Anda di halaman 1dari 39

Anggota Kelompok :

Astria Ocnivia

10 2008 033

Nur Hidayati binti Nordin

10 2008 305

Intan Arkas

10 2009 043

Febby

10 2009 081

Rosalina Nike Sairilela

10 2009 170

Maria Bernarda Aga Bata

10 2009 124

Ketlyne Lawra Hutajulu

10 2009 222

Mira Dewi Prawira

10 2009 265

Nurul Aisyah Ismail

10 2009 297

Bangar P.T.S

10 2009 331

Scenario 4 :
Seorang wanita usia 51 tahun sejak 2 minggu terakhir merasa pusing berputar. Pusing terjadi
hanya kira-kira selama 1 menit tetapi terjadi beberapa kali dalam sehari. Keluhan timbul bila
pasien berubah posisi waktu tidur, bangun tidur, membungkuk dan kemudian tegak kembali.
Pasien juga merasa mual tetapi tidak muntah. Kira-kira 6 bulan yang lalu, pasien juga pernah
sakit seperti ini tapi sembuh sendiri. Pendengaran kedua telinga baik, tidak berdengung. Riwayat
trauma dan demam sebelumnya disangkal.

Page | 1

Langkah 1 : Identifikasi Istilah yang Tidak diketahui


Tidak ada.
Langkah 2: Rumusan Masalah
1. Seorang wanita 51 tahun merasakan pusing berputar selama 1 menit, terjadi beberapa
kali dalam sehari sejak 2 minggu terakhir. Keluhan timbul bila perubahan posisi tidur,
membungkuk dan kemudian tegak kembali.
2. Pasien mual tidak muntah.

Langkah 3 : Analisis Masalah


Page | 2

Pusing berputar pada saat


berubah posisi
Preven
tif

Patofisiol
ogi

Anamn
esis

Etiolo
gi

Pemerik
saan

Epidemio
logi

Diagno
sis

Progno
sis

Penatalaksa
naan
Kompli
kasi

Langkah 4 : Hipotesis
Pasien dengan keluhan merasakan pusing berputar selama 1 menit, terjadi beberapa kali dalam
sehari sejak 2 minggu terakhir, keluhan timbul bila perubahan posisi tidur, membungkuk dan
kemudian tegak kembali menderita vertigo perifer.
Langkah 5 : Sasaran pembelajaran

Page | 3

1. Anamnesis
2. Pemeriksaan fisik
3. Diagnosis
4. Manifestasi klinik
5. Penatalaksanaan
6. Komplikasi
7. Prognosis
8. Epidemiologi
9. Etiologi
10. Patofisiologi
11. Preventif
Pendahuluan
Vertigo merupakan keluhan yang sering dijumpai dalam praktek, yang sering
digambarkan sebagai rasa berputar, rasa oleng, tak stabil (giddiness, unsteadiness) atau rasa
pusing (dizziness). Deskripsi keluhan tersebut penting diketahui agar tidak dikacaukan dengan
nyeri kepala atau sefalgi, terutama karena di kalangan awam kedua istilah tersebut (pusing dan
nyeri kepala) sering digunakan secara bergantian.
Vertigo berasal dari bahasa latin vertere yang artinya memutar, merujuk pada sensasi
berputar sehingga mengganggu rasa keseimbangan seseorang, umumnya disebabkan oleh
gangguan pada sistim keseimbangan.1,3
Vertigo sentral (central vertigo) melibatkan proses penyakit yang memengaruhi batang
otak (brain stem) atau cerebellum. Beberapa penyakit yang dapat menyebabkan vertigo sentral
antara lain.
1. Acoustic schwannomas atau meningiomas
2. Cerebellar pontine angle tumors
3. Cerebellar infarction

Page | 4

4. Cerebellar hemorrhage
5. Vertebrobasilar insufficiency
Vertigo perifer (peripheral vertigo) disebabkan oleh disfungsi struktur perifer hingga ke
batang otak (brain stem). Beberapa kondisi yang dapat menyebabkan vertigo perifer antara lain:1
1. Benign paroxysmal positional vertigo
2. Drug-induced vertigo (vertigo yang disebabkan oleh obat)
3. Labyrinthitis
4. Mnire's disease
5. Vestibular neuritis
Vertigo posisi paroksismal jinak (VPPJ) atau disebut juga Benign Paroxysmal Positional
Vertigo (BPPV) adalah gangguan keseimbangan perifer yang sering dijumpai. Gejala yang
dikeluhkan adalah vertigo yang datang tiba-tiba pada perubahan posisi kepala. Vertigo pada
BPPV termasuk vertigo perifer karena kelainannya terdapat pada telinga dalam, yaitu pada
sistem vestibularis. BPPV pertama kali dikemukakan oleh Barany pada tahun 1921. Karakteristik
nistagmus dan vertigo berhubungan dengan posisi dan menduga bahwa kondisi ini terjadi akibat
gangguan otolit.3
Anamnesis
Anamnesis adalah pemeriksaan yang dilakukan dengan wawancara. Anamnesis dapat
dilakukan langsung kepada pasien, yang disebut autoanamnesis, atau dilakukan terhadap orang
tua, wali, orang yang dekat dengan pasien, atau sumber lain, disebut sebagai aloanamnesis.
Termasuk didalam aloanamnesis adalah semua keterangan dokter yang merujuk, catatan rekam

Page | 5

medik, dan semua keterangan yang diperoleh selain dari pasiennya sendiri. Oleh karena bayi dan
sebagian besar anak belum dapat memberikan keterangan, maka dalam bidang kesehatan anak
aloanamnesis menduduki tempat yang jauh lebih penting dari pada autanamnesis.
Dalam keadaan tertentu anamnesis merupakan cara yang tercepat dan satu-satunya kunci menuju
diagnosis, baik dari kasus-kasus dengan latarbelakang faktor biomedis, psikososial, maupun
keduanya.
Meskipun di negara-negara yang telah maju peralatannya, anamnesis tetap
merupakan bagian yang penting bahkan untuk penderita vertigo merupakan pemeriksaan yang
paling penting. 2,3
a. Adakah kekhususan sifat vertigo yang timbul, keparahan vertigonya.
- Rasa gerakan palsu dari tubuh atau sekitarnya (rasa berputar, rasa terapung).
- Rasa tidak enak di kepala: kepala ringan, hubungannya dengan penglihatan dan
-

kesadaran.
Apakah vertigonya mempunyai pola gejala tertentu sitematis atau non sitematik, atau

vertigo yang kabur.


- Kecenderungan untuk jatuh.
b. Intensitas timbulnya vertigo bersangkutan dengan perjalanan waktu, bagaimana vertigo mulai
timbul dan bagaimana ia berakhir:
- Jenis paroksismal atau vertigo yang konstan, atau vertigo yang serangannya akut yang
kemudian berangsur-angsur melemah. Berapa detik, hari minggu atau bulan? Apakah di
antara serangan itu penderita bebas sama sekali dari keluhan?
c. Pengaruh lingkungan atau situasi
- Adakah suatu posisi perubahan posisi tubuh dan atau kepala menyebabkan timbulnya
serangan atau meningkatkan keluhan?
- Apakah stres psikis mengawali timbulnya serangan?
- Apakah serangan didahului oleh infeksi saluran nafas bagian atas?
d. Keluhan dari telinga
- Rasa tertutupnya telinga, penekanan pada telinga.
- Tinitus: subyektif atau obyektif, sebelah kanan atau sebelah kiri, atau di tengah-tengah.
Page | 6

Tuli: terutama yang progresif di dalam beberapa bulan. Hubungan tuli dengan timbulnya
vertigo: apakah sewaktu vertigo tulinya membaik (lermoyes) ataukah kian memburuk
(meniere). Tidak adanya keluhan tuli tidak menyingkirkan adanya tuli, karena saat
serangan penderita tidak merasakannya, dan lagi tulinya kadang-kadang selektif hanya

pada nada tinggi.


Diplakusis (distorsion in pitch), fenomena pengerahan (recruitmen phenomenon atau
distorsion of loudness), yang dikeluhkan penderita timbulntya rasa nyeri pada saat
mendengar suara keras. Sindrom meniere mempunyai empat gejala, tuli, tinitus, rasa

penuh di telinga dan vertigo.


e. Anamnesis umum
- Termasuk di sini anamnesis untuk menilai bentuk kepribadian, keluhan-keluhan lain
(drop-attack, gangguan penglihatan, disartria, disfagia, disfonia, gangguan pergerakan
atau sensisbilitas) bilamana keluhan ini ada dan bersama-sama dengan penurunan
kesadaran ingat kelainan serebrovaskular. Keluhan mata yang timbul bersama keluhan
telinga, sindrom Cogan.
f. Anamnesis intoksikasi/pemakaian obat-obatan
- Streptomisin/ dihidrostreptomisin
- Antikonvulsan
- Gentamisin/ garamisin
- Antihipertensi
- Kanamisin
- Penenang
- Neomisin
- Alkohol
- Fenilbutason/ salisilat
- Kinin
- Asam etakrinik
- Tembakau
Dari hasil autoanamnesis didapatkan hasil:
Identifikasi data
Seorang wanita usia 51 tahun
Keluhan utama
Page | 7

Merasa pusing berputar sejak 2 minggu yang lalu


Keluhan tambahan
Merasa mual tetapi tidak muntah.
Riwayat Penyakit Sekarang
Pusing terjadi beberapa kali dalam sehari selama 1 menit. Timbul bila merubah posisi waktu
tidur, bangun tidur, membungkuk, dan kemudian tegak kembali. Ependengaran keda telinga
baik dan tidak berdengung
Riwayat Penyakit Dahulu
Kira-kira 6 bulan lalu pernah sakit seperti ini tapi sembuh sendiri. Riwayat trauma dan
demam sebelumnya disangkal.
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan Ketajaman Pendengaran.
Ketajaman pendengaran seseorang merupakan pemeriksaan fisik terhadap saraf kokhlearis.
Secara kasar (rutin) ketajaman pendengaran ditentukan dengan jalan menyuruh penderita
mendengarkan suara bisikan pada jarak tertentu dan membandingkannya dengan orang yang
normal. Perhatikan pula apa ada perbedaan antara ketajaman pendengaran telinga kanan dan kiri.
Beda ini penting artinya ditinjau dari sudut patologis. Bila ketajaman pendengaran berkurang
atau terdapat perbedaan antara kedua telinga, kita lakukan pemeriksaan-pemeriksaan Schwabach,
Rinne, Weber, atau Audiogram. 1,4
Tes Schwabach
Pendengaran penderita dibandingkan dengan pendengaran pemeriksa (yang dianggap
normal). Garpu tala dibunyikan dan kemudian ditempatkan di dekat telinga penderita.
Setelah penderita tidak mengarkan bunyi lagi, garpu tala ditempatkan di dekat telinga
pemeriksa. Bila masih terdengar bunyi oleh pemeriksa, maka dikatakan bahwa
Schwabach lebih pendek (untuk konduksi udara). Kemudian garpu tala dibunyikan lagi

Page | 8

dan pangkalnya ditekankan pada tulang mastoid penderita. Disuruh penderita


mendengarkan bunyinya.
Pemeriksaan Rinne
Dibandingkan konduksi tulang dengan konduksi udara. Pada telinga yang normal,
konduksi udara lebih baik daripada konduksi tulang. Hal ini didapatkan juga pada tuli
perseptif (tuli saraf). Akan tetapi, pada tuli konduktif, konduksi tulang lebih baik daripada
konduksi udara.
Pada pemeriksaan tes Rinne biasanya digunakan garpu tala yang berfrekuensi 128Hz,
256Hz, atau 512Hz. Garpu tala dibunyikan dan pangkalnya ditekankan pada tulang
mastoid penderita. Ia disuruh mendengarkan bunyinya. Bila tidak terdengar lagi, garpu
tala segera didekatkan pada telinga. Jika masih terdengar bunyi, maka konduksi udara
lebih baik daripada konduksi tulang, dan dalam hal ini dikatakan Rinne Positif. Bila tidak
terdengar lagi bunyi, segera setelah garpu tala dipindahkan dari tulang mastoid ke dekat
telinga, kita katakan Rinne Negative.1,4
Tes Weber
Garpu tala yang dibunyikan ditekankan pangkalnya pada dahi penderita, tepat
dipertengahan. Penderita disuruh mendengarkan bunyinya, dan menentukan pada telinga
mana bunyi lebih keras terdengar. Pada orang yang normal, kerasnya bunyi sama pada
telinga kiri dan kanan. Pada tuli saraf, bunyi lebih keras terdengar pada telinga yang
sehat, sedang pada tuli konduktif bunyi lebih keras terdengar pada telinga yang tuli. Kita
katakan tes Weber berlateralisasi ke kiri (atau ke kanan), bila bunyi lebih keras terdengar
di telinga kiri (atau kanan). Dengan ringkas dapat dikatakan bahwa tuli perseptif
pendengaran berkurang, Rinne positif dan Weber berlateralisasi ke telinga yang sehat.
Pada tuli konduktif pendengaran berkurang, Rinne negatif dan Weber berlateralisasi ke

Page | 9

telinga yang tuli. Bunyi atau suara yang dapat didengar oleh telinga yang normal
berfrekuensi antara 8-6 sampai kira-kira 32000Hz.
Pemeriksaan Keseimbangan/vestibuler.

1,4

Uji Romberg
Penderita berdiri dengan kedua kaki dirapatkan, mula-mula dengan kedua mata
terbuka kemudian tertutup. Biarkan pada posisi demikian selama 20-30 detik. Harus
dipastikan bahwa penderita tidak dapat menentukan posisinya (misalnya dengan bantuan
titik cahaya atau suara tertentu). Pada kelainan vestibuler hanya pada mata tertutup badan
penderita akan bergoyang menjauhi garis tengah kemudian kembali lagi, pada mata
terbuka badan penderita tetap tegak. Sedangkan pada kelainan serebelar, badan penderita
akan bergoyang baik pada mata terbuka maupun pada mata tertutup.
Uji Tandem Gait
Penderita berjalan lurus dengan tumit kaki kiri/kanan diletakkan pada ujung jari kaki
kanan/kiri ganti berganti. Pada kelainan vestibuler perjalanannya akan menyimpang, dan
pada kelainan serebelum, penderita akan cenderung jatuh.
Uji Unterberger
Berdiri dengan kedua lengan lurus horisontal ke depan dan jalan di tempat dengan
mengangkat lutut setinggi mungkin selama satu menit. Pada kelainan vestibuler posisi
penderita akan menyimpang/berputar ke arah lesi dengan gerakan seperti orang melempar
cakram; kepala dan badan berputar ke arah lesi, kedua lengan bergerak ke arah lesi
dengan lengan pada sisi lesi turun dan yang lainnya naik. Keadaan ini disertai nistagmus
dengan fase lambat ke arah lesi.
Uji Tunjuk Barany (Past-Pointing Test)

Page | 10

Dengan jari telunjuk ekstensi dan lengan lurus ke depan, penderita disuruh mengangkat
lengannya ke atas, kemudian diturunkan sampai menyentuh telunjuk tangan pemeriksa.
Hal ini dilakukan berulang-ulang dengan mata terbuka dan tertutup. Pada kelainan
vestibuler akan terlihat penyimpangan lengan penderita ke arah lesi.
Uji Babinsky-Weil
Pasien dengan mata tertutup berulang kali berjalan lima langkah ke depan dan lima
langkah ke belakang selama setengah menit; jika ada gangguan vestibuler unilateral,
pasien akan berjalan dengan arah berbentuk bintang.
Pemeriksaan untuk menimbulkan Nistagmus. 1,4
Manuver Dix-Hallpike
Untuk membangkitkan vertigo atau nistagmus posisional pada penderita dengan
gangguan sistem vestibular dapat dilakukan Dix-Hallpike manuver. Pada tes ini pasien
disuruh duduk di tempat tidur periksa. Kemudian ia direbahkan sampai kepalanya
tergantung di pinggir dengan sudut sekitar 30 derajat di bawah horison. Selanjutnya
kepala ditolehkan ke kiri. Tes kemudian diulangi dengan kepala melihat lurus dan
diulangi lagi dengan kepala menoleh ke kanan. Penderita disuruh tetap membuka
matanya agar pemeriksa dapat meluhat sekiranya muncul nistagmus. Perhatikan kapan
nistagmus mulai muncul, berapa lama berlangsung serta jenis nistagmus. Kemudian
kepada penderita ditanyakan apa yang dirasakannya. Apakah ada vertigo yang pernah
dialaminya.

Page | 11

Gambar : Manuver Dix-Hallpike

Pada lesi perifer vertigo biasanya berat, lebih berat daripada lesi sentral. Pada lesi perifer
nistagmus akan capai; maksudnya ialah setelah beberapa saat nistagmus akan berkurang dan
kemudian berhenti, walaupun kepala masih tetap dalam posisinya. Selain itu, pada lesi perifer,
bila manuver ini diulang-ulang, jawaban nistagmus akan berkurang dan kemudian tidak muncul
lagi. Hal ini disebut habituasi. Pada lesi vestibular sentral tidak didapatkan masa laten.
Nistagmus segera muncul. Selain itu pada lesi sentral nistagmus tidak berkurang atau mereda,
tidak menjadi capai dan nistagmus akan tetap timbul bila manuver ini diulang-ulang. Jadi, tidak
didapatkan habituasi.
Gerakan Sidelying
Gerakan ini terdiri dan 2 gerakan yaitu gerakan sidelying kanan yang menempatkan
kepala pada posisi dimana kanalis anterior kiri/kanalis posterior kanan pada bidang tegak
lurus garis horizontal dengan kanal posterior pada posisi paling bawah dan perasat
Sidelying kiri yang menempatkan kepala pada posisi dimana kanalis anterior kanan dan
kanalis posterior kiri pada bidang tegak lurus garis horizontal dengan kanal posterior
pada posisi paling bawah.
Pasien duduk pada meja pemeriksaan dengan kaki menggantung di tepi meja, kepala
ditegakan ke sisi kanan. tunggu 40 detik sampai timbul respon abnormal. Pasien kembali
Page | 12

ke posisi duduk untuk diakukan perasat Sidelying kiri, pasien secara cepat dijatuhkan ke
sisi kiri dengan kepala ditolehkan 45 ke kanan (menempatkan kepala pada posisi kanalis
anterior kanan/kanalis posterior kiri). Tunggu 40 detik sampai timbul respon abnormal.

Gambar : Gerakan Side Lying

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan darah lengkap (CBC)

Pemeriksaan

ini

mampu

mendeteksi

berbagai

macam

gangguan

yang

bermanifestasi di dalam darah, oleh karena itu pemeriksaan ini biasanya menjadi
rangkaian pemeriksaan awal saat pasien berobat di rumah sakit. Banyak gangguan yang
dapat dideteksi melalui cek darah lengkap, antara lain adalah anemia, berbagai macam
penyakit infeksi, leukemia, dll. Jika pada hitung darah lengkap ditemukan gangguan,
biasanya dilakukan pemeriksaan laboratorium lanjutan yang spesifik terhadap gangguan
Page | 13

tersebut. Pada hitung darah lengkap, dilakukan pemeriksaan terhadap beberapa komponen
darah, yaitu sel darah, hemoglobin, hematokrit, trombosit, LED, dan CRP.5,7
ENG (Electronystamography)

ENG gunanya untuk memonitor gerakan bola mata. Prinsipnya sederhana saja,
yaitu bahwa kornea mata itu bermuatan positif. Muatan positif ini sifatnya sama dengan
muatan positif listrik atau magnit yang selalu mengimbas daerah sekitarnya. Begitu pula
muatan positif kornea ini mengimbas kulit di sekitar bola mata. Dengan meletakkan
elektroda pada kulit kantus lateral mata kanan dan kiri, maka kekuatan muatan kornea
kanan dan kiri bisa direkam. Rekaman muatan ini disalurkan pada sebuah galvanometer.
Bila muatan kornea mata kanan dan kiri sama, maka galvanometer akan
menunjukkan angka nol (di tengah). Bila mata bergerak ke kanan, maka elektroda kanan
akan bertambah muatannya, sedangkan elektrode kiri akan berkurang, jarum
galvanometer akan bergerak ke satu arah. Jadi kesimpulannya, jarum galvanometer akan
bergerak sesuai dengan gerak bola mata. Dengan demikian nistagmus yang terjadi bisa
dipantau dengan bak. Bila gerak jarum galvanometer diperkuat, maka akan mampu
menggerakkan sebuah tuas, dan gerakan tuas ini akan membentuk grafik pada kertas,
yang disebut elektronistamografi (ENG).
Dalam grafik ENG dapat mudah lebih dikenal gerakan nistagmus fase lambat dan
fase cepat, arah nistagmus serta frekuensi dan bentuk grafiknya. Yang menjadi pegangan
utama adalah kecepatan fase lambat dari nistagmus yang dapat dihitung di dalam derajat
perdetik.
Rumus perhitungan yang dipakai sama dengan rumus yang dianjurkan Dick &
Hallpike, hanya parameter yang dipakai adalah kecepatan fase lambat yang dihitung
dengan derajat perdetik.
Page | 14

Rumus 1.
Sensitivitas L-R = (a+c) (b+d) x 100% = < 20%
(a + c + b + d)
Bila hasil rumus di atas kurang dari 20% maka kedua fungsi vestibuler dalam
keadaan seimbang, dan bila hasilnya melebihi 15 derajat per detik, maka kedua fungsi
vestibuler dalam keadaan normal. Bila hasilnya lebih besar dari 20% maka vestibuler
yang hasilnya kecil berarti mengalami paresis kanal.
Rumus 2.
Kuat Nist. R-L = (a+d) (b+c) x 100% = < 20%
(a + d + b +c)
Bila hasil rumus lebih besar dari 20%, maka nistagmus berat ke kanan (directional
preponderance to the right), berarti kemungkinan terdapat lesi sentral di sebelah
kanan, atau ada fokus iritatif sentral di sebelah kiri.

EEG (Elektroencephalography) 5,7

Elektroensefalografi adalah prosedur pencatatan aktivitas listrik otak dengan alat


pencatatan yang peka. EEG ini menangkap gelombang listrik yang dihasilkan oleh
permukaan (sel-sel korteks). Dari ketiga jenis sel kortikal, sel piramidal yang dianggap
merupakan sumber potensial listrik dari gelombang-gelombang permukaan. Adapun
gelombang permukaan itu merupakan penjumlahan dari potensial listrik pasca sinaps,
baik yang bersifat inhibisi atau eksitasi, yang berasal dari soma dan dendrit-dendrit besar
sel pyramidal yang kemudian melalui cairan dan jaringan tubuh sampai pada electrodeelektrode EEG.

Page | 15

Berbagai

penelitian

mengungkapkan

tidak

semua

individu

normal

memperlihatkan EEG yang normal, dan tidak semua abnormalitas dalam EEG berarti ada
abnormalitas pada individu yang bersangkutan. Aktivitas abnormal disebut spesifik bila
gelombang yang timbul mempunyai gambaran yang khas dan berkorelasi tinggi dengan
kelainan klinik tertentu. Pemeriksaan EEG penting untuk mendiagnosa epilepsy, tumor,
lesi desak ruang lain, trauma kepala dan infeksi otak.

Pemeriksaan Radiologi
MRI

MRI intracranial menghasilkan potongan lintang otak dan tulang belakang yang
sangat detail. Keuntungan utama MRI adalah kemampuannya untuk melihat ke dalam
tulang dan menggambarkan jaringan lunak yang terisi cairan. MRI di sini kita gunakan
untuk mengevaluasi struktur dari batang otak, serebelum, serta komplektivitas dari nervus
delapan (N.VIII). MRI terbukti bermanfaat dalam mendiagnosis infark serebral (contoh:
stroke), tumor (contoh: schwanoma vestibuler), abses, edema serebral, perdarahan,
demielinasasi serat saraf, serta kelainan lain yang meningkatkan kandungan cairan pada
jaringan yang terkena.
Pada cairan edema, umumnya tampak hiperintensity, sedangkan darah akan
tampak lebih gelap. Pada dasarnya MRI tidak rutin diperlukan untuk mengevaluasi setiap

Page | 16

kasus vertigo, hanya MRI digunakan untuk lebih memastikan apabila kita mencurigai
adanya kelainan neurologis pada pemeriksaan fisik sebelumnya.4,5
CT-Scan

CT scan intracranial menyajikan serangkaian tomogram, yang diterjemahkan oleh


computer dan ditampilkan pada sebuah monitor dalam bentuk gambaran potongan
melintang berbagai lapisan otak. Teknik ini dapat membuat rekonstruksi gambaran
bidang potongan lintang, horizontal, sagital, dan koronal. CT scan dapat digunakan untuk
mendiagnosis lesi dan kelainan intracranial.
CT scan tulang temporal menyediakan suatu resolusi struktur telinga yang lebih
tinggi dibandingkan dengan MRI dan juga lebih baik dalam mengevaluasi lesi dalam
tulang. Dengan teknik resolusi pemotongan coronal, akan didapatkan variasi gambaran
tulang yang sangat detail, karenanya CT scan menjadi pilihan utama untuk mendiagnosis.
Diagnose Kerja
Berdasarkan anamnesis, gejala klinis, pemerikaan fisik dan penunjang.
Ditetapkan diagnosa kerja adalah vertigo perifer. Gejala klinisnya adalah pasien vertigo
perifer akan mengeluh jika kepala berubah pada suatu keadaan tertentu. Pasien akan merasa
berputar atau merasa sekelilingnya berputar jika akan ke tempat tidur, berguling dari satu sisi ke
sisi lainnya, bangkit dari tempat tidur di pagi hari, mencapai sesuatu yang tinggi atau jika kepala
digerakkan ke belakang.
Biasanya vertigo hanya berlangsung 5-10 detik. Kadang-kadangdisertai rasa mual dan
seringkali pasien merasa cemas. Vertigo tidak akan terjadi jika kepala tegak lurus atau berputar

Page | 17

secara aksial tanpa ekstensi, pada hampir sebagian besar pasien, vertigo akan berkurang dan
akhirnya berhenti secara spontan dalam beberapa hari atau beberapa bulan, tetapi kadang-kadang
dapat juga sampai beberapa tahun.7

Diagnose Banding
Vertigo harus dibedakan antara vertigo sentral dan vertigo perifer yangmana perbedaannya
terdapat pada gejala-gejala pada pasien seperti :

Gejala

Sentral

Perifer

Rasa mual berlebihan

+++

Muntah

Diperburuk oleh pergerakan kepala tidak spesifik

++

+++

+++

Dicetuskan oleh pergerakan kepala spesifik (misalnya


posisi dix-hallpike), perputaran kepala dalam posisi
terlentang.
Timbulnya nistagmus paroxysmal ke atas dengan
manuver dixx-hallpike

Page | 18

Timbulnya nistagmus paroxysmal ke bawah dengan


++

++

Nistagmus persisten ke bawah pada semua posisi

+++

Hilangnya nistagmus dengan pergerakan posisi

+++

Membaik setelah perawatan dengan manuver posisional

+++

manuver dixx-hallpike
Nistagmus denga perubahan
paroxysmal

posisi

horizontal

(geotropic/ageotropic)

yang

dibangkitkan ole perputaran posisi horizontal kepala

Penyakit Meniere
Penyakit Meniere adalah suatu penyakit yang ditandai oleh serangan berulang vertigo
(perasaan berputar), tuli dan tinnitus (telinga berdenging). Penyebabnya tidak diketahui.
Gejalanya berupa seangan vertigo, mual dan muntah mendadak, yang berlangsung selama 3-24
jam dan kemudian menghilang secara perlahan. Secara periodik, penderita merasakan telinganya
penuh atau merasakan adanya tekanan di dalam telinga. Pendengaran di telinga yang terkena
berfluktuasi (kadang jelas, kadang kurang) tetapi semakin lama semakin memburuk. Tinnitus
bisa menetap atau hilang-timbul dan semakin memburuk sebelum, setelah maupun selama
serangan vertigo. Pada kebanyakan penderita, penyakit ini hanya menyerang 1 telinga dan pada
10-15% penderita, penyakit ini menyerang kedua telinga. Pada salah satu bentuk penyakit
Meniere, tuli dan tinnitus terjadi beberapa bulan atau beberapa tahun sebelum serangan vertigo.
Setelah serangan vertigo mulai, bisa terjadi perbaikan fungsi pendengaran.8,10
Neuritis Vestibular Akut

Page | 19

Neuronitis Vestibularis (Vestibular Neuronitis) adalah suatu penyakit yang ditandai oleh
adanya serangan vertigo (perasaan berputar) mendadak akibat peradangan pada saraf yang
menuju ke kanalis semisirkularis. Penyakit ini kemungkinan disebabkan oleh virus. Penyakit ini
kemungkinan disebabkan oleh virus. Serangan vertigo yang pertama sangat berat, disertai
dengan mual dan muntah dan berlangsung selama 7-10 hari. Bola mata bergerak-gerak diluar
kesadaran ke arah telinga yang terkena (gejala ini disebut nistagmus). Penyakit ini membaik
dengan sendirinya. Bisa terjadi dalam bentuk serangan tunggal atau beberapa kali serangan
dalam waktu 12-18 bulan. Serangan berikutnya biasanya berlangsung lebih sebentar dan lebih
ringan dibandingkan dengan serangan pertama kali. Penyakit ini tidak mempengaruhi fungsi
pendengaran. Dilakukan pemeriksaan fungsi pendengaran dan elektronistagmografi (rekaman
pergerakan mata dengan menggunakan metoda elektronik). Pemeriksaan nistagmus lainnya
adalah dengan memasukkan sejumlah kecil air es ke dalam setiap saluran telinga lalu pergerakan
mata penderita direkam. Untuk membedakan neuronitis vestibularis dari penyebab vertigo
lainnya bisa dilakukan pemeriksaan MRI kepala.11
Waktu terjadinya
Awitan
No
.

Permasalahan

Durasi

Perjalanan
Pendengara
n

Tinitus

Gejala

lain

yang
menyertai

Page | 20

1.

Vertigo

Mendadak,

Singkat,

Bertahan

Tidak

Positional

saat

beberapa

selama

terpengaruh

Benigna

berguling ke detik,

beberapa

nausea

sisi

yang hingga

minggu;

vomitus

sakit

atau beberapa

dapat

mendongaka

menit

Neuritis

Mendadak

Kadangkadang
dan

timbul

n kepala
2.

Tidak ada

kembali
Beberapa

Dapat

vestibular

jam hingga timbul

(labirintitis

beberapa

kembali

akut)

hari,

setelah 12-

sampai

Tidak

Tidak ada

Nausea,

terpengaruh

vomitus

2 18 bulan

minggu
3.

Penyakit
Mnire

Mendadak

Beberapa

Gangguan

Terdapat,

Nausea,

jam hingga (rekuren)

pendengaran

berflutuasi

vomitus,

beberapa

sensori-

hari

neural

lebih

atau

Kambuhan

sembuh

penuh dalam
yang
dan

kambuh

rasa tertekan
atau

telinga

yang sakit

kembali serta
akhirnya
berjalan
progresif

Page | 21

Etiologi
Merupakan penyakit yang sering ditemukan, dimana vertigo terjadi secara mendadak dan
berlangsung kurang dari 1 menit. Gangguan vestibular perifer meliputi Benign Paroksimal
Positional Vertigo (BPPV vertigo karena gangguan vestibular perifer yang paling banyak
ditemui), sindrom Cogan (terjadi karena ada peradangan pada jaringan ikat di kornea, bisa
mengakibatkan vertigo, telinga berdenging dan kehilangan pendengaran), penyakit Mnire
(adanya fluktuasi tekanan cairan di dalam telinga/ endolimf sehingga dapat mengakibatkan
vertigo, telinga berdenging, dan kehilangan pendengaran). ototoksisitas (keracuanan pada
telinga), neuritis vestibular (peradangan pada sel saraf vestibular, dapat disebabkan karena
infeksi virus).8,9
Perubahan posisi kepala (biasanya terjadi ketika penderita berbaring, bangun, berguling
diatas tempat tidur atau menoleh ke belakang) biasanya memicu terjadinya episode vertigo ini.
Penyakit ini tampaknya disebabkan oleh adanya endapan kalsium di dalam salah satu kanalis
semisirkularis di dalam telinga bagian dalam. Vertigo jenis ini mengerikan, tetapi tidak
berbahaya dan biasanya menghilang dengan sendirinya dalam beberapa minggu atau bulan.
Tidak disertai hilangnya pendengaran maupun telinga berdenging. Vertigo bisa disebabkan oleh
kelainan di dalam telinga, di dalam saraf yang menghubungkan telingan dengan otak dan di
dalam otaknya sendiri.
Vertigo juga bisa berhubungan dengan kelainan penglihatan atau perubahan tekanan
darah yang terjadi secara tiba-tiba. Vertigo bisa disebabkan karena adanya gangguan pada sistem
vestibular perifer (ganguan pada telinga bagian dalam). Pusing juga bisa muncul sebagai akibat
dari gangguan sistem vestibular sentral (misalnya saraf vestibular, batang otak, dan otal kecil).
Page | 22

Pada beberapa kasus, penyebab vertigo tidak diketahui. Beberapa obat dan zat kimia (seperti
timbal, merkuri, timah) dapat menyebabkan ototoksitas, yang mengakibatkan kerusakan pada
telinga bagian dalam atau saraf kranial VIII dan menyebabkan vertigo. Kerusakan dapat bersifat
temporer maupun permanen. Penggunaan preparat antibiotik (golongan aminoglikosida, yaitu
streptomisin dan gentamisin) jangka panjang maupun penggunaan antineoplastik (misalnya
cisplatin maupun carboplatin) dapat menyebabkan ototoksisitas permanen. Konsumsi alkohol,
meskipun dalam jumlah kecil, dapat menyebabkan vertigo temporer pada beberapa orang.9

Penyebab umum dari vertigo.10


1. Keadaan lingkungan
- Motion sickness (mabuk darat, mabuk laut)
2. Obat-obatan
- Alkohol
- Gentamisin
3. Kelainan di teling
- Endapan kalsium pada salah satu kanalis semisirkularis di dalam telinga bagian dalam
(menyebabkan benign paroxysmal positional vertigo)
- Infeksi telinga bagian dalam karena bakteri
- Herpes zoster

Page | 23

- Labirintitis (infeksi labirin di dalam telinga)


- Peradangan saraf vestibuler
- Penyakit Meniere
Kelainan neurologis :
- Sklerosis multipel
- Patah tulang tengkorak yang disertai cedera pada labirin, persarafannya atau keduanya
- Tumor otak
- Tumor yang menekan saraf vestibularis.
Beberapa faktor predisposes lain yang mencetuskan terjadi vertigo adalah kurangnya pergerakan
aktif, sehingga saat mengalami perubahan posisi mendadak akan timbul sensasi vertigo,
alkoholisme akut dan pasca oprasi mayor.
Epidemiologi 10
Vertigo perifer adalah gangguan keseimbangan perifer yang sering dijumpai, kira-kira
107 kasus per 100.000 penduduk, dan lebih banyak pada perempuan serta usia tua (51-57 tahun).
Jarang ditemukan pada orang berusia dibawah 35 tahun yang tidak memiliki riwayat cedera
kepala.
Menurut Prof. Dr. Jenny Bashiruddin, Sp THT dari Department THT, FK Universitas
Indonesia, sekitar 80% vertigo adalah jenis perifer, yaitu akibat adanya gangguan pada telinga
bagian dalam atau vestibular. Sisanya akibat adanya gangguan pada sistim saraf atau vertigo
sentral. Pada tahun 1996 dilaporkan dari 119 penyakit puyeng oleh kelainan yang disebut sebagai
kelainan otologik, 49% menderita vertigo perifer proksimal benigna, 18,5% penyakit meniere,

Page | 24

13,5% parese vestibular unilateral, 8% parese vestibular bilateral, 6% disfungsi telinga tengah
dan 5% fistula.
Manifestasi Klinis
Penderita merasa seolah-olah dirinya bergerak atau berputar; atau penderita merasakan seolaholah benda di sekitarnya bergerak atau berputar.
Gejala-gejala vertigo meliputi: 2,6,12
1. Pusing
2. Kepala terasa ringan
3. Rasa terapung, terayun
4. Mual
5. Keringat dingin
6. Pucat
7. Muntah
8. Sempoyongan waktu berdiri atau berjalan
9. Nistagmus
Gejala-gejala di atas dapat diperhebat dengan berubahnya posisi kepala
Patofisiologi
Dapat dilihat dari dua teori, yaitu : 8,10
Teori Cupulolithiasis
Pada tahun 1962 Horald Schuknecht mengemukakan teori ini untuk menerangkan BPPV.
Menemukan partikel-partikel basofilik yang berisi kalsiurn karbonat dari fragmen otokonia
Page | 25

(otolith) yang terlepas dari macula utriculus yang sudah berdegenerasi, menempel pada
permukaan kupula. Dia menerangkan bahwa kanalis semisirkularis posterior menjadi sensitif
akan gravitasi akibat partikel yang melekat pada kupula. Ini digambarkan oleh nistagmus dan
rasa pusing ketika kepala penderita dijatuhkan ke belakang posisi tergantung (seperti pada tes
Dix-Hallpike). KSS posterior berubah posisi dari inferior ke superior, kupula bergerak secara
utrikulofugal, dengan demikian timbul nistagmus dan keluhan pusing (vertigo). Perpindahan
partikel otolith tersebut membutuhkan waktu, hal ini yang menyebabkan adanya masa laten
sebelum timbulnya pusing dan nistagmus.
Teori Canalithiasis
Tahun1980 Epley mengemukakan teori canalithiasis, partikel otolith bergerak bebas di
dalam KSS. Ketika kepala dalam posisi tegak, endapan partikel ini berada pada posisi yang
sesuai dengan gaya gravitasi yang paling bawah. Ketika kepala direbahkan ke belakang partikel
ini berotasi ke atas sarnpai 900 di sepanjang lengkung KSS. Hal ini menyebabkan cairan
endolimfe mengalir menjauhi ampula dan menyebabkan kupula membelok (deflected), hal ini
menimbulkan nistagmus dan pusing. Pembalikan rotasi waktu kepala ditegakkan kernbali, terjadi
pembalikan pembelokan kupula, muncul pusing dan nistagmus yang bergerak ke arah
berlawanan. Dibanding dengan teori cupulolithiasis teori ini lebih dapat menerangkan
keterlambatan "delay" (latency) nistagmus transient, karena partikel butuh waktu untuk mulai
bergerak. Ketika mengulangi manuver kepala, otolith menjadi tersebar dan semakin kurang
efektif dalam menimbulkan vertigo serta nistagmus. Hal inilah yag dapat menerangkan konsep
kelelahan "fatigability" dari gejala pusing.
Komplikasi

Page | 26

Organik
Vertigo juga menjadi tanda-tanda gejala penyumbatan darah ke otak. Penyumbatan pembuluh
darah pada otak ini menyebabkan otak kekurangan oksigen sehingga menyebabkan gangguan
sirkulasi darah. Gangguan sirkulasi ini bisa dipicu oleh banyak faktor, antara lain timbulnya plak
di dinding pembuluh darah, meningkatnya kekentalan darah, atau mengerasnya dinding
pembuluh darah.
Gangguan pada telinga juga bisa menjadi sesuatu yang menganggu. Misalnya, gangguan pada
telinga ini terjadi karena ada infeksi bakteri pada organ di telinga dalam alias labyrinthitis.
Infeksi ini bisa membuat orang tersebut vertigo yang disertai dengan muntah dan suhu badan
yang tinggi. Kondisi ini perlu penanganan serius. Karena, jika tidak ditangani dengan baik,
infeksi bisa berpengaruh ke organ-organ lain dan bisa mengakibatkan komplikasi.
Vertigo bisa pula merupakan penanda adanya tumor pada saraf pendengaran atau pada saraf
keseimbangan, yang terletak di antara telinga dan otak.
Non organic (psikologi)
~ Lekas marah
~ Depresi
~ Cedera karena jatuh
Penatalaksanaan
Medika Mentosa

Page | 27

Begitu banyak jenis obat yang digunakan untuk mengobati vertigo dan seringnya terjadi
bersamaan dengan mual dan muntah. Obat-obat tersebut memperlihatkan berbagai kombinasi
dari antagonisme reseptor asetilkolin, dopamin, dan histamin. The American Gastroenterological
Association merekomendasikan antikolinergik dan antihistamin untuk pengobatan mual-mual
yang berhubungan dengan vertigo.
Antihistamin yang sering diberikan adalah Meclizine (Antivert) dan Dimenhydrinate
(Dramamine). Meclizine dapat menurunkan eksitabilitas labirin telinga dalam dan menghambat
konduksi pada lintasan vestibuler telinga dalam dengan serebelum. Obat ini diberikan dengan
dosis 25-50 mg PO setiap 4-6 jam sekali. Obat ini dapat meningkatkan toksisitas dari depresan
SSP, dan neuroleptik. Hati-hati bila diberikan pada glukoma sudut tertutup, hipertropi prostat,
dan obstruksi pilorus atau doudenum. 10,12
Dimenhydrinate (Dramamine) melalui aktivitas antikolinergik sentral, mengurangi
stimulasi vestibuler dan menekan fungsi labirin. Diberikan dengan dosis 50 mg PO/IM setiap 4-6
jam atau 100 mg supposutoria setiap 8 jam. Pada anak yang berumur 6-12 tahun diberikan 25-50
mg PO setiap 6-8 jam, tidak lebih 150 mg/hari. Anak berusia 2-6 tahun diberikan 12,5-25 mg
setiap 6-8 jam, tidak lebih 75 mg/jari. Sedangkan anak di atas 12 tahun diberikan sama seperti
orang dewasa.
Antikolinergik.Obat ini diduga bekerja secara sentral dengan menekan konduksi pada
lintasan vestibuler serebelum. Obat antikolinergik ini antara lain Scopolamine (Isopto) dan
Glycopyrrolate (Robinul). Scopolamine bekerja dengan menghambat kerja asetilkolin pada
parasympathetic site pada otot polos, kelenjar sekretorius, dan SSP. Dosis yang diberikan adalah
0,6 mg PO setiap 4-6 jam atau 0,6 mg transdermal 3 kali sehari. Untuk anak-anak diberikan 6

Page | 28

mcg/kgBB per dosis IV/IM/SC, tidak lebih dari 0,3 mg per dosis. Glycopyrrolate diberikan 1-2
mg PO 2 3 kali sehari untuk orang dewasa sedangkan untuk anak-anak diberikan 40-100
mcg/kgBB per dosis PO 2 3 kali sehari.10,12
Phenothiazine. Obat ini efektif mengobati emesis, mungkin oleh karena efek-efeknya di
dalam sistem mesolimbik dopaminergik. Yang termasuk ke dalam golongan obat ini antara lain
promethazine (phenergan) dan Prochlorperazine (Compazine). Promethazine bekerja dengan
menghambat reseptor-reseptor dopaminergik mesolimbik postsinap di dalam otak dan
mengurangi stimulus ke sistem retikularis batang otak. Diberikan dengan dosis 25 atau 50 mg
PO/IM/Per Rectal setiap 4-6 jam. Tidak dianjurkan untuk anak di bawah 2 tahun, namun anak di
atas 2 tahun diberikan dengan dosis 0,25 1 mg/kgBB PO/IV/IM/Per rectal 4-6 kali per hari.
Prochlorperazine diberikan dengan dosis 5-10 mg PO/IM setiap 6 jam atau 25 mg supp per rectal
setiap 12 jam. Untuk anak-anak diberikan 2,5 mg PO atau per rectal setiap 8 jam atau 5 mg
PO/per rectal setiap 12 jam, tidak lebih dari 15 mg/hari.
Benzodiazepine. Gamma-aminobutyric acid (GABA) adalah neurotransmitter inhibitor
pada sistem vestibuler. Benzodiazepine meningkatkan kerja GABA pada sistem saraf pusat dan
efektif dalam mengurangi vertigo dan ansietas. Dosis diazepam (valium) yang diberikan adalah 2
10 mg per oral atau IV setiap 4 sampai 8 jam. Sedangkan lorazepam diberikan 0,5 2 mg per
oral atau IV setiap 4 8 jam.
Non-Medika Mentosa
Ada empat macam terapi non farmakologis untuk BPPV yaitu :
1. Canalith Repositioning Treatment(CRT) / Epley Manuver 4,6

Page | 29

Sebaiknya dilakukan setelah perasat Dix-Hallpike menimbulkan respon abnormal.


Pasien tidak kembali ke posisi duduk, namun kepala pasien dirotasikan dengan tujuan
untuk mendorong kanalith keluar dari kanalis semisirkularis menuju ke utrikulus, tempat di
mana kanalith tidak lagi menimbulkan gejala.
Bila kanalis posterior kanan yang terlibat maka harus dilakukan tindakan CRT
kanan. Perasat ini dimulai pada posisi Dix-Hallpike yang menimbulkan respon abnormal
dengan cara kepala ditahan pada posisi tersebut selama 1-2 menit, kemudian kepala
direndahkan dan diputar secara perlahan ke kiri dan dipertahankan selama beberapa saat.
Setelah itu badan pasien dimiringkan dengan kepala tetap dipertahankan pada posisi menghadap ke kiri dengan sudut 450 sehingga kepala menghadap kebawah melihat ke lantai.
Akhirnya pasien kembali ke posisi duduk, dengan kepala menghadap ke depan. Setelah
terapi ini pasien di lengkapi dengan menahan leher dan disarankan untuk tidak menunduk,
berbaring, dan membungkukkan badan selama satu hari. Pasien harus tidur pada posisi
duduk dan harus tidur pada posisi yang sehat untuk 5 hari.
Kadang-kadang CRT dapat menimbulkan komplikasi. Terkadang kanalith dapat
pindah ke kanal yang lain. Komplikasi yang lain adalah kekakuan pada leher, spasme otot
akibat kepala di letakkan dalam posisi tegak selama beberapa waktu setelah terapi. Pasien
dianjurkan untuk melepas penopang leher dan melakukan gerakan horisontal kepalanya
secara periodik. Bila dirasakan adanya gangguan leher, ekstensi kepala diperlukan pada saat
terapi dilakukan. Digunakan meja pemeriksaan yang bertujuan untuk menghindari keharusan
posisi ekstensi dari leher. Terkadang beberapa pasien mengalami vertigo berat dan merasa

Page | 30

mual sampai muntah pada saat tes provokasi dan penatalaksanaan. Pasien harus diminta
untuk duduk tenang selama beberapa saat sebelum meninggalkan klinis.pada saat pasien
Modifikasi CRT digunakan untuk pasien dengan kanalitiasis pada BPPV kanalis
horizontal, permulaan pasien dibaringkan dengan posisi supinasi, telinga yang terlibat
berada di sebelah bawah. Bila kanalith pada kanalis horizontal kanan secara perlahan kepala
pasien digulirkan ke kiri sampai ke posisi hidung di atas dan posisi ini dipertahankan selama
15 detik sampai vertigo berhenti. Kemudian kepala digulirkan kembali ke kiri sampai telinga
yang sakit berada di sebelah atas. Pertahankan posisi ini selama 15 detik sampai vertigo
berhenti. Lalu kepala dan badan diputar bersamaan ke kiri, hidung pasien menghadap ke
bawah, tahan selama 15 detik. Akhirnya, kepala dan badan diputar ke kiri ke posisi awal
dimana telinga yang sakit berada di sebelah bawah. Setelah 15 detik, pasien perlahan-lahan
duduk, dengan kepala agak menunduk 30. Penyangga leher dipasang dan diberi instruksi
serupa dengan pasca CRT untuk kanalis posterior dan kanalis anterior.

Page | 31

Gambar : Terapi dengan Canalith Repositioning Treatment (CRT) atau Epley maneuver
2. Perasat Liberatory 4,6,8
Terapi liberatory juga dibuat untuk memindahkan otolit (debris/kotoran) dari
kanal semisirkularis. Tipe perasat yang dilakukan tergantung dari jenis kanal mana yang
terlibat, apakah kanal anterior atau posterior. Bila terdapat keterlibatan kanal posterior kanan,
Terapi dimulai dengan penderita diminta untuk duduk pada meja pemeriksaan dengan kepala
diputar menghadap ke kiri 45. Pasien yang duduk dengan kepala menghadap ke kiri secara
cepat dibaringkan ke sisi kanan dengan kepala menggantung ke bahu kanan. Setelah 1 menit,
pasien digerakan secara cepat ke posisi duduk awal dan untuk ke posisi side lying kiri
dengan kepala menoleh 45 ke kiri. Pertahankan penderita dalam posisi ini selama 1 menit
dan perlahan-lahan kembali ke posisi duduk. Penopang leher kemudian dikenakan dan diberi

Page | 32

instruksi yang sama dengan pasien yang diterapi dengan CRT. Bila kanal anterior kanan yang
terlibat, terapi yang dilakukan sama, namun kepala diputar menghadap ke kanan. Angka
kesembuhan 70-84% setelah terapi tunggal liberatory.

Gambar : Terapi Liberatory


3.

Latihan Brant Daroff Training


Latihan Brandt dan Daroff dapat di lakukan oleh pasien di rumah tanpa bantuan
terapis. Pasien melakukan gerakan-gerakan dari duduk ke samping yang dapat mencetuskan
vertigo (dengan kepala menoleh ke arah yang berlawanan) dan tahan selama 30 detik, lalu
kembali ke posisi duduk dan tahan selama 30 detik, lalu dengan cepat berbaring ke sisi yang
berlawanan (dengan kepala menoleh ke arah yang berlawanan) dan tahan selama 30 detik,
lalu secara cepat duduk kembali. Pasien melakukan latihan secara rutin 10-20 kali, 3 kali
sehari sampai vertigo hilang paling sedikit 2 hari.

Page | 33

Gambar : Terapi Brand Daroff

4. Terapi Bedah
Posterior Canal Plugging
Jika terapi-terapi diatas gagal untuk mengontrol gejala dari BPPV, diagnosis sudah
sangat pasti dan sudah berlangsung lebih dari pada 1 tahun maka suatu tindakan Posterior
Canal Plugging. Posterior Canal Plugging dapat dianjurkan namun tindakan ini mempunyai
resiko untuk berkurangnya pendengaran . Tindakan ini berfungsi untuk memblok seluruh
fungsi canal posterior tanpa menggangu kerja kanal yang lain. Tindakan ini sangat efektif
untuk pasien yang gagal dengan terapi-terapi yang lain sekitar 90% dari pasien yang gagal
dengan terapi lain berhasil dengan terapi ini.

Page | 34

Preventif
Langkah-langkah berikut ini dapat meringankan atau mencegah gejala vertigo: 1,10
Tidurlah dengan posisi kepala yang agak tinggi.

Bangunlah secara perlahan dan duduk terlebih dahulu sebelum kita berdiri dari tempat
tidur.
Hindari posisi membungkuk bila mengangkat barang.

Hindari posisi mendongakkan kepala, misalnya untuk mengambil suatu benda dari
ketinggian.
Seseorang dengan faktor risiko stroke seharusnya mengontrol tekanan darah dan kolesterol serta
menghentikan konsumsi rokok
Senaman
Melakukan latihan sehari-hari adalah pilihan lain dari pencegahan. Antara latihan yang dapat
dilakukan adalah:
i.

Latihan mata

Melihat ke atas kemudian ke bawah.


Ini dilakukan selama 20 kalimulai melakukan hal ini perlahan-lahan dan kemudian
meningkatkan kecepatan
Page | 35

ii.

Latihan kepala

Tekuk kepala ke depan dan kemudian membungkuk ke belakang.


Putar sisi kepala kesamping sambil membungkuk.
Hal ini harus dilakukan lebih 20 kali dalam sehari.
iii.

Latihan bahu

Mengangkat bahu kemudian turun.


Twist dari sisi ke sisi.
Latihan ini dilakukan tidak kurang dari 20 menit.
iv.

Latihan posisi

Berdiri dan duduk dilakukan terus menerus selama 20 kali.


Berdiri penuh dan berusaha untuk duduk sepenuhnya.
Perbuatan cepat tetapi gerakan tidak jelas tidak akan membantu.
Pertama 10 kali harus dilakukan dengan mata terbuka.
10 kali berikutnya dilakukan dengan mata tertutup
Prognosis
Prognosis setelah dilakukan CRP (canalith repositioning procedure) biasanya bagus. Remisi
dapat terjadi spontan dalam 6 minggu, meskipun beberapa kasus tidak terjadi. Dengan sekali
pengobatan tingkat rekurensi sekitar 10-25%.
Page | 36

Kesimpulan
Pasien dengan keluhan merasakan pusing berputar selama 1 menit, terjadi beberapa kali dalam
sehari sejak 2 minggu terakhir, keluhan timbul bila perubahan posisi tidur, membungkuk dan
kemudian tegak kembali menderita vertigo perifer.
Hipotesis diterima.
Vertigo merupakan keluhan yang dapat dijumpai dalam praktek, umumnya disebabkan
oleh kelainan /gangguan fungsi alat-alat keseimbangan, bisa alat dan saraf vestibuler, koor-dinasi
gerak bola mata (di batang otak) atau serebeler. Penatalaksanaan berupa anamnesis yang teliti
untuk mengungkapkan jenis vertigo dan kemungkinan penyebabnya; terapi dapat menggunakan
obat dan/atau manuver-manuver tertentu untuk melatih alat vestibuler dan/atau menyingkirkan
otoconia ke tempat yang stabil; selain pengobatan kausal jika penyebabnya dapat ditemukan dan
diobati.2,12

Page | 37

Daftar Pustaka
1. Lumbantobing SM. Neurologi Klinik Pemeriksaan Fisik dan Mental. Riwayat Penyakit
(Anamnesis). Jakarta: Balai Penerbit FKUI, 2008.Hal. 2-5, 11, 64-6, 68-72.
2. Bashiruddin J., Hadjar E., Alviandi W. Gangguan Keseimbangan. Dalam : Arsyad E, Iskandar
N, Editor : Telinga, Hidung Tenggorok Kepala & Leher. Edisi Keenam. Jakarta : Balai
Penerbit FKUI. 2008. Hal. 94-101.
3. Harsono. Kapita selekta neurologi. Vertigo. Yogyakarta: Gajah Mada University Press; 2007.
Hal 341-56.
4. Ginsberg, L. Lecture Note Neurologi dalam Penyakit Parkinson dan Gangguan Gerakan
Lainnya. Jakarta: EMS, 2007
5. Kowalak JP, Welsh W, ed. Buku Pegangan Uji diagnostic. Edisi ke-3. Jakarta: EGC,
2009.Hal.61-3, 808-12.
6. Li JC & Epley J. Benign Paroxysmal Positional Vertigone.2009. Diunduh dari :
http://emedicine.medscape.com/article/884261-overview.3 Januari 2012
7. Probosuseno, Niko A.H, Wasilah R. Dizzniness pada usia lanjut. Buku Ajar Ilmu Penyakit
Dalam. Jakarta : Internal Publishing; November 2009.
8. Swartz H. Mark. Buku Ajar Diagnostik Fisik. Jakart : ECG : 1995

Page | 38

9. Mardjono M, Sidharta, P. Neurologi Klinis Dasar. Jakarta: 1978, hlm. 169-170.


10. Sugondo, D. Vertigo Posisi Paroksismal Jinak .Dalam: Sastrodiwirjo S, Harahap TP,
Kusumoputro S. Kumpulan Kuliah Neurologi. Jakarta: Bagian Neurologi Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia, 2005.h.89-96
11. Johnson J & Lalwani AK. Vestib. Current Diagnosis & treatment in Otolaryngology- Head &
Neck Surgery. New York : Mc Graw Hill Companies. 2004.Hal.761-5
12. Andradi S. Neuro-Ontologi Klinis Vertigo. Benign Paroxysmal Positional Vertigo. Edisi 2.
Surabaya: Airlangga University Press, 2007.Hal.177

Page | 39