Anda di halaman 1dari 29

LO 1 : Pertimbangan Pencabutan Gigi (Indikasi, Kontra, anamnesa,

pemeriksaan)
Pertimbangan-pertimbangan dalam melakukan pencabutan :
1. Identifikasi sisa jaringan keras gigi akibat karies, maupun trauma.
Kerusakan mahkot yang cukup besar pada skenario dapat mempersulit
adaptasi tang terhadap gigi yang akan dicabut.
2. Identifikasi kelainan periapikal dan struktur gigi yang berdekatan.
2.1 Struktur gigi yang berdekatan perlu dilakukan pengamatan, karena jika
didapatkan malposisi dan berjejal dapat mempersulit adaptasi tang.
2.2 Kelainan Periapikal seperti hipersementosis, sclerosis tulang, dan
ankilosis dapat mempersulit pencabutan dengan menggunakan tang.
Pada kasus kelainan periapikal ini metode pencabutan mengguakan
tang merupakan kontra indikasi. Metode yang digunakan pada kauskasus ini adalah Open Method Retraction.
3. Bentuk, Jumlah, serta pola akar
Akar yang melengkung dengan ekstremitas yang sangat tajam (dilaserasi)
menjadi faktor penyulit dalam pencabutan dengan menggunakan tang.
4. Tekanan terkontrol
Kondisi tekanan terkontrol dapat tercipta dari posisi operator dan posisi
pasien yang tepat, serta metode teknik pencabutan yang dipilih efektif
sesuai kondisi gigi yang akan dicabut.
Indikasi pencabutan gigi sulung

Karies yang melibatkan pulpa

Gigi sulung yang belum tanggal pada eaktunya, sehingga


mengganggu erupsi gigi permanen yang akan menggantikannya.
Penyebab gigi sulung yang tidak tanggal ini bermacam-macam,
seperti misalnya resorpsi akar yang salah, dan erupsi yang tidak
biasanya pada banyak akar.

Gigi sulung dengan kelainan periapikal.

Gigi sulung dengan fraktur akar.

LO 2 : Persiapan pencabutan gigi anak

Pada tahap pre operative perlu diperhatikan persiapan alat dan bahan yang
akan digunakan baik dalam proses pemberian anastetikum maupun pada proses
operasi. Hal-hal yang perlu diperhatikan saat memilih alat dan obat anastesi yaitu:
1. Gunakan syringe yang dapat diaspirasi.
2. Penggunaan jarum yang disposable. Hal ini bertujuan untuk menghindari
resiko menularkan infeksi dari pasien yang satu ke pasien yang lain.
3. Kebanyakan injeksi menggunakan jarum pendek dengan panjang 2 atau
2,5 cm. Jarum panjang dengan ukuran 3 cm biasanya digunakan untuk
blok gigi inferior, Jarum halus (30 gauge) digunakan untuk infiltrasi dan
jarum tebal (27 gauge) digunakan untuk semua injeksi lain.
4. Hal yang penting bagi dokter gigi ketika akan menganastesi pasien anak
adalah dosis yang disesuaikan dengan berat badan anak. Seperti contoh
Prilokain (Nama dagang Citanes atau Forte) yeng memiliki lama kerja
pada pulpa (60-90 menit) dan pada jaringan lunak 3-8 jam. Dosis Prilokain
yaitu 6,0 mg/kg berat badan anak.
5. Larutan anestesi yang digunakan umumnya adalah Lignokain 2% +
1:80.000 adrenalin. Sedangkan, jika injeksi dengan adrenalin merupakan
kontraindikasi, dapat menggunakan larutan prilokain 3% + felipresin (0.31
iu//ml).
Anastesi
Pemilihan syringe dan jarum
Pemilihan jarum harus disesuaikan dengan kedalaman anastesi yang akan
dilakukan. Jarum suntik pada kedokteran gigi tersedia dalam 3 ukuran (sesuai
standar American Dental Association = ADA) ; panjang (32 mm), pendek (20
mm, dan superpendek (10 mm).
Petunjuk :
1. Dalam pelaksanaan anastesi lokal pada gigi, dokter gigi harus
menggunakan syringe sesuai standar ADA.

2. Jarum pendek dapat digunakan untuk beberapa injeksi pada jaringan lunak
yang tipis, jarum panjang digunakan untuk injeksi yang lebih dalam.
3. Jarum cenderung tidak dipenetrasikan lebih dalam untuk mencegah
patahnya jarum.
4. Jarum yang digunakan harus tajam dan lurus dengan bevel yang relative
pendek, dipasangkan pada syringe. Gunakan jarum sekali pakai
(disposable) untuk menjamin ketajaman dan sterilisasinya. Penggunaan
jarum berulang dapat sebagai transfer penyakit.
5. Citojet dapat digunakan untuk injeksi intraligamen (Gambar 1).

Persiapan pemberian lokal anestesi


1. Sebagian negara mempunyai hukum yang mengharuskan izin tertulis dari
orang tua (Informed Concent) sebelum melakukan anastesi pada pasien
anak.
2. Anak bertoleransi lebih baik terhadap anastesi lokal setelah diberi makan
2 jam
3. Penjelasan lokal anastesi tergantung usia pasien anak, teknik penanganan
tingkah laku anak yang dapat dilakukan, misalnya TSD (Gambar 24) modelling.

Gambar: Instrumen dapat diperlihatkan pada anak (kiri). Penyuntikan dilakukan


menggunakan

kaca

agar

anak

dapat

melihat

prosedur

penyuntikan

(kanan)menggunakan kaca agar anak dapat melihat prosedur penyuntikan

Gambar 3 : Selama penyuntikan, asisten


memegang tangan anak, agar anak
tidak bergerak

Gambar 4 : Kombinasi perawatan dengan


audioanalgesik

Anastesi dan pencabutan


1.

Instrumen yang akan dipakai, sebaiknya jangan diletakkan di atas meja.


Letakkan pada tempat yang tidak terlihat oleh anak dan diambil saat akan
digunakan. Jangan mengisi jarum suntik di depan pasien, dapat

menyebabkan rasa takut dan cemas.


2. Sebaiknya dikatakan kepada anak yang sebenarnya bahwa akan ditusuk
dengan jarum (disuntik) dan terasa sakit sedikit, tidak boleh dibohongi.
Instrumen dapat diperlihatkan pada anak (kiri). Penyuntikan dilakukan
menggunakan kaca agar anak dapat melihat prosedur penyuntikan (kanan)
Selama penyuntikan, asisten memegang tangan anak, agar anak tidak
3.

bergerak
Rasa sakit ketika penyuntikan sedapat mungkin dihindarkan dengan cara
sebagai berikut:
a. Memakai jarum yang kecil dan tajam

b. Pada daerah masuknya jarum dapat dilakukan anastesi topikal lebih


dahulu. Misalnya dengan 5 % xylocaine (lidocaine oitmen)
c. Jaringan lunak yang bergerak dapat ditegangkan sebelum penusukan
jarum
d. Deposit anastetikum perlahan, deposit yang cepat cenderung menambah
rasa sakit. Jika lebih dari satu gigi maksila yang akan dianastesi,
operator dapat menyuntikkan anastesi awal, kemudian merubah arah
jarum menjadi posisi yang lebih horizontal, bertahap memajukan jarum
dan mendeposit anastetikum.
e. Penekanan dengan jari beberapa detik pada daerah injeksi dapat
membantu pengurangan rasa sakit.
5.

Aspirasi dilakukan untuk mencegah masuknya anastetikum dalam


pembuluh darah, juga mencegah reaksi toksis, alergi dan hipersensitifitas.

6. Waktu untuk menentukan anastesi berjalan 5 menit dan dijelaskan


sebelumnya kepada anak bahwa nantinya akan terasa gejala parastesi
seperti mati rasa, bengkak, kebas, kesemutan atau gatal. Dijelaskan agar
anak tidak takut, tidak kaget, tidak bingung atau merasa aneh. Pencabutan
sebaiknya dilakukan setelah 5 menit. Jika tanda parastesi tidak terjadi,
anastesi kemungkinan gagal sehingga harus diulang kembali.
7. Vasokontristor sebaiknya digunakan dengan konsentrasi kecil, misalnya
xylocaine 2 % dan epinephrine 1 : 100.000.
LO 3 : Penatalaksanaan anastesi dan pencabutan
ANASTESI
Anastesi lokal adalah tindakan menghilangkan rasa sakit untuk sementara pada
satu bagian tubuh dengan cara mengaplikasikan bahan topikal aatau suntikan
tanpa menghilangkan kesadaran. Teknik anastesi lokal merupakan pertimbangan
yang sangat penting dalam perawatan pasien anak. Ketentuan umur, anastesi
topikal, teknik injeki dan analgetik dapat membantu pasien mendapatkan
pengalaman positif selama mendapatkan anastesi lokal.
Anestesi Topikal
Anestesi topikal digunakan untuk mengurangi ketidaknyamanan pada
saat insersi jarum ke membran mukosa. Selain itu, interaksi operator dengan

anak untuk mengalihkan perhatian mereka dan meningkatkan sugestibilitas


mereka terhadap kecemasan dapat mengurangi kekurangan dari anestesi
topical. Anastesi topical efektif pada permukaan jaringan (kedalaman 2-3
mm).
Bahan anastesi topikal yang dipakai dapat dibagi sebagai berikut :
1. Menurut bentuknya : Cairan, salep, gel
2. Menurut penggunaannya : Spray, dioleskan, ditempelkan
3. Menurut bahan obatnya : Chlor Etil, Xylestesin Ointment, Xylocain
Oitment, Xylocain Spray
4. Anastesi topikal benzokain (masa kerja cepat) dibuat dengan konsentrasi >
20 %, lidokain tersedia dalam bentuk cairan atau salep > 5 % dan dalam
bentuk spray dengan konsentrasi > 10%.
Cara melakukan anastesi topikal adalah :
1. Membran mukosa dikeringkan untuk mencegah larutnya bahan anastesi
topikal.
2. Bahan anastesi topikal dioleskan melebihi area yang akan disuntik
(Gambar 5) 15 detik (tergantung petunjuk pabrik) kurang dari waktu
tersebut, obat tidak efektif.
3. Pasien bayi dapat menggunakan syring tanpa jarum untuk mengoleskan
topikal aplikasi (Gambar 6)
4. Anastesi topikal harus dipertahankan pada membran mukosa minimal 2
menit, agar obat bekerja efektif. Salah satu kesalahan yang dibuat pada
pemakaian anastesi topikal adalah kegagalan operator untuk memberikan
waktu yang cukup bagi bahan anastesi topikal untuk menghasilkan efek
yang maksimum.

Gambar 5. Gunakan cotton bud untuk mengoleskan topikal anastesi pada area
yang akan disuntik

Gambar 6. Aplikasi topical anastesi dengan syringe tanpa jarum

Anestesi topical yang disarankan untuk digunakan yaitu benzocaine


yang memiliki rasa yang nyaman bagi anak-anak jumlah yang berlebihan
dihindari pada pemberian anestesi topical.
2.6 Anestesi Lokal
2.7 Bahan Anastesi (Anastetikum)
Sejumlah anastetikum yang ada dapat bekerja 10 menit 6 jam, dikenal
dengan bahan Long Acting. Namun anastesi lokal dengan masa kerja panjang
(seperti bupivakain) tidak direkomendasikan untuk pasien anak terutama
dengan gangguan mental. Hal ini berkaitan dengan masa kerja yang panjang
karena dapat menambah resiko injuri pada jaringan lunak.
Bahan yang sering digunakan sebagai anastetikum adalah lidocaine dan
epinephrine (adrenaline). Lidocaine 2 % dan epinephrine 1 : 80.000
merupakan pilihan utama (kecuali bila ada alergi). Anastetikum tanpa
adrenalin kurang efektif dibandingkan dengan adrenalin. Epinephrin dapat
menurunkan perdarahan pada regio injeksi.
Contoh bahan anastetikum :
1. Lidocaine (Xylocaine) HCl 2 % dengan epinephrine 1 : 100.000
2. 2. Mepicaine (Carbocaine) HCl 2 % dengan levanordefrin (Neo-cobefrin)
1 : 20.000.
3. Prilocaine (Citanest Forte) HCl 4 % dengan epinephrine 1 : 200.000
4. Hal yang penting bagi drg ketika akan menganastesi pasien anak adalah
dosis.
Dosis yang diperkenankan adalah berdasarkan berat badan anak (tabel).
Tabel 1 : Dosis anastesi lokal maksimum yang direkomendasikan
(Malamed)

Anestesi Lokal Teknik Infiltrasi


Teknik

anestesi

infiltrasi

lokal

merupakan

teknik

dengan

mendepositkan larutan anestesi lokal di sekitar ujung-ujung saraf terminal


sehingga efek anestesi hanya terbatas pada tempat difusi cairan anestesi tepat
pada area yang akan dilakukan instrumentasi. Teknik ini sering dilakukan
pada anak-anak untuk rahang atas ataupun rahang bawah. Daya penetrasinya
pada anak cukup dalam karena komposisi tulang dan jaringan belum begitu
kompak.
Tahap melaksanakan infiltrasi anastesi :
1. Keringkan mukosa dan aplikasikan bahan topikal anastesi selama 2 menit
2. Bersihkan kelebihan bahan topikal anastesi
3. Tarik mukosa
4. Untuk mengalihkan perhatian anak, drg dapat menekan bibir dengan
tekanan ringan menggunakan ibu jari dan jari telunjuk sehingga mukosa
yang akan disuntik terlihat.
5. Masukkan jarum, jika menyentuh tulang tarik jarum keluar sedikit

6. Aspirasi
7. Suntikan bahan anastetikum 0,5 1,0 cc secara perlahan (15-30 detik)
Teknik Anestesi Infiltrasi Rahang Atas dan Rahang Bawah
1. Teknik Infiltrasi Labial pada Area Gigi Anterior Maksila
Regio anterior maksila dipersarafi oleh cabang nervus alveolar anterio
superior maksila.
a. Tarik jaringan untuk menentukan tempat injeksi
b. Bevel jarum dihadapkan parallel terhadap tulang
c. Masukkan jarum berukuran 30-gauge atau 10 mm pada mucobuccal
fold, pada anak dibuat lebih dekat ke margin gingiva dibandingkan
pasien dewasa dan anastetikum dideposit dekat ke tulang alveolar
menuju apeks gigi
d. Masukkan jarum sesuai kedalaman apeks akar, pada gigi sulung
kedalaman jarum lebih dangkal dibandingkan dengan gigi permanen
e. Bevel jarum harus mengarah pada tulang periosteum, lalu aspirasi
f. Injeksikan cairan anestesi lokal perlahan
g. Tarik jarum dan aplikasikan kassa 2x2 sengan tekanan untuk hemostasis

Gambar 12. Teknik anastesi supraperiosteal. Injeksi dekat tulang alveolar menuju
apeks gigi.

Gambar 13. Posisi jarum

Gambar 14. Posisi jarum untuk anastesi kaninus


2. Teknik Anestesi Infiltrasi Bukal Maksila / Mandibula
Persarafan pada gigi molar sulung dan permanen berasal dari nervus
alveolar posterior superior dan nervus alveolar superior tengah
mempersarafi akar mesiobukal dari gigi molar sulung dan tetap, serta gigi
premolar. Teknik anestesi ini menggunakan tahap 1- 6 yang dijelaskan
pada teknik anestesi infiltrasi, dengan jarum yang digunakan berukuran
27-gauge, cairan anastetsi dideposit pada sulkus bukal 2 cc (Gambar 7a
dan 7b) untuk pencabutan molar satu sulung. Sambil jarum ditarik,
dideposit kembali anastestikum 0,2 cc untuk memperoleh efek maksimum.
Bukal infiltrasi 0,5 1,0 cc cukup untuk menganastesi jaringan lunak
sekitar gigi yang akan dicabut.

Gambar 15. Posisi jarum untuk anastesi gigi molar sulung atas

Gambar: Injeksi bukal infiltrasi pada


region molar atas susu

Gambar: Bukal infiltrasi pada molar


dua bawah sulung

2.8 ANESTESI BLOK


Anestesi blok : Hilangnya rasa sakit pada suatu daerah tertentu karena
pemberian anestesi pada pusat saraf.
Indikasi :
1. Pencabutan gigi molar sulung yang akarnya belum teresorpsi
2. Pencabutan molar tetap
Teknik Blok Anestesi Rahang Atas pada Gigi Sulung
Teknik yang dapat dilakukan, terutama ketika infiltrasi tidak mungkin
diberikan karena infeksi lokal, dan menghasilkan analgesia yang dalam pada
gigi sulung rahang atas atau gigi molar permanen. Ini menghasilkan blok

pada posterior dan seringkali pada bagian tengah nervus superior yang
memasuki bagian posterior rahang atas pada fossa infratemporalis.
Bagaimana pun juga, tidak sama dengan teknik posterior superior nerve
block, teknik ini tidak memiliki resiko merusak vaskularisasi plexus
pterygoid dengan formasi hematoma untuk tingkatan lebih lanjutnya.

Maxillary zygomatic buttress dipalpasi dengan jari penunjuk

Sebagian besar larutan analgesik lokal dimasukkan dari distal butress

Pertama kali dimasukkan, larutan analgesik akan bekerja pada aspek


distal rahang atas jari penunjuk. Pasien sebaiknya diminta untuk
mengoklusikan rahang pada stase ini. Hal ini dilakukan untuk mencegah

processus coronoideus pada rahang bawah memblok pergerakan distal dari


jari.

Blok molar rahang atas. Sebagian besar larutan lokal analgesik dimasukkan
ke bawah mukosa di mukosa distal sampai zygomatic buttress (A). Larutan
analgesik kemudian bekerja sepanjang aspek distal rahang atas sampai fossa
infratemporalis (B) dan memblok bagian posterior superior dental nerves
(PSDN)
Teknik Blok Anestesi Rahang Bawah
Teknik :
1. Bidang oklusi rahang bawah disejajarkan dengan lantai.
2. Telunjuk letakkan pada permukaan oklusal gigi molar supaya menyentuh
sudut oklusal.
3. Kuku menghadap ke lidah, temukan trigonum retromolar, kemudian kuku
sandarkan pada linea oblique interna
4. Tusukan jarum di dekat ujung jari, tabung suntik terletak antara m1 dan
m2 pada sisi yang berlawanan.
5. Bila sudah menyentuh tulang, tarik sedikit, tabung disejajarkan bidang
oklusal sisi yang akan dianestesi. Keluarkan obat anestesi kurang lebih 0,5
cc untuk menganestesi N. Lingualis. Kemudian tabung suntik kembalikan
pada posisi semula, terletak antara gigi C dan M1. Arahkan ke bawah
bidang oklusi, mencapai foramen mandibula. Bila sudah menyentuh
tulang, aspirasi lalu dikeluarkan 1 cc untuk menganestesi N. alveolaris
interior.
Untuk menganestesi bagian bukal, dilakukan anestesi infiltrasi, yaitu 0,5
cc untuk menganestesi N.buksinatorius. Efek anestesi terlihat setelah lima

menit, dengan teranestesinya daerah mukosa pipi, anterior lidah dan bibir
pada sisi yang dianestesi.
PENCABUTAN
Instrumen Ekstraksi Untuk Gigi Sulung
Biasanya dokter gigi menggunakan alat instrumentasi ekstraksi gigi
anak sama dengan yang digunakan untuk gigi dewasa. Tetapi banyak juga
dokter gigi anak dan oral and maxilofacial surgeons lebih memilih tang
ekstraksi anak-anak yang lebih kecil seperti no.150S dan 151S, karena
beberapa sebab :
1. Ukuran tang nya yang lebih kecil lebih memudahkan untuk masuk dalam
kavitas oral dari pasien anak-anak.
2. Tang ekstraksi yang lebih kecil lebih mudah disembunyikan dalam tangan
operator.
3. Bentuk paruh dari tang yang lebih dapat beradaptasi dengan bentuk
anatomi gigi sulung.
Berikut merupakan ciri-ciri dari instrumentasi untuk pencabutan gigi anak :
a. Instrumen untuk pencabutan gigi sulung RA
Untuk insisive central, lateral, caninus maksila gunakan tang #150
SS universal. Paruh tang ini cenderung mempunyai kontak point daripada
flat contact sehingga sesuai dengan morfologi mahkota gigi sulung dan
cukup sempit untuk mencekram mahkota gigi anterior maksila karena akar
gigi maksila anterior bulat, maka gerakan ekstraksi dapat dimulai terlebih
dahulu dari lingual untuk mengekspansi gigi dari soketnya kemudian baru
ke arah bukal dan kemudian bisa dikombinasikan dengn gerakan rotasi.
Untuk gigi molar sulung maksila, gunakan tang #150 SS. Tang
diarahkan ke lingual untuk pertama kali kemudian ke bukal untuk
mengekstraksi.
Tang untuk rahang atas biasanya berbentuk tang biasa yang lurus
antara kepala dan badang tang tersebut, diantaranya :
- Gigi sulung anterior :

Tang dengan kepala yang lurus dengan badan tang.


-

Gigi sulung posterior:

Tang dengan kepala agak membengkok dari badan tang.


- Akar gigi :

Tang dengan kepala tang agak tertekuk dan kedua ujung tang saling
bertemu.
b. Instrumen untuk pencabutan gigi sulung RB
Untuk gigi sulung anterior mandibula, gunakan tang #151
universal SS. Paruhnya mempunyai kontak serupa dengan tang #150.
Untuk gigi yang crowded atau supernumerary, diindikasikan untuk
menggunakan tang yang berbeda yang mempunyai paruh lebih sempit.
Untuk mengekstraksi gigi molar 1 sulung mandibula dapat kita
dapat menggunakan tang #151 SS universal. Sedangkan untuk molar 2
sulung mandibula, kita dapat menggunakan dua tang yang berbeda

tergantung dari posisi perkembangan premolar 2 dan juga jumlah tulang


alveolar di atasnya yang dapat diidentifikasi melalui radiograf. Tang yang
digunakan untuk mengekstraksi gigi molar 2 sulung dapat berupa tang
#151 atau tang #23 (cowhorn).
Tang #151 digunakan jika tidak ada tulang alveolar dan premolar
kedua yang akan erupsi letaknya dekat di bawah molar sulung kedua.
Teknik ekstraksi yang digunakan serupa dengan teknik pencabutan gigi
molar 1 sulung mandibula.
Namun tang lain yakni tang #23 cowhorn dapat digunakan jika
terdapat tulang alveolar dan letak gigi premolar 2 tidak begitu dekat
dengan gigi molar 2 sulung. Walaupun penggunaan tang ini sendiri masih
menyisakan pro dan kontra, sumber sumber yang menyarankan
penggunaan tang ini mengungkapkan bahwa walaupun ada kemungkinan
untuk ikut tercabutnya benih gigi premolar 2 permanen, faktanya hanya
sedikit yang mengalami kejadian ini.
Penggunaan cowhorn ini sendiri

disebabkan

karakteristik

morfologi gigi molar 2 sulung mandibula yang konvergen pada 1/3 tengah
akar yang berbeda dengan gigi molar 1 sulung dimana konvergen pada 1/3
apikal akar. Sebagai tambahan, akar mesial mempunyai groove yang
mengalir ke aspek mesial dan groove yang serupa juga terdapaat di aspek
distal. Sifat ini membuat gigi molar 2 sulung kontraindikasi dengan
gerakan rotasi sehingga untuk ekstraksinya kita dapat menariknya melalui
dimensi vertikal yang diakomodasi dengan baik oleh tang cowhorn. Paruh
tang cowhorn diletakkan pada bifurkasi molar 2 sulung, kemudian
digerakkan ke arah lingual selanjutnya ke bukal.
Berbeda dengan tang untuk rahang atas, pada tang untuk rahang
bawah rata rata kepalanya membentuk sudut 90 terhadap badannya
sehingga terlihat seperti bengkok, diantaranya :
- Gigi sulung anterior:

Tang dengan kepala yang sedikit runcing penyerupai capit pada


-

ujungnya.
Gigi sulung posterior :

Tang dengan kepala yang sedikit membulat dibanding tang anterior


-

dan ujungnya terdapat takik.


Akar gigi :

Tang untuk akar ini menyerupai tang untuk gigi posterior namun tidak
memiliki takik pada ujungnya, dan kedua ujung tang ini saling
bertemu.
-

Berikut adalah gambar dari tang #23 (cowhorn)

Selain instrumen tang, dalam ekstraksi gigi untuk anak anak juga
menggunakan alat bantu seperti bend atau elevator, dan beberapa
instrumen standar untuk pemeriksaan seperti :
-

Kaca mulut
Sonde
Pinset
Injektor
Ekskavator
Cotton roll
Betadine cane yg diisi betadin
Dan lain lain.

Gambar :

Beberapa alat yang harus dipersiapkan sebelum pencabutan gigi pada anak
Tata Cara Pencabutan Gigi Sulung
1. Posisi Operator
Dengan pengenalan sistem four handed dentistry, operator harus
melakukan ekstraksi dalam posisi duduk, setelah mengambil posisi yang
benar tergantung pada kuadran mana dia bekerja.
Kuadran kanan dan kiri maksila serta kuadran kiri mandibula
( Regio V, VI, VII) : Operator berada pada posisi di depan sampai ke
samping pasien (arah jam 7 sampai arah jam 9)

Kuadran kanan mandibula (Regio VIII) : operator pada posisi di


belakang sampai di samping pasien (arah jam 9 sampai jam 11)

Armamentarium ekstraksi dan posisi operator (Sumber: textbook of


pedodontic Shoba Tandon, 2008)
2. Teknik Pencabutan gigi
Gigi Anterior Maksilla :
Bagian melintang dari akar gigi ini membulat. Gaya pertama
diberikan ke arah apikal kemudian tekanan ringan ke arah lingual. Tekanan
yang sedikit ini melebarkan tulang gingival bagian lingual. Gaya
berikutnya adalah gerakan berlawanan arah jarum jam yang melonggarkan
gigi dengan gerakan yang melepaskan. Kemudian, diteruskan dengan gaya
ke arah labial, yang akan melepaskan gigi dari soketnya. (Shoba Tandon,
2008)
Gigi anterior maksilla memiliki akar tunggal yang cenderung
conical. Hal ini menyebabkan gigi cenderung memiliki resiko fraktur
rendah dan mendukung gerakan rotasi. Tang A no 1 digunakan untuk
ekstraksi gigi anterior maksilla.

Gigi Anterior Mandibula :


Bagian melintang dari akar gigi ini adalah oval. Setelah gaya
inisial pada apikal gigi, arah gaya berikutnya adalah ke arah labial dalam
satu gerakan. Setelah gigi terasa longgar dari soketnya, gerakan
berlawanan arah jarum jam mengeluarkan gigi dari soketnya.
Gigi anterior mandibula memiliki akar tunggal. Hal ini
menyebabkan seorang dokter gigi harus berhati-hati dalam menggerakkan
tang agar jangan sampai mengganggu gigi yang berdekatan karena akan
mudah sekali menjadi untuk menjadi goyang. Hal ini juga menyebabkan
dokter gigi dapat menggunakan gerakan rotasi dan sedikit gerakan ke arah
labial dan lingual dapat melepaskan gigi dari soketnya.

Gigi Molar sulung Maksilla :


Karena akar palatal melengkung, gerakan untuk pencabutan gigi
diarahkan ke palatal dengan tekanan ringan. Tekanan ringan diaplikasikan
dengan tujuan agar tidak sampai mematahkan akar palatal yang
melengkung. Kemudian diteruskan dalam satu gaya ke arah bukal, gigi
menjadi longgar dan gerakan berlawanan arah jarum jam mengeluarkan
gigi dari soketnya.
Gigi molar maksilla berbeda dengan gigi permanen. Ketinggian
konturnya lebih dekat ke cementoenamel junction dan akarnya lebih
divergen dan diameternya lebih kecil. Karena struktur akar melemah saat
erupsi gigi permanen, sering terjadi fraktur akar saat pencabutan gigi
maksilla. Hal lain yang harus diperhatikan adalah hubungan antara molar
sulung dengan mahkota premolar yang akan tumbuh. Apabila akar
mengelilingi mahkota premolar, bukan mustahil premolar ikut tercabut
bersama molar sulung.
Setelah perlekatan epithelial dipisahkan, elevator 301 lurus
digunakan untuk luksasi gigi dan ekstraksi diselesaikan dengan tang
universal maksilla no 150S.

Gigi Molar sulung Mandibula :


Potongan melintang dari akar gigi ini adalah datar dalam arah
mesiodistal dan berbentuk lonjong. Gerakan rotasi merupakan kontra
indikasi. Gaya inisial pertama adalah tekanan ringan ke arah lingual,
semudian diteruskan dalam satu gaya ke bukal sampai gigi melonggar dari
soketnya. Setelah itu, gerakan rotasi

berlawanan arah jarum jam

mengeluarkan gigi dari soketnya..


Pada pencabutan gigi molar mandibula,

dokter gigi harus

memberikan support oleh tangan yang tidak melakukan ekstraksi pada


mandibula pasien supaya tidak terjadi cedera sendi temporo mandibular.
Setelah luxasi dengan elevator lurus no 301, tang no 151S digunakan
untuk mengekstraksi gigi.

LO 4 : Komplikasi

Komplikasi Anastesi
Komplikasi Lokal
1.Kegagalan Mendapatkan Efek Anastesi
Kegagalan ini disebabkan oleh kesalahan teknik yang menyebabkan
jumlah larutan yang didepositkan di dekat saraf terlalu sedikit atau menyebabkan
larutan anastesi terdeposit ke pembuluh darah. Tidak melakukan penyuntikan
pada daerah radang dan pemberian obat dengan komposisi kimia yang berbeda
menyebabkan terjadinya kegagalan efek anastesi ini.
Efek anastesi pada setiap individu berbeda. Pada pasien yang peka dengan
larutan anastesi lokal, maka dengan sedikit anastesi saja dapat memberikan efek
yang kuat pada daerah yang luas. Sedangkan pada pasien yang kurang peka maka
dibutuhkan waktu dan larutan yang lebih banyak.
2. Sakit Selama dan Setelah Penyuntikan
Pengontrolan rasa sakit sangat dibutuhkan, oleh karena itu teknik
penyuntikan harus dilakukan secara tepat, penggunaan jarum suntik yang tajam
dan mendeponir larutan secara perlahan dapat mengurangi rasa sakit. Selain itu
pemberian anastesi topikal juga diperlukan untuk mengurangi rasa sakit selama
penyutikan.
3. Infeksi
Komplikasi ini biasanya disebabkan oleh masuknya organisme (bakteri)
dalam jaringan pada saat penyuntikan. Untuk menghindari terjadinya infeksi alat
harus benar benar steril dan teknik aseptik dilakukan dengan benar.
4. Trismus
Trismus merupakan kesulitan membuka mulut yang disebabkan oleh salah
satunya yaitu penyuntikan pada pterygoid medial diamna kerusakan pembuluh
darah menyebabkan infeksi atau hematom.
5. Hematoma

Hematoma dapat terjadi apabila jarum suntik tidak sengaja mengenai


pembuluh darah. Apabila kemungkinan akan terjadi infeksi maka harus segera
diberi antibiotik.
6. Masticatory Trauma
Pada pasien anak-anak sikap kooperatif dan kurangnya pengetahuan
bahwa daerah teranastesi akan menghilangkan sensasi beberapa waktu
menyebabkan anak anak menggigit mukosa mulutnya hingga terjadi ulcer, apabila
hal ini terjadi maka dapat ditanggulangi dengan dengan menggunakan air salin
hangat untuk membersihkan luka dan mengurangi pembengkakan. Untuk
mencegah terjadinya infeksi dapat diberikan antibiotik dan untuk mengurangi rasa
sakit dapat diberikan analgesik.
7. Parastesis
Parastesis merupakan bertahannya efek anastesi dalam jangka watu lama.
Hal ini disebabkan karena trauma pada saraf yang terkena jarum. Pemberian obatobatan dan termoterapi dapat mengurangi gejala ini. Bila pemulihan tidak terjadi
maka harus dirujuk ke spesialis saraf.
Komplikasi Sistemik
1. Reaksi Alergi
Reaksi alergi ditentukan oleh tingginya reaksi paien dalam
menerima obat anastesi dengan dosis yang kecil. Reaksi alergi dapat
berupa dermatitis, urtikaria, angiodema, dan syok anafilaktik. Reaksi
alergi dapat berkurang dengan pemberian antihistamin namum biasanya
dapat pulih dengan sendirinya. Pada kasus yang lebih parah dapat
disuntikkan larutan adrenalin 0,1 % 1 ml. Secara intramuskular.
2. Overdosis
Komplikasi ini yang paling sering terjadi pada pasien anak-anak
karena berat badan yang berbeda. Penanganan nya diatasi tergantung pada
efek yang terjadi seperti pusing, cemas, bingung, pandangan ganda,

tinitus, kebas atau nyeri pada sirkum oral. Selanjutnya diikuti ejangkejang, tidak sadar, kesulitan bernapas, bahkan menyebabkan gangguan
fungsi jantung dan susunan saraf pusta. Setelah ditangani pasien dapat
dirujuk ke rumah sakit.
Komplikasi Pencabutan Gigi Anak
Komplikasi pencabutan gigi anak dapat terjadi saat pencabutan maupun
post pencabutan. Berikut adalah komplikasi yang mungkin terjadi selama dan
setelah pencabutan gigi anak:
1. Fraktur
Gigi anak-anak mudah sekali terjadi fraktur karena gigi kecil dan juga
masih rapuh, tidak hanya gigi anak-anak yang rentan fraktur, melainkan
tulang rahang yang masih belum kompak juga menjadi rentan terjadinya
fraktur. Berikut jenis-jenis fraktur yang mungkin terjadi pada anak-anak.

Fraktur mahkota gigi yang akan dijabut


Fraktur pada mahkota ini dapat terjadi pada gigi sulung dengan
karies besar atau gigi dengan restorasi besar. kondisi ini dapat
diatasi dengan evaluasi fraktur melalui radiologi dan tindakan
pencabutan pada sisa gigi, tindakan pembelahan bifurkasi ataupun
pembukaan flap dapat dilakukan dalam mengevaluasi sisa gigi

yang fraktur.
Fraktur pada tulang alveolar
Fraktur tulang alveolar disebabkan terjepitnya tulang alveolar
diatara tang cabut s gigi biasanya meninggalkan serpihan fraktur/
fragmen tulang dan sisi tajam. Serpihan fraktur tulang alveolar
dapat diambil setelah pencabutan, sedangkan sisi tajam tulang
alveolar yang tajam dihaluskan terlebih dahulu kemudian

dilakukan penjahitan bila diperlukan kontro pendarahan.


Fraktur terhadap gigi antagonis atau gigi sebelahnya
Komplikasi ini terjadi apabila gigi sebelahnya merupakan
jembatan, atau karies besar, restorasi besar, overhanging, dan
goyang. Apabila gigi antagonis ataupun sebelahnya ini pada arah
pencabutan atau bahkan digunakan tumpuan pencabutan maka
fraktur terhadap gigi sebelahnya sangat memungkinan. Penanganan

kondisi tersebut dapat dilakukan evaluasi rongga mulut sebelum


tindakan pencabutan. Dan perbaikan gigi sebelahnya atauoun

pelepasan jembatan sebelum pencabutan.


Fraktur akar gigi
Akar gigi sulung mengalami resorpsi interne karena aktivitas
osteoklas benih gigi permanen dibawahnya. Proses resorpsi akar
gigi sulung ini tidak sama-sama pada masing-masing akar sehingga
terjadinya fraktur akar sangat memungkina selama proses luksasi
pencabutan. Akar yang tertinggal dapat dibiarkan pada kondisinya
bila susah dicabut dan akar belum terinfeksi. Akar tersebtu akan
naik kepermukaan selama perjalanan waktu atau justru akan
teressorpsi fisiologi oleh tubuh, tetapi kondisi ini perlu dilakukan
observasi selama akar gigi masih didalam tulang rahang. Apabila
diduga telah terinfeksi ataupun terjadi pendarahan dan posisi akar

sulit dijangkau, dapat dilakukan pembukaan flap.


fraktur mandibula.
Fraktur tulang rahang sering terjadi akibat tekanan pencabutan
yang terlalu besar. terutama pada tulang rahang bawah. Apabila
terjadi kondisi tersebut dikembalikan dislokasi ataupu asimetri
akibat fraktur kemudian diikat ekstraoral dan dilakukan rujukan

pada spesialis bedah mulut.


2. Disklokasi
Dislokasi benih gigi permanen dibawahnya
Karena gigi sulung akarnya divergen dan mencengkram benih gigi
permanen dibawahnya, seringkali terjadi benih gigi permanen
tersebut ikut tercabut selama proses pencabutan atau berpindah
posisi karena pencabutan. Maka benih gigi terbut harus
dikembalikan atau direposisi pada tempat semula dan dilakukan

penjahitan.
Dislokasi TMJ
Dislokasi ini sering terjadi pada pasien dengan rekuren dislokasi
tmj sehingga tmj mudah berubah dari tempatnya. Dislokasi ini bila

mampu dapat dilakukan reposisi langsung pada mandibulanya.


3. Pendarahan Berlebihan
Pendarahan dapat terjadi karena faktor sistemik ataupun faktor
teknik. Pendarahan berlebih karena kondisi sistemik seperti

riwayat penyakit sistemik hematologi penanganan dilakukan


dengan melakukan rujuan ke dokter ahli. Untuk itu anamnesa awal
merupakan tahap penting dalam menggali informasi terkait kondisi
sistemik. Apabila pendarahan disebabkan oleh robeknya vena besar
maka harus dilakukan klep pada vena tersebut. Jika pendarahan
karena kapiler local dapat diatasi dengan obat adrenalin (epinefri),
lidokain atau pehacain diresapkan di tampon dan ditekan ke soket.
Obat ini menyebabkan vasokontriksi kapiler darah. Tindakan
menghisap-hisap soket pasca pencabutan dapat menyebabkan
pendarahan karena benang-benang fibrin yang terbentuk di ujung
kapiler selalu pecah karena tindakan tersebut.
LO 5 : Post operasi, instruksi dan medikasi
Instruksi post operative anastesi lokal dan eksodonsia

Istirahat yang cukup, karena membantu proses penyembuhan luka.

Setelah dilakukan ekstraksi, pasien diinstruksikan untuk menggigit tampon


diatas bekas luka ekstraksi. Tekanannya dipertahankan paling tidak selama
30 menit. Apabila lewat 30 menit masih ditemukan pendarahan, maka
diinstruksikan untuk menggigit tampon selama 30 menit berikutnya.
Adanya sedikit pendarahan yang kadang-kadang masih keluar selama 24
jam pasca ekstraksi masih dapat dikatakan normal. Namun apabila terjadi
pendarahan hebat, segera hubungi dokter gigi.

Pasien baru boleh makan beberapa jam setelah ekstraksi, agar tidak
mengganggu terbentuknya blood clot. Apabila telah diperbolehkan makan,
makanlah makanan yang lembut. Hindari makanan keras, karena makanan
keras dapat merusak daerah bekas ekstraksi, serta jangan mengunyah di
sisi bekas ekstraksi.

Instruksikan pasien agar tidak memakan makanan atau meminum


minuman panas untuk sementara waktu. Rangsangan panas dapat

meningkatkan vaskularisasi sehingga pembentukan bekuan darah menjadi


lebih lambat.

Banyak minum untuk mencegah dehidrasi.

Ketidaknyamanan post ekstraksi biasanya diikuti dengan rasa sakit, maka


pasien diinstruksikan untuk mengkonsumsi analgesik yang telah
diresepkan oleh dokter gigi.

Instruksikan pasien untuk mengkonsumsi vitamin B dan C sebagai terapi


tambahan untuk penyembuhan jaringan.

Jaga kebersihan rongga mulut. Sikat gigi secara rutin, tidak boleh
berkumur dengan menggunakan hidrogen peroksida karena dapat
menghilangkan blood clot. Berkumurlah dengan obat kumur yang
mengandung analgesik atau dengan larutan povidon iodine yang telah
diencerkan dengan menggunakan air masak untuk menjaga kebersihan
rongga mulut. Caranya yaitu dengan mengambil air masak sebanyak 250
ml kemudian ditetesi 2-4 tetes larutan povidon iodine, lalu gunakan air
tersebut untuk berkumur.

Melakukan kompres dengan es atau potongan es kecil yang dimasukkan ke


dalam kantong plastik, kemudian dibungkus dengan sebuah handuk kecil.
Lalu tempelkan pada wajah dekat tempat ekstraksi. Hal tersebut dapat
dilakukan berulang, terutama 24 jam setelah ekstraksi guna mengurangi
rasa nyeri dan mencegah edema.

Jangan mengunyah permen karet atau merokok, karena hal tersebut dapat
meningkatkan insidensi dry socket. Selain itu nikotin pada rokok dapat
menghambat penyembuhan luka.

Instruksikan pasien untuk melakukan kontrol ke dokter gigi 4-5 hari


setelah dilakukannya ekstraksi.