Anda di halaman 1dari 16

ILMU

SOSIAL
DASAR

BUDAYA

PELAPISAN SOSIAL, PERSAMAAN DERAJAT, DISKRIMINASI, DAN


PEMERATAAN

Hafiz Elfiansya Parawu, ST., M.Si.


Kelompok 5
A. Rahmat

Feni Agustina

Nur Azisah Salsabila

Afika Indah Pratiwi

Lisha Ahmad

Rahmawati Kadir

Ayu Sri Rezki

Musdalifah

Sri Dian Lestari

D.IV Keperawatan Gigi


POLTEKKES KEMENKES MAKASSAR

2014/2015
KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang,
kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan
rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah ilmiah tentang Pelapisan Sosial, Persamaan Derajat,
Diskriminasi dan Pemerataan.
Adapun makalah ilmiah Pelapisan Sosial, Persamaan Derajat, Diskriminasi dan
Pemerataan ini telah kami usahakan semaksimal mungkin dan tentunya dengan
bantuan berbagai pihak, sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini.
Untuk itu kami tidak lupa menyampaikan bayak terima kasih kepada semua pihak
yang telah membantu kami dalam pembuatan makalah ini.
Namun tidak lepas dari semua itu, kami menyadar sepenuhnya bahwa ada
kekurangan baik dari segi penyusun bahasanya maupun segi lainnya. Oleh karena
itu dengan lapang dada dan tangan terbuka kami membuka selebar-lebarnya bagi
pembaca yang ingin memberi saran dan kritik kepada kami sehingga kami dapat
memperbaiki makalah ilmiah ini.
Akhirnya penyusun mengharapkan semoga dari makalah ilmiah Pelapisan Sosial,
Persamaan Derajat, Diskriminasi dan Pemerataan ini dapat diambil hikmah dan
manfaatnya sehingga dapat memberikan inpirasi terhadap pembaca.

DAFTAR ISI

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa Pengertian Pelapisan Sosial Menurut Para Ahli?
2. Bagaimana Terjadinya Pelapisan Sosial ?
3. Apa Pengertian Perasamaan Derajat ?
4. Apa Pengertian Diskriminasi dan Pemerataan ?
5. Jalur Apa Sajakah yang harus dilakukan dalam Pemerataan demi
terciptanya Keadilan Sosial ?
C. TUJUAN PENULISAN

BAB II
PEMBAHASAN

1. Pengertian Pelapisan Sosial


Pelapisan sosial dalam sosiologi dikenal dengan istilah stratifikasi sosial. Kata
stratifikasi sosial berasal dari kata stratum (lapisan) dan socius (masyarakat).
Berikut ini beberapa pengertian stratifikasi sosial menurut ahli:

Pitirim A. Sorokin (Dalam Basrowri 60 ; 2005)

Stratifikasi sosial diartikan sebagai pembedaan penduduk atau masyarakat ke


dalam kelas-kelas secara bertingkat (herarkis). Perwujudannya adalah kelas-kelas
tinggi dan kelas yang lebih rendah. Selanjutnya Sorokin, mengemukakan bahwa
inti dari lapisan sosial adalah tidak adanya keseimbangan dalam pembagian hak
dan kewajiban, kewajiban dengan tanggung jawab nilai-nilai sosial dan
pengaruhnya di antara anggota-anggota masyarakat.

Paul B. Horton dan Chester L. Hunt (liix ; 1999)

Stratifikasi sosial berarti sistem perbedaan status yang berlaku dalam suatu
masyarakat.

Soejono Soekanto (228 ; 2005)

Stratifikasi sosial adalah pembedaan posisi seseorang atau kelompok dalam


kedudukan berbeda-beda secara vertikal.

Astried S. Susanto (98 ; 1983)

Stratifikasi sosial adalah hasil kebiasaan hubungan antarmanusia secara teratur


dan tersusun sehingga setiap orang, setiap saat mempunyai situasi yang
menentukan hubungannya dengan orang secara vertikal maupun mendatar dalam
masyarakatnya.

Hendropuspito OC (109 ; 1990)

Stratifikasi sosial adalah tatanan vertikal berbagai lapisan sosial berdasarkan


tinggi rendahnya kedudukan.
Dari definisi-definisi di atas dapat disimpulkan bahwa pelapisan sosial adalah
pembedaan masyarakat ke dalam kelas-kelas secara vertikal, yang diwujudkan
dengan adanya tingkatan masyarakat dari yang paling tinggi sampai yang paling
rendah.
2. Terjadinya pelapisan sosial
> Terjadi dengan sendirinya.
Proses ini berjalan sesuai dengan pertumbuhan masyarakat itu sendiri. Adapun
orang-orang yagn menduduki lapisan tertentu dibentuk bukan berdaarkan atas
kesengajaan yang disusun sebelumnya oleh masyarakat itu, tetapi berjalan secara
alamiah dengan sendirinya. Oleh karena sifanya yang tanpa disengaja inilah maka
bentuk pelapisan dan dasar dari pada pelaisan ini bervariasi menurut tempat,
waktu dan kebudayaan masyarakat dimanapun sistem itu berlaku. Pada pelapisan
yang terjadi dengan sendirinya, maka kedudukan seseorang pada suatu strata

tertentu adalah secara otomatis, misalnya karena usia tua, karena pemilikan
kepandaian yang lebih, atau kerabat pembuka tanah, seseorang yang memiliki
bakat seni, atau sakti.
> Terjadi dengan disengaja
Sistem palapisan ini disusun dengan sengaja ditujuan untuk mengejar tujuan
bersama. Didalam pelapisan ini ditentukan secar jelas dan tegas adanya wewenang
dan kekuasaan yang diberikan kepada seseorang. Dengan adanya pembagian yang
jelas dalam hal wewenang dan kekuasaanini, maka didalam organisasi itu terdapat
peraturan sehingga jelas bagi setiap orang yang ditempat mana letakknya
kekuasaan dan wewenang yang dimiliki dan dalam organisasi baik secar vertical
maupun horizontal.sistem inidapat kita lihat misalnya didalam organisasi
pemeritnahan, organisasi politik, di perusahaan besar. Didalam sistem organisasi
yang disusun dengan cara ini mengandung dua sistem ialah :
- sistem fungsional : merupakan pembagian kerja kepada kedudukan yang
tingkatnya berdampingan dan harus bekerja sama dalam kedudukan yang
sederajat, misalnya saja didalam organisasi perkantoran ada kerja sama antara
kepala seksi, dan lain-lain
sistem scalar : merupakan pembagian kekuasaan menurut tangga atau jenjang
dari bawah ke atas (vertikal)

3. Persamaan Derajat
Kesamaan derajat adalah suatu sifat yang menghubungankan antara
manusia

dengan

lingkungan

masyarakat

umumnya

timbal

balik,

maksudnya orang sebagai anggota masyarakat memiliki hak dan


kewajiban, baik terhadap masyarakat maupun terhadap pemerintah dan
Negara. Hak dan kewajiban sangat penting ditetapkan dalam perundangundangan atau Konstitusi. Undang-undang itu berlaku bagi semua orang
tanpa terkecuali dalam arti semua orang memiliki kesamaan derajat.
Kesamaan derajat ini terwujud dalam jaminan hak yang diberikan dalam
berbagai faktor kehidupan.
Pelapisan sosial dan kesamaan derajat mempunyai hubungan, kedua hal ini
berkaitan satu sama lain. Pelapisan soasial berarti pembedaan antar kelaskelas dalam masyarakat yaitu antara kelas tinggi dan kelas rendah,
sedangkan Kesamaan derajat adalah suatu yang membuat bagaimana
semua masyarakat ada dalam kelas yang sama tiada perbedaan kekuasaan
dan memiliki hak yang sama sebagai warga negara, sehingga tidak ada
dinding pembatas antara kalangan atas dan kalangan bawah.
2.2 Pasal Pasal dalam UUD 1945 tentang Persamaan Hak
UUD 1945 menjamin hak atas persamaan kedudukan, hak atas kepastian
hukum yang adil, hak mendapat perlakuan yang sama di depan hukum dan
hak atas kesempatan yang sama dalam suatu pemerintahan.

Setiap masyarakat memiliki hak yang sama dan setara sesuai amanat UUD
1945, yaitu Pasal 27 ayat (1) UUD 1945 yang menyatakan, setiap warga
negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan
wajib menjunjung tinggi hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada
pengecualiannya. Pasal 28D ayat (1) UUD 1945 menyatakan, setiap
orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian
hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum.
Pasal 28D ayat (1) UUD 1945 menyatakan, setiap orang berhak atas
pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta
perlakuan yang sama di hadapan hukum. Pasal 28I ayat (2) UUD 1945
menyatakan, Setiap orang berhak bebas dari perlakuan diskriminatif atas
dasar apapun dan berhak mendapat perlindungan ddari perlakuan yang
bersifat

diskriminatif

itu.

Norma-norma

konstitusional

di

atas,

mencerminkan prinsip-prinsip hak azasi manusia yang berlaku bagi


seluruh manusia secara universal.
2.3 Empat Pokok Hak Asasi dalam Empat Pasal yang

Tercantum pada

UUD 45
Hukum dibuat dimaksudkan untuk melindungi dan mengatur masyarakat
secara umum tanpa adanya perbedaan. Jika dilihat, ada empat pasal yang
memuat ketentuan-ketentuan tentang hak-hak asasi, yakni pasal 27, 28, 29,
dan 31.

Empat pokok hak-hak asasi dalam 4 pasal yang tercantum di UUD 1945
adalah sebagai berikut :
Pokok Pertama, mengenai kesamaan kedudukan dan kewajiban warga
negara di dalam hukum dan di muka pemerintahan. Pasal 27 ayat 1
menetapkan bahwa Segala Warga Negara bersamaan kedudukannya di
dalam Hukum dan Pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan
pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya.
Di dalam perumusan ini dinyatakan adanya suatu kewajiban dasar di
samping hak asasi yang dimiliki oleh warga negara, yaitu kewajiban untuk
menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya.
Dengan demikian perumusan ini secara prinsipil telah membuka suatu
sistem yang berlainan sekali daripada sistem perumusan Human Rights
itu secara Barat, hanya menyebutkan hak tanpa ada kewajiban di
sampingnya.
Kemudian yang ditetapkan dalam pasal 27 ayat 2, ialah hak setiap warga
negara atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan.
Pokok Kedua, ditetapkan dalam pasal 28 ditetapkan, bahwa
kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan
lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan oleh Undang-Undang.
Pokok Ketiga, dalam pasal 29 ayat 2 dirumuskan kebebasan asasi untuk
memeluk agama bagi penduduk yang dijamin oleh negara, yang berbunyi
sebagai berikut : Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk

untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadah menurut


agamanya dan kepercayaannya itu.
Pokok Keempat, adalah pasal 31 yang mengatur hak asasi mengenai
pengajaran yang berbunyi : (1) Tiap-tiap warga negara berhak mendapat
pengajaran dan (2) Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan
suatu sistem pengajaran nasional, yang diatur dengan undang-undang.
4. Diskriminasi dan Pemerataan
Diskriminasi dan Pemerataan.
Diskriminasi adalah pembedaan perlakuan terhadap sesama warga Negara
(berdasarkan warna kulit, golongan, suku, ekonomi, agama, dsb)[6]. Jadi,
diskriminasi itu merujuk kepada pelayanan yang tidak adil, yang ditujukan
kepada individu tertentu. Pelayanan ini dibuat berdasarkan cirri-ciri yang
dimiliki oleh individu tersebut. Diskriminasi merupakan suatu kejadian
yang sering ditemui di masyarakat, karena adanya kecenderungan manusia
untuk membeda-bedakan antara yang satu dengan yang lain.
Diskriminasi dibedakan menjadi dua, yaitu:
a.

Diskriminasi langsung

Diskriminasi secara langsung terjadi saat hukum, peraturan atau kebijakan


jelas-jelas menyebutkan cirri-ciri tertentu, seperti jenis kelamin, ras, dan
sebagainya dan menghambat adanya peluang yang sama.

b.

Diskriminasi tidak langsung

Diskriminasi secara tidak langsung terjadi saat peraturan yang bersifat


netral menjadi diskriminatif saat diterapkan di lapangan.[7]
Diskriminasi dapat terjadi di suatu lapisan masyarakat, karena adanya
beberapa kriteria, diantaranya:
1.

Ukuran kekuasaan

Anggota masyarakat yang memegang kekuasaan dan yang mempunyai


wewenang terbatas akan menempati lapisan yang tinggi dalam lapisan
social masyarakat.
2.

Ukuran kekayaan

Anggota masyarakat terkaya akan menduduki lapisan teratas. Kekayaan itu


dapat terlihat dari pemilikan bentuk rumah, kendaraan pribadi, pakaian dan
lain-lain.
3.

Ukuran kehormatan

Dalam masyarakat tradisional, orang-orang yang disegani dan dihormati


akan menempati lapisan atas. Misalnya, orang-orang yang dituakan dan
dianggap berjasa dalam masyarakat.

4.

Ukuran ilmu pengetahuan atau pendidikan

Dalam masyarakat yang menghargai ilmu pengetahuan atau masyarakat


yang maju, ilmu pengetahuan digunakan sebagai salah satu dasar
pembentukan sosial.
Empat kriteria tersebut merupakan kriteria yang sudah bersifat mutlak, akan
tetapi masih ada kriteria lain yang dapat menyebabkan terjadinya
diskriminasi di lingkungan masyarakat. Agar diskriminasi tidak selalu
terjadi di suatu lingkungan masyarakat perlu adanya pemerataan.
Pemerataan yaitu proses, cara atau perbuatan memeratakan, dengan cara
mengembalikan pada hak-hak dasar yang dimiliki oleh setiap individunya.
5. Pemerataan
Demi terciptanya keadilan sosial, maka ada 8 (delapan) jalur pemerataan
yang harus dilakukan, yaitu:
1. Pemerataan pemenuhan kebutuhan pokok rakyat banyak khususnya
pangan, sandang dan perumahan.
2. Pemerataan memeroleh pendidikan dan pelayanan kesehatan.
3. Pemerataan pembagian pendapatan.
4. Pemerataan kesempatan kerja.
5. Pemerataan kesempatan berusaha.

6. Pemerataan kesempatan berpartisipasi dalam pembangunan khususnya


bagi generasi muda dan kaum wanita.
7. Pemerataan penyebaran pembangunan di seluruh wilayah tanah airA
8. Pemerataan kesempatan memeroleh keadilan.

BAB III
SIMPULAN
Pelapisan sosial merupakan pembedaan penduduk atau masyarakat ke
dalam kelas-kelas secara bertingkat (hierarkis). Perwujudannya adalah
adanya lapisan-lapisan di dalam masyarakat, ada lapisan yang tinggi dan
ada lapisan-lapisan di bawahnya. Setiap lapisan tersebut disebut strata
sosial. Derajat seseorang adalah merupakan hasil atau pencerminan dari
kedudukannya dan kedudukan itu membawa konsekuensi kewajiban untuk
berperan. Mengenai persamaan hak ini telah dicantumkan dalam
pernyataan sedunia hak-hak asasi manusia tahun 1948 dalam pasalpasalnya.
Tuntutan atas kesamaan hak bagi setiap manusia berdasarkan pada prinsipprinsip hak asasi manusia (HAM). Dalam demokrasi, diskriminasi
seharusnya telah ditiadakan dengan adanya kesataraan dalam bidang
hukum, kesederajatan dalam perlakuan adalah salah satu wujud ideal
dalam kehidupan negara yang demokratis.

DAFTAR PUSTAKA
http://mustainronggolawe.wordpress.com/2011/11/21/pelapisan-sosial-dan-kesamaanderajat/
https://taufikhidayah21.wordpress.com/tag/terjadinya-pelapisan-sosial/
http://saranghanda-yeongwonhi.blogspot.com/2012/11/makalah-pelapisan-sosial-dankesamaan.html
http://kumpulanhadis.blogspot.com/2013/07/pelapisan-sosial-diskriminasi-dan.html