan dengan nilai yang
digunakan sesuai peraturan (SNI 03-1726-201x).

d.

Menjelaskan pengaruh variasi sistem transfer terhadap level kinerja bangunan.

1.4 Batasan Penelitian


Adapun pembatasan dalam penelitian ini ialah :
a.

Kedua bangunan sudah dianalisa terlebih dahulu berdasarkan kekuatan (strength based
design) untuk mendapatkan karakteristik dinamik serta luasan tulangan yang diperlukan
menggunakan program ETABS v.9.6. Hasil tulangan ini menjadi input analisa pushover
yang dikakukan dengan menggunakan program SAP 2000 v.15.0.1.

b.

Pembebanan yang dilakukan dalam perencanaan berbasis kekuatan ialah pembebanan


gravitasi dan gempa.

c.

Spesifikasi material dan dimensi komponen yang digunakan dapat dilihat pada Bab III
Metodologi Penelitian.

d.

Metode konstruksi bangunan tidak ditinjau.

e.

Zona pengangkuran balok prategang tidak diperhatikan.

f.

Karakteristik non-linear material strand diambil berdasarkan nilai default dari program
RESPONSE 2000 yang mana lebih konservatif dibanding nilai aslinya.

g.

Tahapan pemberian gaya prategang tidak ditinjau. Kondisi perancangan langsung merujuk
pada kondisi service dengan beban luar sudah bekerja penuh dan gaya prategang sudah
mengalami kehilangan.

h.

Desain balok prategang parsial dilakukan hanya berdasarkan aspek lentur.

i.

Perencanaan berbasis performa (performance based design) yang digunakan mengacu pada
dokumen FEMA 356 dalam penentuan level kinerjanya.

1.5 Sistematika Penulisan


Adapun sistematika penulisan pada seminar ini ialah :
BAB I : PENDAHULUAN
Bab ini berisi tentang latar belakang penelitian, rumusan masalah, tujuan penelitian,
pembatasan masalah, serta sistematika penulisan laporan.

BAB II : DASAR TEORI


Bab ini memberikan

penjelasan dasar teori penelitian

yang akan dilakukan

berdasarkan teori-teori yang sudah ada sebelumnya

BAB III : METODOLOGI PENELITIAN


Bab ini berisi tentang uraian mengenai prosedur analisa, modelisasi struktur,
variabel analisa dan prosedur kerja yang dilakukan untuk tugas akhir ini.

BAB IV : HASIL DAN PEMBAHASAN


Bab ini berisikan hasil dari analisa yang sudah dilakukan beserta pembahasannya
dengan merujuk pada hasil yang sudah didapatkan.

BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN


Bab ini berisi kesimpulan akhir dari penelitia beserta saran yang diperlukan untuk
penelitian di masa depan.

1.6 Hipotesis Penelitian


Karakteristik dinamik kedua jenis bangunan (periode getar, pola ragam getar, dan
pastisipasi massa tiap pola ragam getar) tidak akan jauh berbeda (rentang perbedaan < 10%).
Level kinerja bangunan berdasarkan dokumen FEMA 356 diharapkan adalah sama dan berada
pada tingkat Life Safety. Hipotesa yang terakhir yakni sistem transfer memberikan pengaruh
terhadap hasil analisa antara lain nilai R dan aktual struktur, dimana rasio daktilitas struktur
konvensional akan lebih tinggi dibanding dengan struktur dengan sistem transfer. Selain itu
sistem transfer juga akan mempengaruhi distribusi sendi plastis di bangunan, jumlah sendi plastis
yang terbentuk, kemampuan disipasi energi, dan lain-lain.