Anda di halaman 1dari 90

Anton B.

Darmawan

Respirasi bagian atas:


- Hidung
- Faring
- Laring

ANATOMI HIDUNG
Superior

Inferior

Hidung luar
Kulit : Cutis,subcutis, jaringan

fibrofatty,glandula sebacea

Apek nasi, basis nasi,dorsum nasi, alae nasi,

kolumela,nares anterior

Rangka dibentuk oleh os nasale, prosesus

frontal os maksila, kart lateralis superior, kat


lateralis inferior, kartilago septum

KAVUM NASI
Dasar kavum nasi di bentuk oleh
prosesus palatina os maksila
prosesus horisontal os os palatum

Atap hidung
Atap hidung di bentuk oleh :
- kartilago lateralis superior
- kartilago lateralis inferior
- os nasal
- prosesus frontalis os maksila
- korpus os ethmoid
- korpus os sphenoid

Dinding lateral kavum nasi


Dinding lateral kavum nasi
- permukaan dalam pros frontalis os maksila
- os lakrimalis
- konka superior
- konka media
- konka inferior
- lamina perpendicularis os palatum
- lamina pterigoideus medial

SEPTUM NASI
Di bentuk oleh :
- bagian anterior : kartilago septum
(kuadrilateral), premaksila, kolumela
membranosa
- bagian posterior : lamina perpendicularis os
ethmoid
- bagian post inf : os vomer, krista maksila,
krista palatina, krista sphenoid.

10

Internal Nose :
- Dibatasi oleh nares dan choana (posterior)
Lateral : dinding nasal
Dinding lateral nasal terdiri dari :
- lamina papyracea: os lakrimalis
os etmoidalis
- inferior nasal conchae
Pemeriksaan histologi mukosa nasal :
perubahan dari stratified squamous epithelium
(nasal orifice dan locus nasal hairs/vibrissae) menjadi pseudostratified columnar respiratory (ciliated)
epithelium.
melapisi seluruh mukosa nasal dan sinus

11

12

INERVASI HIDUNG
Autonom

Simpatis :
dari ganlion cervicalis serabut
postganglioner plexus sekitar a. karotis
internus n petrosus superfisialis mayor n
vidianus
Parasimpatis :
dari N VII serabut preganglioner
n vidianus, n petrosus sup mayor ganglion
sphenopalatina

13

Inervasi hidung
Serebrospinalis

N. V n optalmikus n ethmoidalis anterior


N. V n maksilaris ganglion
spenopaltinus n palatini mayor
N. sphenopalatini brevis
N. sphenopalatini longus
N. olfactorius

14

Neuroepitel olfactorius
Letaknya bervariasi
Ukurannya mengecil umur
Umumnya terletak
- atap rongga hidung (cribriformis plate)
- superolateral dari septum
- permukaan atas dan medial konka media
Luasnya 1-4 cm2
Tebalnya 200 m

15

Inervasi mukosa nasal


- Komponen: sensori, parasimpatik, dan simpatik.
- NC olfaktori dan NC trigeminal (V1-V2) inervasi
ke nasal.
- Sistem saraf otonom : parasimpatik dan simpatik
tonus vaskuler, kongesti konka, dan sekresi nasal
- Neuroepitel olfaktori terletak di atap internal nasal
(pada cribriform plate), superolateral septum, dan
permukaan medial konka superior).
- Inervasi sensori utk olfaksion dan reflek (bersin,
konstriksi laring, bronkokonstriksi dan respon kardiovaskuler).
16

- Stimulasi simpatik dan parasimpatik di mukosa nasal


hasil dari perubahan nasal flow
- Inervasi parasimpatik mukosa nasal via vasodilator
atau aktivitas sekretmotor obstruksi nasal
Inervasi simpatik vasokonstriksi dekongesti nasal
- Impuls aferent utk taktil, termal, sensasi kimia
ditransmisikan via NC trigeminal.

17

18

19

Vaskularisasi
Berasal dari :
a. Arteri karotid eksterna percabangan fasial dan
maksila arteri maksila interna arteri
spenopalatina
b. Arteri karoitid interna percabangan oftalmik
arteri etmoidalis anterior-posterior
Vena fasial, sfenopalatina, dan etmoid suplai drainase vena ke nasal
Vena sfenopalatina dan etmoid sinus kavernosus
20

Vaskularisasi hidung
Hidung bagian luar :
a. facialis cab a maksilaris eksterna
a. ethmoidalis anterior
a. optalmikus

21

Vaskularisasi hidung
Dinding lateral hidung
a. ethmoidalis anterior
a. ethmoidalis posterior
a. sphenopalatina, a. palatina desenden

22

Vaskularisasi hidung
Septum nasi :
a. ethmoidalis anterior pleksus kieselbach
a. ethmoidalis posterior
a. sphenopalatina

23

Little's Area:
An area at the anterior inferior nasal septum
where the major vessels anastomose
(Kiesselbach's Plexus). It is an area of
anastomosis for the Sphenopalatine, Anterior
Ethmoid, and Superior Labial Arteries.
This is the MOST COMMON site of epistaxis.

24

25

26

27

ANATOMI SINUS PARANASAL


- Terdapat 9/10 sinus paranasal :
- Sinus frontalis
- Sinus ethmoidalis (anterior - posterior)
- Sinus maksilaris
- Sinus sfenoidalis
- Dilapisi membran mukus terusan dari membran
kavum nasi via osteum
- Normal : terisi udara

28

29

30

Arterial

Venous

Neural innervation

31

32

33

34

SINUS ETMOIDALIS
Ethmoidal labyrinth : piramida dengan basis di posterior
Batasan dinding :
Lateral : lamina papyracea paper thin dinding medial orbit
Medial : dinding lateral nasi
Garis tengah kavum nasi vertical plate os etmoid :
superior crista galli, terpisah dari sel etmoid sup
horisontal plate os etmoid
inferior perpendicular plate
Horizontal plate terdiri :
medial : cribriform plate
lateral : fovea ethmoidalis atap os etmoid
35

SINUS ETMOIDALIS..
Sel etmoidalis terbagi:
anterior: drainase ke infundubulum etmoidalis
(meatus media)
posterior: drainase ke meatus superior
Sinus terdiri dari : 4 17 sel, rata-rata 9 sel

36

SINUS MAKSILARIS
Batasan dinding :
Superior: dasar orbita (lapisan tulang tipis,
dilewati nervus infraorbitalis
Anterior: fosa kanina, pemisah dengan kulit pipi
Posterior: memisahkan sinus dari infratemporal
dan fosa pterigomaksilaris
Dasar/inferior: terbentuk dari prosesus alveolar
maksila
Medial : dinding lateral nasi
mengandung ostium sinus komunikasi sinus maks dan infundubulum etm
Ostium terletak pd aspek superior dinding medial
37

SINUS FRONTALIS
- Perkembangan dari anterosuperior sel etmodalis di
recesus frontalis
- Dinding medial : konka media
Dinding lateral : lamina papyracea
Dinding posterior : depan bula etmoidalis/lamela
basal kedua
Dinding anterior : paling kuat diantara dinding sinus
- Dasar sinus : atap supraorbital
- Drainase ostium : posteromedial dasar sinus
38

SINUS SFENOIDALIS
- Struktur asimetrik, dipisahkan oleh septum
intersinus
- Tipe perluasan pneumatisasi sinus :
1. Konkal : perluasan anterior sela tursika
2. Preselar : dinding posterior berhadapan dgn
sela tursika
3. Postselar : sela tursika merkn lekukan sinus
- Ostium sinus : 10 mm dibawah dasar sinus
membraneus
39

Muara sinus
Duktus nasolakrimalis : meatus nasi inferior
Sinus ethmoidalis ant : meatus nasi media
Sinus frontalis : meatus nasi media
Sinus ethmoidalis posterior : meatus nasi

superior
Sinus sphenoidalis : resesus sphenoidalis
Sinus maksilaris : meatus nasi media

40

ANATOMI FARING
Faring : bagian tubuh yang merupakan suatu

traktus aerodigestivus dengan struktur tubular


iregular mulai dari dasar tengkorak sampai
setinggi vertebra servikal VI, berlanjut
menjadi esophagus dan sebelah anteriornya
laring berlanjut menjadi trakea.
Batas-batas faring :
Superior : Oksipital dan sinus sphenoid
Inferior : Berhubungan dengan esophagus

setinggi m. Krikofaringeus
Anterior : Kavum nasi, kavum oris, dan laring
Posterior : kolumna vertebra servikal melalui
jaringan areolar yang longgar
42

Nasofaring
Batas-batas nasofaring :
Superior : Basis Cranii
Inferior : Bidang datar yang melalui palatum molle
Anterior : Berhubungan dengan cavun nasi melalui choana
Posterior : Vertebra Servikalis
Lateral : Otot-otot konstriktor faring

Ruang nasofaring mempunyai beberapa struktur penting, yaitu :


adenoid/ tonsila faringea/ tonsil nasofaringeal
Torus tubarius/ tuba faringotimpanik tonjolan seperti koma

di dinding lateral nasofaring 1 cm di belakang tepi posterior


konka inferior.
Resesus faringeus terletak posterosuperior torus tubarius,
dikenal sebagai fossa Rosenmuler, predileksi Ca Nasofaring
Muara tuba eustachius atau orifisium tube, terletak di dinding
lateral nasofaring, dan inferior torus tubarius, setinggi
palatum molle
Koana atau nares posterior
45

Orofaring
kelanjutan dari nasofaring pada tepi bebas dari palatum
molle. Batasnya :
Superior : Palatum molle
Inferior : Bidang datar yang melalui tepi atas epiglotis
Anterior : Berhubungan dengan kavum oris melalui
istmus
Posterior : VC 2-3 bersama dengan otot-otot
prevertebra
Istmus faucius dibatasi oleh arkus faringeus kanan dan
kiri. Arkus faringeus dibentuk oleh pilar tonsilaris yang
pada bagian anterior terdapat m. Palatoglosus dan
bagian posterior terdapat m. Palatofaringeus. Diantara
kedua pilar tersebut terdapat fossa/ruang tonsilaris,
berisi jaringan limfoid yang disebut tonsila palatina
(Tonsil)
49

Jaringan Limfoid pada Faring


Jaringan limfoid yang berkembang pada
faring dengan baik dikenal dengan nama
cincin Waldeyer yang terdiri dari :
Tonsila Palatina (faucial)
Tonsila Faringeal (adenoid)
Tonsila Lingualis
Lateral Faringeal Band
Nodul-nodul soliter di belakang faring

50

51

Anatomi tonsilla palatina


terletak dalam fossa tonsilaris, oval ukuran dewasa
panjang 20-25 mm, lebar 15-20 mm, tebal 15 mm
dan berat sekitar 1,5 gram.
Fossa tonsilaris, depan dibatasi oleh pilar anterior
(arkus palatina anterior), di belakang dibatasi oleh
pilar posterior (arkus palatina posterior), bersatu
di pole atas m. Palatina palatum molle.
Permukaan lateral tonsil dilapisi oleh kapsula
fibrosa yang kuat dan berhubungan dengan fascia
faringobasilaris yang melapisi m.Konstriktor
Faringeus. Kapsul tonsil tersebut masuk ke dalam
jaringan tonsil , membentuk septa yang
mengandung pembuluh darah dan saraf tonsil.
52

Permukaan tonsil merupakan permukaan

bebas dan mempunyai lekukan yang


merupakan muara kripta tonsil.
Kripta tonsil berjumlah sekitar 10-20 buah,
berbentuk celah kecil yang dilapisi oleh epitel
berlapis gepeng.
Kripta paling besar terletak di pole atas
tempat pertumbuhan kuman kelembaban
dan suhu sesuai untuk pertumbuhan kuman,
dan juga karena tersedianya substansi
makanan di daerah tersebut.

53

Vaskularisasi Tonsil:
A.Palatina Asendens, cabang A. Fasialis postero
inferior
A.Tonsilaris, cabang A.Fasialis antero inferior
A.Lingualis Dorsalis, cabang A.Maksilaris Interna
antero media
A.Faringeal Asendens, cabang A.Karotis Eksterna
postero superior
A.Palatina Desendens dan cabangnya, A.Palatina
Mayor dan Minor antero superior.
Darah vena dialirkan melalui pleksus venosus
perikapsular ke V. Lingualis dan pleksus venosus
faringeal, yang kemudian bermuara ke V. Jugularis
Interna. Pembuluh vena tonsil berjalan dari palatum,
menyilang bagian lateral kapsula dan selanjutnya
menembus dinding faring
54

Inervasi Tonsil
Terutama melalui N. Palatina Mayor dan Minor
(cabang N V) dan N. Lingualis (cabang N IX).
Nyeri pada tonsilitis sering menjalar ke
telinga, hal ini terjadi karena N IX juga
mempersarafi membran timpani dan mukosa
telinga tengah melalui Jacobsons Nerve

55

Laryngopharynx/Hypop
a. aditus laryngis
harynx
b. plica pharyngoepiglotica
c. plica nervi larryngei
d. recessus piriformis

Otot pharynx : m constrictor superoir,


medius dan inferior.
Otot otot tersebut di inervasi oleh n X
(pharyngeal plexus)

66

67

68

69

70

Larynx Normal

Struktur mayor dari larynx adalah

cartilago thyroid dan cartilago cricoid.


Skelet larynx terdiri atas :
cartilago thyroidea
carilago cricoidea
cartilago arytenoidea
cartilago epiglotica
dikranial dari larynx : os hyoideum

Otot Otot larynx


Otot ekstrinsik:
1. Otot-otot suprahioid / otot-otot elevator laring,
yaitu :
- M. Stilohioideus
- M. Milohioideus
- M. Geniohioideus
- M. Digastrikus
- M. Genioglosus
- M. Hioglosus
2. Otot-otot infrahioid / otot-otot depresor laring,
yaitu :
- M. Omohioideus
- M. Sternokleidomastoideus
- M. Tirohioideus
Untuk deglutisi dan fonasi

Otot ekstrinsik
79

otot intrinsik:
1. Otot-otot adduktor :
Mm. Interaritenoideus transversal dan oblik
M. Krikotiroideus
M. Krikotiroideus lateral
menutup pita suara.
2. Otot-otot abduktor :
M. Krikoaritenoideus posterior
membuka pita suara.
3. Otot-otot tensor :
Tensor Internus : M. Tiroaritenoideus dan M.
Vokalis
Tensor Eksternus : M. Krikotiroideus
menegangkan pita suara.
80

Otot intrinsik Laring

81

Inervasi Laring:
Laring dipersarafi oleh cabang N. Vagus yaitu
Nn. Laringeus Superior dan Nn. Laringeus
Inferior (Nn. Laringeus Rekuren) kiri dan kanan.
1. Nn. Laringeus Superior.
Meninggalkan N. vagus tepat di bawah ganglion

nodosum, melengkung ke depan dan medial di


bawah A. karotis interna dan eksterna yang
kemudian akan bercabang dua, yaitu :

Cabang Interna ; bersifat sensoris, mempersarafi

vallecula, epiglotis, sinus pyriformis dan mukosa


bagian dalam laring di atas pita suara sejati.

Cabang Eksterna ; bersifat motoris,

mempersarafi m. Krikotiroid dan m. Konstriktor


inferior.
85

2. N. Laringeus Inferior (N. Laringeus Rekuren).


Berjalan dalam lekukan diantara trakea dan

esofagus, mencapai laring tepat di belakang


artikulasio krikotiroidea. N. laringeus yang kiri
mempunyai perjalanan yang panjang dan dekat
dengan Aorta sehingga mudah terganggu.
cabang N. vagus setinggi bagian proksimal A.
subklavia dan berjalan membelok ke atas
sepanjang lekukan antara trakea dan esofagus,
selanjutnya akan mencapai laring tepat di
belakang artikulasio krikotiroidea dan
memberikan persarafan :

Sensoris, mempersarafi daerah sub glotis dan bagian


atas trakea

Motoris, mempersarafi semua otot laring kecuali M.


Krikotiroidea
86

VASKULARISASI:
Laring mendapat perdarahan dari cabang A.
Tiroidea Superior dan Inferior sebagai A.
Laringeus Superior dan Inferior.
Arteri Laringeus Superior
Berjalan bersama ramus interna N. Laringeus

Superior menembus membrana tirohioid menuju


ke bawah diantara dinding lateral dan dasar
sinus pyriformis. 4

Arteri Laringeus Inferior


Berjalan bersama N. Laringeus Inferior masuk ke
dalam laring melalui area Killian Jamieson yaitu
celah yang berada di bawah M. Konstriktor
Faringeus Inferior, di dalam laring
beranastomose dengan A. Laringeus Superior
dan memperdarahi otot-otot dan mukosa laring
87

89