Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Protokol Kyoto 1997 yang bertujuan untuk memperlambat pemanasan global
telah diberlakukan sejak 16 Februari 2005. Kesepakatan itu menyatakan perlunya
pengurangan emisi sebesar 5,2 persen dari tingkat pada tahun 1990, sebelum tahun
2012. Emisi terbesar yang perlu dikurangi adalah karbon dioksida (CO 2) selain
metan, nitrous oxide, sulfur heksafluorida, HFC, dan PFC yang merupakan gas rumah
kaca (Hart John, 2005)
Pada tahun 1750, terdapat 281 molekul karbondioksida pada satu juta molekul
udara (281 ppm). Pada Januari 2007, konsentrasi karbondioksida telah mencapai 383
ppm (peningkatan 36 persen). Jika prediksi saat ini benar, pada tahun 2100,
karbondioksida akan mencapai konsentrasi 540 hingga 970 ppm. Estimasi yang lebih
tinggi memperkirakan bahwa konsentrasinya akan meningkat tiga kali lipat bila
dibandingkan masa sebelum revolusi industri. Kenaikan ini dipercepat dengan
industrialisasi dan aktifitas manusia.
Kontributor utama terhadap emisi CO2 ke atmosfer adalah pembakaran bahan
bakar fosil (seperti pembangkit listrik, kendaraan) dan pembakaran hutan (terutama di
daerah tropis). Estimasi emisi CO2 tahun 1989 yang dihasilkan dari dari aktifitas
manusia sebesar 5,8 8,7 juta ton, dimana 71% - 89% berasal dari pembakaran bahan
bakar fosil dan 10% - 28% dari pembakaran hutan.
Bahan bakar fosil terdiri dari batubara, minyak bumi dan gas alam.
Intergovernmental Panel of Climate Change (IPCC) mengeluarkan data cadangan
dan produksi bahan bakar fosil dunia yang ditampilkan pada Tabel 1.1

BAB I. Pendahuluan

Jenis bahan bakar

Tabel 1.1 Cadangan Sumber Bahan Fosil Dunia


Cadangan
Produksi
Cadangan/
(giga ton)
(giga ton/tahun)
produksi

Batu bara

486

2,2

218

Minyak bumi

143

3,5

41

Gas alam

132

63

(Sumber: IPCC)

Dari Table 1.1 dapat dilihat bahwa batu bara memiliki cadangan
paling banyak diantara bahan bakar fosil lainnya, sehingga batu
bara kemungkinan akan digunakan untuk waktu yang lama.
Pada Gambar 1.1 emisi CO2 dapat dikurangi dengan beberapa cara dan
teknologi. CO2 secara geologi dapat diinjeksi ke perut bumi melalui pipa atau bantuan
kapal sehingga tidak ada emisi ke atmosfir. Injeksi CO 2 kedalam perut bumi
digunakan secara komersial untuk meningkatkan laju produksi minyak mentah.
Penangkapan CO2 juga digunakan untuk industri komersial, dimana CO2 dimurnikan
menjadi bahan yg lebih berguna dan memiliki nilai tambah.

Gambar 1.1 Teknologi Pengurangan CO2


(Sumber: Ali Muzzafar, 2007)

Proposal Pra Rancang Pabrik


Pemurnian dan Pencairan Gas CO2 Dengan Bahan Baku Gas Buang PLTU Kapasitas 87.600 Ton/Tahun

BAB I. Pendahuluan

Salah satu penyumbang terbesar emisi CO 2 dari pembakaran bahan bakar fosil
adalah industri Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbahan bakar batu bara.
Kebutuhan energi listrik di Indonesia pada era globalisasi semakin meningkat.
Dengan meningkatnya kebutuhan tersebut menyebabkan meningkatnya jumlah emisi
gas rumah kaca. Untuk itu perlu upaya-upaya mengurangi emisi CO 2, salah satunya
dengan menangkap dan memurnikan gas CO 2. Terdapat beberapa teknologi carbon
capture and storage (CCS) yang telah berhasil dilakukan di beberapa negara maju.
Teknologi ini memanfaakan gas buang beberapa jenis industri sebagai bahan baku.
CO2 yang terdapat dalam gas buang ditangkap dalam kolom absorpi dan dimurnikan
dalam kolom distilasi. Sehingga jumlah emisi CO 2 yang terbuang ke atmosfer
bersama degan gas buang berkurang.
Teknologi penangkapan CO2 dapat diklasifikasikan menjadi 3 kategori, yaitu
Pre-combustion Capture, Oxy-Fuel Combustion Capture dan Post Combustion
Capture. Perbedaan diantara ketiga kategori tersebut ditunjukan pada Gambar 1.2

Gambar 1.2 Metode Penangkapan Gas CO2

Proposal Pra Rancang Pabrik


Pemurnian dan Pencairan Gas CO2 Dengan Bahan Baku Gas Buang PLTU Kapasitas 87.600 Ton/Tahun

BAB I. Pendahuluan

(Sumber: Ali Muzzafar, 2007)

Industri pemurnian CO2 tidak saja memberi kontribusi pada penyelamatan


lingkungan, namun dari segi ekonomi memiliki daya jual yang sangat tinggi. Produk
akhir pabrik berupa CO2 murni standard food grade ini sangat diperlukan oleh
berbagai jenis industri. Hanya saja, CO2 murni yang dihasilkan masih menggunakan
bahan baku dari minyak bumi, sehingga harga jual CO 2 murni menjadi mahal.
Dengan adanya pembangunan pabrik pemurnian dan pencairan CO 2 ini diharapkan
tingginya kebutuhan CO2 murni di Indonesia bisa segera terpenuhi dengan harga jual
yang lebih rendah.
1.1.1

Perkembangan dan Kebutuhan karbon dioksida cair di Indonesia


CO2 memiliki banyak kegunaan dalam berbagai industri. Diantaranya:
1. CO2 mudah dipadatkan. CO2 padat ini menyublim di bawah tekanan atmosfer
(CO2 cair hanya terdapat pada tekanan lebih besar dari 5,3 atm). CO 2 padat
yang disebut es kering (dry ice) digunakan sebagai pendingin.
2. Untuk memadamkan kebakaran. Karena CO2 lebih berat dari udara, CO2
mengusir udara dari sekitar daerah yang disemprot sehingga api mati. Tabung
pemadam kebakaran berisi CO2 cair dengan tekanan sekitar 60 atm. Ketika
katup alat tersebut dibuka, CO2 cair akan segera menguap dan mengembang.
Kedua proses itu menyebabkan penurunan suhu sehingga sebagian CO 2 akan
membeku membentuk sejenis kabut atau salju yang menutupi daerah yang
disemprot.
3. Dalam industri minuman, CO2 murni digunakan untuk pembuatan minuman
berkarbonasi, yang memberikan ras segar.
4. Dalam industri makanan, CO2 digunakan sebagai pengawet makanan serta
perikanan, pemutihan gula, hingga pembuatan rokok.
5. Selain itu CO2 murni juga bisa digunakan dalam industri manufaktur
pengelasan, pemutihan kertas, fumigasi pada sektor pertanian serta secondary
oil recovery.
6. CO2 digunakan untuk industry minuman berkarbonasi

Proposal Pra Rancang Pabrik


Pemurnian dan Pencairan Gas CO2 Dengan Bahan Baku Gas Buang PLTU Kapasitas 87.600 Ton/Tahun

BAB I. Pendahuluan

7. Ketersediaan CO2 cair dalam beberapa kondisi dapat menggantikan peranan dry
ice. CO2 Cair dapat disimpan& ditimbang dengan mudah tanpa kehilangan
massa.
8. CO2 digunakan sebagai pemadam api ringan (APAR) untuk memadamkan
kebakaran di alat alat listrik/elektronik
9. Dapat digunakan sebagai injection agent untuk mengatur temperature dalam
suatu system reaksi
10. CO2 cair dapat digunakan untuk mendinginkan truk ice cream dengan proses
pendinginan yg relative lebih cepat.
11. CO2 digunakan sebagai reagent di pabrik sodium salicylate, sodium dan
ammonium bicarbonate.
12. Sebagai asam lemah, larutan CO2 digunakan sebagi penetral kelebihan caustic
di industry tekstil.
13. CO2 cair telah lama digunakan untuk Long Airdox blasting system di industry
pertambangan.
Saat ini kebutuhan CO2 murni di Indonesia mencapai 250 ton per hari (Data: PT
RMI KK tahun 2009). Hanya saja, C02 murni yang dihasilkan masih menggunakan
bahan baku dari minyak bumi, sehingga harga jual CO2 murni menjadi mahal.
1.1.2

Ketersediaan Bahan Baku


Pembakaran bahan bakar fosil merupakan sumber terbesar emisi CO2. Tabel 1.2
menunjukkan kandungan karbon dalam beberapa jenis bahan bakar.

Tabel 1.2 Kandungan Karbon Bahan Bakar


Jenis Bahan Bakar
Batubara
LPG
Gas
Automotive Diesel Oil (ADO)

Ton C per TJ
26.2
17.2
15.3
20.2

Proposal Pra Rancang Pabrik


Pemurnian dan Pencairan Gas CO2 Dengan Bahan Baku Gas Buang PLTU Kapasitas 87.600 Ton/Tahun

BAB I. Pendahuluan

Fuel Oil (FO)


Industrial Diesel Oil (IDO)
Kerosene
Premium
Kayu bakar
Avgas/Avtur
(Sumber: Dept. ESDM)

21.1
20.2
19.6
18.9
29.9
19.5

Dapat dilihat pada Tabel 1.2 bahan bakar yang memiliki kandungan karbon terbesar
adalah batu bara. Saat ini, data menunjukan bahwa cadangan batubara di Indonesia
mencapai 65,4 milyar ton, yang tersebar di Sumatera dan di Kalimantan Timur,
sedangkan sisanya tersebar di pulau Jawa, Sulawesi dan Papua. Batubara di Indonesia
banyak dikonsumsi untuk keperluan industri, diantaranya industri semen, pulp, tekstil
metalurgi dan PLTU. Batubara juga dikonsumsi sebagai bahan bakar rumah tangga
setelah diolah menjadi briket dalam berbagai bentuk (Purnomo Yusgiantoro, 2008).
Tabel 1.3 Emisi CO2 dari Pembangkitan Energi Listrik
Tahun
1990
1991
1992
1993
1994
1995
1996
1997
1998
1999
2000

Produksi tenaga listrik


Emisi CO2
Faktor emisi CO2
(GWh)
(Juta Ton CO2)
(kg CO2/kWh)
32.293,2
24,20
0,749
37.290,5
28,04
0,752
39.422,6
30,05
0,762
38.608,0
26,52
0,687
44.668,5
34,21
0,766
52.832,4
35,34
0,669
57.523,5
54,69
0,951
68.924,4
51,10
0,741
74.461,0
50,92
0,684
80.023,8
55,32
0,691
83.503,5
60,07
0,719
(Sumber: Statistik PLN dan Dept. ESDM)

Pada Tabel 1.3 dapat dilihat produksi emisi CO 2 dari produksi tenaga listrik
setiap tahun semakin meningkat. Hal ini menunjukkan bahwa PLTU merupakan salah
satu sumber emisi CO2 yang ketersediannya terus meningkat. Data tahun 2000 pada
Gambar 1.3 menunjukkan emisi CO2 nasional yang bersumber dari pembangkit listrik
mencapai 60 juta ton/tahun.

Proposal Pra Rancang Pabrik


Pemurnian dan Pencairan Gas CO2 Dengan Bahan Baku Gas Buang PLTU Kapasitas 87.600 Ton/Tahun

BAB I. Pendahuluan

Gambar 1.3 Emisi CO2 nasional


(Sumber: Departemen ESDM)

1.1.3

Kapasitas Produksi
Pra rancangan pabrik pemurnian dan pencairan gas CO 2 dengan bahan baku gas

buang ini direncanakan akan didirikan berdampingan dengan PT Indonesia Power


UBP PLTU Suralaya. PLTU berlokasi di Kecamatan Pulo Merak, Kotamadya
Cilegon, Jawa Barat. Letaknya di Desa Suralaya, 7 km ke arah utara dari Pelabuhan
Penyeberangan Merak. Jika dilihat dari aplikasi Google Earth, peta Lokasi pabrik
seperti pada Gambar 1.4.

Proposal Pra Rancang Pabrik


Pemurnian dan Pencairan Gas CO2 Dengan Bahan Baku Gas Buang PLTU Kapasitas 87.600 Ton/Tahun

BAB I. Pendahuluan

Gambar 1.4 Lokasi Pabrik


(Sumber: Google Map, 2013)

1.2 Tujuan Perancangan


Tujuan dari pra rancangan pabrik pemurnian dan pencairan gas CO2 dengan
bahan baku gas buang PLTU adalah:
1. Menerapkan ilmu teknik kimia, khusunya dibidang rancangan dan operasi teknik
kimia sehingga akan memberikan gambaran kelayakan pra rancangan pabrik
pemurnian dan pencairan gas karbon dioksida dengan bahan baku gas buang;
2. Pra rancangan pabrik ini dimaksudkan untuk meminimalkan kadar gas CO2 yang
terbuang ke atmosfer dari emisi pembakaran batu bara di PLTU Suralaya. Dengan
mengurangi kadar karbon dioksida yang dilepas ke atmosfer maka akibat dari gas
rumah kaca dapat dikurangi.
3. Memenuhi kebutuhan pasar akan produk CO 2 murni cair berstandar SNI dengan
harga bersaing.

Proposal Pra Rancang Pabrik


Pemurnian dan Pencairan Gas CO2 Dengan Bahan Baku Gas Buang PLTU Kapasitas 87.600 Ton/Tahun

BAB I. Pendahuluan

1.3 Ruang Lingkup Perancangan


Ruang lingkup yang dibahas dari perancangan pabrik pemurnian dan pencairan
gas karbon dioksida dengan bahan baku gas buang PLTU adalah sebagai berikut :
1. Pabrik ini didirikan berdampingan dengan PLTU Suralaya, menggunakan bahan
baku gas buang hasil pembakaran batu bara;
2. Proses pemurnian dilakukan dengan kolom absorber dengan amina sebagai
solvent;
3. Proses perncairan gas dilakukan dengan teknologi Linde ;
4. Kapasitas produk yang dihasilkan 10 ton/jam atau 87.600 ton/tahun.
5. Proses produksi berjalan secara kontinyu sehari 24 jam dengan pembagian waktu
kerja 3 shift;
6. Produk yang dihasilkan adalah CO2 murni cair berstandar SNI.
7. Hysis digunakan sebagai alat bantu dalam melakukan perhitungan pada kolom
absorber, desorber, distilasi dan proses pencairan gas. Selain itu sebagai metode
untuk menggambarkan proses yang terjadi.
1.4 Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan laporan tugas akhir perancangan pabrik adalah sebagai
berikut:
BAB I

Pendahuluan
Bab ini berisi tentang latar belakang dan tujuan perancangan,
ruang lingkup, dan sistematika penulisan.

BAB II

Tinjauan Pustaka
Bab ini berisi tentang teori-teori yang mendukung dan
berhubungan dengan perancangan, yaitu pengantar teori PLTU,
batu bara, gas buang, karbon dioksida cair, penjelasan kegunaan
dari karbon dioksida cair, serta proses pemurnian dan pencairan
karbon dioksida.

BAB III

Metodologi Penelitian
Bab ini berisi tentang metodologi yang digunakan dalam
menentukan teknologi proses yang dipilih.

Proposal Pra Rancang Pabrik


Pemurnian dan Pencairan Gas CO2 Dengan Bahan Baku Gas Buang PLTU Kapasitas 87.600 Ton/Tahun

BAB I. Pendahuluan

10

Proposal Pra Rancang Pabrik


Pemurnian dan Pencairan Gas CO2 Dengan Bahan Baku Gas Buang PLTU Kapasitas 87.600 Ton/Tahun