Anda di halaman 1dari 35

Oleh:

Johan Salim (0418011059)


ILMU KEDOKTERAN KOMUNITAS
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER
UNIVERSITAS LAMPUNG
2010

Puskesmas : suatu organisasi kesehatan

fungsional yang merupakan pusat


pengembangan kes. masyarakat dan
membina peran serta masyarakat
Memberikan pelayanan secara

menyeluruh dan terpadu kepada


masyarakat di wilayah kerjanya dalam
bentuk kegiatan pokok yang di wujudkan
dalam berbagai program kesehatan
Puskesmas

Kegiatan pokok Puskesmas adalah sebagai berikut :

1. KIA
2. Keluarga Berencana
3. Usaha Peningkatan Gizi
4. Kesehatan Lingkungan
5. Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular
6. Pengobatan termasuk Pelayanan Darurat karena Kecelakaan
7. Penyuluhan Kesehatan Masyarakat
8. Kesehatan Sekolah
9. Kesehatan Olahraga
10. Perawatan Kesehatan Masyarakat
11. Kesehatan Kerja
12. Kesehatan Gigi dan Mulut
13. Kesehatan Jiwa
14. Kesehatan Mata
15. Laboratorium Sederhana
16. Pencatatan dan Pelaporan dalam rangka Sistem Informasi
Kesehatan
17. Kesehatan Usia Lanjut

Kesehatan Ibu dan Anak (KIA)


Upaya kesehatan primer menyangkut

pelayanan dan pemeliharaan kesehatan Ibu


dalam menjalankan fungsi reproduksi yang
berkualitas serta upaya kelangsungan hidup,
perkembangan dan perlindungan bayi, anak di
bawah lima tahun (Balita) dan anak usia
prasekolah dalam proses tumbuh kembang.

Sasaran
Ibu, bayi, balita, anak usia prasekolah dan

keluarga yang tinggal dan berada di wilayah


kerja Pusksmas serta yang berkunjung ke
Puskesmas.

Pelayanan KIA di puskesmas terdiri dari :


Pelayanan kesehatan asuhan kebidanan di

wilayah Puskesmas
Pelayanan kesehatan bagi bayi, balita dan anak
pra sekolah

Tujuan KIA
Tercapainya kemampuan hidup sehat
melalui peningkatan derajat kesehatan
yang optimal bagi ibu dan keluarganya
untuk menuju Norma Kelurga Kecil Bahagia
Sejahtera (NKKBS) serta meningkatnya
derajat kesehatan anak untuk menjamin
proses tumbuh kembang optimal yang
merupakan landasan bagi peningkatan
kualitas manusia seutuhnya.

Kegiatan yang dilakukan untuk


program KIA di Puskesmas
Pembinaan dan pemantauan kegiatan KIA di

wilayah kerja Puskesmas


Pelayanan Ante natal
Persalinan/ pendampingan persalinan
Pelayanan masa nifas pasca persalinan dan bayi
baru lahir
Pelayanan ibu menyusui
Pelayanan gawat darurat kebidanan dan neonatal
Pelayanan kesehatan dan pemantauan tumbuh
kembang bayi

Penyakit Menular dikelompokkan berdasarkan


sifat penyebarannya :
1. Penyakit Menular yang secara endemik
PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN
berada di dalam wilayah, yang pada
PENYAKIT
MENULAR
waktu tertentu dapat menimbulkan
wabah.
2. Penyakit menular yang berada di wilayah
dengan endemisitas yang cukup tinggi.
3. Penyakit-penyakit menular lain.

Demam Berdarah Dengue


(DBD)
Penyakit menular yang disebabkan oleh virus
Dengue dan ditularkan oleh nyamuk Aedes Aegypti.
Tanda dan Gejala :
Demam tinggi 2-7 hari secara mendadak disertai
facial flushing dan sakit kepala.
Manifestasi perdarahan : Uji Tourniquet positif,
ptechie, echymosis, dan perdarahan konjungtiva,
Epistaksis, perdarahan gusi, Hematemesis, melena,
Hematuria
Hepatomegali
Dengan atau tanpa gejala syok
Trombositopenia
Hemokonsentrasi/ kadar hematokrit

Sumber Penularan
Sumber penularan penyakit DBD adalah
penderita DBD
Cara Penularan
Cara penularan umumnya melalui gigitan
nyamuk Aedes aegypti
Nyamuk dewasa betina menghisap darah
dari pagi sampai petang dengan dua
puncak waktu ialah 08.00-10.00 dan 15.0017.00.

Tatalaksana Pencegahan Peristiwa DBD

Memutuskan rantai penularan antara host

dengan vektor yang menularkan penyakit


DBD
Cara pencegahan yang terbaik adalah

dengan melaksanakan Pemberantasan


Sarang Nyamuk (PSN) dengan melibatkan
peran serta masyarakat. PSN yang
dicanangkan dalam rangka pencegahan DBD
adalah 3 M ( Menutup, Menguras dan
Mengubur)

Kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan untuk


peran serta masyarakat:
Penyuluhan kesehatan
Membersihkan tempat-tempat penampungan
air sedikitnya sekali/ minggu
Mengubur benda-benda yang dapat
menampung air hujan

Menutup tempat-tempat penyimpanan air


Mengganti air pot bunga seminggu sekali
Melipat baju-baju yang tergantung
Memelihara ikan pemakan jentik pada kolam

hias yang ada di rumah / di lingkungan rumah.


Memasukkan larvasida (abate) pada tempat
penampungan air yang tidak dapat dikuras / di
tutup rapat, 10 gram untuk 100 liter air
Untuk memberantas nyamuk dewasa
dilakukan pengasapan (fogging) di dalam
rumah penderita dan di dalam rumah-rumah
sekitar rumah penderita dengan radius sejauh
100 meter, sebanyak 2 kali dengan interval
waktu 10 hari.

Tatalaksana Pasien, Kontak, dan


Lingkungan

Bila ada kasus DBD harus segera di

laporkan ke Dinas Kesehatan Tingkat II


dalam waktu 24 jam. Pasien harus di rawat
untuk mencegah timbulnya syok. Berikan
pengobatan simptomatis dan dipantau
tekanan darahnya serta di monitor dan di
pantau pula kadar trombosit darahnya.

Pada orang-orang yang berada di sekitar

pasien perlu di amati sedikitnya selama 6 hari


untuk memastikan apakah tetap sehat atau
jatuh sakit.
Pada masyarakat di lingkungan pasien perlu
di berikan penyuluhan tentang penyakit DBD,
terutama yang menyangkut cara-cara
penularan penyakit dan cara-cara
pencegahannya.

Tatalaksana Waktu KLB


Harus segera di lakukan tindakan terhadap pasien

dan masyarakat sekitar pasien.


Penyuluhan harus segera diberikan kepada
masyarakat yang tinggal di sekitar rumah pasien.
Segera dilakukan pengasapan ( fogging ) massal
di desa atau kelurahan dengan prioritas yang
insidens (attack rate) tinggi serta dengan
memperhatikan wilayah kesatuan epidemiologis.
Abatisasi massal, gerakan pemberantasan
nyamuk melalui 3 M di desa/ kelurahan, sekolah
dan tempat-tempat umum, dan melaksanakan
PSN dengan mengikut sertakan partisipasi
masyarakat.

Alur Pelaporan Kasus DBD


Dinas Kesehatan

Desa

Keluarga

Puskesmas dan
puskesmas Perawatan

Penyelidikan
Epidemiologi

RS/ Unit Pelayanan


Kesehatan

Tuberkulosis Paru
Gejala -gejala sebagai berikut :
Batuk yang terus - menerus dan berdahak

selama 3 minggu atau lebih


Mengeluarkan dahak bercampur darah
(hemoptisis), sesak nafas dan nyeri pada
dada.
Lemah badan, kehilangan nafsu makan, rasa
kurang enak badan (malaise), berkeringat
malam tanpa disertai kegiatan dan meriang
lebih dari satu bulan.

Sumber Penularan
Sumber penularan adalah pasien TBC paru
yang BTA positif.
Cara Penularan
Melalui udara pernapasan (aerogen) dengan
menghirup partikel kecil yang mengandung
bakteri TBC

Tatalaksana Kasus TBC


Pencegahan
Tindakan pencegahan yang dapat

dilakukan adalah dengan memberikan


imunisasi BCG pada bayi dan penyuluhan
kesehatan.
Laboratorium
Dilakukan pemeriksaan dahak tiga kali

(sewaktu, pagi, sewaktu)

Pengobatan
Kategori 1 (2RHZE/ 4H3R3), diberikan untuk
Penderita baru BTA positif
Penderita baru BTA negatif/ Rontgen positif yang sakit
berat dan ekstra paru berat.

Pada fase awal (intensif) diberikan setiap

hari selama 60 hari (2 bulan)


Satu minggu sebelum fase awal/ intensif
selesai, dahak di periksa ulang, bila tetap
positif diberikan obat sisipan selama 30 hari
(satu bulan). Satu minggu sebelum selesai
pemberian obat sisipan, dilakukan kembali
pemeriksaan dahak.

Kategori 2 : (2 HRZES/ HRZE/ 5H3R3Z3)


Obat ini diberikan untuk :
Penderita kambuh (relaps) dengan BTA positif
Gagal ( failure ) BTA positif
Lain-ain BTA positif
Pada fase awal (intensif) diberikan setiap
hari selama 3 bulan (90) kali kecuali
streptomisin selama 60 hari setiap hari ( 2
bulan ) :
Satu minggu sebelum fase awal/ intensif
selesai, dilakukan pemeriksaan ulang dahak,
bila negatif lanjutkan pemberian obat fase
lanjutan (intermiten )

Kategori 3 (2HRZ/ 4 H3R3)


Penderita baru BTA negatif/ Roentgen positif
Penderita ekstra paru ringan, maka :
Satu minggu sebelum fase awal intensif
selesai dilakukan, periksa ulang dahak. Bila
hasil positif, pindah ke kategori -2. Bila hasil
negatif, lanjutkan ke pengobatan fase
lanjutan ( intermiten )
Pada fase awal di berikan setiap hari selama
60 kali (2 bulan)
Dan fase lanjutan (intermiten) diberikan
selama 4 bulan 3 kali seminggu (54 kali)

Strategi Penemuan dan Evaluasi


Strategi penemuan dan evaluasi pengobatan
penderita TBC dengan melaksanakan fungsi PRM
dan PS (Puskesmas Rujukan mikroskopis dan
Puskesmas Satelit), dimana Puskesmas Satelit
membuat fiksasi sediaan untuk di warnai dan
dibaca oleh Puskesmas Rujukan Mikroskopis.
Kunci utama strategi tersebut adalah :
Diagnostik utama dan pemeriksaan sputum BTA
Ketersediaan obat bermutu dan kepastian jumlah

dan jaminan distribusi


Pengawasan keteraturan pengobatan dengan
pengobatan DOTS
Keseragaman sistem pencatatan dan pelaporan.

KESEHATAN
LINGKUNGAN
Tujuan
Meningkatkan mutu lingkungan
Terwujudnya pemberdayaan masyarakat
Terlaksananya peraturan perundangan

penyehatan lingkungan dan pemukiman


Terselenggaranya pendidikan kesehatan
Terlaksananya pengawasan lingkungan scr
teratur

Untuk menilai keadaan lingkungan dan untuk


menciptakan lingkungan sehat telah dipilih
empat indikator, yaitu
persentase keluarga yang memiliki akses air
bersih,
presentase rumah sehat,
keluarga dengan kepemilikan sarana sanitasi
dasar,
Tempat Umum dan Pengolahan Makanan
(TUPM) .

Kegiatan
1. Penyehatan Air
2. Penyehatan Makanan dan Minuman
3. Pengawasan Pembuangan Kotoran Manusia
4. Pengawasan dan Pembuangan Sampah dan
Limbah
5. Penyehatan Pemukiman

USAHA KESEHATAN SEKOLAH


(UKS)
UKS adalah upaya terpadu lintas program

dan lintas sektoral dalam rangka


meningkatkan derajat kesehatan serta
membentuk prilaku hidup sehat anak usia
sekolah yang berada di sekolah dan
perguruan agama.
Anak usia sekolah di bagi menjadi 3 sub
kelompok, yakni :
a)Pra remaja ( 7-9 tahun)
b)Remaja ( 10-19 tahun)
c)Dewasa muda ( 20-21 tahun)

Pelaksanaan UKS bertitik berat pada kegiatan

promotif dan preventif. Dukungan upaya


kuratif dan rehabilitatif tentu diberikan oleh
tenaga kesehatan yang terlibat dalam UKS.
UKS dapat didukung atau dibina oleh
Puskesmas.

Tujuan
Meningkatnya derajat kesehatan peserta didik,
sehingga memungkinkan pertumbuhan dan
perkembangan yang harmonis dan optimal dalam
rangka pembentukan manusia Indonesia
seutuhnya.
Sasaran
Masyarakat sekolah dari sekolah dasar sampai
menengah, perguruan agama dan lingkungannya
serta perguruan tinggi ( tingkat I dan II)
Ruang Lingkup
Ruang Lingkup UKS tercermin dalam tri program
UKS (trias UKS) yang meliputi :
Pendidikan Kesehatan
Pelayanan kesehatan
Pembinaan lingkungan kehidupan sekolah sehat

Pelayanan kesehatan dalam UKS, kegiatan pokok


sebagai berikut :
Perbaikan gizi
Kesehatan lingkungan
Pencegahanan dan pemberantasan penyakit
Penyuluhan kesehatan
Pengobatan
Pelayanan kesehatan gigi dan mulut
Kesehatan jiwa
Kesehatan reproduksi
Laboratorium sederhana
Pencatatan pelaporan

Pelayanan UKS oleh puskesmas untuk

Sekolah Tingkat Dasar dan Perguruan


Agama mengacu pada standar
pelayanan sebagai berikut :
Standar minimal
Pelayanan Standar
Standar optimal
Standar Paripurna

Bentuk Pelayanan Kesehatan


Pelayanan kesehatan di sekolah tingkat dasar
Pelayanan kesehatan di sekolah tingkat lanjutan
Pelayanan kesehatan anak usia sekolah di Pondok
Pesantren
Usaha kesehatan gigi sekolah (UKGS)