Anda di halaman 1dari 3

http://bisnis.liputan6.

com/read/2340688/bkpm-industri-tekstil-jadi-andalanpenyerapan-tenaga-kerja

BKPM: Industri Tekstil Jadi Andalan


Penyerapan Tenaga Kerja
By Septian Deny
on 15 Okt 2015 at 13:54 WIB

41Shares

Facebook

Twitter

Google+

Email

Copy Link

Aktivitas pekerja di PT Pan Brother,Tangerang, Banten, Selasa (13/10/2015). Industri tekstil di


dalam negeri terus menggeliat. Hal ini ditandai dengan adanya peningkatan produksi dan aliran
investasi di dalam dan luar negeri. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Semarang - Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM)


Franky Sibarani menyatakan, dalam hal penyerapan tenaga kerja, industri tekstil
menjadi industri yang dapat diandalkan. Pasalnya, industri ini mampu menyerap
tenaga kerja jauh lebih banyak dibandingkan dengan industri di sektor lain.
"Daya serap tenaga kerja sektor tekstil 6,5 kali lipat dibandingkan dengan sektor
lain," ujarnya di Semarang, Jawa Tengah, Kamis (15/10/2015).
Dia menjelaskan, keberadaan industri padat karya seperti industri tekstil ini sangat
penting dalam rangka memastikan ketersediaan lapangan kerja di dalam negeri.
Menurut Franky, setiap 1 persen pertumbuhan ekonomi, seharusnya mampu
menyerap sebanyak 460 ribu tenaga kerja. Namun pada 2014 lalu, pertumbuhan
ekonomi sebesar 1 persen hanya mampu menyerap 160 ribu tenaga kerja.
"Saat ini pemerintah mencanangkan setiap tahun ada penyerapan 2 juta naga kerja.
Kalau pertumbuhan ekonomi kita 5 persen, maka setiap 1 persen harus bisa serap
400 ribu. Ini berarti pilihannnya ada pada industri padat karya, utamanya tekstil,
sepatu makanan minuman dan furnitur," tandasnya.
Sebelumnya, BKPM sudah memastikan bahwa 16 perusahaan padat karya bakal
merekrut tenaga kerja secara besar-besaran hingga mencapai 121 ribu tenaga kerja.
Kepala BKPM Franky Sibarani berharap langkah ini bisa menahan laju pemutusan
hubungan kerja (PHK) yang akhir-akhir ini marak terjadi.
"Ada 16 perusahaan dalam waktu dekat ini dan ke depan akan merekrut 121 ribu
tenaga kerja di hampir 15 kabupaten kota. Ada dua provinsi, yaitu Jawa Tengah dan
Jawa Barat," katanya.
Ke-16 perusahaan padat karya, yang terlibat dalam tahap pertama program
investasi padat karya menciptakan lapangan kerja tersebut, terdiri 3 penanaman
modal asing (PMA) dan 2 penanaman modal dalam negeri (PMDN) yang berlokasi di
Provinsi Jawa Barat.
Dengan total rencana investasi Rp 5,8 triliun, perusahaan di Jawa Barat ini

ditargetkan bisa menyerap 29.580 orang tenaga kerja, dengan perincian 20.580
orang pada tahun 2015-2016 dan 9.000 orang pada tahun 2017-2019.
"Perusahan padat karya tersebut berada di Kabupaten Bandung, Kabupaten Cianjur,
Kabupaten Garut, Kabupaten Majalengka, Kabupaten Sumedang," ungkap Franky.
Sementara itu, di Provinsi Jawa Tengah terdapat 8 PMA dan 3 PMDN, dengan total
rencana investasi Rp 13,1 triliun dan realisasi investasi Rp 9,6 triliun. 11 Perusahaan
ini ditargetkan bisa menyerap tenaga kerja 91.705 orang, dengan perincian 53.305
orang pada tahun 2015-2016 dan 38.400 orang pada tahun 2017-2019.
"Berada di Kabupaten Boyolali, Kabupaten Jepara, Kabupaten Sukoharjo,
Kabupaten Wonogiri, Kabupaten Sragen, Kota Salatiga dan Kota Semarang," papar
dia.
Dari 16 perusahaan padat karya tersebut terdiri atas industri kulit, barang dari kulit
dan sepatu sebanyak 7 perusahan dengan total rencana investasi Rp 2,2 triliun dan
realisasi investasi Rp 2,7 triliun. Industri ini akan menyerap sekitar 58.300 orang
tenaga kerja dalam kurun waktu 2015-2019.
Industri tekstil sebanyak 8 delapan perusahaan dengan rencana investasi Rp 12,1
triliun dan realisasi investasi Rp 8,5 triliun dengan rencana penyerapan tenaga kerja
57.705 orang sepanjang 2015-2019. (Dny/Gdn)