Anda di halaman 1dari 36

PLAN OF DEVELOPMENT ( REF : PTK POD Mei 2011 )

BAB

JUDUL

Executive Summary

Geological Findings and reviews

Reservoir Descriptions

Reserve & Production Forecast

Drilling & Completion

Production Facilities

Field Development Scenario

Health Safety and Environment & Corporate Social Responsibility

Abandonment & Site Restoration Plan

10

Project Schedule & Organization

11

Local Content

12

Commercial

13

Conclusion

14

Atachements

BAB 1 : EXECUTIVE SUMMARY


Ringkasan dari usulan POD, meliputi aspek Teknis,
Ekonomis, dan HSE yang antara lain mencakup :
a)Sejarah singkat WK, K3S dan Mitra
b)Rangkuman reservoir, cadangan, ultimate recovery,
onstream, peak production minyak dan/atau gas.
c)Skenario pengembangan, fasilitas produksi, alokasi
pemanfaatan gas (untuk pengembangan lapangan gas)
d)Indikator keekomomian, biaya (investasi dan operasi),
dan aspek komersial

BAB 2 : GEOLOGICAL FINDINGS and REVIEWS


Menjelaskan penemuan minyak dan gas hingga data geologi terakhir yang digunakan
untuk merevisi peta geologi, berdasarkan data log, analisa laboratorium, dan pemodelan
geologi.
1)Evaluasi dan Analisa Geologi dan Geofisika
a)

Gelogi regional, termasuk konsep sistim hidrakarbon /petroleum system (sumber batuan induk,
migrasi, batuan resrvoir, perangkap, dan batuan tudung) sebagai referensi dalam melakukan
interpretasi geologi serta sejarah kegiatan eksplorais lapangan migas dimaksud.

b)

Geologi, meliputi : struktur geologi termasuk analisa geodinamik (fold, fault, fracture), lingkungan
pengendapan, fasies, sekuaen stratigrafi dan korelasi sumur, petrofisik, petrografi, biostratigrafi,
zonasi reservoir dda atau geokimia sumuran pada lapangan migas dimaksud.

c)

Geofisika meliputi : data seismik 2D (kerapatan grid maksimum 1 Km X 1 Km) dan atau 3D
resolusi cukup yg meliputi lapangan dimaksud dengan pengolahan terbaru minimal sampai dengan
PSTM . Data seismik telah dikaitkan dan dikoreksi dengan check shot /VSP dan atau dengean
synthetic wavelet hasil log akustik pada sumur yang mewakili struktur (well seimic ties). Ada data
korelasi seismic dengan memperhatikan metode korelasi, pola karakter seismic , indikasi DHI,
analisis pengolahan lanjut AVO, inverse, dll), analisis atribut seismik, dan analisa lateral fasies
seismik sehingga dapat membantu menjelaskan distribusi penyebaran reservoir. Dilengkapi jiga
dengan hasil interpretasi data seismik sehingga dapat menjelaskan jenis struktur (struktural atau
stratigrafis), sistem pembentukan struktur, waktu pembentukan struktur, dan poatensi struktur
(sealing / non-sealing) serta time-depth conversion 9metode dan data yang dipakai) bila ada peta
kedalaman.

2)Pemodelan geologi Reservoir, berdasarkan data terbaru, yaitu :


a)

Menentukan struktur reservoir dalam penampang seismik,

b)

Membuat peta kontur struktur kedalaman (puncak dan dasar) batuan reservoir dan zona
hidrokarbon

c)

Membuat peta bawah permukaan secara deterministik, yaitu : ketebalan kotor (gross interval),
ketebalan zona hidrokarbon produktif (net porous), iso-netpay, iso-porositas, iso-permeabilitas, dan
iso saturasi air dan iso HPV (hydrocarbon por volume). Peta peta ini dipergunakan untuk
menghitung awal isi hidrokarbon (inplace) secara volumetrik dan dipakai sebagai acuan untuk
model 3G Geologi (Geostatistik).

BAB 3 : RESERVOIR DESCRIPTIONS


Menjelaskan kondisi reservoir yang mencakup initial condition, rock characteristic, fluid
properties, dan drive mechanism.
1)Initial Condition, yaitu kondisi awal reservoir seperti : Tekanan (Pi), suhu (Ti), gas
formation volume factor (Bgi) solution gas oil ratio, oil formation volume factor (Boi),
bublle point pressure (Pb).
2)Rock Characteristic : Seperti ketebalan (h), net to-gross ratio (ntg), clay volume (Vcl),
mineral content, porositas, water saturation, permeability, rock compresibility, nilai dan
metode penentuan cutt-off analisis log (porositas, Vcl, Sw, dan permeabilitas) harus
dilampirkan. Analisa log harus dudukung minimum oleh hasil pengukuran laboratorium
(Routine, Scal, petrografi SEM XRD)
3)Fluid Properties, harus didukung oleh hasil pengukuran laboratorium.
a)

Compressibility (Cg dan Co)

b)

Water resistivity

c)

Kandungan panas

d)

Solution gas oil ratio (rs, scf/stb)

e)

Oil formation volume factor (Bo, bbl/stb)

f)

Bubble point pressure (Pb, psi)

g)

Khusus gas, dilampirkan komposisinya yang sudah disertifikasi laboratorium)

4)

Driving Mechanism : Penentuan production forecast dan perhitungan recovery


factor harus memperhitungkan tenaga pendorong reseroir (gas cap, solution
gas, expansion gas, water, combination) serta alasan teknis.

BAB 4 : RESERVE & PRODUCTION FORECAST


1) Reserve, menjelaskan sebagai berikut :
a) Hydrocarbon in-place
b) Awal isi di tempat / Original Oil in Place / Original Gas in Place
(OOIP / OGIP) dalam kategori P1, P2, dan P3.
c) Hydrocarbon reserve dan recovery Factor.

2) Production Forecast, menjelaskan sebagai berikut :


a) Gambaran perkiraan produksi minyak dan/atau gas yang
optimal
b) Untuk mendapatkan perkiraan produksi dapat menggunakan
simulasi reservoir dan/atau material balance, serta analisa
decline.
c) Perkiraan kumulatip produksi hidrokarbon yang akan diperoleh
melalui rencana pengembangan lapangan

BAB 4 : RESERVE & PRODUCTION FORECAST


4.1.b. Awal Isi Hidrokarbon (Hydrocarbon in-place)
Memperkirakan besarnya volume hidrokarbon (minyak dan gas) denan
metode volumetrik (perhitungan secara deterministik) dengan cara
melakukan kajian terintegrasi dari data data bawah permukaan
tyermasuk data sumur dan data seismik, yaitu :
Analisa bentuk dan batas geometri struktur reservoir untuk
menghasilkan volume batuan secara gross reservoir yang didukung
interpretasi data geologi dan seismik.
Analisa karakteristik batuan reservoir berdasarkan data petrofisika dan
model fasies geologi (dikalibrasi dengan data core) untuk menentukan
besaran /penyebaran porositas, permeabilitas, saturasi hidrokarbon, net
reservoir, net pay.
Analisa karakteristik hidrokarbon dan kedalaman kontak fluida
berdasarkan data petrofisik, tekanan, dan test sumur.
Mengintegrasikan seluruh analisa tersebut di atas untuk membuat peta
iso-HPV (hydrocarbon pore volume) yang merupakan hasil perkalian
net-pay x porositas x saturasi hidrokarbon. Peta penyebaran porevolume hidrokarbon sebagai dasar awal untuk menentukan lokasi
pemboran.

BAB 4 : RESERVE & PRODUCTION FORECAST


4.1.c. Cadangan Terambil Hidrokarbon (Hydrocarbon reserves) & Recovery Factor

Perhitungan cadangan hidrokarbon mengacu pada peta Iso-HPV (Hydrocarbon


pore volume) yg dilengkapi dengan batas-batas Proven (P1), Probable (P2),
dan Possible (P3). Kategori Proven (P1), Probable (P2), dan Possibnle (P3)
untuk suatu zone reservoir, sebagai berikut :

Kategori Proven: apabila pada zone reservoir tersebut telah memiliki data
log sumur, geologi dan keteknikan serta didukung oleh produksi aktual atau
uji alir produksi (Drill Stem Test bukan Measured Depth Test/Wireline Test).

Kategori Probable: apabila pada zone reservoir tersebut telah memiliki data
log sumur, geologi dan keteknikan tetapi tidak/belum didukung oleh
produksi aktual atau uji alir produksi (DST).

Kategori Possible: apabila pada zone reservoir tersebut hanya didukung


oleh korelasi data geologi, geofisika, keteknikan dan tidak/belum ada data
sumur.

Kategori cadangan Probable pada zone reservoir tertentu dapat


dipertimbangkan berubah menjadi Proven apabila memiliki
karakteristik log yang lebih bagus dan kedalamannya berada di atas
zone reservoir yang memiliki data test.

BAB 4 : RESERVE & PRODUCTION FORECAST


4.1.c. Cadangan Terambil Hidrokarbon (Hydrocarbon reserves) & Recovery Factor

Batas area P1, P2 dan P3 secara lateral :


Batas P1 (Proven) secara lateral adalah 1.5 x Radius
Investigasi hasil dari uji alir produksi (DST) pada lapisan/zone
yang terwakili. Apabila tidak tersedia data uji alir produksi
(DST) yang memadai maka perkiraan batas area Proven (P1)
maksimum 250 meter untuk reservoir minyak dengan API di
atas 30, sedangkan untuk reservoir gas maksimum
digunakan adalah 750 meter dengan pemahaman
penyebaran secara lateral yang sangat baik.
Batas area 2P (Proven + Probable) secara lateral adalah 2.5
x Radius area P1 (Proven).
Di luar area 2P dalam struktur yang sama sebagai area
Possible (P3).

BAB 4 : RESERVE & PRODUCTION FORECAST


4.1.c. Cadangan Terambil Hidrokarbon (Hydrocarbon reserves) & Recovery Factor

Batas area P1, P2 dan P3 secara vertikal :

Batas P1 (Proven) secara vertikal adalah Oil Water Contact (OWC)


atau Gas Water Contact (GWC) hasil dari data uji alir produksi atau
pressure gradient. Apabiia OWC atau GWC dapat ditentukan secara
pasti maka tidak ada batas P2 maupun batas P3 secara vertikal.

Jika OWC atau GWC tidak ditemukan maka batas P1 adalah


Lowest Known Oil (LKO) atau Lowest Known Gas (LKG) atau batas
bawah interval test produksi (DST).

Batas 2P (Proven + Probable) secara vertikal adalah sepertiga


antara batas vertikal P1 dengan spill point korelasi antar sumur atau
Highest Known Water (HKW).

Batas 3P (Proven + Probable + Possible) secara vertikal adalah spill


point korelasi antar sumur atau Highest Known Wafer (HKW).

BAB 4 : RESERVE & PRODUCTION FORECAST


4.1.c. Cadangan Terambil Hidrokarbon (Hydrocarbon reserves) & Recovery Factor

Batas-batas area P1, P2 dan P3 tersebut bisa dipertimbangkan


untuk berubah setelah didiskusikan dengan Dinas terkait di
BPMIGAS :
Apabiia reservoir tersebut memiliki karakteristik yang khusus .
Jumlah sumur lebih dari satu dengan posisi sumur tersebar dan
area P1 (bubble map) dari masing-masing sumur ada yang
bersinggungan maka area P1 adalah kontur terluar dari Area
sumur-sumur yang bersinggungan tersebut asalkan masih di
atas batasan P1 secara vertikal. Area P1 masing-masing sumur
harus dipetakan pada peta iso-HPV dan peta kontur.
Mengacu pada referensi tertentu.

BAB 4 : RESERVE & PRODUCTION FORECAST


4.1.c. Cadangan Terambil Hidrokarbon (Hydrocarbon reserves) & Recovery Factor
Faktor Perolehan (Recovery Factor) adalah perbandingan jumlah minyak atau gas yang dapat diambil
terhadap jumlah minyak atau gas di tempat (inplace) dengan menggunakan teknologi primary,
secondary maupun tertiary recovery.
Metode yang dipakai untuk menghitung Recovery Factor dan cadangan hidrokarbon dihitung
menggunakan metode :

Simulasi Reservoar, untuk penganalisisan ini model geologi yang digunakan harus telah teruji
keakuratannya berdasarkan data seismic dan analisa sumuran (sumur-sumur yang digunakan
untuk menguji model geologi harus telah mewakili sebaran lilotlogi batuan reservoir secara lateral
maupun vertical), memiliki dan mengintegrasikan data analisa fluida dan Analisa batuan yang
mewakili sebaran pelamparan lateral dan vertical reservoir.

Analisa Simulasi Reservoir merupakan metode yang dianjurkan dan dapat digunakan pada
semua tahap pengembangan lapangan.

Material balance, untuk semi-simulasi karakteristik reservoir yang berbeda harus dimodelkan
dengan beberapa 'tank'. Sedangkan untuk P/Z dapat digunakan apabila telah memiliki data
produksi dan tekanan yang memadai atau telah dimilikinya lebih dari 10% kumulatif produksi dari
total perhitungan awal minyak/gas ditempat, memiliki dan mengintegrasikan data analisa fluida
dan analisa batuan yang mewakili sebaran pelamparan lateral dan vertical reservoir, Untuk
penganalisisan ini reservoir hams telah memiliki data produksi dan tekanan yang memadai,
lapangan telah memasuki tahanan kondisi produksi yang semi stabil, atau telah dimilikinya lebih
dari 10% kumulatif produksi dari total perhitungan awal minyak/gas ditempat, memiliki dan
mengintegrasikan data analisa fluida dan analisa batuan yang mewakili sebaran pelamparan
lateral dan vertical reservoir,

BAB 4 : RESERVE & PRODUCTION FORECAST


4.1.c. Cadangan Terambil Hidrokarbon (Hydrocarbon reserves) & Recovery Factor

Decline curve, untuk penganalisisan ini reservoir harus telah memiliki data produksi dan
tekanan yang memadai, lapangan telah memasuki tahapan kondisi produksi yang telah
mature (telah melampaui titik tertinggi kemampuan produksi).

Metode analitik, dapat digunakan apabila data tersedia sangat terbatas.

Metode material balance, decline curve dan analitik dapat dilakukan apabila metode
simulasi reservoir tidak bisa dilakukan dengan pertimbangan data tidak cukup
mendukung atau jumlah reservoar cukup banyak atau pertimbangan lain.

Cadangan dan Estimasi Produksi Put on Production (POP)

Perhitungan inplace dan cadangan berdasarkan radius sumur.

Perkiraan produksi untuk minyak dapat menggunakan metode decline dengan


menggunakan data tes atau analogi sumuran dari lapangan sekitarnya apabila data test
tidak/belum ada indikasi penurunan produksi, sedangkan untuk reservoir gas bisa
menggunakan material balance dg parameter dari data tes.

BAB 4 : RESERVE & PRODUCTION FORECAST


4.2. Production Forecast
Asumsi yang digunakan dalam Perkiraan Produksi antara lain:
Lapangan Minyak:
Perkiraan Produksi Puncak (Peak) Minyak :

Perkiraan produksi maksimum per sumur ditentukan oleh data tes dan telah
mempertimbangan Kurva Inflow Performance Relationship (IPR) dan pengaruh efek dari
Water Coning atau Gas Coning.

Lama waktu produksi maksimum per lapangan/struktur minimal 1/3 (sepertiga) dari umur
produksi (sampai economic limit).

Catatan: Pada kasus-kasus tertentu atau alasan cukup kuat lama waktu produksi dapat
dipertimbangkan dibawah 1/3 dari umur produksi.
Perhitungan Cadangan sebagai dasar untuk Perkiraan Produksi Minyak adalah sebagai
berikut: Oil = 90% P1 + 50% P2
Perkiraan produksi untuk POP lapangan minyak atau gas dihitung berdasarkan perkiraan
produksi maksimum per sumur.

BAB 4 : RESERVE & PRODUCTION FORECAST


4.2. Production Forecast
Lapangan Gas:
Perkiraan Produksi Puncak (Peak) Gas :

Perkiraan produksi maksimum per sumur ditentukan oleh data tes dan tidak melebih dari
30% absolute open flow (AOF), Kurva Inflow Performance Relationship (IPR) dan telah
memperhitungankan pengaruh dari Water Coning.

Lama waktu produksi maksimum per lapangan/struktur minimal 2/3 (dua pertiga) dari
umur produksi (sampai economic limit).

Catatan : Pada kasus-kasus tertentu atau alasan cukup kuat lama waktu produksi dapat
dipertimbangkan dibawah 2/3 dari umur produksi.
Perkiraan produksi harus mencakup perkiraan produksi gross dan net (gas sales). Perkiraan
produksi Net dihitung dari perkiraan produksi gross setelah dipotong dengan impurities,
fraksi berat/kondensat, own use/fuel dan losses. .
Perhitungan Cadangan sebagai dasar untuk Perkiraan Produksi Gas dlm evaluasi POD :
Gas Pipa = 90% P1 + 50% P2
GasLNG/GTL = 90% P1

BAB 5 : DRILLING and COMPLETION


a)

Bab drilling menjelaskan mengenai seluruh rencana pemboran dan aktifitas


sumuryang meliputi:

1)

Target, jadwal, dan jumlah sumur pemboran.

2)

Geological prognoses.

3)

Penjelasan mengenai rencana kegiatan pemboran yang akan dilaksanakan,


berikut peralatan-peralatan yang akan digunakan (antara lain downhole dan
surface equipment, serta blow-out preventer).

4)

Well design, yang mencakup gambar skematik sumur, ringkasan mengenai


masalah-masalah teknis dan operasional yang mungkin akan muncul dalam
kegiatan pemboran, serta resiko yang telah diidentifikasi dan rencana
mengatasinya berkaitan dengan kegiatan pemboran.

5)

Rencana penggunaan lumpur pemboran.

6)

Rencana pembuangan limbah pemboran

7)

Perkiraan perhitungan jumlah hari dan perhitungan biaya pemboran secara


bottom up cost estimation, serta referensi biaya yang digunakan.

b)

Bab completion menjelaskan sebagai berikut:

1)

Rencana kegiatan komplesi sumur termasuk target zona perforasi.

2)

Perkiraan Perhitungan jumlah hari dan perhitungan biaya komplesi secara


bottom up cost estimation, serta referensi biaya yang digunakan.

BAB 6 : PRODUCTION FACILITIES


a) Bab ini menjeiaskan secara menyeluruh fasilitas produksi yang akan dibangun
berikut peralatan utama dan kapasitasnya.

b) Fasilitas produksi dapat dibedakan berdasarkan fasilitas untuk Primary


Recovery Facilities dan Enhanced Oil Recovery Facilities
c) Penjelasan mengenai fasilitas produksi tersebut meliputi:
1) Lokasi (offshore / onshore)
2) Overall field lay out, yaitu tata letak fasilitas mulai dari sumur, flowline I
pipeline, processing facilities, FSO, FPSO, storage tank, jacket, deck,
camp, living quarters, access road, flare, loading I unloading, disposal
facilities, artificial lift equipment, water treatment plant, water injection plant,
utilities, steam generator, storage, dsb.
3) Spesifikasi produk minyak/gas/LPG/LNG (komposisi, tekanan, flow rate,
production life).
4) Field block diagram, process flow diagram (PFD) dan fasilitas produksi
sesuai hasil conceptual design/engineering.
5) Operation philosophy (manned/unmanned, control system, IT, dan
telekomunikasi, remote operation atau manned faciliites).
6) Perkiraan perhitungan biaya fasilitas produksi secara bottom up cost
estimation dan referensi biaya yang digunakan.

BAB 7 : FIELD DEVELOPMENT SCENARIOS


a) Bab ini menjeiaskan mengenai skenario pengembangan lapangan yang telah dipilih
oleh KKKS, termasuk penentuan skenario sewa atau beli atas peralatan produksi
yang diperlukan pada kegiatan pengembangan lapangan.
b) Apabila pada saat POD disampaikan ke BPMIGAS, KKKS tidak dapat menentukan 1
(satu) konsep pengembangan, maka dapat disampaikan beberapa konsep alternatif
pengembangan, dengan disertai penjelasan mengenai keuntungan dan kerugian dari
penerapan masing-masing konsep tersebut.
c) Apabila pengembangan direncanakan akan dilakukan secara bertahap, maka berlaku
ketentuan sebagai berikut: :
1) Usulan POD harus menjelaskan seluruh tahapan tersebut.
2) BPMIGAS dapat memberikan persetujuan untuk keseluruhan tahapan, maupun untuk
masing-masing tahap secara terpisah.
3) Tahap pertama digunakan sebagai tahap awal untuk pengembangan tahap
selanjutnya.

BAB 7 : FIELD DEVELOPMENT SCENARIOS


d) Apabila rencana pengembangan lapangan akan memanfaatkan fasilitas /
infrastrukturyang telah ada di daerah sekitarnya, maka hams dijelaskan
secara rinci:
1) Posisi tie-in;
2) Fasilitas yang perlu ditambahkan dan/atau dimodifikasi (apabila ada);
3) Batas-batas yang jelas antara fasilitas milik Wilayah Kerja sendiri
dengan fasilitas milik operator lain yang akan di sharing.

e) Untuk lapangan gas, dijelaskan mengenai pemanfaatan dan alokasi gas,


titik serah dan Iain-Iain .

BAB 8 : HSE & CSR


Bab ini menjelaskan hal-hal sebagai berikut:
a)

Kajian menyeluruh terhadap dampak suatu pengembangan lapangan terhadap kesehatan,


keselamatan dan lingkungan disekitar lapangan yang akan dikembangkan.

b)

Rencana pengembangan masyarakat sekitar lokasi yang terkena dampak pengembangan


lapangan.

Yang meliputi :
1)

Informasi status lahan existing saat ini, dimana akan dibangun sarana/prasarana produksi
(rencana jalan masuk, jalur pipa, fasilitas produksi dll), misalnya lahan berupa sawah, kebun
sawit, ladang dll.

2)

Informasi status lahan existing saat ini, dimana akan dibangun sarana/prasarana produksi,
berdasarkan peruntukan lahan dari Departemen Kehutanan, dapat berupa Hutan Konservasi,
Hutan Lindung atas Hutan Produksi (sesuai UU No. 41 tahun Tahun 1999 tentang Kehutanan).
Catatan: Kegiatan tidak dijinkan dilaksanakan di hutan konservasi.

3)

Informasi status lahan existing saat ini, dimana akan dibangun sarana/prasarana produksi
berdasarkan Rencana Tata Ruang dari Pemda setempat (Kabupaten/ Kota.Propinsi dan
Pemerintah Pusat). Catatan : Lahan yang akan digunakan untuk kegiatan hams sesuai dengan
Rencana Tata Ruang dari Pemerintah.

4)

Informasi daerah sensitif disekitar Sarana/Prasarana Produksi yang akan dibangun misalnya
keberadaan Pemukiman, keberadaan Hutan Suaka Konservasi, keberadaan terumbu karang dll.
Catatan: Data daerah sensitif bisa di ambil dari hasil studi Environmental Baseline Study yang
merupakan komitmen dari KKKS sesuai Kontrak Kerja.

BAB 8 : HSE & CSR


5) Informasi rencana pembuatan studi lingkungan untuk mendukung rencana
kegiatan yang akan dilaksanakan, studi lingkungan dapat berupa, Amdal, Revisi
Amdal/tambahan RKL-RPL atau UKL/UPL.
6) Untuk rencana produksi yang belum ada studi lingkungannya dapat mengacu
pada PERMEN KLH No. 11 tahun 2006 tentang kegiatan wajib Amdal.
7) Untuk rencana poduksi pada lapangan yang sudah memiliki studi lingkungan
maka studi lingkungan dapat berupa :
a.

Revisi Amdal/Tambahan RKL-RPL, setelah konsultasi dengan Migas dan/atau KLH.

b.

UKL/UPL lapangan terbatas, setelah konsulatsi dengan Ditjen Migas dan/atau KLH. Catatan :
dalam studi lingkungan tsb dicakup.

8) Kajian dampak kegiatan terhadap Lingkungan sebagai dasar layak atau tidak
layak kegiatan dari aspek lingkungan (untuk studi Amdal).
9) Rencana pengelolaan dan pemantauan lingkungan yang hsrus dilaksanakan.
10) Memastikan jarak aman terhadap lingkungan sekitar sesuai ketentuan yang
berlaku. Catatan : Dari Keselamatan Kerja, salah satu yang diacu adalah dari
MPR 1930.

BAB 9 : Abandonment and Site Restoration (ASR) Plan ASR


a) Bab ini menjeiaskan mengenai rencana kerja dan perkiraan biaya
abandonment & site restoration.
b) b) Alokasi biaya dianggarkan setiap tahun sesuai masa produksi lapangan
atau sumur.
(penjelasan rinci mengenai ASR akan diatur lebih lanjut dalam PTK tersendiri).

BAB 10 : PROJECT SCHEDULE & ORGANIZATION


Bab ini menjeiaskan hal-hal sebagai berikut:
a) Rangkaian penyelesaian berbagai pekerjaan pengembangan lapangan
sampai dengan onstream, dalam bentuk gant chart dan milestone.
b) Rencana penggunaan tenaga kerja asing dan nasional yang terlibat dalam
pekerjaan pengembangan dan operasi lapangan.

BAB 11 : Local Content (Tingkat Komponen Dalam


Negeri/TKDN)
a) Bab ini menjeiaskan mengenai rencana penggunaan barang dan jasa dalam
negeri dengan menyebutkan perkiraan persentase (%) TKDN terhadap total
biaya.
b) KKKS wajib memaksimalkan penggunaan barang dan jasa dalam negeri
sesuai dengan ketentuan pada pedoman tata kerja yang mengaturtentang
TKDN.

BAB 12 : COMMERCIAL
Bab commercial terdiri atas 2 (dua) komponen, yaitu:
a) Biaya Pengembangan Lapangan
Biaya pengembangan lapangan yang dimaksud pada sub-bab ini
merupakan rangkuman atas biaya pada Bab 5, Bab 6, dan Bab 9,
serta penjelasan biaya operasi & sunk cost sebagai berikut:
1)

Sunk cost/pre production cost (POD I)

2)

Biaya pemboran dan komplesi.

3)

Biaya fasilitas produksi: onshore / offshore oil processing facilities,


onshore/offshore gas processing facilities, utilities, other facilities.

4)

Biaya ASR.

5)

Biaya operasi sesuai masa produksi dan atau biaya yang timbul dari
kegiatan sharing facilities (biaya operasi langsung dan tidak
langsung).

BAB 12 : COMMERCIAL
b) Proje ct Economics
1) Sub-bab ini menjelaskan mengenai hal-hal perhitungan dan
kepastian manfaat bagi Pemerintah dan KKKS atas:
1.

rencana pengembangan lapangan (stand alone calculation).

2.

pengembangan lapangan terhadap Wilayah Kerja dengan


menggunakan block basis calculation.

2) Manfaat yang dimaksud di atas tercermin dalam indikatorindikator keekonomian bagi Pemerintah dan KKKS. Indikator
keekonomian tersebut dihitung menggunakan model
keekonomian berdasarkan KKS yang bersangkutan.
3) Data yang diperlukan untuk analisa perhitungan
keekonomian lapangan dan blok menggunakan data terakhir
sebagai berikut:

BAB 12 : COMMERCIAL
3)

Data yang diperlukan untuk analisa perhitungan keekonomian


lapangan dan blok menggunakan data terakhir sebagai berikut:

a. Profil Produksi
i.

Minyak dalam satuan BOPD dan Gas dalam satuan


MMSCFD.

ii.

ii. Dalam hal pengembangan berkaitan dengan Secondary


Recovery/Enhanced Oil Recovery diperlukan data spesifik
terkait, yaitu Baseline yang disepakati oleh BPMIGAS dan
KKKS, serta Produksi Incremental Secondary
Recovery/Enhanced Oil Recovery.

iii.

Data Produksi Incremental Secondary


Recovery/Enhanced Oil Recovery tersebut dirangkum
seperti pada Lampiran 111.1 (Tabel Incremental
Production).

BAB 12 : COMMERCIAL
b. Biaya
i.

Dalam hal lapangan memproduksikan minyak dan/atau


gas secara komersial, semua biaya harus dipisahkan
sesuai dengan alokasi minyak dan gas.

ii.

Data biaya di sini dirangkum seperti pada Lampiran III.2.


(Rangkuman Perkiraan Produksi dan Biaya), yang dibuat
dalam rincian tahunan selama umur proyek

iii.

Biaya yang perlu disampaikan yaitu:

Sunk Cost/Pre-Development cost (terutama untuk POD I), (ii)


Investasi yang meliputi: biaya pemboran, komplesi dan

fasilitas produksi. (iii) Biaya operasi meliputi: production cost


(direct dan indirect),

biaya ASR.

BAB 12 : COMMERCIAL

c. Asumsi harga minyak/kondensat


dan/atau gas dalam US Dollar (US$)
i.

Harga minyak yang digunakan dalam


perhitungan keekonomian menggunakan harga
yang tetap selama masa produksi.

ii.

Asumsi harga minyak/kondensat mengacu


kepada harga rata-rata ICP 5 (lima) tahun
terakhir x 80% (delapan puluh persen).

iii. Asumsi harga gas mempertimbangkan kondisi


harga gas di wilayah sekitar lapangan dan
kewajaran sesuai hasil perhitungan
keekonomian POD.

BAB 12 : COMMERCIAL

d. Insentif
i.

Kontraktor dapat mengajukan insentif sesuai isi


Kontrak Kerja Sama.

ii. Pencantuman insentif dalam usulan POD tidak


berarti insentif tersebut akan disetujui oleh
BPMIGAS.
iii. Persetujuan/penolakan atas insentif akan
dicantumkan dalam surat persetujuan POD.
iv. Bilamana insentif diberikan, rincian insentif hams
tercantum dan telah diperhitungkan dalam
keekonomian proyek.
v. Insentif lain yang tidak tercantum dalam KKS
memerlukan persetujuan Kementerian ESDM.

BAB 12 : COMMERCIAL

e. Perhitungan Keekonomian
Menggunakan data yang disebutkan pada
poin (1) dan harga minyak/kondensat
dan/atau gas dalam US Dollar (US$)
sebagai base case keekonomian
lapangan, dilakukan dengan
melampirkan spread sheet perhitungan
dan rangkumannya.

BAB 12 : COMMERCIAL
f.

Indikator Keekonomian

Indikator keekonomian yang ditampilkan mencakup:


i.

Untuk Pemerintah: Penerimaan & PV (Present Value), dan persentase


pendapatan pemerintah terhadap Gross Revenue.

ii.

Untuk Kontraktor:

(i). Net Cashflow (NCF)


(ii). NCF/Gross Revenue
(iii). Cost Recovery/Gross Revenue
(iv) . NPV (Net Present Value). Disarankan Present Value menggunakan
discount factor 10%.
(v) . IRR (Internal Rate of Return)
Analisa keekonomian disampaikan sesuai lampiran V (Form Keekonomian).

BAB 12 : COMMERCIAL
g.

Sensitivitas Keekonomian

i.

Analisis sensitivitas penerimaan pemerintah harus dilakukan minimal


berdasarkan perubahan 3 (tiga) parameter, yaitu:

(i)

Price atau tingkat produksi (oil/condensat, gas, LPG, LNG),

(ii)

Capital,

(iii) Operating Expenditure, dan


ii.

Hasil analisis sensitifitas ditampilkan dalam bentuk spider diagram atau


tornado chart dengan varians 20%.

iii.

Sensitivitas keekonomian digunakan sebagai salah satu acuan untuk


pertimbangan perlu direvisi atau tidaknya suatu POD.

Sensitivitas Keekonomian disampaikan sesuai lampiran V.3. (Form


Keekonomian).

BAB 12 : COMMERCIAL

h. Komersial Gas

Menjelaskan perkembangan pasar gas di


sekitar wilayah kerja dan perkembangan
diskusi dengan calon pembeli serta
dokumen perjanjian jual beli gas (Term and
Condition) yang telah disepakati.

Dokumen perjanjian jual beli gas antara lain


MOU (Memorandum of Understanding) atau
HOA (Head of Agreement) atau existing gas
contract.

BAB 13 : CONCLUSION

Bab ini merupakan kesimpulan dari


pengembangan lapangan untuk pemilihan
skenario pengembangan yang terbaik,
ditinjau dari segi teknis maupun ekonomis.

BAB 14 : ATTACHEMENTS
Buku Usulan POD antara lain harus melampirkan dokumen
sebagai berikut:
a)Technical Supporting Data
b)Cost Estimation
c)Economic Spreadsheet
d)Minutes of Meetings

Minutes of Meeting sesuai hasil rapat Pleno Pre-POD sekurangkurangnya ditandatangani oleh:
1)Dari KKKS, oleh pejabat satu tingkat di bawah pimpinan
tertinggi KKKS.
2)Dari BPMIGAS, oleh pejabat setingkat Kepala Divisi, bila
berhalangan dapat diwakilkan oleh Pejabat setingkat Kepala
Dinas.

36