Anda di halaman 1dari 33

BAB I

STATUS PASIEN

I.

II.

III.

IDENTITAS PASIEN
Nama
Jenis Kelamin
Usia
Agama
Suku
Pendidikan Terakhir
Status Pernikahan
Pekerjaan

:
:
:
:
:
:
:
:

Tn. YW
Laki-laki
25 tahun
Islam
Sunda
SD kelas 6 (tamat)
Belum Menikah
Tidak bekerja

Alamat

: Baregbeg - Ciamis

Tanggal Masuk RS

: 24 Desember 2014

RIWAYAT PERAWATAN
a. Rawat Jalan

: Belum pernah

b. Rawat Inap

:Belum Pernah

RIWAYAT PSIKIATRI
AUTOANAMNESIS
Tanggal

: 12 Januari 2015

ALLOANAMNESIS
Tanggal

: 13 Januari 2015

Nama

: Ny. Encas

Hubungan dengan pasien

: Ibu kandung, akrab, dapat dipercaya

Autoanamnesis dilakukan dirumah saat home visite kerumah pasien.


Keluhan Utama
Sering keluyuran.
Riwayat Penyakit Sekarang
(Alloanamnesa)
1

Pasien dibawa ke Rumah Sakit pada tanggal 24 Desember 2014 oleh keluarga
pasien dikarenakan pasien sering keluyuran.
4 bulan yang lalu, sebelum masuk RS pasien berhenti minum obat dan berhenti
kontrol. Pada awalnya keadaan pasien baik-baik saja tidak mengalami gangguan perilaku
setelah putus obat.
1 bulan yang lalu, setelah tidak lagi berobat pasien mulai menjukkan gangguan
perilaku seperti mulai bicara meracau, ketawa sendiri, sering kabur dari rumah, merusak
barang, mengamuk dalam rumah, memukul orang lain, membanting ibu kandungnya
sendiri, melempar barang ke ibu nya (agresifitas motorik dan verbal). Menurut pasien,
dirinya mendengar terdapat suara suara yang menyuruhnya untuk membunuh orang lain.
Karena tidak tahan maka keluarga pasien membawa pasien ke pesantren dan disana
selama 20hari, namun tidak ada perubahan perilaku dari pasien tersebut.
4 hari sebelum masuk RS, pasien melarikan diri dari pesantren karena merasa ada
orang yang menyuruhnya untuk ke Jakarta dan menemui adiknya yang sedang bekerja
disana. Pasien ditemukan keluarga sedang duduk berdiam diri, di daerah Limbangan,
Garut, Jawa barat setelah kabur selama 4hari. Setelah itu keluarga memutuskan untuk
membawa pasien ke RSUD Kota Banjar.
(Autoanamnesa)
Pasien mudah diajak berkomunikasi, pasien mulai jarang melamun dan banyak
menceritakan tentang kehidupannya. Pasien mengaku sebelum masuk RS pernah melihat
bayangan. Pasien tidak mengingat dan memahami alasan pasien dirawat di Ruang
Tanjung, RSUD Kota Banjar. Pasien selalu mengatakan alasannya dibawa karena ibunya
membawanya ke RS.
Riwayat Penyakit Dahulu
a.

Gangguan psikiatrik
Pasien mengalami perubahan perilaku sejak 6 tahun yang lalu atau pada saat
berusia 19 tahun. Pasien menjadi suka melamun, ketawa-ketawa sendiri, suka
bicara sendiri (autistik). Kebersihan diri juga menjadi kurang, tidak mau mandi.
Lalu kelurga membawa pasien membawa ke RSJ Cisarua untuk berobat. Pasien
rutin berobat jalan dan mengkonsumsi obat, bahkan pasien sempat juga telah 4
kali rawat di RSJ. Menurut keluarga pasien, pasien mengalami gangguan perilaku
2

seperti dikarenakan ingin memiliki pasangan tapi tidak kesampaian. Setelah


pengobatan dilakukan secara teratur sehingga pasien dapat melakukan aktfitas
sehari-hari dengan cukup baik.
b.

Gangguan Medik
Keluarga mengatakan bahwa pasien dari kecil dalam kondisi baik. Pasien tidak
pernah dirawat di RSU Banjar. Tidak ada riwayat trauma dan kejang sebelumnya.

c.

Penggunaan Zat Psikoaktif


Pasien tidak pernah mengkonsumsi zat psikoaktif, pasien pernah minum minuman
beralkohol kurang lebih 6tahun yang lalu saat bekerja di rumah makan, pasien
merokok kurang lebih setengah sampai satu bungkus perhari sejak usia 19 tahun.

Riwayat Kehidupan Pribadi


a.

Riwayat Perkembangan Prenatal dan Perinatal


Pasien dilahirkan dalam keadaan yang sehat tidak ada trauma saat kehamilan dan
saat kehamilan ibu pasien tidak mengkonsumsi obat-obatan. Pasien lahir normal,
cukup bulan, ditolong oleh paraji, dan langsung menangis. Tidak ada komplikasi
persalinan, trauma lahir, dan cacat bawaan. Riwayat imunisasi tidak diketahui.

b.

Riwayat Perkembangan Masa Kanak-kanak Awal (0 3 tahun)


Perkembangan fisiknya cukup baik, pola perkembangan motorik juga baik.
Riwayat tumbuh kembang pasien baik (sesuai dengan usianya).

c.

Riwayat Kanak-kanak Pertengahan ( 3 11 tahun)


Pasien merupakan anak yang pendiam. Sejak sekolah, pasien tidak terlalu
memiliki banyak teman, tidak pernah berkelahi / bermasalah di sekolah dan
lingkungan tempat tinggal. Prestasi di sekolah biasa saja.

d.

Riwayat Masa Pubertas dan Remaja


Hubungan sosial
Sikap pasien terhadap orangtua, adik kandung, kerabat, dan tetangga cukup
baik. Pasien dapat bergaul dengan baik dengan teman temannya.
Riwayat pendidikan
Pendidikan terakhir pasien sampai SD dan tidak melanjutkannya.
Perkembangan kognitif
Pasien tidak memiliki gangguan belajar, prestasi belajar dinilai biasa saja.
3

Perkembangan motorik
Selama ini dirasa baik dan normal. Pasien mampu melakukan aktivitas dan
kegiatan sehari-hari dengan baik seperti makan, minum, toilet, dan kebersihan
diri.
Perkembangan emosi dan fisik
Pasien dinilai memiliki emosi yang biasa saja, kadang senang kadang juga sedih.
Riwayat psikoseksual
Pasien belum pernah mempunyai pacar, dan ibu pasien mengatakan pasien
menyukai seorang wanita tapi wanita tersebut tidak menyukainya. Dan pasien
cenderung mengira ada seorang wanita menyukainya bila wanita tersebut senyum
kepadanya.
e.

Riwayat Masa Dewasa


Riwayat pekerjaan
Pasien dahulu pernah bekerja di Rumah Makan pada usia 16-19 tahun.
Riwayat pernikahan
Pasien belum pernah menikah sama sekali.
Riwayat keagamaan
Pasien beragama Islam, menurut keluarga, pasien rajin sholat dan mengaji.
Riwayat aktivitas sosial
Pasien bergaul cukup dengan teman-temannya, tidak punya banyak teman,dan
jarang membawa teman temannya ke rumah, pasien juga lebih senang
menyendiri.
Riwayat hukum
Pasien tidak pernah bermasalah secara hukum.

f.

Riwayat Keluarga
Pasien merupakan anak ke lima dari tujuh bersaudara. Ayah pasien sudah
meninggal dunia. Ibu pasien bekerja sebagai buruh. Dirumah pasien tinggal
dengan ibu kandungnya. Diantara keluarga pasien tidak ada yang mengalami
gangguan jiwa.
Pohon Keluarga.
Ibu

Ayah
4

Keterangan :
Laki-laki

Perempuan

Gangguan jiwa

Pasien

g. Situasi Kehidupan Sekarang


Pasien tinggal bersama ibu kandungnya.
Berdasarkan home visite ke rumah pasien pada Selasa sore didapatkan: rumah
yang ditinggali pasien adalah milik keluarga pasien sendiri. Kondisi rumah pasien
tampak dari luar terbuat dari semen dan tampak dari dalam terbuat dari semen da
sudah di cat berwarna biru di bagian luar dan dalam rumah, bagian belakang
rumah hanya di semen tapi tidak dicat. Rumah dengan luas 30 x 40m, berada di
dekat jalan raya, beratapan genteng terdiri dari 2 kamar tidur, ruang tamu, 1 dapur
dan 1 kamar mandi.
Rumah terbilang cukup jika hanya untuk tempat tinggal yang hanya dihuni oleh 2
orang. Lantai terpasang keramik. Perabot yang ada dirumah yaitu 1 TV, 1 meja
tamu, 2tempat duduk yang panjang, 1 tempat tidur yang terbuat dari besi berkasur
kapuk, dan 1 kasur lipat yang terdapat pada kamar satuya.
Sirkulasi udara dalam rumah baik. Akses jalan menuju rumah pasien masuk ke
dalam sedikit jalan kecil di sebelah SPBU. Pasien mempunyai 1 kendaraan motor.
Jarak antara rumah pasien dengan tetangga sebelah rumah berdekatan.

h.

Tanggapan keluarga setelah pasien dirawat


Keluarga inti tidak merasa malu memiliki keluarga yang dirawat di RSUD Banjar.
Keluarga menyadari sepenuhnya bahwa pasien sedang sakit dan perlu perawatan
khusus di RSUD untuk penyakitnya. Keluarga optimis pasien akan sembuh dari
gangguan jiwanya khususnya ibunya yang tampak sangat sayang kepada pasien.

i.

Tanggapan tetangga sekitar rumah setelah pasien dirawat

Tetangga sekitar rumah pasien mendukung pasien dan masih optimis bahwa
pasien bisa sembuh. Tetangga sekitar mayoritas tidak menganggap pasien gila,
tetapi masih ada tetangga yang menganggap pasien gila, tetapi hanya minoritas.

IV.

STATUS MENTAL
A.

Deskripsi Umum
Penampilan
Pasien seorang laki-laki, dengan tinggi 160cm dan berat badan 55kg. Pasien
berkulit sawo matang, menggunakan baju yang disediakan oleh RSUD Banjar.
Pasien saat itu menggunakan pakaian rawat inap bangsal tanjung, berwarna hijau.
Pasien mempunyai kebiasaan menggaruk-garuk kepala yang dirasa nyeri dan
gatal. Pasien banyak dan melamun.
Perilaku dan aktivitas psikomotor
Pasien nampak sedih, perhatian pasien kurang baik, tidak berminat untuk
diwawancara. Konsentrasi pasien kurang baik.Namun,saat ditanya pasien selalu
terlihat bingung. Saat ditanya mengenai keluarga pasien bisa menjawab dengan
benar.
Pembicaraan (speech)
Cara berbicara

: Spontan, kadang irrelevan.

Volume berbicara

: Kecil

Kecepatan berbicara : normal


Gangguan berbicara

B.

: Tidak ada afasia, tidak ada disartria, tidak ada ekolalia.

Alam Perasaan

Mood

: Sedih
7

C.

Afek

: Depresif

Kesesuaian

: Sesuai

Gangguan Persepsi

Halusinasi
o

Auditorik

: Ada (Pasien mendengar suara yang menyuruhnya untuk


membunuh orang lain)

Visual

: Ada (Sebelum masuk RS, pasien mengaku pernah


melihat bayangan)

D.

Taktil

: Tidak ada

Gustatorik

: Tidak ada

Ilusi

: Tidak ada

Gangguan Pikir
o

BentukPikir

Proses Pikir

: Autistik(+)

o Produktivitas

: Terbatas

o Kontinuitas
Assosiasi longgar : Ada
Inkoherensia

: Tidak ada.

Neologisme

: Tidak ada.

Flight of Idea

: Tidak ada.

Sirkumstansial

: Tidak ada.

o Isi pikir
o Gangguan isi pikiran

: Terbatas

Waham
Bizarre

E.

: Tidak ada

Persekutorik/paranoid

: Tidak ada

Curiga

: Tidak Ada

Kejar

: Tidak ada

Referensi

: Tidak ada

Kebesaran

: Tidak ada

Thought of insertion

: Tidak ada

Thought of broadcasting

: Tidak ada

Thought of withdrawal

: Tidak Ada

Delution of control

: Tidak Ada

Obsesi

: Tidak ada

Sensorium dan Kognitif (Fungsi Intelektual)


Kesadaran

: Composmentis

Taraf Pendidikan : kelas 6 SD hingga tamat


Orientasi

:Baik

o Waktu (pasien mampu menyatakan sekarang ini siang/sore/malam)


9

o Tempat (pasien dapat menyebutkan bahwa saat ini sedang berada di RS)
o Orang (pasien tahu bahwa ia sedang diwawancarai oleh Dokter (Dokter
Muda)
o Daya ingat : Kurang
o Daya ingat jangka panjang baik (pasien dapat mengingat alamat rumah,
nama sekolah SD)
o Daya ingat jangka pendek cukup (pasien dapat mengingat menu sarapan
pagi tadi dan namun kadang tidak dapat mengingat nama dokter muda
kemarin)
o Daya ingat yang baru-baru ini terjadi (pasien dapat mengingat kapan ia
datang ke rumah sakit dan diantar oleh ibu)
o Daya ingat segera kurang (pasien dapat mengingat nama dokter muda yang
wawancara saat itu, dan susah mengulang dengan baik urutan nama benda
gelas, piring, sendok)
Konsentrasi : Konsentrasi kurang
F.

Daya Nilai
Daya nilai sosial : Baik
Menurut pasien mencuri adalah perbuatan tidak baik.
Uji daya nilai : Kurang
Misalnya jika pasien menemukan dompet (dengan identitas pemilik) dijalan
dan terdapat uang Rp. 1.000.000,- ia bingung untuk mengembalikan dompet
beserta uang tersebut kemana.
Daya nilai realitas: Baik

10

G.

Reality Test Ability (RTA) : cukup

H.

Tilikan : Tilikan derajat I


Pasien tidak menyadari bahwa dirinya sakit.

V.

PEMERIKSAAN FISIK
a. Status Internus
1. Keadaan umum
2. Kesadaran
3. Tekanan Darah
4. Nadi
5. Suhu
6. Pernapasan
7. Kulit
8. Kepala

: tampak sakit sedang


: compos mentis
: 110/70 mmHg
: 80x/menit
: 36oC
: 20x/menit
: sawo matang, ikterik (-), sianosis (-), turgor baik,
kelembaban normal, efloresensi primer/sekunder (-)
: normocephali, rambut warna hitam, agak panjang,
distribusi merata, terdapat tinea korporis pada regio

temporalis sinistra.
9. Mata
: pupil bulat isokor, refleks cahaya langsung +/+,
refleks cahaya tidak langsung +/+,
konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/10. Hidung
: normosepta, sekret -/11. Telinga
: normotia, serumen -/12. Mulut
: oral higenes (-)
13. Tenggorok
: T1/T1, faring tidak hiperemis
14. Leher
: KGB tidak teraba membesar
15. Paru
: suara napas vesikuler, ronki -/-, wheezing -/16. Jantung
: BJ I dan II reguler, murmur (-), gallop (-)
17. Extremitas
:
- Atas : akral hangat, CRT < 2 detik, sianosis (-), edema (-)
- Bawah : akral hangat, cianosis (-), edema (-)
18. Genitalia
: tidak diperiksa
b. Status Neurologikus
Saraf kranial (I-XII)
Tanda rangsang meningeal
Refleks fisiologis
Refleks patologis
Motorik

: dalam batas normal


: (-)
: (+) normal
: (-)
: Dalam batas normal
11

VI.
VII.

Sensorik
Fungsi luhur
Gangguan khusus
Gejala EPS

: Dalam batas normal


: Baik
: Tidak ada
: (-)

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Tidak dilakukan
IKHTISAR PENEMUAN YANG BERMAKNA

RTA

: Cukup

Mood

: Sedih

Afek

: Depresif, sesuai

Gangguan persepsi

: Ada

Gangguanbentuk pikir

: Tidak realistik, Autistik (+)

Gangguan proses pikir

: Asosiasi longgar (+)

Gangguan isi pikir

: Tidak Ada

Tilikan

: Tilikan derajat I

Faktor stressor

:- Keinginan untuk memiliki pasangan.

VIII. FORMULASI DIAGNOSTIK


Berdasarkan PPDGJ-III kasus ini digolongkan kedalam :
AKSIS I

: F31.6 Gangguan afektif bipolar, episode kini campuran

Terdapat gejala kehilangan minat dan kegembiraan dan berkurangnya energi


(menurunnya aktivitas) disertai perasaan sedih dan tertekan. Konsntrasi dan
perhatian berkurang. Tidur dan makan terganggu. Pasien awalnya datang dalam
keadaan depresi, saat diberikan antidepresi selama kurang lebih 1 minggu lalu
menjadi muncul adanya mania dan banyak bicara. Afek depresi, sesuai. Terdapat

12

halusinasi auditorik dan visual. Tilika tip I, pasien tidak mengetahui bahwa pasien
sakit dan butuh pengobatan.

IX.

AKSIS II

: Diagnosis tertunda

AKSIS III

: Tidak ada diagnosis

AKSIS IV

: Masalah support system

AKSIS V

: GAF SCALE 1 tahun 80-71 & GAF SCALE Pulang 70-61

EVALUASI MULTIAKSIAL
AKSIS I

X.

: F31.6 Gangguan afektif bipolar, episode kini campuran

AKSIS II

: Diagnosis tertunda

AKSIS III

: Tidak ada diagnosis

AKSIS IV

: Masalah support system

AKSIS V

: GAF SCALE 1 tahun 80-71 & GAF SCALE Pulang 70-61

DAFTAR MASALAH
a.
b.
c.

Organobiologik
Psikologi
Sosial/ Keluarga

: Tidak ada.
: halusinasi auditorik dan visual, agresitifitas motorik dan verbal.
: Keinginan memiliki pasangan. Pasien merasa iri karena adik

pasien telah menikah dan mempunyai anak. Putus obat.

IX.

PROGNOSIS

Faktor - faktor yang mendukung kearah prognosis baik:


o Keluarga pasien dan tetangga pasien masih mendukung pasien untuk sembuh.

Faktor - faktor yang mendukungkearah prognosis buruk:


o Keluarga memiliki kekhawatiran yang sedikit berlebih bila pasien tampak mulai
gelisah, keluargapun ikut gelisah dan melaporkan ke RS.
Kesimpulan prognosisnya adalah:
Quo ad vitam

: dubia ad bonam
13

X.

Quo ad functionam

: dubia ad bonam

Quo ad sanationam

: dubia ad bonam

PENATALAKSANAAN

Rawat ruang isolasi tanpa fiksasi


Observasi agresivitas
1. Farmakoterapi
Cepezet injeksi 50 mg ( 1/2 amp 0 1/2 amp ) selama 4 hari.
Hari ke IV diganti oral :
Risperidon tablet 2 mg (1tab 0 1tab)
Kalxetin tablet 20 mg ( 1tab 0 0 )
Chlorpromazin tablet 100 mg ( 1/2 tab 0 1tab )
Depakote tablet 250 mg (1tab 0 0 )
Schizonoat injection DEPO (1amp 0 0 )/ bulan
2. Terapi Psikoterapi
a. Memotivasi pasien agar minum obat teratur dan kontrol rutin setelah pulang dari
perawatan.
Dengan cara memberi tahu akibat yang terjadi apabila tidak rutin minum obat,
seperti : Bapak/Ibu, harus rutin minum obat yang diresepkan oleh dokter,
karena apabila tidak rutin, gejala-gejala yang menyebabkan bapak/ibu dirawat
akan muncul kembali dan mungkin bapak/ibu akan dirawat kembali
b. Memberi dukungan dan perhatian kepada pasien dalam menghadapi masalah
serta memberikan dorongan agar lebih terbuka bila mempunyai masalah dan
jangan memperberat pikiran dalam menghadapi suatu masalah.

14

c. Memberikan edukasi kepada pasien bahwa obat yang diminum tidak


menimbulkan ketergantungan justru sebagai pengontrol zat kimia di otak agar
gejala yang dialami pasien bisa terkontrol dan pasien bisa menjalani
kehidupan sehari-hari seperti sebelum sakit.
3. Terapi Kognitif
Menjelaskan pada pasien tentang penyakit dan gejala-gejalanya, menerangkan
tentang gejala penyakit yang timbul akibat cara berfikir, perasaan dan sikap terhadap
masalah yang dihadapi.
Apabila tedapat beban pikiran yang berlebihan pada pasien akan menimbulkan
kekambuhan gejala lagi, walaupun pasien diterapi obat. Hal ini pentingnya
pengetahuan pasien tentang keadaan pasien tersebut.
4. Terapi Sosial
Melibatkan pasien secara aktif dalam kegiatan terapi aktivitas kelompok di RS agar ia
dapat beraktivitas dan berinteraksi dengan lingkungannya.
Proses terapi aktivitas kelompok pada dasarnya lebih kompleks dari pada terapi
individual, oleh karena itu untuk memimpinya memerlukan pengalaman dalam
psikoterapi individual. Dalam kelompok terapis akan kehilangan sebagian otoritasnya
dan menyerahkan kepada kelompok.
Terapis sebaiknya mengawali dengan mengusahakan terciptanya suasana yang tingkat
kecemasannya sesuai, sehingga pasien terdorong untuk membuka diri dan tidak
menimbulkan atau mengembalikan mekanisme pertahanan diri. Setiap permulaan dari
suatu terapi aktivitas kelompok yang baru merupakan saat yang kritis karena
prosedurnya merupakan suatu yang belum pernah dialami oleh anggota kelompok dan
mereka dihadapkan dengan orang lain.
Setalah pasien berkumpul, mereka duduk melingkar, terapis memulai dengan
memperkenalkan diri terlebih dahulu dan juga memperkenalkan co-terapis dan
kemudian mempersilahkan anggota untuk memperkenalkan diri secara bergilir, bila
ada anggota yang tidak mampu maka terapis memperkenalkannya. Terapis kemudian
menjelaskan maksud dan tujuan serta prosedur terapi kelompok dan juga masalah
yang akan di bicarakan dalam kelompok. Topik atau masalah dapat ditentukan oleh
terapis atau usul pasien. Ditetapkan bahwa anggota bebas membicarakan apa saja,
15

bebas mengkritik siapa saja termasuk terapis. Terapis sebaiknya bersifat moderat dan
menghindarkan kata-kata yang dapat diartikan sebagai perintah. Keadaan ini mungkin
ada indikasi bahwa ada beberapa pasien masih perlu mengikuti terapi individual. Bisa
juga terapis merangsang anggota yang banyak bicara agar mengajak temannya yang
kurang banyak bicara. Dapat juga co-terapis membantu mengatasi kemacetan.
Kalau terjadi kekacauan, anggota yang menimbulkan terjadinya kekacauan
dikeluarkan dan terapi aktivitas kelompokn berjalan terus dengan memberikan
penjelasan kepada semua anggota kelompok. Setiap komentar atau permintaan yang
datang dari anggota diperhatikan dengan sungguh-sungguh. Terapis bukanlah guru,
penasehat, atau bukan pula wasit.
Diakhir terapi aktivitas kelompok, terapis menyimpulkan secara singkat pembicaraan
yang telah berlangsung / permasalahan dan solusi yang mungkin dilakukan.
Dilanjutkan kemudian dengan membuat perjanjian pada anggota untuk pertemuan
berikutnya.
5. Terapi Keluarga
Menjelaskan kepada keluarga pasien mengenai penyakit pasien, penyebabnya, faktor
pencetus, perjalanan penyakit dan rencana terapi serta memotivasi keluarga pasien
untuk selalu mendorong pasien mengungkapkan perasaaan dan pemikirannya.
Dikarenakan banyak keluarga pasien akibat stigma masyarakat, keluarga pasien
menjadi malu, sehingga keluarga kekurangan empati terhadap pasien sendiri. Hal ini
harus dicegah, dengan memberikan dukungan kepada keluarga, untuk menyayangi
pasien selayaknya keluarga yang sedang sakit dan butuh perhatian keluarga untuk
kesembuhannya.
6. Terapi Pekerjaan
Memanfaatkan waktu luang dengan melakukanhobi atau pekerjaan yang bermanfaat.
Kita bantu untuk memulihkan pekerjaan yang tepat sehingga pasien mempunyai
aktifitas rutin sehari-hari layaknya orang normal.

16

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

I.

DEFINISI
Gangguan Bipolar dikenal juga dengan gangguan manik depresi, yaitu gangguan pada

fungsi otak yang menyebabkan perubahan yang tidak biasa pada suasana perasaan, dan proses
berfikir. Disebut Bipolar karena penyakit kejiwaan ini didominasi adanya fluktuasi periodik dua
kutub, yakni kondisi manik (bergairah tinggi yang tidak terkendali) dan depresi.
Gangguan bipolar merupakan kategori diagnostik yang menggambarkan sebuah kelas dari
gangguan mood, dimana seseorang mengalami kondisi atau episode dari depresi dan/atau manik,
hipomanik, dan/atau kondisi campuran. Jika dibiarkan tanpa terapi, akan menghasilakan kondisi
psikiatrik dengan disabilitas berat. Perbedaan antara gangguan bipolar dan unipolar (juga dikenal
dengan major depression) adalah bahwa gangguan bipolar melibatkan kondisi mood yang
energetik atau teraktivasi sebagai tambahan dari kondisi mood yang depresi.
Durasi dan intensitas dari kondisi mood bervariasi secara luas diantara orang-orang dengan
penyakit tersebut. Fluktuasi dari satu kondisi mood ke kondisi lainnya disebut dengan cycling
atau mood swings. Mood swing menyebabkan kelainan tidak hanya pada mood seseorang, tetapi
juga pada level energi, pola tidur, level aktivitas, ritme social dan kemampuan berpikir
seseorang. Banyak orang yang mengalami disabilitas untuk beberapa waktu lamanya dan ketika
hal tersebut terjadi mereka mengalami gangguan fungsi yang berat.
Gejala dari gangguan bipolar biasanya tetap sama dari satu episode ke episode lainnya pada
seorang pasien, tetapi gejalanya dapat bertambah buruk atau malah membaik. Gejala dari manik
mencakup euphoria, peningkatan kepercayaan diri, bicara cepat, pikiran yang berlomba-lomba,
iratabilitas yang berlebihan, peningkatan energi dan berkurangnya kebutuhan untuk tidur. Gejala
dari depresi mencakup kesedihan, hilangnya minat pada aktifitas sehari-hari, cepat lelah dan
adanya pikiran-pikiran tentang kematian. Gejala psikotik seperti halusinasi dan waham juga
dapat muncul.
Untuk hipomanik, gejalanya biasanya lebih tidak destruktif seperti mania dan orang-orang
dengan hipomanik biasanya mengalami lebih sedikit gejala daripada mereka yang mengalami
17

manik secara komplit. Durasinya juga lebih pendek dari pada mania. Hal ini seringkali menjadi
keadaan yang artistik dari kelainan ini, karena terdapat flight of ideas, pemikiran yang brilliant
dan peningkatan energi. Sementara siklotimik menyerupai gejala bipolar campuran, hanya saja
destruktifitasnya tidaklah seperti manik atau depresif dan perjalanan penyakitnya kronis.
Gangguan bipolar seringkali disalah-diagnosa karena orang yang sedang manik cenderung untuk
tidak mencari pengobatan. Ketika terapi dicari saat episode depresif, kondisi ini dapat
disalahtafsirkan sebagai gangguan depresi mayor. Diagnosis dari gangguan bipolar melibatkan
sebuah evaluasi tentang kesehatan jiwa. Evaluasi ini mencakup riwayat lengkap dari gejala,
termasuk onset, durasi dan keparahannya. Penegakan diagnosis juga mencakup pengekslusian
penyebab lain yang dapat menyerupai gejala gangguan bipolar seperti penggunaan zat terlarang
atau kelainan tiroid.
II. EPIDEMIOLOGI
Penyakit ini mengenai sekitar 1% hingga 1,5% dari total populasi dan mungkin sekitar
2% jika gejala-gejala bipolar II diikutsertakan. Prevalensi penyakit ini cenderung untuk
meningkat dari tahun ke tahun. Wanita dan laki-laki memiliki peluang yang sama untuk terkena
penyakit yang sering kali menimbulkan disabilitas ini, tetapi faktor hormonal dapat berpengaruh
pada perbedaan jenis kelamin.
Kelainannya seringkali muncul pada saat masa remaja atau dewasa awal (dengan ratarata usia 25 hingga 35 tahun) dan berpengaruh terhadap penderita sepanjang sisa hidupnya.
Walaupun sebelumnya dianggap sebagai gangguan pada orang dewasa, sekarang didapati bahwa
anak kecil juga ternyata dapat menderita dari gangguan bipolar ini. Semakin awal onsetnya,
semakin besar pula kemungkinan dari timbulnya gejala psikotik dan semakin jelas terlihat pula
hubungan genetiknya.
Morbiditas dan mortalitas yang signifikan yang berhubungan dengan gangguan bipolar
inilah yang menjadikan penyakit ini sebagai problema mayor kesehatan publik. Insidens yang
tercatat kemungkinan kurang dari insidens yang terjadi sebenarnya karena pelaporan yang
kurang dan kurangnya pengenalan akan episode manik dan hipomanik. Prevalensi bipolar II dan
siklotimia adalah rendah karena kebanyakan penelitian hanya mengikut sertakan gangguan
bipolar I saja. Meskipun ketika pola bipolar II diikut sertakan, kesulitan untuk menetapkan

18

riwayat dari episode hipomanik mengacu pada diagnosis yang kurang. Menetapkan diagnosis
siklotimia malah lebih sulit lagi.
Gangguan bipolar secara signifikan mempengaruhi ekonomi. Ia dapat menghasilkan gangguan
dan disabilitas fungsional dan membebani perusahaan-perusahaan di USA sebanyak 14,1 juta
dolar pertahunnya, menurut NIH. Menurut NAMI penyakit ini menempati urutan ke-6 dari
penyebab utama penyakit yang menimbulkan disabilitas diseluruh dunia dan merupakan
diagnosis kesehatan jiwa yang paling mahal, baik untuk pasien dan penyedia asuransi.
III. ETIOLOGI
Sekarang, penyebab gangguan bipolar diketahui multifaktor. Mencakup aspek biopsikososial.Secara biologis dikaitkan dengan faktor genetik dan gangguan neurotransmitter di
otak.Secara psikososial dikaitkan dengan pola asuh masa kana-kanak, stres yang menyakitkan,
stres kehidupan yang berat dan berkepanjangan, dan banyak lagi faktor lainnya.

A. Faktor Genetik
Penelitian keluarga telah menemukan bahwa kemungkinan menderita suatu
gangguan mood menurun saat derajat hubungan kekeluargaan melebar. Sebagai
contoh, sanak saudara derajat kedua (sepupu) lebih kecil kemungkinannya dari pada
sanak saudara derajat pertama. Penurunan gangguan bipolar juga ditunjukkan oleh
fakta bahwa kira-kira 50 persen pasien gangguan bipolar memiliki sekurangnya satu
orangtua dengan suatu gangguan mood, paling sering gangguan depresif berat. Jika
satu orangtua menderita gangguan bipolar, terdapat kemungkinan 25 persen bahwa
anaknya menderita suatu gangguan mood. Jika kedua orang tua menderita gangguan
bipolar, terdapat kemungkinan 50-75 persen anaknya menderita gangguan mood.
Beberapa studi berhasil membuktikan keterkaitan antara gangguan bipolar dengan
kromosom 18 dan 22, namun masih belum dapat diselidiki lokus mana dari
kromosom tersebut yang benar-benar terlibat.Beberapa diantaranya yang telah
diselidiki adalah 4p16, 12q23-q24, 18 sentromer, 18q22, 18q22-q23, dan 21q22. Yang
menarik dari studi kromosom ini, ternyata penderita sindrom Down (trisomi 21)
berisiko rendah menderita gangguan bipolar.
19

Sejak ditemukannya beberapa obat yang berhasil meringankan gejala bipolar,


peneliti mulai menduga adanya hubungan neurotransmitter dengan Gangguan bipolar.
Neurotransmitter tersebut adalah dopamine, serotonin, noradrenalin. Gen-gen yang
berhubungan dengan neurotransmitter tersebut pun mulai diteliti seperti gen yang
mengkode monoamine oksidase A (MAOA), tirosin hidroksilase, cathecolometiltransferase (COMT), dan serotonin transporter (5HTT). Penelitian terbaru
menemukan gen lain yang berhubungan dengan penyakit ini yaitu gen yang
mengekspresi brain derived neurotrophic factor (BDNF).
BDNF adalah neurotropin yang berperan dalam regulasi plastisitas sinaps,
neurogenesis, dan perlindungan neuron otak. BDNF diduga ikut terlibat dalam mood.
Gen yang mengatur BDNF terletak pada kromosom 11p13. Terdapat tiga penelitian
yang mencari tahu hubungan antara BDNF dengan Gangguan bipolar dan hasilnya
positif.

20

B. Faktor Biologis

Kelainan di otak juga dianggap dapat menjadi penyebab penyakit ini. Terdapat
perbedaan gambaran otak antara kelompok sehat dengan penderita bipolar. Melalui
pencitraan magnetic resonance imaging (MRI) dan positron-emission tomography
(PET), didapatkan jumlah substansia nigra dan aliran darah yang berkurang pada
korteks prefrontal subgenual. Tak hanya itu, Blumberg dkk dalam Arch Gen
Psychiatry 2003 pun menemukan volume yang kecil pada amygdale dan
hippocampus. Korteks prefrontal, amygdale, dan hippocampus merupakan bagian
dari otak yang terlibat dalam respon emosi (mood dan afek).

Penelitian lain menunjukkan ekspresi oligodendrosit-myelin berkurang pada otak


penderita bipolar. Seperti diketahui, oligodendrosit menghasilkan membran myelin
yang membungkus akson sehingga mampu mempercepat hantaran konduksi antar
saraf. Bila jumlah oligodendrosit berkurang, maka dapat dipastikan komunikasi antar
saraf tidak berjalan lancar.

C. Faktor Psikososial
1. Peristiwa kehidupan dan stress lingkungan
Satu pengamatan klinis yang telah lama yang telah direplikasi adalah bahwa
peristiwa kehidupan yang menyebabkan stress lebih sering mendahului episode
pertama gangguan suasana perasaan daripada episode selanjutnya. Hubungan tersebut
telah dilaporkan untuk pasien gangguan depresif berat dan gangguan bipolar I.
2. Ketidakberdayaan yang dipelajari (learned helplessness)
Di dalam percobaan dimana binatang secara berulang dipaparkan dengan kejutan
listrik yang tidak dapat dihindarinya, binatang akhirnya menyerah dan tidak
melakukan usaha sama sekali untuk menghindari kejutan selanjutnya. Mereka belajar
bahwa mereka tidak berdaya.Pada manusia yang terdepresi, kita dapat menemukan
keadaan ketidakberdayaan yang mirip. Menurut teori ketidakberdayaan yang
21

dipelajari, depresi dapat membaik jika klinisi mengisi pada pasien yang terdepresi
suatu rasa pengendalian dan penguasaan lingkungan.Klinisi menggunakan teknik
perilaku berupa dorongan yang menyenangkan dan positif di dalam usaha tersebut.
3. Teori kognitif
Menurut teori kognitif, interpretasi yang keliru (misinterpretation) kognitif yang
sering adalah melibatkan distorsi negatif, pengalaman hidup, penilaian diri yang
negatif, pesimisme, dan keputusasaan.Pandangan negatif yang dipelajari tersebut
selanjutnya menyebabkan perasaan depresi.Seorang ahli terapi kognitif berusaha
untuk mengidentifikasi hal yang negatif dengan menggunakan tugas perilaku, seperti
mencatat dan secara sadar memodifikasi pikiran pasien.
IV. KRITERIA DIAGNOSTIK DAN PEMERIKSAAN FISIK
Berdasarkan Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ) III,
gangguan afektif bipolar ini bersifat episode berulang yang menunjukkan suasana perasaan
pasien dan tingkat aktivitasnya jelas terganggu, dan gangguan ini pada waktu tertentu terdiri
dari peninggian suasana perasaan serta peningkatan energi dan aktivitas (mania atau
hipomania), dan pada waktu lain berupa penurunan suasana perasaan serta pengurangan
energi dan aktivitas (depresi). Yang khas adalah terdapat penyembuhan sempurna antar
episode.Episode manik biasanya mulai dengan tiba-tiba dan berlangsung antara 2 minggu
sampai 4-5 bulan, sedangkan depresi cenderung berlangsung lebih lama.
Episode pertama bisa timbul pada setiap usia dari masa kanak-kanak sampai tua.
Kebanyakan kasus terjadi pada dewasa muda berusia 20-30 tahun. Semakin dini seseorang
menderita bipolar maka risiko penyakit akan lebih berat, kronik bahkan refrakter.

22

A. Kriteria Diagnostik
Berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual (DSM) IV, gangguan bipolar
dibedakan menjadi 2 yaitu gangguan bipolar I dan II.Gangguan bipolar I atau tipe klasik
ditandai dengan adanya 2 episode yaitu manik dan depresi, sedangkan gangguan bipolar
II ditandai dengan hipomanik dan depresi. PPDGJ III membaginya dalam klasifikasi yang
berbeda yaitu menurut episode kini yang dialami penderita.
1. F31 Gangguan Afektif Bipolar
Gangguan ini tersifat oleh episode berulang (yaitu sekurang-kurangnya dua) yang
menunjukkan suasana perasaan (mood) pasien dan tingkat aktivitasnya jelas
terganggu, dan gangguan ini pada waktu tertentu terdiri dari peninggian suasana
perasaan (mood) serta peningkatan enersi dan aktivitas (mania atau hipomania), dan
pada waktu lain berupa penurunan suasana perasaan (mood) serta pengurangan energi
dan aktivitas (depresi).
Yang khas adalah bahwa biasanya ada penyembuhan sempurna antar episode.
Episode manik biasanya mulai dengan tiba-tiba dan berlangsung antara 2 minggu
sampai 4-5 bulan, episode depresi cenderung berlangsung lebih lama (rata-rata sekitar
6 bulan) meskipun jarang melebihi 1 tahun kecuali pada orang usia lanjut. Kedua
macam episode itu seringkali terjadi setelah peristiwa hidup yang penuh stres atau
trauma mental lain (adanya stres tidak esensial untuk penegakkan diagnosis).
2. F31.3 Gangguan Afektif Bipolar, episode kini Depresif Ringan atau Sedang
a) Episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk episode depresif ringan
(F32.0) ataupun sedang (F32.1), dan
b) Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif hipomanik, manik atau
campuran di masa lampau.
Karakter kelima dapat digunakan untuk menentukan ada atau tidaknya gejala
somatic dalam episode depresif yang sedang berlangsung.

23

F31.30 Tanpa gejala somatik


F31.31 Dengan gejala somatik
3. F31.4 Gangguan Afektif Bipolar, Episode Kini Depresif Berat tanpa Gejala
Psikotik
a) Episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk episode depresif berat
tanpa gejala psikotik (F32.2), dan
b) Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif hipomanik, manik atau
campuran di masa lampau.
4. F31.5 Gangguan Afektif Bipolar, Episode Kini Depresif Berat dengan Gejala
Psikotik
a) Episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk episode depresif berat
dengan gejala psikotik (F32.3), dan
b) Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif hipomanik, manik atau
campuran di masa lampau.
Jika dikehendaki, waham atau halusinasi dapat ditentukan sebagai serasi atau
tidak serasi dengan afeknya.
Episode Depresif
Walaupun banyak penelitian telah berusaha untuk menemukan perbedaan yang dapat
dipercaya antara episode depresif gangguan bipolar dan episode gangguan depresif, perbedaan
tersebut sulit ditemukan.Di dalam situasi klinis, hanya riwayat penyakit pasien, riwayat keluarga,
dan perjalanan penyakit di masa mendatang dapat membantu membedakan kedua kondisi
tersebut.
1. F32 Episode Depresif
Pada semua tiga variasi dari episode depresif khas yang tercantum di bawah ini, ringan
(F32.0), sedang (F32.1), dan berat (F32.2 dan F32.3), gejala utama yang ditemukan
adalah :
- Afek depresif
- Kehilangan minat dan kegembiraan
- Berkurangnya energi yang menuju meningkatnya keadaan mudah lelah
Gejala lainnya adalah :
a) Konsentrasi dan perhatian berkurang
b) Harga diri dan kepercayaan diri berkurang
24

c) Gagasan tentang perasaan bersalah dan tidak berguna (bahkan pada episode tipe
d)
e)
f)
g)

ringan sekali pun)


Pandangan masa depan yang suram dan pesimistis
Gagasan atau perbuatan membahayakan diri atau bunuh diri
Tidur terganggu
Nafsu makan berkurang

2. F32.0 Episode Depresif Ringan


Suasana perasaan (mood) yang depresif, kehilangan minat dan kesenangan, dan
mudah menjadi lelah biasanya dipandang sebagai gejala dari depresi yang paling khas,
dan sekurang-kurangnya dua gejala dari ini, ditambah sekurang-kurangnya dua gejala
lain (untuk F32.-) harus ada untuk menegakkan diagnosis pasti. Tidak boleh ada gejala
yang berat diantaranya.Lamanya episode berlangsung ialah sekurangkurangnya sekitar 2
minggu.Individu yang mengalami episode depresif ringan biasanya resah tentang
gejalanya dan agak sukar baginya untuk meneruskan pekerjaan biasa dan kegiatan sosial,
namun mungkin ia tidak akan berhenti berfungsi sama sekali.
Karakter kelima dapat digunakan untuk menentukan adanya sindrom somatik :
F32.00 Tanpa gejala somatik
Kriteria untuk episode depresif ringan telah dipenuhi, dan tidak ada atau hanya
sedikit sekali Sekurang-kurangnya harus ada dua dari tiga gejala paling khas yang
ditentukan untuk episode depresif ringan (F32.0), ditambah sekurang-kurangnya tiga (dan
sebaiknya empat) gejala lainnya. Beberapa gejala mungkin amat menyolok, namun tidak
esensial apabila secara keseluruhan ada cukup banyak variasi gejalanya.Lamanya
keseluruhan episode berlangsung ialah sekurang-kurangnya sekitar 2 minggu.Individu
yang mengalami episode depresif taraf sedang biasanya menghadapi kesulitan nyata
untuk meneruskan kegiatan sosial, pekerjaan, dan urusan rumah tangga.Karakter kelima
dapat digunakan untuk menentukan adanya sindrom somatik :gejala somatik
F32.01 Dengan gejala somatik
Kriteria untuk episode depresif ringan telah dipenuhi, dan empat atau lebih gejala
somatik juga ditemukan. (jika hanya dua atau tiga gejala somatik ditemukan tetapi luar
biasa beratnya, maka penggunaan kategori ini mungkin dapat dibenarkan)

25

3. F32.1 Episode Depresif Sedang


F32.10 Tanpa gejala somatik
Kriteria untuk episode depresif sedang telah dipenuhi, dan tidak ada atau hanya
sedikit sekali gejala somatik
F32.11 Dengan gejala somatik
Kriteria untuk episode depresif sedang telah dipenuhi, dan ada empat atau lebih
gejala somatik juga ditemukan. (jika hanya dua atau tiga gejala somatik ditemukan tetapi
luar biasa beratnya, maka penggunaan kategori ini mungkin dapat dibenarkan)
4. F32.2 Episode Depresif Berat tanpa Gejala Psikotik
Pada episode depresif berat, penderita biasanya menunjukkan ketegangan atau
kegelisahan yang amat nyata, kecuali apabila retardasi mental merupakan ciri
terkemuka.Kehilangan harga diri dan perasaan dirinya tak berguna mungkin mencolok,
dan bunuh diri merupakan bahaya nyata terutama pada beberapa kasus berat.Anggapan
disini ialah bahwa sindrom somatik hampir selalu ada pada episode depresif berat.
Semua ketiga gejala khas yang ditentukan untuk episode depresof ringan dan sedang
harus ada, ditambah sekurang-kurangnya empat gejala lainnya, dan beberapa di antaranya
harus berintensitas berat.Namun, apabila gejala penting (misalnya agitasi atau retardasi)
menyolok, maka pasien mungkin tidak mau atau tidak mampu untuk melaporkan banyak
gejalanya secara terinci.Dalam hal demikian, penentuan menyeluruh dalam subkategori
episode berat masih dapat dibenarkan.
Episode depresif biasanya seharusnya berlangsung sekurang-kurangnya 2 minggu,
akan tetapi jika gejala amat berat dan beronset sangat cepat, maka mungkin dibenarkan
untuk menegakkan diagnosis dalam waktu kurang dari 2 minggu.Selama episode depresif
berat, sangat tidak mungkinpenderita akan mampu meneruskan kegiatan sosial, pekerjaan
atau urusan rumah tangga, kecuali pada taraf yang sangat terbatas.Kategori ini hendaknya
digunakan untuk episode depresif berat tunggal tanpa gejala psikotik, untuk episode
selanjutnya harus digunakan subkategori dari gangguan depresif berulang.
5. F32.3 Episode Depresif Berat dengan Gejala Psikotik
Episode depresif berat yang memenuhi kriteria menurut F32.2 tersebut diatas,
disertai waham, halusinasi atau stupor depresif.Wahamnya biasanya melibatkan ide
26

tentang dosa, kemiskinan atau malapetaka yang mengancam, dan pasien dapat merasa
bertanggung jawab atas hal itu.Halusinasi auditorik atau olfaktorik biasanya berupa suara
yang menghina atau bau kotoran atau daging membusuk.Retardasi psikomotor yang berat
dapat menuju pada stupor.Jika diperlukan, waham atau halusinasi dapat ditentukan
sebagai serasi atau tidak serasi dengan suasana perasaan (mood).

B. Pemeriksaan Fisik
1. Penampilan
Orang yang menunjukkan suatu periode depresi mungkin menunjukkan sedikit
sampai tidak ada kontak mata. Pakaian mereka mungkin tidak terawat, kotor,
berlubang, kumal, serta tidak cocok dengan ukuran badan. Bila seseorang kehilangan
berat badan secara signifikan, ukuran pakaiannya tidak akan cocok. Kebersihan diri
tercermin dari mood mereka yang rendah, yang ditunjukkan dengan badan yang
kurus, tidak bercukur, dan tidak membersihkan diri. Pada wanita, kuku jari tangannya
mungkin terdapat lapisan warna yang berbeda atau sebagian warna yang rusak pada
kuku mereka, bahkan cenderung kotor juga pada tangannya. Rambut mereka juga
tidak terurus. Bila orang ini bergerak, afek depresi jelas terlihat. Mereka bergerak
dengan lambat dan sangat sedikit yang menunjukkan retardasi psikomotor. Mereka
juga berbicara dengan suara yang pelan atau suara yang monoton.
2. Afek/Suasana Perasaan
Afek depresi.Kesedihan mendominasi suasana hati seseorang dalam episode
depresi. Penderita merasa sedih, tertekan, kehilangan, kosong dan terisolasi.
3. Pikiran
Penderita mempunyai pemikiran yang mencerminkan kesedihan mereka. Gagasan
yang negatif, perhatian nihilistik, dan mereka mempunyai suatu istilah bahwa
mereka bagaikan gelas yang separuh kosong. Pemikiran mereka lebih berfokus
tentang kematian dan tentang bunuh diri.

27

4. Persepsi
Terdapat 2 format dari tipe depresi yang dijelaskan. Dengan psikotik dan tanpa
psikotik. Dengan psikotik, penderita mempunyai khayalan dan halusinasi yang sesuai
atau tidak dengan suasana hati. Penderita merasa telah berdosa, bersalah, dan
merasakan penyesalan yang sangat dalam.
5. Bunuh Diri
Angka kejadian bunuh diri banyak terjadi pada penderita depresi. Mereka adalah
individu yang mencoba dan berhasil dalam usaha bunuh diri.
6. Pembunuhan/Kekerasan
Pembunuhan yang dilakukan oleh penderita biasanya diikuti dengan bunuh diri.
Pada beberapa penderita depresi biasanya merasa dunia sudah tidak berguna lagi
untuknya dan untuk orang terdekatnya/orang lain.
7. Tilikan/Insight
Depresi dapat mempengaruhi penilaian seseorang mengenai dirinya sendiri.
Penderita biasanya gagal dalam melakukan tindakan yang penting sebab mereka
sangat jatuh dan menurun dalam mengenali diri mereka sendiri. Meraka memiliki
sedikit pengertian terhadap diri mereka sendiri.
8. Kognitif
Pada depresi dan manik yang berat, penderita dapat mengalami kesulitan dalam
berkonsentrasi dan memusatkan perhatiannya.

V. PENATALAKSANAAN

A. Penentuan Kegawatdaruratan
Pengobatan dari gangguan bipolar secara langsung terkait pada fase dari episodenya,
seperti depresi atau manik, dan derajat keparahan fase tersebut.Contoh, seseorang dengan
28

depresi yang ekstrim dan menunjukkan perilaku bunuh diri memerlukan/mengindikasikan


pengobatan rawat inap.Sebaliknya, seseorang dengan depresi moderat yang masih dapat
bekerja, diobati sebagai pasien rawat jalan.
1. Rawat Inap
a. Berbahaya untuk diri sendiri
Pasien yang terutama dengan episode depresif, dapat terlihat dengan resiko yang
signifikan untuk bunuh diri.Percobaan bunuh diri yang serius dan idea spesifik
dengan rencana menghilangkan bukti, memerlukan observasi yang ketat dan
perlindungan pencegahan. Namun, bahaya bagi penderita bisa datang dari aspek lain
dari penyakit, contohnya seorang penderita depresi yang tidak cukup makan beresiko
kematian.
b. Berbahaya bagi orang lain
Penderita gangguan bipolar dapat mengancam nyawa orang lain, contohnya
seorang penderita yang mengalami depresi yang berat meyakini bahwa dunia itu
sangat suram/gelap, sehingga ia berencana untuk membunuh anaknya untuk
membebaskan mereka dari kesengsaraan dunia.
c. Hendaya Berat
Adakalanya depresi yang dialami terlalu dalam, sehingga orang tidak dapat
melakukan fungsinya sama sekali, meninggalkan orang seperti ini sendirian sangat
berbahaya dan tidak menyembuhkannya.
d. Kondisi medis yang harus dimonitor
Contohnya penderita gangguan jiwa yang disertai gangguan jantung harus berada
di lingkungan medis, dimana obat psikotropik dapat dimonitor dan diobservasi.
2. Rawat inap parsial atau program perawatan sehari
Secara umum, penderita ini memiliki gejala yang berat namun memiliki tingkat
pengendalian dan lingkungan hidup yang stabil.Contohnya, penderita dengan depresi
berat yang berpikir akan bunuh diri tapi tidak berencana untuk melakukannya dan dapat
memiliki tingkat motivasi yang tinggi bila diberi banyak dukungan interpersonal,
29

terutama sepanjang hari dan dengan bantuan dan keterlibatan dari keluarga. Keluarga
harus selalu berada di rumah setiap malam dan harus peduli terhadap penderita.Rawat
inap parsial juga menjembatani untuk bisa segera kembali bekerja.Kembali secara
langsung ke pekerjaan seringkali sulit bagi penderita dengan gejala yang berat, dan rawat
inap parsial memberi dukungan dan hubungan interpersonal.
3. Rawat jalan
Pengobatan rawat jalan memiliki 4 tujuan utama :
a) Mencari stressornya dan mencari cara untuk menanganinya. Stressor ini dapat
berasal dari keluarga atau pekerjaan, dan bila terkumpul dapat mendorong
penderita menjadi depresi. Hal ini merupakan bagian dari psikoterapi.
b) Memonitor dan mendukung pemberian obat. Pengobatan membuat perubahan
yang luar biasa. Kuncinya adalah mendapatkan keuntungan dan mencegah efek
samping. Penderita memiliki rasa yang bertentangan dengan pengobatan mereka.
Mereka mengetahui bahwa obat membantu dan mencegah mereka untuk dirawat
inap, namun mereka juga menyangkal memerlukannya. Oleh karena itu, harus
dibantu untuk mengarahkan perasaan mereka dan membantu mereka untuk mau
melanjutkan pengobatan.
c) Membangun sekumpulan orang yang peduli. Hal ini merupakan satu dari banyak
alasan bagi para praktisi setuju dengan ambivalensi penderita tentang pengobatan.
Seiring perjalanan waktu, kekuatan sekumpulan orang yang peduli membantu
mempertahankan gejala penderita dalam keadaan minimum dan membantu
penderita tinggal dan diterima di masyarakat.
d) Edukasi. Klinisi harus membantu edukasi bagi penderita dan keluarga tentang
penyakit

bipolar. Mereka

harus

sadar

dan waspada

terhadap

bahaya

penyalahgunaan zat, situasi yang mungkin memicu kekambuhan, dan peran


pengobatan yang penting. Dukungan kelompok bagi penderita dan keluarga
memiliki arti penting yang sangat luar biasa.
Keadaan kesehatan tubuh penderita gangguan bipolar juga harus diperhatikan
oleh para praktisi, termasuk keadaan kardiovaskular, diabetes, masalah endokrin,
infeksi, komplikasi sistem urinari, dan gangguan keseimbangan elektrolit.

30

VI.

TERAPI
A. Terapi Farmakologi
Pengobatan yang tepat tergantung pada stadium gangguan bipolar yang dialami
penderita. Pilihan obat tergantung pada gejala yang tampak, seperti gejala psikotik,
agitasi, agresi, dan gangguan tidur. Antipsikosis atipikal semakin sering digunakan
untuk episode manik akut dan sebagai mood stabilizer.Antidepresan dan ECT juga
dapat digunakan untuk episode depresi akut (contoh, depresi berat). Selanjutnya,
terapi pemeliharaan/maintenance dan pencegahan juga harus diberikan.
Pengalaman klinis menunjukkan bahwa jika diterapi dengan obat mood stabilizer,
penderita gangguan bipolar akan mengalami lebih sedikit periode manik dan depresi.
Obat ini bekerja dengan caramenstabilkan mood penderita (sesuai namanya), juga
dapat menstabilakn manik dan depresi yang ekstrim. Antipsikosis atipikalseperti
ziprasidone, quetiapine, risperidone, aripiprazole dan olanzapine, kini juga sering
digunakan untuk menstabilkan manik akut, bahkan untuk menstabilkan mood pada
depresi bipolar.
B. Terapi Non Farmakologi
1. Konsultasi
Suatu konsultasi dengan seorang psikiater atau psikofarmakologis selalu
sesuai bila penderita tidak menunjukkan respon terhadap terapi konvensional dan
medikasi.
2. Diet
Terkecuali pada penderita dengan monoamine oxidase inhibitors
(MAOIs), tidak ada diet khusus yang dianjurkan. Penderita dianjurkan untuk tidak
merubah asupan garam, karena peningkatan asupan garam membuat kadar litium
serum menurun dan menurunkan efikasinya, sedangkan mengurangi asupan
garam dapat meningkatkan kadar litium serum dan menyebabkan toksisitas.

31

3. Aktivitas
Penderita dengan fase depresi harus didukung untuk melakukan
olahraga/aktivitas fisik. Jadwal aktivitas fisik yang reguler harus dibuat. Baik
aktivitas fisik dan jadwal yang reguler meupakan kunci untuk bertahan dari
penyakit ini. Namun, bila aktivitas fisik ini berlebihan dengan peningkatan
respirasi dapat meningkatkan kadar litium serum dan menyebabkan toksisitas
litium.
4. Edukasi
Terapi pada penderita gangguan bipolar melibatkan edukasi awal dan
lanjutan. Tujuan edukasi harus diarahkan tidak hanya langsung pada penderita,
namun juga melalui keluarga dan sistem disekitarnya. Fakta menunjukkan edukasi
tidak hanya meningkatkan ketahanan dan pengetahuan mereka tentang penyakit,
namun juga kualitas hidupnya.
o Penjelasan biologis tentang penyakit harus jelas dan benar. Hal ini mengurangi
perasaan bersalah dan mempromosikan pengobatan yang adekuat.
o Memberi informasi tentang bagaimana cara memonitor penyakit terutama tanda
awal, pemunculan kembali, dan gejala. Pengenalan terhadap adanya perubahan
memudahkan langkah-langkah pencegahan yang baik.
o Membantu penderita mengidentifikasi dan mengatasi stressor di dalam
kehidupannya.
o Informasi tentang kemungkinan kekambuhan penyakitnya.

32

DAFTAR PUSTAKA
1. Anonymous, Skizofrenia. Av.at.http://id.wikipedia Indonesia.org/wiki/Skizofrenia
2. Gangguan kejiwaan dan macamnya [Internet]. 2007 [diunduh diunduh 6 Januari 2015].
Diunduh dari: http://ikhwah.informe.com/gangguan-kejiwaan-dan-macamnya-dt262.html
3. Kaplan, HI, Sadock, BJ, Grebb JA, Skizofrenia, dalam : Sinopsis psikiatri, ed 7, vol 1,
1997 : 685-693.
4. Luana N, Skizofrenia dan gangguan psikotik lannya. Av.At:http//www.Ikatan Dokter
Indonesia Cabang Jakarta Barat.co.id
5. Maramis, W.F Skizofrenia dalam Cacatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabaya, 194 : 215227.
6. Maslim R, Panduan Praktis Penggunaan Klinis Obat Psikotropik, Jakarta, 2002 : 6-7
7. Maslim R, Skizofrenia, Gangguan Skizotipal dan Ganggguan Waham, dalam Buku Saku
Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas dari PPDGJ III, Jakarta, 2003 : 46-51
8. NIMH. Bipolar disorder [Internet]. 2010 [diunduh 6 Januari 2015]. Diunduh dari:
http://www.nimh.nih.gov/health/publications/bipolar-disorder/complete-index.shtml
9. Roxanne DE. Bipolar disorder (mania) [Internet]. 2011 [diunduh diunduh 6 Januari
2015]. Diunduh dari: http://www.medicinenet.com/bipolar_disorder/article.htm
10. Rusdi M. Diagnosis gangguan jiwa, rujukan ringkas PPDGJ-III. Jakarta: Bagian Ilmu
Kedokteran Jiwa FK-Unika Atmajaya; 2001.
11. Sinaga, BR. Diagnosis Skizofrenia dan Penatalaksanaan Skizofrenia dalam Skizofrenia
dan Diagnosis Banding, Jakarta 2007 : 42-77
12. Soreff S. Bipolar affective disorder treatment & management [Internet]. 2011. [diperbarui
11

Jan

2011;

diunduh

diunduh

Januari

2015.

Diunduh

dari;

http://emedicine.medscape.com/article/286342-treatment

33